Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang


Di lingkungan sekitar kita sering terjadi reaksi kimia, baik secara kita
sadari atau tidak. Pada dasarnya semua reaksi dapat kembali ke keadaan
semula. Biasanya terjadi pada reaksi bolak-balik atau yang sering kita sebut
dengan keadaan setimbang. Dalam beberapa percobaan beberapa reaksi dapat
langsung direaksi kan menjadi reaktan kembali.
Suatu kesetimbangan kimia dapat mengalami pergeseran. Pergeseran
tersebut disebabkan oleh perubahan suhu, perubahan konsentrasi, perubahan
volume, dan perubahan tekanan ruangan. Pada reaksi kesetimbangan,
katalisator hanya berpengaruh memperbesar laju reaksi maju dan reaksi balik
sama kuat, sehingga dapat mempercepat terjadinya kesetimbangan.
Suatu sistem yang menerima pengaruh atau aksi dari luar kemungkinan
besar kesetimbangannya akan bergeser ke salah satu sisi reaksi. Pergeseran
kesetimbangan akan berbeda pada masing-masing pengaruh yang diberikan
kepada reaksi tersebut. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
kesetimbangan itu, maka dilakukanlah percobaan ini.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum kali ini yaitu untuk
mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi pada sistem kesetimbangan
kimia

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kesetimbangan


Kesetimbangan dapat didefinisikan sebagai keadaan atau kondisi yang
didalamnya semua gaya, proses atau kecenderungan yang ada tepat diimbangi
oleh gaya, proses atau kecenderungan yang sama, tetapi berlawanan arah.
Dalam ilmu kimia, kesetimbangan yang terjadi dengan potensial kimia
berlangsung secara konstan karena tidak ada perubahan energi bebas.
Kesetimbangan kimia (asam basa) merupakan suatu topik yang sangat
penting dalam ilmu kimia dan ilmu-ilmu lain yang mempergunakan kimia,
seperti biologi, kedokteran dan pertanian (Hadyana, 2002).
Reaksi setimbang adalah reaksi yang berlangsung secara dua arah atau
reaksi yang berlangsung bolak-balik (reversible). Reaksi kesetimbangan
berlangsung dua arah dan dinyatakan oleh dua panah yang berlawanan arah.
Reaksi ke kanan disebut reaksi maju dan reaksi ke kiri disebut reaksi balik.
Reaksi maju lama-kelamaan makin lambat sebab jumlah pereaksi semakin
berkurang. Pada saat yang sama, reaksi balik makin cepat dengan
bertambahnya jumlah hasil reaksi. Pada saat reaksi maju dan reaksi balik
memiliki laju yang sama dan tercapailah keadaan yang disebut kesetimbangan
atau keadaan setimbang (Dewi, 2006).
Hukum kesetimbangan yaitu: bila suatu reaksi dalam keadaan setimbang,
maka hasil kali konsentrasi zat-zat hasil reaksi dipangkatkan koefisiennya
dibagi dengan hasil kali konsentrasi zat-zat pereaksi dipangkatkan
koefisiennya akan mempunyai harga yang tetap. Tetapan kesetimbangan bagi
suatu reaksi adalah khas untuk suatu reaksi dan harganya tetap pada suhu
tertentu. Artinya setiap reaksi akan mempunyai harga tetapan kesetimbangan
yang cenderung tidak sama dengan reaksi lain meskipun suhunya sama, dan
untuk suatu reaksi yang sama harga K akan berubah jika suhunya berubah.
(Sudarmo, 2006) Sedangkan Hukum kesetimbangan menurut Guldberg dan
Waage adalah “dalam sistem kesetimbangan pada suhu tertentu, hasil kali
konsentrasi zat-zat reaksi dibagi hasil kali zat-zat sisa pereaksi dan masing-

2
masing konsentrasi dipangkatkan dengan koefisien reaksinya adalah tetap
(konstan)” (Mossom, 1997).

2.2 Kesetimbangan Kimia


Kesetimbangan kimia adalah suatu keadaan sewaktu konsentrasi reaktan
dan produk tidak berubah terhadap waktu (Sudjana, 2002). Kesetimbangan
kimia adalah proses dinamis ketika reaksi kedepan dan reaksi balik terjadi
pada laju yang sama tetapi pada arah yang berlawanan. Konsentrasi pada
setiap zat tinggal tetap pada suhu konstan, banyakreaksi kimia tidak sampai
berakhir, dan mencapai satu titik ketika konsentrasi zat-zat bereaksi dan
produk tidak lagi berubah dengan berubahnya waktu. Molekul-molekul tetap
berubah dari pereaksi menjadi produk dan dari produk menjadi preaksi, tetapi
tanpa perubahan netto konsentrasinya (Stephen, 2002).
Kesetimbangan kimia merupakan keadaan dimana dua proses yang
berlawanan terjadi dengan laju yang sama. Akibatnya tak terjadi lagi
perubahan bersih dalam sistem pada kesetimbangan. Ciri suatu sistem dalam
keadaan setimbang adalah dengan adanya nilai yang tidak berubah dengan
berubahnya waktu (Suminar, 1983).
Salah satu contoh kesetimbangan kimia antara asam dan basa adalah
kesetimbangan yang terdapat dalam tubuh kita, tepatnya pada plasma darah.
Dalam hal ini, kesetimbangan diekspresikan dalam konsentrasi ion hidrogen
atau ph, hasil dari jumlah relatif bahan yang bersifat asam dan basa kemudian
diingesti dan diproduksi metabolism tubuh, dibandingkan dengan jumlah
relatif bahan yang bersifat asam dan basa yang diekskresikan oleh tubuh dan
dikonsumsi oleh metabolism tubuh. Nilai normal suatu kesetimbangan asam-
basa bukanlah suatu nilai yang netral, dengan konsetrasi ion hidrogen dan
hidroksil yang sama, melainkan lebih ke arah nilai alkalis dengan kelebihan
ion hidroksil tertentu (Dirckx, 2001).

2.3 Ciri Kesetimbangan


Reaksi yang berada dalam keadaan setimbang disebut sistem
kestimbangan. Menurut Soedjojo, (1999) Ciri-ciri kesetimbangan kimia yaitu:

3
1. Hanya terjadi dalam wadah tertutup, pada suhu dan tekanan tetap
2. Reaksi berlangsung terus-menerus (dinamis) dalam dua arah yang
berlawanan
3. Laju reaksi maju (ke kanan) sama dengan laju reaksi balik (ke kiri)
4. Semua komponen yang terlibat dalam reaksi tetap ada, dan
5. Tidak terjadi perubahan yang sifatnya dapat diukur maupun diamati

2.4 Perubahan Keadaan Kesetimbangan


Perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan
kesetimbangan yang baru akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar itu
dikenal dengan pergeseran kesetimbangan. Pengaruh konsentrasi terhadap
pergeseran kesetimbangan adalah Apabila dalam sistem kesetimbangan
konsentrasi salah satu zat diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke
arah yang berlawanan dari zat tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah
satu zat dikurangi, maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak zat tersebut.
Pengaruh volume dan tekanan terhadap pergeseran kesetimbangan adalah
Pengaruh volume dan tekanan hanya berpengaruh pada zat yang berwujud
gas. Dan jumlah koefisien pereaksi tidak sama dengan jumlah koefisien hasil
reaksi. Jika tekanan diperbesar/ volume diperkecil, kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah koefisien reaksi yang kecil. Jika tekanan di perkecil/
volume diperbesar, kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah koefisien
reaksi yang besar (Purwoko, 2006).

2.5 Proses Kesetimbangan


Pada awal proses bolak-balik, reaksi berlangsung kearah pembentukan
produk, segara setelah terbentuk molekul produk maka terjadi reaksi
sebaliknya, yaitu pembentukan molekul reaktan dari molekul produk. Ketika
laju raksi ke kanan dan kekiri sama, dan konsentrasi reaktan dan produk tidak
berubah maka kesetimbangan reaksi tercapai. Ketika suatu reaksi kimia
berlangsung, laju reaksi dan konsentrasi pereaktanpun berkurang. Beberapa
waktu kemudian reaksi dapat berkesudahan, artinya semua pereaksi habis
bereaksi. Namun banyak reaksi tidak berkesudahan dan pada seperangkat

4
kondisi tertentu, konsentrasi pereaksi dan produk reaksi menjadi tetap. Reaksi
yang demikian disebut reaksi reversible dan mencapai kesetimbangan
(Stephen. 2002).

2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Kesetimbangan Kimia


Menurut Oxtoby (2001) pergeseran kesetimbangan dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor antara lain temperatur, konsentrasi, tekanan dan volume,
penambahan katalis.
1. Pengaruh konsentrasi
Jika konsentrasi salah satu komponen tersebut diperbesar, maka reaksi
sistem akan mengurangi komponen tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi
salah satu komponen diperkecil, maka reaksi sistem akan menambah
komponen itu.
2. Pengaruh suhu / temperatur
Jika suhu atau temperatur suatu sistem kesetimbangan dinaikkan,
maka reaksi sistem menurunkan temperatur, kesetimbangan akan bergeser
ke pihak reaksi yang menyerap kalor (ke pihak reaksi endoterm).
Sebaliknya jika suhu diturunkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke
pihak reaksi eksoterm.
3. Pengaruh tekanan dan volume
Perubahan tekanan dan volume hanya berpengaruh pada
kesetimbangan yang melibatkan gas. Pada suatu reaksi kesetimbangan,
pengaruh penambahan tekanan sama dengan pengaruh pengurangan
volume. Demikian pula pengaruh pengurangan tekanan sama dengan
pengaruh penambahan volume.
4. Pengaruh katalis
Katalis merupakan zat yang dapat mempercepat reaksi. Hal ini
berlaku juga untuk reaksi kesetimbangan. Akan tetapi, Katalis tidak
menggeser kesetimbangan melainkan hanya mempercepat tercapainya
kesetimbangan. Dengan ada atapun tidak ada katalis, komposisi
kesetimbangan akan tetap sama.
.

5
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 11 November 2019
pada pukul 09.20 – 11.20 WIB di Labolatorium Kimia Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa kampus A Pakupatan,
Serang.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu: Gelas Kimia
100 ml, Tabung reaksi, Gelas ukur 25 ml, pengaduk, pipet tetes, dan botol
semprot. Sedangkan bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini yaitu:
larutan FeCl3 1 M (10 ml), larutan KSCN 1 M (10 ml), larutan NaOH 1 M
(10 ml), air the (10 ml), dan Aquadest (25 ml).

3.3 Langkah kerja


Adapun cara kerja dalam praktikum kali ini yaitu:
1. 25 mL aquadest dimasukkan ke dalam gelas kimia.
Ditambahkan dua tetes larutan FeCl3 1 M dan dua tetes larutan KSCN 1
M. Larutan diaduk sampai warnanya tetap/homogen. Kemudian larutan
dibagi sama banyak ke dalam 5 tabung reaksi. Tabung pertama digunakan
sebagai pembanding warna.
2. Pada tabung lain ditambahkan:
a. 1 tetes KSCN 1 M pada tabung 2.
b. 1 tetes larutan FeCl3 1 M pada tabung 3.
c. 1 tetes larutan NaOH 1 M pada tabung 4 (OH- akan mengikat ion Fe3+)
3. Ketiga tabung diguncangkan dan warna larutan pada tabung masing-
masing dibandingkan dengan warna larutan pada tabung 1.
4. Dimasukkan masing-masing 5 mL air teh ke dalam dua tabung reaksi yang
berbeda. Tambahkan 5 mL aquades pada salah satu tabung. Dibandingkan
warna air teh pada kedua tabung itu dengan melihat dari atas kebawah

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Perubahan Konsentrasi 1 Komponen
No. Komponen yang diubah Perbandingan warna
Tabung dengan tabung
2 SCN diperbesar Lebih pekat
3 Fe3+ diperbesar Sangat pekat
4 Fe3+ diperkecil Lebih pudar

4.2 Pembahasan
Adapun pada praktik kali ini kami melakukan praktikum yang berjudul
“Pengaruh Perubahan Konsentrasi pada Sistem Kesetimbangan” dimana
dilakukannya praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
perbedaan konsentrasi pada sistem kesetimbangan kimia. Menurut Suminar
(1983), Kesetimbangan kimia merupakan keadaan dimana dua proses yang
berlawanan terjadi dengan laju yang sama. Akibatnya tak terjadi lagi
perubahan bersih dalam sistem pada kesetimbangan. Ciri suatu sistem dalam
keadaan setimbang adalah dengan adanya nilai yang tidak berubah dengan
berubahnya waktu.
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum kali ini adalah tabung
reaksi, gelas kimia 100 mL, rak tabung, dan pipet tetes, botol semprot,
pengaduk, dan gelas ukur 25 mL. Dan adapun bahan yang digunakan dalam
praktikum kali yaitu larutan FeCl3 1 M, larutan KSCN 1 M, larutan NaOH 1
M, air teh, dan aquadest.
Langkah pertama dalam praktikum kali ini adalah memasukkan 25 mL
aquades ke dalam gelas kimia dan tambahkan larutan FeCl3 1 M dan KSCN 1
M masing-masing sebanyak 2 tetes setelah itu aduk larutan sampai warnanya
tetap. Kemudian larutan tersebut dibagi secara merata kedalam 5 tabung
reaksi dan tabung pertama digunakan sebagai pembanding warna. Perlu
diperhatikan ketika meneteskan atau menambahkan larutan ke tabung reaksi

7
harus berhati-hati agar larutan yang ditambahkan tidak berlebih dan
mempengaruhi hasil praktikum.
Setelah larutan yang berada di dalam gelas kimia sudah dibagi rata ke
dalam 5 tabung reaksi maka pada tabung kedua diteteskan larutan KSCN 1 M
sebanyak 1 tetes, tabung ketiga diteteskan larutan FeCl3 1 M sebanyak 1
tetes, dan tabung keempat diteteskan larutan NaOH 1 M sebanyak 1 tetes.
Kemudian ketiga tabung tersebut diguncangkan atau diaduk hingga warnanya
tetap lalu bandingkan masing-masing tabung reaksi dengan tabung reaksi
yang digunakan sebagai perbandingan, yaitu tabung reaksi yang pertama.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil seperti
pada tabel 1. Perubahan konsentrasi satu komponen, bahwa tabung 2 setelah
ditetesi KSCN 1 M warnanya menjadi coklat yang lebih pekat dibanding
tabung 1. hal tersebut karena komponen SCN- diperbesar sehingga
konsentrasi meningkat dan hal tersebut mengakibatkan warna larutan berubah
menjadi lebih pekat. Sedangkan pada tabung ke-3 setelah ditetesi larutan
FeCl3 1 M menghasilkan warna coklat yang sangat pekat dibandingkan
dengan tabung 1 dan tabung 2, ini karena komponen Fe3+ diperbesar
sehingga konsentrasi meningkat dan hal tersebut mengakibatkan warna
larutan berubah menjadi lebih pekat. Lalu pada tabung ke-4 setelah ditetesi
larutan NaOH 1 M menghasilkan warna coklat yang lebih pudar
dibandingkan tabung 1, tabung 2, maupun tabung 3. Penambahan NaOH
adalah berarti ion Fe3+ akan mengikat OH- dari basa sehingga konsentrasi
Fe3+ berkurang dan kesetimbangan bergeser ke kiri yang ditunjukkan oleh
perubahan warna yang lebih pudar dibandingkan tabung reaksi yang pertama.
Selain hasil yang terdapat pada tabel, ada pun hasil lain yang didapat
yaitu pada tabung 5 yang telah ditambahkan 5 ml aquades menghasilkan
warna coklat yang sangat pudar mendekati warna kuning. Sedangkan pada
tabung 6 yang telah ditambah 5 ml air teh dan tabung 7 yang telah
ditambahkan 5 ml air teh dan 5 ml aquades, didapatkan hasil bahwa tabung 6
dan tabung 7 bukan merupakan reaksi kesetimbangan, karena reaksinya yang
tidak dapat bolak balik.

8
Adapun pada praktikum kali ini terdapat 3 komponen sistem
kesetimbangan jika memperbesar konsentrasi SCN, ketika memperbesar
konsentrrasi Fe3+, dan ketika memperkecil konsentrasi Fe3+. Dan didapatkan
hasil bahwa ketika memperbesar konsetrasi SCN maka sistem akan bergerak
ke kanan, ditandai dengan warna larutan yang menjadi lebih tua. Lalu jika
kita memperbesar konsentrasi Fe3+ maka sistem akan bergeser kekanan
ditandai dengan warna larutan yang menjadi lebih tua. Sedangkan jika kita
memperkecil konsentrasi Fe3+ maka sistem akan bergesr kekiri ditandai
dengan warna larutan yang menjadi lebih muda.
Selain itu adapun dibahas tentang pengaruh pengenceran terhadap sistem
kesetimbangan dan terhadap air the. Pengaruh pengenceran terhadap sistem
kesetimbangan yaitu dapat menyebabkan kesetimbangan bergeser kekiri
sehingga warna larutan menjadi lebih muda. Sedangkan pengaruh
pengenceran terhadap air the yaitu menyebabkan kesetimbangan tidak
bergeser kekiri maupun kekanan, hal ini ditandai dengan warna air the yang
tetap sama.

9
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini dapat ditatarik kesimpulan bahwa
Kesetimbangan kimia adalah satu kondisi yang dicapai dalam sebuah reaksi
kimia yang tejadi secara seimbang dalam lajunya pada saat reaksi maju dan
reaksi baliknya. Cepat atau lambatnya reaksi kesetimbangan bergantung dari
laju reaksi, semakin besar laju reaksi maka semakin cepat reaksi tersebut.
Kesetimbangan kimia dibagi menjadi dua yaitu kesetimbangan homogeny
dan heterogen. Kesetimbangan homogen terjadi pada sistem gas-cair,
sedangkan kesetimbangan heterogen terjadi pada sistem padat-gas atau cair-
gas. Ada beberapa factor lingkungan yang dapat mempengaruhi
kesetimbangan kimia, yaitu suhu, tekanan, volume dan konsentrasi.
Sedangkan factor luar yang mempengaruhi oleh asas le chatelier yang
berbunyi “bila terhadap suatu kesetimbangan dilakukan suatu tindakan (aksi )
maka sistem tersbut akan mengandakan reaksi yang cenderung mengurangi
pengaruh aksi tersebut” maka dapat disimpulkan bahwa: aksi = reaksi.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan pada praktikum kali ini yaitu agar
sebaiknya para praktikan harus bisa lebih memahami materi tentang Pengaruh
Perubahan konsentrasi Pada Sistem Kesetimbangan. Karena ketelitian dari
praktikan sangat berpengaruh dalam praktikum kali ini.

10
DAFTAR PUSTAKA

Bresnick, Stephen. 2002. Kimia Umum. Jakarta: Hipokrates


Dewi, Rijuna. 2006. Pengaruh Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap
Kinerja Karyawan. Penelitian pada PT. Ecogreen Oleochemicals Medan
Plant: Fakultas Ekonomi Universitas Sumatra Utara.
Dirckx. 2001. Kamus Ringkas Kedokteran Stedman. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Hadyana, A. 2002. Kamus Kimia. Balai Pustaka, Jakarta.
Mossom, Louis T. 1997. Chemistry Made Easy. Dell. New York.
Oxtoby, D. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.
Petrucci R.H dan Suminar 1992. Kimia Dasar. Erlangga.
Purwoko, Agus A. 2006. Kimia Dasar 1. Mataram: Mataram University Press.
Rohman, Abdul. 2003. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soedjojo, Peter. 1999. Kimia Dasar. Yogyakarta: Penerbit Andi
Sudarmo, Unggul. 2006. Kimia. Jakarta: PT Phibeta Aneka Gama

11

Anda mungkin juga menyukai