Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Bioteknologi Tanaman Obat

PENGENALAT ALAT DAN BAHAN


LABORATORIUM KULTUR JARINGAN

Disusun untuk memenuhi


tugas praktikum endokrinologi

Oleh :
M. Aidiel Fitra
1608104010036

Asisten Meja : Agustia Maulina

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Kultur jaringan adalah salah satu metode yang digunakan dalam
pengembangan Bioteknologi Tumbuhan. Metode ini merupakan prosedur
pemeliharaan dan pertumbuhan jaringan tanaman (sel, kalus, protoplas) serta
organ (batang, akar, embrio) pada kultur aseptis (in vitro). Metode kultur jaringan
diantaranya digunakan untuk perbanyakan tanaman, modifikasi genotip (plant
breeding), produksi metabolit sekunder, pemeliharaan plasma nutfah,
penyelamatan embrio (embryo rescue) (Hartmann et al., 1997). Terdapat Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan agar metode kultur jaringan dapat
dilaksanakan, diantaranya adalah kondisi laboratorium, alat dan bahan yang
digunakan, hingga metode sterilisasi.
Laboratorium kultur jaringan menuntut aseptisitas yang sangat tinggi.
Seluruh tahapan/ prosedur teknik kultur jaringan juga harus dalam kondisi aseptik.
Oleh karena itu seluruh ruangan didalarn laboratoriurn hendaknya dalam keadaan
aseptik, terutarna ruangan kultur a tau inkubasi harus dalam kondisi benar-benar
aseptic. Ruangan kultur menampung seluruh tanarnan hasil perbanyakan/ hasil
perlakuan untuk ditumbuhkan. Kondisi ruangan yang apseptik jug harus didukung
dengan penggunaan alat laboratorium yang baik dan benar.
Pengenalan alat merupakan langkah pertama sebelum kita melakukan
percobaan atau penelitian. Pengenalan alat diperlukan agar praktikan mengetahui
fungsi masing-masing bagian dari alat tersebut serta cara pengoprasian atau
penggunaan alat-alat yang akan digunakan dalam percobaan atau penelitian yang
dilakukan untuk memperlancar jalannya suatu percobaan atau penelitian.
Praktikum pengenalan alat diharapkan dapat memberi informasi yang cukup bagi
praktikan agar memperoleh hasil suatu percobaan atau penelitian yang maksimal.
1. 2. Tujuan Percobaan
Praktikum bertujuan agar mahasiswa mampu memahami fungsi alat dan
bahan serta mengetahui prinsip kerja alat tersebut, mahasiswa juga mampu
mengetahui tatak letak laboratorium kultur jaringan.
BAB II
METODE KERJA

2. 1. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Laminar Air Flow
(LAF), autoklaf, oven, timbangan analitik, pH meter, spatula, panci, rak kultur,
sprayer, botol kultur, gelas ukur, gelas piala, gunting, scalpel, blade, hot plate,
magnetic stirrer, spuid, syringe filter dan bunsen.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Tumbuhan Mint
(Mentha sp.), media Murashige and Skoog (MS), zat pengatur tumbuh (ZPT),
alkohol 70% dan alkohol 95%, aquades, korek api, plastik, plastik wrap, clorox,
spidol, tisu, sarung tangan, masker, gula dan agar.

2. 2. Cara Kerja
Praktikum Pengenalan Alat dan Bahan Laboratorium Kultur Jaringan
dilakukan dengan cara demontrasi oleh asisten baik bentuk, fungsi serta
penggunaannya.
BAB III
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4. 1. Data Hasil Pengamatan


Tabel 4.1. Pengenalan Alat dan Bahan Laboratorium Kultur Jaringan.
NO Nama Alat Gambar Fungsi

Botol Kultur Sebagai tempat untuk


menkulturkan atau
menanam eksplan

Cawan Petridish sebagai media


perkembangan
mikroorganisme

Laminar Air untuk menanam eksplan ke


Flow dalam botol dalam kondisi
steril atau melakukan sub
kultur yang dilengkapi
dengan blower dan lampu
UV

Autoclave untuk mensterilkan media,


baik media agar atau pun
media cair. Juga dapat
digunakan untuk sterilisasi
tanah atau kompos yang
akan digunakan untuk
media tanaman.
Hot Plane untuk homogen dan juga
untuk pemanas. Hot plate
juga merupakan alat untuk
mencampur dan memasak
media kultur.Hot plate
digunakan untuk memasak
segala macam bahan nutrisi
dengan melibatkan
pengaduk dan pemanas.

Shacker mesin pengguncang, yang


digunakan dalam proses
perbanyakan sel atau
pertumbuhan PLB
(Protocrm Likes Body)
dalam kegiatan kultur
jaringan, setelah dilakukan
inokulasi eksplan.
Kulkas Sebagai tempat
penyimpanan larutan kimia
dan bagian tanaman yang
akan dikulturkan agar tahan
lama.

Rak botol kultur Sebagai tempat


penyimpanan botol kultur
yang telah ditanam.

Lemari larutan Sebagai tempat


kimia penyimpanan berbagai
macam larutan kimia.

Keranjang botol Sebagai tepat penyimpana


kultur botol kultur yang telah
disterilisasi.

Timbangan Berfungsi untuk


analitik menimbang nutrisi yang
akan diberikan pada media.
PH meter digital Berfungsi untuk mengukur
ph secara akurat.

4. 2. Pembahasan
Berdasarkan Praktikum yang telah dilakukan, terdapat beberapa alat dan
bahan yang telah didemonstrasi diantaranya adalah Laminar Air Flow (LAF),
oven, botol kultur, scalpel, blade dan syringe filter, Tumbuhan Mint (Mentha sp.),
media Murashige and Skoog (MS), zat pengatur tumbuh (ZPT), alkohol dan
aquades. Praktikum juga memfokuskan terhadap pengenalan tata ruang
laboratorium serta penggunaan ruang.
Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan terdiri dari ruangan-ruangan yang
dipisahkan berdasarkan fungsinya, yaitu ruang persiapan (preparation area), ruang
penanaman (transfer area), ruang pertumbuhan (growing area) (Hartman dkk,
1997). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, ruangan juga dapat
dimodifikasi namun harus tetap memiliki 3 ruang tersebut serta kondisi yang
steril, biasanya juga terdapat ruang timbang sebagai bagian pengembangan ruang
preparasi. Ketiga ruang di atas juga harus terpisah dari kebun bibit dan green
house untuk menghindari masuknya kontaminasi ke dalam ruang kultur.
Kebersihan lantai, meja dan kursi harus terus dijaga secara intensif .
Ruang persiapan merupakan ruangan yang mempunyai 3 fungsi dasar yaitu
untuk membersihkan alat-alat (alat-alat gelas seperti petri, botol, dll), persiapan
dan sterilisasi media, dan penyimpanan alat-alat gelas. Sebuah bak untuk
mencuci yang dilengkapi dengan kran untuk aliran air mengalir juga diperlukan
untuk membersihkan alat-alat berbahan gelas. Selain itu diperlukan meja yang
permukaanya dilapisi dengan bahan yang mudah dibersihkan. Peralatan
selanjutnya yang digunakan dalam ruang preparasi adalah lemari es untuk
menyimpan larutan stok dan beberapa media, timbangan analitik, autoclave, pH
meter, magnetic stirrer, destilator (Hartmann dkk., 1997). Ruangan ini juga
dilengkapi dengan alat-alat seperti Hot plate dengan magnetic stirer,Oven, pH
meter, kompor gas, labu takar, gelas piala, erlenmeyer, pengaduk gelas, spatula,
petridish, pipet, botol kultur, pisau scalpel.
Ruang penanaman merupakan ruang yang digunakan untuk isolasi,
inokulasi dan subkultur (penjarangan) pada kondisi steril yang di dalamnya
terdapat lemari kaca atau kabinet yang disebut Laminar Airflow (LAF). Laminar
Airflow ini digunakan untuk pemotongan eksplan, melakukan penanaman dan
subkultur. Akan tetapi jika tidak ada LAF yang memadai, tahap isolasi
(pemotongan eksplan) dapat dilakukan di antara kertas saring steril. Sangat
dianjurkan untuk menggunakan jas laboratorium yang bersih selama tahap
persiapan dan mensterilkan tangan dengan alkohol 96% (Pierik, 1987). Alat-alat
seperti scalpel, gunting dan alat-alat inokulasi lainnya harus disterilkan dengan
alkohol 96% dan dilanjutkan dengan pemanasan di atas api bunsen. Lampu
ultraviolet (UV) juga digunakan untuk mensterilkan ruang, sebelum LAF
digunakan.
Pemotongan eksplan juga dilakukan di dalam LAF yang kemudian
dilanjutkan dengan beberapa tahapan sterilisasi sebelum ditanam pada media
kultur. Selama inokulasi atau penanaman, botol yang berisi media padat pada
prinsipnya pada kondisi horisontal, hal ini dilakukan untuk mengurangi
kontaminasi, terutama ketika tidak bekerja dalam LAF.
Subkultur atau tahap penjarangan juga dilakukan dalam LAF, dan
merupakan tahapan yang perlu dilakukan pada metode kultur jaringan. Ada
beberapa alasan perlu dilakukannya subkultur, diantaranya yaitu nutrisi media
yang semakin lama semakin berkurang, munculnya browning atau media agar
menjadi kecoklatan karena jaringan tanaman kadang mengeluarkan senyawa
toksik, atau eksplan membutuhkan tahap perkembangan lebih lanjut.
Growing area merupakan ruang pertumbuhan atau ruang penyimpanan
hasil kultur pada kondisi cahaya dan temperatur yang terkontrol. Ruang
pertumbuhan ini terdiri dari rak- rak yang biasanya terbuat dari kaca dan
digunakan untuk meletakkan botol-botol kultur setelah proses penanamanan
pada ruang isolasi di dalam LAF. Rak-rak yang digunakan untuk inkubasi
dilengkapi dengan lampu neon di atasnya sebagai sumber cahaya. Sedangkan
ruang pertumbuhan dalam kultur jaringan dilengkapi dengan Air conditioner
(AC) untuk mengontrol suhu ruang.
Bahan-bahan yang diperlukan dan biasa digunakan dalam metode kultur
jaringan adalah media MS (Murashige and Skoog), yang terdiri dari makronutrien,
mikronutrien, vitamin, iron, zat pengatur tumbuh (ZPT), myoinositol, sukrosa dan
agar. Bahan-bahan seperti makronutrien, mikronutrien, vitamin, zpt, dan iron
biasanya dibuat dalam bentuk larutan stok (media yang lebih pekat), sehingga
pada saat akan membuat media, cukup mengambil larutan stok yang sudah dibuat.
Pembuatan stok bertujuan untuk mempermudah dibandingkan setiap kali
membuat media harus menimbang (Edhi Sandra, 2013). Pemberian label pada
botol larutan stok juga jangan sampai lupa dan harus benar agar mempermudah
pada saat akan membuat media kultur. Terdapat beberapa bahan yang digunakan
untuk sterilisasi eksplan, diantaranya adalah detergen, alkohol, clorox, aquadest
steril, dan spiritus yang dapat digunakan untuk sterilisasi permukaan LAF atau
untuk cairan dalam bunsen.
Media MS merupakan media kultur jaringan yang banyak digunakan untuk
mengkulturkan berbagai jenis tanaman, karena media ini mengandung unsur hara
makro dan mikro yang lebih lengkap dibandingkan penemu-penemu sebelumnya.
Setelah penemuan media MS, banyak berkembang modifikasi-modifikasi media
untuk tujuan tertentu, contoh media Nitsch & Nitsch (1969) untuk kultur anther
dan media SH (Schenk & Hidebrant) untuk kultur kalus monokotil dan dikotil
(Edhi Sandra, 2013). Media VW (Vacin & Went) dan media organik yang
digunakan untuk perbanyakan anggrek, serta media WPM (Woody Plant Media)
untuk tanaman berkayu, atau tanaman perdu atau pohon berkayu.
BAB V
KESIMPULAN

5. 1. Kesimpulan
Kesimpulan dapat diperoleh dalam praktikum Pengenalan Alat dan Bahan
Laboratorium Kultur Jaringan adalah sebagai berikut :
1. Terdapat 3 ruang utama pada Laboratorium Kultur Jaringan yaitu Ruang
Preparasi, Ruang Tanam dan Ruang Inkubasi serta ruang tambahan yaitu
Ruang Timbang
2.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Edhi Sandra .2013. Cara Mudah Memahami dan Menguasai Kultur Jaringan. IPB
Press.

Endang G. Lestari. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan


Tanaman melalui Kultur Jaringan. Jurnal Biogen 7 (1):63-68

Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies Jr., and R.L. Geneve. 1997. Plant
Propagation: Principle And Practices. Sixth Ed.

Pierik, R.M.L. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff


Publishers. Dordrecht.The Netherlands.

P.Sriyanti Hendaryono, Ir. Daisy. 2012. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta :


Kanisius.

Yuliarti, Nurheti. 2010. Kultur Jaringan Skala Rumah Tangga.ANDI : Yogyakarta