Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa. Dalam
sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku destruktif terhadap diri
sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian. Perilaku destruktif diri
yang mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan
individu menyadari hal ini sebagai sesuatu yang diinginkan. (Stuart dan Sundeen,
1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009.
Resiko bunuh diri masih menjadi masalah yang serius di dunia bakhan di
Indonesia. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan
berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang
digunakan dalam mengatasi masalah. Berikut beberapa faktor penyebab bunuh diri
yang didasarkan pada kasus bunuh diri yang berbeda-beda tetapi memiliki efek
interaksi di antaranya (Maris, dalam Maris dkk.,2000; Meichenbaum, 2008):
Major-depressive illness, affective disorder,Penyalahgunaan obat-obatan (sebanyak
50% korban percobaan bunuh memiliki level alkohol dalam darah yang
positif),Memiliki pikiran bunuh diri, berbicara dan mempersiapkan bunuh diri,Stresor
atau kejadian hidup yang negatif (masalah pekerjaan, pernikahan, seksual, patologi
keluarga, konflik interpersonal, kehilangan, berhubungan dengan kelompok teman
yang suicidal),Kemarahan, agresi, dan impulsivitas. Peran perawat sangat penting
dalam membantu pasien perilaku ide bunuh diri terutama menjaga keamanan klien.
Posisi Indonesia hampir mendekati negara-negara bunuh diri, seperti Jepang,
dengan tingkat bunuh diri mencapai lebih dari 30.000 orang per tahun dan China yang
mencapai 250.000 per tahun. Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai
masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada
2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya.
Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per
harinya. Namun laporan di Jakarta menyebutkan sekitar 1,2 per 100.000 penduduk
dan kejadian bunuh diri tertinggi di Indonesia adalah Gunung Kidul, Yogyakarta
mencapai 9 kasus per 100.000 penduduk.
Adapun kejadian bunuh diri tertinggi berada pada kelompok usia remaja dan
dewasa muda (15 – 24 tahun), untuk jenis kelamin, perempuan melakukan percobaan

1
bunuh diri (attemp suicide) empat kali lebih banyak dari laki laki. Cara yang populer
untuk mencoba bunuh diri pada kalangan perempuan adalah menelan pil, biasanya
obat tidur, sedangkan kaum lelaki lebih letal atau mematikan seperti menggantung
diri.
Kelompok yang beresiko tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri adalah
mahasiswa, penderita depresi, para lansia, pecandu alcohol, orang-orang yang
berpisah atau becerai dengan pasangan hidupnya, orang-orang yang hidup sebatang
kara, kaum pendatang, para penghuni daerah kumu dan miskin, kelompok
professional tetentu, seperti dokter, pengacara, dan psikolog.
1.2 Rumusan masalah
Bagaima konsep asuhan keperawatan jiwa resiko bunuh diri ?
1.3 Tujuan
A. Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui definisi dari resiko bunuh diri .
2. Untuk menegtahui etiologic dari resiko bunuh diri .
3. Untuk mengetahui tanda gejala dari risiko bunuh diri .
4. Untuk mengetahui rentang respons dari risiko bunuh diri.
5. Untuk mengetahui klasifikasi dari risiko bunuh diri.
6. Untuk mengetahui factor predisposisi dari risiko bunuh diri.
7. Untuk mengetahui factor risiko bunuh diri.
8. Untuk mengetahui mechanisme koping dari resko bunuh diri
9. Untuk mengetahui pohon masalah dari resiko bunuh diri .
10. Untuk mengetahui pelaksaan medis dan keperawatan dari resiko bunuh
diri .
B. Tujuan khusus
Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada resiko bunuh diri .

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa
( fitria,2009)

2
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2008)
Bunuh diri adalah suatu tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendi
untuk mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir dari individu
untuk memecahkan masalah yang dihadapi. (Jenny.,dkk 2010)
2.2 Etiologi
Secara universal: karena ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan masalah.
Terbagi menjadi:
a. Faktor Genetik
b. Faktor Biologis lain
c. Faktor Psikososial & Lingkungan
2.3 Tanda dan gejala
 Sedih
 Marah
 Putus asa
 Tidak berdaya
 Memeberikan isyarat verbal maupun non verbal
Menurut Ade Herman Surya Direja 2011 : 158, tanda dan gejala bunuh diri adalah
sebagai berikut :
 Mempunyai ide unutk bunuh diri
 Mengungkapkan keinginan unuuk mati
 Mengungkapkan rasa bersaah dan keputusasaan
 Impulsif
 Menunjukkan perilaku yang mencurigakan ( menjasi sangat patuh)
 Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
 Verbal terselubung ( berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
obat dosis mematikan)
 Status emosional ( harapan, penolakan, cemas meningkat, panik,
marah, mengasibngkan diri)
 Kesehatan mental ( secara klinis klien terlihat sangat depresi, psikosis,
dam menyalahginakan alkohol)
 Kesehatan fisik ( biasanya pada kliemn dengan penyakit kronis atau
terminal)
 Pengangguran (Kehilangan pekerjaan atau kegagagalan dalam karir)
 Status perkawinan ( mengalami kegagalan dalam perkawinan)
 Konflik interpersonal
 Latar belakang keluarga
 Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil
2.4 Rentang respons

Rentang Respons Protektif Diri

Respon Adaptif Reapon Maladaptif


3
Peningkatan Beresiko Destruktif diri Pencederaan Bunuh diri
Bunuh Diri Destruktif tdk langsung diri

Gambar : Rentang Respons Protektif Diri, Sumber : Keliat (1999)


a. Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap
situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.
b. Berisiko destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif
atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat
mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika
dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan
secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi
yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena
pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan
menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
d. Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat hilangnya
harapan terhadap situasi yang ada.
e. Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.
2.5 Klasifikasi
Sementara itu, Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh diri,
meliputi:
a. Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh faktor
lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang untuk
bunuh diri.
b. Bunuh diri altruistic
Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan kehormatan
seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
c. Bunuh diri egoistic
Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor dalam diri
seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.
2.6 Faktor predisposisi
4
Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang perilaku resiko
bunuh diri meliputi:
a. Diagnosis psikiatri
Tiga gangguan jiwa yang membuat pasien berisiko untuk bunuh diri yaitu
gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
b. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko bunuh diri
adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
c. Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan yang dini,
dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan
dengan bunuh diri.
d. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko
untuk perilaku resiko bunuh diri
e. Faktor biokimia
Proses yang dimediasi serotonin, opiat, dan dopamine dapat menimbulkan
perilaku resiko bunuh diri.
2.7 Faktor pretisipasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami
oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan. Faktor
lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media
mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi
individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.
Kondisi klien seperti kelemahan fisik ,keputus asaan ,ketidakberdayaan ,percaya, diri
yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan .
Demikian juga dengan situasi lingkup yang rebut, padat, kritikan yang mengarah pada
penghinaan ,kehilangan orang yang dicintai,atau merupakan factor penyebab yang
lain. Interaksi social yang provokatif dan konflik dapat pula memicu kekerasan .
2.8 Mekanisme koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang
berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, regression,
dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak
ditentang tanpa memberikan koping alternatif.
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman
bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan
agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping
dan mekanisme adaptif pada diri seseorang.

5
2.9 Pohon Masalah

effect Bunuh Diri

core problem
Resiko Bunuh Diri

causa Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah Kronis

2.10 Penatalaksanaan Medis


a. Untuk pasien dengan depresi dapat diberikan terapi elektro konvulsi.
b. Diberikan obat obat terutama anti depresan dan psikoterapi.
2.11 Penatalaksanaan keperawatan
1. Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan
meminta bantuan dari keluarga atau teman.
2. Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
a. Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.
b. Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
c. Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
d. Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e. Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan
3. Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:
a. Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya
b. Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara
penyelesaian masalah
c. Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih
baik

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
3.1 PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
6
Nama : …………………….. (L/P) Tanggal Dirawat : ………
Umur : …………….. ……… Tanggal Pengkajian : ……………........
Alamat : ………………………
Pendidikan : .....................................
Agama : .................................... Ruang Rawat : …………………
Status : ....................................
Pekerjaan : ………………………
JenisKel. : ………………………
No RM : ………………………
2. Alasan Masuk
a Data primer
Biasanya pasien dengan resiko bunuh diri mengatakan lebih baik mati saja .
b Data sekunder
Biasanya pasien dengan resiko bunuh diri terlihat murung, dan ada bekas
percobaan bunuh diri .
3. Riwayat Penyakit dan Faktor Presipitasi
 Stressor Sosial Budaya
Stress dapat ditimbulkan oleh beberapa factor antara factor lain dan
factor keluarga seperti menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari
orang yang berarti dalam kehidupannya, misalnya dirawat di rumah sakit.
 Stressor Psikologis
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunnya
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain. Intensitas
kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan
individu mengatasi masalah diyakini akan menimbulkan berbagai masalah
resiko bunuh diri.

4. Faktor Predisposisi
a Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ?
 Ya
 Tidak
JikaYa,Jelaskan:

b Pengobatansebelumnya
 Berhasil
 Kurangberhasil
 Tidakberhasil
Jelaskan:

7
c Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh
kembang)
 Ya
 Tidak
Jika ya Jelaskan

d Pernah ada riwayat NAPZA

 Narkotika

 Penyalahgunaan Psikotropika

 Zat aditif : kafein, nikotin, alkohol

 Dll

e Riwayat Trauma

Usia Pelaku Korban Saksi

1. Aniayafisik ………… ………… …………


…………
2. Aniayaseksual ………… …………
………… …………
3. Penolakan ………… ………… …………
…………
4. Kekerasan dalam keluarga …………
………… ………… …………
5. Tindakan kriminal ………… …………
………… …………
6. Usaha Bunuh diri …………
………… ………… ……….
Jelaskan:

Masalah/ DiagnosaKeperawatan :

 Perubahanpertumbuhandanperkembangan  Resikotinggikekerasan
8
 Berdukaantisipasi  Ketidakefektifan
 Berdukadisfungsional penatalaksanaan regiment
 Responpaska trauma terapeutik
 Sindroma trauma perkosaan  Resti Suicide
 Koping Individu inefektif
 Koping Keluarga inefektif
f Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan (peristiwa kegagalan,
kematian, perpisahan )
Bila Ya jelaskan

Masalah/ DiagnosaKeperawatan :

 Perubahan pertumbuhan dan  Respon


perkembangan paska trauma
 Berdukaantisipasi  Sindroma
 Berdukadisfungsional trauma
perkosaan
 Lain-lain,
jelaskan

5. riwayat penyakit keluarga

1. Anggota keluarga yang gangguan jiwa ?


 Ada
 Tidak
Kalau ada :

9
Hubungan keluarga :

Gejala :

Riwayat pengobatan :

Masalah / Diagnosa Keperawatan:

 Koping keluarga tidak efektif : ketidakmampuan


 Koping keluarga tidak efektif : kompromi
 Resiko tinggi kekerasan
 Lain-lain, jelaskan
2. PEMERIKSAAAN FISIK

Tanggal : ……………….

1. Keadaan umum :
biasanya pasien keadaan umum stabil, kesadaran composmetis, GCS 456

2. Tanda vital:
TD: …….mm/Hg

N:……..x/m

S…….

P……..x/m

3. Ukur: BB …….kg TB…….cm


 Turun
 Naik
4. Keluhan fisik:
 Nyeri : Ringan (1,2,3),Sedang(4,5,6), Berat terkontrol (7 8 9), Berat tidak
terkontrol (10) (Standar JCI)
Ya :

P=

Q=

R=

S=

10
T=

Tidak

 Keluhan lain
 Tidak ada keluhan
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Risiko tinggi perubahan suhutubuh  PerubahanNutrisi:


 Defisit Volume Cairan
LebihdarikebutuhanTubuh
 Kelebihan Volume Cairan
 KerusakanMenelan
 ResikoTinggiterhdapInfeksi
 PerubahanEliminasifaeses
 RisikoTinggiterhadapTransmisiInfeksi
 PerubahanEliminasi urine
 PerubahanNutrisi: KurangdarikebutuhanTubuh
 Kerusakanintegritaskulit
 Lain-lain, jelaskan...........

6. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
Genogram:

Keterangan Gambar :

: laki-laki

: klien

: perempuan

11
Jelaskan:

Ayah pasien mempunyai 3 anak dan 2 anak perempuan 1 anak laki-laki

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Kopingkeluargatidakefektif : ketidakmampuan  Lain-lain, jelaskan...........


 Kopingkeluargatidakefektif : kompromi
 Kopingkeluarga : potensialuntukpertumbuhan

7. Konsep diri
a. Citra tubuh :
Pandangan individu terhadap tubuhnya, disadari atau tidak disadari. Termasuk
persepsi dan perasaan masa lalu dan sekarang, tentang ukuran tubuh, fungsi,
penampilan dan potensi. Pandangan ini terus berubah oleh pengalaman dan
persepsi baru. Citra tubuh yang diterima secara realistis akan meningkatkan
keyakinan diri sehingga dapat mantap dalam menjalani kehidupan. Biasanya klien
menyukai seluruh anggota tubuhnya.

b. Identitas :
Pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap
kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan individu.

c. Peran :
Serangkaian perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan
fungsi individu diberbagai kelompok sosial.

d. Ideal diri :
Persepsi individu tentang bagaimana seharusnya ia berperilaku berdasarkan
standart, aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu.

e. Hargadiri :
Penilaiain pasien terhadap dirinya jelek ,klien tampak kotor, tidak rapi, duduk
menyendiri, tatapan mata kosong, lebih sering menunduk,ekspresi wajah sedih,

12
tidak mau bertemu dengan orang lain,klien mengatakan dirinya bodoh, tidak bisa
apa-apa, klien mengatakan dirinya tidak berguna

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Pengabaian unilateral  Harga diri rendah kronis


 Gangguan citra tubuh  Harga diri rendah
 Gangguan identitas pribadi situasional
 Lain-lain, jelaskan..........
1. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti/terdekat:
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat:
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain:
Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Kerusakan komunikasi  Isolasi sosial


 Kerusakan komunikasi verbal  Lain-lain, jelaskan..........
 Kerusakan interaksi sosial
2. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
b. Kegiatan ibadah
Masalah / DiagnosaKeperawatan:

 Distress spiritual
 Lain-lain, jelaskan

8. Status mental
1. Penampilan
 Tidak rapi
 Penggunaan pakaian tidak sesuai
 Cara berpakaian t idak sesuai fungsinya
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

13
 Sindroma defisit perawatan diri (makan, mandi, berhias, toileting, instrumentasi)
 Defisit perawatan diri (makan, mandi, berhias, toileting, instrumentasi)
 Lain-lain, jelaskan..........

2. Pembicaraan
 Cepat
 Keras
 Gagap
 Apatis
 Lambat
 Membisu
 Tidakmampu memulai pembicaraan
 Lain-lain………..
Jelaskan:

(sesuai data focus)

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

 Kerusakan komunikasi
 Kerusakan komunikasi verbal
 Lain-lain, jelaskan..........

3. Aktifitasmotorik/Psikomotor
Kelambatan :

 Hipokinesia,hipoaktifitas
 Katalepsi
 Sub stupor katatonik
 Fleksibilitasserea
Jelaskan:

14
Peningkatan :

 Hiperkinesia,hiperaktifitas  Grimace
 Gagap  Otomatisma
 Stereotipi  Negativisme
 GaduhGelisahKatatonik  Reaksikonversi
 Mannarism  Tremor
 Katapleksi  Verbigerasi
 Tik  Berjalankaku/rigid
 Ekhopraxia  Kompulsif :sebutkan …………
 Command automatism
Jelaskan:

Masalah/ DiagnosaKeperawatan :

 Risiko tinggi cidera  Defisit aktivitas deversional / hiburan


 Kerusakan mobilitas fisik  Intoleransi aktivitas
 Perilaku kekerasan  Resiko tinggi kekerasan
 Lain-lain, jelaskan..........
4. Afek dan Emosi
Pertanyaan :
Bagaimana perasaan anda akhir akhir ini ?

Jika tidak ada respon, lanjutkan dengan pertanyaan : Bagaimana perasaan anda
senang apa sedih?

Jika pasien tampak sedih, tanyakan : bagaimana sedihnya? Dapatkah anda


menceritakannya?

Jika pasien menunjukkan gambaran depresi , lanjutkan dengan pertanyaan:

Bagaimana dengan masa depanmu?Apakah anda benar benar tidak punya harapan?

Jika “ya” Lanjutkan dengan : Bukankah hidup ini berharga?

Lanjutkan dengan pertanyaan : adalah keininginan untuk bunuh diri?

a. Afek

 Adekuat
 Tumpul

15
 Dangkal/datar
 Inadekuat
 Labil
 Ambivalensi
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

 Risiko tinggi cidera  Kerusakan interaksi sosial


 Kerusakan komunikasi  Isolasi sosial
 Kerusakan komunikasi verbal  Lain-lain, jelaskan..........
b. Emosi

 MerasaKesepian
 Apatis
 Marah
 Anhedonia
 Eforia
 Cemas (ringan,sedang,berat,panic)
 sedih
 Depresi
 Keinginan bunuh diri
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan

 Risiko tinggi cidera  Risiko bunuh diri


 Ansietas, .....(jelaskan : ringan/sedang/berat)  Risiko diri penganiayaan diri
 Ketakutan  Risiko tinggi mutilasi diri
 Isolasi sosial  Lain-lain, jelaskan..........
 Ketidakberdayaan

5. Interaksi selama wawancara


 Bermusuhan
 Tidakkooperatif
 Mudahtersinggung
 Kontakmatakurang
16
 Defensif
 Curiga
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Kerusakan komunikasi  Risiko tinggi kekerasan


 Kerusakan interaksi sosial  Risiko tinggi penganiayaaan
 Isolasi sosial diri
 Risiko membahayakan diri  Risiko tinggi mutilasi diri
 Lain-lain, jelaskan..........
6. Persepsi – Sensorik
Pertanyaan pada pasien :
Apakah anda sering mendengar suara saat tidak ada orang atau saat tidak ada orang
yang berbicara?
ATAU : Apakah anda mendengar suara orang yang tidak dapat anda lihat.
Jika : ‘ya”
Apakah itu benar benar suara yang datng dari luar kepala anda atau dalam pikiran
anda.
Apa yang dikatakan oleh suara itu?
Berikan contohnya, apa yang anda denar hari ini atau kemarin
Halusinasi

 Pendengaran
 Penglihatan
 Perabaan
 Pengecapan
 Penciuman

Ilusi

 Ada
 Tidakada

Depersonalisasi

 Ada
 Tidakada

17
Derealisasi

 Ada
 Tidakada
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Gangguan persepsi sensori : halusinasi........... (pendengaran, penglihatan, perabaan ,


pengecapan, penciuman)
 Lain-lain, jelaskan..........
7. Proses Pikir
Pertanyaan :

1. Pernahkah anda percaya bahwa


seseorang atau suatu kekuatan di luar anda memasukkan buah pikiran yang bukan
milik anda ke dalam pikiran anda, atau menyebabkan anda bertindak tidak
seperti biasanya ?
2. Pernahkan anda percaya bahwa anda
sedang dikirimi pesan khusus melalui TV, radio atau koran, atau bahwa ada
seseorang yang tidak anda kenal secara pribdai tertarik pada anda?
3. Pernahkah anda percaya bahwa
seseorang sedang membaca pikiran anda atau bisa mendengar pikiran anda atau
bahkan anda bisa membaca atau mendengar apa yang sedang dipikirkan oleh
orang lain ?

4. Pernahkah anda percaya bahwa


seseorang sedang memata matai anda, atau seseorang telah berkomplot melawan
anda atau menciderai anda ?
5. Apakah keluarga atau teman anda
pernah menganggap keyakinan anda aneh atu tidak lazim ?
a. Arus Pikir :
 Koheren
 Inkoheren
 Sirkumstansial
 Neologisme

18
 Tangensial
 Logorea
 Kehilanganasosiasi
 Bicaralambat
 Flight of idea
 Bicaracepat
 Irrelevansi
 Main kata-kata
 Blocking
 PengulanganPembicaraan/perseverasi
 Afasia
 Asosiasibunyi
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

 Gangguan proses pikir : ........................... (jelaskan)


 Lain-lain, jelaskan..........

b. Isi Pikir
 Obsesif
 Ekstasi
 Fantasi
 Alienasi
 PikiranBunuhDiri
 Preokupasi
 PikiranIsolasisosial
 Ide yang terkait
 PikiranRendahdiri
 Pesimisme
 Pikiranmagis
 Pikirancuriga
 Fobia,sebutkan…………..

 Waham:
19
 Agama
 Somatik/hipokondria
 Kebesaran
 Kejar / curiga
 Nihilistik
 Dosa
 Sisippikir
 Siar piker
 Kontrolpikir

Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

 Gangguan proses pikir : ........................... (jelaskan)


 Lain-lain, jelaskan..........

8. Kesadaran
 Menurun:
 Compos mentis
 Sopor
 Apatis/sedasi
 Subkoma
 Somnolensia
 Koma
 Meninggi
 Hipnosa
 Disosiasi: ……………….
 Gangguanperhatian

Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

20
 Risiko tinggi cidera  Lain-lain, jelaskan ..........................
 Gangguan proses pikir, .....(jelaskan)

9. Orientasi
 Waktu
 Tempat
 Orang
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

 Risiko tinggi cidera  Lain-lain,


 Gangguan proses pikir, .....(jelaskan) jelaskan ..........................

10. Memori
 Gangguan daya ingat jangka panjang ( > 1 bulan)
 Gangguan daya ingat jangka pendek ( 1 hari – 1 bulan)
 Gangguan daya ingat saat ini ( < 24 jam)
 Amnesia
 Paramnesia:
 Konfabulasi
 Dejavu
 Jamaisvu
 Fause reconnaissance
 hiperamnesia
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Gangguan proses pikir :............... (jelaskan)


 Lain-lain, jelaskan.....................

11. Tingkat konsentrasi dan berhitung


 Mudah beralih
 Tidak mampu berkonsentrasi
 Tidak mampu berhitung sederhana
21
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Gangguan proses pikir :............... (jelaskan)

 Isolasi sosial

 Lain-lain, jelaskan ..........................

12. Kemampuan penilaian


 Gangguan ringan
 Gangguanbermakna
Jelaskan:

Sesuai data fokusMasalah / DiagnosaKeperawatan :

 Gangguan proses pikir :............... (jelaskan)

13. Dayatilik diri


 Mengingkaripenyakit yang diderita
 Menyalahkanhal-haldiluardirinya
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Gangguan proses pikir :............... (jelaskan)

9. Kebutuhan persiapan pulang

1. Makan
 Mandiri
 Bantuan Minimal

22
 Bantuan total
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh


 Perubahan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh
 Perubahan nutrisi : potensial lebih dari kebutuhan tubuh
 Lain-lain, jelaskan ..........................

2. BAB/BAK
 Mandiri
 Bantuan minimal
 Bantuan total
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Perubahan eliminasi fases


 Perubahan eliminasi urin
 Defisit perawatan diri : ..............(makan, mandi, berhias, toiletting, instrumentasi)
 Lain-lain, jelaskan ..........................

3. Mandi
 Mandiri
 Bantuan minimal
 Bantuan total
4. sikat gigi
 Mandiri
 Bantuan minimal
 Bantuan total
5. keramas
 Mandiri
 Bantuan minimal
 Bantuan total
Jelaskan

23
Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Defisit perawatan diri : .... .....(makan, mandi, berhias, toiletting, instrumentasi)


 Lain-lain, jelaskan ..........................

6. Berpakaian/berhias
 Mandiri
 Bantuan Minimal
 Bantuan total
Jelaskan

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Defisit perawatan diri : .... (makan, mandi, berhias, toiletting, instrumentasi)


 Lain-lain, jelaskan ..........................

7. Istirahatdantidur
 Tidur Siang, Lama : ____________ s/d _____________
 TidurMalam, Lama : _____________ s/d _____________
 Aktifitassebelum/sesudahtidur : __________ , _________
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Gangguan pola tidur


 Lain-lain, jelaskan ..........................

8. Penggunaan obat
 Bantuan Minimal
 Bantuan total
Jelaskan

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

 Perubahan pemeliharaan kesehatan


 Ketidakefektifan penatalaksanaan regiment terapeutik
 Ketidakpatuhan
 Lain-lain, jelaskan ..........................
24
9. Pemeliharaankesehatan
Ya Tidak

PerawatanLanjutan

Sistem pendukung Ya Tidak

Keluarga

Terapis

Teman sejawat

Kelompok sosial

Jelaskan :

Masalah/ DiagnosaKeperawatan :

 Perilaku mencari bantuan kesehatan

 Lain-lain, jelaskan ..........................

10. Aktifitasdalamrumah
Ya Tidak

Mempersiapkanmakanan

Menjagakerapihanrumah

MencuciPakaian

Pengaturankeuangan

11. Aktifitas di luarrumah


Ya Tidak

Belanja

25
Transportasi

Lain-lain

Jelaskan :

Masalah/ DiagnosaKeperawatan :

 Perubahan pemeliharaan kesehatan

 Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah

 Lain-lain, jelaskan ..........................

12. MEKANISME KOPING


Adaptif Maladaptif
 Bicaradengan orang lain  Minumalkhohol
 Mampumenyelesaikanmasalah  Reaksilambat/berlebihan
 Teknikrelaksasi  Bekerjaberlebihan
 Aktifitaskonstruktif  Menghindar
 Olah raga  Mencideraidiri
 Lain-lain…………….  Lain-lain…………..
Jelaskan :

Sesuaidata
fokus…………………………………………………………………………………..........
........Masalah/ DiagnosaKeperawatan :

 Kegiatan penyesuaian

 Koping individu tidak efektif

 Koping individu tidak efektif (koping defensif)

 Koping individu tidak efektif (menyangkal)

 Lain-lain, jelaskan ..........................

26
13. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
 Masalahdengandukungankelompok, spesifiknya
Masalahberhubungandenganlingkungan, spesifiknya Masalahdenganpendidikan,
spesifiknya
 Masalahdenganpekerjaan, spesifiknya Masalahdenganperumahan, spesifiknya
 Masalahdenganekonomi, spesifiknya
 Masalahdenganpelayanankesehatan, spesifiknya Masalahlainnya, spesifiknya
Masalah/ DiagnosaKeperawatan :

 Perubahan pemeliharan kesehatan  Enuresis maturasi


 Perubahan pada eliminasi urine  Ketidakberdayaan
 Gangguan konsep diri (Gangguan citra tubuh)  Keputusasaan
 Gangguan konsep diri (Gangguan identitas pribadi)  Perubahan kinerja
 Gangguan konsep diri (Gangguan harga diri) peran
 Gangguan konsep diri (Gangguan harga diri rendah kronis)  Sindrom stres relokasi
 Gangguan konsep diri (Gangguan harga diri rendah  Lain-lain, jelaskan......
situasional
 Perilaku mencari bantuan kesehatan
14. ASPEK PENGETAHUAN
Apakahklienmempunyaimasalah yang berkaitandenganpengetahuan yang
kurangtentangsuatuhal?

 Penyakit/gangguanjiwa
 Sistempendukung
 Faktorpresipitasi
 Mekanismekoping
 Penyakitfisik
 Obat-obatan
 Lain-lain, jelaskan
Jelaskan:

Masalah / DiagnosaKeperawatan:

 Perilaku mencari bantuan kesehatan

 Ketidakefektifan penatalaksanaan regiment terapeutik


27
 Kurang pengetahuan (tentang ............................

15. ASPEK MEDIS


Diagnosis medik : Axis 1 : F. 20,13

Axis 2 : Kepribadian : Introvert

Axis 3 : -

Axis 4 : Pasien pengangguran

Axis 5 : 20-30

Terapimedik :

3.2 ANALISA DATA


NO DATA MASALAH/DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1 DS: pasien mengatakan sudah tidak ingin hidup Resiko bunuh diri
lagi, lebih baik mati saja, mengancam akan
mengakhiri hidupnya.

DO: asien terlihat murung, tidak bergairah untuk


hidup .
28
3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko Bunuh Diri
3.4 POHON MASALAH

effect Bunuh Diri

core problem
Resiko Bunuh Diri

causa Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah Kronis

3.5 DIAGNOSA PRIORITAS


Resiko bunuh diri

3.6 INTERVENSI
Dx Perencanaan
No
Tgl Keperawata Tujuan Kriteria Intervensi
Dx
n Evaluasi
Resiko TUM: Klien
bunuh diri tidak
mencederai diri
sendiri

TUK:

1. Klien dapat Setelah … kali 1. Bina hubungan saling

membina interaksi, klien percaya dengan meng-

hubungan menunjukkan gunakan prinsip


eskpresi wajah komunikasi
29
saling percaya bersahabat, terapeutik :
dengan menun-jukkan
 Sapa klien dengan
perawat. rasa senang, ada
ramah baik verbal
kontak mata, mau
maupun non
berjabat tangan,
verbal.
mau menyebutkan
 Perkenalkan diri
nama, mau
dengan sopan.
menjawab salam,
 Tanyakan nama
klien mau duduk
lengkap dan nama
berdampingan
panggilan yang
dengan perawat,
disukai klien.
mau
 Jelaskan tujuan
mengutarakan
pertemuan.
masalah yang
 Jujur dan menepati
dihadapi.
janji.
 Tunjukan sikap
empati dan
menerima klien
apa adanya.
 Beri perhatian dan
perhatikan
kebutuhan dasar
klien.
2. Klien dapat Setelah … kali 1. jauhkan klien dari
terlindungi interaksi, klien benda-benda yang dapat
dari prilaku dapat terlindung membahayakan
2. tempatkan klien di ruang
bunuh diri. dari prilaku
yang tenang dan selalu
bunuh diri.
terlihat oleh perawat
3. awasi klien secara ketat
setiap saat

3. Klien dapat Setelah … kali 1. Dengarkan keluhan


mengespresik interaksi, klien yang dirasakan klien

30
an persaannya dapat 2. Bersikap empati
mengeekspresika untuk meningkatkan
n perasaannya ungkapan keraguan,
ketakutan, dan
keputusasaan
3. Beri waktu dan
kesempatan untuk
menceritakan arti
penderitaannya
4. Beri dukungan pada
tindakan atau ucapan
klien yang
menunjukan keinginan
untuk hidup.

4. Klien Setelah … kali 1. Bantu untuk


dapat interaksi, klien memahami bahwa
meningkatka dapat klien dapat mengatasi
n harga diri meningkatkan keputusasaannya
2. Kaji dan kerakan
harga diri
sumber-sumber
internal individu
3. Bantu
mengidentifikasi
sumber-sumber
harapan (missal
hubungan antar
sesame, keyakinan,
hal-hal untuk
diselesaaikan)

5. Klien Setelah … kali 1. Ajarkan


dapat interaksi, klien mengidentifikasi
menggunaka dapat pengalaman-
n koping menggunakan pengalaman yang
31
yang adaptif koping yang menyenangkan
2. Bantu untuk
adaptif
mengenali hal-hal
yang ia cintai dan yang
ia sayangi dan
pentingnya terhadap
kehidupan orang lain
3. Beri dorongan
untuk bebagi
keprihatinan pada
orang lain

6. Klien Klien dapat 1. Kaji dan


dapat menggunakan manfaatkan sumber-
menggunaka dukungan sosial sumber eksternal
n dukungan individu
2. Kaji system
sosial
pendukung keyakinan
yang dimiliki klien
3. Lakukan rujukan
sesuiindikasi (pemuka
agama)

7. Klien Setelah … kali 1. Diskusikan dengan


dapat interaksi, klien klien tentang manfaat
menggunaka dapat dan kerugian tidak
n obat menggunakan minum obat, nama ,
dengan obat dengan benar warna, dosis, cara ,
benar dan dan tepat efek terapi dan efek
tepat samping penggunan
obat
2. Pantau klien saat
penggunaan obat
 Beri pujian
jika klien
menggunakan obat

32
dengan benar
3. Diskusikan akibat
berhenti minum obat
tanpa konsultasi
dengan dokter
 Anjurkan
klien untuk
konsultasi kepada
dokter/perawat jika
terjadi hal – hal
yang tidak di
inginkan .

3.7 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Menurut Setiadi,(2012) dalam buku Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan,
implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.
SP 1 a. Membina hubungan saling percaya
denggan klien
b. Mengidentifikasikan benda-benda
yang dapat membahayakan (misalnya
pisau, silet, gelas, tali pinggang)
c. Mengamankan benda-benda yang
dapat membahayakan pasien
d. Melakukan kontrak treatment
e. Mengajarkan cara mengendalikan
dorongan bunuh diri
f. Masukkan dalam jadwal harian pasien
SP 2 a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)
b. Mengidentifikasi aspek positif

33
pasien
c. Mendorong pasien untuk berfikir
positif terhadap diri sendiri
d. Mendorong pasien untuk
menghargai diri sendiri sebagai
individu yang berharga
e. Masukkan dalam jadwal harian
pasien
SP 3 a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1
dan 2 )
b. Mengidentifikasi pola koping yang
biasa diterapkan pasien
c. Menilai pola koping yang biasa
dilakukan
d. Mengidentifikasi pola koping yang
konstruktif
e. Mendorong pasien memilih pola
koping yang konstruktif
f. Mengajurkan pasien menerapkan
pola koping konstruktif dalam kegiatan
harian
a. Evaluasi kegiatan yang lalu
SP 1,2 & 3)
b. Membuat rencana masa
depan yang realistis bersama
pasien
c. Mengidentifikasi cara
mencapai rencana masa depan
yang realistis
d. Memberi dorongan pasien
melakukan kegiatan dalam rangka
meraih masa depan yang realistis
SP 1 Keluarga a. Mendiskusikan masalah yang
dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan
gejala resiko bunuh diri, dan jenis
perilaku yang dialami pasien beserta

34
proses terjadinya
c. Menjelaskan cara-cara merawat
pasien resiko bunuh diri yang dialami
pasien beserta proses terjadinya
d. Rencana tindak lanjut keluarga /
jadwal keluarga untuk merawat pasien
SP 2 Keluarga a. Evaluasi SP 1
b. Melatih keluarga mempraktekan
cara merawat pasien dengan resiko
bunuh diri
c. Melatih keluarga melakukan cara
merawat langsung kepada pasien
resiko bunuh diri
d. RTL / jadwal keluarga untuk
merawat pasien
SP 3 Keluarga a. Evaluasi SP 1 dan 2
b. Membantu keluarga membuat
jadwal aktivitas dirimuah termasuk
minum obat
c. Mendiskusikan sumber rujukan
yang bisa dijangkau oleh keluarga

3.8 EVALUASI KEPERAWATAN


Menurut Setiadi,(2012) dalam buku Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan,
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencaan
tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
bersinambungan dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya.
Komponen catatan perkembangan, antara lain sebagai berikut.
1. Kartu SOAP (data subjektif, data objektif, analisis/assessment, dan
perencanaan/plan) dapat dipakai untuk mendokumentasikan evaluasi dan
pengkajian ulang.
2. Kartu SOAPIER sesuai sebagai catatan yang ringkas mengenai penilaian
diagnosis keperawatan dan penyelesaiannya. SOAPIER
S (Subjektif) : data subjektif yang diambil dari keluhan klien, kecuali pada klien
yang afasia.
O (Objektif) : data objektif yang diperoleh dari hasil observasi perawat, misalnya
tanda-tanda akibat penyimpanan fungsi fisik, tindakan keperawatan, atau akibat
pengobatan.

35
A (Analisis/assessment) : masalah dan diagnosis keperawatan klien yang
dianalisis/dikaji dari data subjektif dan data objektif. Karena status klien selalu
berubah yang mengakibatkan informasi/data perlu pembaharuan, proses
analisis/assessment bersifat diinamis. Oleh karena itu sering memerlukan
pengkajian ulang untuk menentukan perubahan diagnosis, rencana, dan tindakan.
(Perencanaan/planning) : perencanaan kembali tentang pengembangan tindakan
keperawatan, baik yang sekarang maupun yang akan datang (hasil modifikasi
rencana keperawatan) dengan tujuan memperbaiki keadaan kesehatan klien.
Proses ini berdasarkan kriteria tujaun yang spesifik dan periode yang telah
ditentukan.
I (Intervensi) : tindakan keperawatan yang digunakan untuk memecahkan atau
menghilangkan masalah klien. Karena status klien selalu berubah, intervensi
harus dimodifikasi atau diubah sesuai rencana yang telah ditetapkan.
E (Evaluasi) : penilaian tindakan yang diberikan pada klien dan analisis respons
klien terhadapintervensi yang berfokus pada kriteria evaluasi tidak tercapai, harus
dicari alternatif intervensiyang memungkinkan kriteria tujuan tercapai.
R (Revisi) : tindakan revisi/modifikasi proses keperawatan terutama diagnosis
dan tujuan jika ada indikasi perubahan intervensi atau pengobatan klien. Revisi
proses asuhan keperawatan ini untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam
kerangka waktu yang telah ditetapkan.
a. Perhatikan hari demi hari
b. Libatkan klien dalam mengevaluasi perilakunya
 Apakah ancaman bunuh diri sudah menghilang?
 Apakah perilaku menunjukkan kepedulian pada kegiatan sehari-hari?
 Apakah sumber koping sudah dipakai semua?
 Apakah klien sudah dapat menggambarkan dirinya dengan positif?
 Apakah sudah memakai koping positif?
 Apakah klien terlibat dalam aktivitas meningkatkan diri?
 Apakah klien sudah mendapatkan keyakinan untuk pertumbuhan diri?

36
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2008).

Etiologi risiko bunuh diri Secara universal: karena ketidakmampuan individu


untuk menyelesaikan masalah. Terbagi menjadi:

a. Faktor Genetik.
b. Faktor Biologis lain.
c. Faktor Psikososial & Lingkungan.
4.2 Saran

Penulis mengharapkan agar teman-teman mampu memahami hasil pemaparan


dari makalah kami tentang asuhan keperawatan pediculosis . Kami menyadari bahwa
makalah yang kami buat belum begitu sempurna.
maka dari itu penulis mengharapkan masukan yang dapat membangun agar
pembuatan makalah berikutnya dapat lebih sempurna.

37
DAFTAR PUSTAKA

Dalami, E, (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Jiwa. Jakarta, Trans
Info Media.

Jenny, (2010). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan Gangguan
Jiwa. Medan, USU Press.

Keliat. B.A, (2009). Tingkah Laku Bunuh Diri. Jakarta, EGC.

Kompas, (2016) di Peroleh dari situs kompas.com pada tanggal 18 Mei 2016.

Stuart, GW, (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta, EGC.

Sujono & Teguh, (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta, Graha Ilmu.

Yosep, I, (2010). Keperawatan Jiwa. Bandung, Refika Aditama.

38

Anda mungkin juga menyukai