Anda di halaman 1dari 22

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Polarisasi adalah suatu peristiwa perubahan arah getar gelombang pada cahaya
yang acak menjadi satu arah getar atau dapat diartikan pula bahwa polarisasi adalah
peristiwa penyerapan arah bidang getar dari gelombang. Gejala polarisasi hanya
dapat dialami oleh gelombang transversal saja, sedangkan gelombang longitudinal
tidak mengalami gejala polarisasi. Cahaya dapat mengalami polarisasi, hal ini
menunjukkan bahwa cahaya merupakan gelombang transversal. Suatu gelombang
yang mempunyai banyak arah getarnya disebut gelombang tak terpolarisasi.
Sedangkan gelombang dengan hanya memiliki satu arah getarnya disebut
gelomabng terpolarisasi (Halliday, 1986).
Eksperimen hukum pemantulan fresnel bertujuan untuk mengukur reflektansi
gelas dan akrilik sebagai fungsi sudut θ, menentukan nilai sudut Brewster θB untuk
gelas dan akrilik, dan menentukan indeks bias medium. Percobaan ini dilakukan di
ruang gelap agar mendukung ketika pengamatan menggunakan laser. Langkah
pertama yang dilakukan yaitu meletakkan medium gelas dan kaca yang di pasang
tegak lurus dengan sumber cahaya. Polaroid disebut sebagai analisator karena
berfungsi untuk mengurangi intensitas cahaya terpolarisasi yang dibentuk oleh
gelas dan kaca. Intensitas diukur sebagai fungsi sudut analyzer dengan variasi sudut
dari 5º sampai 90º. Selanjutnya pada percobaan kali iini diberi dua perilaku yang
berbeda yaitu pertama dengan medium akrilik dan yang kedua menggunakan
medium gelas. Hasil polarisasi nantinya akan dideteksi oleh fotometer, sebagai
output dari percobaan pemantulan hokum fresnel.
Percobaan hukum pemantulan Fresnel sangat penting untuk dilakukan. Hal ini
disebabkan karena adanya pengembangan aplikatif dari polarisasi cahaya.
Polarisasi cahaya banyak memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Selain
itu, melalui praktikum ini dapat menambah pemahaman secara teori maupun
penerapan mengenai polarisasi. Pengembangan aplikatif dari polarisasi cahaya
banyak memberikan manfaat. Manfaat tersebut meliputi banyak bidang dalam
kehidupan manusia,misalnya dalam aplikasi dalam pengunaan kaca mata 3 dimensi
2

dalam bidang visual effect perfileman, kaca mata pelindung efek sinar ultra violet,
bahan Kristal kalsit dan kuarsa dalam bidang fisika zat padat, dan lain sebagainya.
Mengingat sedemikian banyaknya manfaat aplikatif dari pengembangan sifat
polarisasi cahaya, maka eksperimen ini menjadi penting untuk dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang eksperimen polarisasi cahaya diatas, maka dapat
dituliskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana hubungan intensitas cahaya refleksi terhadap sudut sinar datang
yang diberikan ?
2. Bagaimana nilai reflektansi yang didapatkan pada percobaan medium gelas dan
akrilik ?
3. Bagaimana sudut Brewster yang didapatkan pada percobaan medium gelas dan
akrilik ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari eksperimen polarisasi cahaya diatas adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui hubungan intensitas cahaya refleksi terhadap sudut sinar datang
yang diberikan.
2. Mengetahui nilai reflektansi yang didapatkan pada percobaan medium gelas
dan akrilik.
3. Mengetahui sudut Brewster yang didapatkan pada percobaan medium gelas
dan akrilik.

1.4 Manfaat
Aplikasi dari polarisasi diantaranya yaitu penggunaan kaca mata 3 dimensi
dalam bidang visual effect perfilman. Kaca mata pelindung efek sinar UV,
penerapan tekhnik fotoelastisitas dalam industry kaca dan lain sebagainya. Prinsip
kerja dari percobaan kaca mata pelindung efek sinar UV ini yakni dengan hukum
pemantulan Fresnel, ketika cahaya melalui mediu kaca, maka akan dipantulkan dan
ditransmisikan sehingga cahaya terbatas pada satu arah.
3

BAB 2. DASAR TEORI

2.1 Sejarah Hukum Fresnel


Christian Huygens (1629-1995) pada tahum 1678 telah menunjukkan bahwa
hukum pemantulan dan hukum suatu pembiasan dapat dijelaskan dari teori
gelombang. Teori dari gelombang Huygens mulai diterima pada tahun 1801.
Setelah itu, Thomas Young pada tahun 1814, Agustin Jean Fresnel melakukan
ekpserimen tentang fenomena interferensi. Fenomena ini tidak dapat diterangkan
dengan teori dari corpuscular yang menganggap cahaya sebagai suatu partikel, akan
tetapi cahaya dapat dianggap sebagai gelombang seperti yang dikemukakan
Huygens. Gelombang tersebut dapat terpolarisasi (Halliday dan Resnik, 1994).
Hukum pemantulan Fresnel mengatakan bahwa suatu polarisasi yang
sempurna akan menghasilkan 50% intensitas cahaya yang tak terpolarisasi yang
datang. Komponen polarisasi yang tidak diinginkan seluruhnya dapat diserao dan
semua komponen yang diinginkan akan diteruskan. Polarisasi dapat terjadi ketika
cahaya dipantulkan dan ditransmisikan oleh perbatasan dua elektrik. Teori
gelombang elektromagnetik telah memprediksi bahwa cahaya yang di refleksikan
akan terpolarisasi relative terhadap permukaan bidang yang dapat merefleksikan
dan bergantung sudut datang (Singh, 2002).

2.2 Pengertian Polarisasi


Cahaya merupakan salah satu dari gelombang elektromagnetik yangberosilasi
secara transversal yang merupakan salah satu sifat unik yang dimilikioleh cahaya
tersebut dan tidak dimiliki oleh gelombang pada umumnya, makadalam cahaya
akan terjadi gejala difraksi serta interferensi didalamnya. Sepertiyang telah
diketahui bahwa difraksi merupakan suatu gejala penyebaran arah yangdialami oleh
seberkas gelombang pada saat melewati celah sempit dibandingkandengan ukuran
panjang gelombangnya. Inteferensi merupakan akibat bersamayang ditimbulkan
oleh beberapa gelombang cahaya, yang diperoleh dengan caramenjumlahkan
gelombang-gelombang tersebut (Soedojo, 1992).
4

Polarisasi merupakan proses pembatasan getaran vektor yang


membentuk suatu gelombang transversal sehingga menjadi satu arah. Polarisasi
hanya terjadi pada gelombang transversal saja dan tidak dapat terjadi pada
gelombang longitudinal. Suatu gelombang transversal mempunyai arah rambat
yang tegak lurus dengan bidang rambatnya. Apabila suatu gelombang memiliki
sifat bahwa gerak medium dalam bidang tegak lurus arah rambat pada suatu garis
lurus, dikatakan bahwa gelombang ini terpolarisasi linear. Sebuah gelombang tali
mengalami polarisasi setelah dilewatkan pada celah yang sempit. Arah bidang getar
gelombang tali terpolarisasi adalah searah dengan celah. Dapat disimpulkan bahwa
polarisasi cahaya adalah peristiwa penyerapan arah bidang getar gelombang
(Triya,2011).

Gambar 2.1 Proses Polarisasi Cahaya


(Sumber : Sutini, 2003)

2.3 Proses Pemantulan Cahaya


Proses pemantulan dan pembiasan, cahaya dapat terpolarisasi sebagian atau
sepenuhnya oleh refleksi. Perbandingan intensitas cahaya yang datang disebut
dengan reflektansi sedangkan perbandingan intensitas cahaya yang diteruskan
dengan intensitas cahaya yang datang disebut dengan transmitansi. Fresnel
menyelidiki dan merumuskan suatu persamaan koefisien refleksi dan koefisien
transmitansi yang dihasilkan oleh pemantulan dan pembiasan. Apabila sudut masuk
sama dengan sudut polarisasi θp, maka sinar yang dipantulkan dan sinar yang
diteruskan saling tegak lurus. Hal ini menunjukkan bahwa sudut refleksi θb menjadi
komponen dari θp. sehingga θb = 90° - θp. Maka hokum refleksi yaitu :
5

𝑛𝑎 sin 𝜃𝑝 = 𝑛𝑏 sin 𝜃𝑏
Didapatkan
𝑛𝑎 sin 𝜃𝑝 = 𝑛𝑏 sin(90 − 𝜃𝑝 ) = 𝑛𝑏 cos 𝜃𝑝
Sehingga
𝑛𝑎 sin 𝜃𝑝 = 𝑛𝑏 𝑐𝑜𝑠 𝜃𝑝
sin 𝜃𝑝 𝑛𝑏
=
cos 𝜃𝑝 𝑛𝑎
𝑛𝑏
tan 𝜃𝑝 =
𝑛𝑎
Hubungan ini juga disebut dengan hukum Brewster yang digunakan untuk sudut
polarisasi. Walaupun ditentukan secara eksperimen, namun hukum itu juga
diteruskan dari sebuah model gelombang dengan menggunakan persamaan
Maxwell (Pedrath, 1993).
Persamaan Fresnel adalah deduksi matematis oleh Agustin Fresnel terhadap
hasil pengamatan perilaku gelombang cahaya ketika melewati medium yang
mempunyai indeks bias berbeda. Persamaan Fresnel berlaku hanya pada indeks bias
yang bernilai real, yaitu pada medium yang menyerap cahaya. Hal ini juga berlaku
pada medium yang bersifat non magnetic dengan asumsi tidak terjadi interferensi.
Ketika gelombang merambat dari medium dengan indeks bias n1 ke medium yang
lain n2. Fresnel berpendapat bahwa gelombang cahaya mengalami refleksi dan
reflaksi bersamaan (Nurhayati, 2004).
6

BAB 3. METODE EKSPERIMEN

3.1 Rancangan Penelitian


Secara garis besar, skema dari rancangan kegiatan eksperimen ditampilkan
dalam bentuk diagram alir yang ditunjukkan pada gambar 3.1:

Identifikasi Permasalahan

Kajian Pustaka

Variabel Penelitian

Kegiatan Eksperimen

Data

Analisis

Kesimpulan
Gambar 3.1 Diagram Alir Rancangan Kegiatan Penelitian.
Eksperimen fisika mengenai pemantulan Fresnel dilakukan dengan cara
mengidentifikasi permasalahan terlebih dahulu terkait hukum pemantulan Fresnel.
Langkah selanjutnya yaitu melakukan kajian pustaka mengenai cara pengukuran
pemantulan fresnel, baik pada pengukuran dengan intensitas cahaya dan pergeseran
sudut. Kemudian alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan dan dirangkai
sesuai dengan desain percobaan yang akan digunakan pada eksperimen pemantulan
Fresnel. Selain itu, dilakukan pula operasional pada variabel-variabel yang akan
digunakan untuk menunjang kegiatan eksperimen yang akan dilakukan. Melalui
eksperimen ini akan didapatkan data berupa intensitas cahaya dan nilai sudut yang
kemudian dianalisis. Hasil pengolahan data tersebut akan didapatkan kesimpulan
dari hasil praktikum pemantulan Fresnel.
7

3.2 Jenis dan Sumber Data


Data yang akan diambil berupa data kuantitatif yaitu yang dapat diukur dan
dihitung secara langsung, kemudian dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka.
Jenis data dibuat dan ditentukan berdasarkan kebutuhan simulasi atau eksperimen.
Data pada penelitian ini merupakan data sintetik, dimana data tersebut merupakan
data yang diperoleh dari hasil eskperimen. Dalam hal ini, yang merupakan data
sintetik adalah intensitas dan sudut (𝜃). Penggunaan layar digunakan untuk
mengamati intentitas cahaya. Sehingga dapat dianalisis bagaimana pengaruh sudut
cahaya terhadap intentitas cahaya. Data hasil yang didapat tersebut dapat digunakan
untuk mencari grafik hubungan antara intensitas dengan pergeseran sudut (𝜃),
sehingga dapat digunakan untuk menarik kesimpulan. Eksperimen hukum
pemantulan fresnel dilakukan pada hari Senin, tanggal 27 Mei 2019 pukul 07.00 –
08.40 WIB dan bertempat di Laboratorium Fisika Modern, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember.

3.3 Definisi Operasional Variabel


Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi
tentang bagaimana caranya mengukur variabel. Berikut definisi operasional
variabel dari eksperimen hukum pemantulan fresnel yaitu :

3.3.1 Variabel Eksperimen


a. Variabel Bebas
Variabel bebas yaitu faktor-faktor yang nantinya akan diukur, dipilih, dan
dimanipulasi oleh peneliti untuk melihat hubungan di antara fenomena atau
peristiwa yang diteliti atau diamati. Variabel bebas dalam eksperimen hukum
pemantulan fresnel adalah fotometer yang digunakan. Fotometer sebagai variable
bebas karena ini tidak dipengaruhi oleh apapun justru berpengaruh terhadap hasil
percobaan.
8

b. Variabel Terikat
Variabel terikat yaitu faktor-faktor yang diamati dan diukur oleh peneliti dalam
sebuah penelitian, untuk menentukan ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas.
Variabel terikat dalam eksperimen ini adalah adalah intensitas cahaya yang
dihasilkan yang merupakan faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada
tidaknya pengaruh variabel bebas.

c. Variabel Kontrol
Variabel kontrol merupakan variabel yang diupayakan untuk dinetralisasi oleh
sang peneliti dalam penelitiannya tersebut dan variabel inilah yang menyebabkan
hubungan di antara variabel bebas dan juga variabel terikat bisa tetap konstan.
Variabel kontrol dalam eksperimen ini adalah sudut (𝜃) yang menyebabkan
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat tetap konstan.

3.3.2 Skala Pengukuran


Skala pengukuran yang dipakai dalam eksperimen hukum pemantulan fresnel
sebagai berikut :
a. Tabel Pengamatan
Tabel 3.1 Pengaruh pergeseran sudut terhadap intentitas cahaya
No Pergeseran Sudut Intentitas Cahaya
1
2

b. Ralat
1. Indeks Bias
𝐼𝑟 2
(𝐼 ) − 1
𝑛2 = 0 2
𝐼
(𝐼𝑟 ) + 1
0

2 )
𝑁(∑ 𝑛21 − (∑ 𝑛21 )2
∆𝑛2 = √
𝑁(𝑁 − 1)
9

𝑛2 = (𝑛2 𝐼 ∆𝑛2 ) ln 𝑋
2. Sudut Brewster 𝜃𝐵
𝑛2
tan 𝜃𝐵 = ( )
𝑛1
𝑛2
𝜃𝐵 = 𝜃𝐵 −1 ( )
𝑛1
∆𝑛2
∆𝜃𝐵 = 𝜃𝐵
𝑛1
3. Ralat Perhitungan
𝐼𝑟 2 1
𝜎2 ( ) = ∑(𝑦𝑖 − 𝑐 − 𝑚𝑥)2
𝐼0 𝑛−2
𝐼𝑟 2
𝑁𝜎 (𝐼 )
0
𝜎 2𝑚 =

𝐼𝑟 2 ∑ 𝑥𝑖 2 𝑁(∆𝑥𝑖 𝑦𝑖 ) − (∑ 𝑥𝑖 )(∑ 𝑦𝑖 )
𝜎2𝑐 = 𝜎 ( ) ; ∆= 𝑚 = 2
𝐼0 ∆ (𝑁(∑ 𝑥𝑖 ) − (∑ 𝑥𝑖 )2 )

c. Grafik
Persamaan umum untuk grafik hubungan antara intensitas dengan sudut adalah
sebagai berikut:
Ir/Io

𝜃
Gambar 3.2 Grafik hubungan intensitas dengan sudut 𝜃

3.4 Kerangka Pemecahan Masalah


3.4.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam eksperimen hukum pemantulan fresnel
adalah :
10

1. Sumber cahaya biasa/incandesant light source (OS-9102B) digunakan sebagai


sumber cahaya yang akan digunakan dalam eksperimen
2. Anguler Translator (OS-9106A) digunakan sebagai tempat meletakkan
analyzer
3. 3 buah holder (OS9107) digunakan sebagai tempat meletakkan polarizer,
analyzer, dan retarder
4. Meja optic (OS-9103) digunakan sebagai tempat meletakkan semua peralatan
yang akan digunakan dalam eksperimen
5. Layar pengamatan (OS-9138) digunakan sebagai tempat mengamati keluaran
6. Bidang gelas (OS-9128) digunakan sebagai bidang yang akan dicari nilai
reflektansinya
7. Bidang akrilik (OS-9129) digunakan sebagai bidang yang akan dicari nilai
reflektansinya
8. 2 buah polarizer (OS-9109) digunakan untuk menciptakan cahaya menjadi
terpolarisasi
9. Fotometer (OS-9152B) digunakan sebagai pengukur besarnya intensitas
cahaya yang dihasilkan.
11

3.4.2 Tata Laksana Eksperimen


Tata laksana eksperimen yang dilakukan dalam eksperimen hukum
pemantulan fresnel sesuai dengan gambar berikut :

Start

Rangkai Alat

Sumber Cahaya diletakkan pada ujung optik

Letakkan layar pada holder

Polarizer diletakkan didepan fotometer 0°

Polarizer
diletakkan Catat Intensitas
didepan
fotometer 90°

Selesai

Gambar 3.3 Diagram Alir Prosedur Eksperimen

3.4.3 Langkah Kerja


Langkah Kerja dari eksperimen hukum pemantulan fresnel yaitu :
1. Alat dirangkai seperti pada gambar 3.4 sehingga alat siap untuk digunakan.
2. Sumber cahaya biasa diletakkan pada ujung bangku optik. Bidang gelas
diletakkan pada holder dan gabungan tersebut diletakkan di atas translator
anguler, posisi gelas diatur sehingga berkas cahaya datang tegak lurus
permukaan gelas. Bagian depan bidang gelas harus berimpit dengan pusat
sudut anguler dan tanda nol pada translator dan sejajar dengan arah cahaya
datang.
12

Gambar 3.4 Susunan eksperimen hukum pemantulan fresnel


(Sumber : Tim Penyusun, 2019)
3. Layar diletakkan pada holder dan berkas cahaya terusan diamati. Layar
dipindahkan dan berkas cahaya terusan diamati dengan menggunakan
fotometer.
4. Polarizer (sebagai analyzer) diletakkan didepan fotometer dan diatur agar
sumbu 0o vertikal (tegak lurus bidang datang). Intensitas cahaya pantul (Ir)
pada fotometer diamati dan dicatat.
5. Sudut translator anguler diubah sebesar 10o dari sudut minimum yang sudah
tentukan sebelumnya. Intensitas cahaya pantulnya dicatat.
6. Polarisator (analiser di depan fotometer) diputar pada sudut 900. Dalam
keadaan ini cahaya yang ditransmisikan oleh analiser paralel terhadap bidang
datang.
7. Langkah 4 sampai 6 dilakukan dengan sudut yang berbeda.
8. Eksperimen diatas dilakukan kembali dengan menggunakan bidang akrilik.

3.4.4 Metode Analisis Data


Metode analisis data yang digunakan dalam eksperimen hukum pemantulan
fresnel adalah bersifat interval atau melalui pengukuran. Metode pengukuran ini
berupa pengukuran intentitas cahaya. Pengukuran secara langsung dilakukan untuk
mengetahui besar intentitas cahaya. Sehingga data yang diperoleh berupa nilai
pengaruh panjang gelombang terhadap jumlah frinji. Eksperimen dilakukan untuk
mengetahui grafik perbandingan antara jumlah frinji dan pergeseran sudut. Semua
analisis perhitungan dikerjakan dengan menggunakan software Microsoft excel.
13

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Hasil yang didapatkan dari eksperimen hukum pemantulan fresnel adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.1 Tabel Pengaruh Besar Sudut Terhadap Intensitas pada Akrilik Tegak
Lurus
𝜃 I I0 ∆I I/I0 ukur 𝜃 rad Ir/I0 D
15 38,00 38 0,10 1,00 0,262 0,042 22,89
20 40,00 38 0,10 1,05 0,349 0,045 22,40
25 43,00 38 0,10 1,13 0,436 0,049 21,92
30 45,00 38 0,10 1,18 0,523 0,055 20,40
35 46,00 38 0,10 1,21 0,611 0,063 18,11
40 50,00 38 0,10 1,32 0,698 0,074 16,76
45 52,00 38 0,10 1,37 0,785 0,089 14,46
50 54,00 38 0,10 1,42 0,872 0,108 12,15
55 58,00 38 0,10 1,53 0,959 0,135 10,33
60 62,00 38 0,10 1,63 1,047 0,171 8,53

I/I0 ukur terhadap teta rad tegak


lurus akrilik
1.80
1.60
1.40
1.20
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200

Gambar 4.1 Grafik hubungan I/I0 ukur terhadap 𝜃 radian pada akrilik tegak lurus
14

Tabel 4.2 Tabel Pengaruh Besar Sudut Terhadap Intensitas pada Akrilik Sejajar
𝜃 I I0 ∆I I/I0 ukur 𝜃 rad Ir/I0 D
15 18,00 18,00 0,1 1,00 0,262 0,049 19,48
20 16,00 18,00 0,1 0,89 0,349 0,054 15,36
25 15,00 18,00 0,1 0,83 0,436 0,062 12,53
30 12,00 18,00 0,1 0,67 0,523 0,071 8,40
35 10,00 18,00 0,1 0,56 0,611 0,082 5,74
40 8,00 18,00 0,1 0,44 0,698 0,097 3,59
45 6,00 18,00 0,1 0,33 0,785 0,114 1,91
50 6,00 18,00 0,1 0,33 0,872 0,137 1,44
52 5,00 18,00 0,1 0,28 0,907 0,147 0,89
54 5,00 18,00 0,1 0,28 0,942 0,159 0,75
56 6,00 18,00 0,1 0,33 0,977 0,172 0,94
58 8,00 18,00 0,1 0,44 1,012 0,186 1,39
60 10,00 18,00 0,1 0,56 1,047 0,202 1,75

I/I0 ukur terhadap teta sejajar akrilik


1.20

1.00

0.80

0.60

0.40

0.20

0.00
0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200
Gambar 4.2 Grafik hubungan I/I0 ukur terhadap 𝜃 radian pada akrilik sejajar

Tabel 4.3 Tabel Pengaruh Besar Sudut Terhadap Intensitas pada Gelas Tegak
Lurus
𝜃 I I0 ∆I I/I0 ukur 𝜃 rad Ir/I0 D
15 2,00 2 0,1 1,00 0,262 1 0,00
20 4,00 2 0,1 2,00 0,349 1 1,00
25 4,00 2 0,1 2,00 0,436 1 1,00
30 8,00 2 0,1 4,00 0,523 1 3,00
15

35 12,00 2 0,1 6,00 0,611 1 5,00


40 16,00 2 0,1 8,00 0,698 1 7,00
45 22,00 2 0,1 11,00 0,785 1 10,00
50 28,00 2 0,1 14,00 0,872 1 13,00
55 40,00 2 0,1 20,00 0,959 1 19,00
60 50,00 2 0,1 25,00 1,047 1 24,00
65 56,00 2 0,1 28,00 1,134 1 27,00
70 68,00 2 0,1 34,00 1,221 1 33,00
75 74,00 2 0,1 37,00 1,308 1 36,00
80 78,00 2 0,1 39,00 1,396 1 38,00
85 80,00 2 0,1 40,00 1,483 1 39,00
90 84,00 2 0,1 42,00 1,570 1 41,00

I/I0 ukur terhadap teta rad tegak


lurus gelas
45.00
40.00
35.00
30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800
Gambar 4.3 Grafik hubungan I/I0 ukur terhadap 𝜃 radian pada gelas tegak lurus

Tabel 4.4 Tabel Pengaruh Besar Sudut Terhadap Intensitas pada Gelas Sejajar
𝜃 I I0 ∆I I/I0 ukur 𝜃 rad Ir/I0 D
15 74,00 74,00 0,1 1,00 0,262 0,03818 25,19
20 70,00 74,00 0,1 0,95 0,349 0,03519 25,88
25 66,00 74,00 0,1 0,89 0,436 0,03135 27,45
30 60,00 74,00 0,1 0,81 0,523 0,02667 29,40
35 56,00 74,00 0,1 0,76 0,611 0,02126 34,60
40 50,00 74,00 0,1 0,68 0,698 0,01529 43,19
45 42,00 74,00 0,1 0,57 0,785 0,00918 60,84
49 22,00 74,00 0,1 0,30 0,855 0,00468 62,46
50 20,00 74,00 0,1 0,27 0,872 0,00369 72,16
16

52 18,00 74,00 0,1 0,24 0,907 0,00197 122,75


55 10,00 74,00 0,1 0,14 0,959 0,00028 489,96
57 2,00 74,00 0,1 0,03 0,994 0,00002 1512,03
59 0,00 74,00 0,1 0,00 1,029 0,00074 -1,00
60 2,00 74,00 0,1 0,03 1,047 0,00156 16,35
65 10,00 74,00 0,1 0,14 1,134 0,01235 9,94
70 12,00 74,00 0,1 0,16 1,221 0,04145 2,91
75 20,00 74,00 0,1 0,27 1,308 0,10517 1,57
80 28,00 74,00 0,1 0,38 1,396 0,23439 0,61
85 36,00 74,00 0,1 0,49 1,483 0,48940 -0,01
90 45,00 74,00 0,1 0,61 1,570 0,99360 -0,39

I/I0 ukur terhadap teta rad sejajar


gelas
1.20

1.00

0.80

0.60

0.40

0.20

0.00
0.000 0.500 1.000 1.500 2.000
Gambar 4.4 Grafik hubungan I/I0 ukur terhadap 𝜃 radian pada gelas sejajar

4.2 Pembahasan
Eksperimen Hukum Pemantulan Fresnel bertujuan untuk mengukur reflektansi
gelas dan akrilik sebagai fungsi sudut, menentukan nilai sudut Brewster untuk gelas
dan akrilik serta menentukan indeks bias medium. Hasil yang didapatkan dari
eksperimen hukum pemantulan fresnel yaitu intensitas cahaya laser HeNe dengan
pengaruh sudut yang diberikan. Pengaruh hubungan intensitas cahaya yang
direfleksikan terhadap sudut sinar datang yaitu ketika intensitas cahaya sinar HeNe
semakin besar maka sudut sinar datang semakin besar sesuai dengan teori yang ada.
Pengaruh hubungan tersebut hanya berlaku jika bidang tegak lurus dengan analyzer.
Hal ini dikarenakan sinar yang melewati sudut yang kecil, maka intensitas yang
17

terlewatkan akan semakin sedikit. Namun ketika sudut analyzer diputar sebesar 90°,
maka sinar yang dilewatkan maksimum.
Nilai reflektansi yang dilakukan dalam percobaan hukum pemantulan fresnel
pada medium gelas dan akrilik, diketahui bahwa nilai reflektansi berbeda setiap
medium pada gelas dan akrilik. Reflektansi medium gelas dan akrilik mengalami
peningkatan untuk nilai masing-masing tegak lurus akrilik dan gelas dengan
pengaruh dari sudut. Perbandingan antara nilai indeks bias gelas dan akrilik dapat
diketahui dari data yang diperoleh bahwa nilai reflektansi dari akrilik lebih besar
dari pada reflektansi pada gelas. Hal ini tentunya berpengaruh secara terbalik pada
nilai transmisivitas, dimana nilai transmisivitas akrilik lebih kecil dari pada cahaya
yang diteruskan pada gelas. Hal tersebutlah yang menyebabkan adanya perbedaan
pola polarisasi antara perlakuan pada kaca dan akrilik dalam eksperimen ini. Hal
ini dikarenakan akrilik dan gelas memiliki perbedaan komposisi bahan.
Hasil yang didapatkan pada percobaan hukum pemantulan fresnel yaitu sudut
brewster yang didapatkan dari nilai intensitas cahaya sinar HeNe yang lebih kecil
dari hasil yang diperoleh. Sudut Brewster dari percobaan yang didapatkan dari
sejajar gelas maupun akrilik untuk intensitas cahaya sinar HeNe dipengaruhi dari
sudut brewster sehingga diketahui nilai intensitas cahayanya. Sudut yang digunakan
sudut yang terkecil dari sejajar medium gelas maupun akrilik dengan variasi sudut
lebih kecil maupun lebih besar dari sudut aslinya. Pada akrilik terjadinya sudut
brewster pada sudut antar 540 dan 560. Diantara sudut tersebut hasil intensitas yang
didapatkan mengecil atau mendekati nol. Sedangkan pada gelas terjadinya sudut
brewster pada sudut 590, sudut tersebut menghasilkan intensitas 0 yang merupakan
hasil dari sudut brewster.
18

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari eksperimen hukum pemantulan fresnel sebagai berikut:
1. Pengaruh hubungan intensitas cahaya yang direfleksikan terhadap sudut sinar
datang yaitu ketika intensitas cahaya sinar HeNe semakin besar maka sudut
sinar datang semakin besar.
2. Perbandingan antara nilai indeks bias gelas dan akrilik dapat diketahui dari data
yang diperoleh bahwa nilai reflektansi dari akrilik lebih besar dari pada
reflektansi pada gelas.
3. Pada akrilik terjadinya sudut brewster pada sudut antar 540 dan 560, sedangkan
pada gelas terjadinya sudut brewster pada sudut 590.

5.2 Saran
Eksperimen Hukum Pemantulan Fresnel harus dilakukan dengan sangat teliti
pada saat mengamati nilai intensitas cahayanya, sehingga nilai yang didapatkan
sesuai dengan percobaan. Data yang diambil setiap eksperimen harus memiliki data
yang valid agar pengolahan data untuk data hasil dapat sesuai dengan teori. Ketika
praktikum diharapkan praktikan harus memahami betul modul agar praktikum
berjalan secara lancar.
19

DAFTAR PUSTAKA

Halliday,R. 1986. Fisika Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.

Halliday dan Resnik.1994. Fisika Jilid 2 Edisi 3. Jakarta:Erlangga.

Singh, S. 2002. Refractive Index Measurement and it Applications. Physica Scripta:


Gramedia

Soedojo, P. 1992. Asas-Asas Ilmu Fisika Jilid 4 Fisika Modern. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press.

Triya. 2011. Polarisasi Cahaya. Laboratoriom Eksperimen Fisika Fmipa Unesa.

Pedrath. 1993. Introduction to Optics. Tokyo : Prentice – Hall.

Sutini, 2003, Analisis Pola Difraksi Fraunhofer Untuk Menentukan Panjang


Gelombang Suatu Sumber Cahaya, Semarang: Skripsi S-1 FMIPA UNDIP.

Nurhayati. 2004. Study Persamaan Fresnel pada Cover Glass dan Alika. Semarang:
Universitas Diponegoro.

Tim penyusun. 2019. Buku Panduan Praktikum Eksperimen Fisika II. Jember:
Universitas Jember.
20

Lampiran 1. Akrilik Tegak Lurus


teta I I0 delta I I/I0 ukur teta rad cos teta sin^2 teta n1-2 n2/n1 R Ir/I0 D
15 38,00 38 0,10 1,00 0,262 0,966 0,067 1,490 1,486 -0,205 0,042 22,89
20 40,00 38 0,10 1,05 0,349 0,940 0,117 1,490 1,486 -0,212 0,045 22,40
25 43,00 38 0,10 1,13 0,436 0,906 0,178 1,490 1,486 -0,222 0,049 21,92
30 45,00 38 0,10 1,18 0,523 0,866 0,250 1,490 1,486 -0,235 0,055 20,40
35 46,00 38 0,10 1,21 0,611 0,819 0,329 1,490 1,486 -0,252 0,063 18,11
40 50,00 38 0,10 1,32 0,698 0,766 0,413 1,490 1,486 -0,272 0,074 16,76
45 52,00 38 0,10 1,37 0,785 0,707 0,500 1,490 1,486 -0,298 0,089 14,46
50 54,00 38 0,10 1,42 0,872 0,643 0,586 1,490 1,486 -0,329 0,108 12,15
55 58,00 38 0,10 1,53 0,959 0,574 0,671 1,490 1,486 -0,367 0,135 10,33
60 62,00 38 0,10 1,63 1,047 0,500 0,750 1,490 1,486 -0,414 0,171 8,53

Lampiran 2. Akrilik Sejajar


teta I I0 delta I I/I0 ukur teta rad cos teta sin^2 teta n1-2 n2/n1 R Ir/I0 D
15 18,00 18,00 0,1 1,00 0,262 0,966 0,067 1,520 1,515 -0,221 0,049 19,48
20 16,00 18,00 0,1 0,89 0,349 0,940 0,117 1,520 1,515 -0,233 0,054 15,36
25 15,00 18,00 0,1 0,83 0,436 0,906 0,178 1,520 1,515 -0,248 0,062 12,53
30 12,00 18,00 0,1 0,67 0,523 0,866 0,250 1,520 1,515 -0,266 0,071 8,40
35 10,00 18,00 0,1 0,56 0,611 0,819 0,329 1,520 1,515 -0,287 0,082 5,74
40 8,00 18,00 0,1 0,44 0,698 0,766 0,413 1,520 1,515 -0,311 0,097 3,59
45 6,00 18,00 0,1 0,33 0,785 0,707 0,500 1,520 1,515 -0,338 0,114 1,91
50 6,00 18,00 0,1 0,33 0,872 0,643 0,586 1,520 1,515 -0,370 0,137 1,44
52 5,00 18,00 0,1 0,28 0,907 0,616 0,621 1,520 1,515 -0,384 0,147 0,89
21

54 5,00 18,00 0,1 0,28 0,942 0,588 0,654 1,520 1,515 -0,398 0,159 0,75
56 6,00 18,00 0,1 0,33 0,977 0,560 0,687 1,520 1,515 -0,414 0,172 0,94
58 8,00 18,00 0,1 0,44 1,012 0,530 0,719 1,520 1,515 -0,431 0,186 1,39
60 10,00 18,00 0,1 0,56 1,047 0,500 0,750 1,520 1,515 -0,449 0,202 1,75

Lampiran 3. Gelas Tegak Lurus


I0 delta I I/I0 ukur teta rad cos teta sin^2 teta n1-2 n2/n1 R Ir/I0 D
2 0,1 1,00 0,262 0,966 0,067 1,490 1,486 1 1 0,00
2 0,1 2,00 0,349 0,940 0,117 1,490 1,486 1 1 1,00
2 0,1 2,00 0,436 0,906 0,178 1,490 1,486 1 1 1,00
2 0,1 4,00 0,523 0,866 0,250 1,490 1,486 1 1 3,00
2 0,1 6,00 0,611 0,819 0,329 1,490 1,486 1 1 5,00
2 0,1 8,00 0,698 0,766 0,413 1,490 1,486 1 1 7,00
2 0,1 11,00 0,785 0,707 0,500 1,490 1,486 1 1 10,00
2 0,1 14,00 0,872 0,643 0,586 1,490 1,486 1 1 13,00
2 0,1 20,00 0,959 0,574 0,671 1,490 1,486 1 1 19,00
2 0,1 25,00 1,047 0,500 0,750 1,490 1,486 1 1 24,00
2 0,1 28,00 1,134 0,423 0,821 1,490 1,486 1 1 27,00
2 0,1 34,00 1,221 0,343 0,883 1,490 1,486 1 1 33,00
2 0,1 37,00 1,308 0,259 0,933 1,490 1,486 1 1 36,00
2 0,1 39,00 1,396 0,174 0,970 1,490 1,486 1 1 38,00
2 0,1 40,00 1,483 0,088 0,992 1,490 1,486 1 1 39,00
2 0,1 42,00 1,570 0,001 1,000 1,490 1,486 1 1 41,00
22

Lampiran 4. Gelas Sejajar


teta I I0 delta I I/I0 ukur teta rad cos teta sin^2 teta n1-2 n2/n1 R Ir/I0 D
15 74,00 74,00 0,1 1,00 0,262 0,966 0,067 1,520 1,515 -0,195 0,03818 25,19
20 70,00 74,00 0,1 0,95 0,349 0,940 0,117 1,520 1,515 -0,188 0,03519 25,88
25 66,00 74,00 0,1 0,89 0,436 0,906 0,178 1,520 1,515 -0,177 0,03135 27,45
30 60,00 74,00 0,1 0,81 0,523 0,866 0,250 1,520 1,515 -0,163 0,02667 29,40
35 56,00 74,00 0,1 0,76 0,611 0,819 0,329 1,520 1,515 -0,146 0,02126 34,60
40 50,00 74,00 0,1 0,68 0,698 0,766 0,413 1,520 1,515 -0,124 0,01529 43,19
45 42,00 74,00 0,1 0,57 0,785 0,707 0,500 1,520 1,515 -0,096 0,00918 60,84
49 22,00 74,00 0,1 0,30 0,855 0,656 0,569 1,520 1,515 -0,068 0,00468 62,46
50 20,00 74,00 0,1 0,27 0,872 0,643 0,586 1,520 1,515 -0,061 0,00369 72,16
52 18,00 74,00 0,1 0,24 0,907 0,616 0,621 1,520 1,515 -0,044 0,00197 122,75
55 10,00 74,00 0,1 0,14 0,959 0,574 0,671 1,520 1,515 -0,017 0,00028 489,96
57 2,00 74,00 0,1 0,03 0,994 0,545 0,703 1,520 1,515 0,004 0,00002 1512,03
59 0,00 74,00 0,1 0,00 1,029 0,515 0,734 1,520 1,515 0,027 0,00074 -1,00
60 2,00 74,00 0,1 0,03 1,047 0,500 0,750 1,520 1,515 0,039 0,00156 16,35
65 10,00 74,00 0,1 0,14 1,134 0,423 0,821 1,520 1,515 0,111 0,01235 9,94
70 12,00 74,00 0,1 0,16 1,221 0,343 0,883 1,520 1,515 0,204 0,04145 2,91
75 20,00 74,00 0,1 0,27 1,308 0,259 0,933 1,520 1,515 0,324 0,10517 1,57
80 28,00 74,00 0,1 0,38 1,396 0,174 0,970 1,520 1,515 0,484 0,23439 0,61
85 36,00 74,00 0,1 0,49 1,483 0,088 0,992 1,520 1,515 0,700 0,48940 -0,01
90 45,00 74,00 0,1 0,61 1,570 0,001 1,000 1,520 1,515 0,997 0,99360 -0,39

Anda mungkin juga menyukai