Anda di halaman 1dari 12

KURIKULUM 1952

OLEH

1.IIN PERTIWI MASRIN(21741056)

2.YUNITA SAPSUHA(201741056)

3.DEVINTA WIDIATIN(201741025)

4.ALFREDO LUMAMULI(201741069)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2019
Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,yang telah memberikan rahmat dan
bimbinganya sehingga kami mampu menyusun makalah ini, untuk memenuhi tugas mata kuliah
TELAAH KURIKULUM KIMIA SMA/SMK .

Kami mengharapkan makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa dan dosen dalam proses belajar
mengajar. Sehingga mampu menambah pengetahuan dan meningkatkan kecerdasan bagi mahasiswa.

Karena itu, demi perbaikan makalah ini, segala saran dan kritik akan senantiasa kami terima
dengan senang hati, semoga makalah ini dapat berguna dan manfaatnya,khususnya bagi para mahasiswa.
Terima Kasih

Ambon, 13 Agustus 2019

Kelompok 1
DAFTAR ISI

Halaman judul .......................................................................................................... i

Kata Pengantar ......................................................................................................... ii

Daftar Isi .................................................................................................................... iii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1
1.2. Permasalahan ....................................................................................... ....1

BAB II : PEMBAHASAN

1. Sejarah terbentunya kurikulum 1952


2. Pengertian kurikulum
3. Gagasan terbentuknya kurikulum 1952
4. Landasan Hukum
5. Format Kurikulum 1952
6. Kelebihan dan Kekurangan

BAB III PENUTUP :

A. Kesimpulan .................................................................................

B. Saran.............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan terdapat beberapa komponen yang saling bersinergi agar mampu
mewujudkan tujuan pendidikan itu sendiri. Semua komponen mempunyai andil yang penting, tidak
terkecuali kurikulum yang mana dapat dikatakan penyangga utama dalam sebuah proses belajar
mengajar. Beberapa pakar bahkan mengatakan bahwa kurikulum merupakan jantung bagi
pendidikan, baik buruknya hasil pendidikan ditentukan oleh kurikulum, apakah mampu
membangun kesadaran kritis terhadap peserta didik ataukah tidak. Masa depan bangsa terletak
pada tangan kreatif generasi muda. Mutu bangsa kemudian hari bergantung pada pendidikan yang
dinikmati anak-anak saat ini, terutama dalam pendidikan formal yang diterima di bangku sekolah.
Jadi, barang siapa yang menguasai kurikulum maka ia memegang peran penting dalam mengatur
nasib bangsa dan negara ke depannya. Menengok betapa pentingnya kurikulum bagi pendidikan,
dapat dipahami bahwa kurikulum merupakan suatu hal yang vital bagi pendidikan
Seiring berkembangnya zaman, tentu saja perubahan tidak dapat dipungkiri pada berbagai hal,
begitu pula dengan kurikulum. Perubahan itu antara lain terjadi karena masyarakat tidak kunjung
puas dengan hasil pendidikan sekolah dan selalu ingin memperbaikinya. Memang tak mungkin
menyusun suatu kurikulum yang baik serta mantap sepanjang masa. Suatu kurikulum hanya baik
untuk suatu masyarakat Tertentu pada masa tertentu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang mengubah masyarakat dan dengan sendirinya kurikulum pun mau tidak mau harus
disesuaikan dengan tuntutan zaman tersebut.
Untuk menyempurnakan kurikulum 1947 maka pada tahun 1950 terbentuk gagasan kurikulum
baru yang baru dilaksanakan pada tahun 1954 yang di sebut “Kurikulum 1952” atau “Rentjana
Pelajaran Terurai”.

1.2. Permasalahan
a. Apa yang dimaksud dengan kurikulum ?
b. Bagaimana sejarah terbentuknya kurikulum 1952
c. Mengapa diterapkan kurikulum 1952 ?
d. Apa landasan hukum kurikulum 1952 ?
e. Bagaimana isi dan struktur kurikulum 1952 ?
f. Apasaja kelebihan dan kekurangan dari kurikulum 1952 ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa yunani berasal dari kata curir yang berarti pelari, dan curere yang
berarti tempat berpacu atau tempat berlomba. Dari dua kata ini kurikulum diartikan sebagai jarak
perlombaan yang harus ditempuh oleh pelari dalam suatu arena perlombaan. Dalam dunia pendidikan
kurikulum bisa diartikan secara sempit maupun secara luas. Secara sempit kurikulum diartikan hanya
sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa di sekolah atau di
perguruan tinggi. Secara lebih luas kurikulum diartikan tidak terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi
lebih luas daripada itu, kurikulum diartikan merupakan aktivitas apa saja yang dilakukan di sekolah dalam
rangka mempengaruhi anak dalam belajar untuk mencapai suatu tujuan, termasuk didalamnya kegiatan
belajar mengajar, mengatur strategi dalam proses belajar, cara mengevaluasi program pengembangan
pengajaran. Oemar Hamalik melihat kurikulum dari beberapa tafsiran sebagai berikut: 1) Kurikulum
memuat isi dan materi pelajaran, 2) Kurikulum sebagai rencana pembelajaran, dan 3) Kurikulum sebagai
pengalaman belajar. Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran yang yang berarti dalam kurikulum
terdapat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh serta dipelajari oleh siswa selama mengikuti
kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran pada jenjang pendidikan tertentu. Dalam pandangan ini
mata pelajaran merupakan pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lalu yang telah tersusun
secara rasional, logis dan sistematis.
Kurikulum sebagai rencana pembelajaran merupakan suatu program dan rencana pendidikan yang
disesuaikan untuk membelajarkan siswa. Dengan program dan rencana yang telah dibuat siswa
melakukan aktivitas belajar untuk mengembangkan dan merubah tingkah laku sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan. Dalam rencana pembelajaran yang dibuat guru harus merancang keterlibatan siswa
secara aktif untuk melakukan aktivitas belajar.
Kurikulum sebagai pengalaman belajar. Dalam hal ini kurikulum dirancang untuk memberikan
pengalaman belajar serta mengembangkan kecakapan hidup siswa. Kurikulum sebagai pengalaman
belajar mengisyaratkan bahwa kegiatan belajar tidak hanya berlangsung dalam ruangan kelas, akan tetapi
juga bisa berlangsung di luar ruangan kelas.
Dengan demikian semua kegiatan belajar yang dilakukan baik di dalam ruangan kelas maupun di
luar kelas disebut kurikulum.1 Dari beberapa pengertian diatas maka kurikulum dapat diartikan secara
luas merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus diselesaikan oleh siswa, serta rencana pembelajaran
yang dibuat oleh guru dan sejumlah pembelajaran belajar yang harus dilakukan oleh siswa.
B. Sejarah Terbentuknya Kurikulum 1952
Lahirnya kurikulum 1952 tidak terlepas dari sejarah kelahiran Kurikulum 1947. Bahkan dapat
dikatakan bahwa Kurikulum 1952 adalah pembaharuan dari Kurikulum 1947. Dikatakan demikian karena
saat kurikulum 1947 berlaku belum ada undang-undang pendidikan yang berlaku sebagai landasan
operasionalnya. Hal ini terjadi sampai tahun 1949. Baru setelah tahun 1950 undang-undang pendidikan
yang dikenal dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1950 dapat dirampungkan. Selanjutnya undang-
undang itu disahkan pada tahun 1954 sebagai UU No. 12 Tahun 1954. Dari situlah dikenal undang-
undang pendidikan yang pertama kali, yaitu No. 4 Tahun 1950 No. 12 Tahun 1954. Namun undang-
undang itu tidak memberlakukan pelaksanaan Kurikulum 1947.
Seiring dengan berlakunya undang-undang pendidikan No. 4 Tahun 1950 yang baru
dilaksanakan pada tahun 1954, kurikulum yang berlaku bukan lagi kurikulum 1947, tetapi kurikulum
tahun 1952. Dengan kata lain, kurikulum 1952 merupakan kurikulum pertama yang memiliki dasar
hukum operasional. Landasan yuridis kurikulum 1952 tidak berbeda jauh dari kurikulum 1947. Landasan
idiilnya adalah Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, sedangkan landasan
konstitusionalnya adalah UUD 1945. Landasan operasional kurikulum 1952 adalah UU No. 4 Tahun 1950.
Undang-undang itu telah dirancang sebelum tahun 1950. Rancangan undang-undang itu yang awalnya
dibahas oleh BPKNIP tahun 1948 tidak dapat dilakukan karena terjadinya clash II. Baru pada tanggal 29
Oktober 1949, RUU itu diterima oleh BPKNIP dan disahkan oleh pemerintah RI pada tanggal 2 April
1950.
Seiring dengan terbentuknya kembali negara kesatuan RI setelah berada di bawah
pemerintahan RIS, maka UU No. 4 Tahun 1950 disempurnakan lagi dan diterima oleh DPR pada tanggal
23 Desember 1953, pengesahannya dilakukan pemerintah RI pada tanggal 12 Maret 1954 sebagai UU
No. 12 Tahun 1954. Dengan demikian maka dapat dipahami bahwa UU No. 12 Tahun 1954 sebenarnya
merupakan dasar hukum bagi pelaksanaan UU No. 4 Tahun 1950. Maka landasan operasional kurikulum
1952 adalah UU No. 4 Tahun 1950 dan UU No. 12 Tahun 1954.

C. Gagasan terbetuknya kurikulum


Struktur dan rencana pelajaran sekolah menengah pertama sesungguhnya belum
serentak berlaku di seluruh tanah air. Pada waktu itu belum seluruh wilayah Indonesia
telah dikuasai oleh Pemerintah RI.
Berakhirnya perang dunia kedua, Belanda kembali dari pengungsiannya di Australia
ke Indonesia. mereka ingin melanjutkan kembali penjajahannya dengan mendirikan NICA.
Pemerintah RI yang sah terdesak dan terpaksa pindah pusatnya dari Jakarta ke Yogyakarta.
belanda terus ingin menghancurkan RI dengan aksi Militer I dan II dalam tahun 1948.
Akhirnya Negara Indonesia dipecah-pecah menjadi daerah kantong yang kemudian setelah
KMB, tergabung dalam RIS dan daerah-daerah tadi menjadi Negara bagian, Pasundan,
Negara Jawa Timur, Negara Sumatra Timur dan sebagainya.
Karena itu dalam bidang pendidikan terdapat berbagai perbedaan antara satu
Negara bagian dengan Negara bagian yang lainnya. Di Negara RI masih tetap berlaku sistem
yang telah ditetapkan di atas, tetapi di luar RI kembali berbentuk MULO Belanda dulu. Di
Negara Pasundan SMP lamanya 4 tahun, di Negara Sumatra Timur IMS lamanya 4 tahun.
Perbedaan dalam bentuk, membawa perbedaan pula dalam isinya. Selain
perbedaan-perbedaan itu, terdapat pula persamaan yaitu adanya diferensiasi atas bagian A
dan B.
Dengan terbentuknya Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950, maka ini
membawa konsekuensi yaitu, struktur dan sistem pendidikan diseragamkan. Yang
dijadikan dasar dan pedoman dalam rangka penyeragaman ini adalah SMP dari RI
Yogyakarta dan berlaku bagi seluruh Tanah air.
Setelah kembali menjadi Negara kesatuan (NKRI) yang diresmikan pada tanggal 17
Agustus 1950, pendidikan harus seragam lagi. Dengan demikian pendidikan pada masa
transisi masih terombang-ambing belum mendapat garapan yang semestinya.
Demikian tentang pendidikan rendah khususnya dan pendidikan pada umumnya di
Indonesia pada masa transisi dari tahun 1945 – tahun 1952.
Sejak tahun 1952-1964. Sejak saat ini pendidikan di Indonesia mulai mengalami
perbaikan serta penyempurnaan. Yang menjadi tujuan pendidikan dan pengajaran Republik
Indonesia. Pada masa itu ialah seperti yang tercantum di dalam undang-undang no. 4 tahun
1950 yuncto no. 12 tahun 1954 pasal 3 Bab II yang berbunyi: “ Tujuan pendidikan dan
pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga-negara yang
demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”.
Pada tahun 1952 Pemerintah Republik Indonesia c. q. Kementrian Pendidikan
Pengajaran dan Kebudayaan menerbitkan satu buku pedoman kurikulum SD yang diberi
nama “ Rencana Pelajaran Terurai untuk Sekolah Rakyat III dan IV”, yang berfungsi untuk
membimbing para guru dalam kegiatan mengajar di sekolah terhadap murid sekolah dasar
D. Landasan Hukum Kurikulum 1952
Pada tahun 1950, lahirlah UUD Pendidikan dan Pengajaran di sekolah yang berlaku
untuk seluruh wilayah Indonesia, yakni Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 yang
kemudian diubah menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1945. Pada Bab II Pasal 3,
diungkapkan tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah yakni : membentuk manusia
susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang
kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Pada Bab III Pasal 4 berbunyi : Pendidikan dan Pengajaran berdasarkan atas asas-
asas yang termaksud dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara RI dan atas
kebudayaan kebangsaan Indonesia.
E. Ciri-ciri Pelajaran Kurikulum 1952
Fokusnya terletak pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral
(pancawardhana). Jenis-jenis pelajaran Kurikulum 1952 : Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah,
Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi dan Sejarah. Dalam 1 (satu) tahun, terdapat 8
(delapan) bagian untuk masing-masing kelas, yakni untuk bulan pertama, kedua, ketiga
sampai bulan kedelapan. Pendidik (guru) dalam tiap kelas sudah memiliki pedoman
mengenai hal-hal yang perlu diajarkan berdasarkan waktu yang telah ditentukan (delapan
bulan) tersebut.
Mata pelajaran lain yang juga diajarkan di sekolah selain mata pelajaran yang telah
tercantum di dalam Rencana Pelajaran Terurai, sesuai dengan peraturan Kementrian PP
dan K menengenai Sapta Usaha Tama, yakni :
1) Penertiban aparatur dan usaha-usaha Kementrian PP dan K
2) Menggiatkan kesenian dan olahraga
3)
4) Mengharuskan penabungan
5) Mewajibkan usaha-usaha koperasi
6) Mengadakan kelas masyarakat
7) Membentuk regu kerja pada SLA dan Universitas
F. Format Kurikulum 1952
Jumlah Jam dalam Seminggu
No. Mata Pelajaran
I II IIIA IIIIB
I. Kelompok Bahasa
1. Bahasa Indonesia 5 5 6 5
2. Bahasa Inggris 5 4 5 4
3. Bahasa Daerah 2 2 2 1
12 11 13 10

II. Kelompok Ilmu Pasti


1. Berhitung 4 3 2 4
2. Aljabar
3. Ilmu Akar 3 3 - 4
7 6 2 8

III. Kelompok Pengetahuan Alam


1. Ilmu Alam 2 3 2 5
2. Ilmu Hayat 2 2 2 2
4 5 4 7

IV. Kelompok Pelajaran Ekonomi


1. Hitung Dagang - 1 2 -
2. Pengetahuan Dagang - - 2 -
1 4
G. Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum 1952
Kurikulum 1952 memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun kelebihan kurikulum 1952 adalah
sebagai berikut :
1) Kurikulum 1952 telah mengarah pada system pendidikan nasional, walaupun belum
merata pada seluruh wilayah di Indonesia, namun dapat mencerminkan suatu
pemahaman dan cita-cita para praktisi pendidikan akan pentingnya pemerataan
pendidikan bagi seluruh bangsa Indonesia.
2) Pada Kurikulum 1952, materi pelajaran sudah berorientasi pada kebutuhan hidup para
siswa, sehingga hasil pembelajaran dapat berguna ketika ditengah masyarakat.
3) Karena setiap guru mengajar satu mata pelajaran, maka memiliki keuntungan untuk
lebih menguasai bidang pengajarannya dengan lebih baik, daripada mengajar berbagai
mata pelajaran.

Kelemahan kurikulum 1952 adalah sebagai berikut :


1) Karena kurikulum 1952 baru mengarah pada system pendidikan nasional, maka belum
mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
2) Materi pelajaran belum orientasi masa depan, karena yang diajarkan berorientasi
kebutuhan untuk hidup dimasyarakat saat itu, dengan demikian belum memiliki visi
kebutuhan dimasa mendatang.
3) Kurang membangkitkan kreatifitas dan inovasi guru, karena setiap mata pelajaran sudah
terinci dalam rencana pelajaran terurai, hal ini memper sempit kreatifitas dan inovasi
guru baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun menentukan sumber materi
pelajaran.
4) Kurikulum ini siswa masih diposisikan sebagai objek karena guru menjadi subjek sentral
dalam pentransferan ilmu pengetahuan. Guru yang menentukan apa saja yang akan
diperoleh siswa di kelas, dan guru pula yang menentukan standar-standar keberhasilan
siswa dalam proses pendidikan.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Lahirnya kurikulum 1952 tidak terlepas dari sejarah kelahiran Kurikulum 1947. Bahkan
dapat dikatakan bahwa Kurikulum 1952 adalah pembaharuan dari Kurikulum 1947. Dikatakan
demikian karena saat kurikulum 1947 berlaku belum ada undang-undang pendidikan yang
berlaku sebagai landasan operasionalnya. Hal ini terjadi sampai tahun 1949. Baru setelah tahun
1950 undang-undang pendidikan yang dikenal dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1950 dapat
dirampungkan. Selanjutnya undang-undang itu disahkan pada tahun 1954 sebagai UU No. 12
Tahun 1954. Dari situlah dikenal undang-undang pendidikan yang pertama kali, yaitu No. 4
Tahun 1950 No. 12 Tahun 1954. Namun undang-undang itu tidak memberlakukan pelaksanaan
Kurikulum 1947.
Fokusnya terletak pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral
(pancawardhana). Jenis-jenis pelajaran Kurikulum 1952 : Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah,
Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi dan Sejarah.

B. Saran
Saran dari kelompok kami adalah untuk pemerintah (terkhususnya di bidang
pendidikan) diharapkan agar lebih memperhatikan dan melakukan pertimbangan saat
mengubah kurikulum baik dalam hal peserta didik dan guru selaku objek yang sangat merasakan
dampak perubahan teresebut, juga hal lainnya seperti materi pelajaran, sarana dan prasarana,
sekolah, dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hamalik, Oemar. 1990. “Pengembangan Kurikulum (Dasar-dasar dan Pengembangannya)”.


Penerbit Mandar Maju : Bandung.
2. Idi, Abdullah. 2014. “Pengembangan Kurikulum : Teori dan Praktek”. PT Raja Grafindo Persada :
Jakarta
3. Idi, Abdullah. 2016. “Pengembangan Kurikulum : Teori dan Praktek”. AR-RUZZ MEDIA :
Yogyakarta
4. Tim Penyusun. 2009. “Perkembangan Kurikulum SMP : Struktur Program, Proses Pembelajaran,
dan Sistem Penilaian Sejak Zaman Penjajahan Samapai dengan Era Reformasi. Depdiknas :
Jakarta.
5. Wiryokusumo, Iskandar & Usman Mulyadi. 1988. “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum”. Bina
Aksara : Jakarta