Anda di halaman 1dari 19

Meet the Expert

Manifestasi Klinis Ablasio Retina

Disusun Oleh:

Istiqa Dwi Pertiwi 1840312435


Desravima Muflianti Basrand 1840312703
Melati Purnama Sari 1840312709
Fadel Muhammad 1840312697

Expert :
dr. Weni Helvinda, Sp.M (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang
berjudul “Manifestasi Klinis Ablatio Retina”.
Makalah ini merupakan salah satu syarat mengikuti kepaniteraan klinik di
bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dr. Weni Helvinda, Sp.M (K) selaku
pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam pembuatan makalah ini.
Penulis mengucapkan terima kasih juga kepada semua pihak yang telah
membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Padang, 3 Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Batasan Masalah 1
1.3. Tujuan Penulisan 1
1.4. Metode Penulisan 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Bola Mata dan Retina 2
2.2 Ablatio Retina 5
2.2.1 Definisi Ablatio Retina 5
2.2.2 Epidemiologi Ablatio Retina 5
2.2.3 Klasifikasi Ablatio Retina 5
2.2.4 Patofisiologi Ablatio Retina 9
2.2.5 Manifestasi Klinis Ablatio Retina 11
2.2.6 Pemeriksaan Fisik dan Penunjang 12
BAB 3 KESIMPULAN 14
DAFTAR PUSTAKA 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Retina merupakan lapisan membran neurosensoris dan merupakan lapisan
ketiga bola mata setelah sclera dan uvea. Retina berbatas dengan koroid dengan
sel pigmen epitel retina. Antara retina dan epitel pigmen retina terdapat rongga
potensial yang bisa mengakibatkan retina terlepas dari epitel pigmen retina. Hal
ini yang disebut sebagai ablasio retina.1
Istilah “ablasio retina” (retinal detachment) menandakan pemisahan retina
yaitu fotoreseptor dan lapisan bagian dalam, dari epitel pigmen retina
dibawahnya. Terdapat tiga jenis utama yaitu ablasio regmatogenosa, ablasio traksi
dan ablasio serosa atau hemoragik.2 Bentuk tersering dari ketiga jenis ablasio
retina adalah ablasio retina regmatogenosa. Menurut penelitian, di Amerika
Serikat insiden ablasio retina 1 dalam 15.000 populasi dengan prevalensi 0,3%.
Sedangkan insiden per tahun kira-kira 1 diantara 10.000 orang dan lebih sering
terjadi pada usia lanjut kira-kira umur 40-70 tahun. Pasien dengan miopia yang
tinggi (>6D) memiliki 5% kemungkinan resiko terjadinya ablasio retina, afakia
sekitar 2%, komplikasi ekstraksi katarak dengan hilangnya vitreus dapat
meningkatkan angka kejadian ablasio hingga 10%.3 Pasien dengan ablasio retina
yang semakin lama didiagnosis dan ditatalaksana akan meningkatkan prognosis
yang buruk terhadap penderita.3 Sehingga pada kasus-kasus ablation retina kita
perlu mengetahui manifestasi klinisnya agar dapat ditatalaksana dengan baik dan
mempertahankan kualitas hidup penderita.
1.2 Batasan Masalah
Makalah ini membahas tentang definisi, epidemiologi, klasifikasi,
patofisiologi dan manifestasi klinis dari ablation retina.
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk memahami serta menambah pengetahuan
tentang manifestasi klinis ablation retina.
1.4 Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan
merujuk ke berbagai literatur.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Bola Mata dan Retina


Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata
dibungkus oleh tiga jaringan yaitu sklera, jaringan uvea, dan retina yang terletak
paling dalam dan mempunyai susunan lapisan sebanyak 10 lapis yang merupakan
lapis membrane neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi ransangan pada
saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial antara retina
dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasi retina.1

Gambar 2.1 Anatomi bola mata.6

Retina merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima


rangsang cahaya. Retina merupakan selembar tipis jaringan saraf yang
semitransparan, dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior
dinding bola mata. Retina membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan
korpus siliaris, dan akhirnya di tepi ora serrata. Pada orang dewasa, ora serrata

2
berada sekitar 6,5 mm di belakang garis Schwalbe pada sistem temporal dan 5,7
mm di belakang garis ini pada sisi nasal. Permukaan luar retina sensorik
bertumpuk dengan membrana Bruch, koroid, dan sklera. Retina mempunyai tebal
0,1 mm pada ora serrata dan 0,23 mm pada kutub posterior. Ditengah-tengah
retina posterior terdapat makula. Di tengah makula terdapat fovea yang secara
klinis merupakan cekungan yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan
oftalmoskop. Retina berbatas dengan koroid dengan sel epitel pigmen retina dan
terdiri atas lapisan:1,3
1. Lapisan epitel pigmen
2. Lapisan fotoreseptor merupakan lesi terluar retina terdiri atas sel batang yang
mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut.
3. Membran limitan eksterna yang merupakan membrane ilusi.
4. Lapisan nucleus luar, merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan
batang.
5. Lapisan pleksiform luar merupakan lapis aselular dan merupakan tempat
sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
6. Lapis nucleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel
Muller.
7. Lapisan pleksiform dalam, merupakan lapis aselular merupakan tempat sinaps
sel bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion.
8. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua,
9. Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju kearah saraf
optik.
10. Membran limitan interna, merupakan membrane hialin antara retina dan
badan kecil.

Retina mendapatkan suplai darah dari dua sumber yaitu koriokapiler yang
berada tepat di luar membrana Bruch, yang mensuplai sepertiga luar retina,
termasuk lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan
epitel pigmen retina, serta cabang-cabang dari arteri retina sentralis yang
mensuplai dua per tiga sebelah dalam.1,7

3
Gambar 2.2 Lapisan pada Retina.3

Mata berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks,
dan sebagai suatu transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan
fotoreseptor mampu mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf
yang dihantarkan oleh lapisan serat saraf retina melalui saraf optikus dan akhirnya
ke korteks penglihatan ossipital. Makula bertanggung jawab untuk ketajaman
penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna, dan sebagian besar selnya
adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan hampir 1:1 antara
fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang keluar, dan hal ini
menjamin penglihatan yang paling tajam. Di retina perifer, banyak fotoreseptor
dihubungkan ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan sistem pemancar yang
lebih kompleks. Akibat dari susunan seperti itu adalah bahwa makula terutama
digunakan untuk penglihatan sentral dan warna (penglihatan fototopik) sedangkan
bagian retina lainnya, yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang,
digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam (skotopik).3,7

4
2.2 Ablasio Retina
2.2.1 Definisi Ablasio Retino
Istilah “Ablasi retina”(retinal detachment) menandakan pemisahan retina
sensorik, yaitu fotoreseptor dan lapisan jaringan bagian dalam, dari epitel pigmen
retina dibawahnya. Terdapat tiga jenis utama ablasi retina yaitu : ablasi retina
regmategenosa, ablasi retina traksi (tarikan) dan ablasi retina eksudatif.8,9

2.2.2 Epidemiologi Ablasio Retino


Ablasi retina regmatogenosa merupakan penyebab tersering dari kedua
bentuk ablasi retina yang lain. Diperkirakan prevalensi ablasio retina adalah 1
kasus dalam 10.000 populasi. Prevalensi meningkat pada beberapa keadaan
seperti miopia tinggi, afakia/pseudoafakia dan trauma. Pada mata normal, ablasio
retina terjadi pada kira-kira 5 per 100.000 orang per tahun di Amerika Serikat.
Insidens ablasio retina idiopatik berdasarkan adjustifikasi umur diperkirakan 12,5
kasus per 100.000 per tahun atau 28.000 kasus per tahun. Ablasio retina terjadi
kira-kira 5-16 per 1000 kasus diikuti oleh penyebab operasi katarak, dan ini terdiri
dari sekitar 30-40 % dari semua ablasio retina yang dilaporkan. Insiden ablasio
retina cukup banyak terjadi, karena merupakan kasus emergency di bidang mata,
setiap tahun sekitar 1 sampai 2 orang dari 10.000 kasus mengalami ablasio
retina.3,10,11,12,13
Kemungkinan ini akan meningkat jika pada pasien yang; memiliki miopa
yang tinggi, telah menjalani operasi katarak, terutama jika operasi ini mengalami
komplikasi kehilangan vitreous, pernah mengalami ablasi retina pada mata
kontralateral dan baru mengalami trauma mata berat.1,7,14

2.2.3 Klasifikasi Ablatio Retina


Berdasarkan penyebabnya ablasio retina dibagi menjadi :
1. Ablasio Retina Primer (Ablasio Retina Regmatogenosa)
Ablasio regmatogenosa berasal dara kata Yunani rhegma, yang berarti
diskontuinitas atau istirahat. Pada ablasio retina regmatogenosa terjadi robekan
pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan
retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreus) yang masuk

5
melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga
mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid. Ablasio
regmantogenosa spontan biasanya didahului atau disertai oleh pelepasan korpus
vitreum posterior.1,2
Faktor predisposisi terjadinya ablasio retina regmatogenosa antara lain : 2,3
a. Usia. Kondisi ini paling sering terjadi pada umur 40-60 tahun. Namun usia
tidak menjamin secara pasti karena masih banyak faktor yang
mempengaruhi.
b. Jenis kelamin. Keadaan ini paling sering terjadi pada laki – laki dengan
perbandingan laki : perempuan adalah 3 : 2.
c. Miopi. Sekitar 40 persen kasus ablasio retina regmatogenosa terjadi karena
seseorang mengalami miopia.
d. Afakia. Keadaan ini lebih sering terjadi pada orang yang afakia daripada
seseorang yang fakia. Pasien bedah katarak diduga akibat vitreus ke anterior
selama atau setelah pembedahan. Lebih sering terjadi setelah ruptur kapsul,
kehilangan vitreus dan vitrektomi anterior. Ruptur kapsul saat bedah katarak
dapat mengakibatkan pergeseran materi lensa atau sesekali, seluruh lensa ke
dalam vitreus.
e. Trauma. Mungkin juga bertindak sebagai faktor predisposisi
f. Fenile Posterior Vitreous Detachment (PVD). Hal ini terkait dengan ablasio
retina dalam kasus banyak.
g. Pasca sindrom nekrosis akut retina dan sitomegalovirus (CMV) retinitis
pada pasien AIDS berupa nekrosis retina dengan formasi istirahat retina
terjadi, kemudian, cairan dari rongga vitreous dapat mengalir melalui
istirahat dan melepas retina tanpa adanya traksi vitreoretinal terbuka. This
commonly occurs in acute retinal necrosis syndrome and in cytomegalovirus
(CMV) retinitis in AIDS patients.
h. Retina yang memperlihatkan degenerasi di bagian perifer seperti Lattice
degeneration, Snail track degeneration, White-with-pressure and white-
without or occult pressure, acquired retinoschisis.

6
Ablasio retina akan memberikan gejala prodromal terdapatnya gangguan
penglihatan yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutupi (floaters)
akibat dari adanya kekeruhan di vitreous oleh darah, pigmen retina yang terlepas,
atau degenerasi vitreous itu sendiri. Terdapat juga riwayat adanya pijaran api
(fotopsia) pada lapangan penglihatan akibat sensasi berkedip cahaya karena iritasi
retina oleh gerakan vitreous.2,16 Ablasio retina yang berlokalisasi di daerah
superotemporal sangat berbahaya karena dapat mengangkat makula. Penglihatan
akan turun secara akut bila lepasnya retina mengenai makula lutea. Pada
pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarna pucat
dengan pembuluh darah diatasnya dan terlihat adanya robekan retina berwarna
merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas (ablasi) bergoyang.
Kadang – kadang terdapat pigmen didalam badan kaca. Pada pupil terdapat
adanya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun. Tekanan bola mata rendah
dan dapat meninggi bila telah terjadi neovaskuler glaucoma pada ablasi yang telah
lama.16

Gambar 2.3 Ablatio retina tipe regmatogenosa (arah panah menunjukkan


horsehoe tear)

7
2. Ablasio Retina Sekunder (Ablasio Retina Non-regmatogenosa)
a. Ablasio Retina Eksudatif
Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya penimbunan cairan eksudat di
bawah retina (subretina) dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina
terjadi akibat ekstravasasi cairan dari pembuluh retina dan koroid. Penyebab
Ablasio retina eksudatif dibagi menjadi dua yaitu penyakit sistemik yang meliputi
Toksemia gravidarum, hipertensi renalis, poliartritis nodosa. Sedangkan penyakit
mata meliputi akibat inflamasi (skleritis posterior, selulitis orbita), akibat penyakit
vascular (central serous retinophaty, and axudative retinophaty of coats, akibat
neoplasma (malignant neoplasma koroid dan retinoblastoma), akibat perforasi
bola mata pada operasi intraokuler.1,2,3

Gambar 2.4 Ablatio retina tipe eksudatif akibat hasil metastase karsinoma
payudara
b. Ablasio retina traksi
Pada ablasio ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut
pada korpus vitreus (badan kaca). Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang
dapat disebabkan diabetes melitus proliferative, trauma, dan perdarahan badan
kaca akibat bedah atau infeksi. Tipe ini juga dapat terjadi sebagai komplikasi dari
ablasio retina regmatogensa.1,2,3
Ablasio retina tipe regmatogenosa yang berlangsung lama akan membuat
retina semakin halus dan tipis sehingga dapat menyebabkan terbentuknya
proliferatif vitreotinopathy (PVR) yang sering ditemukan pada tipe

8
Regmetogenosa yang lama. PVR juga dapat terjadi akibat kegagalan dalam
penatalaksanaan ablasio retina regmatogenosa. Pada PVR, epitel pigmen retina,
sel glia, dan sel lainya yang berada di dalam maupun di luar retina pada badan
vitreus akan membentuk membrane. Kontraksi dari membrane tersebut akan
menyebabkan retina tertarik ataupun menyusut, sehingga dapat mengakibatkan
terdapatnya robekan baru atau brkembang menjadi ablasio retina traksi.1,2,3,19

Gambar 2.5 Ablatio retina traksi

2.2.4 Patofisiologi Ablatio Retina


Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmen sesuai dengan
rongga vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata
yang matur dapat berpisah:
1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami likuifikasi
dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif
(ablasio regmatogenosa).
2. Jika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina,
misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus (ablasio
retina traksional).
3. Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruangan subretina
akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan
(ablasio retina eksudatif)

9
Ablasio retina idiopatik (regmatogen) terjadinya selalu karena adanya
robekan retina atau lubang retina. Sering terjadi pada miopia, pada usia lanjut, dan
pada mata afakia. Perubahan yang merupakan faktor prediposisi adalah degenerasi
retina perifer (degenerasi kisi-kisi/lattice degeration), pencairan sebagian badan
kaca yang tetap melekat pada daerah retina tertentu, cedera, dan sebagainya.
Perubahan degeneratif retina pada miopia dan usia lanjut juga terjadi di koroid.
Sklerosis dan sumbatan pembuluh darah koroid senil akan menyebabkan
berkurangnya perdarahan ke retina. Hal semacam ini juga bisa terjadi pada miopia
karena teregangnya dan menipisnya pembuluh darah retina.16
Perubahan ini terutama terjadi di daerah ekuator, yaitu tempat terjadinya
90% robekan retina. Terjadinya degenerasi retina pada mata miopia 10 sampai 15
tahun lebih awal daripada mata emetropia. Ablasi retina delapan kali lebih sering
terjadi pada mata miopia daripada mata emetropia atau hiperopia. Ablasi retina
terjadi sampai 4% dari semua mata afakia, yang berarti 100 kali lebih sering
daripada mata fakia. Terjadinya sineresis dan pencairan badan kaca pada mata
miopia satu dasawarsa lebih awal daripada mata normal.16
Depolimerisasi menyebabkan penurunan daya ikat air dari asam hialuron
sehingga kerangka badan kaca mengalami disintegrasi. Akan terjadi pencairan
sebagian dan ablasi badan kaca posterior. Oleh karenanya badan kaca kehilangan
konsistensi dan struktur yang mirip agar-agar, sehingga badan kaca tidak menekan
retina pada epitel pigmen lagi. Dengan gerakan mata yang cepat, badan kaca
menarik perlekatan vireoretina. Perlekatan badan kaca yang kuat biasanya
terdapat di daerah sekeliling radang atau daerah sklerosis degeneratif. Sesudah
ekstraksi katarak intrakapsular, gerakan badan kaca pada gerakan mata bahkan
akan lebih kuat lagi. Sekali terjadi robekan retina, cairan akan menyusup di bawah
retina sehingga neuroepitel akan terlepas dari epitel pigmen dan koroid.16

2.2.5 Manifestasi Klinis Ablatio Retina


1. Flashes (photopsia)
Ketika ditanya, pasien biasanya menjawab gejala ini bisa terjadi sepanjang
waktu, tetapi paling jelas saat suasana gelap. Gejala ini cenderung terjadi terutama

10
sebelum tidur malam. Kilatan cahaya (flashes) biasanya terlihat pada lapangan
pandang perifer. Gejala ini harus dibedakan dengan yang biasanya muncul pada
migrain, yang biasanya muncul sebelum nyeri kepala. Kilatan cahaya pada
migrain biasanya berupa garis zig-zag, pada tengah lapangan pandang dan
menghilang dalam waktu 10 menit. Pada pasien usia lanjut dengan defek pada
sirkulasi vertebrobasilar dapat mendeskripsikan tipe lain fotopsia, yakni kilatan
cahaya cenderung muncul hanya saat leher digerakkan setelah membungkuk.8

2. Floaters
Titik hitam yang melayang di depan lapangan pandang adalah gejala yang
sering terjadi, tetapi gejala ini bisa menjadi kurang jelas pada pasien gangguan
cemas. Tetapi jika titik hitamnya bertambah besar dan muncul tiba-tiba, maka ini
menjadi tanda signifikan suatu keadaan patologis. Untuk beberapa alasan, pasien
sering menggambarkan gejala ini seperti berudu atau bahkan sarang laba-laba. Ini
mungkin karena adanya kombinasi gejala ini dan kilatan cahaya. Kilatan cahaya
dan floaters muncul karena vitreus telah menarik retina, menghasilkan sensasi
kilatan cahaya, dan sering ketika robekan terjadi akan terjadi perdarahan ringan ke
dalam vitreus yang menyebabkan munculnya bayangan bintik hitam. Ketika
kedua gejala ini muncul, maka mata harus diperiksa secara detail dan lengkap
hingga ditemukan dimana lokasi robekan retina. Terkadang, robekan kecil dapat
menyebabkan perdarahan vitreus yang luas yang menyebabkan kebutaan
mendadak.8

3. Shadows
Saat robekan retina terjadi, pasien seharusnya segera mencari pengobatan
medis dan pengobatan efektif. Namun beberapa pasien tidak segera mencari
pengobatan medis atau bahkan malah mengabaikan gejala yang dialami. Memang
dalam beberapa saat gejala akan berkurang, tetapi dalam kurun waktu beberapa
hari hingga tahunan akan muncul bayangan hitam pada lapangan pandang perifer.
Jika retina yang terlepas berada pada bagian atas, maka bayangan akan terlihat
pada lapangan pandang bagian bawah dan dapat membaik secara spontan dengan

11
tirah baring, terutama setelah tirah baring pagi hari. Kehilangan penglihatan
sentral atau pandangan kabur dapat muncul jika fovea ikut terlibat.8

Saat anamnesis, penting juga untuk menanyakan riwayat trauma, apakah


terjadi bebrapa bulan sebelum gejala muncul atau bertepatan dengan timbulnya
gejala. Perhatikan juga riwayat operasi, termasuk ekstraksi katarak, pengangkatan
benda asing intraokuler atau prosedur lain yang melibatkan retina. Tanyakan juga
mengenai kondisi pasien sebelumnya, seperti pernah atau tidak menderita uveitis,
perdarahan vitreus, ambliopia, glaukoma, dan retinopati diabetik. Riwayat
penyakit mata dalam keluarga juga penting untuk diketahui. 9

Manifestasi Klinis :
Penglihatan dapat berkurang dari ringan sampai berat. Gejala yang sering
dikeluhkan penderita adalah :
1. Floaters (terlintasnya benda melayang-layang). yang terjadi karena adanya
kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau
degenerasi vitreus itu sendiri.

2, Photopsia/Light flashes(kilatan cahaya) tanpa adanya sumber cahaya di


sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan
cahaya atau dalam keadaan gelap.

3. Penurunan tajam penglihatan. penderita mengeluh penglihatannya sebagian


seperti tertutup tiral yang semakin lama semakin juas. Pada keadaan yang
telah lanjut, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang berat.

4. Ada semacam tirai tipis berbentuk parabola yang naik perlahan-lahan dari
mulai bagian bawah bola mata dan akhirnya menutuppandangan.

Gejala subyektif:
Penderita mengeluh dan merasa seperti ada tirai yang menutupi sebagian lapangan
pandangan pada mata yang menderita ablasio retina.
Dengan anamnesis yang teliti kita dapat mengetahui adanya banyak penderita
yang sering merasakan melihat adanya kilatan-kilatan cahaya-cahaya (fotopsia)

12
pada mata yang menderita ablasio beberapa hari sampai beberapa minggu
sebelumnya (Ilyas, S. 2008). Karena cairan ablasi bergerak mencari tempat yang
rendah, maka penderita merasakan seolah- olah melihat suatu tirai yang bergerak
kesuatu arah. Bila terjadi dibagian temporal, dimana terletak macula lutea, maka
visus sentral lenyap. Sedangkan bila terdapat dibagian nasal, visus sentral lebih
lambat terganggu. Lambat laun tirai makin turun dan menutupi sama sekali
matanya, karena terdapat ablasi retina total, sehingga presepsi cahayanya menjadi
0 (nol) (Wijana, N. 1993).
Gejala Objektif:
Dengan oftalmoskop kita dapat melihat retina yang berwarna abu-abu dengan
lipatan-lipatan yang berwarna putih.Gambaran koroid yang normal tidak
tamapak.Terlihat retina ynag berlipat-lipat, yang berubah-ubah bentuknya bila
kepala digerkan.Lipatan ini menetap bila disebabkan tarikan oleh badan kaca,
walaupun kedudukan kepala berubah.Pembuluh darah menjadi berwarna lebih
gelap, berkelok-kelok dan tampak tidak dalam satu daratan (Ilyas, S. 2008).
Pada ablasi yang rata, dengan oftalmoskop, tampak retina tidak bergelombang,
hanya sedikit berubah warna menjadi warna abu-abu seperti awan, kadang-kadang
gambaran koroid masih terlihat.Pembuluh darahnya berwarna lebih gelap, lebih
berkelok-kelok dan refleks cahaya (-) (Wijana, N.1993).

2.2.6 Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pemeriksaan menyeluruh diindikasikan pada kedua mata. Pemeriksaan pada
mata yang tidak bergejala dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab dari
ablasio retina pada mata yang lainnya. 10

1. Pemeriksaan visus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat


terlibatnya makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau
badan kaca yang menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat
menurun bila makula lutea ikut terangkat.
2. Pemeriksaan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang seperti
tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan

13
ablasio retina, pada lapangan pandang akan terlihat pijaran api seperti
halilintar kecil dan fotopsia.
3. Memeriksa apakah ada tanda-tanda trauma
4. Periksa reaksi pupil. Dilatasi pupil yang menetap mengindikasikan adanya
trauma.
5. Pemeriksaan slit lamp; anterior segmen biasanya normal, pemeriksaan
vitreous untuk mencari tanda pigmen atau “tobacco dust”, ini merupakan
patognomonis dari ablasio retina pada 75 % kasus.
6. Periksa tekanan bola mata.
7. Pemeriksaan funduskopi, yaitu salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis
ablasio retina dengan menggunakan binokuler indirek oftalmoskopi. Pada
oftalmoskopi, retina yang terlepas akan terlihat putih dan edema dan
kehilangan sifat transparansinya. Pada ablasio regmatogen, robekan retina
berwarna merah terang dapat terlihat. Pada pemeriksaan ini retina yang
mengalami ablasio retina tampak sebagai membran abu-abu merah muda
yang menutupi gambaran vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan
bermakna pada ruang subretina, didapatkan pergerakkan undulasi retina
ketika mata bergerak. Pembuluh darah retina yang terlepas dari dasarnya
berwarna gelap, berkelok-kelok, dan membengkok di tepi ablasio. Pada
retina yang mengalami ablasio terlihat lipatan-lipatan halus. Suatu robekan
pada retina terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid
dibawahnya. Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreous yang terdiri
dari darah dan pigmen atau kelopak lubang retina (operkulum) dapat
ditemukan mengambang bebas.11
8. Pada pemeriksaan Ultrasound mata, jika retina tidak dapat tervisualisasi
karena katarak atau perdarahan, maka ultrasound A dan B-scan dapat
membantu mendiagnosis ablasio retina dan membedakannya dengan ablasio
vitreus posterior. USG dapat membantu membedakan regmatogen dari non
regmatogen. Pemeriksaan ini sensitif dan spesifik untuk ablasio retina tetapi
tidak dapat membantu untuk menentukan lokasi robekan retina yang
tersembunyi.10

14
BAB III
KESIMPULAN

Istilah “Ablasi retina”(retinal detachment) menandakan pemisahan retina


sensorik, yaitu fotoreseptor dan lapisan jaringan bagian dalam, dari epitel pigmen
retina dibawahnya. Terdapat tiga jenis utama ablasi retina yaitu : ablasi retina
regmategenosa, ablasi retina traksi (tarikan) dan ablasi retina eksudatif.
Etiologi terkait dengan ablasio retina adalah miopi, katarak removal,
robekan retina, tarikan dari jaringan di badan kaca, desakan tumor, cairan, nanah
ataupun darah. Gejala dari ablasio retina adalah adanya floater, fotopsia, dan
penurunan tajam penglihatan.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Masa edisi ketiga. 2010. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta. p.1-10, 183-6.
2. Artini W, Pemeriksaan Dasar Mata, Edisi pertama, 2011. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI.
3. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes On Oftalmology, ed 9. Blackwell
Science Ltd : Penerbit Erlangga.
4. Sovani I. Artikel Tehnik Bakel Sklera pada Ablasio Retina. Jakarta. 1998.
5. Nemet A, Moshiri A, Yiu G, Loeweinstein A, Moisseive E. A Review of
Innovations in Rhegmatogenous Retinal Detachment Surgical Techniques.
Journal of Ophthalmology: 2017.
6. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Ablasi retina. Oftalmologi Umum. edisi
17, Alih Bahasa Tambajong J, Pndit UB. Widya Medika Jakarta : 2006
hal.196-8.
7. Chang Huan J. In : Retinal Detachment. The Journal Of The American
Medical Association. 2012. JAMA. 2012;307(13):1447.
8. Newell Frank W. Retinal detachment. Ophthalmology Principles and
concepts. Six Edition, The C.V. Mosby Company : ST.
Louis.Toronto.Pricenton :1986 page 338-341.
9. Lihteh W. Retinal detachment, rhematogenous opthalmology. Emedicine
[Online] Available from :http:www.emedicine.com.
10. Riordan Eva P, Whitcher JP. In : Vaughan and Asbury’s General
Opthalmology. 16th ed. New York : McGraw-Hill. 2004.
11. Jalali S. Retinal Detachment. Community Eye Health. 2003.46(16).
12. Hollwich F. Ablasi Retina. In: Oftalmologi. Binarupa Aksara: Jakarta; 1993:
263-269.
13. Larkin, G.L. Retinal Detachment.[serial online] 8th september 2010.
Available from : http//emedicine.medscape.com/article/1226426.
14. Khurana. Diseases of retina in comprehensive ophthalmology 4th edition.
New Age International Limited Publisher: India. p. 249- 279.
15. Swierzewski SJ. Retinal Detachment. 2011. [cited 27th August 2019].
Available from : http://www.healthcommunities.com/retinal-
detachment/retinal-detachment- overview.shtml.
16. Dahl AA. Retinal Detachment. 2010. Available from :
http://www.medicinenet.com/retinal_detachment/article.htm

16