Anda di halaman 1dari 10

BAB I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tikus berasal dari bahasa latin yaitu rodentia yang mempunyai arti mengerat.
Tikus termasuk kedalam ordo rodentia dengan famili muridae yang merupakan hewan
liar dari kelas mamalia yang hidup berdampingan dengan manusia.Tikus ditemukan
hampir diseluruh belahan dunia, meskipun banyak subfamili hanya bisa ditemukan di
daerah tertentu. Terdapat pula spesies yang hidup sepenuhnya di dalam tanah, di atas
pepohonan dan semiakuatik, tetapi sebagian besar merupakan hewan terestrial (hidup
diatas tanah).
Tikus merupakan hewan liar yang sering kali berasosiasi dengan kehidupan
manusia. Asosiasi tikus dengan manusia sering kali bersifat paratisme,dimana tikus
mendapatkan keuntungan sedangkan manusia dirugikan. Tikus telah lama menjadi
hama penting,karena tingkat kerusakan yang diakibatkannya cukup tinggi meliputi
berbagai aspek kehidupan manusia mulai dari bidang pertanian,kesehatan,sampai
bidang industri,di bidang pertanian tikus menjadi hama penting bagi manusia.
Tikus bersifat omnivora atau pemakan segala jenis makanan,akan tetapi dalam
hidupnya tikus membutuhkan makanan yang kaya akan karbohidrat dan protein seperti
bulir padi,kacang tanah,jangung,umbi,dan lainnya. Hewan pengerat atau rodensia ini
baik disadari atau tidak,kenyataannya telah menjadi saingan bagi manusia. lebih dari
itu rodensia,pada dasarnya dapat mempengaruhi bahkan mengganggu kehidupan
manusia dengan berbagai cara. Dalam hal jumlah kehidupan yang terlibat dalam
gangguan tersebut.
Tikus adalah makhluk yang berkemampuan tinggi bila dibandingkan dengan
serangga lain,dan juga tergolong hewan menyusui. Dalam banyak hal tikus juga
bereaksi dan bertingkah laku seperti manusia.Tikus memiliki indera peraba dan
pendengaran yang baik sehungga digolongkan hewan yang cerdik,tingkah laku tikus
dapat ditentukan oleh naluri dan faktor luar seperti suhu,panjang hari,curah hujan dan
lainnya.

1
Tikus dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit,merusak bahan
pangan,instalasi listrik,peralatan kantor seperti kabel-kabel,mesin-mesin
komputer,perlengkapan laboratorium dan menimbulkan penyakit.tikus merupakan
binatang pengerat yang sudah menjadi musuh masyarakat karena sebagai faktor
penyakit. Mamalia yang masih hidup diperkirakan ada 4.000 spesies, dua pertiga
diantaranya adalah rodentia (hewan pengerat). Tikus termasuk hewan menyusui kelas
mamalia, ordo rodentia. Ordo rodentia merupakan kelompok mamalia utama yang
dapat berkembang pada berbagai lingkungan di seluruh dunia dengan jumlah yang
tercatat lebih dari 2.050 spesies (Baco, 2011). Tikus dapat hidup berdampingan dengan
manusia, memiliki hubungan yang bersifat parasitisme dan mutualisme dengan
makhluk hidup.
Tikus sangat menyukai tempat yang kotor dan tertutup oleh rerumputan atau
semak belukar.Tikus mampu beradaptasi pada lingkungan baru,mobilitas
tinggi,kemampuan merusak tanaman budidaya dalam waktu yang singkat dengan
jumlah kehilangan hasil yang sangat besar,mampu merusak berbagai stadia umur
pertumbuhan tanaman mulai dari pembibitan,fase vegetatif,fase generatif,panen dan
pasca panen,serta mampu membedakan mana saja yang dihadapi,dialami dan
dilakukan dengan mana yang asing untuk mereka.
Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan penting bagi pembangunan
perekonomian suatu bangsa.Peranan sektor pertanian sebagai pembentukan produk
domestik bruto,penciptaan lapangan kerja, penyediaan pangan, peningkatan sektor
tanaman pangan,peningkatan pendapatan masyarakat, perkebunan,holtikultura dan
lainnya.
Terdapat beberapa macam tikus salah satunya tikus ladang. Tikus ladang
merupakan hewan nokturnal seperti pengerat pada umumnya, ahli memanjat, dan
sering bersarang di pepohonan. R. exulans adalah spesies omnivora nocturnal yaitu
pemakan biji, buah, daun, kulit kayu, serangga, cacing tanah, laba-laba, Biji, buah,
daun, kelapa sawit, kulit kayu, serangga, cacing tanah, laba- laba, cicak, telur unggas
dan yang telah menetas. Bahan pangan berlubang dan memiliki bekas gigitan.
Menimbulkan bau yang tidak enak pada makanan/bahan pangan. Mencemari makanan

2
atau bahan pangan sehingga tidak hiegenis lagi Membuat makanan atau bahan pangan
mengalami kerusakan dan tidak dapat dikonsumsi.Menurut priyambodo (2003),
pengendalian tikus cara kimiawi sampai saat ini masih banyak mengalami kendala,
terutama pada pengendalian dengan rodensia Oleh karena itu perlu dilakukan
pengendalian agar mengurangi kerusakan yang terjadi.

B. TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif penggunaan
perangkap tikus terhadap jenis tikus ladang (Rattus exulans). Praktikum ini juga
bertujuan untuk mengetahui jenis tikus yang akan diperangkap.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tikus Ladang

Adapun klasifikasi ilmiah tikus ladang adalah :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Famili : Muridae
Subfamili : Murinae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus exulans

Deskripsi Fisik tikus ladang (Rattus exulans) memiliki tubuh langsing, moncong
runcing, telinga yang besar dan kaki yang relatif halus. Punggungnya adalah warna
kemerahan - coklat, dengan perut putih. Tikus Polinesia dewasa adalah 11,5-15,0 cm
panjang dari ujung hidung ke pangkal ekor. Rata-rata berat tikus ladang adalah antara
40 dan 80 g. Ekor memiliki baik, menonjol, bersisik cincin, dan kira-kira sama dengan
kepala dan tubuh dikombinasikan. Perempuan R. exulans memiliki delapan puting.
Ukuran tengkorak telah terbukti bervariasi dengan geografi mereka yang berasal dari
iklim dingin yang lebih besar daripada mereka yang tinggal di iklim hangat. Sebuah
fitur yang berguna untuk membedakan tikus ini dari spesies lain adalah tepi luar gelap
di bagian atas kaki belakang dekat pergelangan kaki sementara sisa kaki pucat
(Russell, 2002).

Tikus ladang memiliki tubuh panjang, langsing, yang mencapai panjang lebih dari
6 inci (15 cm) dari hidung hingga ujung ekor, yang menyebabkan mereka lebih kecil
dan ringan dari pada tikus lain yang berinteraksi dengan manusia. Mereka umumnya

4
memiliki perbedaan bagian atas kaki belakang dekat mata kaki yang lebih gelap. Kaki-
kaki lainnya berwarna lebih pucat.

Tikus Ladang (Rattus exulans) Tikus ini mempunyai panjang total ujung kepala
sampai ujung ekor 139-365 mm, panjang ekor 108-147 mm, panjang telapak kaki 24-
35 mm, ukuran telinga 11-28 mm sedangkan rumus mamae 2+2 = 4 pasang, tekstur
rambut agak kasar, bentuk hidung kerucut, bentuk badan silindris, warna rambut badan
atas coklat kekuningan kadang coklat kemerahan dan rambut badan bawah (perut)
kelabu putih, warna ekor coklat gelap, warna ekor bawah coklat gelap. Tikus ini
banyak dijumpai di semak-semak, kebun/ladang sayur-sayuran, sawah dan pinggiran
hutan.

Tikus ladang (Rattus exulans) memiliki rentang geografis yang luas dari Asia
Tenggara dan New Guinea melalui Pasifik. Mereka menyebar ke beberapa pulau ribu
di barat dan tengah Samudera Pasifik melalui upaya kolonisasi orang Polinesia. Tikus-
tikus yang terbawa pada kano laut akan besar dengan babi, anjing dan ayam hutan
(Dwyer, 1978).

Habitat tikus ladang (Rattus exulans) dapat hidup dalam berbagai habitat termasuk
padang rumput, semak belukar dan hutan, asalkan memiliki persediaan makanan yang
cukup dan tempat tinggal. Tikus ladang bukan perenang yang baik, tapi mampu
memanjat pohon untuk makanan. Habitat lain termasuk yang dibuat oleh manusia,
seperti rumah, lumbung, dan tanah dibudidayakan. Tikus ini biasanya hidup di bawah
1.000 m di ketinggian, di mana ada penutup tanah yang baik dan tanah baik
dikeringkan. Daerah habitat sedang, tropis dan terestrial. Bioma terestrial savana atau
padang rumput hutan hutan scrub. Dan tikus ladang bisa hidup di daerah perkotaan
dan pertanian (Tobin, 1994).

Deskripsi Fisik tikus ladang (Rattus exulans) memiliki tubuh langsing, moncong
runcing, telinga yang besar dan kaki yang relatif halus. Punggungnya adalah warna
kemerahan - coklat, dengan perut putih. Tikus Polinesia dewasa adalah 11,5-15,0 cm
panjang dari ujung hidung ke pangkal ekor. Rata-rata berat tikus ladang adalah antara

5
40 dan 80 g. Ekor memiliki baik, menonjol, bersisik cincin, dan kira-kira sama dengan
kepala dan tubuh dikombinasikan. Perempuan R. exulans memiliki delapan puting.
Ukuran tengkorak telah terbukti bervariasi dengan geografi mereka yang berasal dari
iklim dingin yang lebih besar daripada mereka yang tinggal di iklim hangat. Sebuah
fitur yang berguna untuk membedakan tikus ini dari spesies lain adalah tepi luar gelap
di bagian atas kaki belakang dekat pergelangan kaki sementara sisa kaki pucat
(Russell, 2002).

Reproduksi bervariasi antara wilayah geografis dan dipengaruhi oleh ketersediaan


makanan, cuaca, dan faktor lainnya. Tikus ladang perempuan rata-rata memiliki
rentang jumlah keturunan 1-4 kali dengan 4 anak per induk. Di Selandia Baru,
kehamilan adalah 19 sampai 21 hari dan penyapihan terjadi pada 2 sampai 4 minggu.
Kematangan seksual dicapai oleh 8 sampai 12 bulan, meskipun ukuran dewasa dapat
dicapai selama musim yang sama seperti kelahiran (Russell, 2002).

Tidak banyak yang diketahui tentang pengasuhan tikus ladang. Mereka adalah
mamalia plasenta yang memiliki muda tergantung. Muda mungkin altricial, seperti
yang umum dalam genus. Sementara mereka berkembang, mereka mungkin tinggal di
semacam sarang, di mana mereka perawat, rapi, dan dilindungi oleh ibu mereka. Umur
/ Panjang Umur tikus ladang hingga satu tahun di alam liar. Dalam capitivity spesies
ini dapat hidup sampai 15 bulan (Russell, 2002).

Tingkah laku tikus ladang merupakan spesies oportunistik. Dengan tidak adanya
hewan pengerat lain mereka memanfaatkan berbagai habitat, mulai dari hutan hujan
ke padang rumput, mampu mentolerir rezim iklim yang berbeda, dan mampu bertahan
untuk waktu yang lama dengan kepadatan rendah (Dwyer, 1978). Selama panen tebu,
tikus yang hidup di sawah baik mati atau bermigrasi ke daerah sekitarnya. Selama
paruh kedua dari siklus tanaman mereka akan membangun kembali populasi mereka
(Tobin, 1994).

Rumah rentang tikus ladang lebih relitively menetap dan nokturnal. Jantan
perjalanan lebih jauh daripada betina (Tobin, 1994). Komunikasi dan persepsi

6
informasi tentang 4 komunikasi pada tikus ladang tidak tersedia. Namun, seperti
mamalia, ada kemungkinan bahwa mereka menggunakan beberapa sinyal visual dalam
komunikasi. Komunikasi taktil tidak diragukan lagi hadir, terutama antara pasangan
dan antara betina dan anaknya. Isyarat Scent mungkin digunakan juga (Tobin, 1994).

Kebiasaan makanan tikus ladang makan berbagai makanan, termasuk tanaman daun
lebar, rumput, biji-bijian, buah-buahan, dan bahan hewan. Mereka lebih memilih buah-
buahan berdaging seperti jambu biji, markisa dan tebu favorit mereka. Tikus yang
hidup di tepi ladang tebu mengkonsumsi tebu sebagai 70% dari diet mereka. (Untuk
mendapatkan protein tambahan lainnya akan memakan cacing tanah, laba-laba,
jangkrik, serangga, dan telur cacing tanah bersarang) (Williams, 1973).

Peran ekosistem sebagai spesies mangsa, hewan-hewan ini tidak diragukan lagi
mempengaruhi populasi predator. Dalam mencari makan mereka, mereka
mempengaruhi komunitas tumbuhan, serta populasi invertebrata kecil di atas mana
mereka memangsa. Tikus ladang tidak memiliki kepentingan ekonomi yang positif
bagi manusia. Dan tikus ladang adalah hama utama pertanian di seluruh Asia Tenggara
dan Pasifik. Tanaman rusak oleh spesies ini termasuk tanaman akar, kakao, nanas,
kelapa, tebu, jagung, dan beras (Russell, 2002).

B. Pemasangan Perangkap Tikus Ladang


Tikus dapat menjadi hama dibidang pertanian maupun di permukiman.Dalam
upaya mengurangi dampak negatif dari penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan
tikus,maka perlu dicari alternatif-alternatif pengendalian yang lainnya seperti
penggunaan perangkat,maka perlu dicari alternatif-alternatif pengendalian yang
lainnya seperti penggunaan perangkat.Teknik pengendalian dengan perangkap
digunakan untuk menghindari sifat resistensi tikus,mengurangi pencemaran
lingkungan,menghemat biaya pengendalian.
Mengingat tikus yang memiliki sifat yang cerdik dengan indra penciuman yang
tajam dan mudah curiga pada benda-benda asing yang berada pada wilayah
pergerakannya membuat tikus sangat sulit untuk dikendalikan. Maka perlu

7
dimanfaatkan teknik pengendalian tikus yang sulit terdeteksi oleh indra penciuman.
Metode pengendalian tikus secara fisik mekanis (trap) merupakan salah satu teknik
pengendalian yang dapat diuji. Pengunaan perangkap (trap) bertujuan untuk mengubah
faktor lingkungan fisik menjadi diatas atau dibawah batas toleransi tikus sehingga,
dapat menekan laju populasi dan tingkat kerusakan (Priyambodo, 2003).
Dalam upaya mengurangi dampak negatif dari penggunaan bahan kimiawi
untuk mengendalikan tikus, maka perlu dicari alternatif-alternatif pengendalian yang
lainnya seperti penggunaan perangkat.Teknik pengendalian perangkap merupakan
teknik pengendalian yang paling tua. Namun para peneliti tidak pernah puas dan terus
melakukan perbaikan dan modifikasi jenis-jenis perangkap. Dalam perkembangannya
terdapat enam jenis perangkap Sherum Almunium Live Trap Solid, Sherum
Almunium Live Trap Ventilated, Tomahawuk Live Trap, Havahat Live Trap, Multiple
live trap dan Single live trap.
Teknik pemerangkapan umumnya memiliki dua sifat yaitu perangkap hidup
dan perangkap yang mematikan (snap trap). Untuk penelitian ini pemerangkapan yang
digunakan adalah pemerangkapan hidup. Dilapangan pemerangkapan hidup yang
sering digunakan ada tiga jenis perangkap yaitu; perangkap hidup (live trap),
perangkap jatuhan (pitfall trap) dan perangkap perekat (Sticky trap) yang banyak dijual
bebas dipasaran (Priyambodo, 2003).
Perangkap mati, jenis perangkap yang lebih sering digunakan oleh para petani
dan keluarga adalah perangkap mati. Perangkap mati dianggap sangat praktis dalam
proses pengendalian. Dimana saat tikus terperangkap, orang tidak lagi harus
menambah waktu dan tenaga untuk mematikan tikus, sebelum dibakar atau
ditanam.Metode pemerangkapanmerupakan metode pengendalian yang sudah lama
ada dan sering dilakukan, tetapi jarang diteliti karena dianggap kurang ilmiah oleh para
ahli. Metode ini umumnya dipakai pada populasi tikus yang rendah. (Priyambodo,
2003).
Pengendalian tikus dengan menggunakan perangkap merupakan cara
pengendalian tikus yang relatif lebih aman dibandingkan penggunaan bahan kimia
secara terus menerus karena pengendalian tikus memakaisecara kimiawi menimbulkan

8
berbagai masalah baru, terutama bagi lingkungan.Penggunaan perangkap hama buatan
adalah salah satu contoh dari teknik pengendalian hama secara fisik dan mekanik.
Penggunaan perangkap buatan merupakan cara pengendalian hama yang praktis,
murah, dan kompatibel dengan cara pengendalian lainnya serta tidak mencemari
lingkungan.Pengendalian dengan cara ini efektif bila dilakukan sebelum terjadi
ledakan hama ( Kusnaedi, 2004).

9
BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Vertebrata Hama ini dilaksanakan pada tanggal 3 September 2019,


pukul 11.10-12.50, bertempat di Laboratorium Pengendalian Hayati, Fakultas
Pertanian, Universitas Andalas.

Adapun pemasangan perangkap tikus pada praktikum vertebrata hama akan


dipasang pada tanggal 17 September 2019, berlokasi di ladang

B. Bahan dan Alat

Alat yang digunakan pada praktikum laboratorium ini adalah infocus, alat
tulis, buku kerja, dan bahan yang digunakan adalah materi praktikum berupa
powerpoint dan proposal.

Bahan yang digunakan untuk perangkap yaitu makanan tikus sebagai umpan
dan alatnya yaitu perangkap tikus.

C. Lokasi Pemasangan Perangkap

Pemasangan perangkap berlokasi di ladang.

10