Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 3

PERAWATAN GIGI dengan FRAKTUR MAHKOTA

BLOK 15: PERAWATAN PENYAKIT DAN KELAINAN GIGI

Oleh :

Tutorial 3

1. Paramudibta Lungit 161610101021


2. Nia Nurmayanti 161610101022
3. Dheamira Rosida 161610101023
4. Balqis Salsasbila A. 161610101024
5. Rismawati Tri K. 161610101025
6. Kartika Artha 161610101026
7. Dwi Mukti K. 161610101027
8. Atha Ramadhona 161610101028
9. Reganita N. S 161610101029
10. Elfrida Maya 161610101030

Tutor : drg. Achmad Gunadi., MS., Ph.D

SEMESTER GANJIL

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2018

SKENARIO 3

Perawatan gigi dengan fraktur mahkota


Pasien anak laki-laki 9 tahun datang bersama ibunya ke bagian klinik
Pedodonsia RSGM Unej dengan kondisi sakit ketika menggigit pada gigi depan
atas kiri. Gigi tersebut patah setelah anak terjatuh dari sepeda 2 hari yang lalu.
Pemeriksaan intra oral didapatkan gigi 21 fraktur pada sepertiga insisal, tes
vitalitas gigi (+), tes perkusi (+), tes tekanan (-). Hasil pemeriksaan ronsen
didapatkan bahwa 21 fraktur mengenai pulpa dengan saluran akar yang masih
lebar dan ujung apeks masih terbuka, tidak terdapat gambaran radiolusen pada
gigi 21. Diagnosa pada kasus tersebut adalah Fraktur Mahkota Gigi yang merusak
pulpa dan direncanakan akan dilakukan perawatan apeksogenesis pada gigi 21.

Gambar 1. Fraktur Mahkota Melibatkan Pulpa

STEP 1 (Clarifying Unfamiliar Terms)

1. Apeksogenesis

2
Merupakan salah satu perawatan pulpa pada gigi yang masih vital, dimana
apeks belum terbentuk sempurna belum ada apikal constriction.

STEP 2 (Problem Identification)

1. Bagaimana anamnesis, pemeriksaan objektif dan subjektif, diagnosis, dan


rencana perawatan yang sesuai dengan skenario diatas ?
2. Bagaimana prognosis perawatan apeksogenesis ?
3. Bagaimana indikasi dan kontraindikasi perawatan apeksogenesis ?
4. Bagaimana prosedur perawatan apeksogenesis ?
5. Bagaimana indikator keberhasilan dan indikator kegagalan dari perawatan
apeksogenesis ?

STEP 3 (Brainstroming)

1. Anamnesis, pemeriksaan objektif dan subjektif, diagnosis, dan rencana


perawatan
a. Anamnesis
• Seorang laki – laki berusia 9 tahun
• Gigi 21 permanen
• Sakit saat mengunyah
• Jatuh dari sepeda 2 hari yang lalu
b. Pemeriksaan objektif
• Gigi 21 fraktur 1/3 insisal
• Tes vitalitas (+)
• Tes perkusi (+) menunjukkan bahwa terdapat kelainan periodontal
• Tes tekan (-) menunjukkan bahwa tidak ada kelainan periapikal
c. Pemeriksaan penunjang (Rontgen)
• Terdapat fraktur hingga pulpa
• Saluran akar masih lebar
• Apeks masih terbuka
d. Diagnosis
• Pulpitis irreversible dan fraktur mahkota yang melibatkan pulpa
e. Rencana Perawatan
• Apeksogenesis sebagai perawatan pendahuluan untuk memicu
pertumbuhan apeks
• Perawatan Saluran Akar
2. Prognosis perawatan apeksogenesis
a. Prognosis baik, dikarenakan pada saat perawatan masih dalam kondisi
pertumbuhan, sehingga kemungkinan terbentuknya apeks besar
b. Prognosis buruk, apabila terdapat kesalahan pada operator
3. Indikasi dan kontraindikasi perawatan apeksogenesis
a. Indikasi :

3
• Gigi dalam masa pertumbuhan dimana foramen apikal terbentuk
sempurna.
• Fraktur pulpa koronal (fraktur vertikal)
• Pulpa radikuler masih sehat
• Jika korona masih bisa direstorasi
b. Kontraindikasi
• Gigi avulsi, replantasi, mobilitas tinggi
• Gigi karies yang sudah tidak bisa dilakukan tumpatan
• Jika ada fraktur yang dekat dengan margin gingiva (fraktur
horizontal)
• Korona tidak dapat direstorasi, tetapi pulpa radikuler masih vital
4. Prosedur perawatan apeksogenesis
1. Anestesi dan isolasi
2. Pembuatan cavity entrance
3. Bersamaan dengan irigasi NaOCl, extirpasi pulpa, dihambat
dengan larutan saline dan diberi kapas cotton pellet steril
4. Diagnostic wire photo untuk mengukur panjang kerja (panjang
kerja = panjang gigi sebenarnya - 2mm)
5. Preparasi saluran akar tetapi masih menyisakan 2 mm dari apeks
6. Irigasi dan dikeringkan
7. Aplikasi Ca(OH)2 sebagai powder dan liquid saline atau ChKm
dengan konsistensi pasta cream
8. Foto rontgen
9. Basis: ZOE (Ph netral, pada saat apeksogenesis mempertahankan
ph basa dari Ca(OH)2 supaya terbentuk calcific barrier) untuk
menghindari kebocoran dari tumpatan diatasnya, selain itu Zinc
Oxide Eugenol dapat dipilih sebagai basis karena bisa kaku
10. Tumpat dengan Glass Ionomer atau resin komposit
11. Kontrol dapat dilakukan kontrol sebagai evaluasi pada 6 - 12
minggu untuk mengontrol vitalitas pulpa dan apakah ada keluhan
nyeri spontan. Kontrol selanjutnya pada bulan ke - 6 sampai
terbentuknya apeks.
5. Indikator keberhasilan dan indikator kegagalan dari perawatan
apeksogenesis
a. Berhasil, apabila :
• Tidak adanya penyakit atau lesi periapikal
• Adanya calcific bridge dibawah Ca(OH)2
• Asimptomatik, tidak ada sakit spontan (Tes perkusi (-))
b. Gagal, apabila :
• Terdapat kontaminasi bakteri
• Tidak tertutupnya foramen apikal

4
• Pertumbuhan jaringan granuloma makin kebawah sehingga terjadi
perdarahan
• Nyeri spontan
• Resorpsi akar internal atau eksternal

STEP 4 (Mind Map)

Subjektif : Objektif : Penunjang (Rontgen) :


Pasien laki – laki 9 tahun
Fraktur 1/3 insisal Fraktur gigi 21 mengenai
Sakit pada gigi depan pulpa dengan saluran akar
fraktur ketika mengigit Tes vitalitas (+) yang masih lebar dan
ujung apeks masih
Jatuh Tes perkusi (+)
terbuka
Tes tekan (-)
Tidak ada radiolusen pada
gigi 21

Diagnosis : Pulpitis Irreversibel dengan


fraktur mahkota gigi mengenai pulpa
Indikasi dan
Prognosa Kontraindikasi

Rencana
Perawatan

Jenis - Jenis Prosedur Indikasi 5


Komunikasi,
Informasi, Edukasi Keberhasilan
serta Kontrol
STEP 5 (Learning Objective)

1. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji anamnesis, pemeriksaan


subjektif, pemeriksaan objektif, diagnosis, serta rencana perawatan pada
skenario

2. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji prognosis, indikasi,


kontraindikasi apeksogenesis

3. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji klasifikasi fraktur jaringan


keras gigi dan jaringan pulpa dan macam-macam tindakan yang termasuk
dalam apeksogenesis

4. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji prosedur perawatan


apeksogenesis

5. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji indikator keberhasilan dan


indikator kegagalan perawatan apeksogenesis

6. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji komunikasi, informasi, dan


edukasi serta kontrol pasca perawatan apeksogenesis

STEP 7 (Reporting)

LO 1 : Mahasiswa Mampu Mengkaji Anamnesis, Pemeriksaan Subjektif,


Pemeriksaan Objektif, Diagnosis, serta Rencana Perawatan pada Skenario

6
Penegakan diagnosis dan rencana perawatan merupakan hal yang
sangat penting dalam melakukan perawatan. Dalam menegakkan diagnosis
dan rencana perawatan ini terdapat 4 tahap yaitu pemeriksaan subjektif,
pemeriksaan objektif, diagnosis dan rencana perawatan (Bakar, 2013).

1. Pemeriksaan subjektif atau anamnesis adalah pemeriksaan dimana dokter


akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada pasien. Ada 7 hal yang
harus ditanyakan pada pasien yaitu :

a. Identitas pasien
Data identitas pasien diperlukan bila sewaktu-waktu dokter gigi perlu
menghubungi pasien pasca perawatan. Data pasien ini meliputi :
 Nama
 Tempat, tanggal lahir
 Alamat
 Golongan darah
 Status pernikahan
 Pekerjaan
 Pendidikan
 Nomor telepon
 Dalam skenario : pasien merupakan anak usia 9 tahun
b. Keluhan utama pasien
Keluhan utama ini merupakan alasan pasien datang ke dokter gigi.
Keluhan utama yang sering adalah rasa sakit ataupun ngilu, rasa tidak
nyaman, bengkak, berdarah dan alasan estetik.
 Dalam skenario : rasa sakit saat mengunyah
c. Present illness
Present illness berfungsi mengidentifikasi keluhan utama seperti apa
alasan rasa sakit tersebut, mulai kapan rasa sakit terjadi, dan lain - lain.
 Dalam skenario : pasien sakit gigi setelah jatuh dari sepeda 2 hari
lalu
d. Riwayat medis
Riwayat penyakit yang diderita pasien selang beberapa hari atau bulan
sebelum melakukan perawatan ini.
e. Riwayat dental
Riwayat dental akan mempengaruhi seorang dokter gigi dalam
menentukan dan manajemen perawatan yang akan dilakukan.
f. Riwayat keluarga
g. Riwayat social
2. Pemeriksaan Objektif
Pemeriksaan objektif terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Pemeriksaan ekstraoral

7
Pemeriksaan dimana dokter melihat penampakan wajah pasien
Contoh : pembengkakan di leher, muka, bibir, deviasi wajah, dan lain –
lain.
b. Pemeriksaan intraoral
Pemeriksaan yang dilakukan dalam rongga mulut
 Dalam skenario :
 Tes vitalitas : +
 Tes perkusi : +
 Tes tekan : -
Jadi gigi masih vital dan terdapat kelainan pada jaringan periodontal.
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiografi berperan penting dalam menegakkan diagnosis
dan rencana perawatan serta untuk mengevaluasi hasil perawatan untuk
melihat keadaan gigi secara utuh.
 Dalam skenario :
1. Gigi 21 fraktur mengenai pulpa
2. Saluran akar masih terbuka lebar dan apeks belum menutup
4. Diagnosis
Setelah melakukan bebrapa pemeriksaan tersebut, maka penegakan
diagnosis dan rencana perawatan bisa dilakukan sesuai hasil dari
pemeriksaan subjektif, pemeriksaan oral, dan pemeriksaan penunjang.
 Dalam skenario :
Diagnosis : pulpitis irreversible dengan fraktur mahkota dengan apeks
belum tertutup sempurna.

Pulpitis dapat menyebabkan pulpa mengalami kerusakan yang


ireversibel, jaringan pulpa nekrosis, yang mengakibatkan terhentinya
perkembangan akar yang normal. Perkembangan akar yang abnormal akan
berpengaruh pada prognosis jangka panjang ketahanan gigi(Barington,
2003).
Efek nekrosis pulpa terhadap gigi yang pertumbuhan akarnya belum
sempurna:
1. Pembentukan dentin akan terhenti dan pertumbuhan akarnya akan
terhenti pula.
2. Saluran akar tetap lebar dan apeks terbuka, kadang-kadang akar
mungkin juga lebih pendek
3. Dinding saluran akar dengan apeks terbuka lebih tipis daripada dinding
saluran akar yang matang.

8
4. Dinding saluran akar berbentuk divergen, sejajar atau sedikit
konvergen, tergantung pada stadium pembentukan akarnya.
5. Rencana perawatan
a. Apeksogenesis
Tujuan utama dari perawatan pulpa adalah untuk memelihara
kesatuan dan kesehatan gigi dan jaringan pendukungnya. Hal ini
merupakan tujuan perawatan untuk mempertahankan kevitalan pulpa
yang terkena karies, traumatik injuri, atau kasus lainnya. Khusus pada
gigi permanen muda, pulpa berhubungan dengan kelanjutan
apeksogenensis. Retensi jangka panjang pada gigi permanen
membutuhkan akar dengan mahkota yang baik/ rasio akar dan dinding
dentin cukup tebal untuk mempertahankan fungsi normal. Oleh karena
itu dilakukan perawatan apeksogenesis guna mempertahankan bagian
pulpa yang berada di ruang pulpa tetap vital dan dapat melanjutkan
penutupan apikal secara fisiologis (Budiyanti, 2006).
b. Pulpotomi parsial
Pulpotomi parsial dilakukan pada gigi yang terkena trauma, dapat
diindikasi pada gigi permanen muda dengan karies pulpa terbuka dan
perdarahan pulpa dapat dikontrol dalam beberapa menit setelah
penyingkiran jaringan pulpa yang terinflamasi. Gigi harus vital dengan
diagnosis pulpa normal atau pulpitis. Tujuan partial pulpotomy ini agar
pulpa yang tertinggal diharapkan tetap vital setelah pulpotomi parsial.
Seharusnya tidak ada tanda klinis yang merugikan atau keluhan seperti
sensitif, sakit, atau pembengkakan. Tidak ada perubahan radiografis
atau perubahan patologis lainnya dan proses apeksogenesis tidak akan
terganggu (Grossman, 2014).

LO 2 : Mahasiswa Mampu Mengkaji Prognosis, Indikasi, Kontraindikasi


Apeksogenesis

a. Indikasi :
 gigi yang belum tumbuh sempurna, yang pembentukan akarnya belum

lengkap
 gigi dengan kerusakan pada pulpa mahkotanya saja, namun pulpa pada
akar masih sehat.

9
 mahkota cukup utuh dan masih dapat direstorasi
b. Kontraindikasi :
 Gigi yang avulsi dan direplantasikan kembali atau gigi dengan luksasi

yang berat
 Fraktur mahkota-akar yang berat, yang restorasinya memerlukan
retensi intraradikuler
 Gigi dengan fraktur akar horizontal yang tidak baik (mendekati margin
gingiva)
 Gigi dengan karies yang tidak dapat direstorasi lagi
 Gigi dengan pulpa nekrosis

(Walton et al, 2008).

c. Prognosis
Prognosis yang sesuai dari perawatan apeksogenesis ini sebagian
besar sangat baik, namun kemungkinan terjadinya kegagalan dari terapi
apeksogenesis yakni adanya fraktur akar di daerah serviks (Shabahang,
2013).

LO 3 : Mahasiswa Mampu Mengkaji Klasifikasi Fraktur Jaringan Keras


Gigi dan Jaringan Pulpa dan Macam-Macam Tindakan yang Termasuk
dalam Apeksogenesis

A. Klasifikasi Fraktur Jaringan Keras Gigi dan Jaringan Pulpa (WHO)


World Health Organization (WHO) menerapkan klasifikasi fraktur
dentoalveolar pada gigi sulung dan gigi permanen, meliputi jaringan keras
gigi, jaringan pendukung gigi dan jaringan lunak rongga mulut (Welbury,
2005):
1. Cedera pada jaringan keras gigi dan pulpa (Fonseca, 2005)
a) Enamel infraction: jenis fraktur tidak sempurna dan hanya berupa
retakan tanpa hilangnya substansi gigi.
b) Fraktur email: hilangnya substansi gigi berupa email saja.
c) Fraktur email-dentin: hilangnya substansi gigi terbatas pada email
dan dentin tanpa melibatkan pulpa gigi.
d) Fraktur mahkota kompleks (complicated crown fracture): fraktur
email dan dentin dengan pulpa yang terpapar.
e) Fraktur mahkota-akar tidak kompleks (uncomplicated crown-root
fracture): fraktur email, dentin, sementum, tetapi tidak melibatkan
pulpa.

10
f) Fraktur mahkota-akar kompleks (complicated crown-root fracture):
fraktur email, dentin, dan sementum dengan pulpa yang terpapar.
g) Fraktur akar: fraktur yang melibatkan dentin, sementum, dan pulpa,
dapat disubklasifikasikan lagi menjadi apikal, tengah, dan sepertiga
koronal (gingiva).

Gambar: Cedera pada Jaringan Keras Gigi dan Jaringan Pulpa (Fonseca,
2005)
2. Cedera pada jaringan periodontal (Fonseca, 2005)
a) Concussion: tidak ada perpindahan gigi, tetapi ada reaksi ketika
diperkusi.
b) Subluksasi: kegoyangan abnormal tetapi tidak ada perpindahan gigi.
c) Luksasi ekstrusif (partial avulsion): perpindahan gigi sebagian dari
soket.
d) Luksasi lateral: perpindahan ke arah aksial disertai fraktur soket
alveolar.
e) Luksasi intrusif: perpindahan ke arah tulang alveolar disertai fraktur
soket alveolar.
f) Avulsi: gigi lepas dari soketnya.

11
Gambar: Cedera pada Jaringan Periodontal (Fonseca, 2005)
3. Cedera pada tulang pendukung (Fonseca, 2005)
a) Pecah dinding soket alveolar mandibula atau maksila : hancur dan
tertekannya soket alveolar, ditemukan pada cedera intrusif dan lateral
luksasi.
b) Fraktur dinding soket alveolar mandibula atau maksila : fraktur yang
terbatas pada fasial atau lingual/palatal dinding soket.
c) Fraktur prosesus alveolar mandibula atau maksila : fraktur prosesus
alveolar yang dapat melibatkan soket gigi.
d) Fraktur mandibula atau maksila : dapat atau tidak melibatkan soket
alveolar.

Gambar: Cedera pada Tulang Pendukung (Fonseca, 2005)

12
B. Macam-macam tindakan yang termasuk dalam Apeksogenesis
Apeksogenesis merupakan perawatan pada gigi permanen muda
dengan mempertahankan pulpa yang vital dan atau menyingkirkan pulpa yang
terinflamasi dengan tujuan melanjutkan pembentukan dan pematangan apeks.
Perawatan apeksogenesis hampir sama dengan perawatan pulpotomi vital pada
gigi sulung, namun apeksogenesis di indikasikan untuk gigi yang dalam masa
pertumbuhan dengan foramen apikal yang belum tertutup sempurna, adanya
kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radikularnya dalam keadaan
sehat (Walton,et al, 2008).
Ada beberapa tindakan yang termasuk kedalam apeksogenesis,
diantaranya:
1. Protective liner,
2. Indirect pulp treatment,
3. Direct pulp cap,
4. Partial pulpotomy for carious exposure,
5. Partial pulpotomy for traumatic exposures (Cvek pulpotomy)

1. Protective Liner
Protective liner, diindikasi pada gigi dengan pulpa vital, ketika karies
dibersihkan dan akan dilakukan pemasangan restorasi, bahan protective
liner diletakkan pada daerah terdalam preparasi untuk meminimalkan
injuri pada pulpa, serta dapat mendukung penyembuhan jaringan, dan/atau
meminimalkan sensitivitas pasca perawatan. Tujuan perawatan ini untuk
memelihara kevitalan gigi, mendukung penyembuhan jaringan, dan
memfasilitasi pembentukan dentin tersier (AAPD, 2014).
2. Indirect Pulp Treatment dan Direct Pulp Cap
Untuk apeksogenesis dengan indirect pulp treatment dapat dilakukan
pada indikasi gigi permanen muda dengan diagnosa pulpitis reversibel.
Penegakan diagnosanya dilakukan dengan pemeriksaan radiografi dan
pemeriksaan klinis dan prognosis gigi dapat sembuh dari gangguan karies.

13
Tujuannya yaitu restorasi akhir harus dapat menjaga bagian interna gigi
termasuk dentin dari kontaminasi lingkungan oral. Kevitalan gigi harus
dipertahankan. Tidak ada gambaran resorpsi interna atau eksterna atau
perubahan patologis lainnya. Gigi dengan akar yang belum sempurna akan
melanjutkan perkembangan akarnya dan apeksogenesis.
Sedangkan apeksogenesis dengan direct pulp cap diindikasi pada gigi
permanen muda yang apeksnya belum menutup sempurna dengan lesi
karies kecil atau terpaparnya pulpa karena tindakan mekanis operator
dengan pulpa vital (minimal pulpitis reversibel). Tujuannya agar vitalitas
gigi dapat dipertahankan dengan akar yang belum sempurna akan
melanjutkan perkembangan akarnya dan apeksogenesis (AAPD, 2014).

3. Partial Pulpotomy for Carious Exposure dan Partial Pulpotomy for


Traumatic Exposures (Cvek Pulpotomy)
Pulpotomi parsial diindikasi pada gigi permanen muda dengan pulpa
terbuka yang disebabkan oleh karies atau trauma, perdarahan pulpa juga
dapat dikontrol dalam beberapa menit setelah membersihkan jaringan
pulpa yang terinflamasi. Tujuan pulpotomi parsial ini agar pulpa yang
tertinggal (radiks) diharapkan tetap vital setelah pulpotomi parsial.
Seharusnya tidak ada tanda klinis yang merugikan atau keluhan seperti
sensitif, sakit, atau pembengkakan. Tidak ada perubahan radiografis atau
perubahan patologis lainnya. Dan proses apeksogenesis/ perkembangan
apeks tidak akan terganggu (AAPD, 2014).
Kerusakan pada gigi permanen muda lebih banyak disebabkan oleh
karies yang luas dan fraktur akibat traumatik injuri. Pada keadaan ini,
jaringan pulpa bagian koronal biasanya telah rusak dan tidak bisa
dipertahankan lagi. Jaringan pulpa bagian koronal yang terinfeksi dan
mengalami inflamasi ireversibel dibersihkan agar vitalitas pulpa radikular
dapat dipertahankan, sehingga dapat terjadi apeksogenesis atau penutupan
bagian apeks dan terbentuk jembatan dentin. Perawatan ini disebut dengan
pulpotomi parsial (Walton, et al, 2008).

LO 4 : Mahasiswa Mampu Mengkaji Prosedur Perawatan Apeksogenesis

14
a. Prosedur apeksogenesis menggunakan bahan MTA (Mineral trioxide
aggregate)
MTA (Mineral trioxide aggregate) merupakan material yang
memiliki sifat dan kemampuan yang baik untuk merangsang regenerasi
jaringan serta respon pulpa, bone healing, dapat memproduksi dentine
bridge lebih banyak daripada Ca(OH)2, dapat mengaktivasi sementoblast,
memberikan sifat radiopak, dan mengeras dalam waktu sekitar 3 jam.
MTA sudah menjadi standar perawatan dengan apeks terbuka. Namun,
kekurangan MTA itu sendiri adalah masih tergolong mahal dan
menimbulkan diskolorasi gigi (Audina, 2013).
Teknik perawatan dengan menggunakan MTA (Mineral trioxide
aggregate) sebagai berikut:
1. Membuat akses ke kamar ppulpa setelah gigi dianestesi dan diisolsi
dengan rubber dam. Adanya perdarahan bisa diatasi dengan anestetik
lokal, NaOCl, atau salin dalam cotton pellet.
2. Menyiapkan MTA dengan mencampurkan bubukny dengan air steril
atau salin denganr asio 3:1 pada kaca atau kertas adukan. Campuran
tersebut diletakkan di daaerah terbukanya pulpa dan dimampatkan
dengan cotton pellet basah. Derajat kebasahan bsia diatur dengan
tambahan air atau menyedot kelebihan air melalui kasa steril yang
kering.
3. Letakkan cotton pellet basah di atas MTA karena MTA akan mengeras
dalam air dalam waktu 3 jam. Sisa kavitas diisi dengan tumpatan
sementara (Walton dan Torabinejad, 2008).
b. Prosedur apeksogenesis menggunakan bahan Ca(OH)2
1. Lakukan anastesi
2. Isolasi dengan rubber dam
3. Preparasi cavity entrance dengan menggunakan hight speed round bur
dan diirigasi dengan menggunakan larutan salin
4. Preparasi tanduk pulpa menggunakan high-speed sterile long shank
round diamond bur, juga diirigasi dengan menggunakan larutan salin
5. Pengambilan jaringan karies (2-3mm) pada daerah pulpa yang
terinfeksi dengan menggunakan eskavator

15
6. Diirigasi dengan mengunakan larutan salin dan untuk menjaga
hemostatis menggunakan cotton pelet yang telah dibasahi dengan 5%
sodium hypochlorite (NaOCl) pada diatas daerah pulpa yang masih
sehat
7. Jika terjadi pendarahan karena terpotongnya jaringan pulpa sehat maka
dihentikan dengan cotton pelet yang telah dibasahi dengan air salin
8. Aplikasi CaOH powder dicampur dengan air steril sampai membentuk
pasta dan diaplikasikan pada daerah luka dengan tebal 1-2 mm yang
harus berkontak dengan jaringan pulpa sehat
9. Selapis Zn-Oxyd Eugenol semen diletakkan diatasm Ca-Hydroxide
agar terhindar dari kebocoran (Leakage)
10. Tumpatan permanen, komposit resin sistem etch agar terhindar dari
kebocoran

Gambar 1 : Perawatan Apeksogenesis

16
Gambar 2 : Gambaran radiografi setelah aplikasi CaOH perawatan
apeksogenesis pada gigi 11dan perawatan apeksifikasi pada gigi 21

LO 5 : Mahasiswa Mampu Mengkaji Indikator Keberhasilan dan Indikator


Kegagalan Perawatan Apeksogenesis

a. Tujuan Apeksogenesis

 Mempertahankan vitalitas pulpa

 Pembentukan dentin

 Penutupan apeks

b. Indikator Keberhasilan dan Indikator Kegagalan

 Indikator Keberhasilan (Bachtiar, Z.A. 2016).

 Tidak ada tanda tanda atau gejala penyakit pulpa atau periapikal

 Terjadi pembentukan dentin

 Terdapat jembatan kalsifikasi dibawah lapisan Calcium Hydroxide

 Indikator Kegagalan (Bachtiar, Z.A. 2016).

 Ada kontaminasi bakteri

 Tidak ada penutupan apikal

 Gejala sakit, sensitif terhadap tekanan

 Tanda tanda sinus tract, pembengkakan, radiolusen periapikal

 Diikuti hilangnya Calcium Hydroxide dari saluran

LO 6 : Mahasiswa Mampu Mengkaji Komunikasi, Informasi, dan Edukasi


serta Kontrol Pasca Perawatan Apeksogenesis

a. Komunikasi, informasi, edukasi


KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) merupakan salah satu proses
pemberdayaan masyaraka. Artinya adalah masyarakat berinisiatif untuk

17
memulai proses memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Dalam
memberikan KIE sebaiknya dokter memperhatikan beberapa hal antara
lain menghindari dalam menggunakan istilah – istilah kedokteran yang
tidak dimengerti pasien dan menyampaikan dengan bahasa yang mudah
dimengerti.
Komunikasi di bidang kedokteran gigi yaitu komunikasi antara
dokter dan pasien. Komunikasi ini harus berjalan secara efektif.
Komunikasi yang efektif yaitu dalam posisi setara, artinya dokter tidak
mendominasi pada komunikasi antara pasien dan dokter sehingga pasien
dapat menceritakan keluhannya. Tujuan komunikasi efektif yaitu
membantu pengembangan rencana perawatan dan memfasilitasi
pencapaian tujuan kedua belah pihak. Informasi yaitu dokter harus
memberikan semua informasi yang mungkin terjadi, manfaat dan alternatif
tindakan yang akan dilakukan. Edukasi berkaitan dengan pengetahuan
dokter yang berhubungan dengan keluahan pasien dan berhubungan
dengan tindakan perawatan (Soetjiningsih, 2008).
Berikut berbagai cara komunikasi, informasi, dan edukasi untuk perawatan
pasca apeksogenesis :
1. Rutin kontrol pasca perawatan
2. Jika ada komplikasi hubungi dokter
3. Jangan digunakan untuk mengunyah terlalu sering usahakan makan
makanan yang lunak
4. Minum obat sesuai resep
b. Kontrol untuk perawatan pasca apeksogenesis
1. Kontrol selama 3 – 6 bulan untuk memantau vitalitas pulpa dan
pertumbuhan apeksnya
2. Pemantauan tanda dan gejala pengetesan pulpa secara periodik dan
pemeriksaan secara radiografi merupakan hal yang diperlukan untuk
menentukan status pulpa
c. Evaluasi untuk perawatan pasca apeksogenesis
1. Pertama, setelah dilakukan perawatan dan akar tertutup sempurna,
pulpa vital tetap dapat terjaga dan pulpotomi dengan bahan Ca(OH)2
masih dapat dipertahankan dengan syarat pasien rajin melakukan
kontrol secara berkala setiap 3 atau 6 bulan sekali.

18
2. Kedua, jika setelah perawatan dan akar telah tertutup sempurna, maka
pulpotomi dengan bahan Ca(OH)2 dapat dibongkar dan digantikan
dengan teknik pulpektomi dengan bahan gutta perca.

DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatric Dentistry. 2014. Guideline on Pulp
Therapy for Primary and Immature Permanent. 37(6): 244-252.
Audina F. 2013. Perawatan Apeksogenesis dengan MTA MTA (Mineral
trioxide aggregate) Pada Gigi Permanen Muda. BIMKGI 2(1): 46-47.
Bachtiar ZA. 2016. Perawatan Saluran Akar pada Gigi Permanen Anak
dengan Bahan Gutta Percha. Jurnal PDGI 65 (2) Hal. 60-67
Bakar A. 2013. Kedokteran Gigi Klinis. Edisi 2. Yogyakarta: Quantum
Sinergis Media.
Barrington C. 2003. Apexogenesis in an Incompletely Developed Permanent
Tooth with Pulpal Exposur. Oral Health; 49-54
Budiyanti A. 2006. Perawatan Endodontik pada Anak. Jakarta: EGC
Fonseca RJ. 2005. Oral and Maxillofasial Trauma. 3rd. Sc Louis: Elsevier
Saunders.
Forghani M, Parisay I, Maghsoudlou A. 2013. Apexogenesis and
Revascularization Treatment Procedures For Two Traumatized Immature
Permanent Maxillary Incisors: A Case Report. Restorative Dentistry Endodontic.
Grossman LI. 2014. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. Alih bahasa. Abyono
R. Jakarta: EGC: 250-251.
Shabahang S. 2013. Treatment Options: Apexogenesis and Apexification.
Journal of Endodontics Volume 39. Number 3S.
Soetjiningsih. 2008. Modul Komunikasi Pasien-Dokter: Suatu Pendekatan
Holistik. Jakarta: EGC.

19
Viddyasagar M, Choudhari S, Raurale A , Dahapute S. 2010. Apexification
And Apexogenesis- A Case Report. Int. Journal of Contemporary Dentistry.
Walton, Richard, Torabinejad, Mahmoud. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu
Endodonsia Edisi 3. Jakarta : EGC.
Welbury R, Duggal M. 2005. Pediatric Dentistry. Oxford University.

20