Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Model dalam teori kebidanan indonesia mengadopsi dari beberapa model
negara dengan berdasarkan dari beberapa teori yang sudah ada disamping dari
teori & model yang bersumber dari masyarakat. Model asuhan kebidanan
didasarkan pada kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan episode
yang normal dalam siklus kehidupan wanita.
Model kebidanan ini dapat dijadikan tolak ukur bagi bidan dalam
memberikan pelayanan kebidanan pada klien sehingga akan terbina suatu
hubungan saling percaya dalam pelaksanaan askeb. Dengan ini diharapkan profesi
kebidanan dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam upaya menurunkan
angka kesakitan, trauma persalinan, kematian & kejadian seksio sesaria pada
persalinan.Manajemen kebidanan adalah suatu metode/proses berfikir logis
sistematis.oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur fikir bagi
seorang bidan dalam memberikan arah / kerangka dalam menangani kasus yang
menjadi tanggung jawabnya. Menjelaskan dasar-dasar yang
harus diperhatikan oleh bidandalam melaksanakan asuhan kebidanan.

B. Tujuan
1. Bagaimana teori pengambilan keputusan
2. Bagaiman model herons
3. Bagaimana keterampilan observasi

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. PELAYANAN KEBIDANAN
Standar pelayanan kebidanan adalah tingkat pencapaian tertinggi dan
sempurna dalam pelaksanaan praktik kebidanan yang dipergunakan sebagai batas
penerimaan minimal, atau disebut pula sebagai kisaran variasi yang masih dapat
diterima oleh masyarakat.
B. Pengambilan Keputusan Dalam Pelayanan Kebidanan
1. Pengambilan Keputusan

Proses pengambilan keputusan merupakan bagian dasar dan integral dalam


praktik suatu profesi dan keberadaanya sangat penting karena akan menentukan
tindakan selanjutnya.

Menurut George R.Terry, pengambilan keputusan adalah memilih alternatif


yang ada. Ada 5 (lima) hal pokok dalam pengambilan keputusan:

1. Intuisi berdasarkan perasaan, lebih subyektif dan mudah terpengaruh


2. Pengalaman mewarnai pengetahuan praktis, seringnya terpapar suatu
kasus meningkatkan kemampuan mengambil keputusan terhadap nsuatu
kasus
3. Fakta, keputusan lebih riel, valit dan baik.
4. Wewenwng lebih bersifat rutinitas
5. Rasional, keputusan bersifat obyektif, trasparan, konsisten

Keterlibatan bidan dalam proses pengambilan keputusan sangat penting


karena dipengaruhi oleh 2 hal

• Pelayanan ”one to one” : Bidan dan klien yang bersifat sangat pribadi
dan bidan bisa memenuhi kebutuhan.
• Meningkatkan sensitivitas terhadap klien bidan berusaha keras untuk
memenuhi kebutuhan
• Perawatan berfokus pada ibu(women centered care) dan asuhan total(
total care)

2
Tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia pada umumnya
disebabkan oleh 3 keterlambatan yaitu :

• Terlambat mengenali tanda – tanda bahaya kehamilan sehingga terlambat


untuk memulai pertolongan
• Terlambat tiba di fasilitas pelayanan kesehatan
• Terlambat mendapat pelayanan setelah tiba di tempat pelayanan.
2. Teori-Teori Pengambilan Keputusan
1. Teori Utilitarisme:
Ketika keputusan diambil, memaksimalkan kesenangan, meminimalkan
ketidaksenangan.
2. Teori Deontology
Menurut Immanuel Kant: sesuatu dikatakan baik bila bertindak baik.
Contoh bila berjanji ditepati, bila pinjam hrus dikembalikan
3. Teori Hedonisme:
Menurut Aristippos , sesui kodratnya, setiap manusia mencari
kesenangan dan menghindari ketidaksenangan.
4. Teori Eudemonisme:
Menurut Filsuf Yunani Aristoteles , bahwa dalam setiap kegiatannya
manusia mengejar suatu tujuan, ingin mencapai sesuatu yang baik bagi
kita
3. Bentuk pengambilan keputusan :
• Strategi : dipengaruhi oleh kebijakan organisasi atau pimpinan, rencana
dan masa depan, rencana bisnis dan lain-lain.
• Cara kerja : yang dipengaruhi pelayanan kebidanan di dunia, klinik, dan
komunitas.
• Individu dan profesi : dilakukan oleh bidan yang dipengaruhi oleh
standart praktik kebidanan.

Pendekatan tradisional dalam pengambilan keputusan :

 Mengenal dan mengidentifikasi masalah


 Menegaskan masalah dengan menunjukan hubungan antara masa lalu dan
sekarang.

3
 Memperjelas hasil prioritas yang ingin dicapai.
 Mempertimbangkan pilihan yang ada.
 Mengevaluasi pilihan tersebut.
 Memilih solusi dan menetapkan atau melaksanakannya.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
a. Faktor fisik, didasarkan pada rasa yang dialami oleh tubuh sepeti rasa
sakit, tidak nyaman dan kenikmatan.
b. emosional, didasarkan pada perasaan atau sikap.
c. Rasional, didasarkan pada pengetahuan
d. Praktik, didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan dalam
melaksanakanya.
e. Interpersonal, didasarkan pada pengrauh jarigan sosial yang ada
f. Struktural, didasarkan pada lingkup sosial,ekonomi dan politik.
5. Dasar Pengambilan keputusan :
a. Ketidak sanggupan ( bersifat segera)
b. Keterpaksaaan karena suatu krisis, yang menuntut sesuatu unutuk segera
dilakukan.
6. Pengambilan keputusan yang etis
Ciri 2nya:
a. Mempunyai pertimbangan yang benar atau salah
b. Sering menyangkut pilihn yang sukar
c. Tidak mungkin dielakkan
d. Dipengaruhi oleh norma, situasi, iman,lingkungan social

7. Tips pengambilan keputusan dalam keadaan kritis :

a. Identifikasi dan tegaskan apa masalahnya, baik oleh sendiri atau dengan
orang lain.
b. Tetapkan hasil apa yang diinginkan.
c. Uji kesesuaian dari setiap solusi yang ada.
d. Pilih solusi yang lebih baik.
e. Laksanakan tindakan tanpa ada keterlambatan.

4
C. Model bantuan menurut Herons

Memahami Model Model Heron memiliki dua kategori dasar atau gaya -
"otoritatif" dan "fasilitatif". Mereka dua kategori rincian lebih lanjut ke dalam
enam kategori total untuk menjelaskan bagaimana orang intervensi ketika
membantu.
 Cara Menggunakan Model
Anda dapat menggunakan model untuk melihat cara Anda berkomunikasi
dalam berbagai pengaturan "membantu" di tempat kerja. Jika Anda terbiasa satu
atau dua gaya, model akan membantu Anda belajar dan lebih banyak
menggunakan gaya, dan sehingga meningkatkan dampak dan hasil dari bantuan
yang Anda berikan. Gunakan gambar 1 di bawah ini untuk menganalisis gaya
yang Anda gunakan dalam pengaturan kerja tertentu. Jika Anda membantu
seseorang untuk memecahkan suatu masalah tertentu atau masalah, menggunakan
model untuk rencana intervensi Anda sehingga Anda membantu anggota tim
Anda atau klien dengan cara terbaik mungkin. Gunakan angka 1 untuk memilih
gaya yang sesuai dan merencanakan apa yang harus dikatakan dan meminta orang
lain.
2. Model Heron:
Apa yang Katakanlah dan Ask

 Memberikan saran dan bimbingan


 Beritahu orang lain bagaimana mereka
Bersifat menentukan harus berperilaku
 Katakan kepada mereka apa yang harus
dilakukan

 Memberi Anda melihat dan mengalami


Jelaskan latar belakang dan prinsip-
prinsip
Informatif  Membantu orang lain mendapatkan
pemahaman yang lebih baik
Otoriter

5
 Menantang pemikiran orang lain
 Memutar ulang persis apa yang telah
dikatakan atau dilakukan
Menghadapi  Beritahu mereka apa yang Anda
pikirkan adalah menahan mereka
kembali
 Membantu mereka menghindari
membuat kesalahan yang sama lagi

 Membantu orang lain mengungkapkan


perasaan mereka atau ketakutan
Obat pencahar  Berempati dengan mereka

 Ajukan pertanyaan untuk mendorong


Fasilitatif pemikiran segar
Katalis  Mendorong orang lain untuk
menghasilkan pilihan baru dan solusi
 Mendengarkan dan meringkas, dan
mendengarkan lagi

 Beritahu orang lain Anda menghargai


mereka (kontribusi mereka, niat baik
Mendukung atau prestasi)
 Pujilah mereka
 Menunjukkan bahwa mereka memiliki
dukungan dan komitmen

D. Keterampilan Observasi
Observasi ialah metode atau cara yang menganalisis dan mengadakan
pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau
mengamati individu atau kelompok secara langsung. Pengamatan (observasi)
merupakan suatu cara pengumpulan data yang pengisiannya berdasarkan atas
pengamatan langsung terhadap sikap dan perilaku individu atau kelompok.
1. Tingkah laku verbal dan non verbal
a. Komunikasi verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata
baik secara lisan maupun tertulis. Komunikasi verbal (verbal communication)
adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan

6
dengan cara tertulis atau lisan. Bahasa verbal merupakan sarana untuk
menyampaikan perasaan, pikiran dan maksud tujuan.
Aspek dalam komunikasi verbal yaitu perbendaharaan kata-
kata(vocabulary), kecepatan(racing), intonasi suara, humor, waktu yang tepat dan
singkat.
Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa
mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi
informasi.
1. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan
objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat
dirujuk dalam komunikasi.
2. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat
mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
3. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah
yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa
sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan
menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan,
memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.
b. Komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal adalah pesan yang di sampaikan dalam
komunikasi di kemas dalam bentuk non verbal, tanpa kata-kata. Komunikasi non
verbal adalah setiap bentuk perilaku manusia yang langsung dapat diamati oleh
orang lain dan yang mengandung informasi tertentu tentang pengirim atau
pelakunya.
1) Bentuk komunikasi non verbal
a) Bahasa tubuh: meliputi lambaian tangan, ekspresi wajah, kontak mata,
sentuhan, gerakan kepala, sikap atau postur tubuh, dan lain-lain.
b) Tanda: dalam komunikasi non verbal menggantikan kata-kata, misal:
bendara putih mengartikan ada lelayu
c) Tindakan atau perbuatan: tindakan tidak menggantikan kata-kata tetapi
mengandung makna, misal: menggebrak meja berarti marah.

7
d) Objek: objek tidak menggantikan kata-kata tetapi juga mengandung
makna, misal: pakaian mencerminkan gaya hidup seseorang
e) Warna: menunjukan warna emosional, cita rasa, keyakinan agama,
politik, dan lain-lain, misal: warna merah muda adalah warna feminim.
2) Fungsi pesan nonverbal
Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan
nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:
1. Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara
verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan
kepala.
2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa
sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan
mengangguk-anggukkan kepala.
3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap
pesan verbal. Misalnya anda ’memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan
bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.”
4. Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal.
Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak
terungkap dengan kata-kata.
5. Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya.
Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul
meja.
2. Pengamatan dan Penafsiran
Pengamatan objektif adalah berbagai tingkah laku yang biasa dilihat
dan didengar. Sedangkan penafsiran/interprestasi adalah kesan yang kita berikan
pada apa yang kita lihat dan dengar.
Tahap-tahap interprestasi meliputi:
1. Refleksi perasaan; konselor tidak jauh dari apa yang dikatakan klien.
2. Klarifikasi; menjelaskan apa yang tersirat dalam perkataan klien.
3. Refleksi; penilaian konselor terhadap apa yang diungkapkan klien.
4. Konfrontasi; konselor membawa kepada perhatian dan perasaan klien
tanpa disadari.

8
5. Interprestasi; konselor memperkenalkan konsep-konsep hubungan
yang berakar dari pengalaman
3. JENIS OBSERVASI
Ada beberapa jenis observasi yang lazim dilakukan oleh konselor atau
peneliti, yaitu :
1. Dilihat dari keterlibatan subyek terhadap obyek yang sedang diobservasi
(observee), observasi bisa dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :
a. Observasi partisipan, yaitu bila pihak yang melakukan observasi
(observer) turut serta atau berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang
diobservasi (observee). Observasi partisipan juga sering digunakan dalam
penelitian eksploratif.Observasi partisipan ini memiliki kelebihan, yaitu
observee bisa jadi tidak mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi,
sehingga perilaku yang nampak diharapkan wajar atau tidak dibuat – buat.
Disisi lain, observasi partisipan mengandung kelemahan, terutama
berkaitan dengan kecermatan dalam melakukan pengamatan dan
pencatatan, sebab ketika observer terlibat langsung dalam aktifitas yang
sedang dilakukan observee, sangat mungkin observer tidak bisa melakukan
pengamatan dan pencatatan secara detail.
b. Observasi non – partisipan, yaitu bila observer tidak secara langsung atau
tidak berpartisipasi dalam aktifitas yang sedang dilakukan oleh
observee.Observasi non – partisipan ini memiliki kelebihan, yaitu observer
bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail dan cermat
terhadap segala aktivitas yang dilakukan observee. Disisi lain, bentuk ini
juga memiliki kelemahan yaitu bila observee mengetahui bahwa mereka
sedang diobeservasi, maka perilakunya biasanya buat – buat atau tidak
wajar. Akibatnya, observer tidak mendapatkan data yang asli.
c. Observasi kuasi – partisipan, yaitu bila observer terlibat pada sebagian
kegiatan yang sedang dilakukan oleh observee, sementara pada sebagian
kegiatan lain observer tidak melibatkan diri. Bentuk ini merupakan jalan
tengah untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk observasi di atas, dan
sekaligus memanfaatkan kelebihan dari kedua bentuk tersebut.

9
2. Dilihat dari segi situasi lingkungan dimana subjek diobservasi, Gall dkk (2003
: 254) membedakan observasi menjadi dua, yaitu :
a. Observasi naturalistik, jika observasi dilakukan secara alamiah atau dalam
kondisi apa adanya. Contoh : melihat pertandingan sepak bola, guru
mengamati murid ketika sedang bermain di halaman sekolah, seorang
peneliti mengamati perilaku binatang di hutan atau kebun binatang.
b. Observasi eksperimental, jika observasi itu dilakukan terhadap subjek
dalam suasana eksperimen atau kondisi yang diciptakan. Contoh : para
ilmuwan mengamati perubahan hewan percobaannya yang diberi vaksin
dengan hewan yang tidak diberi vaksin.
3. Khususnya bentuk observasi sistematis, Blocher (1987) mengelompokan ke
dalam tiga bentuk dasar observasi, yaitu :
a. Observasi naturalistik, yaitu ketika sesorang ingin mengobservasi subjek
(observee) dalam kondisi alami atau natural.
b. Metode survai, yaitu ketika seseorang mensurvai (mengobservasi) contoh –
contoh tertentu dari perilaku individu yang ingin kita nilai.
c. Eksperimentasi, yaitu ketika sesorang tidak hanya mengobservasi tetapi
memaksakan kondisi – kondisi spesifik terhadap subjek yang diobservasi.
4. Berdasarkan pada tujuan dan lapangannya, Hanna Djumhana (1983 : 205)
mengelompokkan observasi menjadi, yaitu :
a. Finding observasi, yaitu kegiatan observasi untuk tujuan penjajagan.
Dalam melakukan observasi ini observer belum mengetahui dengan jelas
apa yang harus diobservasi, ia hanya mengetahui bahwa ia akan
mengahadapi suatu situasi saja. Selama berhadapan dengan situasi itu, ia
bersikap menjajagi saja, kemudian ia mengamati berbagai variabel yang
mungkin dapat dijadikan bahan untuk menyusun observasi yang lebih
terarah.
b. Direct observation, yaitu observasi yang menggunakan “daftar isi” sebagai
pedomannya. Daftar ini bisa berupa checklist kategori tingkah laku yang
diobservasi. Pada umumnya pembuatan daftar isian ini didasarkan pada
data yang diperoleh dari finding observation dan atau penjabaran dari
konsep dalam teori yang dipandang sudah mapan.

10
5. Berdasarkan pada tingkat kesempurnaannya dan pelatihan yang disyaratkan,
Gibson & Mitchell (1995 : 261), mengklasifikasikan observasi sebagai berikut
:
a. Level pertama, observasi informasi kasual (casual information
observation ). Observasi jenis ini banyak dilakukan dalam kehidupan sehari
– hari dengan tidak terstruktur, dan biasanya observasi – observasi yang
tidak terencana yang memberikan kesan – kesan kasual yang terjadi sehari
–hari oleh orang – orang di dekat kita. Tidak ada pelatihan atau
instrumentasi yang diharapkan atau disyaratkan.
b. Level kedua, observasi terstruktur (guided observation). Terencana,
diarahkan pada sebuah maksud atau tujuan. Observasi pada tingkat ini
biasanya difasilitasi oleh instrumen yang sederhana seperti cheklist dan
skala penilaian. Beberapa training juga diperlukan.
c. Level ketiga, level klinis. Observasi, selalu diperpanjang, dan sering
dengan kondisi – kondisi yang terkontrol. Teknik – teknik dan instrumen –
instrumen yang digunakan direncanakan dengan baik, dan digunakan
melalui pelatihan secara khusus, biasanya diberikan pada level doktoral.
(Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 : 86 – 91)
4. ANALISA OBSERVASI
Gibson (1995 : 263) menyarankan agar dalam melakukan analisis selama
atau setelah observasi memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
1. Mengamati satu klien dalam satu waktu. Observasi untuk analisis
individu sebaiknya difokuskan pada individu tersebut. Utamanya
terhadap perilaku klien secara detail yang mungkin berguna dalam
konseling.
2. Ada kriteria spesifik untuk melakukan observasi. Konselor hendaknya
selalu ingat bahwa observasi yang dilakukan adalah untuk mencapai
tujuan tertentu. Oleh sebab itu, ketika melakukan analisis hendaknya
difokuskan pada hal – hal yang berkaitan dengan tujuan observasi.
3. Observasi seharusnya dilakukan tanpa batas waktu. Utamanya dalam
dunia pendidikan, observasi dalam rangka konseling sebaiknya tidak
hanya dibatasi pada waktu tertentu saja, tetapi dilakukan secara

11
berkesinambungan ini sekurang – kurangnya memiliki dua manfaat,
yaitu untuk validasi dan evaluasi.
4. Konseli seharusnya diamati dalam situasi yang natural dan berbeda.
Perilaku natural kebanyakan terjadi dalam situasi yang juga natural.
Meskipun situasi naturalitu beragam antara satu orang dengan yang lain,
tetapi ada situasi umum yang kurang lebih sama, misalnya : ketika di
sekolah, di rumah, ketika berhubungan dengan teman, dengan guru,
dengan karyawan, dan dengan orang dewasa lainnya. Sebab bisa jadi
seseorang ketika di tengah – tengah keluarga menunjukkan perilaku
sopan, tetapi ketika berhubungan dengan orang – orang di luar rumah
terjadi sebaliknya. Mengamati perilaku dalam situasi yang berbeda itu
sangat membantu dalam penyimpulan apakah karakteristik tingkah laku
tersebut konsisten atau tidak.
5. Mengamati klien dalam konteks semua situasi atau situasi total. Dalam
melakukan observasi terhadap tingkah laku manusia, sangatlah penting
menghindari pendekatan “tunnel vision”, dimana kita hanya bermaksud
mengamati klien secara visual atau sebatas yang tampak mata, tetapi
observasi sebaiknya dilakukan dengan melihat faktor – faktor yang
mendorong munculnya tingkah laku tersebut, sehingga kita bisa
memberi makna yang lebih tepat terhadap tingkah laku yang kita amati.
6. Data dari observasi seharusnya digabungkan dengan data yang lain.
Dalam analisis individu sangatlah penting untuk menggabungkan semua
yang diketahui tentang konseli. Hal ini karena untuk melihat konseli
sebagai seorang manusia yang utuh, semua kesan yang didapatkan dari
observasi harus dipadukan dengan semua informasi yang mungkin
didapatkan. Teknik studi kasus yang diguanakan oleh sebagian besar
bantuan profesional memberikan ilustrasi terhadap integrasi dan
hubungan antar data sebelum dilakukan interpretasi.
7. Observasi seharusnya dilakukan dalam kondisi yang menyenangkan.
Dalam melakukan observasi sangat diharapkan observer berada pada
posisi yang cukup jelas untuk melihat apa yang ingin dilaporkan.
Idealnya, observer mampu melakukan observasi dalam waktu yang

12
cukup tanpa halangan dan gangguan, serta kondisi yang menyenangkan
untuk melakukan observasi. Observer seharusnya juga siap terhadap
kemungkinan lain yang mungkin terjadi ketika seseorang diamati
memodifikasi perilakunya karena dia sadar bahwa dirinya sedang
diamati. (Pemahaman Individu oleh Drs. Anwar Sutoyo, M.Pd, 2012 :
124 -126)

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Model Kebidanan adalah suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan
kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.Konseptual
model kebidananyaitu:
Pelayanan Kebidanan Indonesia dimulaisejak zaman Hindia-Belanda1807
(zamanGubernur Jendral Hendrik William Deandels) namun bukan bidan yang
menjaditenaga medis dalam proses persalinan akantetapi dukun yang
melakukan hal tersebut.
Seiring berjalannya waktu dan pengaruhperkembangan zaman pada tahun
1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia
oleh seorang Dokter Militer Belanda (Dr. W. Bosch) lulusan ini
kemudian bekerja di rumah sakit juga di masyarakat. Mulai saat itu pelayanan
kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan.

B. Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan
saran dari pembaca yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi
perbaikan makalah ini kedepannya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Fitriasari.2009. Konseling (Komunikasi Interpersonal. akbidypsdmi.net. 26 April


2009. 05:08 PM.

Tyastuti, dkk., 2008. Komunikasi dan Konseling Dalam Praktik Kebidanan.


Yogyakarta: Fitramaya.

Uripni. 2003. Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC.


mustikanurse.blogspot.com/2006/12/komunikasi-dalam-pelayanan-
keperawatan_12.html. Tuesday, December 12, 2006. Komunikasi Dalam
Pelayanan Keperawatan II Oleh : Mustikasar

Wulandari diah.2009.Komunikasi dan konseling dalam praktik


kebidanan.Jogyakarta:Nuha medika

15
TEORI PENGAMBILAN
KEPUTUSAN

Disusun Oleh :
KELOMPOK : 2

1. AFRIDA YANTI
2. IRNA MORA SARI
3. MARIDA
4. RIZKI ATIKA
5. DINDA AZHAR

PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN


UNIVERSITAS AUFA ROYHAN
PADANGSIDIMPUAN
2019

16
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada penulis sehingga saya
berhasil menyelesaikan makalah “Teori Pengambilan Keputusan” Penulis
menyadari bahwa makalah yang penulis selesaikan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
bersifat membangun guna kesempurnaan makalah penulis selanjutnya.
Akhir kata, penulis menyucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta
penulis berharap agar makalah ini dapat bermamfaat untuk kita semua.

Padangsidimpuan, November 2019

Penulis

i
17
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Tujuan ......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Teori Pengambilan Keputusan ..................................................... 2
B. Model Herons .............................................................................. 5
C. Keterampilan Observasi ............................................................... 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................. 17
B. Saran ............................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA

18ii
19