Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PADA


SISTEM PENCERNAAN : KERACUNAN

Disusun oleh :

Kelompok 1

1. Melinda Setyorini (G0A017053)


2. Ricka Octavia J.S (G0A017054)
3. Nanda Dewi Safitri (G0A017055)
4. Nabila Hikmatul Aulia (G0A017056)
5. Shafira Nurfathika C (G0A017057)
6. Suci Rahayu (G0A017058)
7. Vina Ayu Fitriani (G0A017059)
8. Putri Amalia L.S (G0A017060)
9. Jehan Latifah (G0A017061)
10. Siska Risdayanti (G0A017062)
11. Dian Noviani (G0A017063)
12. Umi Masruroh (G0A017064)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur pada Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-
Nya, makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Sistem
Pencernaan : Keracunan” ini dapat terselesaikan tepat waktu tanpa hambatan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa begitu banyak pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini. Melalui kesempatan ini, dengan segala
kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ns. Nikmatul Khayati, M.Kep. Dosen Pembimbing kami yang telah
mengarahkan dan mendidik kami sehingga kami dapat belajar dan
mengetahui ilmu keperawatan gawat darurat dan membantu kami
menyelesaikan makalah ini dengan sebaik - baiknya.
2. Teman-teman dan semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembuatan
makalah yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Walaupun kami sudah berusaha sungguh-sungguh dan semaksimal
mungkin, tapi kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca khususnya adik tingkat.

Semarang, September 2019

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 2
DAFTAR ISI...................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 4
A. Latar belakang ...................................................................................................... 4
B. Tujuan Penulisan .................................................................................................. 5
C. Metode penulisan .................................................................................................. 6
D. Sistematika Penulisan ........................................................................................... 6
BAB II KONSEP DASAR ................................................................................................ 7
A. Definisi ................................................................................................................... 7
B. Cara racun masuk ke tubuh ................................................................................ 7
C. Etiologi ................................................................................................................... 8
D. Tanda dan Gejala ................................................................................................ 12
E. Patofisiologi ......................................................................................................... 12
F. Pathways .............................................................................................................. 13
G. Komplikasi ........................................................................................................... 14
H. Pencegahan .......................................................................................................... 15
I. Penatalaksanaan ................................................................................................. 15
J. Pengkajian ........................................................................................................... 20
K. Diagnosa Keperawatan ....................................................................................... 25
L. Intervensi ............................................................................................................. 26
M. Evaluasi ............................................................................................................... 29
BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 31
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 31
B. Saran .................................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 32

3
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kejadian gawat darurat dapat diartikan sebagai keadaan dimana
seseorang membutuhkan pertolongan segera, karena apabila tidak
mendapatkan pertolongan dengan segera maka dapat mengancam jiwanya
atau menimbulkan kecacatan permanen. (Media Aeculapius, 2007).
Salah satu kejadian gawat darurat yang juga mengancam nyawa
manusia adalah keracunan makanan. Makanan dapat terkontaminasi oleh
bahan kimia seperti timah atau seng yang menyebabkan keracunan
makanan. Beberapa jenis jamur dan ikan tertentu juga beracun jika
dimakan. Kasus yang sering muncul adalah keracunan makanan yang
disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, virus, dan parasit.
Data The Centers for Disease Control and Prevention tahun 2010
menunjukkan, 48 juta orang di Amerika keracunan makanan, 128.000
dirawat di rumah sakit, dan 3.000 orang meninggal tiap tahunnya akibat
kandungan berbahaya dalam makanan yang mereka konsumsi. Menurut
Badan POM dalam Dadi (2011), angka kejadian keracunan makanan,
sebagai salah satu manifestasi Penyakit Bawaan Makanan (PBM) dapat
menjadi indikator situasi keamanan pangan di Indonesia. Badan kesehatan
dunia WHO memperkirakan bahwa rasio antara kejadian keracunan yang
dilaporkan dengan kejadian yang terjadi sesungguhnya di masyarakat
adalah 1:10 untuk negara maju dan 1: 25 untuk negara berkembang.
Di tahun 2011 insiden keracunan makanan terjadi dan terlaporkan
di Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan Pengawas Obat dan
Makanan RI ada 1.800 lebih, membuat lebih dari 7.000 orang dirawat di
rumah sakit dan 11 meninggal dunia. Data nasional yang dirangkum
Badan POM juga menjelaskan bahwa industri jasa boga dan produk
makanan rumah tangga memberikan kontribusi yang paling besar (31%)
dibandingkan dengan pangan olahan (20%), jajanan (13%), dan lain-lain
(5%) (Lestari, 2009).

4
Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang
“Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Sistem Pencernaan :
Keracunan”

B. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu mengetahui definisi pada keracunan
2. Mahasiswa mampu megetahui etiologi pada pasien dengan keracunan
3. Mahasiswa mamapu mengetahui cara racun masuk ke tubuh
4. Mahasiswa mampu mengetahui tanda dan gejala pada pasien dengan
keracunan
5. Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi pada pasien dengan
keracunan
6. Mahasiswa mampu mengetahui pathways pada pasien dengan
keracunan
7. Mahasiswa mampu mengetahui komplikasi pada pasien dengan
keracunan
8. Mahasiswa mampu mengetahui pencegahan pada pasien dengan
keracunan
9. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan pada pasien dengan
keracunan
10. Mahasiswa mampu mengetahui pengkajian pada pasien dengan
keracunan
11. Mahasiswa mampu mengetahui diagnose pada pasien dengan
keracunan
12. Mahasiswa mampu mengetahui intervensi pada pasien dengan
keracunan
13. Mahasiswa mampu mengetahui evaluasi pada pasien dengan
keracunan

5
C. Metode penulisan
Metode yang di pakai dalam makalah ini adalah :
Metode Pustaka yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan
mengumpulkan data dari pustaka yang berhubungan dengan alat, baik
berupa buku maupun informasi di internet.

D. Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan Penulisan
C. Metode Penulisan
D. Sistematika Penulisan
BAB II : KONSEP DASAR
A. Definisi
B. Etiologi/Faktor Predisposisi
C. Cara racun masuk ke dalam tubuh
D. Tanda dan gejala
E. Patofisiologi
F. Pathways
G. Komplikasi
H. Pencegahan
I. Penatalaksanaan
J. Pengkajian
K. Diagnosa keperawatan
L. Intervensi
M. Evaluasi

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka

6
BAB II KONSEP DASAR

A. Definisi
Racun adalah suatu zat yang memiliki kemampuan untuk merusak
sel dan sebagian fungsi tubuh secara tidak normal (Arisman, 2009).
Junaidi (2011) menyatakan racun adalah suatu zat atau makanan yang
menyebabkan efek bahaya bagi tubuh.
Keracunan makanan adalah suatu penyakit yang terjadi setelah
menyantap makanan yang mengandung racun, berasal dari bahan beracun
yang terbentuk akibat pembusukan makanan dan bakteri (Arisman, 2009).
Junaidi (2011) menyatakan keadaan darurat yang diakibatkan masuknya
suatu zat atau makanan ke dalam tubuh melalui mulut yang
mengakibatkan bahaya bagi tubuh disebut sebagai keracunan makanan.
Perez dan Luke’s (2014) menyatakan keracunan makanan adalah
keracunan yang terjadi akibat menelan makanan atau air yang
mengandung bakteri, parasit, virus, jamur atau yang telah terkontaminasi
racun.

B. Cara racun masuk ke tubuh


1. Mempengaruhi kerja enzyme/hormone
Enzyme atau hormone terdiri dari protein yang kompleks, dalam
bekerjanya enzyme atau hormone memerlukan adanya co-faktor atau
activator berupa logam berat atau vitamin. Racun bersifat
menonaktifkan activator.
2. Masuk bereaksi ke dalam sel, sehingga mempengaruhi atau8
menghambat kerja sel.
3. Masuk jaringan sehingga timbul kistamine atau serotonine, yang
menimbulkan reaksi alergi dan kadang terjadi reaksi oksidasi sehingga
dapat terjadi senyawa baru yang lebih beracun.

7
C. Etiologi
Penyebab keracunan makanan adalah kuman Clostridium
botulinum yang hidup dengan kedap udara (anaerobik), yaitu di tempat-
tempat yang tidak ada udaranya (Junaidi, 2011). Keracunan makanan
dapat disebabkan oleh pencemaran bahan-bahan kimia beracun,
kontaminasi zat-zat kimia, mikroba, bakteri, virus dan jamur yang masuk
ke dalam tubuh manusia (Suarjana, 2013).
Di Indonesia ada beberapa jenis makanan yang sering
mengakibatkan keracunan, antara lain:
1. Keracunan botolinum
Clostridium botolinum adalah kuman yang hidup secara anaerobik,
yaitu di tempat-tempat yang tidak ada udaranya. Kuman ini mampu
melindungi dirinya dari suhu yang agak tinggi dengan jalan
membentuk spora. Karena cara hidupnya yang demikian itu, kuman ini
banyak dijumpai pada makanan kaleng yang diolah secara kurang
sempurna. Gejala keracunan botolinum muncul secara mendadak, 18-
36 jam sesudah memakan makanan yang tercemar. Gejala itu berupa
lemah badan yang kemudian disusul dengan penglihatan yang kabur
dan ganda. Kelumpuhan saraf mata itu diikuti oleh kelumpuhan saraf-
saraf otak lainnya, sehingga penderita mengalami kesulitan berbicara
dan susah menelan. Pengobatan hanya dapat diberikan di rumah sakit
dengan penyuntikan serum antitoksin yang khas untuk botulinum.
Oleh karena itu dalam hal ini yang penting ialah pencegahan.
Pencegahan: sebelum dihidangkan, makanan kaleng dibuka dan
kemudian direbus bersama kalengnya di dalam air sampai mendidih.
2. Keracunan bongkrek
Bongkrek ialah sejenis tempe yang dalam proses pembuatannya di
campur dengan ampas kelapa dan kacang tanah. Tempe ini seringkali
menyebabkan keracunan karena terkontaminasi oleh
bakteri Burkholderia galdioli yang menghasilkan racun berupa asam

8
bongkrek dan toxoflavin, serta memusnahkan jamur Rhizopus karena
efek antibiotik dari asam bongkrek. Gejala timbul setelah 12-48 jam.
Biasanya sekaligus beberapa anggota suatu keluarga terkena. Kematian
bisa timbul dari 1-8 hari. Gejala intoksikasi yaitu: mual, pusing,
diplopia, anorexia, merasa lemah, ptosis, strabismus, kesukaran
bernafas, menelan atau berbicara.
3. Keracunan jamur
Gejala muncul dalam jarak bebarapa menit sampai 2 jam sesudah
makan jamur yang beracun (Amanita spp). Gejala tersebut berupa sakit
perut yang hebat, muntah, mencret, haus, berkeringat banyak,
kekacauan mental, pingsan.
4. Keracunan jengkol
Keracunan jengkol terjadi karena terbentuknya kristal asam jengkol
dalam saluran kencing. Ada beberapa hal yang diduga mempengaruhi
timbulnya keracunan, yaitu: jumlah yang dimakan, cara penghidangan
dan makanan penyerta lainnya. Gejala klinisnya seperti: sakit pinggang
yang disertai dengan sakit perut, nyeri sewaktu kencing, dan kristal-
kristal asam jengkol yang berwarna putih nampak keluar bersama air
kencing, kadang-kadang disertai darah.
5. Keracunan ikan laut
Beberapa jenis ikan laut dapat menyebabkan keracunan. Diduga racun
tersebut terbawa dari ganggang yang dimakan oleh ikan itu. Sejauh
keracunan makanan dari ikan yang bersangkutan, mikroba penyebab
penyakit atau racun itu yang masuk ke dalam tubuh setelah
mengkonsumsi ikan mentah atau dimasak. Hal ini juga bisa terjadi
karena polusi kimia dalam air, dimana mengontaminasi ikan yang
tertangkap untuk dijual di pasar. Gejala-gejala keracunan berbagai
binatang laut tersebut muncul kira-kira 20 menit sesudah memakannya.
Gejala itu berupa: mual, muntah, kesemutan di sekitar mulut, lemah
badan dan susah bernafas.

9
6. Keracunan singkong
Zat beracun dalam singkong adalah asam sianida. Zat ini mengganggu
oksidasi jaringan karena mengikat enzim sitokrom oksidase. Beberapa
jam setelah makan singkong timbul muntah, pusing, lemah, kesadaran
menurun sampai koma, dispneu, sianosis dan kejang.
7. Lain-lain
Penyebab utama makanan terkontaminasi adalah bakteri, virus, atau
parasit.
a. Di bawah ini adalah kontaminasi makanan yang disebabkan oleh
bakteri:
1) Campylobacter.
Bakteri jenis ini biasa ditemukan di daging mentah atau kurang
matang, pada susu dan air yang tidak diolah dengan benar. Masa
inkubasi yang disebabkan oleh bakteri ini antara 2-5 hari. Gejala akan
bertahan kurang dari 7 hari.
2) Salmonella.
Bakteri ini sering ditemukan di dalam daging mentah atau daging
kurang matang, telur, susu, dan produk olahan susu lainnya. Masa
inkubasi akibat salmonella adalah 12-72 jam. Gejala berlangsung
selama 4-7 hari.
3) Escherichia coli (E. coli).
Kasus infeksi bakteri ini paling sering ditemukan setelah mengonsumsi
daging yang kurang matang, seperti pada daging cincang, dan bakso.
Bisa juga ditemukan pada susu yang tidak dipasteurisasi. Masa
inkubasi adalah 1 hari hingga seminggu. Gejala bertahan selama
beberapa hari hingga beberapa minggu.
4) Listeria.
Bakteri ini ditemukan dalam makanan siap saji, misalnya roti isi dalam
kemasan, irisan daging, dan keju. Khususnya bagi wanita hamil harus
berhati-hati dengan infeksi akibat bakteri ini karena berisiko
menyebabkan keguguran dan komplikasi kehamilan serius lainnya.

10
Masa inkubasi mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu.
Gejalanya akan selesai dalam waktu tiga hari.
5) Shigella.
Bakteri ini bisa muncul pada makanan apa pun yang dicuci dengan air
yang terkontaminasi. Gejalanya biasanya muncul tujuh hari setelah
bakteri masuk ke dalam tubuh dan bertahan sekitar satu minggu.
Bakteri ini menyebabkan disentri.
b. Berikut adalah kontaminasi makanan yang disebabkan oleh parasit,
yaitu:
1) Amoebiasis.
Infeksi parasit sel tunggal bernama Entamoeba histolytica bisa
menyebabkan terjadinya disentri.
2) Giardiasis.
Infeksi yang disebabkan oleh parasit bernama Giardia intestinalis.
3) Cryptosporidiosis.
Infeksi parasit yang disebabkan oleh Cryptosporidium.
4) Parasit yang mengakibatkan keracunan makanan umumnya akan
menimbulkan gejala dalam sepuluh hari setelah Anda mengonsumsi
makanan yang sudah terkontaminasi. Jika tidak segera ditangani,
gejala bisa bertahan hingga berbulan-bulan.
c. Berikut adalah kontaminasi makan yang disebabkan oleh virus, yaitu:
1) Norovirus.
Virus ini menyebabkan muntah-muntah dan diare. Infeksi ini
menyebar dengan mudah melalui makanan atau air yang
terkontaminasi, dan terutama melalui tiram mentah. Masa inkubasi
adalah 1-2 hari dan gejala akan hilang dalam dua hari.
2) Rotavirus.
Virus ini menjadi penyebab kontaminasi makanan yang umumnya
menimpa anak-anak. Gejalanya muncul satu minggu setelah
mengonsumsi makanan terkontaminasi dan bertahan antara sekitar
6 hari.

11
D. Tanda dan Gejala
Akibat keracunan makanan bisa menimbulkan gejala pada sistem
saraf dan saluran cerna. Suarjana (2013) menyatakan tanda gejala yang
biasa terjadi pada saluran cerna adalah sakit perut, mual, muntah, bahkan
dapat menyebabkan diare. Tanda gejala yang biasa terjadi pada sistem
saraf adalah adanya rasa lemah, kesemutan (parastesi), dan kelumpuhan
(paralisis) otot pernafasan (Arisman, 2009).

E. Patofisiologi
Makanan yang kita konsumsi dalam keseharian bermacam-macam,
baik ragam jenis makanan itu. Makanan yang sehat dapat dikatakan
makanan yang layak untuk tubuh dan tidak menyebabkan sakit, baik
seketika maupun mendatang. Dalam mengkonsumsi makanan perlu
diperhatikan tentang kebersihan makanan, kesehatan, serta zat gizi yang
terkandung di dalam makanan tersebut. Hendaknya kita harus pandai
dalam memilih makanan yang akan dkonsumsi supaya makanan tersebut
bebas dari zat-zat yang dapat memasuki tubuh seperti toksik atau racun.
Makanan yang telah terkontaminasi toksik atau zat racun sampai di
lambung akan mengadakan perlawanan diri terhadap benda atau zat asing
yang masuk ke dalam lambung dengan gejala mual, lalu lambung akan
berusaha membuang zat tersebut dengan cara memuntahkannya. Karena
seringnya muntah maka tubuh akan mengalami dehidrasi akibat
banyaknya cairan tubuh yang keluar bersama dengan muntahan. Karena
dehodrasi yang tinggi maka lama kelamaan akan lemas dan banyak
mengeluarkan keringat dingin.
Banyaknya cairan yang keluar, terjadinya dehidrasi keluarnya
keringat dingin akan merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk
mempertahankan homeostatis tubuh dengan terjadinya rasa haus. Apabila
rasa haus tidak segera diatasi maka dehidrasi berat tidak dapat dihindari,
bahkan dapat menyebabkan pingsan sampai kematian.

12
F. Pathways

Makanan terkontaminasi yang


Masuk ke saluran
mengandung Botolinum, jamur, jengkol,
cerna
ikan laut, tempe, singkong dll

Masuk ke pembuluh Masuk ke usus Masuk ke lambung


darah halus

Iritasi pada lambung


Diekskresikan oleh Sel saraf terganggu
ginjal
Asam lambung
Tidak terjadi
meningkat
Kristal asam kolat pelepasan
menumpuk di dalam asetilkolin
Mual
tubulus ginjal, ureter
dan uretra Otot tidak dapat
berkontraksi Muntah
Obstruksi saluran
kemih Defisit volume
Kelumpuhan otot cairan
Gagal Ginjal Infeksi
Akut usus
Hambatan
Gangguan fungsi mobilitas fisik Diare
saraf

Disfungsi Pandangan Fotopobia Kerusakan


saraf kabur otak

Kematian
Kaku sendi Gangguan Sulit menelan
bicara
Ketidakseimbanga
n nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
13
Gangguan saraf otonom

Kelemahan otot, Nyeri kepala dan Pusat pernafasan


kram, opistototnus otot

Nafas cepat dan


Gangguan Nyeri akut
dangkal
pergerakan

Pola nafas tidak


Intoleransi aktivitas efektif

G. Komplikasi
Secara umum komplikasi yang bisa muncul pada kasus keracunan
diantaranya adalah:
1. Shock
2. Henti nafas
3. Henti jantung
4. Kejang
5. Koma
Namun pada beberapa kasus tertentu komplikasi yang muncul bisa
diakibatkan oleh jenis dari zat racun tersebut, antara lain :
1. Keracunan zat padat
a. Obat Salisilat: Perdarahan, edem paru, depresi pernapasan,
nekrosis tubular akuta.
b. Makanan: Dehidrasi, gangguan kesadaran.
2. Keracunan gas
 CO : Edem paru, depresi pernapasan, syok, koma
 Toksit iritan: Edem paru
 Hidrokarbon: Depresi pernapasan

14
3. Keracunan zat cair
a. Alkohol
1. Perdarahan lambung dan usus
2. Kerusakan ginjal dengan zat gula dalam kencing
3. Kerusakan hati
4. Kegagalan jantung
5. Oedema paru-paru
6. Pembentukan methemoglobine
b. Metil Alkohol: Kejang, syok, koma

H. Pencegahan
1. Mengenal bahan beracun yang ada dilingkungan setempat
Rumah tangga dan lingkungan kerja atau industri (proses : cara kerja, bahan
baku, bahan tambahan, hasil antara hasil akhir dan hasil samping limbah).
Dipertimbangkan terbentuknya zat kimia toksik.
2. Menghindari bahan beracun
3. Mengganti bahan beracun dengan yang tidak beracun atau kurang beracun
4. Mereduksi polusi udara ruangan
5. Menghindari penggunaan bahan sintetis .
Beberapa hal sederhana dapat dilakukan untuk meminimalkan potensi
terjadinya. keracunan makanan, Menurut WHO
1. Jagalah kebersihan
2. Pisahkan bahan pangan mentah dan mata
3. Masaklah hingga matang
4. Simpanlah makanan pada suhu yang aman
5. Gunakan air bersih dan bahan pangan yang masih segar
https://www.academia.edu/7717182/Pencegahan_Keracunan

I. Penatalaksanaan
Pertolongan pertama keracunan makanan yang dapat dilakukan
adalah dengan mengupayakan penderita untuk memuntahkan makanan
yang telah dikonsumsi penderita. Cara yang bisa dilakukan untuk
merangsang muntahan adalah dengan memberikan minuman susu. Selain
itu, cara yang bisa dilakukan adalah dengan meminum segelas air yang

15
telah dicampur dengan satu sendok teh garam dan berikan minuman teh
pekat (Junaidi, 2011).
Menurut Noriko (2013) tanaman teh memiliki potensi sebagai
antibakteria karena mengandung bioaktif yaitu senyawa tanin. Tanin
adalah senyawa fenolik yang terkandung dalam berbagai jenis tumbuhan
hijau dengan kadar yang berbeda-beda. Manfaat tanin selain antibakteria
adalah sebagai antiseptik dan mempunyai sifat sebagai agent pengkelat
logam karena adanya pengaruh fenolik. Pengaruh fenolik bisa memberikan
antioksidan bagi tubuh.
Hardisman (2014) menyatakan pertolongan pertama keracunan
makanan adalah dengan minum air putih yang banyak, pemberian larutan
air yang telah dicampur dengan garam. Pertolongan pertama yang bisa
dilakukan adalah dengan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang
akibat muntah atau diare. Menghindari terjadinya dehidrasi pada korban
segera berikan air minum dan larutan elektrolit yang banyak untuk korban
(Sentra informasi keracunan nasional & Badan pemeriksaan Makanan dan
obat SIKERNAS & BPOM, 2012).
Menurut Bahri, Sigit, dkk. (2012) cairan elektrolit dapat diperoleh
dari air kelapa. Air kelapa murni tanpa tambahan gula sedikit menginduksi
urinisasi, sedangkan air kelapa yang ditambah dengan gula banyak
menginduksi urinisasi. Penyebab banyaknya menginduksi urinisasi adalah
karena konsentrasi gula yang tinggi, sehingga absobsi air menjadi lambat
dan urinisasi meningkat.
Penatalaksanaan umum kedaruratan keracunan antara lain:
1. Penatalaksanaan Kegawatan
Walaupun tidak dijumpai adanya kegawatan, setiap kasus keracunan
harus diperlakukan seperti keadaan kegawatan yang mengancam
nyawa. Penilaian terhadap tanda-tanda vital seperti jalan napas,
sirkulasi, dan penurunan kesadaran harus dilakukan secara cepat.
2. Resusitasi
Setelah jalan nafas dibebaskan dan dibersihkan, periksa pernafasan dan
nadi. Berikan cairan intravena, oksigen, hisap lendir dalam saluran

16
pernafasan, hindari obat-obatan depresan saluran nafas, kalau perlu
respirator pada kegagalan nafas berat. Hindari pernafasan buatan dari
mulut ke mulut, sebab racun organo fhosfat akan meracuni lewat mulut
penolong. Pernafasan buatan hanya dilakukan dengan meniup face
mask atau menggunakan alat bag – valve – mask.
3. Pemberian cairan intravena untuk pasien penurunan kesadaran
Penderita keracunan makanan yang parah dan mengalami dehidrasi
harus mendapatkan perawatan lanjutan. Dokter biasanya akan
memberikan cairan melalui intravena atau infus. Cairan ini bisa
menggantikan cairan tubuh yang hilang serta menjaga agar tubuh tidak
terlalu lemah. Jika dokter memberikan obat-obatan maka bisa
dilakukan secara langsung lewat cairan infus.
4. Pemberian norit/zat karbon aktif
Menurut para ahli makanan dan dokter, pertolongan pertama yang bisa
kita lakukan adalah dengan memberikan karbon aktif atau arang aktif
ke korban. Di pasaran, ada arang aktif yang dijual. Salah satu yang
terkenal norit. Tablet berwarna hitam ini punya sifat arang aktif yang
mampu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, termasuk racun.
Semakin banyak yang dimakan, semakin banyak racun yang diserap.
Hanya saja, norit cuma menyerap racun yang masih di saluran
pencernaan dan belum ikut beredar dalam darah. Meskipun norit
mampu menyerap banyak racun, norit nyatanya juga menyerap zat gizi
dan vitamin yang terdapat pada makanan. Oleh karena itu, saat
menenggak norit, korban juga harus terus diberikan minum air putih
untuk menggantikan zat yang ikut terserap norit. AC diberikan dalam
dosis 50 gram pada orang dewasa dan 1 g/kg (maksimal 50 gram) pada
anak-anak.
Kontraindikasi pemberian norit adalah sebagai berikut:
a. Wanita yang merencanakan kehamilan, wanita hamil, wanita
menyusui, anak-anak, serta lansia dianjurkan untuk berkonsultasi
kepada dokter sebelum mengonsumsi jenis obat ini.

17
b. Penderita yang mengalami pendarahan, penyumbatan, atau
memiliki lubang pada sistem pencernaan.
c. Penderita yang sedang mengalami dehidrasi.
d. Penderita yang baru melalui prosedur operasi.
e. Penderita yang sedang berada pada kondisi tidak sadar atau
penurunan kesadaran.
f. Penderita dengan proses pencernaan yang lambat.
g. Penderita yang sedang mengonsumsi obat-obatan lain di saat yang
bersamaan.
h. Penderita yang memiliki alergi terhadap jenis obat-obatan ini atau
pada pengawet dan pewarna makanan serta hewan.
Bila norit tak tersedia, kita bisa menggantikannya dengan susu.
Susu memiliki kelebihan mengikat racun yang ada dalam tubuh agar tak
beredar dalam tubuh. Susu juga bisa merangsang muntah sehingga
makanan beracun bisa ikut keluar.
1. Kumbah Lambung
Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang
kesadarannya menurun, atau pada penderita yang tidak kooperatif.
Hasil paling efektif bila kumbah lambung dikerjakan dalam 4 jam
setelah keracunan. Pada koma derajat sedang hingga berat tindakan
kumbah lambung sebaiknya dikerjakan dengan bantuan pemasangan
pipa endotrakeal berbalon untuk mencegah aspirasi pneumonia.
2. Pemberian antidot/penawar
Tidak semua racun ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah
mengatasi keadaan sesuai dengan masalah. Atropin sulfat (SA) bekerja
dengan menghambat efek akumulasi Akh pada tempat penumpukan.
a. Mula-mula diberikan bolus IV 1 - 2,5 mg.
b. Dilanjutkan dengan 0,5 – 1 mg setiap 5 - 10 - 15 menit sampai
timbul gejala-gejala atropinisasi (muka merah, mulut kering,
takikardi, midriasis, febris dan psikosis).
c. Kemudian interval diperpanjang setiap 15 – 30 - 60 menit
selanjutnya setiap 2 – 4 –6 – 8 dan 12 jam.

18
d. Pemberian SA dihentikan minimal setelah 2 x 24 jam. Penghentian
yang mendadak dapat menimbulkan rebound effect berupa edema
paru dan kegagalan pernafasan akut yang sering fatal.
3. Pemberian antibiotik
Untuk beberapa kasus keracunan makanan yang disebabkan oleh
bakteri maka perlu dibantu dengan obat antibiotik. Obat ini harus
diberikan oleh dokter yang merawat. Biasanya penderita yang terlihat
parah seperti diare dan muntah akut harus menerima obat antibiotik ini.
Selain itu penderita juga harus mendapatkan cairan pengganti lewat
infus. Beberapa jenis obat harus diberikan sesuai dengan penyebabnya,
berikut beberapa terapi yang sering diberikan oleh dokter:
a. Ciprofloxacin (Cipro)
b. Norfloksasin (Noroxin)
c. Trimetoprim / sulfametoksazol
d. Doxycycline
e. Rifaximin (Xifaxan, RedActiv, Flonorm)
Penilaian Klinis
Upaya yang paling penting adalah anamnese atau aloanamnesis yang
rinci. Beberapa pegangan anamnesis yang penting dalam upaya
mengatasi keracunan, ialah:
1) Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat yang
digunakan, termasuk yang sering dipakai
2) Kumpulkan informasi dari anggota keluarga, teman dan petugas
tentang obat yang digunakan.
3) Tanyakan dan simpan sisa obat dan muntahan yang masih ada
untuk pemeriksaan toksikologi.
4) Tanyakan riwayat alergi obat atau syok anafilaktik
Pada pemeriksaan fisik diupayakan untuk menemukan tanda/kelainan
fungsi autonom yaitu pemeriksaan tekanan darah, nadi, ukuran pupil,
keringat, air liur, dan aktivitas peristaltik usus.

19
4. Terapi suportif, konsultasi, dan rehabilitasi
Terapi suportif, konsultasi dan rehabilitasi medik harus dilihat secara
holistik dan efektif dalam biaya. Jangan berikan sirup ipecac atau
melakukan apa saja untuk memancing muntah. Kelompok ahli, termasuk
American Association of Poison Control Centers dan American Academy
of Pediatrics, tidak lagi mendukung penggunaan ipecac pada anak-anak
atau orang dewasa yang telah menelan pil atau zat berpotensi beracun
lainnya. Tidak ada bukti baik yang membuktikan efektivitas penggunaan
sirup tersebut dan dampaknya seringkali lebih berbahaya.
Penatalaksanaan keperawatan pasien keracunan meliputi:
a) Penatalaksanaan syok bila terjadi.
b) Pantaulah tanda vital secara berkala.
c) Pantau keseimbangan cairan dan elektrolit.
d) Bantu mendapatkan spesimen darah, urine, isi lambung dan muntah.
e) Pantau dan atasi komplikasi seperti hipotensi dan kejang.
f) Bila pasien merasa mual dan ingin muntah, anjurkan untuk
memiringkan kepalanya ke samping.
g) Kompres hangat pada perut. Hal ini akan meringankan kejang dan
nyeri di perut dan kecenderungan untuk muntah.

J. Pengkajian
1. Survei Primer
Penatalaksanaan awal pasien koma, kejang, atau perubahan
keadaan mental lainnya harus mengikuti cara pendekatan yang sama
tanpa memandang jenis racun penyebab. Usaha untuk membuat diagnosis
toksikologi khusus hanya memperlambat penggunaan tindakan suportif
yang merupakan bentuk dasar “ABCD” pada pengobatan keracunan.
Pertama, saluran napas (A) harus dibersihkan dan muntah atau
beberapa gangguan lain dan, bila diperlukan, suatu alat yang mengalirkan
napas melalui oral atau dengan memasukkan pipa endotrakea. Pada
kebanyakan pasien, penempatan pada posisi sederhana dalam posisi
dekubitus lateral cukup untuk menggerakkan lidah yang kaku (flaccid)

20
keluar dan saluran napas. Pernapasan (B) yang adekuat harus diuji
dengan mengobservasi dan mengukur gas darah arteri. Pada pasien
dengan insufisiensi pernapasan harus dilakukan intubasi dan ventilasi
mekanik. Sirkulasi (C) yang cukup harus diuji dengan mengukur denyut
nadi, tekanan darah, urin yang keluar, dan evaluasi perfusi perifer. Alat
untuk intravena harus dipasang dan darah diambil untuk penentuan serum
glukosa dan untuk pemeriksaan rutin lainnya.
Pada waktu ini, setiap pasien dengan keadaan mental yang berubah
harus diberi larutan dekstrosa pekat (D). Orang dewasa diberikan larutan
dekstrosa sebanyak 25 g (50 mL larutan dekstrosa 50% secara intravena).
Dekstrosa ini harus diberikan secara rutin, karena pasien koma akibat
hipoglikemia yang dengan cepat dan ireversibel akan kehilangan sel-sel
otak. Pasien hipoglikemia mungkin tampak sebagai pasien keracunan,
dan tidak ada metode yang cepat dan dapat dipercaya untuk
membedakannya dan pasien keracunan. Pada umumnya pemberian
glukosa tidak berbahaya sementara menunggu hasil pemeriksaan gula
darah. Pada waktu ini, pasien alkoholik atau malnutrisi juga harus diberi
100 mg tiamin intramuskular untuk mencegah timbulnya sindrom
Wernicke.
Antagonis narkotik nalokson (Narcan) dapat diberikan dengan
dosis 0,4-2 mg intravena. Nalokson akan memulihkan pernapasan dan
depresi sistem saraf pusat akibat semua jenis obat narkotika. Ada
manfaatnya untuk mengingat bahwa obat-obat ini menimbulkan kematian
terutama akibat depresi pernapasan; karena itu, bila bantuan pernapasan
dan pembebasan saluran pernapasan telah diberikan, nalokson mungkin
tidak diperlukan lagi. Antagonis benzodiazepin flumazenil bermanfaat
pada pasien dengan kecurigaan takar lajak benzodiazepin, tetapi tidak
boleh digunakan bila terdapat riwayat kejang atau takar lajak
antidepresan trisiklik, dan obat ini tidak boleh digunakan sebagai
pengganti penatalaksanaan saluran napas secara hati-hati.
Penatalaksanaan keracunan memerlukan suatu pengetahuan tentang
bagaimana mengobati hipoventilasi, koma, syok, kejang, dan psikosis.

21
Pertimbangan toksikokinetik yang mendetil titik banyak artinya bila
fungsi-fungsi vital tidak dipertahankan. Hipoventilasi dan koma
memerlukan perhatian khusus pada penatalaksanaan saluran napas. Gas
darah arteri harus sering diperiksa, dan aspirasi isi lambung harus
dicegah. Penatalaksanaan cairan dan elektrolit mungkin kompleks.
Monitoring berat badan, tekanan vena sentral, tekanan yang mendesak
kapiler paru, dan gas darah arteri diperlukan untuk memastikan
pemberian cairan mencukupi tetapi tidak berlebihan. Dengan tindakan
suportif yang tepat untuk koma, syok, kejang, dan agitasi, umumnya
memberikan harapan hidup bagi pasien keracunan.

2. Survei Sekunder

Setelah dilakukan intervensi awal yang esensial, dapat dimulai evaluasi


yang terinci untuk membuat diagnosis spesifik. Hal ini meliputi pengumpulan
riwayat yang ada dan melakukan pemeriksaan fisik singkat yang berorientasi
pada toksikologi. Penyebab koma lainnya atau kejang seperti trauma pada
kepala, meningitis, atau kelainan metabolisme harus dicari dan diobati.

a. Riwayat: Pernyataan dengan mulut tentang jumlah dan jenis obat


yang ditelan dalam kedaruratan toksik mungkin tidak dapat
dipercayai. Bahkan anggota keluarga, polisi, dan pemadam
kebakaran atau personil paramedis harus ditanyai tintuk
menggambarkan lingkungan di mana kedaruratan toksik ditemukan
dan semua alat suntik, botol-botol kosong, produk rumah tangga,
atau obat-obat bebas di sekitar pasien yang kemungkinan dapat
meracuni pasien harus dibawa ke ruang gawat darurat.
b. Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan yang cepat harus dilakukan dengan
penekanan pada daerah yang paling mungkin memberikan petunjuk
ke arah diagnosis toksikologi. Hal ini termasuk tanda-tanda vital,
mata dan mulut, kulit, abdomen, dan sistem saraf.
1) Tanda-tanda vital. Evaluasi dengan teliti tanda-tanda vital
(tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh)

22
merupakan hal yang esensial dalam kedaruratan toksikologi.
Hipertensi dan takikardia adalah khas pada obat-obat
amfetamin, kokain, fensiklidin, nikotin, dan antimuskarinik.
Hipotensi dan bradikardia, merupakan gambaran karakteristik
dan takar lajak narkotika, kionidin, sedatif-hipnotik dan beta
bloker. Takikardia dan hipotensi sering terjadi dengan
antidepresan trisiklik, fenotiazin, dan teofihin. Pernapasan yang
cepat adalah khas pada amfetamin dan simpatomimetik lainnya,
salisilat, karbon monoksida dan toksin lain yang menghasilkan
asidosis metabolik. Hipertermia dapat disebabkan karena obat-
obat simpatomimetik, antimuskarinik. salisilat dan obat-obat
yang menimbulkan kejang atau kekakuan otot. Hipotermia dapat
disebabkan oleh takar lajak yang berat dengan obat narkotik,
fenotiazin, dan obat sedatif, terutama jika disertai dengan
pemaparan pada lingkungan yang dingin atau infus intravena
pada suhu kamar.
2) Mata. Mata merupakan sumber informasi toksikologi yang
berharga. Konstriksi pupil (miosis) adalah khas utituk keracunan
narkotika, klonidin, fenotiazin, insektisida organofosfat dan
penghambat kolinesterase lainnya, serta koma yang dalam
akibat obat sedatif. Dilatasi pupil (midriasis) umumnya terdapat
pada amfetamin, kokain, LSD, atropin, dan obat antirnuskarinik
lain. Nistagmus riorizontal dicirikan pada keracunan dengan
fenitoin, alkohol, barbiturat, dan obat seclatit lain. Adanya
nistagmus horizontal dan vertikal memberi kesan yang kuat
keracunan fensiklidin. Ptosis dan oftalmoplegia merupakan
gambaran karakteristik dari botulinum.
3) Mulut. Mulut dapat memperlihatkan tanda-tanda luka bakar
akibat zat-zat korosif. atau jelaga dan inhalasi asap. Bau yang
khas dan alkohol, pelarut hidrokarbon. Paraldehid atau amonia
mungkin perlu dicatat. Keracunan dengan sianida dapat dikenali
oleh beberapa pemeiriksa sebagai bau seperti bitter almonds.

23
Arsen dan organofosfat telah dilaporkan menghasilkan bau
seperti bau bawang putih.
4) Kulit. Kulit sering tampak merah, panas, dan kering pada
keracunan dengan atropin dan antimuskarinik lain. Keringat
yang berlebihan ditemukan pada keracunan dengan
organofosfat, nikotin, dan obat-obat simpatomimetik. Sianosis
dapat disebabkan oleh hipoksemia atau methemoglohinemia.
Ikterus dapat memberi kesan adanya nekrosis hati akibat
keracunan asetaminofen atau jamur A manila phailoides.
5) Abdomen. Pemeriksaan abdomen dapat menunjukkan ileus,
yang khas pada keracunan dengan antimuskarinik, narkotik, dan
obat sedatif. Bunyi usus yang hiperaktif, kram perut, dan diare
adalah urnum terjadi pada keracunan dengan organofosfat, besi,
arsen, teofihin, dan A.phalloides.
6) Sistem saraf. Pemeriksaan neurologik yang teliti adalah esensial.
Kejang fokal atau defisit motorik lebih menggambarkan lesi
struktural (seperti perdarahan intrakranial akibat trauma)
daripada ensefalopati toksik atau metabolik. Nistagmus,
disartria, dan ataksia adalah khas pada keracunan fenitoin,
alkohol, barbiturat, dan keracunan sedatif lainnya. Kekakuan
dan hiperaktivitas otot umum ditemukan pada metakualon,
haloperidol, fensiklidin (PCP), dan obat-obat simpatomimetik.
Kejang sering disehabkan oleh takar lajak antidepresan trisiktik,
teotilin, isoniazid, dan fenotiazin. Koma ringan tanpa refleks dan
bahkan EEG isoelektrik mungkin terlihat pada koma yang dalam
karena obat narkotika dan sedatif-hipnotik, dan mungkin
menyerupai kematian otak.
c. Pemeriksaan diagnostik
1) Pemeriksaan laboratorium. Laboratorium rutin (darah, urin,
feses, lengkap) tidak banyak membantu.
2) Pemeriksaan darah lengkap, kreatinin serum (N: 0,5-1,5 mg/dl),
elektrolit serum (termasuk kalsium (N: 9-11 mg/dl).

24
3) Foto thorax kalau ada kecurigaan udema paru.
4) Pemeriksaan EKG. Pemeriksaan ini juga perlu dilakukan pada
kasus keracunan karena sering diikuti terjadinya gangguan irama
jantung yang berupa sinus takikardi, sinus bradikardi, takikardi
supraventrikuler, takikardi ventrikuler, fibrilasi ventrikuler,
asistol, disosiasi elektromekanik. Beberapa faktor predosposisi
timbulnya aritmia pada keracunan adalah keracunan obat
kardiotoksik, hipoksia, nyeri dan ansietas, hiperkarbia,
gangguan elektrolit darah, hipovolemia, dan penyakit dasar
jantung iskemik.

K. Diagnosa Keperawatan
1. (00132) Nyeri akut b/d agen cedera biologis.
2. (00032) Pola nafas tidak efektif b/d distress pernafasan.
3. (00002) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake
tidak adekuat (anoreksia, mual dan muntah), kesulitan menelan.
4. (00027) Defisit volume cairan b/d muntah, diare.
5. (00085) Hambatan mobilitas fisik b/d paralisis, ketidakmampuan otot
berkontraksi.
6. (00092) Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik.

25
L. Intervensi

No.Dx Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi


1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1) Lakukan pengkajian nyeri
1x 24 jam diharapkan nyeri berkurang, secara komprehensif termasuk
menghilang dengan kriteria hasil: lokasi, durasi frekuensi,
Pain level, dibuktikan dengan respon karakteristik, kualitas dan faktor
nonverbal pasien menunjukkan tidak presipitasi
ada nyeri, tanda vital dalam batas 2) Observasi reaksi nonverbal dari
normal, tidak ada masalah pola tidur, ketidaknyamanan
pasien melaporkan nyeri berkurang. 3) Bantu pasien dan keluarga
Pain control, dibuktikan dengan pasien untuk mencari dan menemukan
dapat melakukan teknik dukungan
nonfarmakologis untuk mengurangi 4) Kontrol lingkungan yang
nyeri. dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
5) Kurangi faktor presipitasi nyeri
6) Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
7) Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dalam,
relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin
8) Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri:
9) Berikan informasi tentang nyeri
seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan
antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur

26
No.Dx Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1) Monitor vital sign
1x 24 jam diharapkan pola nafas 2) Identifikasi kebutuhan insersi
menjadi efektif dengan kriteria hasil: jalan nafas buatan
NOC : Status Pernapasan : 3) Posisikan pasien untuk
Pertukaran Gas tidak akan terganggu memaksimalkan ventilasi
dibuktikan dengan : 4) Monitor status respirasi: adanya
Kesadaran composmentis, TTV menjadi suara nafas tambahan
normal, pernafasan menjadi normal 5) Kolaborasi dengan tim medis:
yaitu tidak mengalami nafas pemberian oksigen
Dangkal
3. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1) Monitor intake dan output
selama 1 x 24 jam pemenuhan nutrisi makanan/cairan dan hitung
dapat adekuat/terpenuhi dengan kriteria masukan kalori perhari sesuai
hasil:
kebutuhan
Status Gizi Asupan Makanan dan
2) Kaji kebutuhan nutrisi
Cairan ditandai pasien nafsu makan
parenteral
meningkat, mual dan muntah hilang,
3) Pilih suplemen nutrisi sesuai
pasien tampak segar
kebutuhan
Status Gizi; Nilai Gizi terpenuhi
dibuktikan dengan BB meningkat, BB 4) Bantu pasien memilih
tidak turun. makanan yang lunak dan
lembut
5) Berikan nutrisi yang
dibutuhkan sesuai batas diet
yang dianjurkan
6) Kolaborasikan pemberian anti
emesis sesuai indikasi

27
No.Dx Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi
4. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1) Monitor intake dan output,
selama 1x24 jam diharapkan kebutuhan karakter serta jumlah feses
cairan terpenuhi dengan kriteria hasil: 2) Observasi kulit kering
a. Tidak adanya tanda-tanda berlebihan dan membran
dehidrasi mukosa, penurunan turgor
b. Vital sign dalam batas normal kulit
3) Anjurkan klien untuk
meningkatkan asupan
cairan per oral
4) Kolaborasi pemberian
cairan paranteral sesuai
indikasi
5. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1) Tentukan batasan
selama 1x24 jam diharapkan pergerakan sendi dan
kemampuan mobilitas fisik meningkat efeknya terhadap fungsi
dengan kriteria hasil:
sendi
a. Kekuatan otot meningkat
2) Monitor lokasi dan
b. Tidak ada kaku sendi
kecenderungan adanya
c. Dapat bergerak dengan mudah
nyeri dan
ketidaknyamanan selama
pergerakan/aktivitas
3) Lakukan latihan ROM
pasif atau ROM dengan
bantuan, sesuai indikasi
4) Jelaskan pada pasien atau
keluarga manfaat dan
tujuan melakukan latihan
sendi
5) Dukung pasien untuk
melihat gerakan tubuh
sebelum memulai latihan

28
No.Dx Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi
6. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1) Observasi adanya
selama 1x24 jam diharapkan klien dapat pembatasan klien dalam
memenuhi kebutuhan dirinya dengan melakukan aktivitas
kriteria hasil:
2) Kaji adanya fakor yang
a. Ketidaknyamanan setelah
menyebabkan kelelahan
beraktivitas berkurang
3) Monitor nutrisi dan
b. Dapat memenuhi kebutuhan
sumber energi yang
sehari-hari
adekuat
4) Bantu klien dalam
memenuhi kebutuhannya
5) Bantu klien dalam
melakukan aktivitas
sehari-hari

M. Evaluasi
Tahap Evaluasi
Ada beberapa tahap evaluasi keperawatan, yaitu: (Ali, 2009)
1. Membaca kembali diagnosa keperawatan, rencana keperawatan,
intervensi keperawatan.
2. Mengidentifikasi tolak ukur keberhasilan yang akan digunakan
untuk mengukur tingkat keberhasilan atau tingkat pencapaian
tujuan, misalnya:
a) Tekanan darah normal 120/80
b) Mampu mandi sendiri minimal dua kali/hari
c) Mampu menyebut dengan benar minimal tiga cara
mencegah penyakit demam berdarah
3. Mengumpulkan data atau mengkaji ulang pencapaian hasil sesuai
dengan tolak ukur keberhasilan atau kesesuaian proses pelaksanaan
asuhan keperawatan dengan standar/rencana keperawatan,
misalnya hasil pengukuran tekanan darah 100/60, klien Ali hanya

29
mampu mandi sendiri satu kali dalam satu hari atau mampu
menyebut satu cara pencegahan demam berdarah.
4. Mengevaluasi pencapaian tujuan dengan cara sebagai berikut:
a. Penilaian hasil, yaitu membandingkan hasil (output) yang
dicapai dengan standar/tujuan yang telah ditetapkan.
Evaluasi disusun menggunakan SOAP secara operasional
dengan tahapan dengan sumatif (dilakukan selama proses
asuhan keperawatan) dan formatif yaitu dengan proses dan
evaluasi akhir. Evaluasi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
1. Evaluasi berjalan (sumatif)
Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisan format
catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah
yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai adalah
format SOAP. (Setiadi, 2008)
2. Evaluasi akhir (formatif)
Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan
antara tujuan yang akan dicapai. Bila terdapat kesenjangaan
diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses
keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat data-data,
masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi. (Setiadi,
2008)

30
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Keracunan adalah masuknya toksin yang dapat membahayakan
tubuh. Pada hakekatnya semua zat dapat berlaku sebagi racun, tergantung
pada dosis dan cara pemberiannya. Proses keracunan dapat berlangsung
secara perlahan, dan lama kemudian baru menjadi kegawatdarurat, atau
dapat juga berlangsung dengan cepat dan segera menjadi keadaan gawat
darurat.
Bahan makanan pada umumnya merupakan media yang sesuai
untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme. Proses
pembusukan merupakan proses awal dari akibat aktivitas mikroorganisme
yang mempengaruhi langsung kepada nilai bahan makanan tersebut untuk
kepentingan manusia. Selain itu, keracunan bahan makanan dapat juga
disebabkan oleh bahan makanannya sendiri yang beracun, terkontaminasi
oleh protozoa, parasit, bakteri yang patogen dan juga bahan kimia yang
bersifat racun.

B. Saran
1. Diharapkan mahasiswa hendaknya benar-benar memahami
manajemen kegawatdaruratan pada klien dengan kasus keracunan,
sehingga dapat menerapkan asuhan keperawatan yang
komprehensif pada klien.
2. Untuk pendidikan hendaknya lebih melengkapi literatur yang
berkaitan dengan makalah ini, sehingga mempermudah mahasiswa
dalam pembuatan makalah yang lebih baik, sehingga dapat
dijadikan acuan bagi peserta didik lainnya.

31
DAFTAR PUSTAKA

Doheny K. Most common foods for foodborne illness: CDC report. Medscape
Medical News. January 30, 2013.
Fajri. (2012). Keracunan Obat dan bahan Kimia Berbahaya. Dari:
http://fajrismart.wordpress.com/2011/02/22/keracunan-obat-dan-bahan-
kimia-berbahaya/. Diakses tanggal 17 Agustus 2017.
Jacobs RA. General problems in infectious diseases: acute infectious diarrhea. In:
Tierney LM Jr, McPhee SJ, Papadakis MA, eds. Current Medical Diagnosis
and Treatment 2001. 40th ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2000:1215-6.
Krisanty, dkk. (2011). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans Info
Media.
Lee JH, Shin H, Son B, Ryu S. Complete genome sequence of Bacillus cereus
bacteriophage BCP78. J Virol. Jan 2012;86(1):637-8.
Logan NA. Bacillus and relatives in foodborne illness. J Appl Microbiol. Mar
2012;112(3):417-29.
Mansjoer Arif, 2009, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 jilid 1 Media
Aesculapius, FKUI, Jakarta.
Sartono. (2012). Racun dan Keracunan. Jakarta: Widya Medika.
Smeltzer, Suzanne C., & Bare, Brenda G. Buku Ajar: Keperawatan Medikal
Bedah, vol: 3. Jakarta: EGC.
Syamsi. (2012). Konsep Kegawatdaruratan Pada Pasien Dengan Gigitan
Serangga. Dari:http://nerssyamsi.blogspot.com/2012/01/konsep-
kegawatdaruratan-pada-pasien.html. Diakses tanggal 17 Agustus 2017.

32