Anda di halaman 1dari 23

“PERANAN RADIOAKTIF DALAM BIDANG FARMASI, KEDOKTERAN DAN

KESEHATAN”

OLEH:

UMI NUR AFIFATUROSYDAH.S.

170103034

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA

FARMASI

KALIMANTAN TIMUR

TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Radiasi dan radioisotop telah lama dikenal manusia, yaitu sejak


ditemukanya teknik perunut oleh Hevesy pada tahun 1923, sehingga
menambah kemajuan teknik nuklir untuk di gunakan dibidang kedokteran dan
industri. Ada beberapa sumber radiasi dilingkungan kita, antara lain televesi,
lampu penerangan, komputer. Selain itu ada sumber-sumber radiasi yang
bersifat unsur alamiah yaitu berada di air, udara dan lapisan bumi (Ferry
Suyatno, 2010).

Sumber radiasi dari unsur alamiah adalah thorium dan uranium berada
di lapisan bumi, sedangkan karbon dan radon berada di udara. Sumber
radiasi yang berada di air adalah tritium dan deuterium. Jika ditinjau jenisnya
radiasi terdiri dari alpha (α), beta (β), gamma (γ), sinar-X dan neutron (n)
(Ferry Suyatno, 2010).

Suatu unsur dikatakan radioisotop atau isotop radioaktip ialah apabila


unsur tersebut dapat memancarkan radiasi. Pada umumnya radioisotop
digunakan untuk berbagai keperluan seperti dalam bidang kedokteran dan
industri. Radioisotop yang digunakan tersebut tidak terdapat di alam,
disebabkan waktu paruh dan beberapa faktor lainnya yang kurang memenuhi
persyaratan. Untuk beberapa tujuan radioisotop harus dikombinasikan
dengan senyawa tertentu melalui bebarapa cara reaksi kimia. Dengan
demikan tujuan utama produksi radioisotop ialah menyediakan unsur atau
senyawa radioaktif tertentu yang memenuhi persyaratan sesuai
penggunaanya (Ferry Suyatno, 2010).
Radioisotop yang sering digunakan dalam berbagai bidang
kebutuhan manusia seperti bidang kesehatan, pertanian, hidrologi
dan industri, pada umumnya tidak terdapat di alam, karena kebanyakan
umur paruhnya relatif pendek.

I.2 Tujuan penulisan

Untuk mengetahui dan memahami informasi tentang peranan


radioisotop dalam dunia farmasi, kedokteran dan kesehatan.

I.3 Manfaat penulisan

Memberikan informasi tentang peranan radioisotop dalam dunia


farmasi, kedokteran dan kesehatan.
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Asal Mula Radioaktif

Pada tahun 1895, W.C. Rontgen menemukan bahwa tabung sinar


katode mengahasilkan suatu radiasi berdaya tembus tinggi yang dapat
menghitamkan film potret,walaupun film tersebut terbungkus kertas
hitam. Karena belum mengenal hakekatnya, sinar ini dinamai sinar X.
Ternyata sinar X adalah suatu radiasi elektromagnetik yang timbul
karena benturan berkecepatan tinggi (yaitu sinar katode dengan suatu
materi (anode). Sekarang sinar X disebut juga sinar rontgen dan
digunakan untuk rongent yaitu untuk mengetahui keadaan organ tubuh
bagian dalam (Abdul Jalil, 2004).

Penemuan sinar X membuat Henry Becguerel tertarik untuk


meneliti zat yang bersifat fluorensensi, yaitu zat yang dapat bercahaya
setelah terlebih dahulu mendapat radiasi (disinari), Becquerel menduga
bahwa sinar yang di pancarkan oleh zat seperti itu seperti sinar X.
Secara kebetulan, Becquerel meneliti batuan uranium. Ternyata
dugaan itu benar bahwa sinar yang dipancarkan uranium dapat
menghitamkan film potret yang masih terbungkus kertas hitam. Akan
tetapi, Becqueret menemukan bahwa batuan uranium memancarkan
sinar berdaya tembus tinggi dengan sendirinya tanpa harus disinari
terlebih dahulu. Penemuan ini terjadi pada awal bulan Maret 1986.
Gejala semacam itu, yaitu pemancaran radiasi secara spontan,
disebut keradioaktifan, dan zat yang bersifat radioaktif disebut zat
radioaktif (Abdul Jalil, 2004).

Tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1986, suami-isteri


Marie Curnie (1867-1934) dan Piere Curie (1859-1906) berhasil
mengisolasi dua unsur baru dari radioaktif uranium, kedua unsur
tersebut adalah Polonium dan radium.

II.2 Radioisotop
Radionuklida atau radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif.
Radionuklida mampu memancarkan radiasi. Radionuklida dapat
terjadi secara alamiah atau sengaja dibuat oleh manusia dalam
reaktor penelitian. Produksi radionuklida dengan proses aktivasi
dilakukan dengan cara menembaki isotop stabil dengan neutron di
dalam teras reaktor. Proses ini lazim disebut irradiasi neutron,
sedangkan bahan yang disinari disebut target atau sasaran. Neutron
yang ditembakkan akan masuk ke dalam inti atom target sehingga
jumlah neutron dalam inti target tersebut bertambah. Peristiwa ini
dapat mengakibatkan ketidakstabilan inti atom sehingga berubah sifat
menjadi radioaktif. Banyak isotop buatan yang dapat dimanfaatkan
antara lain Na-24, P-32, Cr-51, Tc-99, dan I-131 (Achmad Hizkia,
1992).Radionuklida terdiri atas 2 jenis:

1. Radionuklida Alami
Berdasarkan sumbernya, radionuklida alam secara garis
besar dapat dibagi dalam dua jenis. Yang pertama adalah
radionuklida primordial, yang ada di kerak bumi sejak
terbentuknya alam semesta, dan yang kedua adalah radionuklida
kosmogenik yang terjadi akibat interaksi antara radiasi kosmik
dengan udara. Selain dua jenis tersebut, terdapat radionuklida
yang muncul karena peluruhan spontan nuklida dapat belah atau
karena reaksi inti tangkapan neutron dari radiasi kosmik, dan ada
juga radionuklida punah yang sekarang tidak ada lagi karena umur
paruhnya yang pendek, tetapi karena secara kuantitas sangat
sedikit maka dapat diabaikan (Ramazona Nababan, 2014)
2. Radionuklida buatan
Radionuklida buatan adalah radionuklida yang terbentuk kar
ena dibuat oleh manusia.Radionuklida buatan dihasilkan dari
pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai maupun militer. Di
bawah ini akan dibahas jumlah radionuklida akibat pembangkitan
listrik tenaga nuklir maupun percobaan nuklir. Radionuklida buatan
dapat dikelompokkan menjadi radionuklida yang muncul karena
pembangkitan listrik tenaga nuklir, radionuklida yang diproduksi
untuk kedokteran, industri, ataupun radionuklida yang muncul
akibat percobaan nuklir. Bahan radioaktif adalah bahan yang
memancarkan radiasi a, b, g atau neutron. Pada tabel susunan
berkala, dapat dilihat unsur yang memancarkan radiasi yang
disebut unsur radioaktif, ataupun yang tidak memancarkan radiasi
yang disebut unsur stabil. Sebagai contoh, yodium dengan nomor
massa 129 atau 131 sampai 135 adalah unsur radioaktif. Unsur
radioaktif disebut juga radionuklida. Di bawah ini akan ditunjukkan
jumlah radioisotop alam dan buatan, dan kemudian akan
ditunjukkan juga dosis yang diterima manusia dari radionuklida
(Ramazona Nababan, 2014).
II.3 Sifat-sifat Radioisotop
Meskipun tidak dapat dilihat dengan mata namun secara umum
sinar radioaktif memiliki sifat-sifat:
 menghitamkan pelat film
 dapat mengionkan gas yang dilewati
 memiliki daya tembus yang besar
 menyebabkan benda-benda berlapis ZnS dapat berpendar
(mengalami fluoresensi).
Sinar yang dipancarkan unsur radioaktif ada tiga macam, yaitu
sinar alfa (α), sinar beta (β), dan sinar gamma (γ).
a. Sinar alfa (α)
Sinar alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan
positif. Partikel sinar alfa sama dengan inti helium-4,
bermuatan+2e dan bermassa 4 sma. Partikel alfa adalah partikel
terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif. Karena memiliki
massa yang besar, daya tembus sinar alfa paling lemah diantara
diantara sinar-sinar radioaktif (Anna Maulina et al, 2013).
b. Sinar beta (ß)
Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif.
Sinar beta merupakan berkas elektron yang berasal dari inti atom.
Sinar beta paling energetik dapat menempuh sampai 300 cm
dalam uadara kering dan dapat menembus kulit. Karena sangat
kecil, partikel beta dianggap tidak bermassa sehingga dinyatakan
dengan notasi (Anna Maulina et al, 2013).
c. Sinar gamma (γ)
Sinar gamma adalah radiasi elektromagnetek berenergi
tinggi, tidak bermuatan dan tidak bermassa. Sinar gamma
dinyatakan dengan notasi . Sinar gamma mempunyai daya
tembus (Anna Maulina et al, 2013).

II.4 Peranan Radioisotop Dalam Dunia Farmasi


Aplikasi teknologi nuklir dalam bidang farmasi saat ini sudah
sangat maju dan hal ini erat kaitannya dengan bidang kedokteran
nuklir. Radioisotop yang digunakan dalam bidang farmasi dari tahun
ke tahun terus bertambah. Sediaan radiofarmaka adalah istilah yang
digunakan pada zat radioaktif yang digunakan dalam bidang farmasi
dan juga kedokteran nuklir.
Radiofarmaka adalah senyawa kimia yang mengandung atom
radioaktif dalam strukturnya dan digunakan untuk diagnosis atau
terapi. Dengan kata lain, radiofarmaka merupakan obat radioaktif.
Sediaan radiofarmaka dibuat dalam berbagai bentuk kimia dan fisik
yang diberikan dengan berbagai rute pemberian untuk memberikan
efek radioaktif pada target bagian tubuh tertentu (BPOM,2015)
Beberapa contoh rute pemberian: per oral (kapsul dan larutan),
intravena, intraperitoneal, intrapleural, intratekal, inhalasi, instilasi
melalui tetes mata, kateter urin, kateter intraperitoneal dan shunts.
Bentuk fisika dan kimiawi sediaan radiofarmaka dapat berupa unsur
(Xenon 133, krypton 81m), ion sederhana (iodida, pertechnetate),
molekul kecil yang diberi label radioaktif, makromolekul yang diberi
label radioaktif, partikel yang diberi label radioaktif, sel yang diberi
label radioaktif (BPOM, 2015).
Radiofarmaka dimanfaatkan dalam berbagai jenis pemeriksaan
dalam kedokteran nuklir. Pemeriksaan tersebut terbagi menjadi 3
kategori:
1. Pemeriksaan untuk pencitraan
Pemeriksaan ini memberikan informasi untuk tujuan diagnostik
dan dilakukan dengan memeriksa pola distribusi radioaktif dalam
tubuh.
2. Pemeriksaan fungsi tubuh secara in vivo
Pemeriksaan fungsi tubuh secara in vivo bertujuan untuk
mengukur fungsi organ tubuh atau sistem fisiologis tubuh
berdasarkan absorpsi, pengenceran, konsentrasi, bahan radioaktif
dalam tubuh atau ekskresi bahan radioaktif dari tubuh setelah
pemberian radiofarmaka.
3. Pemeriksaan untuk tujuan terapetik
4. Pemeriksaan ini bertujuan untuk keperluan penyembuhan, atau
terapi paliatif. Mekanisme kerja umumnya berupa absorpsi radiasi
beta untuk menghancurkan jaringan yang terkena penyakit.

Tabel 1. Bentuk sediaan dan rute pemberian radiofarmaka.

Rute pemberian Bentuk Sediaan

Oral Kapsul dan Larutan

Injeksi intravena Larutan, dispersi koloid, suspensi

Injeksi intratekal Larutan

Inhalasi Gas dan Aerosol


Instilasi melalui
Tetes mata Larutan steril
Kateter uretra
Table 2. Bentuk sediaan radiofarmaka

Dosis
Bentuk Rute
Radionuklida Penggunaan lazim
Sediaan pemberianb
(Dewasaa)

Karbon Jantung: Pengukuran


Karbon C11 60-100 mCi Inhalasi
monoksida volume darah
Injeksi Otak: Pencitraan reseptor
Karbon C11 20-30 mCi Intravena
Flumazenil benzodiazepin
Pemeriksaan penyakit
Karbon C11 Injeksi metionin 10-20 mCi Intravena
keganasan pada otak
Otak : Pencitraan reseptor
Karbon C11 Injeksi rakloprid 10-15 mCi Intravena
dopamin D2

Injeksi natrium Jantung: Penanda


Karbon C11 12-40 mCi Intravena
asetat metabolisme oksidatif

Diagnosis infeksi
Karbon C 14 Urea 1 µCi Oral
Helicobacter pylori

Pelabelan sel darah merah


(Red Blood Cells, RBCs)
Kromium Cr Injeksi natrium
untuk pengukuran volume 10-80 µCi Intravena
51 kromat
dan waktu hidup sel darah
serta penyerapan limfa

Diagnosis anemia pernisius


Kapsul
Kobalt Co 57 dan penurunan absorpsi 0.5 µCi Oral
sianokobalamin
usus
Penggunaan glukosa di
Injeksi
Fluor F 18 otak, jantung dan penyakit 10-15 mCi Intravena
fludeoksiglukosa
keganasan
Injeksi Aktivitas dekarboksilase
Fluor F 18 4-6 mCi Intravena
fluorodopa saraf dopamin di otak
Injeksi natrium
Fluor F 18 Pencitraan tulang 10 mCi Intravena
fluorida
Injeksi galium
Galium Ga 67 Penyakit Hodgkin, limfoma 8-10 mCi Intravena
sitrat
Lesi inflamasi akut 5 mCi Intravena
Pencitraan
Injeksi metastatik pada pasien
Indium In 111 kapromab dengan kanker prostat 5 mCi Intravena
pendetid yang telah dibuktikan
dengan biopsi
Larutan Indium Radio label pada berbagai
Indium In 111 Bervariasi
Klorida steril radiofarmaka 111In
Larutan steril
Indium In 111 Penandaan leukosit autolog 500 µCi Intravena
indium oksin
Indium In 111 Injeksi pentetat Sisternografi 500 µCi Intratekal
Injeksi 3 mCi
Indium In 111 Tumor neuroendokrin Intravena
pentetreotid (planar)
6 mCi
(SPECTc)
Pencitraan biodistribusi
sebelum pemberian 90Y
Ibritumomab
Indium In 111 Zevalin (Biogen Idec) 5 mCi Intravena
tiuksetan
untuk pengobatan limfoma
non-Hodgkin
Kapsul dan
400-600
Iodin I 123 larutan natrium Pencitraan kelenjar tiroid Oral
µCi
iodida
Tiroid metastase (seluruh
2 mCi Oral
tubuh)
Feokromositoma, tumor
0,14
Injeksi karsinoid, paraganglioma
Iodin I 123 mCi/kg Intravena
Iobenguan non sekresi,
(anak)
neuroblastoma
10 mCi
(dewasa)
Iodin I 125 Injeksi albumin Penentuan volume plasma 5-10 µCi Intravena
Injeksi natrium Penentuan Laju Filtrasi
Iodin I 125 30 µCi Intravena
iothalamat Glomerulus (GFR)
Feokromositoma, tumor
Injeksi karsinoid, paraganglioma 0,5
Iodin I 131 Intravena
iobenguan non sekresi, mCi/1,7 m2
neuroblastoma
Kapsul dan
Iodin I 131 larutan natrium Fungsi tiroid 5-10 µCi Oral
iodida
Pencitraan tiroid (leher) 50-100 µCi
Pencitraan tiroid
100 µCi
(substernal)
Tiroid metastase (seluruh
2 mCi
tubuh)
Hipertiroidisme 5-33 mCi
150-200
Karsinoma
mCi
Injeksi natrium Fungsi ginjal yang dapat 200 µCi (2
Iodin I 131 Intravena
iodohipurat pulih ginjal)
75 µCi (1
ginjal)
Dosis
individual;
Pengobatan Limfoma non-
tidak lebih
Iodin I 131 Tositumomab Hodgkin refraktori derajat Intravena
dari 75 cGy
rendah
seluruh
tubuh
Pemeriksaan perfusi
Nitrogen N 13 Injeksi amonia 10-20 mCi Intravena
miokard
Oksigen O 15 Injeksi air Perfusi jantung 30-100 mCi Intravena
Intraperitoneal
atau
Suspensi fosfat intrapleura
Fosfor P 32 Efusi pleura dan peritoneal 10-20 mCi
kromik (bukan untuk
penggunaan
intravena)
Injeksi natrium
Fosfor P 32 Polisitemia 1-8 mCi Intravena
fosfat
Injeksi
Rubidium Rb Pemeriksaan perfusi
Rubidium 30-60 mCi Intravena
82 miokard
klorida
Terapi paliatif nyeri tulang
Samarium Sm Injeksi
pada lesi tulang 1.0 mCi/kg Intravena
153 leksidronam
osteoblastik metastase
Injeksi Terapi paliatif nyeri tulang
Stronsium Sr
stronsium pada lesi tulang 4 mCi Intravena
89
klorida osteoblastik metastase
Teknetium Tc Pencitraan aliran darah
Injeksi albumin 20 mCi Intravena
99m jantung
Teknetium Tc Injeksi albumin
Pencitraan perfusi paru 3 mCi Intravena
99m teragregasi
Teknetium Tc Karsinoma kolorektal
Arsitomumab 20 mCi Intravena
99m kambuhan atau metastase
Tambahan untuk CT
(computed
Teknetium Tc
Injeksi bisisat tomography)/MRI(Magnetic 20 mCi Intravena
99m
Resonance Imaging)pada
pasien stroke
Teknetium Tc
Injeksi disofenin Pencitraan hepatobilier 5 mCi Intravena
99m
Perfusi serebral regional
Teknetium Tc Injeksi
pada stroke dengan atau 20 mCi Intravena
99m eksametazim
tanpa metilen biru
Pelabelan leukosit tanpa
10 mCi Intravena
metilen biru
Teknetium Tc Injeksi
Pencitraan otak 20 mCi Intravena
99m gluseptat
Pencitraan perfusi ginjal 10 mCi Intravena
Teknetium Tc Injeksi
Pencitraan hepatobilier 5 mCi Intravena
99m mebrofenin
Teknetium Tc Injeksi
Pencitraan tulang 20-30 mCi Intravena
99m medronat
Teknetium Tc
Injeksi mertiatid Pencitraan ginjal 5 mCi Intravena
99m
Renogram-transplantasi
1-3 mCi Intravena
ginjal
Renogram-kaptopril 1-3 mCi Intravena
Teknetium Tc Injeksi
Pencitraan tulang 20-30 mCi Intravena
99m oksidronat
Teknetium Tc
Injeksi pentetat GFR (kuantitatif) 3 mCi Intravena
99m
Renogram (diuretik) 3 mCi Intravena
Pencitraan perfusi ginjal 10 mCi Intravena
Teknetium Tc Injeksi
Infarct-avid scan 15 mCi Intravena
99m pirofosfat
Teknetium Tc Injeksi sel Perdarahan saluran cerna
15 mCi Intravena
99m darah merah (kambuhan)
Fungsi dan perfusi
Teknetium Tc Injeksi
miokardial, pencitraan 8-40 mCi Intravena
99m sestamibi
paratiroid
Teknetium Tc Injeksi natrium
Pencitraan otak 20 mCi Intravena
99m perteknetat
Pencitraan tiroid 10 mCi Intravena
Ventikulogram radionuklida 20 mCi Intravena
Sistografi radionuklida 1 mCi Uretra
Dakriosistografi 0.1 mCi Tetes mata
Divertikulum meckel 5 mCi Intravena
Teknetium Tc
99m Pemindaian ginjal-fungsi
Injeksi suksimer 5 mCi Intravena
ginjal diferensial

Pemindaian ginjal-anatomi
5 mCi Intravena
kortikal
Teknetium Tc Injeksi koloid
Pemindaian hati-limpa 5 mCi Intravena
99m sulfur
0,4-0,6
Limfosintigrafi (payudara) Interstitial
mCi
0,5-0,8
Limfosintigrafi (melanoma) Intradermal
mCi
Pengosongan lambung
1 mCi Oral
(scrambled egg)
Perdarahan lambung
10 mCi Intravena
(akut)
Aspirasi paru 5 mCi Oral
Refluks gastroesofagal 0,2 mCi Oral
Teknetium Tc Injeksi
Fungsi dan perfusi miokard 8-40 mCi Intravena
99m tetrofosmin
Thallium Tl Injeksi thallus
Pencitraan perfusi miokard 3-4 mCi Intravena
201 klorida
Pencitraan paratiroid 2 mCi Intravena
Xenon Xe 133 Xenon Pencitraan ventilasi paru 10-20 mCi Inhalasi
Ibritumomab Pengobatan limfoma non- 0,3-0,4
Yttrium Y 90 Intravena
tiuksetan Hodgkin derajat rendah mCi/kg

Sumber: BPOM, 2015

Contoh Peranan Radioisotop Dalam Sediaan Farmasi


EKSAMETAZIM
Indikasi:
 Skintigrafi otak (brain scintigraphy). Mendiagnosis kelainan aliran
darah serebral atau area aliran darah serebral pasca stroke atau
penyakit serebrovaskular lain, epilepsi, Alzheimer dan bentuk lain
dari demensia, transient ischemic attack, migrain dan tumor otak.
 Digunakan pada “pelabelan” secara in vitro pada leukosit
menggunakan Teknesium-99m. Leukosit yang telah berlabel
disuntikkan untuk mendeteksi lokasi infeksi penyebab penyakit (jika
ada abses abdomen), untuk pemeriksaan gejala pireksia yang tidak
diketahui penyebabnya dan pemeriksaan gejala inflamasi bukan
disebabkan oleh infeksi, seperti penyakit inflamasi pada usus
besar.
Peringatan:
Tidak boleh diberikan langsung kepada pasien. Hanya digunakan untuk
penyiapan obat berlabel radioaktif teknesium-99m, dengan prosedur
yang tercantum pada kemasan. Kehamilan dan menyusui, anak.
Efek Samping:
Hipersensitif.
Dosis:
Penggunaan satu kali:
(I) Brain scintigraphy Dewasa dan Lansia: injeksi intravena, 350 - 500
MBq (9,5-13 mCi).
(II) Labelisasi Leukosit dengan Teknetium-99 secara in vivo Dewasa dan
Lansia: injeksi intravena 200 MBq (5mCi) sebagai leukosit berlabel
teknesium-99m. Suntikkan suspensi leukosit berlabel teknesium-
99m menggunakan jarum 19G sesegera mungkin setelah pelabelan.
Tidak direkomendasikan untuk penggunaan pada anak.

Pencitraan:
(I) Brain scintigraphy
Pencitraan otak bisa dimulai dari 2 menit setelah injeksi.
(II) Dalam lokalisasi in vivo leukosit berlabel teknesium-99m. Pencitraan
dinamis dapat dilakukan dalam 60 menit pertama setelah injeksi untuk
memeriksa klirens paru-paru dan untuk menunjukkan migrasi sel yang
segera terjadi. Pencitraan statis dilakukan dalam waktu 0,5-1,5 jam, 2-4
jam dan jika perlu, pada 18-24 jam pasca injeksi, untuk mendeteksi
akumulasi aktivitas titik pemeriksaan (bahan radioaktif). Setelah satu jam
pertama penyuntikkan leukosit berlabel teknesium-99m, aktivitas terlihat
pada paru-paru, hati, limpa, pompa darah, sumsum tulang dan kandung
kemih.

List Nama Dagang


Ceretec
(Sumber: BPOM, 2015)
II.5 Peranan Radioisotop Dalam Dunia Kedokteran dan Kesehatan

Bidang kesehatan dan kedokteran merupakan bidang terbesar yang


menggunakan senyawa bertanda radioaktif. Hampir dari 80% dari
penggunaan zat radioaktif terletak di bidang ini. Dengan isotop radioaktif
telah dapat diselidiki dan dipelajari proses fisiologi, biokimia, patologi dan
farmakologi berbagai macam obat.

Penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran, sebetulnya telah dimulai


semenjak tahun 1936 pada waktu John Lawrence et. al. Menggunakan
fosfor-32 untuk terapi. Walaupun dimulai untuk terapi, tetapi penggunaan
radioisotop selanjutnya hampir 90% ditujukan untuk diagnosis, dan sebagian
besar telah dalam bentuk senyawa bertanda.

Cabang ilmu kedokteran yang memanfaatkan gelombang


elektromagnetik pendek, seperti sinar x disebut radiologi. Radiologi
dimanfaatkan untuk menunjang diagnosis penyakit. Dalam dunia kedokteran
nuklir, prinsip radiologi dimanfaatkan dengan memakai isotop radio aktif
yang disuntikkan ke dalam tubuh. Kemudian, isotop tersebut ditangkap oleh
detektor di luar tubuh sehingga diperoleh gambaran yang menunjukan
distribusinya di dalam tubuh. Sebagai contoh untuk mengetahui letak
penyempitan pembuluh darah, digunakan radioisotop natrium. Kemudian
jejak radioaktif tersebut dirunut dengan menggunakan pencacah Geiger.
Letak penyempitan pembuluh darah ditunjukan dengan terhentinya aliran
natrium.

Selain digunakan untuk mendiagnosis penyakit, radioisotop juga


digunakan untuk terapi radiasi. Terapi radiasi adalah cara pengobatan
dengan memakai radiasi. Terapi seperti ini biasanya digunakan dalam
pengobatan kanker. Pemberian terapi dapat menyembuhkan, mengurangi
gejala, atau mencegah penyebaran kanker, bergantung pada jenis dan
stadium kanker.

1. Radiodiagnostik

Radiodiagnostik adalah kegiatan penunjang diagnostik menggunakan


perangkat radiasi sinar pengion (sinar x), untuk melihat fungsi tubuh secara
anatomi. Ahli dalam bidang ini dikenal sebagai radiolog. Salah satu contoh
radiodiagnostik adalah rontgen. Radiodiagnostik dilakukan sebelum
melakukan radioterapi.

2. Radioterapi

Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion untuk


mematikan sel kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel
normal sekecil mungkin. Tindakan terapi ini menggunakan sumber radiasi
tertutup pemancar radiasi gamma atau pesawat sinar-x dan berkas elektron.
Baik sel-sel normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh radiasi ini.
Radiasi akan merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi ataupun
pembelahan sel-sel kanker akan terhambat. Sekitar 50 – 60% penderita
kanker memerlukan radioterapi. Tujuan radioterapi adalah untuk
pengobatan secara radikal, yaitu untuk mengurangi dan menghilangkan
rasa sakit atau tidak nyaman akibat kanker, selain itu juga bertujuan untuk
mengurangi resiko kekambuhan dari kanker. Dosis dari radiasi ditentukan
dari ukuran, luasnya, tipe, dan stadium tumor bersamaan dengan responnya
terhadap radio terapi.

Terdapat dua teknik dalam radioterapi yaitu teleterapi (sumber eksternal)


dan brakiterapi (sumber internal). Pada tindakan teleterapi, posisi sumber
radiasi gamma energi tinggi yang berasal dari Cobalt-60 yang disimpan
dalam kontainer metal yang tebal pada alat, dapat diatur sedemikian rupa
sehingga kanker dapat diradiasi dari berbagai arah yang ditujukan setepat
mungkin pada jaringan tumor. Tumor ganas dikenai radiasi yang sangat
kuat secara berulang-ulang menggunakan teknik fraksinasi (dosis terbagi
atas perkali pemberian dari total dosis yang harus diterima oleh pasien)
selama jangka waktu beberapa minggu. Radioterapi diberikan setiap hari
dari berbagai arah secara tepat pada kanker. Dengan demikian kanker akan
menerima radiasi yang bersilang dengan dosis tinggi sementara jaringan
normal dan sehat di sekitar lokasi kanker hanya akan menerima dosis yang
lebih rendah dengan tingkat kerusakan yang dapat ditoleransi tubuh dan
berangsur pulih.

Radioterapi dapat pula dilakukan dengan menggunakan sumber radiasi


terbuka yang diposisikan sedekat mungkin dengan kanker, dikenal sebagai
tindakan brakiterapi. Sumber radiasi terbuka yang umum digunakan antara
lain I-125, Ra-226, yang dikemas dalam bentuk jarum, biji sebesar beras,
atau kawat dan dapat diletakkan dalam rongga tubuh (intracavitary) seperti
kanker serviks, kanker paru, dan kanker esopagus, dalam organ/jaringan
(interstisial) seperti kanker prostat, kanker kepala dan leher, kanker
payudara, atau dalam lumen (intraluminal).

Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut:

1. Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan radioterapi,


baik dengan atau tanpa dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti
pembedahan dan kemoterapi.
2. Mengontrol : Jika tidak memungkinkan lagi adanya penyembuhan,
radioterapi berguna untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan
membuat sel kanker menjadi lebih kecil dan berhenti menyebar.

3. Mengurangi gejala : Selain untuk mengontrol kanker, radioterapi dapat


mengurangi gejala yang biasa timbul pada penderita kanker seperti rasa
nyeri dan juga membuat hidup penderita lebih nyaman.

4. Membantu pengobatan lainnya : terutama post operasi dan kemoterapi


yang sering disebut sebagai “adjuvant therapy” atau terapi tambahan
dengan tujuan agar terapi bedah dan kemoterapi yang diberikan lebih
efektif.

Berbagai jenis radioisotop digunakan sebagai perunut untuk


mendeteksi (diagnosa) berbagai jenis penyakit al:teknesium (Tc-99), talium-
201 (Ti-201), iodin 131(1-131), natrium-24 (Na-24), ksenon-133 (xe-133)
dan besi (Fe-59). Tc-99 yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah akan
diserap terutama oleh jaringan yang rusak pada organ tertentu, seperti
jantung, hati dan paru-paru Sebaliknya Ti-201 terutama akan diserap oleh
jaringan yang sehat pada organ jantung. Oleh karena itu, kedua isotop itu
digunakan secara bersama-sama untuk mendeteksi kerusakan jantung 1-
131 akan diserap oleh kelenjar gondok, hati dan bagian-bagian tertentu dari
otak. Oleh karena itu, 1-131 dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan
pada kelenjar gondok, hati dan untuk mendeteksi tumor otak. Larutan garam
yang mengandung Na-24 disuntikkan ke dalam pembuluh darah untuk
mendeteksi adanya gangguan peredaran darah misalnya apakah ada
penyumbatan dengan mendeteksi sinar gamma yang dipancarkan isotop
Natrium tersebut. Xe-133 digunakan untuk mendeteksi penyakit paru-paru.
P-32 untuk penyakit mata, tumor dan hati. Fe-59 untuk mempelajari
pembentukan sel darah merah. Kadang-kadang, radioisotop yang
digunakan untuk diagnosa, juga digunakan untuk terapi yaitu dengan dosis
yang lebih kuat misalnya, 1-131 juga digunakan untuk terapi kanker kelenjar
tiroid.

1. Sterilisasi radiasi.
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme
sehingga dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran.
Steritisasi dengan cara radiasi mempunyai beberapa keunggulan
jika dibandingkan dengan sterilisasi konvensional (menggunakan
bahan kimia), yaitu:
a) Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam mematikan
mikroorganisme.
b) Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia.
c) Karena dikemas dulu baru disetrilkan maka alat tersebut
tidak mungkin tercemar bakteri lagi sampai kemasan
terbuka. Berbeda dengan cara konvensional, yaitu
disterilkan dulu baru dikemas, maka dalam proses
pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit
penyakit.
2. Terapi tumor atau kanker.
Berbagai jenis tumor atau kanker dapat diterapi dengan radiasi.
Sebenarnya, baik sel normal maupun sel kanker dapat dirusak
oleh radiasi tetapi sel kanker atau tumor ternyata lebih sensitif
(lebih mudah rusak). Oleh karena itu, sel kanker atau tumor dapat
dimatikan dengan mengarahkan radiasi secara tepat pada sel-sel
kanker tersebut.
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

1. Radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif mampu


memancarkan radiasi radionuklida dapat terjadi secara alamiah
atau sengaja di buat oleh manuisa dalam reactor penelitian.
2. Berdasarkan sumbernya, radionuklida alam secara garis besar
dapat dibagi dalam dua jenis. Yang pertama adalah radionuklida
primordial, yang ada di kerak bumi sejak terbentuknya alam
semesta, dan yang kedua adalah radionuklida kosmogenik yang
terjadi akibat interaksi antara radiasi kosmik dengan udara.
3. Penggunaan isotop radioaktif dalam dunia farmasi dikenal
dengan istilah radiofarmaka . Radiofarmaka adalah senyawa
kimia yang mengandung atom radioaktif dalam strukturnya dan
digunakan untuk diagnosis atau terapi.
4. Keunggulan kedokteran nuklir terletak pada kemampuannya
mendeteksi bahan bahan yang ditandai dengan perunut
radioaktif. Bahan – bahan tersebut yang dikenal dengan istilah
radiofarmaka, dimasukkan ke dalam tubuh melalui inhalasi,
intravena, mulut.
5. Bahaya penggunaan radioisotop dalam bidang kedokteran yaitu
kerusakan karena efek somatic, karena efek tertunda,
kerusakan karena efek genetik
DAFTAR PUSTAKA

Maulina Anna, et al. 2013. Kegunaan Radioisotop Dalam Bidang


Kedokteran Dan Pertanian. Fakultas Matematika Dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Padang: Padang

Jalil Abdul. 2004. Zat Radio Aktif Dan Penggunaan Radio Isotop Bagi
Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas
Sumatra Utara

Anonim. 2015. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Bab 18. Dirjen
BPOM RI

Kreshnamurti, Irwan, dkk., Refrat Radioterapi: Radioterapi Pada Kanker


Serviks, Palembang: Departemen Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang

Setiawan, Duyeh, 2010, Radiokomia Teori Dasar dan Aplikasi Teknik


Nuklir, Bandung: Widya Padjadjaran