Anda di halaman 1dari 36

BAB 3

GAMBARAN UMUM KABUPATEN GUNUNG MAS

3.1 SEJARAH PEMBENTUKAN KABUPATEN GUNUNG MAS


Sejarah pembentukan Kabupaten Gunung Mas merupakan bagian integral dari
Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah. Berdasarkan Undang – Undang
Nomor 21 Tahun 1958, Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah terdiri dari 3 (tiga)
Kabupaten Otonom yaitu Kabupaten Dati II Kapuas, Kabupaten Dati II Barito dan Kabupaten
Dati II Kotawaringin, Provinsi Kalimantan Tengah dengan Ibu Kota Pahandut berganti nama
dengan Palangka Raya.
Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 1959 Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah
berubah menjadi 5 (lima) Kabupaten dan Palangka Raya sebagai ibukotanya :
1. Kabupaten Dati II Kapuas
2. Kabupaten Dati II Barito Utara
3. Kabupaten Dati II Barito Selatan
4. Kabupaten Dati II Kotawaringin Timur
5. Kabupaten Dati II Kotawaringin Barat

Dengan berlakunya UU Nomor 27 Tahun 1959 dan SK Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor : Des. 52/12/2-206, ditegaskan Kabupaten Dati II Kapuas sebagai Kabupaten
Otonom adalah Bagian Integral dari Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah yang pada
waktu itu Kabupaten Kapuas terdiri dari beberapa kewedanaan dan salah satunya adalah
kewedanaan Kahayan Hulu.Berdasakan UU Nomor5 Tahun 1974, Keputusan Menteri Dalam
Negeri Nomor 64 Tahun 1979 tanggal 28 April 1979 terjadi perubahan nama Kabupaten
Administratif Gunung Mas menjadi Pembantu Bupati Kapuas Wilayah Gunung Mas.
Sejalan dengan era reformasi dan terbitnya UU Nomor 22 Tahun 1999 merupakan angin
segar untuk pembentukan Kabupaten baru. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh tokoh
dan warga masyarakat Gunung Mas di Palangka Raya, Memanfaatkan momen melalui

Laporan Antara, 2019 3-1


“Deklarasi Masyarakat Gunung Mas” tanggal 21 Maret 2001 di Kuala Kurun yang meliputi 6
Kecamatan yaitu Kec. Kurun, Kahayan Hulu Utara, Tewah, Sepang, Manuhing dan Rungan.
Dengan terbitnya UU Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kab. Katingan, Kab.
Seruyan, Kab. Sukamara, Kab. Lamandau, Kab. Gunung Mas, Kab. Pulang Pisau, Kab. Murung
Raya, Kab. Barito Timur di Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan Hasil Lokakarya yang
disepakati oleh seluruh peserta menetapkantanggal 21 Juni dipilih sebagai hari lahir
Kabupaten Gunung Mas.

3.2 WILAYAH ADMINISTRASI DAN LETAK GEOGRAFIS


Kabupaten Gunung Mas memiliki luas wilayah sebesar 10.804 km², jika dibandingkan
dengan luas Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 153.564 km², luas Kabupaten Gunung Mas
sebesar 7,04% dari luas Provinsi Kalimatan Tengah. Secara geografis, Kabupaten Gunung Mas
terletak terletak pada koordinat 0º 17” 05 Lintang Selatan - 01º 39” 40 Lintang Selatan dan 113º
00.45” Bujur Timur 114º 02.05” Bujur Timur. Secara geografis Kabupaten Gunung Mas
berbatasan dengan beberapa wilayah adminsitratif lain yaitu:
- Bagian Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Murung Raya
- Bagian Timur berbatasan dengan wilayah Kabupate Kapuas dan Kabupaten Murung Raya
- Bagian Selatan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya
- Bagian Barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Katingan dan Provinsi Kalimantan Barat
Kabupaten Gunung Mas memiliki 12 administrasi kecamatan, Berikut luas wilayah
Kabupaten Gunung Mas.
Tabel 3.1 Luas Wilayah Kabupaten Gunung Mas
Kecamatan Ibukota Luas (Ha) Persentase (%)
Manuhing Tumbang Talaken 76.700 7,10
Manuhing Raya Tehang 92.800 8,59
Rungan Jakatan Raya 105.800 9,79
Rungan Hulu Tumbang Rahuyan 41.700 3,85
Rungan Barat Rabambang 45.100 4,17
Sepang Sepang Simin 45.200 4,19
Mihing Raya Kampuri 41.100 3,81
Kurun Kuala Kurun 84.500 7,82
Tewah Tewah 74.900 6,93
Kahayan Hulu Utara Tumbang Miri 72.800 6,74
Damang Batu Tumbang Marikoi 244.500 22,63
Miri Manasa Tumbang Napoi 155.300 14,38
Total 1.080.400 100,00
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka, 2018

3.3 KONDISI FISIK DASAR KABUPATEN GUNUNG MAS


3.3.1 Topografi dan Kelerengan
Kabupaten Gunung Mas memiliki kondisi topografis yang dapat dibedakan dalam dua
bagian wilayah yaitu bagian wilayah utara dan bagian wilayah selatan yaitu :

Laporan Antara, 2019 3-2


- Wilayah bagian utara merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100-500
meter dari permukaan air laut dan mempunyai tingkat kemiringinan 8° - 15° serta
mempunyai derah pegunungan dengan tingkat kemiringan ± 15° - 25°.
- Wilayah bagian selatan terdiri dari dataran rendah dan rawa-rawa yang berpotensi
mengalami banjir cukup besar pada musim-musim hujan, selain itu juga daerah
Kabupaten Gunung Mas memiliki perairan yang meliputi danau, rawa-rawa dan ada
empat jalur sungai yang masuk wilayah Kabupaten Gunung Mas yaitu Sungai Kahayan,
Sungai Rungan, Sungai Manuhing dan Sungai Miri serta anak-anak sungai lainnya.

Wilayah Kabupaten Gunung Mas didominasi oleh lahan dengan topografi berbukit dengan
tingkat kemiringan 16– 25% yaitu seluas 425.494,54 ha. Sedangkan topografi dengan kriteria
sangat curam yaitu dengan kemiringan 41 – 60% merupakan lahan yang paling sedikit yaitu
218,46 ha (Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011) . Berikut kelerengan dan luas
lahan di Kabupaten Gunung Mas. Peta kelerengan di Kabupaten Gunung Mas pada Gambar 3.1
Tabel 3.2 Kelerengan dan Luas Lahan di Kabupaten Gunung Mas
No. Kriteria Kemiringan Luas Lahan
1 Datar <2 35.489,14
2 Landai 2–8 137.514,34
3 Bergelombang 9 -15 232.121,67
4 Berbukit 16 – 25 425.494,54
5 Curam 26 – 40 124.663,04
6 Sangat Curam 41 – 60 218,46
7 Curam Sekali >60 121.080,21
8 Perairan - 3.820,00
Jumlah 1.080.400,00
Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

3.3.2 Jenis Tanah


Jenis tanah di wilayah Kabupaten Gunung Mas terdiri atas 8 (delapan) jenis tanah yaitu
Podsolik Merah Kuning, Aluvial, Latosol, Organosol, Podsol, Podsolik, Glei Humus dan Renzina.
Jenis tanah yang dominan adalah tanah Podsolik Merah Kuning tersebar di bagian utara wilayah
Gunung Mas dengan ketebalan ± 110 cm dan tanah Organosol yang tersebar di hampir semua
bagian selatan Kabupaten Gunung Mas. Kemudian pada daerah-daerah pinggir sungai umumnya
didominasi oleh tanah aluvial yang berasal dari endapan sungai dengan jenis tanah Aluvial
Hydromorfik kelabu, tersebar dan dapat di jumpai di beberapa sungai/anak sungai di wilayah
Gunung Mas yaitu Sungai Kahayan, Sungai Miri (anak Sungai Kahayan), Sungai Rungan dan
Sungai Manuhing (anak Sungai Rungan). Peta jenis tanah dapat dilihat pada Gambar 3.2.

3.3.3 Hidrologi
Gunung Mas merupakan kabupaten pada sebagian wilayah masih tergantung dari
pemanfaatan sungai baik sebagai transportasi maupun kebutuhan sehari-hari. Sebagian pusat-
pusat pertumbuhan wilayah yang masih tergantung dari kedekatannya dengan sungai. Wilayah

Laporan Antara, 2019 3-3


Kabupaten Gunung Mas terdapat 3 cabang sungai yang langsung bermuara ke Sungai Kahayan,
yaitu Sungai Rungan, Sungai Miri, dan Sungai Manuhing. Total aliran permukaan ditaksir 90
miliar m3/ tahun atau 2850 m3/detik Sebaran air di permukaan di Kab. Gunung Mas, terdapat
beberapa tempat yaitu rawa, danau dan sungai. Berikut nama sungai, panjang sungai dan
kecamatan yang dilintasi oleh sungai.
Tabel 3.3 Nama-nama Sungai yang Melintasi Kecamatan di Kabupaten Gunung Mas
Nama Sungai Panjang Kecamatan yang DIlintasi
Manuhing ± 28,75 km Manuhing, Manuhing Raya
Rungan ± 86,25 km Rungan, Rungan Hulu
Kahayan ± 600,00 km Sepang, Mihing Raya, Kurun, Tewah, Kahayan Hulu Utasa,
Damang Batu
Miri ± 20,00 km Miri Manasa
Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

Berdasarkan dokumen Laporan Hasil Pengujian Air (2018) penurunan kualitas Sungai
Kahayan memperhatikan karena adanya pencemaran, salah satu sumber pencemaran berasal
dari aktivitas penambang emas skala kecil (PESK) yang dilakukan oleh masyarakat dan aktivitas
pembukaan lahan perkebunan besar swasta. Pada tahun 2003 jumlah penambang emas tanpa
ijin (PETI) yang berada di DAS Kahayan dan Sub DAS Rungan adalah 1.862 unit. Dampak yang
ditimbulkan dari penambangan emas ini adalah :
1. Terjadinya erosi dan sedimentasi yang mengakibatkan penurunan kualitas air sungai.
2. Musnahnya pepohonan/ hutan di pinggir-pinggir sungai karena para penambang telah
menyedot di bagian pinggir sungai sehingga mengakibatkan beberapa pepohonan tumbang.
3. Terjadinya pendangkalan sungai yang mengakibatkan terganggunya sarana transportasi air,
dampak dari pendangkalan ini telah dirasakan oleh masyarakat dimana pada waktu lalu
pada saat musim kemarau di daerah –daerah tertentu masih dapat dilalui oleh perahu-
perahu berukuran sedang,sedangkan pada pada saat ini sudah tidak dapat dilalui lagi.
4. Musnahnya biota perairan termasuk ikan dan mahluk hidup lainnya.
5. Penggunaan merkuri (air raksa) di dalam proses pemurnian emas,mengakibatkan
meningkatnya konsentrasi merkuri di perairan.

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu bentang alam yang dibatasi oleh punggung
bukit pemisah aliran (topographic divide), yang menerima, menyimpan, dan mengalirkan air
melalui jaringan sungai dan bermuara di satu singleoutlet di sungai utama menuju danau atau
laut. Di Kabupaten Gunung Mas terdapat DAS Kahayan terbagi habis ke dalam tiga sub DAS yaitu
sub DAS Rungan, Manuhing dan Miri serta di dalam DAS terdapat berbagai zona dan areal
pemanfaatan. Di dalam suatu DAS hutan berfungsi untuk mendukung eksistensi DAS itu sendiri
dan mendukung tercapainya jasa-jasa lingkungan alami. Beberapa fungsi hutan, yaitu vegetasi
yang membentuk ekosistem hutan bisa mengikat air dan menyimpan air dalam bentuk ground

Laporan Antara, 2019 3-4


water flow yang memasok mata air untuk masyarakat hilir, ground water flow bisa menjadi
hulu-hulu sungai, pemasok air bagi pertumbuhan tanaman dan lain sebagainya.Peta Daerah
Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Gunung Mas dapat dilihat pada Gambar 3.3.

3.3.4 Geologi
Berdasarkan dokumen Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas menjelaskan bahwa
kondisi geologi berdasarkan Peta Digital Geologi Kalimantan (P3GI, 1995), wilayah Kab. Gunung
Mas terdiri dari 11 (sebelas) formasi geologi. Peta geologi dapat dilihat pada Gambar 3.4.
a. Tonalit Sepauk
Formasi Tonalit Sepauk merupakan batuan granitan berkomposisi tonalit, diorit dan
granodiorit sampai monzoit. Kontak terobosan antara batuan pluton granitan dengan batuan
leleran yang bersusun menengah terdapat disekitar Butut Nusa, Hulu Sungai Mentaya.
b. Batu Malihan Pinoh
Formasi Metamorf Pinoh merupakan batuan fillit, sekis, kuarsit dan genes. Secara umum
batuan malihan berasal dari batu lumpur. Proses hidrothermal pneumatotit mempengaruhi
satuan ini, di beberapa tempat menghasilkan endapan logam dasar.
c. Aluvium
Formasi Endapan Aluvium merupakan pasir kuarsa, kerikil, dan bongkah yang berasal dari
komponen batuan malihan, batuan bersifat granit dan kuarsit lepas. Di beberapa tempat
ditemukan lumpur pasir dan tanah liat mengandung lignit dan limotit. Batuan yang akan
mengeras juga ditemukan terletak diantara 40 – 50 m di atas permukaan sungai sekarang.
Batuan-batuan tersebut terdapat sebagai endapan sungai, undak, dan rawa.
d. Batu Pasir Haloq
Merupakan formasi yang terdiri dari batupasir kuarsa, batupasir sela kuarsa, batupasir
kerikilan, jarang batulanau, batulumpur, setempat batugamping, (Biokalkarenit, biokalsilutit)
berbentuk lensa pada bagian bawah.
e. Formasi Mentemoi
Formasi ini di bagian bawah dikuasai oleh batupasir, sedangkan di bagian atas batupasir
arkosa berbutir halus – kasar, kemerahan; terdapat struktur silang siur dan gelembur
gelombang. Setempat terdapat sisipan konglomerat kuarsa dan batu lempung yang kadang-
kadang mengandung batubara. Komponen konglomerat umumnya berupa kuarsa,
berdiameter 0,5 – 10 cm.
f. Tanjung
Formasi ini terdiri atas perselingan batu pasir, serpih, batu lanau dan konglomerat aneka
bahan, sebagian bersifat gampingan. Komponen konglomerat antara lain : kursa, felspar,

Laporan Antara, 2019 3-5


granit, sekis, gabro, dan basal. Didalam batu pasir dijumpai komponen glaukonit, bagian atas
terdiri dari perselingan batu pasir kuarsa bernika, batu lanau, batu gamping dan batubara.
g. Warukin
Formasi ini terdiribatu pasir, batu pasir tufan, gampingan, batu lanau, dan batu lempung. Di
beberapa tempat terdapat konglomerat berlapir silang siur dan sisipan batugamping.
Lapisan batubara dengan ketebalan antara 0,3 – 2 meter terdapat di lapisan batu pasir.
h. Montalat
Formasi ini terdiridari batu pasir kuarsa, putih, berstruktur silang-siur, sebagian gampingan,
bersisipan batu lanau, serpih dan batubara. Berfosil foram kecil. Berumur Oligosen.
Diendapkan di laut terbuka dengan tebal mencapai 1.400 m.
i. Terobosan Sintang
Formasi merupakan terobosan korok dan rentas andesit dan basal dengan penyebaran
beberapa ratus meter sampai beberapa ratus kilometer. Andesit umumnya bertekstur
porfiritik, padat, coklat kehijauan, disusun plagioklas dan ortoklas yang berubah menjadi
serisit, horenblende, piroksen, klorit, dan mineral bijih.
j. Batuan Gunung Api Malasan
Formasi ini merupakan breksi gunung api, tuf, aglomerat, dan lava andesit. Komponen breksi
umumnya andesit dan dasit berukuran beberapa cm - 100 cm. Aliran lava umumnya
berkomposisi andesit horenblenda. Batuan gunung api malasan menjemari dengan bagian
bawah formasi Tanjung, diduga berumur Miosen Awal dan diendapkan di lingkungan litoral.
k. Formasi Dahor
Formasi Dahor merupakan batuan konglomerat coklat kehitaman, batu pasir, batu lempung
karbonan mengandung lignit dengan lingkungan pengendapan peralihan. Lapisan batubara
dengan tebal 0,3 - 3 m terdapat dalam lapisan batupasir berbutir kasar. Di daerah yang
dipetakan satuan ini tidak mengandung fosil kecuali kepingan moluska yang tidak dapat
dikenal lagi didalam lapisan batubara.

Laporan Antara, 2019 3-6


Gambar 3.1 Peta Kelerengan Kabupaten Gunung Mas
Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

Laporan Antara, 2019 3-7


Gambar 3.2 Peta Jenis Tanah Kabupaten Gunung Mas
Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

Laporan Antara, 2019 3-8


Gambar 3.3 Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Gunung Mas
Sumber : Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Gunung Mas, 2018

Laporan Antara, 2019 3-9


Gambar 3.4 Peta Geologi Kabupaten Gunung Mas
Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

Laporan Antara, 2019 3-10


3.3.5 Kawasan Hutan
Di wilayah Kabupaten Gunung Mas terdapat empat jenis hutan yaitu Hutan Lindung (HL),
Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Produksi yang dapat
Dikonversi (HPK). Berdasarkan Perda RTRW Kabupaten Gunung Mas tahun 2012 – 2032
menjelaskan bahwa Kabupaten Gunung Mas memiliki hutan lindung dengan luas kurang lebih
59.513,03 ha yang terdapat di Kecamatan Damang Batu, Miri Manasa dan Kahayan Hulu Utara.
Untuk hutan produksi memiliki luas kurang lebih 195.388,47 ha yang tersebar di 11 (sebelas)
kecamatan yaitu Kecamatan Damang Batu, Miri Manasa, Kahayan Hulu Utara, Tewah, Kurun,
Mihing Raya, Sepang, Manuhing Raya, Rungan, Rungan Hulu dan Rungan Barat, sedangkan
untuk kawasan hutan produksi terbatas dengan luas kurang lebih 195.420,52 ha yang tesebar di
empat kecamatan yaitu Kecamatan Damang Batu, Miri Manasa, Kahayan Hulu Utara dan Tewah.
Untuk peta kawasan hutan dapat dilihat pada Gambar 3.5.

3.3.6 Pertambangan
Berdasarkan Perda RTRW Kabupaten Gunung Mas tahun 2012 – 2032 kawasan
peruntukan pertambangan di Kabupaten Gunung Mas memiliki luas kurang lebih 4.756,93 ha
yang berada dalam kawasan Alokasi Penggunaan Lainnya (APL), yang tersebar di delapan
kecamatan yaitu Kecamatan Manuhing, Tewah, Kurun, Mihing Raya, Rungan, Rungan Hulu, Miri
Manasa dan Damang Batu. Terdapat tiga jenis pertambangan di Kabupaten Gunung Mas yaitu
pertambangan mineral logam dengan luas kurang lebih 330,93 ha, pertambangan mineral
bukan logam dengan luas kurang lebih 4.107,54 ha dan pertambangan batuan dengan luas
kurang lebih 318,46 ha. Kawasan pertambangan mineral bukan logam merupakan jenis
pertambangan yang terluas di Kabupaten Gunung Mas. Untuk peta kawasan pertambangan
dapat dilihat pada Gambar 3.6.

3.3.7 Pariwisata
Berdasarkan Perda RTRW Kabupaten Gunung Mas tahun 2012 – 2032 kawasan
peruntukan wisata di Kabupaten Gunung Mas dibagi menjadi dua jenis yaitu kawasan
peruntukan wisata dan kawasan peruntukan wisata budaya. Untuk kawasan peruntukan wisata
meliputi Air Terjun Batu Mahasur merupakan objek wisata air yang terletak di Kuala Kurun, Air
Terjun Bawi Kameloh merupakan objek wisata air yang terletak di Kuala Kurun, Batu Suli
merupakan objek wisata alam rekreasi di Desa Tumbang Manange, Betang Singa Kenting
merupakan objek wisata cagar budaya di Desa Tumbang Korik, Betang Damang Batu
merupakan objek wisata cagar budaya di Desa Tumbang Anoi dan Betang Toyoimerupakan
objek wisata cagar budaya di Desa Tumbang Malahui. Sedangkan untuk kawasan peruntukan
wisata budaya adalah Situs Batu Tambun Bungai merupak objek wisata sejarah di Desa
Tumbang Panjangei.Peta Kawasan Pariwisata dapat dilihat pada Gambar 3.7.

Laporan Antara, 2019 3-11


Berdasarkan Buku Profil Pariwisata Kabupaten Gunung Mas tahun 2018 terdapat desa
wisata yaitu Desa Wisata Hurung Bunut yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas
menjadi desa wisata sejak tahun 2016 dengan potensi wisata pembuatan anyaman, pembuatan
keris dan potensi wisata kuliner yaitu Pais Ikan, Juhu Singkah Umbut, Sambal Singkah Potok dan
lamang.Berikut merupakan lokasi pariwisata yang ada di Kabupaten Gunung Mas :
a) Situs Tambun Bungai, terletak di Desa Tumbang Pajangei, Kecamatan Tewah dengan jenis
wisata yaitu wisata budaya, wisata susur sungai dan ekowisata. Selain itu potensi alam di
situs tambun bungai berada di pinggir sungai Pajangei yang bermuara di Sungai Kahayan
dan terdapat peninggalan seperti tiang pantar dan tiang sapundu, sandung tamanggung,
sempung dan pasah patahu Tambun Bungai, selain itu di Desa Tumbang Pajangei terdapat
bukit Goa Haramaung, Batu Tungku dan Batu Bulan.

Situs Tambun Bungai Goa Haramaung

b) Betang Damang Batu, terletak di Desa Betang Damang Batu


Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu
dengan potensi alam yang berdekatan
degnan bukit lereng hujan dan bukit lapan,
serta berdekatan dengan anak sungai
Rumbang dan anak sungai Anoi sehingga
terdapat wisata susur sungai yang melewati
beberapa riam serta keindahan alam pinggir sungai. Betang damang batu memiiki nilai
budaya dan histori yang tinggi bagi suku Dayak yang ada di Kalimantan yang mana betang
ini masih berdiri tiang-tiang bekas betang yang masih kokoh, serta terdapat kaleka Tawun
Rambang, tawun rangkang dan kaleka lika. Betang Damang Batu menjadi tempat
diselenggarakan event peringatan pertemuan Tumbang Anoi

Laporan Antara, 2019 3-12


c) Betang Toyoi terletak di Desa
Tumbang Malahoi yang berdiri
sekitar tahun 1869 dengan jenis
wisata budaya, wisata susur sungai
dan ekowisata, dengan potensi alam
yang memiliki keunggulan alam yang
bisa dijadikan daya tarik seperti
Betang Toyoi
wisata susur sungai dengan rakit
bambu, jalur treking ekowisata serta menikmati pemandangan perbukitan dan lembah
yang berdekatan dengan objek wisata air riam gohong rawai. Betang Toyoi merupakan
betang yang masih digunakan untuk beberapaacara adat serta pertemuan adat yang masih
dilakukan masyarakat. Dekatdengan lokasi terdapat tugu perjuangan masyarakat dayak
melawan Belandaserta gereja yang memiliki lonceng gereja pemberian pemerintahBelanda.
Berdekatan dengan betang terdapat replika Betang yang juga dapat dijadikan homestay
bagi wisatawan yang ingin berkunjung.

d) Betang Singa Kenting di Desa


Tumbang Korik Kecamatan Miri
Manasa dengan potensi alam berupa
pemandangan alam berkontur
perbukitan dan lembah serta sungai
korik. Betang ini merupakan betang
peninggalan singa kenting yang juga Betang Singa Kenting
merupakan tokoh yang ikutdalam
perdamaian Tumbang Anoi. Didepan betang terdapat patahu yang dipercaya
merupakantempat arwah leluhur penjaga desa. Ditempat ini juga berdampingan dengan
bekas betang JagaKamis serta betang jaga Nahan dan terdapat juka kaleka Sawut Parih.
Masyarakat sekitar juga masihmeneruskan adat dan istiadat daerah seperti kegiatan
handep hapakat ketika bercocok tanam sertakegiatan budaya lainnya. Terdapat pula
meriam kuno, beberapa gong peninggalan Singa Kenting,serta kuburan Tamanggung Singa
Kenting beserta istri dan beberapa ukiran kayu, rantai kapal kuno,tombak serta talawang
kuno.

Laporan Antara, 2019 3-13


e) Betang Panjang Tumbang Tajungan di Desa Betang Panjang Tumbang Tajungan
Tumbang Tajungan, Kecamatan Kahayan Hulu
Utara dengan jenis wisata budaya, betang yang
dibangun masyarakat Dayak menggunakan
tonggak berukuran besar yang biasa disebut
huma panjang namun diberi nama bentang
karena konsep kegunaannya hampir sama
sebagai tempat tinggal. Objek wisata budaya ini
sangat potensial bagi para peneliti yang ingin melihat jenis-jenis dari betang karena sangat
jarang ditemui betang panjang yang masih kokoh berdiri sekarang dengan panjang ± 10
meter, dahulu panjang betang ini mencapai 30 meter namun karena dimakan usia betang
hanya tinggal bagian setengahnya.

f) Air Terjun Batu Mahasur di


Kelurahan Kuala Kurun,
Kecamatan Kurun dengan jenis
wisata tirta dan ekowisata, dengan
potensi alam air terjun dengan
ketinggian kurang lebih 15 meter
yang mengalir dari bebatuan,
terdapat hutan kota dengan Air Terjun Batu Mahasur
berbagai jenis pohon yang tumbuh di sekitar lokasi air terjun dan aliran sungai yang
bermuara ke sungai kahayan serta jalur treking mengitari air terjun.

g) Air Terjun Bawin Kameloh, di Desa Tumbang Tambirah, Kecamatan Kurun dengan jenis
wisata tirta dan ekowisata. Selain air terjun bawin kameloh terdapat Sahai Nunyang, air
Terjun Saluhan, Air Terjun Danum Bahandang serta terdapat hutan kota serta terdapat
aliran sungai yang bermuara ke sungai kahayan.

h) Air Terjun Mangkuhus di Desa Tumbang Hatung, Air Terjun Mangkuhus


Kecamatan Miri Manasa dengan jenis wisata tirta,
wisata budaya, ekowisata dan wisata minat
khusus. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang
lebih 30 meter. Wisata budaya dengan melihat
bekas betang Kunum Nyahu di bukit Ruap, wisata
minat khusus seperti offroad dan panjat tebing
puruk sandukui, serta ekowisata dengan melakukan treking menuju air terjun serta menuju

Laporan Antara, 2019 3-14


puruk sandukui. Didesa Tumbang Hatung juga terdapat pengrajin anyam-anyaman rotan,
pandai besi pembuat mandau.

i) Batu Suli/Puruk Amai Rawang di desa Upun Batu,


Batu Suli
Kecamatan Tewah dengan jenis wisata budaya dan alam,
perbukitan Puruk Amai Rawang dan puruk haramaung
berdampingan dengan sungai kahayan. Batu Suli tidak
hanya menyuguhkan keindahan alam akan tetapi
menyimpan potensi pariwisata yang cukup menarik, di
tempat ini terdapat pengrajin pandai besi menghasilkan
pisau mandau.

j) Tambang Wihelmina di Desa Sumur Mas,


Tambang Wihelmina
Kecamatan Tewah yang menjadi wisata
sejarah karena bekas tambang tua yang
berada di dalam goa yang di buat pada
jaman penjajahan Belanda. Ditempat ini
pula dapat ditemukan lokomotif tua,
peralatan mesin uap untuk menyuplai
oksigen kedalam goa, melihat teknologi
pemisahan emas dari bebatuan pada jaman
dulu, melihat goa masuk ke dalam tambang, serta melihat aktifitas penambang tradisional
yang masih melakukan penambangan di daerah itu.

k) Wisata Hulu Sungai Kahayan, di Desa Tumbang


Wisata Hulu Sungai Kahayan
Mahuroi, Kecamatan Damang Batu dengan jenis
wisata alam dan sejarah. Kawasan hulu sungai
kahayan dengan tipe hutan hujan tropis dengan
geografis perbukitan dan lembah serta kawasan
sungai. Kawasan wisata hulu sungai kahayan
menawarkan jenis wisata petualang, wisata arum
jeram,wisata edukasi dan konservasi, serta wisata
budaya. Melihat keindahan hutan hujan
triopis,menyusuri riam , mengamati ragam flora dan fauna di alam liar, wisata mancing ikan,
menaiki bukit kaminting dan Bukit Tantan Samatuan.

Laporan Antara, 2019 3-15


l) Riam Gohong Rawai terletak di Desa Tumbang
Riam Gohong Rawai
Jutuh, Kecamatan Rungan dengan jenis wisata
tirta. Kawasan wisata Riam Gohong Rawai
merupakan riam dari sungai Rungan yang
membentang hingga 1 km dengan bebatuan
yang tersebar merata, terdapat wisata arum
jeram/tubing, melihat aktivitas masyarakat
menangkap ikan secara tradisional.

m) Puruk Kamucu di Desa Karason Kecamatan


Tewah dengan jenis wisata alam dan wisata
minat khusus. Puruk Kamucu dengan ketinggian
kurang lebih 400 meter merupakan bukit
keramat bagi masarakat sekitar.Pada jaman dulu
bukit ini menjadi destinasi favorit warga sekitar
desa Karason Kecamatan Tewah. Diatas Puruk
ini dibangun keramat sekitar tahun 1974. Konon Puruk Kamucu
bukit ini dapat mengeluarkan suara ledakan ketika akan mendekati subuh pagi. Menurut
warga terdapat goa di tengah-tengah bukit yang dikeramatkan warga.

n) Batu Bagalang, di Desa Rabambang Kecamatan


Rungan Barat dengan jenis wisata alam dan
sejarah. Batu Bagalang merupakan bongkahan
batu yang saling bertumpu membentuk sekat
goa. Ditempat ini juga menurut cerita
masyarakat merupakan persembunyian para
pejuang melawan penjajah Belanda. Ditempat ini
pula terkenal sebagai tempa bertapa bagi
Batu Bagalang
masyarakat jaman dulu untuk mendapatkan
ilmu ghaib. Destinasi wisata ini terletak tidak jauh dari Desa Rabambang, dan ditempat ini
pula dikelilingi pertambangan batu belah, karena bukit yang ada disekitar destinasi batu
bagalang terdiri dari bongkahan batu dengan ukuran besar.

o) Batu Sepan Bilas di Desa Tehang Kecamatan Manuhing Raya dengan jenis wisata budaya.
Batu Sepan Bilas menurut kepercayaan masyarakat Dayak dapat menyembuhkan berbagai
macam penyakit, hal ini dipercaya dengan banyaknya hewan yang datang untuk minum
atau hanya sekedar menjilat bongkahan batu sepan, menurut masyarakat suku dayak ini

Laporan Antara, 2019 3-16


dilakukan hewan untuk mengobati penyakitnya Batu Sepan Bilas
secara alami. Ini pula yang menjadi mitos
dimasyarkat bahwa air dari batu sepan bilas
dapat menawar racun serta bisa sebagai obat
sakit, serta menjadi kepercayaan masyarakat
bahwa air batu sepan ini pula dapat membawa
rejeki bagi orang yang menyimpan dan meminum air sepan, ditempat ini pula dapat
ditemui bangunan keramat.

p) Tahura (Taman Hutan Raya) Lapak Jaru di Desa Tahura Lapak Jaru
Tumbang Tambirah, Kecamatan Kurun dengan
jenis wisata alam, sejarah, buatan dan treking.
Kawasan Tahura Lapak Jaru memiliki kawasan
perbukitan, dengan potensi alam berupa Air
terjun Bawin Kameluh, Air Terjun Sahai
Nunyang, Air Terjun Saluhan, Air Terjun Danum
Bahandang, Goa kelelawar, Goa Lapak Jaru,
sungai saluhan, Bukit lapak Jaru / Bukit Doa/ Bukit Sorga. Kawasan Tahura Lapak Jaru
diharapakan dapat berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan,
pelestariankeanekaragaman hayati beserta ekosistemnya dan bermanfaat bagi
kesejahteraan masyarakat khususnya untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan penunjang budidaya, pelestarian budaya dan pariwisata serta rekreasi.

Laporan Antara, 2019 3-17


Gambar 3.5 Peta Kehutanan Kabupaten Gunung Mas
Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

Laporan Antara, 2019 3-18


Kontrak Karya dilaksanakan
oleh PT. Kalimantan Surya
Kencana dengan Tambang
Tembaga/Emas melakukan
operasi produksi selama ±30th

Gambar 3.6 Peta Pertambangan Kabupaten Gunung Mas


Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

Laporan Antara, 2019 3-19


Betang Singa Kenting
Betang Toyoi
Batu Suli

Betang Damang Batu Air Terjun Bawi Kameloh


Air Terjun Batu Mahasur

Gambar 3.7 Peta Kawasan Wisata Kabupaten Gunung Mas


Sumber : Materi Teknis RTRW Kabupaten Gunung Mas, 2011

Laporan Antara, 2019 3-20


3.4 KEPENDUDUKAN
3.4.1 Jumlah dan Perkembangan Penduduk
Data kependudukan yang digunakan termasuk merupakan data time series yaitu pada
tahun 2014 – 2018, data jumlah penduduk yang ada di Kabuapten Gunung Mas dalam angka
tahun 2014 – 2018 merupakan data proyeksi penduduk dari sensus penduduk tahun 2010.
Jumlah penduduk di Kab. Gunung Mas selama 5 tahun terakhir terus mengalami pertumbuhan
penduduk. Pada tahun 2013 Kabupaten Gunung Mas memiliki jumlah penduduk sebanyak
104.909 jiwa dan terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya, untuk tahun
2017 jumlah penduduk Kab. Gunung Mas mencapai 115.054 jiwa. Jumlah penduduk di 12
kecamatan yang ada di Kabupaten Gunung Mas juga semuanya mengalami peningkatan jumlah
penduduk secara konstan dari tahun 2013 – 2017. Berikut diagram dan tabel jumlah penduduk
Kabupaten Gunung pada tahun 2013 – 2017.

Diagram Jumlah Penduduk Kabupaten Gunung Mas tiap Kecamatan tahun


2013 - 2017
35,000
30,000
25,000
20,000
15,000
10,000
5,000
0
Kahayan
Manuhing Rungan Rungan Mihing Damang Miri
Manuhing Rungan Sepang Kurun Tewah Hulu
Raya Hulu Barat Raya Batu Manasa
Utara
2013 7,601 5,349 9,760 5,954 5,648 6,507 5,237 25,063 18,279 7,863 3,796 3,852
2014 7,693 5,470 9,825 6,016 5,743 6,630 5,368 26,173 17,789 7,999 3,844 3,917
2015 7,779 5,590 9,919 6,073 5,797 6,749 5,494 27,118 19,210 8,206 4,034 3,978
2016 7,861 5,709 10,006 6,127 5,849 6,865 5,622 28,273 19,724 8,333 4,076 4,039
2017 7,941 5,827 10,092 6,179 5,898 6,982 5,750 29,467 20,245 8,459 4,115 4,099

Gambar 3.8 Diagram Jumlah Penduduk Kabupaten Gunung Mas tiap Kecamatan tahun 2013 – 2017
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka tahun 2014 – 2018

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Kabupaten Gunung Mas tahun 2013 – 2017
Sensus Jumlah Penduduk
Persentase
Kecamatan Penduduk
2013 2014 2015 2016 2017 (%)
2010
Manuhing 7.288 7.601 7.693 7.779 7,861 7.941 6,90
Manuhing Raya 4.965 5.349 5.470 5.590 5.709 5.827 5,06
Rungan 9.372 9.760 9.825 9.919 10.006 10.092 8,77
Rungan Hulu 5.738 5.954 6.016 6.073 6.127 6.179 5,37
Rungan Barat 5.477 5.648 5.743 5.797 5.849 5.898 5,13
Sepang 6.112 6.507 6.630 6.749 6.865 6.982 6,07
Mihing Raya 4.833 5.237 5.368 5.494 5.622 5.750 5,00
Kurun 21.825 25.063 26.173 27.118 28.273 29.467 26,00
Tewah 16.679 18.279 17.789 19.210 19.724 20.245 17,60
Kahayan Hulu Utara 7.421 7.863 7.999 8.206 8.333 8.459 7,35
Damang Batu 3.638 3.796 3.844 4.034 4.076 4.115 3,57
Miri Manasa 3.641 3.852 3.917 3.978 4.039 4.099 3,57
Total 96.990 104.909 106.467 109.947 112.484 115.054 100,00
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka tahun 2013 -2018

Laporan Antara, 2019 3-21


Tabel 3.5 Laju Pertumbuhan Rata-rata Penduduk Kabupaten Gunung Mas tahun 2013 – 2017
Tahun Selisih Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk (%)
2013 – 2014 1.558 2,44
2014 – 2015 3.480 2,31
2015 – 2016 2.537 2,31
2016 - 2017 2.570 2,28
Rata-rata 2.536,25 2,33
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka tahun 2014 – 2018

Berdasarkan angka laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Gunung Mas dari tahun ke
tahun dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 2,33% dan dapat
diketahui laju pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2013 – 2014 yaitu sebesar 2,44% dan
laju pertumbuhan terendah terdapat pada tahun 2016 – 2017 yaitu sebesar 2,28%. Laju
pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh jumlah kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas)
dan perpindahan penduduk (migrasi).

3.4.2 Distribusi dan Kepadatan Penduduk


Berdasarkan diagram jumlah penduduk tiap kecamatan di Kab. Gunung Mas tahun 2013 -
2017 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk tertinggi berada di Kecamatan Kurun kemudian
Kecamatan Tewah, sedangkan untuk jumlah penduduk terendah berada di Kecamatan Miri
Manasa dan Damang Batu. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi penduduk diKabupaten
Gunung Mas tidak merata. Kecamatan Kurun memiliki jumlah penduduk yang tertinggi karena
terdapat Ibukota Kabupaten di dalam Kecamatan Kurun yaitu Kota Kuala Kurun. Berikut
merupakan tabel jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kepadatan penduduk di
Kabupaten Gunung Mas pada tahun 2017.
Tabel 3.6 Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin dan Kepadatan Penduduk
Kabupaten Gunung Mas tahun 2017
Jenis Kelamin (jiwa) Kepadatan
Jumlah Penduduk Luas Wilayah
Kecamatan Penduduk
(jiwa) (Ha)
Laki-laki Perempuan (jiwa/Ha)
Manuhing 4.308 3.633 7.941 111.300 0.07
Manuhing Raya 3,079 2.748 5.827 60.100 0,10
Rungan 5.363 4.729 10.092 71.000 0,14
Rungan Hulu 3.290 2.889 6.179 73.800 0,08
Rungan Barat 3.107 2.791 5.898 39.100 0,15
Sepang 3.717 3.265 6.982 39.700 0.17
Mihing Raya 3.071 2.679 5.750 34.300 0,16
Kurun 15.645 13.822 29.467 87.600 0,34
Tewah 10.769 9.476 20.245 107.900 0,18
Kahayan Hulu Utara 4.457 4.002 8.459 158.900 0,05
Damang Batu 2.218 1.897 4.115 142.500 0,03
Miri Manasa 2.150 1.949 4.099 154.200 0,03
Kab. Gunung Mas 61.174 53.880 115.054 1.080.500 0,125
Sumber : Kab. Gunung Mas dalam Angka, 2018

Berdasarkan tabel 3.4 dapat diketahui untuk sex ratio Kabupaten Gunung Mas pada
tahun 2017 sebesar 114 yang artinya bahwa setiap 100 jiwa penduduk perempuan terdapat
114 jiwa penduduk laki-laki di Kabupaten Gunung Mas. Sedangkan kepadatan penduduk di

Laporan Antara, 2019 3-22


Kabupaten Gunung Mas tahun 2017 adalah 0,125 jiwa/Ha dengan rata-rata jumlah penduduk
per rumah tangga adalah empat orang. Kepadatan penduduk di 12 kecamatan ini cukup
beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kec. Kurun dengan kepadatan
sebesar 0,34 jiwa/Hadan terendah di Kec. Damang Batu dan Miri Manasa sebesar 0,03 jiwa/Ha.

3.4.3 Mata Pencaharian


Penduduk yang termasuk ke dalam angkatan kerja pada tahun 2017 sebanyak 59.575
jiwa, yang bekerja 58.880 jiwa dan pengangguran 695 jiwa serta penduduk yang bukan
angkatan kerja sebanyak 19.999 jiwa. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian
diperoleh dari data BPS Kab. Gunung Mas dalam Angka yang dikelompokkan menjadi tujuh,
yaitu (1) Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan (2) Pertambangan dan
penggalian (3) Industri (4) Konstruksi (5) Perdagangan dan jasa (6) Angkutan (7) dan lainnya.
Berikut merupakan tabel dan diagram mata pencaharian penduduk di Kab. Gunung Mas.

Tabel 3.7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian tahun 2017


Jenis Kelamin
Mata Pencaharian Jumlah
Laki-laki Perempuan
Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan. perikanan 10.717 11.220 21.937
Pertambangan dan penggalian 17.253 1.654 18.907
Industri 768 548 1.316
Konstruksi 927 72 999
Perdagangan dan jasa 2.555 4.425 6.980
Angkutan 558 - 558
Lainnya 4.355 3.828 8.183
Sumber : Kab. Gunung Mas dalam Angka, 2018

Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian di Kabupaten


Gunung Mas tahun 2017

1% 14% Pertanian, perkebunan, kehutanan,


perburuan. perikanan
Pertambangan dan penggalian
37%
12% Industri

Konstruksi
2%
2% Perdagangan dan jasa

Angkutan
32%
Lainnya

Gambar 3.9 Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian di Kabupaten Gunung Mas tahun 2017
Sumber : Kab. Gunung Mas dalam Angka, 2018

Berdasarkan tabel dan diagram diatas, dapat diketahui bahwa sebagaian besar mata
pencaharian penduduk di Kabupaten Gunung Mas adalah pertanian, perkebunan, kehutanan,

Laporan Antara, 2019 3-23


perburuan, perikanan kemudian pertambangan dan penggalian. Hal ini dikarenakan Kabupaten
Gunung Mas ditetapkan sebagai kawasan strategi provinsi untuk kawasan pertanian
berkelanjutan, kawasan pengembangan pertenakan dan kawasan strategis ekonomi sektor
unggulan minapolitan sehingga menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Gunung Mas yang
menyerap banyak tenaga kerja hingga 37%.

3.4.4 Tingkat Pendidikan


Tingkat pendidikan dari penduduk di suatu wilayah akan mempengaruhi tingkat
kesejahteraan bagi wilayah tersebut. Selain itu, tingkat pendidikan juga menentukan potensi
sumberdaya manusia yang akan dikembangkan. Berikut tabel dan diagram jumlah penduduk
berumur 15 tahun ke atas berdasarkan tingkat pendidikan terakhir di Kabupaten Gunung Mas
tahun 2017,
Tabel 3.8 Jumlah Penduduk berusia 15 tahun keatas berdasarkan tingkat pendidikan terakhir
Kabupaten Gunung Mas tahun 2017
Angkatan kerja Bukan
Pendidikan Terakhir
Bekerja Pengangguran Terbuka Jumlah Angkatan Kerja
Belum Tamat SD 4.937 75 5.012 2.891
SD 16.519 - 16.519 4.936
SMP 16.142 207 16.349 8.469
SMA 13.542 192 13.734 3.280
SMK 1.151 - 1.151 294
Diploma/Akademik/Universitas 6.589 221 6.810 129
Jumlah 58.880 695 59.575 19.999
Sumber : Kab. Gunung Mas dalam Angka, 2018

Diagram Tingkat Pendidikan terakhir berdasarkan Angkatan Kerja di


Kabupaten Gunung Mas tahun 2017

2% 8%
11% Belum Tamat SD
SD
28%
23% SMP
SMA
SMK
28% Diploma/Akademi/Universitas

Gambar 3.10 Diagram Tingkat Pendidikan Terakhir berdasarkan Angkatan Kerja


Kabupaten Gunung Mas tahun 2017
Sumber : Kab. Gunung Mas dalam Angka, 2018

Berdasarkan data kependudukan tingkat pendidikan terakhir di Kab. Gunung Mas tahun
2017 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk yang sudah berkerja memiliki tingkat
pendidikan terakhir adalah SD dan SMP. Masyarakat di Kabupaten Gunung Mas yang termasuk

Laporan Antara, 2019 3-24


angkatan kerja dan belum pernah sekolah memiliki persentase 8%, angka persentase ini cukup
tinggi yang artinya belum semua penduduk mendapat fasilitas pendidikan.

3.5 KONDISI PEREKONOMIAN


3.5.1 Produk Domestik Regional Bruto
Berdasarkan Kabupaten Gunung Mas dalam Angka tahun 2017 kondisi perekonomian di
Kab. Gunung Mas pada tahun 2017 mengalami pertumbuhan sebesar 6,93%. Angka tersebut
mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan angka pertumbuhan ekonomi Kab. Gunung
Mas pada tahun 2016 yang mencapai sebesar 7,00%. Nilai produk domestik regional bruto
(PDRB) atas dasar harga konstan pada tahun 2017 sebesar 3.064.820,2 juta rupiah. Berikut nilai
PDRB atas dasar harga konstan untuk setiap lapangan usaha di Kabupaten Gunung Mas tahun
2013 -2017.
Tabel 3.9 Nilai PDRB Atar Dasar Harga Konstan dan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Gunung
Mas tahun 2015 – 2017
Tahun Persentase
Lapangan Usaha
2015 2016* 2017** (%)
Pertanian, Kehutanan dan
920.619.700.000 975.496.200.000 1.050.096.600.000 34,26
Perikanan
Pertambangan dan
279.863.400.000 305.182.200.000 328.465.300.000 10,72
Penggalian
Industri Pengolahan 250.389.300.000 267.182.200.000 278.102.800.000 9,07
Pengadaan Listrik dan Gas 469.100.000 517.000.000 550.100.000 0,02
Pengadaan Air,
Pengelolaan Sampah, 1.304.900.000 1.479.700.000 1.401.800.000 0,05
Limbah dan Daur Ulang
Konstruksi 303.787.900.000 331.704.800.000 360.101.200.000 11,75
Perdagangan Besar dan
Eceran; Reparasi Mobil 247.660.800.000 267.006.800.000 288.658.200.000 9,42
dan Sepeda Motor
Transportasi dan
43.883.300.000 46.896.500.000 50.035.000.000 1,63
Pergudangan
Penyediaan Akomodasi
45.891.000.000 49.329.100.000 52.080.000.000 1,70
dan Makan Minum
Informasi dan Komunikasi 41.603.900.000 42.667.700.000 43.789.000.000 1,43
Jasa Keuangan dan
16.868.800.000 17.325.000.000 17.861.100.000 0,58
Asuransi
Real Estate 70.707.400.000 75.790.800.000 79.616.100.000 2,60
Jasa Perusahaan 1.302.300.000 1.363.000.000 1.423.800.000 0,05
Administrasi
Pemerintahan,
166.285.900.000 180.927.300.000 193.579.700.000 6,32
Pertahanan dan Jaminan
Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 196.563.500.000 206.670.900.000 217.398.800.000 7,09
Jasa Kesehatan dan
82.967.300.000 87.560.800.000 92.232.600.000 3,21
Kegiatan Sosial
Jasa Lainnya 8.547.700.000 9.086.000.000 9.428.300.000 0,31
PDRB Atas Dasar Harga
2.678.716.100.000 2.866.186.000.000 3.064.820.200.000 100,00
Konstan
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka tahun 2016 - 2018

Laporan Antara, 2019 3-25


Persentase Perkembangan Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

PDRB ADH Konstan Pertambangan dan Penggalian

Kabupaten Gunung Mas tahun 2015 - 2017 Industri Pengolahan


Pengadaan Listrik dan Gas
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
10% 14%
11% Konstruksi
17% Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
11%
Transportasi dan Pergudangan
11% Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
16%
Informasi dan Komunikasi

9% 17% Jasa Keuangan dan Asuransi


Real Estate
13% 7% Jasa Perusahaan

6% Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib


5% 19%
Jasa Pendidikan
13% Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
14% 17%
Jasa Lainnya

Gambar 3.11 Persentase Perkembangan Nilai PDRB ADH Konstan tiap Sektor di Kabupaten Gunung Maas
tahun 2015 – 2017
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka tahun 2016 – 2018

Sektor ekonomi yang menjadi tumpuan utama pembangunan ekonomi Gunung Mas pada
tahun 2017 adalah sektor pertanian dengan berkontribusi sebesar 34,20% dan sektor ekonomi
yang memberikan kontribusi terkecil sebesar 0,018% adalah sektor pengadaan listrik dan gas.
Secara keseluruhan, sumberdaya alam masih sangat berkontribusi terhadap kelanjutan
pembangunan ekonomi Kabupaten Gunung Mas. Berikut laju pertumbuhan PDRB Atas Dasar
Harga Konstan Kabupaten Gunung Mas tahun 2015 – 2017.

Tabel 3.10 Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kab. Gunung Mas tahun 2015 – 2017
Laju Perumbuhan (%)
Lapangan Usaha
2015 2016* 2017**
Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 6,33 5,96 7,65
Pertambangan dan Penggalian 1,79 9,05 7,63
Industri Pengolahan 5,67 6,71 4,09
Pengadaan Listrik dan Gas 11,37 10,20 6,40
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang 8,56 13,39 -5,26
Konstruksi 9,64 9,19 8,56
Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8,65 7,81 8,11
Transportasi dan Pergudangan 7,70 6,87 6,69
Penyediaan Akomodasi dan Makan
Minum 7,23 7,49 5,58
Informasi dan Komunikasi 2,69 2,56 2,63
Jasa Keuangan dan Asuransi 2,06 2,70 3,09
Real Estate 8,22 7,19 5,05
Jasa Perusahaan 6,40 4,66 4,46
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 12,51 8,80 6,99
Jasa Pendidikan 8,70 5.14 5,19

Laporan Antara, 2019 3-26


Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 8.60 5,54 5,34
Jasa Lainnya 7,52 6,30 3,77
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 6,96 7,00 6,93
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka tahun 2016 - 2018

Laju pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan berdasarkan lapangan usaha tahun
2016 – 2018 mengalami fluktuatif, dengan laju pertumbuhan tertinggi terjadi tahun 2016 pada
lapangan usaha Administrasi Pemerintahaaan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan
persentase 12,51% sedangkan laju pertumbuhan terendah terjadi tahun 2017 pada lapangan
usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang dengan persentase -5,26.
Sektor pertanian selain menjadi penyumbang PDRB terbesar, sektor ini juga merupakan
sektor penyerap tenaga kerja terbesar sehingga masyarakat dominan berusaha di bidang usaha
tani. Sektor pertanian di Kab. Gunung Mas terdiri dari lima subsektor yaitu tanaman bahan
makanan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan, dari kelima subsektor ini
perkebunan menjadi subsektor yang unggul karena hasil produksi yang terus meningkat. Para
petani cenderung berproduksi padi ladang daripada padi sawah, sedangkan untuk tanaman
bahan makanan lainnya sebagian besar petani dan masyarakat cenderung lebih suka menanam
dan memproduksi komoditi ubi kayu dan ubi jalar daripada komiditi lainnya. Subsektor
peternakan sebagian besar masih menunjukan peningkatan produksi pada ternak babi yang
berproduksi mencapai 28.580 ekor dan mengalami pertumbuhan hampir sebesar 14%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

3.5.2 Investasi
Kabupaten Gunung Mas memiliki potensi dan peluang investasi terdapat delapan sektor
yang dapat menjadi potensi dan peluang investasi yaitu sektor pertanian, pertambangan,
perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, pariwisata dan UMKM. Terdapat tiga komoditi
yang mendapatkan investasi baik Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN), yaitu di bidang pertanian adalah perkebunan dan kehutan serta pertambangan.
Berdasarkan Booklet Profil Investasi Kabupaten Gunung Mas tahun 2017 menjelaskan
Potensi pertanian di Kabupaten Gunung Mas melalui komoditas tanaman pangan yaitu padi
sawah, padi ladang, jagung, kacang kedelai, kacang tanah, ubi kayu, kacang hijau, kacang
panjang, cabai, terong, ketimun, kangkung, bayam dan ubi jalar, hasil produksi pertanian
tanaman pangan terbesar ada pada jenis tanaman padi sawah. Sedangkan untuk potensi
perkebunan terdapat tiga komoditas utama yaitu karet, kelapa dan kelapa sawit, terdapat enam
Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang berinvestasi di Kabupaten Gunung Mas yang telah
memegang izin usaha dengan luas lahan ± 102.177 Ha, serta terdapat dua PBS yang telah
memproduksi Crude Palm Oil (CPO). Sektor perkebunan pada Triwulan IV tahun 2019
mendapatkan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar $ 110.317.275,22.

Laporan Antara, 2019 3-27


Kabupaten Gunung Mas memiliki potensi kehutanan dengan luas 980.763,79 Ha, dengan
luas hutan yang sudah di eksplorasi untuk hutan produksi atau hutan lindung seluas 11.482,43
Ha dan luas hutan yang bisa di konversi seluas 88.070 Ha sedangkan luas hutan yang
mengalami kerusakan dan penjarahan adalah 81.007,02 Ha. Pada pemanfaatan hutan terdapat
enam PBS yang beroperasi, yang mana 5 PBS merupakan Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) dan satu PBS merupakan PMA. Sektor kehutanan pada Triwulan IV tahun 2019
mendapatkan PMA sebesar $ 987.249,94. Potensi pengembangan perikanan bertumpu pada
pengembangan budidaya perikanan darat di kolam dan keramba. Untuk peternakan masih
belum dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dan sebagian masih memasok dari luas
kabupaten untuk kebutuhan masyarakat.
Sektor pariwisata di Kabupaten Gunung Mas saat ini masih perlu dilakukan penataan dan
pemeliharaan dan membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit, karena berbagai kendala
yang dihadapi seperti minimnya sarana prasarana pendukung pariwisata, terbatasnya sarana
dan prasarana transportasi menuju lokasi wisata dan kurangnya kegiatan promosi baik untuk
para investor maupun wisatawan. Sektor pertambangan Kab. Gunung Mas memiliki potensi
mineral logam dan batubara yang terdiri dari Mineral Logam Emas (Au), Perak (Ag), Galena
(Pbzn), Platina (Pt), Besi (Fe), Seng (Zn), Zirkon (ZrSiO4), Tembaga (Cu), Granit dan Batubara.
Untuk sektor penambangan terdapat PMA dengan nilai modal pada Triwulan IV tahun 2019
sebesar $ 149.003.546,68. Sektor UMKM memiliki komoditas unggulan yaitu anyaman rotan,
kerajinan bambu dan kayu, kerajinan pandai besi serta pengolahan pangan terse, dengan
peluang investasi berupa pengembangan kreatifitas dan kemampuan mengolah bahan baku.
Berikut nilai investasi di Kabupaten Gunung Mas pada tahun 2017 – 2019.
Tabel 3.11 Nilai Investasi di Kabupaten Gunung Mas tahun 2017 – 2019
Komoditi
Tahun Satuan
Perkebunan Kehutanan Pertambangan
Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA)
Triwulan III tahun 2017 $ 90.543.402,78 810.282,00 122.294.149,98
Triwulan IV tahun 2017 $ 92.806.987,85 830.539,05 125.351.503,73
Triwulan III tahun 2018 $ 99.942.005,95 894.399,72 134.989.859,19
Triwulan IV tahun 2018 $ 102.440.556,10 916.759,71 138.364.605,67
Triwulan III tahun 2019 $ 107.626.609,97 963.170,67 145.369.313,83
Triwulan IV tahun 2019 $ 110.317.275,22 987.249,94 149.003.546,68
Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
Triwulan III tahun 2017 Rp 3.408.426.242.050,20 237.132.451.430,42 98.404.345.792,34
Triwulan IV tahun 2017 Rp 3.493.636.898.101,46 243.060.762.716,18 100.864.454.437,15
Triwulan III tahun 2018 Rp 3.762.264.822.719,55 216.749.856.674,41 108.619.985.557,57
Triwulan IV tahun 2018 Rp 3.856.321.443.287,54 222.168.603.091,27 111.335.485.196,51
Triwulan III tahun 2019 Rp 3.952.729.479.369,73 227.722.818.168,55 114.118.872.362,42
Triwulan IV tahun 2019 Rp 4.051.548.716.353,97 233.415.888.622,76 116.971.844.171,48
Sumber : Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kab. Gunung Mas, 2019

Berdasarkan nilai investasi pada triwulan III dan IV tahun 2017 – 2019 dapat diketahui
bahwa setiap triwulannya nilai investasi selalu meningkat perkembangan investasi dinilai

Laporan Antara, 2019 3-28


relatif cepat, tiga komoditi ini merupakan sektor unggulan di Kabupaten Gunung Mas. Untuk
nilai investasi PMA yang terbesar berada di komoditi pertambangan pada triwulan IV tahun
2019 sebesar $149.003.546,68 sedangkan untuk nilai investasi PMDN yang terbesar berada di
komoditi perkebunan pada triwulan IV tahun 2019 Rp. 4.051.548.716.353,97.
Berdasarkan dokumen Ranwal RPJMD tahun 2019 – 2024 terdapat 25 pemodal asing
dan 19 pemodal dalam negeri pada tahun 2017, Kab. Gunung Mas memiliki hasil sumberdaya
alam yang melimpah khususnya hasil pertambangan, jumlah investor pada tahun 2017
menurun dibandingkan pada tahun 2016 hal ini dikarenakan PemKab Gunung Mas mulai
beralih ke potensi investasi untuk sektor pertanian sebagai alternatif perekonomian di Kab.
Gunung Mas. Permasalahan investasi di Kab. Gunung Mas adalah proses perizinan yang stagnan
sebanyak 10, sehingga diharapkan proses perizinan investasi dapat dipercepat dan dipermudah
sehingga banyak investor dann perusahan yang ingin berinvestasi di Kab. Gunung Mas.

3.6 UTILITAS
3.6.1 Jaringan Air bersih
Kabupaten Gunung Mas terdiri dari 12 (dua belas) kecamatan dan hanya 6 (enam)
kecamatan yang sudah terlayani jaringan perpipaan PDAM itu pun hanya di kelurahan belum
sampai kedesa-desanya. Kondisi ini terjadi karena perkembangan permukiman memusat pada
wilayah-wilayah tertentu sehingga sistem penyediaan air minum bersifat setempat serta
mahalnya investasi jaringan perpipaan PDAM, untuk daerah kecamatan yang belum terlayani
jaringan perpipaan PDAM, Pemerintah daerah kabupaten Gunung Mas melalui Dinas PU dengan
Program Pembangunan Sistem Air Minum, Program Pengembangan Pengelolaan Air Minum,
Program Pembangunan Air Minum. Menyediakan sarana air bersih untuk masyarakat
berpenghasilan rendah dengan argument bahwa kelompok ini tergolong rentan dan perlu
mendapatkan perhatian pemerintah dalam penyediaan akses air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan air minum penduduk juga banyak menggunakan air tanah,
air sungai, mata air dan air hujan. Berdasarkan Data EHRA kabupaten Gunung Mas Akses
terhadap air bersih pada rumah tangga sebanyak 31,1 % menggunakan Sumur Bor/Pompa
Mesin, sebesar 9,3 % menggunakan Sumur Bor/Pompa Tangan dan yang menggunakan PDAM
hanya sebesar 4,7 %. Dan Sumber air untuk minum terbanyak berasal dari air minum isi ulang
yaitu sebesar 30,1 % dan yang terkecil berasal dari sumur gali tidak terlindungi yaitu sebesar
1,3 %. Sedangkan sumber air untuk memasak terbanyak berasal dari sumur pompa tangan yaitu
sebesar 35,2% dan yang terkecil berasal dari mata air tidak terlindungi yaitu sebesar 1,7 %.
Untuk Potensi air baku air minum terbesar adalah air sungai karena kabupaten Gunung
Mas banyak di lewati oleh sungai-sungai, tapi kendalanya saat ini sungai-sungai tersebut
tercemar oleh kegiatan pertambangan emas yang dilakukan masyarakat secara illegal itu

Laporan Antara, 2019 3-29


terbukti dari hasil pengujian air sungai yang dilakukan BLH,sedangkan Air tanah yang diambil
melalui sumur gali, sumur pompa tangan dan pompa listrik masih digunakan oleh warga
mengandung PH netral sebesar 6,5.
PDAM sebagai perusahaan Air Minum selalu mengadakan uji sampel untuk menentukan
kualitas air kepada pelanggan nya yang dilakukan rutin saat produksi, sedangkan untuk jumlah
pelanggan jaringan perpipaan PDAM kabupaten Gunung Mas hanya mencapai 3142 SR atau
hanya mampu melayani sekitar 30% dari total penduduk kabupaten Gunung Mas hal ini
disebabkan oleh PDAM kabupaten hanya mempunyai 6 (enam) unit IKK yang melayani 6 (enam)
Kecamatan itupun hanya untuk lingkup kelurahan bukan desa . Untuk waktu pelayanan ke
konsumen PDAM kabupaten Gunung Mas hanya mampu melayani pelanggan untuk beberapa
jam saja dan pada Saat melakukan pelayanan kepada pelanggan PDAM kabupaten Gunung Mas
mengalami kehilangan air (UFW) sebesar 25% dari total produksi.
Tabel 3.12 Kapasitas Produksi Air Bersih menurut Lokasi Unit di Kabupaten Gunung Mas tahun 2017
Kapasitas Produksi (liter/detik)
Unit Sumber Air
Potensi Efektif
Kuala Kurun 40 33 Sungai Kahayan
Unit IKK Tewah 15 10 Sungai Kahayan
Unit IKK Sepang Simin 13 10 Sungai Kahayan
Unit IKK Tumbang Jutuh 3 - Sungai Rungan
Unit IKK Tumbang Talaken 7 5 Sungai Manuhing
Unit IKK Tumbang Miri 10 7 Sungai Miri
Unit Desa Sepang Kota 5 - Sumur Bor
Unit IKK Kampuri 10 7 Sungai Kahayan
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka, 2018

3.6.2 Jaringan Air Limbah


Di Kabupaten Gunung Mas berdasarkan dokumen Materi Teknis RTRW Kabupaten
Gunung Mastahun 2011bahwa sistem pengelolaan air limbah domestik mayoritas
menggunakan on-site system yang mana limbah buangan langsung dialirkan ke sungai, lahan
terbuka, lubang tanah/cubluk tanpa pengelolaan terlebih dahulu sehingga berpotensi
mencemari air tanah. Berdasarkan studi EHRA, tempat penyaluran akhir tinja di Kabupaten
Gunung Mas sebesar 33.9% masih menggunakan cubluk atau lubang tanah. Masyarakat
Kabupaten Gunung Mas yang tinggal di bantaran Sungai Kahayan membuang akhir tinja
langsung kesungai, hal ini disebabkan karena tempat pembuangan masih banyak menggunakan
jamban helikopter.
Tempat Buang Air Besar Keluarga sebagian besar menggunakan jamban pribadi yaitu
sebesar 62,50%, sungai/pantai/laut sebesar 31%, dan sisanya menggunakan WC Umum 8,90%,
WC Helikopter 1,10%, kebun/pekarangan 0,60%, selokan/parit/got sebesar 1,10% lubang
galian 0,80 dan lainnya. Berdasarkan data Buku Putih Sanitasi Kabupaten Gunung Mas, masih
ada masyarakat yang membuang black water dan grey water secara langsung maupun
terselubung ke saluran drainase dan sungai tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu. Hal

Laporan Antara, 2019 3-30


ini berarti pencemaran akibat pembuangan air limbah yang tidak terkontrol telah menyebabkan
pencemaran air di badan air. Selain itu dibeberapa tempat masih dijumpai perilaku BAB
sembarangan.Peta prasarana air limbahdapat dilihat pada Gambar 3.13.

3.6.3 Jaringan Persampahan


Untuk pengelolaan persampahan di Kabupaten Gunung Mas sampai dengan saat ini
sistem pengelolaan yang dapat kitakan yang dikelola secara teknis adalah ibu Kota Kabupaten
Sendiri yaitu hanya kota Kuala Kurun. Kondisi riil dalam pengelolaan persampahan yang ada di
Kota Kuala Kurun fasilitas tempat pembuangan sampah di kelola oleh Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Gunung Mas dan Badan Lingkungan hidup Kabupaten Gunung Mas, yang mana
seperti yang ada dari kondisi existingnya material fisik tong sampah masih terbuat dari kayu,
ada juga tong sampah yang dibuat dari cor beton dan container sebagai tempat pembuangan
sampah sementara (TPS) yang digunakan sebagai penampung sampah yang ada baik
lingkungan perumahan, pusat perdagangan (Pasar), perkantoran dan pendidikan.
Terdapat satu tempat pembuangan akhir dengan luas kurang lebih 20 hektar yaitu di
Kecamatan Tewah yang masihmenggunakan cara open dumping dan pemerintah daerah
mengharapkan kedepannya diarahkan ke sistem persampahan sanitary landfill, untuk lokasi
TPA di Kabupaten Gunung Mas dapat dilihat pada peta berikut. Untuk kualitas penanganan
sampah yang ada di Kabupaten Gunung Mas yaitu di muat dalam Peraturan Daerah Nomor 24
Tahun 2011 yang mana sarana dan prasarana tersebut terdiri sebagai berikut :
1. TPS 3R (Kapasitas 2 M3) jumlah 9 Buah
2. TPS (Kapasitas 4 M3) jumlah 2 Buah
3. Bak Sampah Kayu (Kapasitas 0,7 M4) jumlah 281 Buah
4. Dump Truck berjumlah 1 Buah
5. Truck Ambrol berjumlah 2 Buah
6. TPA (9 Ha) terdiri 1 Lokasi
7. Tenaga Petugas Kebersihan berjumlah30 orang

Sedangkan untuk kuantitas dalam pengelolaan persampahan Kota Kuala Kurun selaku
ibukota Kabupaten dengan luasan mencapai 842 KM2 dengan jumlah jiwa produksi timbulan
sampah yang dihasilkan sebesar 0,025 M3/Hari sedangkan produksi timbulan sampah adalah
sebesar 404,85 M3/Hari sedangkan daya tampung bak sampah/TPS yang ada adalah 222,7 M3
sehingga perlu pengelolaan yang serius dari Pemerintah Daerah untuk mengulangi sampah
yang belum tertangani sebesar 182,15 M3.Sedangkan dalam penanganan persampahan yang ada
kegiatannya dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum pelaksanaannya dibidangi bidang
persampahan. Proses pengelolaan yaitu TPS, Bak Sampah, Pengumpulan sampah dengan jam
pelaksanaan operasional dilakukan selama 7 (tujuh) jam yaitu dari jam 06.00 WIB sampai

Laporan Antara, 2019 3-31


dengan jam 13.00 WIB dan langsung dibuang ke TPA dengan sistem open dumping. Proses
penglolaan persampahan di Kabupaten gunung mas dapat dilihat pada Gambar 3.14 dan peta
TPA dapat dilihat pada Gambar 3.12.

Gambar 3.12 Proses Pengelolaan Jaringan Persampahan di Kabupaten Gunung Mas

3.6.4 Jaringan Listrik


Penyediaan prasarana listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat
serta kemajuan kesejahteraan. Apabila prasarana listrik sudah melayani seluruh daerah atau
wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejahteraan pada wilayah tersebut dapat meningkat.
Dalam mewujudkan hal tersebut maka pemerintah daerah berkewajiban memberikan
pelayanan prasarana listrik ke masyarakat tidak mampu dan daerah terpencil. Kabupaten
Gunung Mas memiliki tiga Unit Listrik Desa (ULD) yaitu ULD Tumbang Miri, ULD Tumbang
Tambirah dan ULD Tumbang Miwan. dimasa Berikut total produksi dan banyaknya pelanggan
aliran listrik PLN menurut unit dan golongan tarif di Kab. Gunung Mas tahun 2017.
Tabel 3.13 Total Produksi dan Banyaknya Pelanggan Aliran Listrik PLN di Kab. Gunung Mas tahun 2017
Total Produksi Jumlah Pelanggan Per Golongan Tarif Total
Unit
(KWh) P1 P31 S R B I Pelanggan
Rayon Kuala Kurun 17.308.323 111 25 160 5.096 1.387 3 6.782
KP. Tewah 3.847.437 14 - 56 2.050 449 1 2.570
KP. Sepang Simin 6.925.440 14 - 59 1.640 102 - 1.815
ULD Tumbang Miri 1.563.068 7 - 18 800 92 - 917
ULD Tumbang
137.461 1 - 11 290 4 - 306
Tambirah
ULD Tumbang Miwan 1.006.473 2 - 16 475 7 - 500
Gunung Mas 30.688.202 149 25 320 10.351 2.041 4 12.890
Ket :
P1 : Bangunan Pemerintah S : Sosial B : Bisnis
P31 : Penerangan Jalan Umum R : Rumah Tangga I ; Industri
Sumber : Kabupaten Gunung Mas dalam Angka, 2018

Dimasa depan untuk energi listrik Kabupaten Gunung Mas akan dilayani oleh PLTU
Tumbang Kajoy dengan kapasitas 2x100MW dan memiliki sistem interkoneksi melayani Kota

Laporan Antara, 2019 3-32


Palangkaraya dan Kabupaten Katingan. Peta PLTD Kuala Kurun di Kabupaten Gunung Mas
dapat dilihat pada Gambar 3.15.

3.6.5 Jaringan Telekomunikasi


Jaringan telekomunikasi merupakan alat untuk memudahkan penduduk satu dengan yang
lain baik dalam berkomunikasi mamupu memperoleh informasi. Jaringan telekomunikasi dan
informatika di Kabupaten Gunung Mas didukung oleh PT. Pos Indonesia, PT. Telkom dan usaha
jasa telekomunikasi seluler. Fasilitas jaringan telepon (STO) di Kab. Gunung Mas hanya terdapat
di Kuala Kurun, sedangkan di Sepang Simin, Tewah, Tumbang Miri, Tumbang Jutuh, dan
Tumbang Talaken menggunakan fasilitas v-sat terbatas hanya untuk warung telekomunikasi.
Berdasarkan Perda RTRW Kabupaten Gunung Mas, rencana sistem jaringan telekomunikasi
untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan telekomunikasi yang terpadu
dan merata di Kabupaten Gunung Mas.

Laporan Antara, 2019 3-33


Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah

Gambar 3.13 Peta Prasarana Air Limbah Kabupaten Gunung Mas


Sumber : Dinas PU Kabupaten Gunung Mas, 2019

Laporan Antara, 2019 3-34


Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah

Luas lahan TPA di


Kabupaten Gunung
Mas adalah ± 9Ha

Gambar 3.14 Peta Prasarana Persampahan Kabupaten Gunung Mas


Sumber : Dinas PU Kabupaten Gunung Mas, 2019

Laporan Antara, 2019 3-35


Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah

PLTD Kuala Kurun memakai


mesin PLN (3 unit) dengan
kapasitas 1330 KVA dan Mesin
Sewa (UPN Prima) : 5 unit
kapasitas 5000 KVA

Gambar 3.15 Peta PLTD Kuala Kurun Kabupaten Gunung Mas


Sumber : Dinas PU Kabupaten Gunung Mas, 2019

Laporan Antara, 2019 3-36