Anda di halaman 1dari 36

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Proses Perancangan


Dalam desain dan pembuatan Screw Model Mesin Plastic Injection Moulding,
penyusun melaksanakan beberapa proses dan tahapan agar komponen yang
dirancang dapat terwujud dan selesai tepat waktu. Adapun diagram alir prosesnya
seperti di bawah ini.

Mulai

Data-data masukan Landasan Teori

Penyediaan Alat

Gambar Kerja

Pengadaan Bahan

Perencanaan Proses
Permesinan

Proses Permesinan

Perakitan
Tidak

Uji Coba dan


Analisa

Ya

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Perancangan Screw Model Mesin Plastic Injection
Moulding dengan Laju Aliran 400 mm3/s

39
40

Penjelasan diagram alir dari perancangan alat :


1. Mulai
Merupakan tahap awal munculnya pemikiran untuk membuat screw dan
merupakan persiapan awal. Pada tahap ini penulis mempelajari latar belakang,
tujuan akhir, dan melakukan pengamatan pada screw terhadap mesin injection
moulding pada umumnya.
2. Mengumpulkan data-data masukan dan landasan teori
Merupakan tahap mengumpulkan data-data masukan dari survei lapangan dan
berbagai literatur sebagai landasan teori dan pedoman dasar dalam pembuatan
screw model mesin plastic injection moulding dengan laju aliran 400 mm3/s.
Literatur digunakan untuk mendukung proses pembuatan screw. Literatur ini
didapat dari penelitian orang lain. Dalam hal ini penulis juga melakukan
konsultasi dengan dosen pembimbing.
3. Penyediaan alat
Merupakan tahap menyediakan peralatan yang akan digunakan dalam
membuat screw model mesin plastic injection moulding yang disesuaikan
dengan informasi dari data – data yang telah di dapat.
4. Gambar kerja
Merupakan hasil yang sesuai dengan perancangan alat. Dalam gambar kerja
disusun oleh dua jenis gambar kerja, yaitu gambat susunan dan gambar bagian.
Gambar bagian merupakan gambar dari tiap komponen yang akan dilakukan
proses pemesinan. Sehingga gambar kerja inilah yang nantinya diproses
menjadi bentuk yang nyata oleh bagian produksi.
5. Pengadaan bahan
Merupakan tahap menyediakan bahan baku benda kerja yang akan diproses.
Bahan baku yang digunakan disesuaikan dengan informasi yang terdapat dalam
gambar kerja.
6. Perencanaan proses pemesinan
Merupakan tahap membuat operating plan untuk setiap proses pemesinan yang
akan dilakukan. Operating plan berfungsi sebagai titik acuan dan
mempermudah kerja saat melakukan proses pemesinan.
41

7. Proses pemesinan
Merupakan tahap memproses bahan baku menjadi komponen screw model
mesin plastic injection moulding dengan laju aliran 400 mm3/s sesuai gambar
kerja pada masing-masing komponen.
8. Perakitan
Merupakan tahap perakitan semua komponen screw model mesin plastic
injection moulding dengan laju aliran 400 mm3/s. Komponen dirakit sesuai
gambar susun yang telah dibuat.
9. Uji coba dan analisa
Merupakan tahap menguji screw yang telah dirakit bersamaan dengan seluruh
komponen model mesin plastic injection moulding. Dalam pengujian yang
dilakukan akan diketahui ketahanan screw dalam menghasilkan produk yang
telah direncanakan. Jika screw tidak mampu menghasilkan produk sesuai
rencana maka akan dilakukan perbaikan sampai dapat menghasilkan produk
sesuai yang direncanakan.
10. Selesai

3.2 Pemilihan Bahan


Dalam perencanaan komponen screw pemilihan material merupakan faktor
utama yang harus diperhatikan. Karena sebelum merencanakan terlebih dahulu
diperhatikan dan diketahui jenis dan sifat bahan yang akan digunakan, misalnya
keausan, tahan terhadap panas, dan tahan terhadap korosi.
Adapun tujuan pemilihan material agar bahan yang digunakan untuk
pembuatan screw dapat ditekan seefisien mungkin di dalam penggunaannya dan
selalu berdasarkan pada dasar kekuatan dan sumber pengadaannya. Supaya material
dapat memenuhi kriteria yang diharapkan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan material adalah sebagai berikut :
1) Efisiensi bahan
Dengan memegang prinsip ekonomi dan berlandaskan pada perhitungan-
perhitungan yang memadai, maka diharapkan biaya produksi pada tiap-tiap
42

unit sekecil mungkin. Hal ini dimaksudkan agar hasil-hasil produksi dapat
bersaing dipasaran terhadap produk-produk lain dengan spesifikasi yang sama.
2) Bahan mudah didapat
Dalam perencanaan suatu produk, apakah bahan yang digunakan mudah
didapat atau tidak. Walaupun bahan yang direncanakan sudah cukup baik tetapi
tidak didukung oleh persediaan dipasaran, maka perencanaan akan mengalami
kesulitan atau masalah dikemudian hari karena hambatan bahan baku tersebut.
Untuk itu harus terlebih dahulu mengetahui apakah bahan yang akan digunakan
itu mempunyai komponen pengganti tersedia di pasaran.
3) Spesifikasi bahan yang dipilih
Pada bagian ini penempatan bahan harus sesuai dengan fungsi dan
kegunaannya sehingga tidak terjadi adanya kerusakan ketika terjadi panas yang
berlebih. Dengan demikian pada perencanaan bahan yang akan digunakan
harus sesuai dengan fungsi yang berbeda antara bagian satu dengan bagian
yang lain, dimana fungsi dari masing-masing bagian tersebut saling
mempengaruhi antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.
4) Kekuatan bahan
Dalam hal ini untuk menentukan bahan yang akan digunakan haruslah
mengetahui dasar titik lebur bahan serta sumber pengadaannya, mengingat
pengecekan dan penyesuaian suatu produk kembali kepada temperatur titik
lebur bahan yang akan digunakan.

3.3 Desain Alat


Screw merupakan bagian terpenting dari sebuah mesin plastic injection
moulding. Screw ini berperan dalam mengantarkan biji plastik dari awal proses
pencairan hingga ke proses injeksi. Seluruh bahan plastik akan dimasukkan secara
bertahap ke dalam ruang pemanasan dengan bantuan bagian ini.
Screw berada di dalam barrel. Bentuk screw yang dibuat adalah single screw
yang termasuk dalam tipe metering screw. Tipe ini mempunyai feed section,
compression section, dan metering section dengan perbedaan kedalaman spiral
untuk setiap daerah tersebut. Dalam penggunaannya diameter screw mempengaruhi
43

laju aliran plastik dalam barrel serta pada bagian ujung screw terdapat non-return
valve dan check ring screw. Adapun dari kedua bagian tersebut memiliki fungsi
masing-masing.
Meskipun dalam pemilihan diameter dan panjang screw tidak sesuai dengan
rasio perbandingan (L/D) yang standart yaitu 20 : 1, maka penulis merencakan dari
putaran screw yang dibuat lamban agar material bijih plastik meleleh sampai ujung
screw. Dimensi tersebut mempunyai rasio L/D adalah 5,3 : 1. Poros screw
mempunyai daerah splin sepanjang 45 mm, yang berfungsi sebagai dudukan roda
gigi dan bearing house.
Pembuatan screw yang merupakan bagian dari model mesin plastic injection
moulding ditunjukan untuk memberikan informasi mengenai model dan cara kerja
konstruksi screw pada model mesin plastic injection moulding dan sebagai media
pembelajaran (teaching aid) dalam mata kuliah “Plastic Moulding” di Politeknik
Negeri Malang.
Dari perhitungan dan perencanaan material diatas maka penulis dapat
menentukan desain komponen yang sesuai dengan fungsi dan memungkinkan untuk
bisa dikerjakan. Sket dari alat tersebut bisa dilihat sesuai gambar berikut :

Gambar 3.2 Desain Screw


44

Keterangan :
1) Screw
1.1 Feed Section
Bagian dari screw yang berfungsi mengambil material (biji plastik) yang
posisinya tepat di bawah hopper yang selanjutnya diteruskan ke bagian
compression section dengan dilengkapi band heater pada bagian barrel
sehingga biji plastik mulai meleleh. Bagian ini memiliki kedalaman screw
yang konstan. Feed section memiliki panjang dimensi 85 mm.
1.2 Compression Section
Bagian dari screw yang mana diameter meningkat secara bertahap yang
mengakibatkan penurunan kedalaman screw dibandingkan dengan feed
section. Compression section atau bisa disebut dengan transisi peleburan,
hal itu disebabkan karena material biji plastik mengalami pelelehan di
bagian ini. Compression section memiliki panjang dimensi 42,5 mm.
1.3 Metering Section
Bagian dari screw yang terletak di bagian ujung yang memiliki kedalaman
screw yang minimal tapi konstan. Hal tersebut untuk mengontrol debit
lelehnya material biji plastik secara lebih akurat. Metering section
memiliki panjang dimensi 42,5 mm.
2) Non-Return Valve
Merupakan bagian dari screw yang berfungsi untuk mendorong lelehan bijih
plastik masuk ke dalam mold atau cetakan yang terletak di bagian ujung.
3) Bearing House
Berfungsi sebagai pemegang bantalan/bearing antara bagian luar yang diam
terhadap bagian dalam yang berputar agar tetap pada posisinya masing-masing.
Selain sebagai pemegang bearing, adapun fungsi yang lebih vital dari bagian
ini adalah sebagai perantara screw dengan pneumatic cylinder.
4) Bearing
Bearing menjaga poros screw agar selalu berputar terhadap sumbu porosnya,
atau juga menjaga suatu komponen yang bergerak linier agar selalu berada
45

pada jalurnya. Dalam pengaplikasiannya penulis memakai bearing tipe 6003-


2RS sebanyak 2 buah.
5) Check Ring
Bagian dari screw yang befungsi untuk menjaga aliran biji plastik yang telah
meleleh agar tidak kembali saat screw berhenti berputar. Cara kerjanya adalah
pada waktu screw bergerak maju atau posisi inject maka ring akan menutup
sehingga material yang berada di depan screw akan terdorong maju dan
material tidak balik kedalam screw. Pada waktu screw berputar atau charging
maka ring akan terbuka dan mengisi ruangan yang berada pada depan screw.
Dalam pengaplikasiannya penulis menggunakan round bar St 37.
6) Cylinder Pneumatic
Penulis memakai ukuran pneumatic Ø 40 x 50 mm yang digunakan sebagai
media pendorong dan penarik screw. Pneumatic ini nantinya akan dikendalikan
oleh rekan mahasiswa lain bagian kontrol.
7) Dudukan Cylinder Pneumatic.
Digunakan sebagai media penyangga cylinder pneumatic. Penulis memakai 2
buah dudukan pneumatic screw untuk menyangga bagian depan dan belakang
pneumatic yang selanjutnya dikencangkan dengan mur dan baut.

3.4 Perancangan Komponen Screw


Pemilihan komponen mekanik dan bahan baku yang digunakan untuk
pembuatan screw diperlukan sebagai tolok ukur dalam menentukan perhitungan
perencanaan, spesifikasi peralatan yang sudah ada diantaranya bahan baku dan
bahan order lainnya.
Hal ini penting untuk dipertimbangkan, dikarenakan apabila sebuah material
menerima suhu yang melampaui batas titik lebur maka komponen tersebut akan
rusak dan mengurangi lifetime dari sebuah komponen atau bahkan mekanisme dari
suatu alat tersebut tidak berjalan.
Selain mempertimbangkan titik lebur, hal lain yang perlu dipertimbangkan
adalah ketersediaan serta harga tersebut di pasaran. Karena apabila penulis sudah
mempertimbangkan dari komponen tersebut, akan sia-sia apabila material yang
46

penulis butuhkan tidak tersedia ataupun dari segi harga sangat mahal. Nilai estetika
dari komponen juga merupakan hal yang harus dipertimbangkan.

3.4.1 Data Perencanaan


Pada pembuatan screw model mesin plastic injection moulding, dibutuhkan
data – data yang direncanakan sebagai berikut.
a. Diameter barrel (DB) = 43 mm
b. Diameter screw (DS) = 32 mm
c. Sudut helix (θ) = 17,8°
d. Ketebalan pitch (s) = 10% DS
= 10% x 32 = 3,2 mm
e. Panjang keseluruhan (L) = 170 mm
f. Feed section = 85 mm
g. Compression section = 42,5 mm
h. Metering section = 42,5 mm
i. Clearance screw dengan barrel (δ) = 1 mm
j. Rasio panjang terhadap diameter (L/D) = 5,3 : 1
k. Compression ratio (hF/hM) = 2,8
l. Putaran screw (N) = 8,5 rpm

3.4.2 Perencanaan Diameter Screw


Pada awal perhitungan, akan diasumsikan diameter shaft untuk screw sebesar
32 mm dengan pemilihan ulir square 2 TPI (Thread per Inch). Dengan material
screw adalah St 37.
Diketahui : 𝐷𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑠𝑐𝑟𝑒𝑤 (𝐷𝑆 ) = 32 𝑚𝑚
𝑃𝑖𝑡𝑐ℎ (𝑝) = 2 𝑇𝑃𝐼
25,4
=
2
= 12,7 𝑚𝑚
Dengan demikian besarnya diameter mayor pada screw model mesin plastic
injection moulding dapat dihitung dengan persamaan (2-1) :
47

7
𝑑1 = 𝐷𝑆 − (2 𝑥 𝑝)
16
7
= 32 − (2 𝑥 12,7)
16
= 32 − 11,11
= 20,8875 𝑚𝑚 ≈ 20,88 𝑚𝑚
Karena di tabel mesin bubut N700G tidak terdapat pitch 12,7 mm maka dalam
pelaksanaanya memilih pitch 12 mm pada tabel.
Dalam menentukan besarnya diameter mayor pada screw dengan melihat
pertimbangan antara hF (flight depth untuk feed section) dan hM (flight depth untuk
metering section) dengan rasio kompresi yang standart yaitu 2.8 ; 3.1 ; 3.3 ; 3.9 ;
dan 4.6. Maka besarnya hF dapat dihitung dengan persamaan (2-2) :
𝐷𝑆 − 𝑑1
ℎ𝐹 =
2
32 − 20,88
=
2
= 5,56 𝑚𝑚
Dengan demikian :
ℎ𝐹
= 𝑐𝑜𝑚𝑝𝑟𝑒𝑠𝑠𝑖𝑜𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜
ℎ𝑀
5,56
= 2,8
ℎ𝑀
5,56
ℎ𝑀 =
2,8
ℎ𝑀 = 1,98 𝑚𝑚
Sehingga besarnya diameter mayor pada screw dapat dihitung dengan
persamaan (2-3) :
𝑑2 = 𝐷𝑆 − 2 ℎ𝑀
= 32 − 2 𝑥 1,98
= 32 − 3,98
= 28,04 𝑚𝑚
48

3.4.3 Perencanaan Tekanan Injeksi


Pada proses injeksi, diasumsikan tekanan pada proses injeksi ≤ clamping. Pada
model mesin plastic injection molding yang dirancang, menggunakan cylinder
pneumatic Ø 40 x 50 mm, dengan tekanan angin dari kompresor. Besarnya tekanan
angin dari kompresor berkisar antara 4 – 8 bar. Maka perhitungan tekanan injeksi
untuk screw dapat dihitung dengan persamaan (2-4) :
𝐹𝑖𝑛𝑗𝑒𝑘𝑠𝑖 ≤ 𝐹𝑐𝑙𝑎𝑚𝑝𝑖𝑛𝑔
Ppiston = 4 bar (1 bar = 0,1 N/mm2)
= 0,1 x 4 = 0,4 N/mm2
𝜋 𝜋
A = 𝑥 𝐷2 = 𝑥 402 = 1256 mm2
4 4

Finjeksi = Ppiston x A
= 0,4 N/mm2 x 1256 mm2
= 502,4 N ≈ 502 N
Dengan demikian, Finjeksi ≤ 502 N. Oleh karena screw berbentuk silindris, maka
untuk menentukan gaya shaft dapat dihitung dengan persamaan (2-5) :
Dimana : Fr = Gaya shaft ( N )
Pitch (p) = 12,7 mm = 0,0127 m
20,88
𝑅𝑎𝑑𝑖𝑢𝑠 𝑠𝑐𝑟𝑒𝑤 (𝑟) =
2
= 10,44 𝑚𝑚
= 0,01044 𝑚
Maka besar gaya shaft yang terjadi di screw adalah :
𝐹𝑖𝑛𝑗𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑥 𝑝
𝐹𝑟 =
2𝜋 𝑥 𝑟
502 𝑥 0,0127
=
2𝜋 𝑥 0,01044
= 97,24 𝑁
49

3.4.4 Perencanaan Laju Aliran


Laju aliran screw (Q) adalah hasil dari tiga jenis aliran yang berbeda, ketiga
aliran tersebut adalah aliran drag (Qd), aliran tekanan (Qp), dan aliran kebocoran
(Qs).
𝑄 = 𝑄𝑑 − 𝑄𝑝 − 𝑄𝑠
Adapun perhitungan dari ketiga laju aliran tersebut dapat dihitung dengan
persamaan (2-7), (2-8), dan (2-9) :
a) Aliran drag (Qd)
𝜋² 2
𝑄𝑑 = 𝐷 𝑁 ℎ sin 𝜃 cos 𝜃
2
𝜋²
𝑄𝑑 = 𝑥 432 𝑚𝑚 𝑥 8,5 𝑟𝑝𝑚 𝑥 5,56 𝑚𝑚 𝑥 sin 17,8° 𝑥 cos 17,8°
2
𝜋²
= 𝑥 1849 𝑚𝑚2 𝑥 8,5 𝑟𝑝𝑚 𝑥 5,56 𝑚𝑚 𝑥 0,31 𝑥 0,95
2

= 125384,7 mm3/menit
= 2089,746 mm3/s

b) Aliran tekanan (Qp)


𝜋 𝐷 ℎ3 ∆𝑃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃
𝑄𝑝 =
12 𝜂 𝐿
Untuk viskositas (η) dari LDPE adalah 0,06
Maka, aliran tekanan adalah
𝜋 𝑥 32 𝑚𝑚 𝑥 3,773 𝑥 58,0152 𝑝𝑠𝑖 𝑥 𝑠𝑖𝑛2 17,8
𝑄𝑝 =
12 𝑥 0,06 𝑥 42,5 𝑚𝑚
𝜋 𝑥 32 𝑚𝑚 𝑥 53,58263 𝑚𝑚3 𝑥 58,0152 𝑝𝑠𝑖 𝑥 0,99
=
12 𝑥 0,06 𝑥 42,5 𝑚𝑚
= 953,8972 𝑚𝑚3 /𝑠

c) Aliran kebocoran (Qs)


𝜋 𝐷 2 𝛿 3 tan 𝜃 ∆𝑃
𝑄𝑠 =
10 𝑆 𝐿 𝜂
𝜋 𝑥 322 𝑚𝑚 𝑥 13 𝑚𝑚 𝑥 tan 17,8 𝑥 58,0152 𝑝𝑠𝑖
𝑄𝑠 =
10 𝑥 3,2 𝑚𝑚 𝑥 42,5 𝑚𝑚 𝑥 0,06
50

𝜋 𝑥 1024 𝑚𝑚2 𝑥 1 𝑚𝑚3 𝑥 0,32 𝑥 58,0152 𝑝𝑠𝑖


=
10 𝑥 3,2 𝑚𝑚 𝑥 42,5 𝑚𝑚 𝑥 0,06
= 733,9628 𝑚𝑚3 /𝑠
Maka, laju aliran screw adalah
𝑄 = 𝑄𝑑 − 𝑄𝑝 − 𝑄𝑠
= 2089,746 𝑚𝑚3 /𝑠 – 953,8972 𝑚𝑚3 /𝑠 – 733,9628 𝑚𝑚3 /𝑠
= 401,8856 mm3/s ≈ 400 mm3/s

3.5 Iterasi Alat


Dalam menganalisis temperatur yang terjadi pada screw model mesin plastic
injection moulding ini penulis menggunakan software CATIA V5R17. Dengan
parameter temperatur 245°C yang merupakan titik leleh tertinggi dari material
LDPE (Low density polyethylene) sehingga didapatkan analisa sebagai berikut :

Gambar 3.3 Analisa Screw pada Material Steel

Gambar 3.4 Analisa Screw pada Material Alumunium


51

Gambar 3.5 Analisa Screw pada Material Iron

Gambar 3.6 Analisa Screw pada Material Copper


Dari berbagai analisis didapatkan screw mengggunakan material Steel dengan
von misses stress maksimum tertinggi sebesar 252 x 105 N/m2.

3.6 Perhitungan Waktu Pemesinan


3.6.1 Perhitungan Waktu Pemesinan untuk Mesin Bubut
Waktu pemesinan untuk mengerjakan screw dengan data sebagai berikut:
Nama bagian = Screw
Bahan = Round bar St 37
Ukuran row material =  38,1 x 287
Ukuran yang diinginkan =  32 x 285
Alat potong = HSS
Kecepatan potong (Vc) = 21 m/menit (Technology of Machine Tools, Krar,
Oswald)
Feeding = 0,16 mm/putaran (Tabel Mesin Bubut N700G)
Merk mesin = Mesin bubut N700G
52

 Facing
Diketahui : do = 38,1 mm
dm = 0 mm
lt = 1 mm
- Putaran poros utama
𝑣 × 1000
n = 𝜋×𝑑
21×1000
= 𝜋×38,1

= 175,54 putaran/ menit


= 225 putaran/menit (Tabel Mesin Bubut N700G)
- Kecepatan makan
Vf = f  n
= 0.1  225
= 36 mm/menit
- Jumlah pemakanan
𝑙𝑡−𝑑𝑚
i = 𝑡𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛
1−0
= 0.5

= 2 kali
- Waktu pemotongan
𝑑𝑜
tc = 𝑉𝑓 x i
38,1 𝑚𝑚
= 22,5𝑚𝑚 xi
⁄𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

= 1,69 menit x 2
= 3,39 menit

 Pembubutan memanjang rough cut (Ø 38,1 – Ø 32,1)


Diketahui : do = 38,1 mm
dm = 32,1 mm
lt = 202 mm
53

- Putaran poros utama


𝑣 × 1000
n =
𝜋×𝑑
21 × 1000
= 𝜋 × 38,1

= 175,54 putaran/ menit


= 170 putaran/menit (Tabel Mesin Bubut N700G)
- Kecepatan makan
Vf = f n
= 0.5  170
= 85 mm/menit
- Jumlah pemakanan
𝑑𝑜−𝑑𝑚
i = 𝑡𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛
38,1−32,1
= 0.5

= 12 kali
- Waktu pemotongan
𝑙𝑡
Tc = 𝑉𝑓 × 𝑖
202 𝑚𝑚
= 85𝑚𝑚 × 12
⁄𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

= 28,52 menit

 Pembubutan memanjang finish cut (Ø 32,1 – Ø 32)


Diketahui : do = 32,1 mm
dm = 32 mm
lt = 202 mm
- Putaran poros utama
𝑣 × 1000
n = 𝜋×𝑑
27 × 1000
= 𝜋 × 32,1

= 267,87 putaran/ menit


= 280 putaran/menit (Tabel Mesin Bubut NG03)
54

- Kecepatan makan
Vf = f n
= 0.1  280
= 28 mm/menit
- Jumlah pemakanan
𝑑𝑜−𝑑𝑚
i = 𝑡𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛
32,1−32
= 0.1

= 1 kali
- Waktu pemotongan
𝑙𝑡
Tc = 𝑉𝑓 × 𝑖
202 𝑚𝑚
= ×1
28𝑚𝑚⁄𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

= 7,21 menit

 Pembubutan chamfer
Diketahui : dm = 32 mm
do = 18 mm
lt = 7 mm
θ = 45°
- Putaran poros utama
𝑉𝑐×1000
n = 𝜋×𝑑
27×1000
= 𝜋×32

= 268,71 putaran/ menit


= 280 putaran/menit (Tabel Mesin Bubut N700G)
- Kecepatan makan
Vf = f n
= 0.1  280
= 28 mm/menit
55

- Jumlah pemakanan
𝑑𝑜−𝑑𝑚
i = 𝑡𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛
32−18
= 0.5

= 28 kali
- Waktu pemotongan
𝑙𝑡
Tc = 𝑉𝑓 × 𝑖
7 𝑚𝑚
= × 28
28𝑚𝑚⁄𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

= 7,00 menit

 Pembubutan ulir pitch 12


Diketahui : dm = 32 mm
do = 20,88 mm
lt = 170 mm
- Putaran poros utama
𝑉𝑐×1000
n = 𝜋×𝑑
27×1000
= 𝜋×32

= 268,71 putaran/ menit : pitch


268,71 𝑝𝑢𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛⁄𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 12

= 22,39 putaran/menit
= 21 putaran/menit (Tabel Mesin Bubut N700G)
- Kecepatan makan
Vf = f n
= 0.1  21
= 2,1 mm/menit
- Jumlah pemakanan
𝑑𝑜−𝑑𝑚
i = 𝑡𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛
32−20,88
=
0.5

= 22 kali
56

- Waktu pemotongan
𝑙𝑡
Tc = 𝑉𝑓 × 𝑖
170 𝑚𝑚
= 2,1𝑚𝑚 × 22
⁄𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

= 1800,38 menit : pitch


1800,38 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 12

= 150,03 menit

Tabel 3.1 Waktu Pemesinan Bubut


No 1 2
Nama Screw Non-Return Valve
Komponen Facing Memanjang Chamfer Facing Memanjang Ulir Facing Memanjang Chamfer Facing Memanjang Chamfer Ulir
do (mm) 38,1 38,1 32,1 32 15,5 32 38,1 38,1 22,1 22 20 32 38,1 38,1 33,6 33,5 38,1 38,1 8,1 32 8
dm (mm) 0 32,1 32 15,5 15 18 0 22,1 22 20 18 20,88 0 33,6 33,5 0 0 8,1 8 11 6,75
lt (mm) 1 202 202 15 15 7 1 45 45 25 0 170 1 33 33 11 1 25 25 12 22
feeding
0,1 0,5 0,1 0,5 0,1 0,1 0,1 0,5 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,5 0,1 0,1 0,1 0,5 0,1 0,1 0,1
(mm/putaran)
v (m/menit) 27 21 27 21 27 27 27 21 27 27 27 27 27 21 27 27 27 21 27 27 27
n (rpm) 225,69 175,54 267,87 209,00 554,76 268,71 225,69 175,54 389,08 390,85 429,94 22,39 225,69 175,54 255,91 256,68 225,69 175,54 1061,57 268,71 48,86
n yang telah ada
225 170 280 225 600 280 225 170 375 375 420 21,00 225 170 225 225 225 170 950 280 42
di mesin (rpm)
Vf (mm/menit) 22,5 85 28 112,5 60 28 22,5 85 37,5 37,5 42 2,1 22,5 85 22,5 22,5 22,5 85 95 28 4,2
Jumlah
2 12 1 33 5 28 2 32 1 10 10 22 2 9 1 45 2 60 1 42 25
pemakanan
tc (menit) 3,39 28,52 7,21 4,40 1,25 7,00 3,39 16,94 1,20 6,67 4,76 150,03 3,39 3,49 1,47 22,00 3,39 17,65 0,26 18,00 5,95
tc/komponen 234,76 75,60
No 3 4
Nama Bearing House Check Ring
Komponen Facing Bubut dalam Facing Bubut dalam Facing Memanjang Facing
do (mm) 38,1 37 25,5 38,1 37 25,5 38,1 38,1 33,6 38,1
dm (mm) 0 25,5 25,4 0 25,5 25,4 0 33,6 33,5 0
lt (mm) 1 9 9 1 9 9 1 10 10 1
feeding
0,1 0,5 0,1 0,16 0,5 0,1 0,1 0,5 0,1 0,1
(mm/putaran)
v (m/menit) 27 21 27 27 21 27 27 21 27 27
n (rpm) 225,69 180,75 337,20 225,69 180,75 337,20 225,69 175,54 255,91 225,69
n yang telah ada
225 170 280 225 170 280 225 170 225 225
di mesin (rpm)
Vf (mm/menit) 22,5 85 28 36 85 28 22,5 85 22,5 22,5
Jumlah
2 23 1 2 23 1 2 9 1 2
pemakanan
tc (menit) 3,39 2,44 0,32 2,12 2,44 0,32 3,39 1,06 0,44 3,39
tc/komponen 11,02 8,28

No Nama Komponen tc/komponen (menit)


1 Screw 234,76
2 Non-Return Valve 75,60
3 Bearing House 11,02
4 Check Ring 8,28
Tc pemesinan bubut (menit) 329,66

Waktu pengeboran untuk mengerjakan screw dengan data sebagai berikut:


Nama bagian = Screw
Bahan = Round bar St 37
Alat potong = HSS
Merk mesin = Mesin bubut N700G
57

 Pengeboran Center drill


Diketahui : Kecepatan potong = 14 m/menit
Kedalaman pemakanan = 5 mm
Diameter mata bor = 4 mm
Feeding = 0,08 mm/putaran
- Panjang pengeboran
L = l + 0,3 . d
= 5 + 0,3 . 4
= 6,2 mm
- Putaran poros utama
𝑉𝑐×1000
n =
𝜋×𝑑
14×1000
=
𝜋×4

= 1114,65 putaran/ menit


= 950 putaran/menit (Tabel Mesin Bubut N700G)
- Waktu pemesinan
𝐿
𝑡𝑚 = 𝑠
𝑟 .𝑛
6,2
= 0,08×950

= 0,08 menit
- Waktu setting = 5 menit
- Waktu pengukuran = 2 menit
- Total waktu pengeboran center drill = 0,08 + 5 + 2
= 7,08 menit

 Pengeboran Ø 6,5 mm
Diketahui : Kecepatan potong = 16 m/menit
Kedalaman pemakanan = 35 mm
Diameter mata bor = 6,5 mm
Feeding = 0,12 mm/putaran
58

- Panjang pengeboran
L = l + 0,3 . d
= 35 + 0,3 . 6,5
= 36,95 mm
- Putaran poros utama
𝑉𝑐×1000
n = 𝜋×𝑑
16×1000
= 𝜋×6,5

= 783,93 putaran/ menit


= 750 putaran/menit (Tabel Mesin Bubut N700G)
- Waktu pemesinan
𝐿
𝑡𝑚 = 𝑠
𝑟 .𝑛
36,95
= 0,12×750

= 0,41 menit
- Waktu setting = 5 menit
- Waktu pengukuran = 2 menit
- Total waktu pengeboran center drill = 0,41 + 5 + 2
= 7,41 menit
Jadi, total waktu pengeboran pada komponen screw adalah 7,08 + 7,41 = 14,49
menit.
59

Tabel 3.2 Waktu Pengeboran di Bubut


No 1 2 3
Nama Screw Bearing House Check Ring
Komponen Center drill Center drill Center drill
6,5 5 12 25,4 5 13 25,4
Ø mata bor (mm) 4 4 4
Cutting speed
14 16 14 15 20 30 14 15 20 29
(m/menit)
Feeding
0,08 0,12 0,08 0,1 0,2 0,32 0,08 0,1 0,2 0,31
(mm/put)
Tebal (mm) 5 35 5 25 25 25 5 12 12 12
Panjang
6,2 36,95 6,2 26,5 28,6 32,62 6,2 13,5 15,9 19,62
pengeboran (L)
n 1114,65 783,93 1114,65 955,41 530,79 376,15 1114,65 955,41 489,96 363,61
n mesin 950 750 950 950 475 375 950 950 475 375
F (mm/menit) 76 90 76 95 95 120 76 95 95 116,25
Tm (menit) 0,08 0,41 0,08 0,28 0,30 0,27 0,08 0,14 0,17 0,17
Waktu setting
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
(menit)
Waktu
pengukuran 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
(menit)
Waktu total
7,08 7,41 7,08 7,28 7,30 7,27 7,08 7,14 7,17 7,17
(menit)
Waktu
14,49 28,93 28,56
total/komponen
Total waktu
71,99
pengeboran

Jadi total waktu pengerjaan komponen di mesin bubut adalah


- Waktu setting mesin = 30 menit
- Waktu pengecekkan ukuran = 15 menit
- Waktu longgar = 5 menit
- Total waktu = 332,31 + 71,99 + 30 + 15 + 5
= 454,3 menit

3.6.2 Perhitungan Waktu Pemesinan untuk Mesin Bor


Waktu pemesinan untuk mengerjakan dudukan pneumatic screw dengan data
sebagai berikut:
Nama bagian = Dudukan Pneumatic Screw
Bahan = Plat St 37
Diameter mata bor = Ø 5 mm, Ø 10 mm, Ø 13, Ø 25.4, Ø 30 mm
Tebal plat = 10 mm
60

- Kedalaman pengeboran  5 mm
Vc = 15 m/menit
Sr = 0,1 mm/putaran
L1 = t + (0.3 x d)
= 10 + (0.3 x 5)
= 11,5 mm
𝑉𝑐 𝑥 1000
n = 𝜋𝑥𝑑
15 𝑥 1000
= 𝜋𝑥5

= 955,41 rpm
= 1120 rpm (Tabel Mesin Bor)
𝐿
Tm1 = 𝑆𝑟 𝑥 𝑛
11,5
= 0,1 𝑥 1120

= 0,1 menit
- Kedalaman pengeboran  10 mm
Vc = 18 m/menit
Sr = 0,18 mm/putaran
L1 = t + (0.3 x d)
= 10 + (0.3 x 10)
= 13 mm
𝑉𝑐 𝑥 1000
n = 𝜋𝑥𝑑
18 𝑥 1000
= 𝜋 𝑥 10

= 573,25 rpm
= 470 rpm (Tabel Mesin Bor)
𝐿
Tm1 = 𝑆𝑟 𝑥 𝑛
13
= 0,18 𝑥 470

= 0,15 menit
61

- Kedalaman pengeboran  13 mm
Vc = 20 m/menit
Sr = 0,22 mm/putaran
L1 = t + (0.3 x d)
= 10 + (0.3 x 13)
= 13,9 mm
𝑉𝑐 𝑥 1000
n = 𝜋𝑥𝑑
20 𝑥 1000
= 𝜋 𝑥 13

= 489,96 rpm
= 470 rpm (Tabel Mesin Bor)
𝐿
Tm1 =
𝑆𝑟 𝑥 𝑛
13,9
= 0,22 𝑥 470

= 0,13 menit
- Kedalaman pengeboran  25,4 mm
Vc = 30 m/menit
Sr = 0,32 mm/putaran
L1 = t + (0.3 x d)
= 10 + (0.3 x 25.4)
= 17,62 mm
𝑉𝑐 𝑥 1000
n = 𝜋𝑥𝑑
30 𝑥 1000
=
𝜋 𝑥 25.4

= 376,15 rpm
= 330 rpm (Tabel Mesin Bor)
𝐿
Tm1 = 𝑆𝑟 𝑥 𝑛
17,62
= 0,32 𝑥 330

= 0,17 menit
62

- Kedalaman pengeboran  30 mm
Vc = 32 m/menit
Sr = 0,34 mm/putaran
L1 = t + (0.3 x d)
= 10 + (0.3 x 30)
= 19 mm
𝑉𝑐 𝑥 1000
n = 𝜋𝑥𝑑
32 𝑥 1000
= 𝜋 𝑥 30

= 339,70 rpm
= 330 rpm (Tabel Mesin Bor)
𝐿
Tm1 =
𝑆𝑟 𝑥 𝑛
19
= 0,34 𝑥 330

= 0,17 menit
63

Tabel 3.3 Waktu Pengeboran


No 1 2
Bearing House 2 x Dudukan Pneumatic Screw
Nama
Profil Hollow 75 x 75
Komponen Plat 300 x 200 x 10 Plat 300 x 40 x 10
x 3,5
Ø mata bor
5 13 5 10 25,4 30 5 13
(mm)
Cutting speed
15 20 15 18 30 32 15 20
(m/menit)
Feeding
0,1 0,22 0,1 0,18 0,32 0,34 0,1 0,22
(mm/put)
Jumlah lubang 1 1 3 3 3 1 2 2
Tebal (mm) 3,5 3,5 10 10 10 10 10 10
L1 5 7,4 11,5 13 17,62 19 11,5 13,9
n 955,41 489,96 955,41 573,25 376,15 339,70 955,41 489,96
n mesin 1120 470 1120 470 330 330 1120 470
Tm1 (menit) 0,04 0,07 0,10 0,15 0,17 0,17 0,10 0,13

Waktu setting
5 5 5 5 5 5 5 5
(menit)

Waktu
pengukuran 2 2 2 2 2 2 2 2
(menit)
Waktu total
7,04 7,07 7,31 7,46 7,50 7,17 7,21 7,27
(menit)
Waktu
14,12 87,83
total/komponen
Total waktu
101,94
pengeboran
Jadi, total waktu pengerjaan komponen di mesin bor adalah = 14,12 + 87,83
= 101,94 menit

3.6.3 Perhitungan Waktu Pemesinan untuk Mesin Frais


Waktu pemesinan untuk mengerjakan Non-Return Valve dengan data sebagai
berikut:
Ukuran material = Ø 33,5 x 65 mm
Kecepatan potong (Vc) = 20 m/menit
Kecepatan pemakanan (Sr) = 0.1 mm/rad
Cutter yang digunakan = End mill HSS  10 mm
Tebal pemakanan = 0.5 mm
64

𝑉𝑐 𝑥 1000
n = 𝜋𝑥𝑑
20 𝑥 1000
= 𝜋 𝑥 10

= 636,94 rpm
= 450 rpm (Tabel Mesin Frais ZAY7045C)
Karena pada mesin frais tidak terdapat kecepatan 636,94 rpm, maka diambil
kecepatan yang mendekati. Putaran yang dipilih adalah 710 rpm
𝑈𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑈𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
i = 𝑇𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛
33,5 −26,5
= 0,5

= 14 kali
𝐿𝑥𝑖
tm = 𝑆𝑟 𝑥 𝑛
33,5 𝑥 14
= 0,1 𝑥 710

= 6,61 menit/sisi
Pengerjaan terhadap 4 sisi, maka :
tm = 4 x 6,61 menit/sisi = 26,44 menit
Waktu setting = 20 menit
Waktu pengukuran = 15 menit
Waktu longgar = 5 menit
Sehingga waktu total untuk membuat alur pada Non-Return Valve adalah sebagai
berikut:
tm total = 26,44 + 20 + 15 + 5
= 66,44 menit

3.6.4 Kerja Bangku


Data diatas merupakan waktu pembuatan komponen secara terpisah. Apabila
ingin menggabungkan menjadi sebuah mesin terdapat waktu tambahan untuk
menggabungkan serta memasangkan komponen tersebut menjadi sesuai dengan
gambar kerja yang dibuat sebesar 30 menit. Untuk total waktu kerja bangku dari
kegiatan pengetapan, penggerindaan, pengikiran selama ± 90 menit.
65

3.6.5 Total Waktu Pemesinan


Dengan rumus yang sama seperti di atas, maka ditentukan waktu pemesinan
tiap komponen alat bantu ini adalah sebagai berkut :
Mesin Yang Waktu Pengerjaan Secara Waktu Real Pengerjaan
No
Digunakan Teoritis (menit) di Bengkel (menit)
1 Mesin Bubut 451,64 480
2 Mesin Frais 66,44 120
3 Mesin Bor 101,91 120
4 Kerja Bangku 90 100
5 Mesin Las 90 90
Total 799,99 910
66
67
68
69
70

3.10 Harga Pembuatan Produk


3.10.1 Material
Perhitungan bahan baku dilakukan sesuai dengan bahan baku yang akan
dipergunakan dalam pembuatan screw model mesin plastic injection moulding.
Untuk mengetahui biaya dari masing-masing material yang digunakan untuk
membuat alat, sebelumnya harus diketahui harga materialnya.

Tabel 3.4 Harga Satuan Bahan Baku


No. Bahan Massa Jenis (Kg/mm3) Harga (Rp/Kg)
1. St 37 7,8 x 10-6 Rp. 13.000,00

Sumber : Toko Besi Malang

Contoh perhitungan untuk menghitung massa per komponen


- Screw
Bahan = ST37
Massa Jenis = 7.8  10-6 kg/mm3
Dimensi = Ø 38,1 x 287 mm
Volume = 342673,695 mm3
Massa = volume × massa jenis
= 342673,695 mm3  7.8  10-6 kg/mm3
= 2,67 kg
Tabel 3.5 Massa Komponen
No Nama Bagian Bahan Ukuran Jumlah Massa (Kg)
1 Screw St 37 Ø38,1 x 287 1 2,67
2 Non-Return Valve St 37 Ø38,1 x 67 1 0,62
3 Bearing House St 37 Ø44,45 x 43,5 1 0,54
Dudukan
4 St 37 300 x 200 x 50 2 11,36
Pneumatic Screw
5 Check Ring St 37 Ø38,1 x 12 1 0,11
Jumlah 15,31
71

Tabel 3.6 Harga Material Non-Order


No Nama Bahan Jumlah Massa (Kg) Harga/Kg (Rp)
1 St 37 16 Rp 208.000,00
Jadi, total biaya material non-order adalah Rp. 208.000,00

Tabel 3.7 Material Order


Nama Harga Satuan
No Tipe Jumlah Harga (Rp)
Komponen (Rp)
1 Bearing 6003-2RS 2 Rp 15.000,00 Rp 30.000,00
Cylinder
2 Ø40 x 50 1 Rp 796.000,00 Rp 796.000,00
Pneumatic
3 Snap As Ø18 1 Rp 2.000,00 Rp 2.000,00
Jumlah Rp 828.000,00
Jadi, total biaya material order adalah Rp. 828.000,00

Tabel 3.8 Total Material


No Material Harga
1 Non-order Rp 208.000,00
2 Order Rp 828.000,00
Jumlah Rp 1.036.000,00
Jadi, total biaya material order dan non-order adalah Rp. 1.036.000,00

3.10.2 Total Waktu Pemesinan


Dalam menentukan biaya pemesinan, dapat diketahui dari perhitungan sewa
mesin dan upah operator mengacu pada waktu pemesinan yang telah dikerjakan
sebelumnya.
Tabel 3.9 Total Waktu Pemesinan
Waktu Pemesinan (menit)

No Nama Bagian Mesin Mesin Mesin Kerja Mesin


bubut bor frais bangku las

1 Screw 249,25 ˗ ˗ 15 ˗
2 Non-Return Valve 75,6 ˗ 66,44 ˗ ˗
72

3 Bearing House 39,95 14,12 ˗ 15 30


4 Check Ring 36,84 ˗ ˗ ˗ ˗
Dudukan
5 ˗ 87,79 ˗ 60 60
Pneumatic Screw
Jumlah waktu/menit 454,30 101,91 66,44 90 90
Jumlah waktu/jam 7,53 1,70 1,11 1,50 1,50

3.10.3 Biaya Sewa Mesin


Setelah diketahui waktu pengerjaan mesin untuk masing-masing komponen,
maka biaya utuk permesinan dapat dihitung dengan mengalikan waktu pengerjaan
dengan biaya sewa mesin.

Tabel 3.10 Harga Sewa Mesin


No Jenis Mesin Harga Sewa Mesin
1 Mesin Bor Rp. 20.000,00/jam
2 Mesin Bubut Rp. 25.000,00/jam
3 Mesin Frais Rp. 20.000,00/jam
4 Kerja Bangku Rp. 12.000,00/jam
5 Mesin Las Rp. 50.000,00/kg

*) Sumber : CV. Rajawali Putra Teknik 2018

Tabel 3.11 Biaya Pemesinan


No Jenis Mesin Harga Sewa Mesin Waktu/jam Total Biaya
1 Mesin bubut Rp. 25.000,00 7,53 Rp 200.000,00
2 Mesin bor Rp. 20.000,00 1,70 Rp 40.000,00
3 Mesin frais Rp. 20.000,00 1,11 Rp 40.000,00
4 Kerja bangku Rp. 12.000,00 1,50 Rp 24.000,00
5 Mesin Las Rp. 50.000,00 ˗ Rp 50.000,00
Jumlah Rp 354.000,00
Jadi, total biaya pemesinan dalam pembuatan screw model mesin plastic injection
moulding adalah Rp. 354.000,00
73

3.10.4 Biaya Operator


Tabel 3.12 Biaya Sewa Operator/Jam
No Jenis Mesin Biaya Operator/jam
1 Mesin Bor Rp. 13.000,00
2 Mesin Frais Rp. 13.000,00
3 Kerja Bangku Rp. 13.000,00
4 Mesin Bubut Rp. 13.000,00
5 Mesin Las Rp. 13.000,00
*) Sumber : CV. Rajawali Putra Teknik
2018
Tabel 3.13 Biaya Operator Yang Harus Dibayar
No Jenis Mesin Biaya Operator/jam Waktu/jam Total Biaya
1 Mesin bubut Rp 13.000,00 7,53 Rp 104.000,00
2 Mesin bor Rp 13.000,00 1,70 Rp 26.000,00
3 Mesin frais Rp 13.000,00 1,11 Rp 26.000,00
4 Kerja bangku Rp 13.000,00 1,50 Rp 26.000,00
5 Mesin las Rp 13.000,00 1,50 Rp 26.000,00
Jumlah Rp 208.000,00
Jadi, total biaya operator pembuatan screw model mesin plastic injection moulding
adalah Rp. 208.000,00

3.10.5 Harga Pokok Produksi


Perhitungan biaya total pembuatan screw meliputi biaya bahan baku, biaya
pemesinan, dan biaya operator.
Tabel 3.14 Total Biaya Pembuatan
No Jensi Biaya Total Biaya
1 Bahan Baku Rp. 1.036.000,00
2 Biaya Pemesinan Rp. 354.000,00
3 Biaya Operator Rp. 208.000,00
Total Rp. 1.598.000,00
Jadi, biaya total yang untuk membuat screw model plastic injection moulding
adalah Rp. 1.598.000,00
74