Anda di halaman 1dari 44

HUBUNGAN MINAT BACA DENGAN HASIL BELAJAR

SISWA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS XI IPS SMA

NEGERI 6 PALU

MUTIARA RISTYA PUTRI

PROPOSAL

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan

suatu bangsa. Karena melalui pendidikan dapat tercipta generasi yang cerdas,

berwawasan, terampil, dan berkualitas yang diharapkan dapat menjadi generasi

yang dapat memberi perubahan bangsa menuju kearah yang lebih baik. Usaha untuk

meningkatkan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan perlu

mendapat perhatian khusus.

Individu memiliki ciri dan sifat karakteristik bawaan (heredity) dan

karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan

merupakan karakterisik keturunan yang dibawa sejak lahir, baik yang menyangkut

faktor biologis maupun faktor psikologis sosial serta terdapat keyakinan,

kepribadian bawaan (heredity) dan lingkungan. Karakteristik individu yang

diperoleh dari pengaruh lingkungan salah satunya disebabkan oleh persebaran

individu yang berbeda-beda letak geografisnya. Berbeda-beda letak geografis setiap

individu maka semakin karakteristik (bermacam-macam) pula individu yang ada.

Hartinah (2011:16)

Endarto, dkk (2009:10) Istilah geografi berasal dar bahasa yunani geo yang

artinya bumi dan graphien yang artinya pencitraan. Geografi adalah ilmu

pengetahuan yang menggambarkan segala sesuatu yang ada di permukaan bumi.

Definisi geografi yang menelaah tentang persebaran manusia dalam ruang

1
keterkaitan manusia dengan lingkungannya. Jelas bahwa kajian ilmu geografi yang

paling utama adalah menelaah bumi dalam konteks hubungannya dengan

kehidupan manusia, kemudian pada mata pelajaran geografi sebagian besar

materinya lebih bersifat teoritis. Siswa tidak hanya dituntut menghafal tetapi siswa

diharapkan mampu memahami materi yang dipelajari dengan baik.

Minat merupakan salah satu aspek psikis manusia yang dapat mendorong

untuk mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat pada suatu objek,

cenderung untuk memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih besar

kepada objek tersebut. Namun apabila objek tersebut tidak menimbulkan rasa

senang, maka ia tidak akan memiliki minat pada objek tersebut. Oleh karena itu

minat baca seorang siswa sangat perlu dikembangkan. Karena dengan membaca

siswa akan selangkah dapat lebih maju dari yang tidak suka membaca, karena

dengan membaca kita akan memiliki pengetahuan yang lebih luas lagi, menambah

serta menggali iformasi dan wawasan yang akan membuat hasil belajar menjadi

lebih meningkat.

Kemampuan membaca dan minat membaca yang tinggi adalah

modal dasar untuk keberhasilan anak dalam berbagai mata pelajaran.

Kemampuan membaca dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan

informal. Pendidikan formal yaitu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah

Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Salah satunya pada mata pelajaran

geografi yang masuk dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas, karena

geografi sebagai salah satu disiplin ilmu sosial mempunyai struktur keilmuan

yang didalamnya tertata konsep, fakta, generalisasi dan teori-teori yang

2
mendominasi. Siswa dituntut untuk lebih banyak membaca referensi-referensi

yang relevan untuk mempelajari dan memahamiya dalam menambah ilmu

pengetahuan dan wawasan.

Salah satu kegiatan utama dalam proses belajar dan mengajar disekolah

tentunya dalah membaca. Kebiasan rajin membaca buku yang dilakukan oleh siswa

sangat ditetukan oleh minat siswa terhadap aktivitas tersebut. Dengan demikin

terlihat bahwa minat menjadi motivator untuk melakukan suatu kegiatan seperti

membaca. Tingginya minat baca para siswa disuatu sekolah bisa menjadi indikasi

tingkat pemahaman dan penugasan meteri pelajaran yang mereka dapatkan dari

sekolah. Aktifitas membaca yang dilakukan oleh para siswa biasanya dilakukan di

perpustakaan sekolah. Jika pada jam istrahat perpustakaan sekolah dipadati oleh

para siswa, ini dapat menunjukkan bahwa para siswa di sekolah tersebut memiliki

minat baca yang tinggi. Meski demikian, pada kenyataanya minat baca yang

dimiliki para siswa saat ini nampak rendah.

Purwanto (2013:44-46) hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari pross

belajar mengajar sesuai tujuan pendidikan. Perubahan perilaku disebabkan karena

dia mencapai penugasan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar

mengajar. Pencapaian itu didasarkan atas tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

Hasil itu dapat berupa perubahan dalam aspek kognitif, afektif maupun

psikomotorik.

Berdasarkan hasil observasi tersebut yang telah dilakukan di SMA Negeri 6

Palu bahwa proses pembelajaran sudah baik namun dikarenakan masih kurangnya

minat baca siswa pada mata pelajaran Geografi tersebut, itu bisa dilihat dari cara

3
mereka belajar dikelas, pengerjaan tugas-tugas rumah, hasil ujian, jarang

mangunjungi perpustakaan sekolah, dan sebagainya.

Berdasarkan latar belakang di atas penulis akan meneliti “Bagaimana

hubungan antara minat baca dengan hasil belajar siwa pada pelajaran geografi di

kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu”.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan penelitian adalah bagaimana hubungan antara minat baca dengan

hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana

hubungan antara minat baca dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran

geografi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat atau kegunaan yang diharapkan tujuan yang dapat diambil

dari hasil penelitian ini adalah:

1.4.1 Aspek Teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini mambu memberikan dan menambah

pengetahuan tentang hubungan antara minat baca dengan hasil belajar siswa

pada mata pelajaran geografi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu.

4
1.4.2 Aspek Praktis

a. Sekolah : Sebagai bahan pertimbangan dan masukan mengenai

pengaruh hubungan antara minat baca dengan hasil belajar siswa.

b. Guru : Sebagai bahan pertimbangan dan masukan mengenai sebab

siswa yang kurang minat membaca dalam pembelajarn geogarafi dan

hubungan pentingnya minat baca dengan hasil belajar siswa.

c. Siswa : sebagai pengetahuan tentang pentingnya minat baca siswa

terhadap hasil belajar siswa dan berdampak pada prestasi siswa.

1.5. Batasan Istilah

Batasan istilah yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Minat baca adalah keinginan kuat yang mendorong seseorang untuk

melakukan kegiatan membaca atas kemauannya sendiri dandisadari

dengan perasaan senang.

2. Hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa,

baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai

hasil dari kegiatan belajar (Susanto, 2013:5)

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Penelitian Relevan

Penelitian yang relevan merupakan penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya dan berkaitan dengan judul penelitian yang akan dilakukan, yaitu

sebagai berikut:

2.1.1 Rumiyati (2013). “Hubungan minat baca dengan prestasi belajarBahasa

indonesia siswa kelas viii sekolah Menengah pertama negeri 9 tanjungpinang

Tahun pelajaran 2012/2013”.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui skor prestasi belajar

siswa, dan untuk menemukan ada atau tidaknya hubungan antara minat baca dengan

prestasi belajar

Subjek penelitian ini ialah adalah siswa kelas VIII Sekolah Menengah

Pertama (SMP) Negeri 9 Tanjung pinang yang berjumlah 24 orang. Metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif – korelasional yaitu

statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau

menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud

membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

6
Dari pengujian data diperoleh hubungan antara minatbaca dan prestasi belajar

siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 9 Tanjungpinang

memiliki tingkat korelasi yang sedang atau cukup.

2.1.2 Robiatul Aini (2014). “Hubungan minat baca siswa dan motivasi belajar

siswa dengan hasil belajar siswa mata pelajaran ips pada siswa kelas VII

smp negeri 30 muaro jambi”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan minat baca dengan

hasil belajar siswa mata pelajaran IPS di SMP Negeri 30 Muaro Jambi, untuk

mengetahui hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa mata pelajaran

IPS di SMP Negeri 30 Muaro Jambi, dan untuk mengetahui hubungan minat baca

dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS di SMP Negeri

30 Muaro Jambi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Deskriptif

korelasional yaitu suatu penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan

informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu gejala yang menurut apa

adanya pada saat penelitian dilakukan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 44

siswa kelas VII SMP Negeri 30 Muaro Jambi yang berjumlah 44 siswa yang

diambil keseluruhan, terdiri dari dua kelas yaitu kelas VII Adan VII B. Teknik

pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan deskriptif data diperoleh

rata-rata Minat Baca sebesar 79,52 terletak pada rentangan 78 – 88 yaitu termasuk

ke dalam kategori sedang, sedangkan untuk Motivasi Belajar rata-rata (mean) skor

sebesar 79.26 terletak pada 68-82, yaitu termasuk ke dalam kategori sedang dan

7
rata-rata (mean) skor Hasil Belajar siswa sebesar 67,38 terletak pada rentangan

yaitu termasuk ke dalam kategori rendah.

Tabel. 2.1 Penelitian yang Relevan

Aspek
Rumiyati (2013) Robiatul Aini, (2014) Mutiara ristya putri
Penelitian

(1) (2) (3) (4)

Hubungan minat baca Hubungan minat baca siswa Hubungan minat baca

dengan prestasi belajar dan motivasi belajar siswa dengan hasil belajar mata

Bahasa indonesia siswa dengan hasil belajar siswa pelajaran geografi kelas XI
Judul
kelas VIII sekolah mata pelajaran ips pada siswa IPS
Penelitian
Menengah pertama negeri 9 kelas vii smp negeri 30 muaro

tanjungpinang Tahun jambi

pelajaran 2012/2013

1.Bagaimana minat baca 1.Bagaimana hubungan minat Bagaimana hubungan

siswa? baca dengan hasil belajar siswa antara minat baca dengan

2.Bagaimana skor prestasi mata pelajaran IPS di SMP hasil belajar siswa pada
Negeri 30 Muaro Jambi, mata pelajaran geografi
belajar siswa?
2.Bagaimana hubungan kelas XI IPS SMA Negeri 6
3.Apakah ada atau tidaknya
motivasi belajar dengan hasil Palu?
Rumusan hubungan antara minat baca
belajar siswa mata pelajaran
dengan prestasi belajar. IPS di SMP Negeri 30 Muaro
Masalah
Jambi,
3.Bagaimana hubungan minat
baca dan motivasi
belajar dengan hasil belajar
siswa mata pelajaran IPS di
SMP Negeri 30 Muaro Jambi
Tujuan Untuk mengetahui skor untuk mengetahui hubungan untuk mengetahui tentang
prestasi belajar siswa, dan minat baca dengan hasil belajar bagaimana hubungan antara
Penelitian untuk menemukan ada atau siswa mata pelajaran IPS di minat baca dengan hasil

8
tidaknya hubungan antara SMP Negeri 30 Muaro Jambi, belajar siswa pada mata
minat baca dengan prestasi untuk mengetahui hubungan pelajaran geografi kelas XI
belajar. motivasi belajar dengan hasil IPS SMA Negeri 6 Palu.
belajar siswa mata pelajaran
IPS di SMP Negeri 30 Muaro
Jambi, dan untuk mengetahui
hubungan minat baca dan
motivasi belajar dengan hasil
belajar siswa mata pelajaran
IPS di SMP Negeri 30 Muaro
Jambi
Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah penelitian Penelitian ini menggunakan
penelitian ini adalah statistik deskriptif korelasional. pendekatan deskriptif
deskriptif – korelasional yaitu Deskriptif korelasional yaitu kuantitatif.
statistik yang digunakan untuk suatu penelitian yang
menganalisis data dengan cara dimaksudkan untuk
mendeskripsikan atau mengumpulkan informasi
Metode
menggambarkan data yang mengenai status suatu gejala
Penelitian telah terkumpul sebagaimana yang ada, yaitu gejala yang
adanya tanpa bermaksud menurut apa adanya pada saat
membuat kesimpulan yang penelitian dilakukan.
berlaku untuk umum atau
generalisasi.

Dari pengujian data diperoleh Hasil penelitian menunjukkan


hubungan antara minatbaca bahwa berdasarkan deskriptif
dan prestasi belajar siswa data diperoleh rata-rata Minat
kelas VIII Sekolah Menengah Baca sebesar 79,52 terletak
Pertama (SMP) Negeri 9 pada rentangan 78 – 88 yaitu
Hasil
Tanjungpinang memiliki termasuk ke dalam kategori
Penelitian tingkat korelasi yang sedang sedang, sedangkan untuk
atau cukup. Motivasi Belajar rata-rata
(mean) skor sebesar 79.26
terletak pada 68-82, yaitu
termasuk ke dalam kategori
sedang dan rata-rata (mean)

9
skor Hasil Belajar siswa
sebesar 67,38 terletak pada
rentangan yaitu termasuk ke
dalam kategori rendah.

2.2 Kajian Pustaka

2.2.1 Minat

Slameto (2010: 57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk

memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya

terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan

minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik- baiknya, karena tidak ada

daya tarik baginya. Sedangkan bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih

mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.

Noeng wajir dalam (Meity H.idris & Izul ramdani 2014:8) menyatakan

bahwa minat adalah kecenderungan afektif (perasaan, emosi) seseorang untuk

membentuk aktifitas. Dari sini dapat dilihat bahwa minat itu melibatkan kondisi

psikis (kejiwaan) seseorang. Senada dengan hal ini, Crow dan Crow dalam (Meity

H.idris & Izul ramdani 2014:8) menjelaskan bahwa minat merupakan pendorong

yang menyebabkan seseorang menaruh perhatian pada orang lain atau objek lain.

Sedangkan menurut Slameto (2013:180) menjelaskan bahwa minat adalah suatu

rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal aktifitas, tanpa ada ada yang

menyuruh. Hilgard (dalam Slameto,2013:57) menyebutkan interest is persisting

tendency to pay attention and to enjoy some activity or content. Minat adalah

kecenderungan utuk menaruh perhatian dan menikmati beberapa kegiatan.

10
Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang dsertai dengan

rasa senang. Suatu minat dapat diespresikan melalui pernyataan yang menunjukkan

bahwa siswa lebuh menyukai suatu hal daripada hal lain, dan dapat juga

dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas. Sementara itu Hurlock

dalam (Meity H.idris & Izul ramdani 2014:8) mengutarakan pendapat yang sama

yaitu bahwa minat merupakan sumber motivasi sama untuk melakukan apa yang

mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Secara sederhana, Syah (2013:152)

mendefinisikan minat sebagai kecenderungan dan kagairahan yang tinggi atau

keinginan yang besar terhadap sesuatu.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimulkan bahwa minat

adalah kecenderungan seseorang untuk menaruh perhatian lebih serta menyukai

suatu hal atau kegiatan tertentu tanpa ada paksaan dari pihak lain. Hal tersebut dapat

dilihat dari partisipasi siswa pada aktifitas yang ia sukai.

Slameto (2013:180) menyebtkan bahwa minat tidak dibawa sejak lahir,

melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari memengaruhi

penerimaan minat-minat baru. Bernard (dalam Susanto, 2013: 57) menyatakan

bahwa minat timbul tidak secara tiba-tiba atau spontan, melainkan timbul akibat

dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja. Minat akan

selalu terkait dengan persoalan kebutuhan dan keinginan. Sedangkan, Rosyidah

(dalam Susanto, 2013: 60) berpendapat timbulnya minat pada seseorang pada

prinsipnya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu minat yang berasal dari pembawaan

dan minat yang timbul karena adanya pengaruh dari luar. Minat yang berasal dari

pembawaan timbul dengan sendirinya dari setiap individu, hal ini biasanya

11
dipengaruhi oleh faktor keturunan dan bakat alamiah. Sedangkan minat yang timbul

karena adanya pengaruh dari luar diri individu timbul seiring dengan proses

perkembangan individu yang bersangkutan. Minat ini sangat dipengaruhi oleh

lingkungan, dorongan orang tua, dan kebiasaan atau adat. Gagne (dalam Susanto,

2013: 60) juga membedakan sebab timbulnya minat pada diri seseorang menjadi

dua macam, yaitu minat spontan dan minat terpola. Minat spontan adalah minat

yang timbul secara spontan dari dalam diri seseorang tanpa dipengaruhi pihak luar.

Adapun minat terpola adalah minat yang timbul sebagai akibat adanya pengaruh

dari kegiatan-kegiatan yang terencana dan terpola. Berdasarkan pendapat yang

telah diuraikan, dapat diketahui bahwa minat bisa timbul dari dalam diri individu

itu sendiri tanpa pengaruh dari luar dan juga bisa muncul karena pengaruh dari luar,

misalnya lingkungan, orang-orang di sekitarnya, kebiasaan atau adat, dan

sebagainya.

Selanjutnya, Hurlock (dalam Susanto, 2013: 62) menyebutkan ada tujuh

ciri-ciri minat, sebagai berikut:

1. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental;

2. Minat bergantung pada kegiatan belajar;

3. Minat bergantung pada kesempatan belajar;

4. Perkembangan minat mungkin terbatas;

5. Minat dipengaruhi budaya;

6. Minat berbobot emosional (berhubungan dengan perasaan);

7. Minat berbobot egosentris (jika seseorang senang terhadap sesuatu maka

akan timbul hasrat untuk memiliki).

12
2.2.2 Membaca

2.2.2.1 Pengertian membaca

Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan selama

belajar disekolah. Membaca yang dimaksud tidak haya membaca buku pelajaran

saja, tapi juga membaca majalah, jurnal, koran, tabloid, catatan hasil belajar, dan

hal lain yang berhubungan dengan kebutuhan belajar. Tujuan belajar adalah untuk

mendapatkan ilmu pengetahuan, maka membaca adalah jalan menuju ke pintu ilmu

pengetahuan. Ini berarti untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak ada cara lain

yang harus dilakukan kecuali memperbanyak membaca.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 83), membaca adalah

melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis. Membaca merupakan suatu

proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh

pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.

Dengan kata lain, membaca adalah memetik serta memahami arti atau makna

yang terkandung di dalam bahan tulis.

Membaca adalah proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca

untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media

kata-kata atau bahas tulis Hodgson (dalam Indarti, 2016:13). Dari segi linguistik

membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a

recording and decoding process). Berlainan dengan berbicara dan menulis yang

justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi

(decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis dengan makna bahasa lisan yang

13
mencakup pengubahan tulisan tau cetakan menjadi bunyi yang bermakana

Anderson (dalam Indarti. 2016:13). Disamping itu membaca dapat diartikan

sebagai suatu metode yang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri

dan kadang orang lain. Membaca dapat pula dianggap sebagi proses untuk

memahami yang tersirat dalam yang tersurat, melihat pikiran yang terkandung

dalam kata-kata yang tertulis Finachiaro dan Bonomo (dalam Indarti, 2015:9).

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca adalah

proses untuk memahami simbo-simbol tulisan (huruf, angka, tanda baca, dan

sebagainya) sehingga pembaca dapat mengerti maksud yang hendak disampaikan

oleh penulis dalam tulisannya.

2.2.2.2 Tujuan Membaca

Orang yang melakukan aktivitas tentunya mempunyai tujuan yang ingin

dicapai, demikian juga dalam kegiatan membaca. Seseorang yang membaca

dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang

yang tidak mempunyai tujuan.

Membaca tanpa tujuan bagaikan perahu yang berlayar tanpa tujuan, ibarat

pergi ke pasar tanpa tujuan, sehingga bingung apa yang harus dicari dan dibeli.

Oleh karena tujuannya mempunyai arti yang penting dalam membaca, maka

tentukanlah lebih dahulu tujuan yang akan dicapai dalam membaca suatu buku.

Tujuan mempunyai fungsi untuk mengarahkan bahan apa yang

seharusnya dibaca, membantu untuk menyeleksi bahan yang harus dibaca dan

membantu membangun motivasi yang tinggi. Tujuan memberikan kejelasan yang

14
meyakinkan dalam kegiatan membaca suatu buku. Oleh karena itu, kegiatan

membaca buku yang sia-sia adalah kegiatan membaca tanpa tujuan yang jelas.

Menurut Tarigan (dalam Indarti 2016:15) tujuan utama dalam membaca

adalah mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna

bacaan. Makna atau arti erat sekali berhubungan dengan maksud atau tujuan kita

dalam membaca. Anderson (dalam Indarti, 2016: 16) mengemukakan beberapa hal

penting berkaitan dengan tujuan membaca sebagai berikut.

1. Membaca untuk memperoleh perincian atau fakta-fakta (reading for

details or facts).

2. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).

3. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading

for sequence or organization).

4. Membaca untuk menyimpulkan isi bacaan (reading for inference).

5. Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan bacaan

(reading to classify).

6. Membaca untuk menilai atau mengevaluasi isi bacaan (reading to

evaluate).

7. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan isi bacaan

dengan kehidupan nyata (reading to compare or contrast).

Tujuan yang ditentukan dalam membaca akan mempengaruhi apa yang

perlu dibaca dan bagaimana cara membacanya seperti ringkasan di bawah ini

Daryanto (dalam Ismi 2015:79-15). Siswa memiliki tujuan untuk memahami secara

15
detail dan menyeluruh isi buku maka jenis buku yang perlu dibaca adalah pada

bagian daftar isi, kata pengantar, abstraksi, pendahuluan, bab-bab isi, kesimpulan,

daftar pustaka, gambar-gambar, tabel, diagram. Cara membaca yang sesuai dengan

tujuan tersebut yaitu seperti berikut baca dengan teliti dalam kecepatan normal,

pahami setiap gagasan yang diugkapkan dengan cermat, dan buat catatan bila

perlu.

2.2.2.3 Hambatan Membaca

1. Tidak Punya Waktu

Salah satu penyebab rendahnya minat membaca adalah persoalan waktu

luang. Membaca memang mensyaratkan adanya waktu yang kosong. Ketika

membaca, orang harus menghentikan kegiatan-kegiatan lainnya. Jika dihubungkan

dnegan minat membaca masyarakat Indonesia berarti kebanyakan masyarakat

Indonesia tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk membaca. Kesibukan

bekerja yang menyita banyak waktu tidak lagi memberi kesempatan bagi mereka

untuk membaca Naim (dalam Indarti 2016: 19).

2. Tidak Memanfaatkan Waktu Luang

Waktu luang sebaiknya dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal positif,

seperti membaca. membaca dan waktu luang merupakan sebuah rangkaian yang

saling membutuhkan. Membaca tidak bisa dilakukan tanpa adanya waktu luang.

Namun, banyak yang kurang memanfaatkan waktu luang mereka dengan baik.

Waktu luang justru digunakan untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Pada

kondisi ini, waktu luang justru menjadi hambatan untuk membaca Naim (dalam

Indarti 2016: 20).

16
3. Terlalu Banyak Menonton Televisi

Televisi telah mendominasi kehidupan sehari-hari sebagian besar warga

masyarakat. Televisi bukan hanya sebatas sebagai media hiburan dan tontonan,

tetapi juga menjadi penyemai nilai-nilai, media bergosip, dan berbagai peran

lainnya Naim (dalam Indarti 2016: 20). Kehadiran televisi memiliki berbagai efek,

di antaranya mengurangi waktu bermain, tidur, dan waktu membaca.

Anak-anak merupakan kelompok paling rawan sekaligus paling tanggap

dalam menangkap pesan-pesan dari televisi. Dengan kekuatan imajinasi ditambah

lemahnya sistem saringan nilai yang ada pada mereka, pesan-pesan tersebut akan

sangat mudah terekam dalam tingkah laku sehari-hari Naim (dalam Indarti 2016:

20)

Menonton televisi dalam taraf yang wajar bukanlah sesuatu yang perlu

dikhawatirkan. Selain itu diperlukan pendampingan, bimbingan, dan arahan dari

orang tua untuk meminimalkan dampak negatif dari televisi. Televisi juga

merupakan sebuah tantangan bagi orang tua dalam membina minat baca anak.

Melihat gambar yang beragam tentu lebih menarik daripada melihat deretan tulisan

yang tidak bergerak. Pada kondisi ini membaca menghadapi tantangan yang

semakin berat Naim (dalam Indarti 2016: 20).

4. Keasyikan Menonton Bola

Hampir semua orang memiliki hobi. Hobi membuat hidup manusia menjadi

lebih menyenangkan. Salah satu hobi yang sudah memasyarakat adalah menonton

17
sepak bola. Jika dicermati, tontonan pertandingan sepak bola memberikan efek

berkurangnya kegiatan membaca. Bagi pengembangan minat baca, waktu yang

digunakan untuk menonton sepak bola menjadi sebuah hambatan Naim (dalam

Indarti 2016: 21)

5. Harga Buku Mahal

Salah satu keluhan umum berkaitan dengan minimnya tradisi membaca

adalah harga buku yang mahal. Dibandingkan dengan kebutuhan hidup lainnya,

buku bisa dinilai cukup mahal. Banyak orang yang berpikir untuk mengeluarkan

dana ketika akan membeli buku. Mahalnya harga buku menjadi salah satu

penghambat kemampuan masyarakat untuk memiliki buku. Jika buku dijual dengan

harga murah, besar kemungkinan minat masyarakat untuk membelinya kian besar

Naim (dalam Indarti 2016: 21).

6. Mitos

Banyak mitos negatif seputar membaca yang menjadi hambatan dalam

kegiatan membaca, misalnya mitos membaca hanya milik orang yang

berpendidikan tinggi. Membaca merupakan hak setiap orang, tanpa memandang

jenis pendidikannya. Mitos lain menyebutkan bahwa membaca membuang-buang

waktu dan tenaga. Jika dilihat dari bentuk aktivitasnya, membaca terlihat seperti

aktivitas yang pasif. Tetapi membaca memiliki manfaat yang sangat besar.Mitos

yang paling umum adalah membaca membuat mengantuk. Hal ini muncul karena

psikologis seseorang tidak memiliki daya tarik atau semangat untuk membaca. jika

kegiatan membaca menjadi aktivitas yang dinikmati maka semua mitos negatif

18
tentang membaca tidak akan menjadi penghambat dalam kegiatan membaca Naim

(dalam Indarti 2016: 21)

2.2.3 Minat Baca

2.2.3.1 Pengertian Minat Baca

Sinambela (dalam Indarti, 2016: 12) mengartikan minat membaca adalah

sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas

membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. Menurut Lilawati (dalam Indarti,

2016: 12) minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai

dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan

individu untuk membaca dengan kemauannya sendiri.

Adapun Dalman (2014: 141) mendefinisikan minat baca sebagai dorongan

untuk memahami kata demi kata dan isi yang terkandung dalam teks bacaan,

sehingga pembaca dapat memahami hal-hal yang dituangkan dalam bacaan itu.

Selanjutnya, Tampubolon (dalam Dalman, 2014: 141) menjelaskan bahwa minat

baca adalah kemauan atau keinginan seseorang untuk mengenali huruf dan

menangkap makna dari tulisan tersebut. Pengertian minat baca menurut Tarigan

(dalam Dalman, 2014: 141) adalah kemampuan seseorang berkomunikasi dengan

diri sendiri untuk menangkap makna yang terkandung dalam tulisan, sehingga

memberikan pengalaman emosi akibat dari perhatian yang mendalam terhadap

makna bacaan.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat

baca adalah keinginan kuat yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan

19
membaca atas kemauannya sendiri dan didasari dengan perasaan senang. Dalam

kegiatan membaca tersebut, seorang pembaca juga memiliki keinginan untuk dapat

memahami makna yang dimaksud penulis dalam tulisannya.

2.2.3.2 Usaha Meningkatkan Minat Baca

Pembelajaran membaca tidak saja diharapkan untuk meningkatkan

keterampilan membaca, tetapi juga meningkatkan minat dan kegemaran membaca

siswa. Kegemaran membaca merupakan salah satu kunci keberhasilan seseorang

dalam meraih ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu, guru perlu mengelola

berbagai kegiatan yang mampu menumbuhkan kegemaran membaca siswa.

Membaca dengan senang hati merupakan hal yang menentukan apakah seseorang

akan membaca dan melanjutkan membaca sepanjang hidupnya (Rahim, 2011: 130).

Menurut Rubin (dalam Indarti 2016: 26) program membaca Drop

Everything and Read (DEAR) atau dikenal juga dengan isitilah program membaca

Sustained Silent Reading (SSR) bisa dilakukan agar siswa memperoleh kesenangan

membaca. Aturan program DEAR atau SSR yaitu, 1) setiap siswa harus membaca;

2) guru juga harus membaca ketika siswa membaca; 3) siswa tidak perlu membuat

laporan apapun tentang apa yang mereka baca; 4) siswa membaca untuk periode

waktu tertentu; dan 5) siswa memilih bahan bacaan yang mereka sukai.

Hasyim (dalam Dalman, 2014: 144) menyebutkan usaha yang perlu

dilakukan untuk meningkatkan minat baca adalah agar tiap keluarga memiliki

perpustakaan keluarga, sehingga bisa dijadikan tempat yang menyenangkan untuk

berkumpul. Di tingkat sekolah, rendahnya minat baca siswa bisa diatasi dengan

20
perbaikan perpustakaan sekolah. Guru maupun pustakawan harus mengubah

mekanisme proses pembelajaran menuju membaca sebagai suatu sistem belajar

sepanjang hayat. Guru juga harus bisa memainkan perannya sebagai motivator agar

siswa bergairah untuk membaca buku. Misalnya, dengan memberi tugas rumah

setiap selesai pertemuan. Dengan sistem reading drill secara kontinu maka

membaca akan menjadi kebiasaan siswa dalam belajar. Di tingkat daerah dan pusat

bisa mengadakan program perpustakaan keliling atau perpustakaan tetap di daerah-

daerah, sedangkan masalah penempatannya, pemerintah bisa berkoordinasi dengan

pejabat daerah setempat. Hal ini semakin memperbesar peluang masyarakat untuk

membaca.

Tarigan (dalam Indarti 2016: 27) menyebutkan, untuk meningkatkan minat

baca perlu sekali seseorang berusaha menyediakan waktu untuk membaca dan

memilih bahan bacaan yang baik (ditinjau dari norma kekritisan yang mencakup

norma estetik, sastra, dan moral).

2.2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Baca

Dalam usaha pembinaan minat baca, tentu terdapat faktor-faktor yang

memengaruhi minat baca seseorang. Bunata (dalam Dalman, 2014: 142- 143)

menjelaskan bahwa minat baca ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Faktor lingkungan keluarga. Di tengah kesibukan sebaiknya orang tua

menyisihkan waktu untuk menemani anaknya membaca buku, dengan

21
begitu orang tua dapat memberikan contoh yang baik dalam meningkatkan

kreativitas membaca anak;

2. faktor kurikulum dan pendidikan sekolah yang kurang kondusif. Kurikulum

yang tidak secara tegas mencantumkan kegiatan membaca dalam suatu

bahan kajian, serta staf tenaga kependidikan baik guru maupun pustakawan

yang tidak memberikan motivasi pada siswa bahwa membaca itu penting

untuk menambah ilmu pengetahuan, melatih berpikir kritis, menganalisis

persoalan, dan sebagainya;

3. Faktor infrastruktur masyarakat yang kurang mendukung peningkatan

minat baca. Kurangnya minat baca masyarakat bisa dilihat dari kebiasaan

sehari-hari. Banyak orang yang memilih menghabiskan uang untuk hal lain

daripada membeli buku. Orang juga kadang lebih suka pergi ke tempat

hiburan daripada ke toko buku, mereka hanya pergi ke toko buku atau

perpustakaan bila memang diperlukan;

4. Faktor keberadaan dan kejangkauan bahan bacaan. Sebaiknya pemerintah

daerah mengadakan program perpustakaan keliling atau perpustakaan tetap

di tiap-tiap daerah agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.

2.2.3.4 Indikator Minat Baca

Dalman (2014: 145) menjelaskan indikator untuk mengetahui tingkat

minat baca seseorang sebagai berikut.

1. Frekuensi dan Kuantitas Membaca Hal ini diartikan sebagai frekuensi

(keseringan) dan waktu yang digunakan seseorang untuk membaca.

22
seseorang yang memiliki minat baca sering kali akan banyak melakukan

kegiatan membaca.

2. Kuantitas Sumber Bacaan Orang yang memiliki minat baca akan berusaha

membaca bacaan yang variatif. Mereka tidak hanya membaca bacaan yang

mereka butuhkan pada saat itu tetapi juga membaca bacaan yang mereka

anggap penting. Sedangkan menurut Sudarsana dan Bastiano (2010: 427)

ada empat aspek yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat minat

baca

seseorang, yaitu 1) kesenangan membaca; 2) kesadaran akan manfaat

membaca; 3) frekuensi membaca; dan 4) jumlah buku yang pernah dibaca.

2.2.4 Hasil belajar

Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang

mengikuti proses pembelajaran (Purwanto, 2014: 46). Hasil belajar sering

digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang

menguasai bahan yang sudah diajarkan. Penilaian hasil belajar oleh guru adalah

proses pengumpulan informasi atau bukti tentang capaian pembelajaran siswa

dalam kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan

kompetensi keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama,

dan setelah proses pembelajaran (Permendikbud No. 104 Tahun 2014). Tujuan

penilaian tersebut untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa

dalam kurun waktu proses belajar tertentu, mengetahui kedudukan siswa dalam

kelompok kelasnya, mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar,

23
mengetahui sejauh mana siswa telah mendayagunakan kemampuan kognitifnya,dan

mengetahui tingkat daya guna dan hasil metode pengajaran yang digunakan guru

selama proses pembelajaran (Syah, 2013: 198-199).

Purwanto (2014: 50-53) menjelaskan masing-masing tingkatan dalam ranah

hasil belajar sebagai berikut. Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang

terjadi dalam ranah kognisi (pengetahuan). Kemampuan menghapal (knowledge)

merupakan kemampuan kognitif yang paling rendah. Kemampuan ini merupakan

kemampuan memanggil kembali fakta yang disimpan dalam otak guna merespons

suatu masalah. Kemampuan pemahaman (comprehension) adalah kemampuan

melihat hubungan fakta dengan fakta. Kemampuan penerapan (application) adalah

kemampuan kognitif untuk memahami aturan, hukum, rumus, dan sebagainya, dan

menggunakannya untuk memecahkan sebuah masalah. Kemampuan analisis

(analysis) adalah kemampuan memahami sesuatu dengan menguraikannya ke

dalam unsur-unsur. Kemampuan sintesis (synthesis) adalah kemampuan memahami

dengan mengorganisasikan bagian-bagian ke dalam kesatuan. Kemampuan

evaluasi (evaluation) adalah kemampuan membuat penilaian dan mengambil

keputusan dari hasil penilaiannya.

Hasil belajar afektif, meliputi penerimaan (receiving) atau menaruh

perhatian (attending) adalah kesediaan menerima rangsangan dengan memberikan

perhatian kepada rangsangan yang datang kepadanya. Partisipasi atau merespons

(responding) adalah kesediaan memberikan respons dengan berpartisipasi.

Penilaian atau penentuan sikap (valuing) adalah kesediaan untuk menetukan pilian

sebuah nilai dari rangsangan tersebut. Organisasi (organization) adalah kesediaan

24
mengorganisasikan nilai-nilai yang dipilihnya untuk menjadi pedoman yang

mantap dalam perilaku. Internalisasi nilai atau karakterisasi (characterization)

adalah menjadikan nilai-nilai yang diorganisasikan tidak hanya menjadi pedoman

tetapi juga menjadi bagian dari pribadi dalam perilaku sehari-hari.

Selanjutnya hasil belajar psikomotorik, yang meliputi persepsi (perception)

yaitu kemampuan membedakan suatu gejala dengan gejala lain. Kesiapan (set)

adalah kemampuan menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan. Gerakan

terbimbing (guided response) adalah kemampuan melakukan gerakan meniru

model yang dicontohkan. Gerakan terbiasa (mechanism) adalah kemampuan

melakukan gerakan tanpa ada model contoh. Kemampuan dicapai karena latihan

berulang sehingga menjadi kebiasaan. Gerakan kompleks (adaptation) adalah

kemampuan melakukan serangkaian gerakan dengan cara, urutan, dan irama yang

tepat. Kreativitas (origination) adalah kemampuan menciptakan gerakan-gerakan

baru yang tidak ada sebelumnya atau mengombinasikan gerakan-gerakan yang ada

menjadi kombinasi gerakan baru yang orisinil.

Djamarah dan Zain (dalam Susanto, 2013: 3) menetapkan bahwa hasil

belajar telah tercapai apabila memenuhi dua indikator sebagai berikut.

1. Daya serap terhadap materi ajar tinggi, baik secara individu maupun

kelompok;

2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran tercapai, baik secara

individu maupun kelompok;

25
Jadi, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku

siswa akibat proses belajar yang dilaluinya secara komprehensif, meliputi aspek

pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Hasil belajar yang diperoleh siswa

berlangsung secara bertahap, dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang lebih

tinggi. Hasil belajar ini dapat digunakan sebagai evaluasi dari proses pembelajaran

yang telah berjalan selama ini. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan hasil

belajar pada mata pelajaran Geografi. Adapun indikator pengukuran hasil belajar

siswa kelas XI IPS ini adalah nilai kognitif siswa dalam mata pelajaran Bahasa

Indonesia. Nilai afektif dan psikomotorik siswa digunakan sebagai data pendukung

2.3 Kerangka Pemikiran

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat di era

sekarang berpengaruh terhadap minat baca siswa. Siswa lebih suka bermain game

ataupun mengakses internet dengan gawai (telepon selular, netbook, laptop, dan

sebagainya) miliknya. Siswa juga lebih suka bermain dengan teman-temannya

ataupun jajan di kantin saat istirahat sekolah. Selain itu, tontonan televisi dan

tempat-tempat hiburan yang makin beragam membuat minat anak teralih dari

membaca buku menjadi menikmati hiburan yang telah tersedia. Kebanyakan siswa

membaca buku saat ada tuntutan tugas atau ulangan dari sekolah. Terlebih lagi,

faktor kondisi sosial ekonomi masyarakat juga berpengaruh terhadap minat baca

individu. Bisa jadi seorang anak minat membacanya tinggi tapi tidak dibarengi

dengan kemampuan untuk membeli buku bacaan atau kurangnya fasilitas yang

26
menyediakan buku yang diminatinya, tentu akan memengaruhi minat baca anak

tersebut.

Padahal kegiatan membaca merupakan salah satu pintu utama untuk

dapat mengakses pengetahuan. Pengetahuan ini tentunya akan dapat dipahami dan

dikuasai secara maksimal melalui proses belajar yang giat, tekun, dan terus-

menerus. Proses belajar yang efektif antara lain dilakukan melalui membaca.

Dengan membaca, seseorang memperoleh informasi. Membaca juga menjadi salah

satu sarana untuk berkomunikasi antara penulis dan pembaca. Dengan membaca,

siswa dapat memperoleh pengetahuan yang disediakan penulis. Semakin sering

membaca, maka semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Tingkat

pengetahuan yang dimiliki seorang siswa dapat memengaruhi hasil belajar siswa

tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa minat baca

seorang siswa memiliki hubungan dengan hasil belajar siswa tersebut. Dapat

digambarkan dalam kerangka berpikir sebagai berikut.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat di era

sekarang berpengaruh terhadap minat baca siswa. Siswa lebih suka bermain game

ataupun mengakses internet dengan gawai (telepon selular, netbook, laptop, dan

sebagainya) miliknya. Siswa juga lebih suka bermain dengan teman-temannya

ataupun jajan di kantin saat istirahat sekolah. Selain itu, tontonan televisi dan

tempat-tempat hiburan yang makin beragam membuat minat anak teralih dari

membaca buku menjadi menikmati hiburan yang telah tersedia. Kebanyakan siswa

27
membaca buku saat ada tuntutan tugas atau ulangan dari sekolah. Terlebih lagi,

faktor kondisi sosial ekonomi masyarakat juga berpengaruh terhadap minat baca

individu. Bisa jadi seorang anak minat membacanya tinggi tapi tidak dibarengi

dengan kemampuan untuk membeli buku bacaan atau kurangnya fasilitas yang

menyediakan buku yang diminatinya, tentu akan memengaruhi minat baca anak

tersebut.

Padahal kegiatan membaca merupakan salah satu pintu utama untuk

dapat mengakses pengetahuan. Pengetahuan ini tentunya akan dapat dipahami dan

dikuasai secara maksimal melalui proses belajar yang giat, tekun, dan terus-

menerus. Proses belajar yang efektif antara lain dilakukan melalui membaca.

Dengan membaca, seseorang memperoleh informasi. Membaca juga menjadi salah

satu sarana untuk berkomunikasi antara penulis dan pembaca. Dengan membaca,

siswa dapat memperoleh pengetahuan yang disediakan penulis. Semakin sering

membaca, maka semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Tingkat

pengetahuan yang dimiliki seorang siswa dapat memengaruhi hasil belajar siswa

tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa minat baca

seorang siswa memiliki hubungan dengan hasil belajar siswa tersebut. Dapat

digambarkan dalam kerangka berpikir sebagai berikut.

28
Hubungan Minat Baca Dengan Hasil Belajar Siswa

Mata Pelajaran Geografi

Minat Baca (X)


Hasil Belajar
1. Kesenangan
Geografi
membaca
2. Kesadaran akan Nilai hasil belajar
manfaat membaca siswa dalam mata
3. Frekuensi pelajaran Geografi
membaca pada semester II
4. Kuantitas bacaan

Ada atau tidak ada hubungan antara minat baca dengan

hasil belajar geografi

Gambar 2.1 Bagan Alur Kerangka Pemikiran

2.4 Hipotesis Penelitian

Sugiyono (2014: 84) menjelaskan bahwa hipotesis dalam penelitian

dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian. Terdapat dua macam hipotesis, yaitu hipotesis nol (Ho) dan

hipotesis alternatif (Ha). Dalam penelitian ini, hipotesis benar jika hipotesis

alternatif (Ha) terbukti.

Ha: Ada hubungan antara minat baca dengan hasil belajar siswa kelas XI SMA

Negeri 6 Palu

29
Ho: Tidak ada hubungan antara minat baca dengan hasil belajar siswa kelas XI

SMA Negeri 6 Palu.

30
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Hasan (2004:8) jenis penelitian berdasarkan eksplanasinya (tingkat

penjelasannya. Penelitian ini termaksud penelitian hubungan (korelasi). Penelitian

hubungan adalah penelitian yang dilakukan untuk menggabungkan antara dua

variabel atau lebih. Penelitian ini menggunakan 2 (dua) variabel yaitu variabel

terikat dan variabel bebas.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pendekatan

deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk memneliti status kelompok

manusia, suatu objek suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu

pperistiwa yang menggambarkan objek sesuai dengan keadaan sebenarnya dan

metode kuantitatif menganalisis menggunakan nilai atau angka. Jadi pendekatan

deskriptif kuantitatif adalah metode yang dilaksanakan penelitian untuk mengetahui

gambaran sebenarnya yaitu hubungan minat baca dengan hasil belajar siswa dengan

menggunakan angka.

3.2 Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat korelasi, berdasarkan variabel penelitian maka

hubungan variabel X dan variabel Y adalah sebagai berikut:

31
X Y

Gambar 3.1 desai penelitian

Keterangan :

X= Minat baca siswa (Variabel Bebas)

Y= Hasil Belajar (Variabel Terikat)

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Tahapan Awal

a. Menemukan masalah

b. Observasi lokasi penelitian

c. Mencari literatur yang sesuai dengan penelitian

d. Menyusun proposal penelitian

e. Menyeminarkan proposal penelitian

f. Penelitian lapangan

2. Tahap Pelaksana

a. Pengumpulan data

b. Menganalisis data

32
3.3 Tempat Dan Waktu Penelitian

3.3.1 Tempat Penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6

Palu, Kelurah Duyu, kecamatan tatanga , Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

3.3.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian berlangsung pada tahun 2018. Waktu penelitian dapa

dilihat pada jadwalpenelitian.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,

obyek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013: 61).

Penelitian ini variabel yang digunakan terdiri dari 2 (dua) macam variabel

yaitu variabel bebas (independent variabel) adalah minat baca siswa yang diberi

simbol (X) dan variabel terikat (dependen variabel) adalah hasil belajar siswa yang

diberi simbol (Y) pada pelajaran geografi yang berada dikelas XI IPS SMA Negeri

6 Palu.

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian

3.5.1 Populasi

Sugiyono (2013: 61) mendefinisikan populasi sebagai wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu.

33
Tabel 3.1 keadaan siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu

No. Kelas POPULASI

Laki-laki Perempuan

1. XI IPS 1 11 10

2. XI IPS 2 9 8

20 18

Jumlah 38

Sumber : data statistik sekolah SMA Negeri 6 Palu

3.5.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2013:118). Menurut Arikunto (2006:134), apabila

subjek penelitian kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga

penelitiannya merupakan penelitian populasi. Pada penelitian ini peneliti

menggunakan teknik sampel populasi (sampling population) karena jumlah

populasi kecil maka yang diambil menjadi sampel penelitian ini adalah seluruh

populasi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu.

34
3.6 Definisi Operasional

Pada penelitian ini variabel-variabel yang diteliti yaitu minat baca (X) dan

hasil belajar Geografi siswa (Y). Variabel-variabel tersebut didefinisikan secara

operasional sebagai berikut

3.6.1 Minat Baca

Minat baca adalah keinginan kuat yang mendorong seseorang untuk

melakukan kegiatan membaca atas kemauannya sendiri dan didasari dengan

perasaan senang

3.6.2 Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan perilaku siswa akibat proses belajar yang

dilaluinya secara komprehensif, meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan

sikap. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan hasil belajar pada mata pelajaran

geografi.

3.7 Jenis Dan Sumber Data

Data yang diperoleh oleh penelitian ini adalah data kuantitatif. Data

kuantitatif ialah data yang dapat dijelaskan dengan angka-angka sehinga dapat

diukur atau dihitung secara langsung.

Berdasarkan cara memperolehnya, data dalam penelitian ini berupa :

1. Sumber data primer yaitu data langsung yang diperoleh dari sumber data

peneliti untuk tujuan tertentu. Data primer penelitian diperoleh dari siswa

melalui kusioner atau angket.

35
2. Sumber data sekunder yaitu data yang lebih dulu dikumpulkan oleh orang

yang ada di luar penelitian. Dalam hal ini seperti buku-buku maupun

dokumen-dokumen yang sudah ada.

Tabel 3.2 Jabaran Data dan Sumber Data Penelitian

No Variabel Instrumen Jenis Data Sumber Data

1 Minat bacaS Kusioner atau Angket Data Primer Siswa

2 Hasil belajar Observasi dan Data Sekunder Nilai siswa

Dokumentasi

3.8 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam

penelitian. Arikunto (2006:150) menyebutkan alat pengumpul data ada 2 (dua)

yaitu tes dan non-test (bukan test). Teknik pengumpulan data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah teknik non-test yaitu angket dan dokumentasi.

3.8.1 Angket

Angket atau kuisoner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada

reponden untuk dijawabnya. Angket atau kuisoner dapat berupa pernyataan tertutup

atau terbuka dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirm melalui

pos atau internet Arikunto (2006:151)

36
Angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup yang

disajikan dalam bentuk pernyataan. Respondendiminta untuk memilih kategori

jawaban dengan memberikan tanda centang (√) pada kolom yang tersedia. Angket

menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif pilihan jawaban.

3.8.2 Dokumentasi

Menurut Arikunto (2006:158), metode dokumentasi yaitu mencari data

mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,

majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya. Metode

dokumentasi digunakan untuk mengetahui data tentang jumlah siswa kelas XI IPS,

data hasil belajar.

3.9 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan data

penelitian. Tujuan dari adanya instrumen ini yaitu untuk memberi kemudahan

kepada peneliti dalam melakukan penelitiannya. Instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini antara yaitu angket atau kusioner dan dokumentasi.

3.10 Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan melalui teknik angket dan dokumentasi (nilai

raport), selanjutnya diolah dan diklasifikasikan sesuai dengan kepentingan analisis

yang digunakan untuk menjawab pertanyaan dalam permasalahan. Teknik analisis

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan

analisis korelasi. Statistik deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk

mendeskripsikan hasil penelitian meliputi frekuensi dan presentase. Sementara itu

37
analisis korelasi untuk menganalisis hubungan antara (variabel bebas) minat baca

dan (variabel terikat) hasil belajar. Analisis korelasi untuk mencari nilai korelasi

antara variabel X dengan variabel Y maka penulis menggunakan rumus “r” product

moment.

3.10.1 Analisis Statistik Deskriptif

Sugiyono (2013: 207) menyebutkan bahwa statistik deskriptif digunakan

untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data

yang telah dikumpulkan, dimana tidak memiliki maksud untuk membuat

kesimpulan yang berlaku umum. Analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini

digunakan untuk mengetahui gambaran umum mengenai minat baca dan hasil

belajar georafi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Palu.

3.10.2 Analisis Data Awal

3.10.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui normal tidaknya sebaran

data yang digunakan dalam penelitian. Untuk mengetahui data berdistribusi normal

atau tidak, peneliti menggunakan bantuan program SPSS versi 16. Pada penelitian

ini, uji normalitas menggunakan OneSample Kolmogorov-Smirnov Test, dengan

langkah sebagai berikut, Klik Analyze > Nonparametric Tests > 1 Sample KS. Pada

kotak dialog OneSample Kolmogorov-Smirnov Test, masukkan variabel X dan Y

ke kotak Test Variable List, klik OK. Jika nilai signifikansi (Asymp Sig 2-tailed) >

0,05 maka data berdistribusi normal.

38
3.10.3 Analisis Data Akhir

3.10.3.1 Korelasi Product Moment

Menurut Sugiyono (2013: 228) teknik ini digunakan untuk mencari

hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variabel bila data keduanya

berbentuk interval atau ratio, dan sumber data dari kedua variabel tersebut sama.

Rumus untuk menghitung koefisien korelasi adalah sebagai berikut.

𝑁 Ʃ𝑋𝑌− (Ʃ𝑋)(Ʃ𝑌
rxy =
√{𝑁Ʃ𝑋²−(Ʃ𝑋)²}{𝑁 Ʃ𝑋𝑌 2 −(Ʃ𝑌)²}

Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi relasi antara variabel X dan Y

N = Jumlah subjek

X = Nilai variabel X

Y = Nilai Variabel Y

XY = Perkalian antara skor soal dengan skor total

Untuk menguji hipotesis, maka nilai rhitung dibandingkan dengan nilai

rtabel dengan taraf signifikansi 5%. Jika rhitung lebih besar dari rtabel maka Ha

diterima dan H0 ditolak, namun jika rhitung lebih kecil dari rtabel maka Ha

ditolak dan H0 diterima.

3.10.3.2 Koefisien Determinasi (KD)

Sugiyono (2013: 231) menyebutkan dalam analisis korelasi terdapat

angka yang disebut koefisien determinasi yang besarnya adalah kuadrat dari

39
koefisien korelasi (KD = r2) dan dalam bentuk persen. Koefisien ini disebut

koefisien penentu, karena varians yang terjadi pada variable terikat dapat dijelaskan

melalui varians yang terjadi pada variabel bebas.

40
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi.(2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta : Rineka Cipta.

Dalman. (2014). Keterampilan Membaca. Jakarta : Rajawali Pers

Endarto, Dkk.(2009). Geografi. Jakarta : Grahardi

Hartinah. (2011). Pengembangan peserta didik. Bandung : PT Refika Aditama

Hasan. (2014). Analisis Penelitian Dengan Statistik. Jakarta : PT Bumi Aksara

Indarti Anis Sholikhah.(2016). Hubungan Minat Baca Dengan Hasil Belajar

Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN Gugus Dipayuda Kecamatan Banjarnegara

Kabupaten Banjarnegara. Universitas Negeri Semarang : Tidak diterbitkan

Ismi Kumala Sari. (2015). Hubungan Minat Baca Dengan Hasil Belajar Pada

Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas X SMA Negeri 7 Semarang Kota Semarang

Tahun Ajaran 2014/2015. Universitas Negeri Semarang : Tidak diterbitkan

Meity H. Idris,. Izul Ramdani. (2014). Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak Usia

Dini. Jakarta : PT Luxima Metro Media

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif

Kualitatif, Dan R & D. Bandung : Alfabeta

Sugiyomo. (2014). Statistika untuk penelitian.

41
42