Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

HALUSINASI

“MENGGAMBAR”

DI RSJ. PROF. DR. SOERODJO MAGELANG

Disusun Oleh :

1. Esa Zulfia
2. Fittia Oktaviani
3. Illya Ika Putri
4. Lailis Safitri

PENDIDIKAN PROFESI NERS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

2019
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. LATAR BELAKANG

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK): sosialisasi TAK adalah upaya

memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah

hubungan sosial. Ada 7 masalah keperawatan di gangguan jiwa yaitu :

gangguan proses pikir: waham, resiko perilaku kekerasan, halusinasi, harga

diri rendah, resiko bunuh diri, defisit perawatan diri, dan isolasi sosial.

Masalah yang diangkat adalah cara mengontrol hyaitu dengan menggambar.

Setelah kami mengadakan observasi di Wisma Amarta Putri , ternyata

banyak pasien yang belum tau cara mengontrol harga diri rendah. Maka dari

itu, kami mahasiswi Universitas Muhammadiyah Kudus Profesi Ners ingin

mengadakan penyuluhan di Wisma Amarta Putri, dengan topik cara

mengontrol harga diri rendah dengan cara menggambar. Dengan diadakannya

TAK pasien dapat mengetahui pengertian, tujuan, manfaat cara mengontrol

harga diri rendah dengan cara menggambar.

Salah satu penanganannya yaitu dengan melakukan Terapi Aktivitas

Kelompok yang bertujuan untuk membimbing cara mengontrol perilaku

kekerasan dengan cara sosial. Dari beberapa kasus gangguan jiwa yang ada di

RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang khususnya di Wisma Amarta Putri jumlah

pasien ada 4 orang, Oleh karena itu, perlu diadakan Terapi Aktivitas
Kelompok tentang tata cara mengontrol harga diri rendah dengan cara

menggambar.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Klien dapat mengendalikan perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.

2. Tujuan Khusus

1. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi sosial..

C. SELEKSI KLIEN

1. Karakteristik/Kriteria

a. Klien harga diri rendah yang sudah mulai mampu bekerja sama dengan

perawat.

b. Klien harga diri rendah yang dapat berkomunikasi dengan

perawat.

2. Proses Seleksi

a. Mengobservasi klien yang masuk kriteria.

b. Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.

c. Mengumpulkan klien yang masuk kriteria.

d. Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK PK, meliputi :

menjelaskan tujuan TAK PK pada klien, rencana kegiatan kelompok,

dan aturan main dalam kelompok.

3. Jumlah peserta TAK

(4 klien)

4. Nama peserta TAK


 Nn. S

 Nn. S

 Nn. S

 Nn. A

D. Kriteria Hasil

 Evalusi Struktur

a. Kondisi lingkungsn tenang, dilakukan di tempat tertutup, dan

memungkinkan klien untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan.

b. Klien dan terapis duduk bersama membentuk lingkaran.

c. Peserta sepakat untuk mengikuti kegiatan.

d. Alat yang digunakan dalam kondisi baik.

e. Leader, co-leader, fasilitator, observer berperan sebagaimana mestinya

 Evalusi Proses

a. Leader dapat mengkoordinasi seluruh kegiatan dari awal sampai akhir.

b. Leader mampu memimpin acara.

c. Co-leader membantu mengkoordinasi seluruh kegiatan.

d. Fasilitator mampu memotivasi peserta dalam kegiatan.

e. Fasilitator membantu leader melaksanakan kegiatan dan bertanggung

jawab dalam antisipasi masalah.

f. Observer sebagai pengamat melaporkan hasil pengamatan kepada

kelompok yang berfungsi sebagai evaluator kelompok.

g. Peserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal sampai akhir.


 Evalusi Hasil

Diharapkan 80% dari kelompok mampu:

a. Memperkenalkan diri

b. Membicarakan perilaku kekerasan yang sedang dialami.

c. Membicarakan cara-cara menanggulangi perilaku kekerasan yang dialami.

d. Bekerja sama dengan perawat selama berinteraksi.

e. Mengevaluasi kemampuan menanggulangi perilaku kekerasan.

E. JADWAL KEGIATAN

 Waktu Pelaksanaan

Hari/Tanggal :

Waktu :

Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (5 menit) Terapi kelompok

(15 menit) Penutup (5 menit)

Tempat : Ruang Amarta Putri

F. MEDIA DAN ALAT

 Metode dan Media


 Alat:
1) Papan tulis/flipchart/whiteboard
2) Kapur/ spidol
3) Buku catatan dan pulpen
4) Jadwal kegiatan klien
 Metode:
1) Dinamika kelompok
2) Diskusi dan tanya jawab
3) Bermain peran/simulasi
G. PENGORGANISASIAN

1. Leader: Nurul Hikmah

Uraian tugas:

1) Mengkoordinasi seluruh kegiatan.

2) Memimpin jalannya terapi kelompok.

3) Memimpin diskusi.

2. Co-leader: Nurul Isnaini S.

Uraian tugas :

1) Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan.

2) Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang.

3) Membantu memimpin jalannya kegiatan.

4) Menggantikan leader jika ada berhalangan.

3. Observer: M. Ainus Shofi

Uraian tugas :

1) Mengamati semua proses kegiatanyang berkaitan dengan waktu,

tempat dan jalannya acara.

2) Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua angota

kelompok denganevaluasi kelompok.

4. Fasilitator: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang

Uraian tugas :

1) Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok.

2) Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan.


3) Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan

kegiatan.

4) Membimbing kelompok selama permainan diskusi.

5) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan.

6) Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah.

 Setting Tempat

Keterangan :

Pasien

Leader

Co-leader

Obsever

Fasilitator

H. PROSES PELAKSANAAN

Mencegah perilaku kekerasan Sosial

Tujuan:
1. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa

2. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa

kemarahan

Seting:

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran

2. Ruangan nyaman dan tenang

Alat :

1. Papan tulis/flipchart/whiteboard dan alat tulis

2. Buku catatan dan pulpen

3. Jadwal kegiatan klien

Metode:

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi dan tanya jawab

3. Bermain peran / simulasi

Langkah kegiatan TAK :

1. Persiapan

a. Mengingatkan kontrak dengan klien

b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Salam terapeutik

1) Salam dari terapis kepada klien

2) Klien dan terapis pakai papan nama

b. Evaluasi /Validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini

2) Menanyakan apakah ada penyebab marah,tanda dan gejala

marah, serta perilaku kekerasan

3) Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku

kekerasan sudah dilakukan

c. Kontrak

1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara sosial untuk mencegah

perilaku kekerasan

2) Menjelaskan aturan main berikut:

 Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus

meminta izin kepada terapis.

 Lama kegiatan 25 menit.

 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu

dari orang lain.

b. Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien.

c. Terapis mendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan

yaitu,” Saya perlu/ingin/minta...., yang akan saya gunakan untuk....”.

d. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara

pada poin c.

e. Ulangi d sampai semua klien mencoba.


f. Memberikan pujian pada peran serta klien.

g. Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa

sakit hati pada orang lain, yaitu,”Saya tidak dapt

melakukan...”atau”Saya tidak menerima dikatakan .....”atau” Saya

kesal dikatakan seperti...”.

h. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara

pada poin d.

i. Ulangi h sampai semua klien mencoba.

j. Memberikan pujian pada peran serta klien.

k. Menyimpulkan hasil diskusi tentang cara mencegah perilaku kekerasan

secara social yang telah dilakukan.

4. Tahap terminasi

a. Evaluasi

1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah melakukan TAK.

2. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang

telah dipelajari.

3. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.

b. Tindak lanjut

1. Menganjurkan klien menggunakn kegiatan fisik dan interaksi

sosial yang asertif, jika stimulus penyebab perilaku kekerasan

terjadi.

2. Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial

yang asertif secara teratur.


3. Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan

harian pasien.

c. Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan

ibadah.

2. Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

I. PROGRAM ANTISIPASI

1. Bila anggota menghindari setiap pertemuan, maka leader memberitahukan

anggota tersebut dan menganjurkan mereka berbicara langsung kepada

kelompok

2. Jika ada anggota yang membicarakan hal-hal lain dalam diskusi, maka

leader harus memfokuskan pembicaraan

3. Jika ada anggota yang menggunakan kekerasan fisik, maka leader

menegaskan bahwa hal tersebut tidak dikehendaki

4. Jika ada anggota yang diam dalam diskusi, maka fasilitator harus

berperan aktif

5. Jika ada anggota kelompok yang ingin keluar dari kegiatan terapi

kelompok, maka anggota yang bersangkutan harus membicarakan dengan

anggota terapi kelompok yang lain

6. Jika ada hal-hal diluar perencanaan, maka libatkan perawat ruangan

J. EVALUASI

 Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses Tak berlangsung, khususnya pada tahap

kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.

Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan kemampuan klien yang

diharapkan adalah mencegah perilaku kekerasan secara sosial. Formulir evaluasi

sebagai berikut:

TAK

Stimulasi persepsi perilaku kekerasan

Kemampuan mencegah perilaku kekerasan social

Memperagakan Memperagakan Mamperagakan cara

No Nama Klien cara meminta tanpa cara menolak mengungkapkan

paksa yang baik kekerasan yang baik

1.

2.

3.

4.

5.

Petunjuk:

Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.

Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan pencegahan

perilaku kekerasan secara social: meminta tanpa paksa, menolak dengan baik,
mengungkapkan kekesalan dengan baik. Beri tanda (√) jika klien mampu dan

tanda (х) jika klien tidak mampu.

Dokumentas:

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan

proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti TAK stimulasi persepsi

perilaku kekerasan. Klien mampu memperagakan cara meminta tanpa paksa,

menolak dengan baik dan mengungkapkan kekerasan. Anjurkan klien

mempraktikkan di ruang rawat (buat jadwal).


DAFTAR PUSTAKA

1. Azizah, L.M. (2011). Keperawatan jiwa:aplikasi praktik klinik.graham

ilmu:Yogyakarta

2. Sumarti, nengah, I. (2013). Cara control Perilaku kekerasan secara

http://poltekkes.denpasar.ic.id pdf

3. Yosep, ivus. (2010). “keperawatan jiwa” Bandung: refika aditama