Anda di halaman 1dari 6

Tugas Kelompok ke-3

(Minggu 8/Sesi 12)


TEAM 5

EUGINIA NATANIA PUTRI - 2201863514

FITRI MEGASARI - 2201865482

GRESCIA FLOWERINDAH - 2201863451

SARI RAHAYU SENTOSA MIHARDJA - 2201863590

SOFIA YULVA - 2201864845

JSEA

Buatlah sebuah deskripsi 1 halaman Font: Times New Roman, ukuran: 12, spasi: 1,5.

Kemajuan teknologi transportasi dan informasi telah mengakibatkan mobilitas sosial


horizontal antara sesama manusia dari berbagai bangsa sungguh tidak dapat dielakkan.
Bahkan dalam konteks Komunitas ASEAN ada sebuah kebijakan dalam bidang ekonomi
yang sangat terbuka yang disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kebijakan ini
memungkinkan masyarakat ASEAN yang memiliki keberagaman latar belakang dapat
melakukan mobilitas sosial horizontal untuk mendapatkan pekerjaan pada Negara-negara lain
di wilayah ASEAN dengan sangat mudah dan terbuka.

Setujukah Anda dengan terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN? Berikan alasan


jawaban Anda dengan lengkap.

Jawaban disertai referensi.

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Masyarakat ekonomi ASEAN adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN yaitu adanya
hubungan antar negara ASEAN dalam perdagangan bebas antara Negara-negara ASEAN.

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


Indonesia dan Sembilan Negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian
Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA ) atau ASEAN Economic Community ( AEC ).

Pada KTT di Kuala Lumpur pada tanggal 1997 para pemimpin ASEAN memutuskan untuk
mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dengan
perkembangan ekonomi yang adil, dan mengurangi kemiskinan di setiap Negara dan
kesenjangan sosial ekonomi ( ASEAN vision 2020 )

Pada sebuah konfrensi KTT yang di lakukan di Bali pada bulan oktober 2003, para pemimpin
ASEAN menyatakan bahwa masyarakat ekonomi ASEAN ( MEA ) akan menjadi tujuan dari
integrasi ekonomi regional pada tahun 2020, ASEAN security community ( perdamaian ) dan
komunitas sosial-budaya ASEAN ( social dan kebudayaan ) adalah dua pilar yang tidak
terpisahkan dari komunitas ASEAN. Dalam hal tersebut semua pihak diharapkan dapat
berkerja sama dalam segala hal khususnya dalam membangun komunitas ASEAN pada tahun
2020

Para pemimpin di setiap Negara telah menyepakati bahwa percepatan pembentukan ekonomi
ASEAN jatuh pada tahun 2015 dan untuk mengubah ASEAN menjadi daerah dengan
perdagangan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih
leluasa/bebas.

MEA diadakan dengan tujuan untuk menghilangkan hambatan yang mengganggu kegiatan
perekonomian lintas negara dalam kawasan ASEAN secara signifikan. Dalam praktiknya,
MEA diimplementasikan ke dalam empat pilar utama, yaitu:

1. Menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional (single
market and production base). Single market ini meliputi elemen aliran bebas barang,
jasa, investasi, tenaga kerja terdidik, dan aliran modal yang lebih bebas.
2. Mewujudkan ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi yang tinggi
(competitive economic region). Ekonomi daya saing tinggi ini harus memiliki
peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual,
pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan e-commerce.
3. Menciptakan ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata
(equitable economic development). Pengembangan ekonomi yang merata ini meliputi
elemen pengembangan usaha kecil dan menengah.

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


4. Menjadikan ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan
perekonomian global (integration into the global economy). Integrasi ini meliputi
elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan dan
meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.

Menurut pendapat kami, Dengan terbentuknya MEA memberi plus minus bagi Indonesia.
Mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang terbesar di Asia Tenggara dan
memiliki sumber daya alam (SDA) yang berlimpah dan potensial. Hal ini bisa dijadikan dasar
untuk menguasai pasar ASEAN jika didukung dengan produktivitas yang tinggi. MEA juga
dapat digunakan sebagai jembatan dalam membangun rantai suplai makanan dan bisa
menjadi perantara untuk melakukan kegiatan ekspor-impor dengan negara-negara non-
ASEAN. Namun dalam masalah ketenagakerjaan, Indonesia belum cukup kuat untuk
bersaing di MEA.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN

1. Dalam sektor perdagangan

Dengan terbentuknya MEA, segala hambatan perdagangan menjadi berkurang bahkan


tidak ada batasan. Karena adanya perdagangan bebas dimana tidak terbatas jarak dan
waktu. Tidak hanya itu, dengan dilaksanakannya MEA, terutama di indonesia, akan
terjadi peningkatan kapasitas ekspor produk lokal ke mancanegara dan meningkatkan
pemasokan devisa negara.

2. Dalam sektor investasi

Dengan adanya MEA ini bisa mendorong investasi. MEA memberikan akses lebih
mudah untuk para investor secara langsung dan tanpa hambatan dapat menjalankan
investasinya di berbagai sektor, terutama ekonomi. Selain itu, kehadiran MEA
menyebabkan semakin luas dan lebarnya peluang wirausaha yang kreatif dan inovatif.
Indonesia juga menjadi negara tujuan investor karena tingkat kebutuhan akan barang
dan jasa yang tinggi serta jumlah populasinya yang tinggi juga. Di bidang ini banyak
sekali para pengusaha yang melirik investasi, dan menanam modal di Indonesia.
Sebagai lahan investasi yang sangat potensial, masyarakat Indonesia bisa mengambil

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


kesempatan tersebut untuk memanfaatkan aliran modal asing dan meningkatkan
pendapatan Negara.

3. Dalam sektor ketenagakerjaan

Bidang ketenagakerjaan bagaikan memiliki 2 mata pisau. Dengan adanya


MEA, masyarakat akan meningkatkan kualitas serta keterampilan pribadi agar dapat
bersaing dengan masyarakat dari negara ASEAN lainnya. MEA menjadi kesempatan
yang sangat bagus bagi tenaga kerja Indonesia dalam mendapatkan pekerjaan karena
kehadiran MEA akan membuka negara-negara lain di Asia Tenggara untuk menerima
tenaga kerja dari Indonesia.

Bagi pengusaha, MEA bisa menjadi jalan bagi mereka untuk bisa merekrut tenaga
kerja berkualitas untuk lebih meningkatkan value dari perusahaan mereka. Tentunya
diharapkan kualitas output-nya menjadi meningkat. Para perekrut tenaga kerja
tentunya menginginkan orang-orang profesional yang ahli dalam bidangnya.
Sayangnya, dilihat dari segi pendidikan dan produktivitas, Indonesia masih kalah
dengan tenaga kerja dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Aspek mobilitas pekerja kurang berpengaruh dalam berbagai perjanjian perdagangan


bebas yang melibatkan Indonesia dikarenakan Mobilitas pekerja pada MEA terbatas
pada pekerja terampil (skilled workers) dan terdidik. Dimana masih banyak pekerja
di Indonesia tergolong tidak terampil dan juga kebanyakan tenaga Indonesia masih
berpendidikan rendah. Kualitas yang kurang mampu bersaing ini menjadi boomerang
dalam MEA yang hanya membolehkan mobilitas pekerja terampil dan terdidik. Dan
juag dengan masuknya pekerja terdidik dan terampil dari luar negeri ke dalam
perekonomian domestik akan mendesak pekerja lokal ke luar atau ke sektor lain yang
kurang menguntungkan. Hal ini pada gilirannya akan menyebabkan semakin
tingginya ketimpangan sosial yang terjadi.

Karena Kurangnya keterampilan dan pendidikan akan menyebabkan mereka


menganggur dalam waktu lama, atau masuk ke sektor informal yang memberikan
upah dan perlindungan yang minim. Bisa kita lihat dari TKI atau TKW yang ada.
Tentu, pembukaan mobilitas pekerja seperti di atas terdapat banyak kendala,
Sebagaimana yang bisa lihat dari berbagai pemberitaan negatif terhadap pekerja

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


Indonesia di luar negeri. Sebagian besar persoalan ini disebabkan oleh perbedaan
budaya dan pengalaman berinteraksi. Selain itu, mobilitas pekerja antarnegara secara
penuh juga akan menyebabkan distribusi pekerja yang tidak merata. Pekerja akan
cenderung bergerak ke negara yang lebih maju, yang menawarkan kompensasi lebih
tinggi.

Maka dari itu, kami setuju dengan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN karena
bisa membuka peluang bagi Indonesia. Namun terkait dengan mobilitas tenaga kerja
yang di MEA, bisa diakali dengan upaya peningkatan dalam sektor pendidikan dan
keterampilan bagi tenaga kerja . Untuk konteks ASEAN, bisa dilakukan pembolehan
mobilitas tenaga kerja kurang terampil dan terdidik , dan juga pengaturan tingkat
upah.

Referensi:
https://www.kompasiana.com/rezanovandar/580290de29b0bd9f158b4567/masyarakat-
ekonomi-asean?page=all

https://www.gurupendidikan.co.id/masyarakat-ekonomi-asean-pengertian-tujuan-kesiapan/

https://ekonomi.kompas.com/read/2010/03/05/05375594/Mobilitas.Pekerja.dan.Perdagangan.
Bebas?page=all.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/334440/hadapi-mea-indonesia-surplus-tenaga-kerja-
tidak-terampil

https://news.okezone.com/read/2016/05/20/65/1393594/penyebab-tenaga-kerja-indonesia-
kalah-saing

https://www.cermati.com/artikel/dampak-krusial-mea-bagi-indonesia

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


CHAR6019 – Character Building: Pancasila

Anda mungkin juga menyukai