Anda di halaman 1dari 25

SKENARIO 2

Medical Check Up

KELOMPOK : A-2

KETUA : Nafiz Aizal Wardana (1102018019)


SEKERTARIS : Mifta Khuljannah (1102018023)

ANGGOTA : Muhamad Akbar Ramadhan M (1102018015)

Dina Kurniati (1102018016)

Karlina Widia (1102018018)

Melia Hanani Manalis (1102018021)

Nur Fitri (1102018022)

Keisya Ananda Azzalyka (1102018024)

Kanita Gunawan Putri (1102018169)

Muhammad Daffa Satari (1102018170)

FAKULTAS KEDOKTERAN – UNIVERSITAS YARSI 2018


Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510

Telp. +62214244574

Fax +62214244574
Daftar Isi
Daftar Isi .................................................................................................................................. 1
Skenario 1 ................................................................................................................................ 2
Kata Sulit ................................................................................................................................ 3
Pertanyaan ............................................................................................................................... 3
Jawaban .................................................................................................................................. 4
Hipotesis .................................................................................................................................. 5
Sasaran Belajar ....................................................................................................................... 5
Daftar Pustaka .......................................................................................................................... 6

1
SKENARIO 1

Medical Check Up
Seorang perempuan, 23 tahun pekerjaan tenaga kerja wanita pada PT Amanah
diajurkan melakukan Medical Check up di RS Yarsi, pasien diminta untuk melakukan
pemeriksaan di laboratorium klinik, meliputi: darah rutin, gula darah, urin rutin dan feses rutin.
Sebelum melakukan pemeriksaan dokter memerintahkan untuk puasa.

2
KATA SULIT

1. Feses : Produk buangan saluran pencernaan yang dikeluarkan melalui


anus
2. Laboratorium Klinik : Tempat berbagai macam tes dilakukan untuk mendapatkan
informasi kesehatan pasien
3. Gula Darah : Untuk mengetahui kadar Gula dalam Darah
4. Medical Check Up : Pemeriksaan Kesehatan secara Menyeluruh
5. Urin : Air Seni yang di Ekskresikan oleh Ginjal
6. Urin Rutin : Pemeriksaan kadar PH, gula, nitrit, keton, bilirubin, urobilinogrn,
Sel Darah Putih dan Sel Darah Merah

3
PERTANYAAN

1. Apa tujuan melakukan Medical Check Up ?


2. Mengapa Pasien dianjurkan melakukan pemeriksaan Darah Rutin?
3. Pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada Medical Check Up ?
4. Apa saja Persiapan yang dilakukan untuk Medical Check Up ?
5. Apa akibat jika tidak berpuasa sebelum Medical Check Up ?
6. Pada pemeriksaan apa saja pasien dianjurkan untuk Puasa ?
7. Mengapa Pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan feses rutin?
8. Mengapa Pasien dianjurkan untuk Berpuasa sebelum melakukan Medical Check Up ?
9. Mengapa dianjurkan pemeriksaan Gula Darah ?
10. Apa perbedaan Pemeriksaan Urin Rutin dengan Pemeriksaan Urin Lengkap ?

JAWABAN

1. Untuk Mengidentifikasi Faktor Resiko Penyakit Kronis dan memeriksa tingkat kesehatan
Pasien.
2. Akan memberikan hasil kadar HB, jumlah Eritrosit, jumlah Trombosit dan hitung jenis
Leukosit.
3. Pemeriksaan Gula Darah, Darah Rutin, Urin Rutin dan Feses.
4. Hindari Merokok, Minuman Alkohol, Tidur yang Cukup dan Tidak Mengonsumsi Obat-
obatan.
5. Jika tidak Berpuasa atau berpuasa tidak sesuai dengan waktu yang dianjurkan
pemeriksaan yang dilakukan akan memberikan hasil yang tidak akurat karena
pemeriksaan tertentu masih dipengaruhi oleh makanan.
6. Glukosa, Kolesterol, Fungsi Hati, Sistem Metabolisme dan Urea.
7. Untuk membantu Mendiagnosis kondisi tertentu yang mempengaruhi saluran pencernaan.
8. Untuk membantu memastikan hasil tes yang dilakukan akurat karena kandungan gizi
dalam makanan akan diserap ke aliran darah dan bisa memberikan dampak pada darah,
lemak dan zat besi dalam tubuh.
9. Untuk mengetahui kadar gula dalam Darah atau untuk membantu diagnosis diabetes.
10. Pemeriksaan Urin Rutin adalah pemeriksaan kadar PH, gula, nitrit, bilirubin, sel darah
putih dan sel darah merah.

4
HIPOTESIS

Pemeriksaan laboratorium merupakan bagian dari pemeriksaan penunjang yang


bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh saat ini, memantau perkembangan
penyakit serta mendiagnosa suatu penyakit. Pemeriksaan laboratorium meliputi
pemeriksaan urine, darah dan feses.

5
SASARAN BELAJAR

L.O.1. Mempelajari dan Memahami Pemeriksaan Laboratorium


1.1. Definisi Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan Laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur
pemeriksaan khusus yang mengambil bahan atau sampel dari pasien dalam bentuk
darah, sputum (dahak), urine, kerokan kulit, dan cairan tubuh lainnya, dengan
tujuan untuk menentukan diagnosis atau membantu menegakkan diagnosis
penyakit.

1.2. Tujuan Pemeriksaan Lab


o Mendeteksi secara dini bila ada masalah kesehatan tersembunyi yang
belum menunjukan gejala, terutama penyakit-penyakit kardiovaskular,
penyakit ginjal, penyakit liver dan diabetes melitus
o Menentukan tingkat kebugaran dan kesehatan umum
o Mencegah berkembangnya suatu kelainan / penyakit
o Mencegah atau menunda terjadinya komplikasi
o Dapat melakukan pengobatan segera
o Memperpanjang usia produktif & usia harapan hidup
o Meningkatkan kualitas hidup
o Memantau perkembangan penyakit
o Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak
didapati penyakit.

6
1.3. Klasifikasi pemeriksaan laboratorium
1. Pemeriksaan Imunologi
Pemeriksaan darah yang bertujuan untuk mendeteksi awal
adanya infeksi virus, memperkirakan status imun dan pemantauan
respon pasca vaksinasi.

2. Pemeriksaan Hematologi
Penilaian suatu komponen sel darah secara lebih lengkap,
untuk mengetahui adanya kelainan darah seperti anemia (kurang
darah), adanya infeksi atau kelainan sel darah putih yang lain,
alergi dan gangguan pembekuan darah akibat kelainan jumlah
trombosit.

3. Pemeriksaan Mikrobiologi

Pemeriksaan terhadap sampel darah, urin, feses serta sekret


dan kerokan kulit yang dapat dilakukan melalui pemeriksaan
mikroskopik, pengecatan maupun pembiakan.

7
4. PCR
PCR merupakan pemeriksaan dengan menggunakan
teknologi amplifikasi asam nukleat virus, untuk mengetahui ada
atau tidaknya virus atau DNA virus, untuk memperkirakan jumlah
dalam tubuh dan untuk mengetahui jenisnya.

.
5. Pemeriksaan Petanda Tumor

Pemeriksaan darah yang dilakukan untuk membantu


skrinning awal penanda berbagai jenis kanker.
6. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang utama yang dilakukan dengan
pengecekan Body Maa Index (BMI) atau indeks massa tubuh
dengan membandingkan tinggi berat badan, tekanan darah,
frekuensi pernafasan, dan frekuensi denyut nadi.

8
7. Pemeriksaan Radiologi
Jenis pemeriksaan ini menggunakan sinar X atau sinar
radioaktif untuk memberikan informasi mengenai suatu penyakit
lewat foto, gambar, atau imaging.

8. Pemeriksaan Elektrodiagram
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa kondisi
jantung. Jenis tindakan yang dilakukan diantaranya merekam
aktivitas listrik dari jantung, dan dada pada batas tertentu untuk
mengidentifikasi jika terjadi ketidak normalan.
9. Pemeriksaan Fungsi Paru

Pemeriksaan ini bertujuan apakah ada gangguan pada paru-


paru atau tidak. Jenis tindakan yang dilakukan seperti mengukur
volume paru, mekanismenya dan kemampuan difusi paru-parunya.

9
10. Pemeriksaan Kolesterol
Salah satu penyakit yang dipicu oleh kolesterol jahat yang
tinggi diantaranya adalah serangan jantung dan stroke. Kadar
kolesterol normal jikan berada pada level dibawah 200 mg/dL.
11. Pemeriksaan Organ Vital Perempuan
Pemeriksaan ini terbagi menjadi 2, yaitu :
 Mammogram, untuk memeriksa adanya potensi
kanker payudara dengan mengecek apakah terdapat
benjolan atau tidak disekitar payudara.
 Pap Smear tes untuk mengontrol adanya potensi
kanker serviks atau Human Papilloma Virus
didalam organ intim wanita.

12. Pemeriksaan Koagulasi


Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai aktifitas faktor
pembekuan, menguji kelainan pada plasma, yang bertujuan untuk
mengetahui penyebab perdarahan. Seperti masa protrombin, uji
activated partial thromboplastin time (APTT), dan kadar
fibrinogen.

13. Pemeriksaan Urin


Pemeriksaan penyaring yang dipakai untuk mengetahui
adanya kelainan didalam saluran kemih, yaitu dari ginjal dan
salurannya, kelainan diluar ginjal, dan untuk mendeteksi adanya
metabolit obat seperti zat narkoba dan mendeteksi adanya
kehamilan.
14. Pemeriksaan Feses
Pemeriksaan ini adalah serangkaian tes yang dilakukan
pada sampel feses untuk membantu mendiagnosis kondisi
tertentu yang mempengaruhi saluran pencernaan. Kondisi
ini dapat mencakup infeksi (seperti dari parasit, virus, atau
bakteri), penyerapan kondisi yang buruk atau pula kanker.
15. Pemeriksaan Serologi
Pemeriksaan ini menggunakan serum seperti pemeriksaan
pada dugaan demam Dengue. Demam dengue merupakan
infeksi pertama kali yang disebut infeksi primer, serta
infeksi kedua kali yang disebut sekunder yang dapat
menimbulkan penyakit demam berdarah yang dikenal
sebagai Dengue Haemorragic Fever (DHE).

10
16. Pemeriksaan Rematologi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit
sendi, otot, tulang dan jaringan lemak.
17. Pemeriksaan Profil Lipid
Analisis lipoprotein (profil lipoprotein atau profil lipid)
mengukur kadar darah dari jumlah kolsterol, LDL, HDL, dan
trigliserida.

L.O. 2. Mempelajari dan Memahami Proses Persiapan laboratorium


2.1. Menjelaskan Persiapan Pemeriksaan Lab
Beberapa persiapan yang bisa dilakukan sebelum pemeriksaan lab adalah :
 Bila melakukan pemeriksaan yang memerlukan bahan sampel urin,
dianjurkan untuk minum air putih tanpa gula minimal 2 L/H.
 Tidak mengkonsumsi obat-obatan oral maupun yang lain, yang dapat
menyebabkan terjadinya respon tubuh terhadap obat tersebut.
 Menghindari akitifitas fisik berat, seperti berlari, naik turun tangga dalam
jangka waktu lama, olahraga pada malam hari sebelum pengambilan
darah.
 Menghindari stress sampai proses pengambilan sampel selesai.
 Puasa 12-14 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, tidak diperkenankan
melebihi waktu yang ditentukan, yaitu lebih dari 14 jam.
 Tidak diperkenankan merokok, makan makanan yang mengandung gula,
minum (kecuali air putih).
2.2. Menjelaskan Tahapan Pemeriksaan Lab
1. Pre Analitik
Pada tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap persiapan awal, dimana tahap
ini sangat menentukan kualitas sampel yang nantinya akan dihasilkan dan
mempengaruhi proses kerja berikutnya. Yang termasuk dalam tahap Pra

11
Analitik meliputi Kondisi Pasien, Cara dan Waktu pengambilan Sampel,
perlakuan terhadap proses persiapan sampel sampai sampel selesai.

2. Analitik
Analitik adalah Tahap Pengerjaan pengujian sampel hingga diperoleh
hasil pemeriksaan.

3. Pasca Analitik
Pasca Analitik adalah tahap akhir pemeriksaan yang dikeluarkan untuk
meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang dikelarkan benar-benar Valid.

2.3 Menjelaskan Hal-hal yang Mempengaruhi Pemeriksaan Lab

1. Kondisi pasien
a. Riwayat penyakit yang diderita pasien, penyakit turunan ataupun kelainan
bawaan tentunya akan mempengaruhi kondisi pasien tersebut.
b. Berat badan, tinggi badan, luas permukaan tubuh. Kondisi fisik pasien secara
spesifik tentunya akan berbeda dan memberi pengaruh antar individu
c. Kelainan kelainan yang diderita oleh pasien. Jika pasien memiliki kelainan
maka tentunya akan mempengaruhi kondisi pasien juga sampel dari pasien
tersebut.
d. Aktivitas fisik pasien. Aktifitas yang dilakukan pasien dapat meningkatkan
kadar-kadar tes tertentu, contohnya jika pasien habis berolahraga maka kadar
CK akan meningkat.

2. Lama puasa pasien (untuk pemeriksaan tertentu)


Lama puasa pasien sangat mempengaruhi hasil pemeriksaan, misalnya
pada pemeriksaan glukosa jika pasien berpuasa > 14 jam maka hasil
pemeriksaan glukosa tidak akan memperlihatkan kondisi sebenarnya, begitu juga
pada pemeriksaan gula 2 jam PP jika pasien diambil darah > 10 menit pada 2
jam setetelah makan maka hasil pemeriksaan tidak akan menggambarkan
kondisi glukosa darah pasien yang sesungguhnya,

3. Asupan makanan dan obat-obatan yang dikonsumsi


Asupan makanan dan obat-obatan tentunya akan mempengaruhi hasil
pemeriksaan, contohnya: obat-obatan kadar lemak ternyata mempengaruhi hasil

12
pemeriksaan kretinin kinase; makan makanan yang berlemak tentunya akan
mempengaruhi kolesterol total; kopi dapat meningkatkan kadar kreatinin.

2.4 Menjelaskan Cara Pengambilan Sampel

I. Pengambilan sampel darah vena :


 Pasien berpuasa (kecuali untuk pemeriksaan cito)
 Pada saat diambil sampelnya pasien istirahat, duduk santai
 Jarum dan spuit dipastikan berfungsi dan steril atau disposable
 Ukuran : ukuran nomor 22G atau jarum 12 untuk orang dewasa,
untuk vena yang kecil dipakai nomor 23 SWG
 Agar tidak mempengaruhi hasil bloodcount dianjurkan
pengambilan sampel menggunakan manchet sphygmomanometer
untuk membendung pada tekanan 20 mmHg, lamanya
pembendungan tidak boleh lebih dari 1 menit
 Sebelum melakukan pengambilan sampel harus dipersiapkan lebih
dahulu semua peralatan : jarum dan atau spuit, botol container dll
untuk botol/tabung dengan antikoagulan harus dikontrol isi
volumenya, EDTA = 2 mg untuk 1 cc darah. Untuk pemeriksaan
koagulasi yang dipakai darah citrate = 9 volume darah vena 1
volume larutan 3,13 gr/100 ml trisodium citrate.
 Cara mengisap darah vena, tidak boleh terlalu cepat/kuat
 Agar tidak hemolisis, sebelum memasukkan darah ke dalam botol
jarum dilepas dulu dan darah dialirkan pelan lewat dinding dalam
tabung vacutainer
 Botol/tabung EDTA setelah tertutup dibolak-balik kurang lebih 30
detik (jangan dikocok)
 Botol/tabung diberi label (identitas, asal ruang, jenis pemeriksaan)
 Kirim ke laboratorium secepat mungkin (maksimal 1 jam setelah
sampling)
 Untuk pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam pp, cara
pengambilan sampel harus sama : GDP = darah vena, 2 jam pp
juga = darah vena
 Untuk pemeriksaan GTT, pasien diet 3 hari (ditentukan oleh dokter
yang merawat) cara pengambilan sampel ke 1 pasien dalam
keadaan puasa. Setelah itu pasien minum glukosa 75 mg
selanjutnya diambil sampelnya setiap 2 jam.

13
II. Pengambilan sampel urin :
A. Urin pagi
1. Persiapan pasien, puasa (± 10-12 jam)
2. Yang dipakai urin pagi = urin yang dikemihkan pertama
kali setelah bangun tidur pagi (sebelum makan dan minum)
3. Tempat penampungan cukup bersih dan kering, tidak perlu
steril
4. Untuk pemeriksaan urin rutin lengkap diperlukan ± 10 ml
sampel urin
5. Cara pengambilan : urin diambil secara midstream = pasien
disuruh kemih sedikit dan urin dibuang, lalu ditampung
secukupnya urin yang dikemihkan selanjutnya, sisa urin
yang dikemihkan kemudian dibuang lagi
6. Cara pengiriman : sampel urin sebaiknya dikirim secepat
mungkin, sebab untuk mendapatkan hasil pemeriksaan urin
rutin yang baik urin harus diperiksa paling lambat 1-3 jam
setelah dikemihkan
B. Urin tampung 24 jam : untuk pemeriksaan secara kuantitatif
C. Urin 2 jam setelah makan : untuk pemeriksaan reduksi
D. Urin siang/sore hari : untuk pemeriksaan urobilinogen
E. Urin sewaktu : dapat dipakai untuk screening test, sampel ini
sebenarnya tidak banyak membantu memberikan informasi karena
seringkali urin terlalu encer

III. Pengambilan sampel pemeriksaan LCS :


1. Penampung sampel : tempat penampungan sampel LCS harus
bersih dan kering kecuali untuk pemeriksaan kuman harus steril
2. Tamping LCS dalam 3 botol masing-masing sebanyak 2 ml
3. Pengambilan sampel :
- Pemeriksaan perdarahan : kirim ke 3 botol tersebut
- Pemeriksaan sel-sel : kirim botol yang ke 3 dan pemeriksaan sel-
sel harus dikerjakan selambat-lambatnya ½ jam setelah
pengambilan
- Pemeriksaan Tryptophan : 5 cc harus jernih
- Pemeriksaan Levinson test : 2 cc
- Pemeriksaan glukosa : 1 cc

IV. Pemeriksaan sampel pemeriksaan transudat dan eksudat :


1. Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus

14
2. Cara pengambilan : tehnik pengambilan secara aseptik
3. Cara penampungan : botol penampungan harus bersih dan kering
4. Pengiriman : ke dalam botol tertutup, supaya jangan terjadi
koagulasi sebelum diperiksa maka diberi 1 ml larutan Na citrate
20% untuk 100 ml cairan

V. Pemeriksaan sampel feses :


1. Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus untuk pemeriksaan
feses rutin
2. Cara pengambilan sampel :
a. Defekasi spontan
b. Rectal toucher : bilamana perlu dengan jari-jari bersarung tangan
kita mengambil dari rectum
3. Cara penampungan : bahan dikumpulkan pada tempat yang bersih
tanpa tercampur dengan urin/sekret yang lain
4. Khusus pemeriksaan darah samar dilakukan lebih dahulu benzidine
test.
Diet 3 hari :
- Tidak boleh makan daging
- Tidak boleh makan sayur-sayuran yang mengandung besi seperti
bayam
- Tidak boleh makan makanan pedas
- Tidak boleh minum obat-obat salicylat, obat-obat Fe
- Tidak boleh menyikat gigi, menggosok dan menusuk-nusuk gigi

2.5 Menjelaskan Hasil Pemeriksaan Lab


1. HB (HEMOGLOBIN)

Hemoglobin adalah molekul di dalam eritrosit (sel darah merah) dan


bertugas untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah pada
darah ditentukan oleh kadar Hemoglobin.
Nilai normal Hb :

Wanita 12-16 gr/dL

Pria 14-18 gr/dL

Anak 10-16 gr/dL

15
Bayi baru lahir 12-24gr/dL

Penurunan Hb terjadi pada penderita: anemia penyakit ginjal, dan


pemberian cairan intra-vena (misalnya infus) yang berlebihan. Selain itu dapat
pula disebabkan oleh obat-obatan tertentu seperti antibiotika, aspirin,
antineoplastik (obat kanker), indometasin (obat antiradang).

Peningkatan Hb terjadi pada pasien dehidrasi, penyakit paru obstruktif


menahun (COPD), gagal jantung kongestif, dan luka bakar. Obat yang dapat
meningkatkan Hb yaitu metildopa (salah satu jenis obat darah tinggi) dan
gentamicin (Obat untuk infeksi pada kulit

2. TROMBOSIT (PLATELET)

Trombosit adalah komponen sel darah yang berfungsi dalam proses


menghentikan perdarahan dengan membentuk gumpalan.

Penurunan sampai di bawah 100.000 permikroliter (Mel) berpotensi


terjadi perdarahan dan hambatan perm- bekuan darah. Jumlah normal pada
tubuh manusia adalah 200.000-400.ooo/Mel darah. Biasanya dikaitkan dengan
penyakit demam berdarah.

3. HEMATOKRIT (HMT)

Hematokrit menunjukkan persentase zat padat (kadar sel darah merah, dan
Iain-Iain) dengan jumlah cairan darah. Semakin tinggi persentase HMT berarti
konsentrasi darah makin kental. Hal ini terjadi karena adanya perembesan
(kebocoran) cairan ke luar dari pembuluh darah sementara jumlah zat padat
tetap, maka darah menjadi lebih kental.Diagnosa DBD (Demam Berdarah
Dengue) diperkuat dengan nilai HMT > 20 %.

Nilai normal HMT :

Anak 33 -38%

16
Pria dewasa 40 – 48 %

Wanita dewasa 37 – 43 %

Penurunan HMT terjadi pada pasien yang mengalami kehilangan


darah akut (kehilangan darah secara mendadak, misal pada kecelakaan),
anemia, leukemia, gagalginjal kronik, mainutrisi, kekurangan vitamin B
dan C, kehamilan, ulkuspeptikum (penyakit tukak lambung).

Peningkatan HMT terjadi pada dehidrasi, diare berat,eklampsia


(komplikasi pada kehamilan), efek pembedahan, dan luka bakar, dan Iain-
Iain.

4. LEUKOSIT (SEL DARAH PUTIH)

Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan


hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai
penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Nilai normal :

Bayi baru lahir 9000 -30.000 /mm3

Bayi/anak 9000 – 12.000/mm3

Dewasa 4000-10.000/mm3

Peningkatan jumlah leukosit (disebut Leukositosis) menunjukkan


adanya proses infeksi atau radang akut,misalnya pneumonia (radang paru-
paru), meningitis (radang selaput otak), apendiksitis (radang usus buntu),
tuberculosis, tonsilitis, dan Iain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan oleh
obat-obatan misalnya aspirin, prokainamid, alopurinol, antibiotika
terutama ampicilin, eritromycin, kanamycin, streptomycin, dan Iain-Iain.

Penurunan jumlah Leukosit (disebut Leukopeni) dapat terjadi pada


infeksi tertentu terutama virus, malaria, alkoholik, dan Iain-Iain. Selain itu
juga dapat disebabkan obat-obatan, terutama asetaminofen

17
(parasetamol),kemoterapi kanker, antidiabetika oral, antibiotika
(penicillin, cephalosporin, kloramfenikol), sulfonamide (obat anti infeksi
terutama yang disebabkan oleh bakteri).

Hitung Jenis Leukosit (Diferential Count)


Hitung jenis leukosit adalah penghitungan jenis leukosit yang ada
dalam darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh
jumlah leukosit.

Hasil pemeriksaan ini dapat menggambarkan secara spesifik kejadian


dan proses penyakit dalam tubuh, terutama penyakit infeksi. Tipe leukosit
yang dihitung ada 5 yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan
limfosit. Salah satu jenis leukosit yang cukup besar, yaitu 2x besarnya
eritrosit (se! darah merah), dan mampu bergerak aktif dalam pembuluh
darah maupun di luar pembuluh darah. Neutrofil paling cepat bereaksi
terhadap radang dan luka dibanding leukosit yang lain dan merupakan
pertahanan selama fase infeksi akut.

Peningkatan jumlah neutrofil biasanya pada kasus infeksi akut,


radang, kerusakan jaringan, apendiksitis akut (radang usus buntu), dan
Iain-Iain.

Penurunan jumlah neutrofil terdapat pada infeksi virus, leukemia,


anemia defisiensi besi, dan Iain-Iain.

5. EOSINOFIL
Eosinofil merupakan salah satu jenis leukosit yang terlibatdalam
alergi dan infeksi (terutama parasit) dalam tubuh, dan jumlahnya 1 – 2%
dari seluruh jumlah leukosit. Nilai normal dalam tubuh: 1 – 4%

Peningkatan eosinofil terdapat pada kejadian alergi, infeksi parasit,


kankertulang, otak, testis, dan ovarium. Penurunan eosinofil terdapat pada
kejadian shock, stres, dan luka bakar.

6. BASOFIL

18
Basofil adalah salah satu jenis leukosit yang jumlahnya 0,5 -1% dari
seluruh jumlah leukosit, dan terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang
seperti asma, alergi kulit, dan lain-lain.Nilai normal dalam tubuh: o -1%
Peningkatan basofil terdapat pada proses inflamasi(radang),
leukemia, dan fase penyembuhan infeksi.

Penurunan basofil terjadi pada penderita stres, reaksi hipersensitivitas


(alergi), dan kehamilan

7. LIMPOSIT

Salah satu leukosit yang berperan dalam proses kekebalan dan


pembentukan antibodi. Nilai normal: 20 – 35% dari seluruh leukosit.

Peningkatan limposit terdapat pada leukemia limpositik, infeksi virus,


infeksi kronik, dan Iain-Iain.

Penurunan limposit terjadi pada penderita kanker, anemia aplastik,


gagal ginjal, dan Iain-Iain.

8. MONOSIT

Monosit merupakan salah satu leukosit yang berinti besar dengan


ukuran 2x lebih besar dari eritrosit sel darah merah), terbesar dalam
sirkulasi darah dan diproduksi di jaringan limpatik. Nilai normal dalam
tubuh: 2 – 8% dari jumlah seluruh leukosit.

Peningkatan monosit terdapat pada infeksi virus,parasit (misalnya


cacing), kanker, dan Iain-Iain.

Penurunan monosit terdapat pada leukemia limposit dan anemia


aplastik.

9. ERITROSIT

Sel darah merah atau eritrosit berasal dari Bahasa Yunani yaitu
erythros berarti merah dan kytos yang berarti selubung. Eritrosit adalah
jenis se) darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke
jaringan tubuh. Sel darah merah aktif selama 120 hari sebelum akhirnya
dihancurkan. Pada orang yang tinggal di dataran tinggi yang memiliki

19
kadar oksigen rendah maka cenderung memiliki sel darah merah lebih
banyak.

Nilai normal eritrosit :

Pria 4,6 – 6,2 jt/mm3

Wanita 4,2 – 5,4 jt/mm3

10. LAJU ENDAP DARAH (LED)


LED untuk mengukur kecepatan endap eritrosit (sel darah merah) dan
menggambarkan komposisi plasma serta perbandingannya antara eritrosit
(sel darah merah) dan plasma. LED dapat digunakan sebagai sarana
pemantauan keberhasilan terapi, perjalanan penyakit, terutama pada
penyakit kronis seperti Arthritis Rheumatoid (rematik), dan TBC.

Peningkatan LED terjadi pada infeksi akut lokal atau sistemik


(menyeluruh), trauma, kehamilan trimester II dan III, infeksi kronis,
kanker, operasi, luka bakar.Penurunan LED terjadi pada gagal jantung
kongestif, anemia sel sabit, kekurangan faktor pembekuan, dan angina
pektoris (serangan jantung).Selain itu penurunan LED juga dapat
disebabkan oleh penggunaan obat seperti aspirin, kortison, quinine,
etambutol.

11. G6PD (GLUKOSA 6 PHOSFAT DEHIDROGENASE)


Merupakan pemeriksaan sejenis enzim dalam sel darah merah
untuk melihat kerentanan seseorang terhadap anemia hemolitika.
Kekurangan G6PD merupakan kelainan genetik terkait gen X yang dibawa
kromosom wanita. Nilai normal dalam darah yaitu G6PD negatif

20
Penurunan G6PD terdapat pada anemia hemolitik, infeksi bakteri, infeksi
virus, diabetes asidosis.
Peningkatan G6PD dapat juga terjadi karena obat-obatan seperti aspirin,
asam askorbat (vitamin C) vitamin K, asetanilid.

12. SGPT (Serum Glutamik Pyruvik Transaminase)


Merupakan enzim transaminase yang dalam keadaan normal
berada dalam jaringan tubuh terutama hati. Peningkatan dalam serum
darah menunjukkan adanya trauma atau kerusakan hati.

Nilai normal :

Pria sampai dengan 42 U/L

Wanita sampai dengan 32 U/L

Peningkatan >20x normal terjadi pada hepatitis virus, hepatitis toksis.


Peningkatan 3 – 10x normal terjadi pada infeksi mond nuklear, hepatitis kronik
aktif, infark miokard (serangan jantung).
Peningkatan 1 – 3X normal terjadi pada pankreatitis, sirosis empedu.

13. ASAM URAT


Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin (bagian
penting dari asam nukleat pada DNA dan RNA).Purin terdapat dalam
makanan antara lain: daging, jeroan, kacang-kacangan, ragi, melinjo dan
hasil olahannya. Pergantian purin dalam tubuh berlangsung terus-menerus
dan menghasilkan banyak asam urat walaupun tidak ada input makanan
yang mengandung asam urat.

Asam urat sebagian besar diproduksi di hati dan diangkut ke ginjal.


Asupan purin normal melalui makanan akan menghasilkan 0,5 -1 gr/hari.
Peningkatan asam urat dalam serum dan urin bergantung pada fungsi

21
ginjal, metabolisme purin, serta asupan dari makanan. Asam urat dalam
urin akan membentuk kristal/batu dalam saluran kencing. Beberapa
individu dengan kadar asam urat >8mg/dl sudah ada keluhan dan
memerlukan pengobatan.

Nilai normal :

Pria 3,4 – 8,5 mg/dl (darah)

Wanita 2,8 – 7,3 mg/dl (darah)

Anak 2,5 – 5,5 mg/dl (darah)

Lansia 3,5 – 8,5 mg/dl (darah)

Dewasa 250 – 750 mg/24 jam (urin)

Peningkatan kadar asam urat terjadi pada alkoholik, leukemia, penyebaran


kanker, diabetes mellitus berat, gagal ginjal, gagal jantung kongestif, keracunan
timah hitam, malnutrisi, latihan yang berat. Selain itu juga dapat disebabkan
oleh obat-obatan misalnya asetaminofen, vitamin C,aspirin jangka
panjang,diuretik.

Penurunan asam urat terjadi pada anemia kekurangan asam folat, luka
bakar, kehamilan, dan Iain-Iain. Obat-obat yang dapat menurunkan asam urat
adalah allopurinol, probenesid, dan Iain-Iain.

22
23
DAFTAR PUSTAKA

Joyco Le Fever Kee, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Diagnostik, EGC, Jakarta,2007

https://infolaboratoriumkesehatan.wordpress.com/2012/07/26/cara-membaca-hasil-
laboratorium-nilai-normal-hasil-laboratorium/

http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t42651.pdf

http://eprints.dinus.ac.id/6453/1/jurnal_11743.pdf

24