Anda di halaman 1dari 31

O M S WA S T YA S T U

A2A
RTM
ETNOFARMASI
KELOMPOK 2

UNIVERSITAS BALI INTERNASIONAL


1. A.A Istri Raka Widi Trisna (171200120)
2. I Dewa Gede Ari Sastrawan (171200125)
3. I Ketut Sudirta (171200127)
4. I Made Sri Astika (171200128)
5. Ni Putu Pradnyani Dewi (171200150)
6. Ni Putu Rusi Damayani (171200151)
7. Sindy Astika Damayanti (171200159)
OVERVIEW

LATAR BELAKANG SEJARAH, FILOSOFI DEFINISI USADA DALEM


DAN DEFINISI USADA DAN PENGRAKSA JIWA

DATA TUMBUHAN Y PENGOBATAN USADA DALEM KESIMPULAN


ANG DIGUNAKAN DAN PENGRAKSA JIWA
ETNOFARMASI
USADA DALEM & PENGRAKSA JIWA
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman


hayati yang kaya, sekitar 40.000 spesies tumbuhan ditemukan di Indonesia
dan 180 spesies di antaranya berpotensi sebagai tanaman obat.
Masyarakat Indonesia yang terkenal dengan keberagaman dan kesatuan
budayanya memiliki kearifan lokal (local wisdom). Kearifan ini menjadi alat
pengendalian diri dalam pengelolaan diri sendiri khususnya pengobatan.
Pada beberapa suku tradisi perobatannya ini sudah hampir
punah dan tergerus oleh ilmu farmasi dan kedokteran modern. Tradisi
perobatan yang masih hidup dan tetap aktif dalam sistem perobatan
tradisional saat ini adalah masyarakat Bali yang disebut dengan usada.
Usada adalah istilah untuk sistem perobatan masyarakat Bali yang ditulis di
atas lontar dengan bahasa dan aksara Bali. Di sejumlah daerah di Bali
diperkirakan cukup banyak tersebar naskah lontar usada. Menurut Nala
(1996), diperkirakan terdapat kurang lebih 50.000 lontar usada yang
tersebar di seluruh desa di pulau Bali.
TINJAUAN PUSTAKA

SEJARAH USADA
Kata usada yang berasal dari bahasa Sansekerta, yakni ausadhi, maka diperkirakan bahwa lontar usada yang ada di
Bali isinya diambil dari pengetahuan pengobatan di India. Pada permulaan abad XI datanglah ke Bali seorang empu
dari Jawa Timur yang digelari Empu Kuturan. Beliau seorang dukun Sidi Wakia, selalu dingin tangan jika beliau
mengobati orang sakit. Suatu hari, pasien yang diobatinya kebanyakan menemukan ajalnya. Beliau sangat malu
dan melakukan semadi pada sebuah kuburan yang sangat angker hingga mendapat sabda dari Bhatari Kahyangan
yang menyatakan bahwa setiap pepohonan datang satu demi satu menyatakan kegunaannya masing-masing.
Pernyataan oleh tanaman ini kemudian berdasarkan ingatan dan catatan empiris disusun menjadi sebuah Usada.
Pada waktu pemerintahan Raja Waturenggong di Gelgel Bali pada tahun 1460-1550 datanglah dari Jawa Timur
seorang bhagawan bernama Dang Hyang Dwijendra. Beliau merupakan seorang yang amat tinggi pengetahuannya
di semua bidang, termasuk di dalam bidang ilmu pengobatan. . Pada waktu beliau datang, di Bali sebenarnya telah
ada pula sistem pengobatan yang sudah ada sejak jaman dahulu. Sistem ini diwariskan turun-temurun tanpa
ditulis. Sejak datangnya Dang Hyang Dwijendra inilah penulisan Usada lebih ditegaskan lagi, yang telah dirintis oleh
para pendahulunya, termasuk Empu Kuturan. Maka bermunculanlah berbagai macam usada yang ditulis di atas
daun lontar
TINJAUAN PUSTAKA

FILOSOFI USADA
Manusia disebut sehat, apabila semua sistem dan unsur pembentuk tubuh
(panca maha bhuta) yang berhubungan dengan aksara panca brahma (Sang, Bang,
Tang, Ang, Ing) serta cairan tubuhnya berada dalam keadaan seimbang dan dapat
berfungsi dengan baik. Secara umum penyakit ada tiga jenis, yakni penyakit panes
(panas), nyem (dingin) dan sebaa (panas-dingin). Demikian pula tentang obatnya, ada
obat yang berkhasiat anget (hangat), tis (sejuk) dan dumelada (sedang).
Menyembuhkan suatu penyakit tidaklah cukup hanya ditangani masalah
biologinya saja, tetapi harus dilihat juga dari segi masalah sosial budayanya.
Masyarakat pada umumnya mencari pertolongan pengobatan bukanlah karena
penyakit yang patogen, tetapi kebanyakan akibat adanya kelainan fungsi dari
tubuhnya. Masyarakat di Bali masih percaya bahwa pengobatan dengan usada banyak
manfaatnya untuk menyembuhkan orang sakit
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI USADA
Kata usada berasal dari kata ausadhi (bhs. Sansekerta) yang
berarti tumbuh-tumbuhan yang mengandung khasiat obat-
obatan (Nala, 1996:1). Menurut Sukantra (1992:124)
menyatakan usada adalah ilmu pengobatan tradisional
masyarakat Bali lebih percaya bahwa pengobatan dengan
usada banyak manfaatnya untuk menyembuhkan orang sakit.
Lontar sebagai sebuah alat tulis dengan aksara Bali sebagai
alat tulisnya juga dianggap suci.
TINJAUAN PUSTAKA

USADA DALEM
Tumbuhan obat di Bali tercatat dalam suatu naskah kuno yang disebut usada. Salah satu usada yang
sampai saat ini masih dilestarikan dan sering digunakan sebagai pedoman oleh para balian (dukun) untuk
pengobatan suatu penyakit adalah usada dalem (Putra, 1991).

Pengobatan penyakit dalam Usada Dalem didasarkan pada konsep sekala dan niskala. Dalam lontar
usada dalem memuat beberapa jenis penyakit tuju dengan gejala atau tanda-tanda yang berbeda, penyakit gila,
barah, buh, badasa, gering agung atau kusta lepra, gudig, kurap gatal dan hangus, gigitan ular, gigitan anjing,
obat muka, sakit bagian pelepasan, penyakit kulit, penyakit perut, penyakit yang tidak mempan diobati dan
bebai, dan cara membuat banten atau sesaji untuk orang sakit.
TINJAUAN PUSTAKA

USADA PENGRAKSA JIWA


Usada pengraksa jiwa adalah ilmu pengobatan untuk melindungi atau menyelamatkan jiwa atau
nyawa, dalam usada berisi 8 kelompok pengobatan berbagai macam penyakit dengan berbagai
cara pengobatan, seperti sakit kepala, panas atau demam, perut, pemali, anggota badan, sakit ulu
hati, bengkak. Setiap pengobatan dalam usada ini selalu diawali dengan doa. Dasar pengobatannya
dengan menggunakan ramua-ramuan bahan ditambahkan mantra sebelum atau setelah
pengobatan (Parisada Hindu Dharma, 1968).
PEMBAHASAN
TANAMAN OBAT PADA USADA DALEM

Beberapa tanaman obat yang dapat diidentifikasi dari Usada Dalem kurang
lebih sejumlah 165 jenis tanaman.
CONTOH TANAMAN OBAT
PADA USADA DALEM
Kusambi, kecemcem, beras merah, adas, bangle, cempaka kuning, daun intaran,
jeruk nipis, jeruk purut, kencur, kunir, lengkuas, liligundi, musi, teriketuka,
kenanga, pule, pala, sembung, dan masih banyak tanaman lainnya.
TANAMAN OBAT PADA
USADA PENGRAKSA JIWA
Usada pengraksa jiwa berisi 8 kelompok pengobatan berbagai macam penyakit
dengan berbagai cara pengobatan, seperti sakit kepala, panas atau demam,
perut, pemali, anggota badan, sakit ulu hati, bengkak.
Contoh tanaman : lengkuas ,lempunyang , cengkuh , kencur, bawang , dringo ,
jeruk nipis, kulit kayu tenguun , kulit kayu tanjug, kulit kayu kusambi, kunyit
warangan, buah jebugaraum atau pala, dan sebagainya
USADA DALEM

KENCUR
(Kaempferia galangal L.)

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galangal L
USADA DALEM

KENCUR
(Kaempferia galangal L.)

Senyawa yang terkandung dalam rimpang kencur antara lain saponin, flavonoid, tannin,
kuinon, minyak atsiri, senyawa kimia golongan polifenol dan monoterpen/seskuiterpen.
Kandungan minyak atsiri dari rimpang kencur terdiri atas miscellaneous compounds
(etil p-metoksisinamat 58,47%, isobutil β-2-furilakrilat 30,90%, dan heksil format
4,78%); derivat monoterpen teroksigenasi (borneol 0,03% dan kamfer hidrat 0,83%);
serta monoterpen hidrokarbon (kamfen 0,04% dan terpinolen 0,02%) (Hasanah dkk.,
2011).
• Bahan obatnya: beras putih dengan kencur. Pembuatannya: Beras putih dan kencur
dikunyah di mulut, dan langsung disemburkan pada bagian yang terkena sakit encak
USADA DALEM

KENCUR
(Kaempferia galangal L.)

Dalam usada dalem, rimpang kencur digunakan untuk menyembuhkan


seseorang yang menderita sakit encak (luka karena ditindih benda berat hingga
memar). Senyawa yang terkandung dalam rimpang kencur antara lain saponin,
flavonoid, tannin, kuinon, minyak atsiri, senyawa kimia golongan polifenol dan
monoterpen/seskuiterpen. Kandungan minyak atsiri dari rimpang kencur terdiri atas
miscellaneous compounds (etil p-metoksisinamat 58,47%, isobutil β- 2-furilakrilat
30,90%, dan heksil format 4,78%); derivat monoterpen teroksigenasi (borneol 0,03%
dan kamfer hidrat 0,83%); serta monoterpen hidrokarbon (kamfen 0,04% dan
terpinolen 0,02%).
KENCUR
(Kaempferia galangal L.)

Dalam usada dalem, rimpang kencur digunakan untuk menyembuhkan


seseorang yang menderita sakit encak (luka karena ditindih benda berat hingga
memar). Berdasarkan jurnal dengan judul : “Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan
Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.)”. Hasil
pendekatan ilmiah terhadap khasiat rimpang kencur menunjukkan bahwa ekstrak
rimpang kencur positif memiliki efek farmakologi sebagai antiinflamasi dan
analgesik. Aktivitas ekstrak rimpang kencur sebagai agen antiinflamasi dan
analgesic, bekerja melalui penghambatan pelepasan mediator kimia serotonin dan
histamin ke tempat terjadinya radang, serta menghambat sintesis prostaglandin
yang merupakan mediator utama dari inflamasi. Penghambatan sintesis
prostaglandin diduga dengan cara menghambat kerja siklooksigenase (COX) yang
berfungsi merubah asam arakhidonat menjadi prostaglandin bila terjadi radang.
Asam arakhidonat banyak berasal dari fosfolipid membran sel yang diaktifkan oleh
cedera .
USADA DALEM

MENGKUDU
(Morinda citrifolia L.)

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledone
Ordo : Rubiales
Bangsa : Rubiaceae
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia L.
USADA DALEM

MENGKUDU
(Morinda citrifolia L.)

Mikronutrien utama yang terkandung dalam tanaman mengkudu adalah senyawa fenolik, asam organik dan alkaloid
(Blanco et al., 2005). Senyawa fenolik yang paling penting yaitu antrakuinon (damna-canthal, morindon, morindin),
aukubin, asperulosida, dan scopoletin. Asam organik utama yang terkandung diantaranya asam kaproat dan asam
kaprilat, sedangkan xeronine merupakan alkaloid yang terkandung dalam tanaman mengkudu.
• CARA PENGGUNAAN : Buah mengkudu dicari airnya, kemudian airnya dipakai untuk mencuci atau membersihkan
luka (Pulasari, 2009).
PENGRAKSA JIWA

MENGKUDU
(Morinda citrifolia L.)
Mengkudu dalam usada dalem adalah untuk penanggulangan atau pengobatan luka akibat gigitan anjing (Pulasari,
2009). Dalam saliva anjing terdapat berbagai macam bakteri, salah satunya adalah Staphylococcus aureus dalam
jumlah besar yang dapat menginfeksi manusia. Selain itu, bakteri ini juga merupakan salah satu bakteri yang
terdapat pada kulit, sehingga dapat menimbulkan infeksi saat kulit tersebut mengalami luka. Berdasarkan Jurnal
“Senyawa antrakuinon yang bersifat antioksidan dari kayu akar tumbuhan mengkudu (Morinda Citrifolia) dari
penggunaan mengkudu adalah sebagai antibakteri. Didapatkan hasil dari penelitian bahwa Efek antimikroba
disebabkan oleh adanya senyawa fenolik seperti acubin, L-asperuloside, alizarin, scopoletin dan antrakuinon lainnya
(Blanco, et al., 2005). Senyawa fenolik akan mengakibatkan pertumbuhan sel terhambat dan sel akan mengalami
kematian
PENGRAKSA JIWA

BUNI
(Antidesma bunius (L.)

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Antidesma
Spesies : Antidesma bunius (L.) Spreng
PENGRAKSA JIWA

BUNI
(Antidesma bunius (L.)

Daun buni mengandung terpenoid, tanin, glikosida, saponin dan antrakuinon, selain
itu pada kulit batang mengandung sedikit alkaloid yang beracun dan daunnya yang
mengandung friedelin. Buni berfungsi sebagai peluruh keringat, menghilangkan
racun, menghilangkan haus, dan meningkatkan sirkulasi darah. Biasanya buni
digunakan untuk mengobati anemia (kurang darah), darah kotor, jantung berdebar,
batuk, gangguan pencernaan, sifilis dan kencing nanah . Berdasarkan Jurnal “
Potensi Ekstrak Buah Buni (Antidesma bunius (L.) Sebagai Antibakteri dengan Bakteri
Uji Salmonella thypimurium dan Bacillus cereus”, didapatkan hasil bahwa ekstrak
buah buni memiliki potensi antibakteri terhadap gram positif dan gram negatif.
PENGRAKSA JIWA

DAUN DAPDAP
(Erythrina variegate)

Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotiledonae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Erythrina
Spesies : Erythrina variegate L.
PENGRAKSA JIWA

DAUN DAPDAP
(Erythrina variegate)

Daun dapdap (Erythrina variegate) dalam usada pengraksa jiwa digunakan untuk mengurangi demam dan nyeri.
Dimana daun dadap mengandung alkaloid beracun yaitu erythrinine yang dapat mempengaruhi sistem saraf.
Selain itu terdapat pula saponin dan asam hidrosianat. Skirining fitokimia menghasilkan delapan alkaloid spirinar
dan 3 karboksilat indole-3-akilamin.
Efek farmakologi dapat berupa anti rheumatoid artritis. Ekstrak cairan dan etanol dari daun dapdap dievaluasi
berdasarkan studi farmakologinya yang ditangguhkan dalam 4% v/v tween 80. Kedua ekstrak memiliki
konsentrasi yang berbeda (256,500/KgBB PO 1 x sehari selama 21 hari), ditandai dengan penurunan
pembengkakan pada cakar dan berat badan selama lesi sekunder. EEEV secara signifikan lebih tinggi.
Berdasarkan nilai WBC, hasil digunakan untuk menetapkan bahwa ekstrak daun dapdap memiliki potensi anti-
rematik.
PENGRAKSA JIWA

PENGOBATAN SAKIT ULU HATI


Penderita merasakan sakit pada hulu hati, mengeras seperti benda keras melingtang, akibatnya sukar
bernafas. Ini termasu penyakit beratm sukar menangani, jika tidak cermat dan tepat penyakit ini dapat
berubah menjadi penyakit. Tiwang layon (kejang, penderita seperti orang mati), bila sampai mengaibatkan
kemaian disebut penyakit bantaheng lanang.
Bahan obat; berupa loloh air perasan temu-temuan (temu lawak, ireng, temutis, temu giring, poh, konci,
lengkuas kencur, jahe, kunyit dls) dicampur dengan air jeruk linglang dan cuka tahunan. Sebelum minum
bacakan mantra; “ong brahma, wisnu iswara, brahmana anglaranin, wisnu anambanin, wisnu anglaranin,
iswara anambanin, brahma angkranin, siwa anambanin, ong upas bang matim upas kuning mati, upas ireng
mati, ong sri yawe nama swaha “.
PENGRAKSA JIWA

PENGOBATAN PENYAKIT PERUT

Lelengedan ; mencret (diare)


Bahan obat: buni (antidesma bunius) lengkap seluruh bagian tumbuhan, bawang dan adas
(foeniculum vugare mil), diolah menjadi loloh, ampas dari loloh diloah untuk obat urap pada
penderita. Mantra sebelum pengobatan” ong singgah kala ari-ari, kala getih, kala yeh, kala
dudungan.
Mantra yang diucapkan yaitu: Muksa kita ring gua garbane si anu (Nama) teka waras 3X” (Parisada
Hindu Dharma, 1968).
PENGRAKSA JIWA

PENGOBATAN PENYAKIT JENIS PENYAKIT


PANAS ATAU DALAM

Mokan barah : perut bagian bawah pusar membengak (infeksi dalam) pengobatan dengan lolh
bahan, daun semanggi (marselia crenata), pucuk atau tunas ule ( alstoni scholaris ) pucuk buhu (
albizzia procera), pucuk kecencam (spondias pinnata), pucuk kemiri ( hydrocotyle sibthorpioides),
banyu tuli (air biasa) ditambah buag pala kurung ( dipterocarpus trinervis ) jeruk nipis, lunak
tanek dan daging kelapa secukupnya. Setelah selesai diolah dihangatkan, penderita mengahadap
ketimur ucapkan mantra pengobatan “ong sang hyang banyu wisesa, anglebur lara petaka rin jero
garbane si anu (nama) teka muksah hilang lara won wiganane” (Suwidja, 1991).
KESIMPULAN
• Kepercayaan masyarakat Bali pada khasiat ubad Bali (obat alternatif) disebabkan karena umumnya obat yang berasal dari tumbuhan tidak
menimbulkan efek samping.
• Pengobatan penyakit dalam Usada Dalem didasarkan pada konsep sekala dan niskala. Dimana usada ini Salah satu usada yang sampai saat
ini masih dilestarikan dan sering digunakan sebagai pedoman oleh para balian (dukun) untuk pengobatan suatu penyakit
• Usada pengraksa jiwa adalah ilmu pengobatan untuk melindungi atau menyelamatkan jiwa atau nyawa. Dasar pengobatannya dengan
menggunakan ramua-ramuan bahan ditambahkan mantra sebelum atau setelah pengobatan
• Pengobatan tradisional Bali (usada) pada usada dalem kurang lebih sejumlah 165 jenis tanaman. Pada usada dalem membahas tumbuhan
yang digunakan sebagai pengobatan diantaranya tanaman Beringin , Delima (Punica granatum L.), Mengkudu, Lengkuas, Adas, Kencur, Pare
dan sebagainya. Dimana berdasarkan penelitian jurnal penggunaan tumbuhan kencur dan mengkudu sesuai dengan khasiat yang
disampaikan pada usada dalem.
• Pengobatan tradisional Bali (usada) pada usada pengraksa jiwa membahas 8 kelompok pengobatan berbagai macam penyakit dengan
berbagai cara pengobatan, seperti sakit kepala, panas atau demam, perut, pemali, anggota badan, sakit ulu hati, bengkak. Contoh tanaman
: lengkuas ,lempunyang , cengkuh , kencur, bawang , dringo , jeruk nipis, kulit kayu tenguun , kulit kayu tanjug, kulit kayu kusambi, kunyit
warangan, buah jebugaraum atau pala, dan sebagainya. Dimana berdasarkan penelitian jurnal penggunaan tumbuhan Boni dan Daun Dap-
dap sesuai dengan khasiat yang disampaikan pada usada pengraksa jiwa.
Thank You
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM