Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

PRAKTIKUM MIKROTEKNIK
“TEKNIK PEMBUATAN LEAF CLEARING UNTUK PENGAMATAN
STOMATA”

NAMA : OLIVIA ANAFARIDA


NIM : 1711013120014
KELOMPOK :3
ASISTEN : ANJAR PRIBADI

I. TUJUAN
Mengenal tahap-tahap pembuatan, bahan dan alat untuk praktikum teknik
pembuatan leaf clearing untuk pengamatan stomata.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Stomata pada tumbuhan merupakan bagian yang memiliki celah dalam
epidermis yang dibatasi oleh dua sel epidermis yang khusus yaitu sel penutup.
Letak stomata dapat ditemukan pada semua bagian tumbuhan di atas tanah, akan
tetapi, stomata banyak ditemukan pada bagian daun pada tumbuhan. Adapun
jumlah dari stomata berbeda dari daun tumbuhan tersebut sama dan juga pada
daerah daun yang sama. Stomata pada umumnya banyak ditemukan pada bagian
atas maupun bawah dari daun, stomata ditemukan di kedua permukaan daun atau
pada satu mata saja yang biasanya didapatkan pada permukaan bawah. Sedangkan
sel penutup dapat terletak sama tinggi dengan sel epidermis serta lain-lainnya atau
dapat lebih tinggi atau rendah dari permukaan daun (Usman, 2015).
Stomata memiliki peran sebagai tempat pertukaran gas pada tumbuhan.
Stomata pada umumnya membuka pada siang hari yang berguna sebagai jalan
masuknya CO2 yang digunakan untuk fotosintesis pada siang hari dan mulai
menutup secara perlahan menjelang sore hari. Stomata memiliki tugas sebagai
jalan pertukaran gas CO2, O2 dan H2O pada saat fotosintesis, respirasi dan
transpirasi. Membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi dari jenis tanaman itu
sendiri yang berhubungan dengan proses metabolisme tanaman. Terdapat faktor
yang mempengaruhi proses membuka dan menutup stomata diantaranya pada
faktor eksternal yang mempnagruhi kerja stomata seperti intensitas cahaya
matahari, konsentrasi CO2 dan asam absisat (ABA) sedangkan pada faktor internal
dipengaruhi oleh jam biologis merangsang serapan ion pada pagi hari
menyebabkan stomata membuka dan pada malam hari terjadi pembebasan ion
sehingga stomata menutup (Perkasa dkk, 2017).
Stomata mulai berkembang saat menjelang aktivitas meristematik pada
epidermis selesia, dan selanjutnya berkembang selama beberapa waktu, disaat
daun memanjang dan meluas karena pembesaran sel. Daun yang bertulang sejajar
seperti pada monokotil bentuk dari stomara tersusun dalam deretan memanjang.
Pembentukan dari stomata dimulai dari ujung dan melanjut kearah daun atau
basipetal. Sedangkan pada daun bertulang jala seperti pada umumnya tanaman
dikotil terdapat stomata dalam taraf perkembangan yang berbeda-beda. Sehingga
secara umumnya stomata tersusun dari dua sel penutup dan beberapa sel tetangga
yang mengelilinginya. Rongga atau ruang stomata terletak pada sebelah dalam
dari sel penutup yang mana runga ini berhubung-hubungan dengan ruang-ruang
antar sel mesofil daun. Stomata pada saat menyerap gas dari atmosfer akan masuk
ke ruang stomata secara difusi sederhana (Usman, 2015).
Praktikum teknik pembuatan preparat segar untuk pengamatan stomata ini
dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara praktikan dalam membuat sebuah
preparat segar dengan bahan yang digunakan ialah tumbuhan golongan monokotil
dan dikotil yang akan dijadikan pengamatan stomata. Selain itu, mempelajari
teknik pembuatan preparat dapat meningkatkan skill praktikan dalam membuat
preparat yang nantinya skill ini dapat digunakan pada saat melakukan penelitian
akhir atau skripsi yang arah penelitiannya mengarah kepada teknik pembuatan
sediaan-sediaan atau preparat untuk diamati hasilnya.

III. PROSEDUR KERJA

Daun dibersihkan dan


dipotong 1 cm x 1 cm

Daun direndam dalam


alkohol 70 % selama 24
jam

Daun direndam dalam


NaOH selama 1-2 hari

Daun direndam dalam


kloral hidrat selama 1 jam
Daun direndam dalam
alkohol 70% selama 5
menit

Daun direndam dalam


safranin selama 1-2 menit

Daun direndam dalam xilol


selama 2 menit

Daun dipindah ke kaca


benda
Sampel daun diberi
entellan dan ditutup
kaca penutup

Sampel diamati dibawah


mikroskop, didapatkan
hasil

IV. HASIL
Hasil praktikum leaf clearing stomata sebagai berikut :

N Gambar Gambar Referensi Keteranga


o n
1.
2 3 1. Stomata
1 2. Stoma
3. Sel
1 penjaga

Referensi stomata daun


rumput gajah (Nurlia, 2016)
Stomata daun rumput
gajah bagian bawah
(Perbesaran 40x)
2. 1. Stomata
1 2. Stoma
1
2 3. Sel
2 Penjaga
3 3

Daun Pisang (Musa x Daun Pisang (Musa x


paradisiaca) paradisiaca)
Perbesaran: 10x (Indrayanti et al, 2012)
1. Stomata
2. Stoma
2 3. Sel
1
Penjaga

3. 1 3

Daun Pepaya (Carica


Daun Pepaya (Carica
papaya)
papaya)
(Wulandari, 2018)
Perbesaran 10x

V. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui tahap-tahap pembuatan,
bahan dan alat untuk praktikum teknik pembuatan leaf clearing untuk pengamatan
stomata. Metode pembuatan leaf clearing digunakan pada beberapa macam
tanaman yang termasuk golongan monokotil dan dikotil. Penggunaan metode leaf
clearing umumnya dilakukan untuk pembuatan preparat strukur anatomis dan
kerapatan trikoma. Pengamatan stomata dilakukan dengan cara pembuatan
preparat menggunakan metode leaf clearing (Kartikaningtyas dkk, 2014).
Teknik pembuatan leaf clearing untuk pengamatan stomata memiliki
beberapa langkah dalam pembuatannya. Langkah pembuatan diawali dengan daun
dicuci bersih menggunakan air yang mengalir. Setelah bersih potong daun
berukuran 1x1 cm. Selanjutnya daun direndam dalam alkohol 70% selama 24 jam.
Fungsi alkohol 70% sebagai larutan yang dapat meluruhkan klorofil pada daun.
Langkah selanjutnya sampel daun dipindahkan ke dalam larutan NaOH dan
direndam selama 1-2 hari. Fungsi NaOH sebagai pembersih alkohol yang masih
tersisa dari larutan sebelumnya dan untuk meluruhkan klorofil (Lakitan, 2007).
Sampel daun kemudian direndam dalam kloral hidrat salama 1 jam sampai terlihat
bening atau transparan. Fungsi kloral hidrat sebagai pembeningan daun dari sisa
klorofil yang ada. Langkah selanjutnya rendam dengan alkohol 70% selama 5
menit. Fungsi alkohol 70% agar sel tidak mengalami lisis. Sampel daun diwarnai
dengan pewarna safranin selama 1-2 menit dan selanjutnya direndam dalam
alkohol 70% selama 1-3 menit. Fungsi dari safranin sebagai pewarna sel pada
bagian sel yang telah mengalami lignisasi sedangkan fungsi alkohol 70% sebagai
pengatur agar warna tidak pekat. Selanjutnya sampel daun dipindahkan ke dalam
larutan xilol dan direndam selama 1-2 menit. Fungsi xilol sebagai clearing atau
penjernihan (Lakitan, 2007). Sampel daun kemudian dipindahkan ke kaca objek
dan ditetesi dengan entellan lalu tutup menggunakan kaca penutup. Fungsi
entellan sebagai perekat yang merekatkan kaca objek dengan kaca penutup dan
sebagai pengawet sampel daun yang akan dijadikan preparat. Terakhir, dilakukan
pengamatan bagian dari stomata.
Hasil yang didapatkan pada praktikum pembuatan leaf clearing untuk
pengamatan stomata didapatkan hasil tiga jenis daun yang dapat teramati.
Sedangkan stomata daun yang lain tidak dapat teramati. Stomata yang dapat
teramati yaitu stomata yang berasal dari permukaan bawah daun rumput gajah
(Pennisetum purpureum). Menurut Nurlia, (2016) rumput gajah memiliki stomata
pada permukaan atas dan bawah daun atau disebut amfistomatik. Daun rumput
gajah memiliki stomata bertipe parasitik, karena dikelilingi oleh dua sel tetangga
yang sejajar satu sama lain. Jumlah stomata pada permukaan daun lebih banyak
dibanding permukaan bawah daun. Stomata rumput gajah yang merupakan
tumbuhan monokotil memiliki tipe gramineae karena panjang sel tetangga sejajar
dengan poros stomata. Sel penjaga pada rumput ini berbentuk halter yaitu bentuk
sel penjaga yang menyempit pada bagian tengah dan mengembang pada bagian
ujungnya. Stomata ini bertipe kriptopor karena posisinya yang tenggelam dibawah
epidermis. Stomata daun pisang berbentuk ginjal dengan sel-sel epidermis
berbentuk heksagonal dengan tipe anomorsitik. Tipe stomata pada daun papaya
(Carica papaya) adalah anomositik dengan sel penjaga seperti bentuk ginjal. Tipe
stomata anomositik mempunyai 4-7 sel tetangga yang tidak dapat dibedakan
dengan sel epidermis. (Usman, 2015).
Stomata daun lain tidak dapat teramati dikarenakan pewarna safranin yang
terlalu pekat pada daun sehingga sel-sel stomata tidak dapat terlihat dalam
pengamatan menggunakan mikroskop. Selain karena pewarnaan terlalu banyak,
pada saat peluruhan klorofil harus membutuhkan waktu yang lebih lama hal ini
dikarenakan daun memiliki ketebalan dan warna klorofil yang tua, sehingga
waktu yang dibutuhkan seharusnya lebih lama agar klorofil dapat luruh
(Lakitan,2007).
Stomata yang terdapat pada tumbuhan kebanyakan ditemukan pada bagian
daun, baik pada sisi atas maupun sisi bawah daun. Selain pada daun juga
didapatkan stomata pada cabang maupun batang tanaman. Stomata memiliki
peran sebagai tempat terjadinya pertukaran antara CO2 dan O2 dilingkungan
melalui proses difusi (Sarjani dkk, 2017). Stomata pada monokotil dengan dikotil
memiliki perbedaan, pada tanaman monokotil stomata terletak secara berderet
sejajar serta sel penutup pada tanaman monokotil mempunyai bentuk yang
seragam dan memiliki struktur yang lebih spesifik yang jika dilihat dari
permukaan sel terlihat sempit pada bagian tengah dan terlihat membesar pada
ujungnya. Sedangkan pada tambuhan dikotil letak stomata yang terlihat tersebar
pada seluruh bagian sel epidermis selain itu, sel penutup pada tumbuhan dikotil
pada umumnya berbentuk seperti ginjal (Anu dkk, 2017). Pada dikotil yang
berdasarkan jumlah sel tetanggnya stoma dibedakan menjadi enam tipe yaitu
anomositik adalah jumlah sel tetangga yang mengelilingi sel penjaga, animositik
adalah jumlah sel tetangga tiga, diasitik adalah jumlah sel tetangga dua, parasitik
adalah poros panjang sel penjaga sejajar dengan sel tetangga, aktinositik adalah
jumlah sel tetangga empat atau lebih serta siklositik adalah jumlah sel tetangga
empat atau lebih, sel-selnya tersusun melingkar seperti cincin (Usman, 2015).
Berdasarkan pada letak pada permukaan daun maka stomata terbagi
menjadi tiga tipe yaitu amphistomatik ialah jika stoma yang berada pada kedua
permukaan daun, epistomatik ialah jika stoma hanya terdapat pada permukaan atas
daun saja sedangkan pada hipostomatik ialah jika stoma hanya terdapat di
permukaan bawah daun saja. Stomata pada umumnya membuka pada siang hari
dan menutup pada malam hari. Hal ini dikarenakan untuk mencegah tumbuhan
kehilangan air yang tidak perlu ketika hari terlalu gelap untuk melakukan
fotosintesis. Alasan stomata terbuka pada siang hari yaitu cahaya merangsang sel
penjaga untuk mengakumulasikan kalium menjadi bengkak selanjutnya
menyebabkan kehilangan CO2 di dalam ruangan udara pada daun dan terjadi pada
saat tumbuhan berfotosintesis yang dimulai di mesofil serta dalam pembukaan
stomata adalah satu jam internal yang terletak di dalam sel penjaga (Usman,
2015).

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari praktikum ini adalah, metode leaf
clearing umumnya dilakukan untuk pembuatan preparat strukur anatomis dan
kerapatan trikoma. Hasil yang yaitu, daun rumput gajah memiliki stomata pada
permukaan atas dan bawah daun atau disebut amfistomatik. Daun rumput gajah
memiliki stomata bertipe parasitik, karena dikelilingi oleh dua sel tetangga yang
sejajar satu sama lain. Stomata daun pisang berbentuk ginjal dengan sel-sel
epidermis berbentuk heksagonal dengan tipe anomorsitik. Tipe stomata pada daun
papaya (Carica papaya) adalah anomositik dengan sel penjaga seperti bentuk
ginjal. Tipe stomata anomositik mempunyai 4-7 sel tetangga yang tidak dapat
dibedakan dengan sel epidermis.
VII. SARAN
Disarankan agar lebih memperhatikan waktu dalam menghilangkan
klorofil dan dalam pewarnaan agar tidak terlalu pekat, sehingga dalam
pengamatan stomata dapat terlihat jelas.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Anu, O., H. L. Rampe. & J. J. Pelealu. 2017. Struktur Sel Epidermis dan Stomata
Daun Beberapa Tumbuhan Suku Euphorbiaceae. Jurnal MIPA UNSRAT
Online. 6(1): 69-73.
Kartikaningtyas, D., O. Quirena., Suharyanto. & S. Sunarti. 2014. Tanggapan
Anatomis dari Beberapa Sumber Benih Acacia manigum Willd. Terhadap
Kondisi Cekaman Garam. Jurnal Penulisan Tanaman Hutan. 8(3): 184-
197.
Lakitan, B. 2007. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta
Nurlia, T. 2016. Perbandingan Karakter Beberapa Jenis Stomata pada Beberapa
Spesies Family Poaceae. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi, UIN
Alauddin Makassar.
Perkasa, A. Y., T. Siswanto., F. Shintarika. & T. G. Aji. 2017. Studi Identifikasi
Stomata pada Kelompok Tanaman C3, C4 dan CAM. Jurnal Pertanian
Presisi. 1(1): 59-72.
Sarjani, T. M., Mawardi., E. S. Pandia. & D. Wulandari. 2017. Identifikasi
Morfologi dan Anatomi Tipe Stomata Famili Piperaceae di Kota Langsa.
Jurnal IPA dan Pembelajaran IPA. 1(2): 182-191.
Usman, 2015. Pengaruh Naungan yang Berbeda Terhadap Jumlah Stomata dan
Ukuran Porus Stomata pada Daun Kangkung Air (Ipomea aquatic Forsk).
Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makassar, Makassar.

Nilai Paraf Asisten

Anda mungkin juga menyukai