Anda di halaman 1dari 11

JURNAL

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SCIENCE, ENVIRONMENT,


TECHNOLOGY AND SOCIETY (SETS) DAN SCIENCE, TECHNOLOGY AND SOCIETY
(STS) TERHADAP PENINGKATAN LITERASI SAINS SISWA SMA NEGERI 4 KUPANG

OLEH

REZKI AFIFAH
NIM. 1501050038

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2019
Penerapan Model Pembelajaran Science,
Environment, Technology and Society (SETS) dan
Science, Technology and Society (STS) Terhadap
Peningkatan Literasi Sains Siswa SMA Negeri 4
Kupang
ABSTRAK
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SCIENCE, ENVIRONMENT, TECHNOLOGY
AND SOCIETY (SETS) DAN SCIENCE, TECHNOLOGY AND SOCIETY (STS) TERHADAP
PENINGKATAN LITERASI SAINS SISWA SMA NEGERI 4 KUPANG

Rezki Afifah*1; Fakhruddin2; Marsi D. S. Bani3


*1
Mahasiswa Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNDANA
2,3
Dosen Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNDANA

Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain penelitian randomised
gropu comparison design yang dilaksanakan di SMA Negeri 4 Kupang. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui adanya perbedaan literasi sains siswa antara siswa yang diajar menggunakan
model pembelajaran Science, Environment, Technology and Society (SETS) dengan siswa yang diajar
menggunakan model pembelajaran Science, Technology and Society (STS), serta mengetahui
peningkatan literasi sains siswa yang menggunakan model pembelajaran SETS lebih tinggi daripada
siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran STS.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 4 Kupang,
dengan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling yaitu siswa kelas XI
MIA2 yang berjumlah 36 siswa sebagai kelas eksperimen 2 yang diajar menggunakan model
pembelajaran STS, sedangkan siswa kelas XI MIA3 yang berjumlah 35 siswa sebagai kelas
eksperimen 1 menggunakan model pembelajaran SETS.
Kemampuan literasi sains siswa dalam penelitian ini diperoleh dari instrumen tes soal literasi
sains. Aspek literasi sains siswa yang diteliti meliputi mengidentifikasi isu atau permasalahan ilmiah,
menjelaskan fenomena ilmiah dan menggunakan bukti ilmiah. Berdasarkan hasil analisis data
menggunakan uji-t diperoleh bahwa terdapat perbedaan peningkatan literasi sains siswa yang
signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran SETS dengan siswa yang
diajar menggunakan model pembelajaran STS yang dibuktikan dengan thitung = 3,664 > ttabel = 1,66724
pada taraf signifikan 0,05%, dan kemampuan literasi sains siswa yang diajar menggunakan model
pembelajaran SETS lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran STS
yang dibuktikan dengan thitung = 3,664 > ttabel = 1,832 pada taraf signifikan 0,05%.

Kata kunci: Science, Environment, Technology and Society, Science, Technology and Society, dan
literasi sains.
ABSTRACT
APPLICATION OF SCIENCE, ENVIRONMENT, TECHNOLOGY AND
SOCIETY (SETS) AND SCIENCE, TECHNOLOGY AND SOCIETY (STS) LEARNING
MODELS ON THE ABILITY OF SCIENCE LITERATION OF SMA NEGERI 4 KUPANG

Rezki Afifah* 1 ; Fakhruddin2 ; Marsi D. S. Bani3


*1
Student of Physics Education, Teacher Training and Education Faculty, UNDANA
2.3
Lecturers of Physics Education, Teacher Training and Education Faculty, UNDANA

This research is a quasi study experiment with the design of the randomised group
comparison design conducted at Kupang State High School 4. The purpose of this study was to
determine the differences in students' scientific literacy between students taught using the learning
model of Science, Environment, Technology and Society (SETS) with students taught using the
learning model of Science, Technology and Society (STS) , as well as knowing k Capacity
of scientific literacy of students using model SETS is higher than students taught using
the STS learning model .
The population in this study were all students of class XI MIA Kupang SMA Negeri 4, with
sampling using simple random sampling technique that is Class XI MIA2 totaling 36 students as the
experiment 2 class being taught using model STS, while the students of class X I MIA3 totaling 35
students as a class experiment 1 using model SETS.
Students' scientific literacy skills in this study obtained from the test
instrument about scientific literacy. The scientific literacy aspects of the students studied include
identifying scientific issues or problems, explaining scientific phenomena and using scientific
evidence. Based on the results of data analysis using the t-test obtained that there are significant
differences in students' scientific literacy skills between students taught using the SETS learning
model with students taught using the STS learning model as evidenced by t count = 3, 664 >
t table 24 = 1.667 at significant level of 0.05%, and k Capacity of scientific literacy of students taught
using learning model SETS higher than students taught using the STS learning model which is proven
by t count = 3, 664 > t table = 1, 832 at a significant level of 0.05% .

Keywords : Science, Environment, Technology and Society , Science, Technology and Society, and
science literacy.

PENDAHULUAN memahami akibatnya bagi lingkungan,


Bangsa yang maju ditandai dengan kehidupan sosial, dan masa depan bumi.
masyarakat yang literat, memiliki peradaban Beberapa contoh yang menggambarkan
tinggi, dan aktif memajukan masyarakat dunia. rendahnya literasi sains bangsa Indonesia seperti
Keberliterasian yang dimaksud yakni bagaimana pemanfaatan bahan-bahan kimia tanpa
warga bangsa memiliki kecakapan hidup agar memahami dampak pemakaiannya terhadap
mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa lingkungan dan kehidupan sosial. Pada
lain untuk menciptakan kesejahteraan bagi dunia. lingkungan pendidikan rendahnya literasi sains
Seiring berjalannya waktu permasalahan yang dilihat dari sering didapati adanya sampah yang
sekarang dihadapi adalah manusia sering tidak dibuang pada tempatnya oleh siswa.
memanfaatkan sains dan teknologi yang Permasalahan tersebut disebabkan karena siswa
dimilikinya dengan mengeksploitasi alam tanpa belum dapat mengintegrasikan pengetahuan sains
yang dimiliki ke dalam kehidupan nyata,
kurangnya upaya dari guru dalam
mengembangkan dan melatih literasi sains siswa, Sehingga siswa memiliki kemampuan
kurangnya penggunaan model yang efektif dan menyelesaikan masalah menggunakan konsep-
kreatif untuk membangun motivasi dan konsep sains yang diperoleh dalam pendidikan,
partisipasi siswa untuk belajar atau pembelajaran mengenal produk teknologi yang ada di
yang cenderung bergantung kepada konsep buku sekitarnya, dampak dari penggunaan teknologi,
bacaan dan tidak terkait dengan kehidupan mampu menggunakan dan memelihara teknologi
sehari-hari siswa, sehingga sebagian siswa serta mengambil keputusan sesuai dengan nilai
memiliki kesulitan untuk memahami konsep- dan budaya yang berlaku. Alur model
konsep sains yang berhubungan dengan pembelajaran SETS menurut Del Rosario
kehidupan sehari-hari sehingga menyebabkan (Suranto 2016:19) terdiri dari: pendahuluan
literasi sains siswa menjadi rendah. apersepsi, mengajukan pertanyaan, memfasilitasi
Literasi merupakan kunci utama untuk diskusi, membuat hipotesis dan melakukan
menghadapi berbagai tantangan untuk percobaan, mempresentasikan hasil, analisis dan
membentuk pola pikir, perilaku, dan membangun evaluasi dan melakukan tindakan.
karakter manusia untuk peduli dan bertanggung Model pembelajaran STS menurut
jawab terhadap dirinya, masyarakat, dan alam Poedjiadi (2010:123), yaitu “Model
semesta. Oleh karena itu untuk membangun pembelajaran sains teknologi masyarakat yang
budaya literasi di Indonesia pada tahun 2016, mengaitkan antara sains dan teknologi serta
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan manfaat bagi masyarakat. Alur model
(Kemendikbud) menggiatkan Gerakan Literasi pembelajaran STS menurut Poedjiadi (2005)
Nasional (GLN). Pelibatan lingkungan terdiri dari: pendahuluan apersepsi, pembentukan
pendidikan dalam GLN diharapkan menjadi atau pengembangan konsep, aplikasi konsep,
pendukung untuk berperan aktif dalam pemantapan konsep dan penelitian.
menumbuhkan budaya literasi sains siswa. Berdasarkan latar belakang yang
Model pembelajaran yang cocok dikemukakan, penulis tertarik untuk melakukan
digunakan untuk mengembangkan literasi sains penelitian tentang penerapan model
adalah yang meliputi sains, lingkungan, pembelajaran SETS dan STS untuk
teknologi dan masyarakat. Adapun kedua model meningkatkan kemampuan literasi sains siswa.
pembelajaran tersebut adalah model Penelitian dilakukan dengan mengangkat judul
pembelajaran Science, Environment, Technology “Penerapan Model Pembelajaran SETS dan STS
and Society (SETS) dan Science, Technology and Terhadap Peningkatan Literasi Sains Siswa SMA
Society (STS). Negeri 4 Kupang”
Model pembelajaran SETS merupakan
pengembangan dari model pembelajaran STS. METODE
Pada model pembelajaran SETS, materi yang Desain penelitian ini merupakan penelitian
diajarkan tidak terlepas dari ciri IPA yaitu quasi eksperimen dengan desain penelitian ”
proses, sikap ilmiah dan produk, tetapi juga Randomisez Pretest-Posttest Comparison Group
berorientasi pada teknologi yang bermanfaat dan Design” yang digambarkan seperti pada Tabel 1
berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.
Definisi SETS menurut the NSTA Position Tabel 1 Desain penelitian
Statement (Kuswati, 2004:11), adalah
memusatkan permasalahan dari dunia nyata yang Sampel Pre test Perlakuan Post test
memiliki komponen sains dan teknologi dari I T1 X1 T2
perspektif siswa, selanjutnya siswa diajak untuk II T1 X2 T2
menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan Jahil (Tungga, 2019:45)
konsep dan proses itu pada situasi yang nyata.
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang
Untuk meningkatkan literasi sains siswa di
samping memperluas wawasan siswa serta dapat masing-masing dipilih secara random. Kelompok
memahami kegunaan dan kebutuhan masyarakat pertama diberi perlakuan X1 disebut dengan
dengan pembelajaran sains dengan teknologi. kelompok eksperimen 1, sedangkan kelompok
lain yang tidak diberi perlakuan disebut menggunakan model pembelajaran
kelompok eksperimen 2. Hasil pretest kedua STS.
kelas adalah T1 dan hasil post-test kedua kelas Kriteria pengujiaan jika nilai signifikansi (p-
adalah T2. Analisis data yang digunakan untuk value) > 0,05 maka Ho diterima.
menguji hipotesis penelitian 1 dan 2 adalah Sebaliknya jika nilai signifikansi (p-
Independent Sample t Test program SPSS v.25 value) < 0,05 maka Ho ditolak. Atau
dengan taraf signifikansi 5% dengan uji t dua jika thitung < ttabel, maka Ho diterima
pihak dan uji t satu pihak (1-tailed) yaitu uji dimana ttabel diperoleh dari daftar
pihak kanan. distribusi t dengan dk = (n1+n2 – 2)
Uji Hipotesis 1 dan signifikansi (0,05). Untuk harga
Hipoteis penelitian t lainnya Ho ditolak.
H0 : 1 = 2 : Tidak terdapat perbedaan Hasil Penelitian
peningkatan kemampuan literasi Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI
sains siswa yang signifikan antara IPA SMA Negeri 4 Kupang, dengan kelas XI
siswa yang diajar mengunakan IPA2 sebagai kelas eksperimen 2 dan kelas XI
model pembelajaran SETS dengan IPA3 sebagai kelas eksperimen 1. Penelitian ini
siswa yang diajar menggunakan untuk mengetahui kemampuan literasi sains
model pembelajaran STS
siswa dalam proses pembelajaran dengan
Ha : 1  2 :Terdapat perbedaan peningkatan
kemampuan literasi sains siswa menggunakan model SETS untuk kelas
yang signifikan antara siswa yang eksperimen 1 dan model pembelajaran STS untuk
diajar mengunakan model kelas eskperimen 2.
pembelajaran SETS dengan siswa Data yang dikumpulkan berupa hasil tes
yang diajar menggunakan model keterampilan literasi sains siswa berupa uraian
pembelajaran STS sebanyak 9 soal pada pokok bahasan pemanasan
Kriteria pengujian jika nilai signifikansi (p-
Global. Sebelum uji hipotesis, dilakukan uji
value) > 0,05 maka Ho diterima.
Sebaliknya jika nilai signifikansi normalitas dan homogenitas menggunakan SPSS
(p-value) < 0,05 maka Ho ditolak. v.25. Berdasarkan data yang diperoleh
Atau jika –ttabel < thitung < ttabel, didapatkan pre test untuk kelas eksperimen 1
maka Ho diterima, dimana ttabel adalah 0,189 dan kelas eksperimen 2 0,240
diperoleh dari daftar distribusi t signitifikasinya lebih besar dari 0,05 sehingga
dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan kedua kelas tersebut berdistribusi normal. Dan
signifikansi (0,05). Untuk harga-
harga t lainnya Ho ditolak. berdasarkan hasil analisis diperoleh 0,932 lebih
Uji Hipotesis 2 besar dari 0,05 sehingga data tersebut homogen.
Hipoteis penelitian Data kemampuan literasi sains dilihat pada
H0:1  2 : Kemampuan literasi sains siswa yang Gambar 1.
diajar dengan menggunakan model
pembelajaran SETS lebih rendah atau
sama dengan siswa yang diajar
menggunakan model pembelajaran
STS
Ha:1>2: Kemampuan literasi sains siswa yang
diajar dengan menggunakan model
pembelajaran SETS lebih tinggi
daripada siswa yang diajar
eksperimen 2, sehingga dapat disimpulkan
Perbandingan Peningkatan Nilai kelas
Eksperimen dan Eksperimen 2 bahwa model pembelajaran SETS dapat
meningkatkan kemampuan literasi sains siswa
40
kelas XI MIA di SMAN 4 Kupang.
30
Berdasarkan hasil analisis menggunakan
20 SPSS v.25, diperoleh thitung sebesar 3,664 dengan
Sig.(1-tailed) sebesar 0,000 yang dengan
10
membagi dua nilai Sig(2-tailled). Dengan
0 menetapkan taraf signifikan 5% (0,05) dengan
Identifikasi Isu Menjelaskan Menggunakan
Fenomena Bukti Ilmiah
derajat kebebasan (df) 69, maka diperoleh ttabel
one tailed sbesar 1,832. Dengan demikian thitung>
Eksperimen Kontrol ttabel, dan nilai Sig(1-tailed) < 0,05. Maka
Gambar 1. Diagram Persentase Kemampuan Literasi hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif
Sains Siswa (Ha) diterima, yang memberikan kesimpulan
bahwa literasi sains siswa yang diajar dengan
Gambar 1 menunjukan bahwa presentase menggunakan model pembelajaran SETS lebih
kemampuan literasi sains siswa kelas eksperimen tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan
model pembelajaran STS.
1 lebih baik dibandingkan dengan kelas
PEMBAHASAN
eksperimen 2.
Hasil analisis data literasi sains siswa
Data kemampuan literasi sains siswa untuk setiap indikator setelah diberikan
yang digunakan dalam uji hipotesis pada sampel perlakuan mengalami peningkatan pada kelas
adalah hasil posttest yang dilakukan setelah eksperimen 1. Untuk indikator pertama yaitu
kegiatan belajar mengajar. Hasil uji statistik mengidentifikasi isu atau permasalahan ilmiah,
untuk hasil posttest dapat dilihat pada Tabel 2. pada kelas eksperimen 1 terjadi peningkatan
setelah diberikan perlakuan sebesar 11,07%,
Nilai Kelas N Mean
pada indikator kedua menjelaskan fenomena
ilmiah terjadi peningkatan sebesar 35,27% dan
Eksperimen 1 35 80,17
KPS pada indikator ketiga terjadi peningkatan sebesar
Eksperimen 2 36 71,58
35,18%. Hasil ini bersesuaian dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan Trihastuti (2017)
Tabel 2 menunjukkan bahwa skor rata-rata dan Acesta (2017). Menurut Trihastuti terdapat
post-test literasi sains siswa kelas eksperimen 1 pengaruh positif dari penerapan model
lebih baik dibandingkan dengan kelas pembelajaran SETS terhadap literasi sains siswa
eksperimen 2. Untuk lebih menguatkan SMP pada tema pencemaran air. Dan menurut
pernyataan tersebut perlu dilakukan analisis Acesta terdapat peningkatan perkembangan
kemampuan literasi sains mahasiswa yang lebih
terhadap hasil analisis skor keterampilan proses
tinggi dibandingkan dengan pembelajaran
sains siswa menggunakan Independent Sample metode konvensional dalam konsep
T-test. pembelajaran konsep dasar IPA.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan, Pada kelas eksperimen 2 terjadi
hasil pengujian dengan meggunakan t-test peningkatan sebesar 5,32% pada indikator
diperoleh nilai t pada equal variances assumed pertama yaitu mengidentifikasi isu atau
permasalahan ilmiah. Untuk indikator yang
sebesar 3,664 dengan signifikansi 2 tailed dan 1-
kedua yaitu menjelaskan fenomena ilmiah terjadi
tailed sebesar 0,000. Nilai Sig.0,000 < 0,05 peningkatan sebesar 34,3%. Untuk indikator
sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini yang ketiga yaitu menggunakan bukti ilmiah
berarti skor rata-rata literasi sains siswa kelas terjadi peningkatan sebesar 32,85%. Hasil ini
eksperimen 1 lebih tinggi daripada kelas bersesuaian dengan Lestari (2016) dan Sidi
(2014). Menurut Lestari terjadi peningkatan hasil keingintahuan siswa, maka siswa bertanggung
belajar fisika siswa kelas VIII SMP pada materi jawab penuh untuk mencari tahu jawaban atas
alat-alat optik. Dan menurut Sidi (2014) adanya permasalahan yang dihadapinya dalam bahan
peningkatan aktivitas dan sikap siswa terhadap ajar maupun media yang dia miliki dengan cara
pembelajaran dengan berbantuan media. eksplorasi dengan berbagai macam sumber.
Hal ini menggambarkan bahwa Siswa dapat leluasa mengeksplorasi dengan aktif
peningkatan literasi sains siswa pada kelas dan mendorong mengamati berbagai gejala alam
eksperimen 1 setelah perlakuan model serta mengamati objek pada praktikum nantinya.
pembelajaran SETS dan kelas eksperimen 2 Dari hal tersebut siswa kemudian dapat
setelah perlakuan model pembelajaran STS merumuskan sendiri hipotesis atas permasalahan
secara umum meningkat. Tetapi jika dilihat dari dan melakukan praktikum ataupun diskusi untuk
angka peningkatan literasi sainsnya, maka siswa memecahkan permasalahan. Setelah melakukan
kelas eksperimen 1 dengan perlakuan model praktikum atau diskusi, siswa kemudian
pembelajaran SETS lebih tinggi dibandingkan melakukan presentasi. Setelahnya barulah guru
dengan penigkatan yang diajarkan dengan model melakukan evaluasi terhadap hasil presentasi
pembelajaran STS yaitu siswa kelas eksperimen siswa dan menjelaskan materi yang kurang atau
2. Perbedaan peningkatan untuk setiap indikator belum tersampaikan dengan baik. Dengan
pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 demikian pembelajaran yang terjadi berpusat
menunjukkan selisih yang tidak besar. Pada pada siswa (student center). Pengetahuan yang
indikator mengidentifikasi isu atau permasalahan dimilikinya akan jadi lebih bermakna karena
ilmiah, selisih kedua kelas sebesar 5,95%. Pada ditemukannya sendiri sehingga diharapkan siswa
indikator yang kedua yaitu menjelaskan dapat lebih bertanggungjawab atas pengetahuan
fenomena ilmiah, selisih kedua kelas sebesar yang dimilikinya yang mampu diterapkan dalam
0,97%. Untuk indikator yang ketiga yaitu kehidupan sehari-hari.
menggunakan bukti ilmiah, selisih kedua kelas Selama penerapan model pembelajaran
sebesar 2,33%. SETS, siswa didorong untuk mengidentifikasi isu
Rata-rata kenaikan indikator literasi sains atau permasalahan yang diamati dalam
terbesar terjadi pada indikator pertama baik pada kehidupan sehari-hari. Siswa diajak untuk
kelas eksperimen 1 maupun eksperimen 2. Hal mencari tahu kebenaran atas jawaban yang
ini disebabkan karena setelah masing-masing dikemukakan dengan membaca literatur, buku
kelas menerima apersepsi terdapat perbedaan dan sumber bacaan lainnya untuk mendukung
dalam mendapatkan informasi. Pada kelas pendapatnya menjelaskan fenomena ilmiah yang
eksperimen 2 yang diajarkan menggunakan terjadi. Ketika siswa melakukan diskusi atau
model pembelajaran STS, pengetahuan yang percobaan, siswa mencari tahu sendiri jawaban
diperoleh siswa cenderung diberikan oleh guru dari isu atau permasalahan yang terjadi sehari-
sehingga tidak ada proses eksplorasi yang terjadi hari, sehingga dapat menjelaskan fenomena
dalam diri siswa. Pembelajaran akan menjadi ilmiah. Kemudian siswa dilatih untuk
monoton karena kegiatan cenderung berpusat menggunakan bukti ilmiah yang dilakukan
pada guru (teacher center) sehingga dalam tahap menganalisis data yang diperoleh
pembelajaran yang diterima kurang bermakna. dari hasil diskusi atau percobaan.
Penyampaian yang demikian menyebabkan pada Pada kelas eksperimen 1 indikator literasi
saat melakukan percobaan siswa tidak lagi sains yaitu mengidentifikasi isu atau
merumuskan hipotesisnya sendiri namun sudah permasalahan ilmiah masuk pada tahap
terpaku pada penjelaskan guru. pendahuluan apresepsi yang dapat meningkatkan
Indikator mengidentifikasi isu atau literasi sains. Pada tahap pendahuluan apresepsi
permasalahan ilmiah indikator yang memiliki disajikan suatu permasalahan lingkungan dan
rata-rata yang tertinggi. Hal ini terjadi pada kelas teknologi yang berhubungan dengan
eksperimen 1 yang diajarkan menggunakan permasalahan lingkungan tersebut. Penyajian
model pembelajaran SETS. Setelah dilakukan permasalahan kepada siswa dilakukan dalam
pendahuluan yang bertujuan merangsang bentuk video. Siswa dilibatkan pada aktifitas
penggalian informasi secara individu. Siswa pada awal pembelajaran sehingga siswa kurang
memberikan hipotesis awal sebagai bentuk menggali informasi mengenai permasalahan
tanggapan dari pertanyaan atau permasalahan yang dipaparkan. Indikator menjelaskan
yang dilihatnya dari video yang diamati sehingga fenomena ilmiah masuk pada tahap aplikasi
siswa memiliki gambaran tentang konsep yang konsep. Pada tahap ini siswa diminta untuk
akan dipelajari. berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan.
Jawaban merupakan hasil pemikiran Indikator menggunakan bukti ilmiah masuk pada
individual siswa dari pengetahuannya sendiri, tahap pemantapan konsep. Pada tahap ini siswa
yang tergantung pada keluasan dan kedalaman mengemukakan hasil analisis dalam
pengetahuan dan pengalaman peserta dalam percobaannya.
kegiatannya sehari-hari dan pandangan siswa ke Didapatkan nilai literasi sains siswa pada
depan. Pada tahap memfasilitasi diskusi siswa kedua kelas memiliki rata–rata yang berbeda,
diajak untuk berpikir kritis dan ketrampilan yang dibuktikan melalui uji hipotesis pertama
membacanya. Dengan membaca sumber-sumber berupa uji-t dua pihak (independent sample t-test
yang diberikan yang terkait langsung dengan two tailed). Berdasarkan hasil analisis, nilai thitung
masalah yang diberikan atau hanya sebagai (3,664) > ttabel (1,66724), dan p-value(Sig.)
pendukung yang dapat membawa siswa pada <0,05, sehingga keputusannya adalah menolak
pemikiran-pemikiran baru untuk menjawab Ho dan hipotesis alternatif (Ha) yang diterima,
masalah-masalah. Selanjutnya, siswa diberi yang memberikan kesimpulan bahwa terdapat
kesempatan untuk memperbaiki hasil pemikiran perbedaan peningkatan literasi sains siswa yang
awalnya. Pada tahap ini siswa diuji tingkat signifikan antara siswa yang diajar mengunakan
keterbukaan berpikirnya dengan model pembelajaran SETS dengan siswa yang
mempertimbangkan masukan informasi tertulis, diajar menggunakan model pembelajaran STS.
guru atau fasilitator. Berdasarkan hasil analisis menggunakan
Indikator literasi sains yaitu menjelaskan SPSS v.25, diperoleh thitung sebesar 3,664 dengan
fenomena ilmiah masuk pada tahap membuat Sig.(1-tailed) sebesar 0,000 yang dengan
hipotesis dan percobaan. Siswa kemudian dibagi membagi dua nilai Sig(2-tailled). Dengan
dalam beberapa kelompok. Dalam kelompok, menetapkan taraf signifikan 5% (0,05) dengan
siswa diminta dalam kelompoknya untuk derajat kebebasan (df) 69, maka diperoleh ttabel
membandingkan hasil-hasil pemikirannya one tailed sbesar 1,832. Dengan demikian thitung>
dengan pemikiran kelompok yang diharapkan ttabel, dan nilai Sig(1-tailed) < 0,05. Maka
terdapat kesepakatan yang diwujudkan dalam hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif
hasil pemikiran kelompok untuk menjawab (Ha) diterima, yang memberikan kesimpulan
permasalahan yang diberikan. bahwa literasi sains siswa yang diajar dengan
Indikator literasi sains yaitu menggunakan menggunakan model pembelajaran SETS lebih
bukti ilmiah masuk pada tahap tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan
mempresentasikan hasil. Dimana hasil pemikiran model pembelajaran STS.
kelompok dituliskan pada lembar kegiatan Dari hasil penelitian yang dilakukan dan
sendiri untuk dipresentasikan, juga diminta untuk hasil analisis data menunjukkan bahwa model
dituliskan dalam kertas post it untuk ditempel pembelajaran SETS dan model pembelajaran STS
pada papan atau bidang tempel yang disediakan. dapat meningkatkan kemampuan literasi sains
Kemudian setiap kelompok melakukan siswa. Namun kemampuan literasi sains siswa
perbandingan antar pemikiran kelompok dengan akan lebih tinggi ketika diajar menggunakan
membaca hasil pemikiran kelompok lain. model pembelajaran SETS. Hal ini disebabkan
Sedangkan pada kelas eksperimen 2, karena pada model pembelajaran SETS siswa
indikator mengidentifikasi isu atau permasalahan dituntut dan dimotivasi untuk mencari tahu
ilmiah masuk pada tahap pendahuluan. Guru sendiri jawaban atas permasalahan yang
memberikan permasalahan dengan menyajikan diberikan sehingga pikiran siswa terarah dan
video pembelajaran. Siswa dibebaskan membuat siswa antusis untuk mengidentifikasi isu atau
hipotesis bersama teman, materi diberikan guru permasalahan ilmiah yang diberikan. Dengan
adanya minat untuk mengidentifikasi maka 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
siswa juga akan tertarik untuk lebih memahami dalam penerapan model pembelajaran
materi yang diberikan dengan berbagai cara SETS dengan media pembelajaran dan
seperti melakukan diskusi kelompok atau menggunakan pokok bahasan lain.
melakukan percobaan sederhana untuk 4. Perlu dilakukan penelitian mengenai faktor
menjelaskan fenomena. Dengan adanya integrasi lain yang dapat memberikan dampak atau
antara tiap kelompok juga membantu dalam pengaruh langsung terhadap kemampuan
penguatan materi yang diajarkan. literasi sains siswa seperti metode
Sedangkan pada model pembelajaran STS pembelajaran, cara belajar siswa, dan
siswa tidak dituntut untuk mencari tahu masalah respon siswa.
dan solusinya didalam kelompok yang
menyebabkan beberapa individu mengandalkan DAFTAR PUSTAKA
individu yang lain sehingga siswa kesulitan Abdullah, S. R. 2014. Pembelajaran Saintifik
dalam mencari menjelaskan fenomena ilmiah Untuk Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi
sendiri. Ketika siswa kesulitan menjelaskan Aksara
fenomena ilmiah yang terjadi, maka siswa akan Acesta, Arrofa. 2017. Upaya Mengembangkan
kesulitan dalam memahami materi yang Literasi Sains Menggunakan Model SETS
dipelajari. (Science, Environment, Technology and
Berdasarkan hal inilah akan terlihat jelas Society) dalam pembelajaran konsep
bahwa kemampuan literasi sains siswa yang IPA. Kuningan : Universitas Kuningan
diajarkan menggunakan model pembelajaran Achmad, Maulana. 2016. Penerapan Model
SETS lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan Pembelajaran Levels Of Inquiry (LoI)
menggunakan model pembelajaran STS. Untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa
SMA Pada Materi Fluida Statis. Bandung
Kesimpulan : Universitas Pendidikan Indonesia
Berdasarkan hasil analisis data dan Anggrayni, Yessi. 2011. Faktor-Faktor Yang
pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa : Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa
1. Terdapat perbedaan peningkatan literasi Dalam Mengikuti Pelajaran Pengawetan
sains yang signifikan antara siswa yang Di Smk Negeri 1 Pandak, Bantul, D.I.
diajar mengunakan model pembelajaran Yogyakarta (Studi Kasus SMK Negeri 1
SETS dengan siswa yang diajar Pandak Kelas X Teknologi Hasil
menggunakan model pembelajaran STS Pertanian 1). Yogyakarta : Universitas
dengan thitung = 3,664 > ttabel = 1,66724 Negeri Yogyakarta
pada taraf signifikan 0,05%. Broom, Glen M. 2005. Effective Public Relations
2. Literasi sains siswa yang diajar dengan (8 ed.). Jakarta: PT Indeks Kelompok
menggunakan model pembelajaran SETS Gramedia.
lebih tinggi daripada siswa yang diajar DeBoer, George. 2000. Scientific literacy:
menggunakan model pembelajaran STS, another look at its historical and
dibuktikan dengan thitung = 3,664 > ttabel = contemporary meanings and its
1,832 pada taraf signifikan 0,05%. relationship to science education reform.
Saran Journal of Research in Science Teaching
Berdasarkan kesimpulan tersebut maka Guilford, J.P. 1956. Fundamental Statistic in
dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut : Psychology and Education. 3rd Ed. New
1. Membutuhkan management waktu yang York: McGraw-Hill Book Company, Inc.
baik agar tiap sintaks model pembelajaran Holbrook, J., & Rannikmae, M. 2009. The
dalam terlaksana dengan maksimal. Meaning of Scientific Literacy. International
2. Kegiatan percobaan efek rumah kaca Journal of Environmental & Science Education.
sangat bergantung pada cuaca, sehingga Isnaini, Nurul. 2016. Keefektifan Model
perlu dicari alternatif percobaan efek Pembelajaran Science, Environment,
rumah kaca yang lainnya. Technology, Society Terhadap Hasil
Belajar IPA Siswa Kelas V SDN Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan
Karanganyar 02 Kota Semarang. Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan
Semarang : Universitas Negeri Semarang R&D. Bandung : Alfabeta
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Sumartati, L. 2010. Pembelajaran IPA berbasis
Materi Pendukung Literasi Sains. Jakarta : Scientific and Technological Literacy
Kemendikbud (STL). Bandung: Jurnal Balai Diklat
Kuswati, I. 2004. Pendidikan Sains dan Keagamaan.
Teknologi Masyarakat dan Peningkatan Suranto, Joko Dwi. 2016. Kajian Prestasi
Pemahaman Siswa terhadap Pokok Belajar Biologi Menggunakan Model
Bahasan Lingkungan. Malang: SETS (Science, Environment, Technology
Univeristas Negeri Malang and Society) dengan Metode Observasi
Maolani, A. Rukaesih. 2015. Metodologi Laboratorium dan Metode Observasi
Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Raja Lapangan Ditinjau dari Sikap Ilmiah dan
Grafindo Persada. Kreativitas Siswa. Surakarta : Universitas
Maronta G, La. 2002. Pendekatan STM dalam Sebelas Maret
Pembelajaran Sains di Sekolah. Jurnal Suryani. 2015. Statistika Untuk Penelitian.
Pendidikan dan Kebudayaan. Surakarta: UNS Press.
Newman, James R. 1963. The Harper Suparno, P. 2013. Miskonsepsi & Perubahan
Encyclopedia of Science and Technology. Konsep dalam Pendidikan Fisika.
USA : Mc Graw-Hill Book Company Inc Yogyakarta: Gramedia Widiasarana.
OECD. 2000. Literacy Skills for the World of Syah, M. 2004. Psikologi Belajar. Bandung :
Tomorrow: Further Results from PISA Grafindo Persada
2000. Paris: UNESCO Institue for Toharudin. 2011. Membangun Literasi Sains.
Statistic. Bandung: Humaniora.
Poedjiadi, A. 2010. Sains Teknologi Masyarakat Tukan, Yulkartin. 2017. Penerapan Model
Metode Pembelajaran Bermuatan Nilai. Pembelajaran Guided Inquiry Dan
Bandung: Remaja Rosdakarya. Process Oriented Guided Inquiry Dengan
Prasetyo, B. 2006. Metode Penelitian Metode Tutor Sebaya Untuk
Kuantitatif : Teori dan Aplikasi. Jakarta: Meningkatkan Kemampuan Literasi Sains
Raja Grafindo Persada. Siswa. Kupang : Universitas Nusa
Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian Cendana
Kuantitatif. Jakarta: Pustaka Pelajar. Tungga, Riksan. Penerapan Model
Rumansyah. 2006. Prospek Penerapan Pembelajaran Guided Inquiry Dan
Pendekatan Sains-Teknologi Masyarakat Problem Based Learning Dengan Teknik
(STM) Dalam pembelajaran Kimia Di Mind Mapping Berbantuan Software
Kalimantan Selatan. Jurnal Pendidikan Imindmap 8 Terhadap Kemampuan
dan Kebudayaan. No.29 Berpikir Kreatif Siswa. Kupang :
Sidi, P. 2014. Penerapan Model STS Berbantuan Universitas Nusa Cendana
Media untuk Meningkatkan Aktivitas, Uus, T. 2011. Membangun Literasi Sains
Sikap, dan Hasil Belajar IPS. Peserta Didik. Bandung: Humaniora.
Yogyakarta. Jurnal Harmoni Sosial, Wartono dkk. 2004. Materi Pelatihan
Volume 1 No. 2 pp (184) Terintegrasi Sains. Jakarta: Depdiknas
Sudijono, A. 2009. Pengantar Evaluasi Wenning, C. J. 2006. Engaging students in
Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo conducting Socratic dialogues :
Persada. Suggestions for science teachers. Journal
Sudjana, Nana. 2005. Dasar - Dasar Proses of Physics Teacher Education online
Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Wenno I. H. 2008. Strategi Belajar Mengajar
Algensindo. Sains Berbasis Kontekstual. Yogyakarta :
Inti Media
Winaputra, S. 1992. Ilmu Pendidikan. Bandung :
Remaja Rosdakarya.