Anda di halaman 1dari 7

ANALISA KAPASITAS DUKUNG TANAH

Tanah harus mampu mendukung dan menopang beban dari setiap konstruksi
yang direncanakan diatas tanah tersebut tanpa suatu kegagalan geser dan dengan
lendutan pampat yang dihasilkan dapat ditolelir untuk konstruksi tersebut. Ada
beberapa persamaan-persamaan yang diusulkan oleh para peneliti pendahulu untuk
menganalisis kapasitas daya dukung tanah. Beberapa diantaranya yaitu persamaan
kapasitas dukung yang diusulkan oleh Terzaghi (1943), Meyerhof (1951, 1963).

 Persamaan Terzaghi

Karl von Terzaghi (2 Oktober 1883 - 25 Oktober 1963) adalah seorang


insinyur sipil Austria dan geolog, beliau juga disebut bapak mekanika tanah.

Dalam teori daya dukung persamaan Terzaghi telah sangat luas digunakan,
karena persamaan tersebut merupakan usulan yang pertama dan cukup konservatif,
sehingga didapatkan sebuah sejarah pemakaian yang berhasil. Persamaan Terzhagi
bila memakai data laboratorium untuk pondasi dengan bentuk lingakaran adalah
sebagai berikut :

Untuk pondasi lingkaran

Qu = 1,3.C.Nc + po.Nq + 0,3.Ȗ.B.NȖ po = (Df.Ȗ)

Untuk pondasi bujur sangkar,

Qu = 1,3.C.Nc + po.Nq + 0,4.Ȗ.B.NȖ

Untuk pondasi dalam,

Qult = Qujung + Qselimut

= Qu + (K x Fs x

Dimana :

Qult : Daya Dukung Ultimit Pondasi

Ȗ : Berat Volume Tanah

D : Kedalaman Dasar

C : Cohesi Tanah

B : Lebar /diameter pondasi


Po : Tekanan overburden pada dasar pondasi (kN/m2)

Tabel Faktor Daya Ddukung untuk Persamaan Terzaghi

Ø deg Nc Nq Ng Kpg
0 5.7* 1.0 0.0 10.8/
5 7.3 1.6 0.5 12.2
10 9.6 2.7 1.2 14.7
15 12.9 4.4 2.5 18.6
20 17.7 7.4 5.0 25.0
25 25.1 12.7 9.7 35.0
30 37.2 22.5 19.7 52.0
34 52.6 36.5 36 82.0
35 57.8 41.4 42.4 141.0
40 95.7 81.3 100.4 298.0
45 172.3 173.3 297.5 800.0
48 258.3 287.9 780.1
50 347.5 415.1 1153.2
* = 1.5p +1
Sumber : Mekanika tanah 2, Hary Christady H.

 Persamaan Meyerhof

Meyerhof menyarankan suatu persamaan daya dukung yang mirip dengan


Terzaghi. Meyerhof mengemukakan persamaan untuk menghitung daya dukung ijin
untuk penurunan sebesar 25 mm. Persamaan ini dapat digunakan untuk menghasilkan
kurva yang serupa yang diusulkan Terzaghi dan Peck. Dalam perkembangannya,
Meyerhof juga telah menghasilkan persamaan untuk menghitung daya dukung tiang
pancang berdasarkan data hasil pengujian sondir atau CPT dan juga data SPT.

Beban vertikal : q ult = C. Nc.Sc.dc + q.Nq.Sq.dq + 0,5.B.Ng.Sg.dg


Beban horizontal : q ult = C.Nc.dc.ic + q.Nq.dq.iq + 0,5g.B.Ng.dg. ig
x tan Ø tan {45 + Ø / 2 }
Nq = e
Nc = ( Nq – 1) cot Ø
Ng = ( Nq – 1) tan (1,4 Ø )
Tabel Faktor – factor bentuk, kedalaman dan kemiringan untuk persamaan
daya dukung Meyerhof :

Faktor Nilai Untuk


Bentuk Sc = 1+ 0.2 Kp B LSemua Ø
Sq = S = 1+ 0.1 Kp BØ > 10
L Sq =Sg = 1 Ø=0
Kedalaman dc = 1 + 0.2√ Kp DSemua Ø
B Ø > 10
dc = dg = 1+ 0.1 √ Kp DØ = 0
B
dq = dg = 1
Kemiringan ic = iq = {1 - θ º / 90º } Semua Ø
ig = { 1 - θ º / Ø º } Ø > 10
Dimana Ig = 1Ø = 0
Kp = tan ² ( 45 + Ø /2 )
θ = sudut resultan diukur dari vertikal tanpa tanda
B, L, D = sudah ditentukan sebelumnya
STABILITAS LERENG

Lereng adalah permukaan bumi yang membentuk sudut kemiringan tertentu


dengan bidang horizontal Lereng dapat terbentuk secara alamiah karena proses
geologi ataukarena dibuat oleh manusia. Lereng yang terbentuk secara alamiah
misalnya lereng bukitdan tebing sungai, sedangkan lereng buatan manusia antara lain
yaitu galian dan timbunanuntuk membuat jalan raya dan jalan kereta api, bendungan,
tanggul sungai dan kanal sertatambang terbuka.Suatu longsoran adalah keruntuhan
dari massa tanah yang terletak pada sebuahlereng sehingga terjadi pergerakan massa
tanah ke bawah dan ke luar. Longsoran dapatterjadi dengan berbagai cara, secara
perlahan-lahan atau mendadak serta denganataupun tanpa tanda-tanda yang
terlihat.Setelah gempa bumi, longsoran merupakan bencana alam yang paling banyak
mengakibatkan kerugian materi maupun kematian. Kerugian dapat ditimbulkan oleh
suatulongsoran antara lain yaitu rusaknya lahan pertanian, rumah, bangunan,
jalurtransportsi serta sarana komunikasi.Analisis kestabilan lereng harus berdasarkan
model yang akurat mengenai kondisimaterial bawah permukaan, kondisi air tanah dan
pembebanan yang mungkin bekerja padalereng. Tanpa sebuah model geologi yang
memadai, analisis hanya dapat dilakukandengan menggunakan pendekatan yang
kasar sehingga kegunaan dari hasil analisis dapatdipertanyakan.Beberapa pendekatan
yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode-metode seperti : metode
Taylor, metode janbu, metode Fenellius, metode Bishop, dll
Dalam menentukan kestabilan atau kemantapan lereng dikenal istilah faktor
keamanan (safety factor) yang merupakan perbandingan antara gaya-gaya yang
menahan gerakan terhadap gaya-gaya yang menggerakkan tanah tersebut dianggap
stabil, bila dirumuskan sebagai berikut :

Faktor kemanan (F) = gaya penahan / gaya penggerak

Dimana untuk keadaan :

• F > 1,0 : lereng dalam keadaan mantap

• F = 1,0 : lereng dalam keadaan seimbnag, dan siap untuk longsor


• F < 1,0 : lereng tidak mantap

Jadi dalam menganalisis kemantapan lereng akan selalu berkaitan dengan perhitungan
untuk mengetahui angka faktor keamanan dari lereng tersebut. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kemantapan lereng, antara lain :

• Penyebaran batuan

Penyebaran dan keragaman jenis batuan sangat berkaitan dengan kemantapan lereng,
ini karena kekuatan, sifat fisik dan teknis suatu jenis batuan berbeda dengan batuan
lainnya. Penyamarataan jenis batuan akan mengakibatkan kesalahan hasil analisis.
Misalnya :

kemiringan lereng yang terdiri dari pasir tentu akan berbeda dengan lereng yang
terdiri dari lempung atau campurannya.

• Struktur geologi

Struktur geologi yang mempengaruhi kemantapan lereng dan perlu diperhatikan


dalam analisis adalah struktur regional dan lokal. Struktur ini mencakup sesar, kekar,
bidang perlapisan, sinklin dan antiklin, ketidakselarasan, liniasi, dll. Struktur ini
sangat mempengaruhi kekuatan batuan karena umumnya merupakan bidang lemah
pada batuan tersebut, dan merupakan tempat rembesan air yang mempercepat proses
pelapukan.

• Morfologi

Keadaan morfologi suatu daerah akan sangat mempengaruhi kemantapan lereng


didaerah tersebut. Morfologi yang terdiri dari keadaan fisik, karakteristik dan bentuk
permukaan bumi, sangat menentukan laju erosi dan pengendapan yang terjadi,
menent ukan arah aliran air permukaan maupun air tanah dan proses pelapukan
batuan.

• Iklim
Iklim mempengaruhi temperatur dan jumlah hujan, sehingga berpengaruh pula pada
proses pelapukan. Daerah tropis yang panas, lembab dengan curah hujan tinggi akan
menyebabkan proses pelapukan batuan jauh lebih cepat daripada daerah sub-tropis.
Karena itu ketebalan tanah di daerah tropis lebih tebal dan kekuatannya lebih rendah
dari batuan segarnya.

• Tingkat pelapukan

Tingkat pelapukan mempengaruhi sifat-sifat asli dari batuan, misalnya angka kohesi,
besarnya sudut geser dalam, bobot isi, dll. Semakin tinggi tingkat pelapukan, maka
kekuatan batuan akan menurun.

• Hasil kerja manusia

Selain faktor alamiah, manusia juga memberikan andil yang tidak kecil. Misalnya,
suatu lereng yang awalnya mantap, karena manusia menebangi pohon pelindung,
pengolahan tanah yang tidak baik, saluran air yang tidak baik, penggalian / tambang,
dan lainnya menyebabkan lereng tersebut menjadi tidak mantap, sehingga erosi dan
longsoran mudah terjadi.

Pada dasarnya longsoran akan terjadi karena dua sebab, yaitu naiknya tegangan geser
(she ar st ree s) dan menurunnya kekuatan geser (shear strenght). Adapun faktor yang
dapat menaikkan tegangan geser adalah :

• Pengurangan penyanggaan lateral, antara lain karena erosi, longsoran terdahulu


yang menghasilkan lereng baru dan kegiatan manusia.
• Pertambahan tegangan, antara lain karena penambahan beban, tekanan air
rembesan,danpenumpukan.
• Gaya dinamik, yang disebabkan oleh gempa dan getaran lainnya.
• Pengangkatan atau penurunan regional, yang disebabkan oleh gerakan pembentukan
pegunungan dan perubahan sudut kemiringan lereng.
• Pemindahan penyangga, yang disebabkan oleh pemotongan tebing oleh sungai,
pelapukan dan erosi di bawah permukaan, kegiatan pertambangan dan terowongan,
berkurangnya/hancurnya material dibagian dasar.
• Tegangan lateral, yang ditimbulkan oleh adanya air di rekahan serta pembekuan air,
penggembungan lapisan lempung dan perpindahan sisa tegangan.