Anda di halaman 1dari 23

.

PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin cangihnya peralatan imejing dalam
dunia radiologi ternyata memberikan dampak terhadap perkembangan pemeriksaan
yang dilakukan. Hal ini dapat dilihat pada pemeriksaan pembuluh darah. Pada
awalnya pemeriksaan pembuluh darah dilakukan secara konvensional (Venografi) dan
intervensional (Angiografi). Namun sekarang pemeriksaan serupa dapat juga
dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti MRI, CT Scan dan USG.
Sehingga pertanyaan yang muncul adalah sampai sejauh mana pemeriksaan cangging
tersebut dapat menggantikan pemeriksaan konvensional dan intervensional?.

Dalam makalah ini kita tidak akan membahas itu. Tapi hal ini kita akan diskusikan
nanti. Pemeriksaan phlebografi adalah merupakan istilah lain dari pemeriksaan
pembuluh darah balik (venografi) tungkai bawah. Venografi sendiri definisinya adalah
pemeriksaan secara radiologis untuk memvisualisasikan pembuluh darah balik (vena)
dengan menggunakan kontras media. Pemeriksaan ini sudah jarang sekali dilakukan
seiring dengan perkembangan peralatan canggih tersebut karena para klinisi lebih
memilih menggunakan modalitas CT SCAN, MRI atau USG.

Dalam pelaksanaannya, pemeriksaan pembuluh darah balik (venography) ini ada


beraneka ragam antara lain: Lower Limb Venography (Phlebography), Upper Limb
Venography, Superior Venocavography, Inferior Venocavography,
Spleenoportography, dan Intra Oseous venography. Dari kesemua pemeriksaan
tersebut yang masih sering dilakukan adalah pemeriksaan Lower Limb Venography
atau yang sering disebut phlebografi. Umumnya pemeriksaan ini dengan kasus
varises.

Dalam dekade terakhir telah ditemukan berbagai metode melakukan pemeriksaan


phlebografi, ada yang melakukan pemeriksaan ini berdasarkan aliran atau jalur intra
oseus (intra Oseus Venography). Ada juga yang melakukan penyuntikan pada vena
femoralis (Retrograde Injection), dan ada pula yang penyuntikannya dari arah bawah
(vena dorsum pedis) yang dikenal Ascending Phlebography. Selain itu ada pula yang
menggunakan teknik tidur telentang dan berdiri (Supine and Erect) dan ada juga yang
penyuntikannya pada vena poplitea. Semua metode tersebut diatas merupakan single
method artinya hanya untuk memperlihatkan suatu bagian tertentu saja sesuai dengan
kasusnya.

Perkembangan terakhir telah ditemukannya teknik khususn yang merupakan


gabungan dari beberapa single method untuk mendapatkan hasil yang memuaskan
seperti yang telah dirintis oleh Dow (Phlebograpic Work Flow, 1951), kemudian
Greyspredt (1953) dan kawan-kawan yang telah memodofikasi dan mendapatkan
metode khusus yang dapat menghasilkan gambaran vena berdasarkan single method
tersebut. Dengan metode tersebut gambaran vena tungkai bawah dapat diperlihatkan
dengan baik sampai vena iliaka.

Teknik yang digunakan mirip dengan teknik Ascending Phlebografi hanya saja pada
daerah diatas pergelangan kaki dilakukan stuwing (pembendungan) dengan tourniquet
untuk memperlambat laju kontras dan penyuntikan kontras dilakukan pada salah satu
cabang vena dorsum pedis yang kalibernya relative lurus. Teknik ini pada awalnya
mengalami kesulitan pada fase visualisasi vena iliaka sehingga disuntikkan lagi
sebanyak 10 cc lagi untuk keperluan fase ini.

B. KEGUNAAN PHLEBOGRAFI
Pemeriksaan ini sangat berguna sekali dalam memperlihatkan kelainan pembuluh
darah vena tungkai bawah. Diantaranya adalah :
1. Dapat menentukan luas dan letak dari suatu perforasi pada pasien dengan varises.
Informasi yang diperoleh sangat berguna sekali dalam kasus ulkus tungkai berulang
sebagai follow up pasien setelah dioperasi.
2. Untuk mengetahui keadaan dan kemampua katup vena. Informasi yang diberikan
akan sangat membantu pada kasus oedema yang tidak memperlihatkan varises pada
daerah superficial.
3. Sangat berguna dalam investigasi dari ulkus atau oedema yang menyertai trombosis
vena utama.
4. Dapat menentukan letak dari vena safena. Hal ini sangat berguna pada kasus varises
berulang.
5. Dapat memperlihatkan trombosis pada vena iliaka karena oedema, ulkus,
pembengkakan pembuluh darah berulang khususnya untuk mengetahui perkembangan
vena setelah dilakukan tindakan operasi.
6. Untuk mengevaluasi kelainan konginital pada vena.
7. Untuk mengidentifikasi vena yang dijadikan cangkok sebagai arteri by pass.

C. KONTRA INDIKASI
Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dengan :
1. Pasien yang diketahui alergi berat atau hipersensitif terhadap kontras media.
2. Pasien dengan trombophlebitis baru yang luas
3. Pasien dengan protombin tinggi yang sedang dalam perawatan khusus dan terapi
anti koagulan karena dapat menyebabkan terjadinya hematom.

D. KOMPLIKASI YANG DITIMBULKAN


Komplikasi yang dapat terjadi setelah pemeriksaan phlebografi adalah:
1. Infeksi pada daerah injeksi karena prinsip sterilitasnya kurang.
2. Jaringan kulit terluka, vena dorsum pedis berada pada daerah superficial.
3. Phlebitis
4. Alergi kontras mual, muntah gatal-gatal atau keluar bintik merah.
5. Gagal Jantung kongestif
6. Gagal Ginjal
7. Trombus

E. PERSIAPAN PEMERIKSAAN
Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan, pasien hanya diminta merendam kedua
kakinya di air hangat terkadang cukup mencuci kaki saja sebelum pemeriksaan
dilakukan.

Pasien dijelaskan mengenai jalannya pemeriksaan, kegunaan pemeriksaan dan teknik


atau proses selama pemeriksaan berlangsung samapai pada resiko yang mungkin
terjadi setelah pemeriksaan dilakukan sehingga pasien diperiksa dalam kondisi siap
mental dan physikisnya. Kemudian pasien diminta untuk mengisi informed consent
atau surat persetujuan tindakan medis.

F. PERALATAN YANG DIPERLUKAN


Steril
1. Spuit 5 cc 1 buah
2. Spuit 25 cc 2 buah
3. Wing needle sesuai caliber venanya (ukuran 21, 23, 19 gauge)
4. Bokor atau kom steril untuk larutan garam fisiologis dan kontras
5. Duk steril untuk alas kaki.

Tidak Steril
1. Botol berisi Kontras non ionic 60-70 cc
2. Botol berisi Larutan garam fisiologis untuk uji patensi pembuluh darah dan
memflash kontras.
3. Cairan antiseptic (betadine)
4. Cairan alcohol
5. Kapas atau haas
6. Torniquet
7. Bengkok
8. Ampu sorot
9. Balok kecil buat pijakan dan tumpuan kakai yang tidak diperiksa
10. Alat resusitasi dan troli emergency

G. KONTRAS MEDIA
Kontras media yang digunakan adalah jenis non ionik sebanyak 60-70 cc untuk satu
sisi dengan kekentalan 350-370 mmol/mg

H. PROSEDUR PEMERIKSAAN
Pemeriksaan ini dilakukan secara team work antara radiolog, radiographer dan
perawat serta petugas kamar gelap.
1. Pasien diberikan penjelasan mengenai prosedur dan manfaat pemeriksaan yang
akan dilakukan.
2. Pasien melepaskan seluruh pakaian luar termasuk BH bagi pasien wanita dan
mengenakan pakaina ganti yang telah disiapkan.
3. Tungkai yang akan diperiksan direndam air hanagat. Selama 10-15 menit.
4. Pasien dalam posisi duduk, kakai diletakkan diatas duk steril.
5. Dipasang tourniquet diatas pergelangan kaki.
6. Lakukan sterilisasi dengan antiseptic dan kapas alcohol area dorsum pedis.
7. Penyuntikan menggunakan wing needle yang sudah terhubung dengan spuit 5 cc
berisi salin, ukurannya sesuai dengan caliber vena yang diperiksan. Kemudian
Dilakukan fiksasi jarum dan kemudian dihubungkan dengan spuit 25 cc yang berisi
kontras. Penyuntikan dilakukan seiring dengan pengaturan posisi objek pemeriksaan.
8. Pasien dibaringkan dalam posisi telentang diatas meja pemeriksaan sementara itu
meja pemeriksaan diposisikan 45 derajat semi erect. Tungkai kontra lateral berpijak
diatas balok kecil sehingga tungkai yang aakan diperiksa dalam posisi
“menggantung”.
9. Pada tahap awal disuntikan sebanyak 50-60 cc untuk visualisasi vena daerah cruris
dan femur kemudian tahap kedua disuntikkan 10 cc untuk visualisasi vena iliaka.
Penyuntikan dilakukan dengan flow yang relative cepat untuk mengejar aliran
kontras. Untuk visualisasi vena daerah cruris dilakukan proyeksi foto cruris AP dan
lateral sedangkan pada vena femoralis cukup femur lateral dengan kolimasi diperlebar
sehingga area pembuluh darah tercakup.
10. Setelah femur dan cruris diambil gambar posisi sudut meja diturunkan menjadi 25
derajat sehingga posisi lebih landai. Kemudian kontras 10 cc disuntikkan, stuwing
dibuka dan diambil foto pelvis Ap untuk visualisasi vena iliaka sampai vena
iliofemoralnya.
11. Setelah selesai kemudian dilakukan penyuntikan salin untuk membilas (flash),
setelah itu wing needle dicabut dak kemudian bekas injeksi ditutup dengan plester
dengan memperhatikan prinsip sterilitas.
12. Jangan lupa control fungsi-fungsi vital untuk mengawasi keadaan umum pasien,
jika tidak ada tanda-tanda yang membahasayakan pemeriksaan selesai.

I. EVALUASI FOTO
Hasil gambaran yang dihasilkan akan memperlihatkan pembuluh darah balik yang ada
pada area tungkai bawah cruris pada posisi Antero Posterior (AP) dan lateral, vena
femoralis, vena safena, ilio femoral dan vena-vena pada daerah tungkai atas lainnya
pada proyeksi Antero posterior (AP).
Gambaran Normal
– Aliran kontras akan mengisi vena dan cabang-cabangnya bebas hambatan (lancar)
– Katup venapun dapat divusualisasikan dengan jelas

Gambaran tidak Normal


Aliran kontras akan terbendung pada suatu bagian (obstruksi) dan pada akhirnya vena
kolateral
akan terbentuk. Bendungan bisa disebabkan adanya adanya varises, tumor, radang,
ulkus, deep vein
thrombosis dan lainnya.
J. DISKUSI
Untuk pemeriksaan pembuluh darah balik daerah tungkai di RS Pusat Pertamina,
pemeriksaan phlebografi merupakan alternative pertama dalam penegakan diagnose
stelah itu pemeriksan CT Scan atau MRI atau USG. Karena dari segi informasi yang
dihasilkan phlebografi lebih dapat memvisualisasikan vena utama dan perifer tanpa
bercampur dengan arteri, pengambilan gambar dan injeksi direct pada vena.
Pemeriksaan MRI Phlebografi ataupun CT Phlebografi tungkai bawah kurang dapat
memvisualisasikan vena-vena perifer meskipun pada diagnosis klinis Deep Vein
Trombosis (DVT) atau pelebaran pembuluh darah karena vena utama tersumbat pada
tungkai bawah dan daerah poplitea. Resolusi yang dihasilkan sangat tidak memuaskan
dalam memvisualisasikan vena utama dan superficial dari tungkai bawah karena
gambarannya masih bercampur dengan arteri, baik MR Phlebografi ataupun CT
Phlebografi tidak dapat memvisualisasikan vena-vena superficial dengan baik. Selain
itu pemeriksaan MRI tidak dapat dilakukan pada pasien dengan pacemaker (alat pacu
jantung) atau terdapat logam yang tertanam dalam tubuh. Baik MR Phlebografi
maupun CT Phlebografi injeksi kontras dilakukan menggunakan injector otomatis
sehingga menyebabkan rasa ketidaknyamanan dan was-was terlebih flow ratenya
minimal 3 ml/detik. Selain dari pada itu pemeriksaan MRI dan CT Scan phlebografi
relative mahal bila dibandingkan dengan pemeriksaan Phlebografi Konvensional. Dari
sisi pengerjakaan phlebografi konvensional lebih simple dan mudah dari pada MRI
atau CT Scan phlebografi.
PLEBOGRAFI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Radiologi merupakan salah satu ilmu dari
bidang kedokteran, yang mempelajari teknik dari pengambilan gambar foto rontgen dengan
menggunakan sinar-x, pelayanan radiologi di rumah sakit sangat dibutuhkan sekali untuk menegakkan
diagnosa sebagai penunjang pelayanan medis dan juga menghasilkan pencitraan yang baik terhadap
objek yang akan diperiksa. Seiring dengan perkembangan dunia kesehatan terutama dalam bidang
radiologi yang menghasilkan foto rontgen dalam membantu dalam mendiagnosa penyakit oleh para
dokter ahli maka dibuatlah beberapa teknik khusus dalam pengambilan gambar (foto) sesuai objek yang
akan dilakukan pemeriksaan. Teknik-teknik tersebut wajib diketahui oleh para radiografer untuk
membantu dalam pemeriksaan-pemeriksaan khusus dan agar tidak terjadi kesalahan dalam
pemeriksaan. Para radiografer juga diwajibkan untuk memahami dan mengetahui nama-nama anatomi
tubuh serta macam-macam penyakit untuk menunjang pemeriksaan melalui foto
rontgen. 1.2 Tujuan Penulisan Untuk menambah wawasan dan pengetahuan
yang kami miliki sebelumnya dan juga untuk mengembangkan potensi yang kami punya, di dalam
menghadapi dunia kerja. Tujuan umumnya adalah untuk mengetahui penatalaksanaan pemeriksaan
Phlebografi Tujuan khususnya adalah untuk mengetahui teknik pemeriksaan phlebografi dari pembuluh
darah Vena pada bagian extrimitas bawah (anggota gerak bawah) dengan menyuntikkan kontras media
langsung kedalam vena superficial pada telapak kaki bagian dorsal. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi
Plebografi atau secara umum disebut juga venografi adalah pemeriksaan pembuluh darah vena dengan
penyuntikan kontras media langsung kedalam vena. Pembuluh vena yang sering dilakukan pada
pemeriksaan ini antara lain : vena orbitalis, vena extrimitas inferior, vena cava inferior, dll. Dan
pada makalah ini hanya akan dibahas tentang Plebografi Extrimitas Inferior yang lebih sering hanya
disebut plebografi. Plebografi adalah pemeriksaan radiografi dari pembuluh darah Vena pada bagian
extrimitas bawah (anggota gerak bawah) dengan menyuntikkan kontras media langsung kedalam vena
superficial pada telapak kaki bagian dorsal. 2.2 Anatomi Pembuluh darah merupakan salah satu system
peredaran di dalam tubuh manusia. Pembuluh darah terdiri atas tiga bagian yaitu pembuluh darah
arteri, vena dan kapiler. Pembuluh darah vena berfungsi mengantarkan darah ke jantung. Dinding
pembuluh darah terdiri tiga lapisan yaitu lapisan terluar terdiri atas jaringan ikat yang fibrus yang
disebut tunika advesia, lapisan tengah berotot tipis, kurang kuat, lebih mudah kempis dan kurang elastic
dibandingkan dengan arteri, dan lapisan paling dalam yang endothelial disebut tunika
intima. Untuk pemeriksaan plebografi harus mengetahui sistem peredaran darah pada extrimitas
inferior, yaitu pembuluh darah apa saja yang melewatinya dan kearah mana pembuluh darah tersebut
berjalan. Terdapat dua macam pembuluh darah, yaitu : Pembuluh darah Arteri Dimulai dari Arteri
Femoralis yang berjalan melintasi sisi medial paha dan disepertiga bawah paha berjalan dibelakang
sendi lutut, dimana menjadi Arteri Poplitea. Kemudian bercabang lagi menjadi dua arteri utama untuk
melayani extrimitas inferior. Arteri Tibialis Anterior terletak disebelah bagian anterior otot betis, dan
berjalan melintasi lekukan pergelangan kaki menjadi arteri Dorsalis Pedis. Arteri ini melayani stuktur
pada sebelah dorsal kaki dan memberi cabang kepermukaan dorsal semua jari kaki. Arteri-arteri ini
dapat diraba, ditengah-tengah antara maleolus lateral dan medial, didepan sendi pergelangan kaki
dalam kedudukan dorsofleksi. Cabang kedua dari Arteria Poplitea ialah Arteri Tibialis Posterior, yang
berjalan kebawah dibelakang Tibia, terletak disebelah dalam otot tungkai bawah. Arteri ini masuk
kedalam telapak kaki melalui sebelah belakang Maleolus dibawah jaringan retikulum pergelangan kaki.
Kemudian bercabang menjadi Arteri Plantaris Medial untuk melayani struktur ditelapak kaki. Pembuluh
Darah Vena Pembuluh darah Vena yang terbesar adalah Vena Safena Magna yang panjang dimulai dari
sebelah medial dorsum kaki dan menerima cabang-cabang Vena dari daerah ini, kemudian berjalan
keatas disebelah medial tungkai dibelakang lutut untuk muncul kedepan lagi dan akhirnya menembus
fasia kedalam Vena Femoralis yang berda di dalam selaput Femoralis. Vena Safena kecil yang pendek
mulai pada sisi lateral kaki. Berjalan dibelakang Maleolus lateralis dan melalui tengah tengah betis
tungkai kearah lutut. Cabang-cabang dari kaki dan dari belakang tungkai diteima dan akhirnya
menembusi fasia di dalam daerah poplitea untuk bergabung dengan Vena Poplitea ( dalam
). Pada pemeriksaan Plebografi yang diperiksa hanyalah Pembuluh Darah Vena yang berjalan
berlawanan arah dengan Pembuluh Darah Arteri. Pembuluh Darah Arteri berjalan dari jantung sampai
ke kaki bagian bawah sedangkan Pembuluh Darah Vena berjalan dari kaki bagian bawah kembali manuju
jantung. 2.3 Patologi dan Indikasi Pemeriksaan Beberapa kelainan patologis yang terjadi pada pembuluh
darah tungkai bawah antara lain : deep vein trombosit (DVT), flebitis, thrombosis vena dan trombo-
flebitis. Varises istilah varises vena menunjukkan adanya dilatasi vena, yang secara khas disertai keadaan
vena yang memanjang dan berkelok-kelok. Penyebab varises vena yang pasti belum diketahui. Varises
dibedakan menjadi primer dan sekunder. Penyebab varises primer tampaknya adalah kelemahan
structural dari dinding pembuluh darah yang diturunkan. Dilatasi dpat disertai gangguan katup vena
karena daun katup tidak mampu menutup dan menahan aliran refluks. Varises primer cenderung terjai
pada vena-vena permukaan karena kurangnya dukungan dari luar atau kurangnya resistensi jaringan
subkutan. Varises sekunder disebabkan oleh gangguan patologi system vena dalam yang ditimbulkan
konginental atau didapat, menyebabkan dilatasi vena-vena permukaan, penghubung atau kolateral. Jika
katup vena penghubung tidak berfungsi denagan baik, maka peningkatan tekanan sirkuit vena dalam
akan menyebabkan aliran balik darah kedalam vena penghubung. Darah vena akan dialirkan ke vena
permukaan dari vena dlam, hal ini merupakan predisposisiuntuk timbulnay varises sekunder pada vena
permukaan. Pada keadaan ini vena permukaan berfungsi sebagai pembuluh kolateral untuk system vena
dalam. Pemeriksaan ini dilakukan untuk : 1. Menentukan letak kedalaman pembuluh darah vena
2. Kemampuan katup pada pembuluh darah vena 3. Letak kebocoran pada pembuluh darah
vena Ketiga hal tersebut merupakan indikasi dari Deep Vena Thrombosis ( pembengkakan
dinding pembuluh darah vena ) dengan atau tanpa pulmonary embolism ( penyumbatan dan
penggumpalan pada pembuluh darah ) dan Oedema. 2.4 Alat dan Bahan Steril : a. Sclap vein set
(butterfly needles) ukuran 19 dan 23 b. Spuit 20 ml c. Spuit 50 ml d. Flexible connections
e. Y-Shape connector f. Drawing-up cannula g. Gallipot h. Kain kassa i. Baju pasien
Unsteril : a. Skin cleanser (Hibitine 0,5 %) b. Local anastesi (Lignocaine 1 %) c. Kontras Media
(Meglumine Iothalamate 60 %, Conray 280) d. Jarum disposible e. Infus f. Plester g. Obat-
obat emergency 2.5 Kontra Indikasi Pasien yang alergi kontras media. 2.6 Persiapan Pasien
1. Pasien tidak boleh makan dan minum selama 5 jam sebelum pemeriksaan 2. Pasien mixie
sebelum pemeriksaan 2.7 Premedikasi 1. Omnophon 2.8 Bahan Kontras Kontras media adalah suatu
bahan yang sangat radioopaque atau radiolucent apabila berinteraksi denagn sinar-X sehingga dapat
membedakan antara organ dan jaringan disekitarnya (Rasad, 2005) Tujuan penggunaan bahan
kontras yaitu untuk memperlihatkan anatomi dan fungsi dari organ yang akan diperiksa, sehingga dapat
menegakkan diagnose dari suatu penyakit dengan baik. Jenis bahan kontras Jenis bahan kontars dibagi
menjadi 2 ( dua ), yaitu : a. Bahan kontras negative terdiri dari udara, O2 ( oksigen ) dan CO2 (
karbondioksida ) b. Bahan kontras positif terdiri dari turunan barium sulfat ( BaSO4 ) dan turunan
iodium / iodine. Penggolongan kontras media intravaskuler dari turunan iodium a. Kontras media
yang larut minyak Contohnya : Duroliopaque dan Pantopaque b. Kontras media yang larut dalam air
terdiri dari : 1) Monomer ionic ditandai dengan satu senyawa triodobenzene dengan salah satu
ikatannya berhubungan dengan gugus carboxcyl. Contohnya : Telebrix. Urografin, angiografin, dll
2) Monomer non ionic ditandai dengan satu senyawa tridobenzene yang membawa 3 atau lebih
gugus hydroxyl. Contohnya : Iopamiro, Omnipaque dan Ultravist. 3) Dimer ionic ditandai dengan
senyaw triodobenzene yang satu sama lain dihubungkan dengan jembatan rantai karbon dan masing-
masing senyaw adalah seperti monomer ionic. Contoh : Hexabric. 4) Dimer non ionic ditandai dengan
dua senyawa monomer non ionic yang dihubungkan melalui jembatan rantai karbon. Contoh ; Isovist
dan Visipaque. Dalam pemeriksaan ini bahan kontras yang digunakan adalah kontras media jenis
non ionic sebanyak 60-70 cc untuk satu sisi dengan kekentalan 00-350 mgl/ml, seperti Optiray (Ioversol)
dan 30-50 ml Meglumine Iothalamate 60% ( Conray 280 ). 2.9 Prosedur Pemeriksaan Foto
Pendahuluan : 1. Pasien diposisikan supine, dipertengahan meja pemeriksaan 2. Foto mencakup
tungkai atas, lutut, tungkai bawah dan ankle dengan menggunakan under couch tube. Foto Selanjutnya :
1. Pasien diberikan premedikasi, yaitu Omnophon sebelum pemeriksaan 2. Berikan anastesi lokal
pada daerah vena superficial pada bagian telapak kaki bagian dorsal 3. Jika memungkinkan
pemeriksaan pasien dilakukan dengan posisi erect, agar pembuluh darah vena bagian dalam akan lebih
terlihat. Posisi erect tidak dapat dilakukan pada pasien yang memiliki kasus vena trombosis akut, tetapi
pada kasus seperti ini pasien diatur supine dengan menyudutkan meja pemeriksaan 20°-30° dengan
posisi kaki lebih rendah dari kepala. 4. Lakukan kompresi pada ankle, pada beberapa kasus biasanya
dilakukan kompresi di beberapa bagian seperti pada bagian bawah lutut untuk memperkuat pengisian
pembuluh darah vena pada kaki. Kompresi tersebut lebih bagus bila dilakukan dengan mengikatkan tali
yang ukuran lebarnya 5 cm (2 inci). 5. Pemasukan kontras media dilakukan dengan penyuntikan jarum
kecil yang disambungkan dengan flexible polythen (butterfly needle) ke dalam pembuluh darah vena di
kaki bagian dorsal dan pastikan jarum tetap pada posisinya dengan cara dilekatkan dengan plester.
6. Pada saat penyuntikan kontras media kompresi harus dikencangkan dan pasien diminta melakukan
valsava manufer (pasien diminta untuk menarik napas lalu keluarkan sekuatnya sambil mulut ditutup
dan hidung dijepit dengan dua jari). Instruksi ini dilakukan agar memberikan efek untuk
mengembangkan pembuluh darah vena agar menjadi lebih besar dan gambaran katup lebih terlihat
pada gambar. 7. Kaki yang diperiksa diatur endorotasi untuk memisahkan gambaran tibia dan fibula
agar tidak overlapping dan tidak menutupi pembuluh darah vena. 8. Kontras media disuntikkan
sedikit demi sedikit dengan kecepatan penyuntikan 5-6 ml/detik hingga vena yang diperiksa penuh, lalu
suntikan kembali kontras media untuk mengisi penuh vena yang akan diperiksa selanjutnya sambil
mengatur kompresinya. Biasanya untuk mengisi penuh vena pada tungkai bawah diperlukan waktu 5-10
detik setelah penyuntikan. Sedangkan untuk mengisi penuh vena pada tungkai atas diperlukan waktu
15-20 detik setelah penyuntikan. 9. Perjalanan kontras media diikuti dengan fluoroscopy dan
pengambilan foto AP dan Lateral yang dilakukan mulai dari tungkai bawah dengan melepas kompresi
pada ankle lalu ke tungkai atas dengan melepas kompresi pada lutut sambil pasien melakukan valsava
manufer sesuai instruksi dari dokter radiologi. 10. Untuk melihat vena illiaca diatur kompresinya dan
kemiringan meja pemeriksaan juga dapat membantu memperlihatkan gambaran pangkal dari vena cava
inverior. 11. Setelah pemeriksaan pasien harus diinfus agar konsentrasi kontras media berkurang dalam
pembuluh darah berkurang dan lebih mudah diserap oleh tubuh. Mine coins - make money:
http://bit.ly/money_crypto

Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto


PHLEBOGRAPHY
PHLEBOGRAPHY

Peranan dan keberadaan radiologi dalam bidang kesehatan sangatlah penting. Melalui bidang
ini kelainan penyakit yang diderita pasien dapat terdiagnosa dengan akurat dibantu oleh sinar x.
Sinar x adalah gelombang elektromagnetik yang memiliki panjang gelombang sangat pendek.
Pemeriksaan yang menggunakkan sinar x menurut perkembangan teknologinya dibagi menjadi
dua yaitu konvensional dan non konvensional.
Adapula pemeriksaan rontgen dibagi lagi menjadi 2 yaitu pemeriksaan kontras dan non
kontras. Pemeriksaan kontras adalah pemeriksaan radiografi khusus dengan menggunakan kontras
media dan pemeriksaan non kontras adalah pemeriksaan radiografi khusus tanpa menggunakan
kontras media.
Contoh pemeriksaan kontras radiografi adalah angiografi yaitu pemeriksaan radiografi dari
pembuluh darah yang diopafisikasi dengan kontras media yang mengandung yodium. Secara garis
besar angiografi dibagi menjadi arteriogram dan venogram tetapi tpenggunaannya tergantung pada
pembuluh darah yang akan disuntik. Ada berbagai macam pemeriksaan angiografi salah satunya
adalah phlebografi.
Phlebografi adalah sebuah prosedur x ray test yang dilakukan untuk mengetahui
gambaran aliran darah vena pada bagian tubuh tertentu dengan memasukkan kontras ke dalam vena.
pasien yang alergi pada kontras media.
Pasien dengan trombophlebitis baru yang luas.
Pasien dengan protombin tinggi yang sedang dalam perawatan khusus dan terapi anti koalugan karena
dapat menyebabkan terjadinya hematom
Riwayat alergi kontras berat
Kehamilan
Umur tua dengan status cardiopulmonary berat
Premedikasi : omnophon
Persiapan pasien :
- Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan, pasien hanya diminta merendam kedua kakinya di air hangat
terkadang cukup mencuci kaki saja sebelum pemeriksaan dilakukan.
- Pasien mixie sebelum pemeriksaan.
Bahan kontras yang digunakan :
Pada pemeriksaan ini bahan kontras yang digunakan adalah kontras media jenis non ionic sebanyak 60 –
70 cc untuk satu sisi dengan kekentalan 0 – 350 mgl/ml.seperti optiray (loversol) dan 30-50 ml meglumine
iothalamate 60% (conray 280).
Persiapan sebelum procedural :
 tidak makan dan minum sebelum tindakan
 cek status renalis (BUN, Creatinin) dan hidrasi, khususnya penderita diabetes
 Informed consent
 Kurangi kecemasan pasien, jika perlu sedasi dengan diazepam 10 mg per oral
 Mendapatkan hasil dari test noninvasif sebelumnya atau venogram
Persiapan saat tindakan :
 Fluoroscopy dengan kelengkapannya
 Meja pemeriksaan yang dapat diatur derajat kemiringan disertai penyanggah kaki
 Needle 19-23 gauge atau surflow No. 20
 Three-way stopcock
 Kontras 100-150 ml (Conray 43 mengandung 202 ml iodine/ml) / extremitas
 Spoit 50 ml
 Tourniquet
Komplikasi :
• Indikasi pada daerah injeksi karena prinsip sterilitasnya kurang
• Jaringan kulit terbuka, vena dorsum pedis berada pada daerah superficial.
• Phlebitis
• Alergi kontras mual, muntah gatal-gatal atau keluar`bintik merah
• Gagal ginjal
• Gagal jantung kongestif
• Trombus
Prosedur pemeriksaan :
1. Pasien diposisikan supine dipertengahan meja pemeriksaan.
2. Foto mencakup tungkai atas,lutut,tungkai bawah dan ankle dengan memakai under couch tube.
3. Pasien diberikan premedikasi yaitu omnophon sebelum pemeriksaan.
4. Berikan anastesi local pada daerah vena superficial pada bagian telapak kaki bagian dorsal.
5. Lakukan puncture vena dengan memilih vena perifer pada dorsum pedis kemudian pasang tourniquet
pada proksimal paha dan distal betis.
6. Lakukan kompresi pada ankle,pada beberapa kasus biasanya dilakukan kompresi dibeberapa bagian
seperti pada bagian bawah lutut untuk memperkuat pengisian pembuluh darah vena pada kaki. Kompresi
tersebut lebih bagus bila dilakukan dengan mengikatkan tali yang ukuran lebarnya 5 cm (2 inci).
7. Pemasukan kontras media dilakukan dengan penyuntikan jarum kecil yang disambungkan dengan
flexible polythen (butterfly needle) ke dalam pembuluh darah vena di kaki bagian dorsal dan pastikan
jarum tetap pada posisinya dengan cara diletakan pada plester.
8. Pada saat penyuntikan kontras media kompresi harus dikencangkan dan pasien diminta melakukan
valsava manufer (pasien diminta untuk menarik nafas lalu keluarkan sekuatnya sambil mulut ditutup dan
hidung dijepit dengan kedua jari). Instruksi ini dilakukan agar memberikan efek untuk mengembangkan
pembuluh darah vena agar menjadi lebih besar dan gambaran katup lebih terlihat pada gambar.
9. Kaki yang diperiksa diatur endorotasi untuk memisahkan gambaran tibia dan fibula agar tidak
overlapping dan tidak menutupi pembuluh darah vena.
10. Kontras media disuntikan sedikit demi sedikit dengan kecepatan penyuntikan 5-6 ml/detik hingga vena
yang diperiksa penuh,lalu suntikan kembali kontras media untuk mengisi penuh vena yang akan diperiksa
selanjutnya sambil mengatur kompresinya. Biasanya untuk mengisi penuh vena pada tungkai bawah
diperlukan waktu 5-10 detik setelah penyuntikan. Sedangkan untuk mengisi penuh vena pada tungkai
atas diperlukan waktu 15-20 detik setelah penyuntikan.
11. Injeksikan kontras 100-150 ml terus menerus, pastikan bebas reflux darah, tidak ada subcutaneous
extravasasi (terasa nyeri dan lokal sweeling selama pemberian kontras) dan injeksi kontras mudah
dimasukkan pada salah satu kaki dengan tekanan yang cukup, posisi pasien seperti pada gambar 1.
12. Perjalanan kontras media diikuti dengan fluoroscopy dan pengambilan foto AP dan lateral yang dilakukan
mulai dari tungkai bawah dengan melepas kompresi pada ankle lalu ke tungkai atas dengan melepas
kompresi pada lutut sambil pasien melakukan valsava manufer sesuai instruksi dari dokter radiologi.
13. Untuk melihat vena illiaca diatur kompresinya dan kemiringan meja pemeriksaan juga dapat membantu
memperlihatkan gambaran pangkal dari vena cava inferior.

14. Setelah pemeriksaan pasien harus diinfus agar konsentrasi kontras media berkurang dalam pembuluh
darah dan lebih mudah diserap oleh tubuh
A. Pengertian

Venografi ialah ujian radiologi untuk vena dengan menggunakan X-ray selepas suntikan
medium kontras ke dalam vena melalui jarum atau kateter. Venografi boleh dikira sebagai satu
prosedur invasi untuk “melihat” saluran darah vena. Prosedur ini diperlukan apabila vena perlu
ditunjukkan secara jelas atau apabila kaedah-kaedah lain tidak berjaya dilaksanakan. Venografi
boleh dilaksanakan untuk menunjukkan vena pada anggota badan di bahagian bawah, atas, pada
kepala dan vena yang lebih besar dalam dada atau di dalam abdomen.
Karena tes Venogram mahal, tidak nyaman, dan membawa beberapa resiko, itu sebagian
besar telah digantikan oleh tes pencitraan kurang invasif. Namun, venography masih dapat
dilakukan dalam kasus-kasus sulit tertentu untuk bisa melihat lebih dekat pada pembuluh darah.
Pada wanita dengan DVT ( Deep Vein Thrombosis ) dicurigai, venography biasanya dilakukan
hanya setelah tes lain telah gagal menemukan bekuan. Sebagai contoh, USG mungkin gagal
untuk menemukan bekuan, tapi tes D-dimer positif dapat menunjukkan ada gumpalan di suatu
tempat. Dalam kasus ini, venography dapat digunakan untuk mencoba untuk mencari bekuan
USG mungkin telah terjawab.
Pada wanita dengan emboli paru diduga ( bekuan darah yang terbentuk di pembuluh darah
dan memutuskan untuk menjadi tersangkut di arteri paru-paru ), CT venography dapat
ditambahkan ke angiogram CT standar untuk mencoba untuk menemukan sumber bekuan darah.
Namun, ada kontroversi mengenai apakah manfaat menemukan bekuan vena dalam wanita
adalah sepadan dengan radiasi ekstra exposure.

Pada wanita dengan penyakit vena kronis, Venogram sesekali mungkin akan diminta untuk
memberikan gambar yang lebih rinci dari vena, membantu untuk merencanakan suatu prosedur
untuk mengobati vena disease. Namun, dalam kebanyakan kasus tes USG cukup akurat untuk
mendiagnosa penyakit vena kronis dan rencana perawatan.
Venography masih tes pilihan untuk memvisualisasikan pembuluh darah pada wanita dengan
bawaan (di-lahir) cacat dalam pembentukan pembuluh darah, dan untuk merencanakan
pengobatan untuk kondisi tersebut.

B. Pembuluh Darah Vena


Beberapa arteri mempunyai dua vena pendamping :
Dianggota gerak atas terdapat vena radialis dan vena ulnaris yang kemudian bersatu disiku
menjadi vena brakhealis, lalu menjadi vena axilaris dan akhirnya menjadi vena subklavia. Dari
vena subklavia kiri dan kanan bersatu menjadi vena jugularis internal dan membentuk vena
inominata kiri dan kanan sehingga bersatu membentuk vena kava superior.
Arteri Ekstremitas Bawah :
a. Arteri Pelvis
b. Arteri illiaka Komunis Dex-
Sin
c. Arteri illiaka Eksterna
d. Arteri illiaka Interna
e. Arteri Femoralis
f. Arteri Tibialis
g. Arteri Fibularis
h. Arteri Comunica Fiblaris

Dianggota gerak bawah vena tibialis anterior dan posterior bersatu untuk menjadi vena
poplitea, dan kemudian menjadi vena femoralis dan akhirnya menjadi vena illiaka komunis. Vena
illiaka kanan dan kiri bersatu dan membentuk vena kava inferior.
Arteri Ekstremitas Atas :
a. Arteri Subclavia
b. Arteri Axillaris
c. Arteri Subskapularis
d. Arteri Thorakodorsalis
e. Arteri Circumfleksi
f. Arteri Branchialis
g. Arteri Profunda
C. Indikasi Pemeriksaan
 Deep Vein Thrombosis ( DVT ) : pembekuan darah di pembuluh darah kaki dan perut bagian
bawah.
 Tromboflebitis : peradangan pada urat disebabkan oleh bekuan darah kepala dan leher
pengeringan.
 Serviks tulang rusuk : extra rib di leher
 Sindrom Kompartemen : death meningkatkan tekanan dalam ruang tertutup menyebabkan
kematian jaringan.
 Penyakit Urat Kronis : dan membantu prosedur rencana untuk meningkatkan aliran darah
 Kelainan bawaan dari system vena
D. Kontra Indikasi Pemeriksaan
 Anafilaksis ( Alergi serius terhadap obat atau makanan )
 Diabetes
 Memiliki riwayat perdarahan masalah atau sedang menggunakan obat-obatan pengencer darah.
 Ginjal kronik atau akut
 Ibu Hamil atau menyusui.

E. Modalitas
 Foto konvensional
 CR (Computed Radiology)
 CT SCAN (Computed Tomography
 MRI (Magnetic Resonance Imaging)
 USG (Ultrasonography)
 DSA (Digital Subtraction Angiography)

F. Peralatan dan Bahan


Peralatan unsteril :
 Flouroscopy unit dengan perangkat spot film
 Meja Radiografi
 Tourniquet band elastic
 Baju Pasien
Peralatan Steril :
 Wing needle
 Kontras Media
 Spuit
 Kapas Alkohol
 Kateter
 Kawat penunjuk ( Guide Wire )

G. Persiapan Pasien
 Mengganti semua pakaian dan perhiasan mengenakan baju pasien
 Pemberian obat pengencer darah untuk mencegah penggumpalan selama prosedur
 Puasa 4 – 8 jam sebelum prosedur pemeriksaan

H. Media Kontras
 50 – 100 ml bahan kontras disuntikan
 Bolus diikuti oleh pencitraan radiografi sebagai bahan mengalir ke vena pusat

I. Teknik Pemeriksaan
 Posisi Pasien : Pasien supine diatas meja pemeriksaan, kedua lengan dan kaki berada di garis
lurus meja pemeriksaan
 Posisi Objek : Posisi Ekstremitas bawah ( kaki ) diputar eksorotasi.
 Teknik Pemasukan bahan kontras media.
 Pheriperal Venography biasanya memakan waktu 30 sampai 45 menit.
Pemasukan bahan kontras Peripheral Venography terbagi menjadi 2 :
1. Ascending Venography
Dimulai dengan penempatan kateter dalam pembuluh darah perifer. Perangkat jalur akses yang
paling sering digunakan adalah kateter intravena pendek dimasukkan ke dalam vena superficial
pada dorsum tangan atau kaki.
Posisi Pasien : ekstremitas atas dapat dilakukan dengan pasien berbaring, sedangkan
ekstremitas bawah biasanya dilakukan pada meja fluoroscopy miring dengan pasien awalnya
dalam posisi berdiri kemudian dibaringkan sesuai kebutuhan untuk melihat anatomi dan
fisiologinya.

2. Descending Venography
Selalu membutuhkan akses kateter langsung ke dalam vena. Dalam kebanyakan kasus situs
akses vena femoralis kontra lateral ke sisi yang diperiksa