Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH UTAMA :WAHAM CURIGA


PADA Nn.S DI WISMA AMARTA PUTRI RSJ PROF.Dr. SOEROJO
MAGELANG

DISUSUN OLEH

1. Esa Zulfia
2. Illya Ika Putri

PROGAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN AJARAN 2019/2020
BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat terus-
menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. (Budi Anna Keliat, 2006).
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah.Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual
dan latar belakang budaya klien (Aziz R, 2003).
2. Faktor Predisposisi dan Presipitasi
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan menggangu hubungan interpersonal
seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakir
dengan gangguan presepsi, klien menekankan perasaan nya sehingga
pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif
2) Faktor sosial budaya
Seseorang yang merasa di asingkan dan kesepian dapat menyebabkan
timbul nya waham
3) Faktor psikologi
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda bertentangan dapat
menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap
kenyataan
4) Faktor biologis
Waham di yakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran
ventrikel di otak atau perubahan pada sel kortikal dan lindik
b. Faktor Presipitasi
1) Faktor sosial budaya
Waham dapat di picu karena ada nya perpisahan dengan orang yang
berarti atau di asingkan dari kelompok
2) Faktor biokimia
Dopamin, norepinepin, dan zat halusinogen lain nya di duga dapat
menjadi penyebab waham pada seseorang
3) Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasan nya kemampuan
untukmengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk
menghindari kenyataan yang menyenagkan.
3. Manifestasi Klinis
a. Data subbyektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, curiga, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi
tidak sesuai dengan kenyataan(Keliat, 2009).
b. Data obyektif
1) Menolak makan
2) Tidak ada perhatian terhadap perawatan diri
3) Ekspresi muka sedih/ gembira/ ketakutan
4) Gerakan tidak terkontrol
5) Mudah tersinggung
6) Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan
7) Tidak bisa membedakan antara kenyataan dan bukan kenyataan
8) Menghindar dari orang lain
9) Mendominasi pembicaraan
10) Berbicara kasar
11) Menjalankan kegiatan keagamaan secara berlebihan.
4. Psikopatologi
Faktor Predisposisi (biologis, Faktor presipitasi (biologis,
Psikodinamik, Stress lingkungan,
Psikososial) Pemicu gejala)

Koping yang tdk efektif/Mekanisme pertahanan diri (-)

Respon maladaptive (R)

Konsep diri (-)

Individu jatuh dlm frustasi yang mendalam

Isos HDR

Kronis

Skizofrenia

Waham Halusinasi GOR

a. Kerusakan komunikasi verbal


b. Defisit Perawatan Diri,
c. Resti PK, KKV dan
d. Resti Mencederai Diri dan lingkungan
5. Diagnosa Keperawatan
Perubahan isi pikir : waham

6. Penatalaksanaan
Pasien
SP 1 : Membina hubungan saling percaya; mengidentifikasi kebutuhan yang tidak
terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan; mempraktekkan pemenuhan kebutuhan
yang tidak terpenuhi
SP 2 : Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu
mempraktekkannya
SP 3 : Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar

7. Fokus Intervensi
Diagnosa I : Perubahan isi pikir : waham
Tujuan umum: Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
Tujuan khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat


Kriteria evaluasi :
 klien dapat memperkenalkan diri dan menyebutkan nama
 klien mau mengungkapkan perasaannya.
Tindakan :
- Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan
diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
- Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan
perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan
anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak
mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak
membicarakan isi waham klien.
- Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi:
katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat
yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan
tinggalkan klien sendirian.
- Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan
perawatan diri
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran
interaksi.
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Kriteria evaluasi :
 klien dapat mengetahui kemampuan yang dimilikinya
Tindakan :
- Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
- Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu
lalu dan saat ini yang realistis.
- Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan
perawatan diri).
- Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai
kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien
sangat penting.
Rasional : Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan
memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi
klien dari pada hanya memikirkannya
c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Kriteria evaluasi :
 klien dapat melakukan kebutuhannya yang harus dipenuhi
 klien dapat melakukan kebutuhan dasarnya secara mandiri
Tindakan :
- Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
- Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di
rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
- Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
- Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
- Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan
wahamnya.
Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi
perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan
kebutuhan kien tersebut sehungga klien merasa nyaman dan aman.
d. Klien dapat berhubungan dengan realitas
Kriteria evaluasi :
 klien mampu menerima keadaannya secara realistis
Tindakan :
- Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,
tempat dan waktu).
- Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
- Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.
Rasional : Menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwarealita itu
lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat
menghilangkan waham yang ada
e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Kriteria evaluasi :
 Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis dan
efeksamping obat.
 Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar.
 Klien mendapat informasi tentang efek dan efek samping obat.
 Klien dapat memahami akibat berhenti minum obat tanpa konsutasi.
 Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat.
Tindakan :
- Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek
dan efek samping minum obat.
- Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama
pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
- Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang
dirasakan.
- Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan
mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek
samping obat
f. Klien dapat dukungan dari keluarga
Kriteria evaluasi :
 Keluarga dapat saling percaya dengan perawat.
 Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk
mengendalikan halusinasi.

Tindakan :
- Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang:
gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan
follow up obat.
- Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga
Rasional : dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan
mambentu proses penyembuhan klien
BAB II
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian

B. Analisa Data

No Tgl / jam Data Fokus Masalah keperawatan TTD


1. 7 DS : Perubahan Proses Pikir :
November - pasien mengatakan Waham Curiga
2019 pasien dibawa ke RSJ
karena diguna-guna oleh
teman yangiri dengan
11.00 WIB pasien
- pasien mengatakan
pandangannya mulai
“padang”

DO:
- pasien tampak gelisah
-pasien tampak mondar-
mandir
-kontak mata pasien
fokus,meski mudah
beralih
-afekl labil

Harga Diri Rendah


DS:
-pasien mengatakan
kalau bicara seprlunya
-pasien mengatakan
tidak secantik temannya

DO:
-nada pembicaraan
pasien pelan
-pasien tampak mengaca
dan menyisir rambut
-kontak mata (+)

C. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan proses pikir : Waham Curiga
2. Harga Diri Rendah
D. Rencana Keperawatan
Tgl/jam Diagnosa Perencanaan Pelaksanaan TTD
Keperawatan
8 Gangguan Setelah dilakukan SP 1 PASIEN :
Novemb Proses Isi interaksi dengan 1. Melatih
er 2019 Pikir : pasien selama 1x24 memahami waham
Waham jam diharapkan 2. Membimbing
TUM : klien dapat dalam jadwal
08.00 mengontrol waham kegiatan
WIB 3. Melibatkan
TUK : aktifitas positif di
Pasien dapat bangsal
mengotrol waham 4. Melibatkan dalam
curiga dengan cara : TAK menyapu dan
SP 1 Pasien : mengepel dan
Membina hubungan Penkes memahami
saling percaya; 5. Kolaborasi
mengidentifikasi sikofarmaka
kebutuha yang tidak
terpenuhi dan cara
memenuhi
kebutuhan ;
mempraktikan
SP 2 PASIEN :
pemenuhan
1. Memvalidasi
kebutuhan yang
masalah klien
tidak terpenuhi
2. Memvalidasi
SP 2 Pasien :
latihan
Mengidentifikasi
sebelumnya :
kemampuan positif
Melatih
pasien dan
memahami waham
membantu
3. Melatih SP 2:
mempraktikannya
mengidentifikasi
SP 3 Pasien :
kemampuan
Mengajarkan dan
positif pasien dan
melatih cara minum
membantu
obat yang benar.
mempraktikannya.
4. Membimbing
memasukkan
dalam jadwal
kegiatan.
5. Melibatkan dalam
TAK menggambar
dan Penkes 5
benar minum obat
6. Kolaborasi
sikofarmaka

SP 3 PASIEN:

1. Memvalidasi
masalah waham
2. Memvalidasi
latihan
sebelumnya (SP 2);
mengidentifikasi
kemampuan
positif pasien dan
mempraktikannya
3. Melatih SP 3 ;
mengajarkan dan
melatih cara
minum obat yang
benar
4. Membimbing
memasukkan
kegiatan dalam
jadwal
5. Melibatkan dalam
TAK melipat baju
dan Penkes Etika
Batuk
6. Kolaborasi
Sikofarmaka

E. Implementasi dan Evaluasi


Tgl / Jam Dx Implementasi Evaluasi TTD
8-1-2019 1 1. Melatih memahami S:
waham
2. Membimbing dalam
jadwal kegiatan
3. Melibatkan aktifitas
positif di bangsal
4. Melibatkan dalam TAK
menyapu dan mengepel
dan Penkes memahami
5. Kolaborasi sikofarmaka