Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN

OLEH:

Kelompok 5

WAODE GUSTIA ULFA 02271611086

NIA HAFSILA MUDAR 02271611089

MIFTHAHULRIZQA M.A. SALEH 02271611093

RAHMAWATI ADJAM 02271611097

SUAEDA BASARUN 02271611098

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita haturkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktivitas hidup yang kita
jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik dikehidupan didunia ini, lebih-
lebih lagi kehidupan akhirat kelak, sehingga semua harapan yang ingin kita capai
menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.

Terimakasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada dosen


pembimbing serta teman-teman sekalian yang telah membantu, sehingga makalah
ini dapat terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.

Kami sangat menyadari, dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta masih banyak kekurangan-kekurangannya, baik dari segi tata
bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman
yang kadang kala hanya menuruti goisme pribadi, untuk itu besar harapan kami
jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan
makalah-makalah kami dilain waktu.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini adalah, mudah-
mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-
teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakannya lagi.

Ternate, 27 November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Manfaat Penulisan .................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3
2.1 Pengertian Pajak Penghasilan ................................................................... 3
2.1.1 Objek Pajak Penghasilan ................................................................ 3
2.1.2 Penghasilan yang dikenai pajak yang sifatnya Final ....................... 5
2.1.3 Bukan Objek Pajak Penghasilan ..................................................... 6
2.1.4 Penghasilan Tidak Kena Pajak ....................................................... 8
2.1.5 Besarnya Tarif Pajak Penghasilan .................................................. 8
2.1.6 Perhitungan Pajak Terutang ............................................................ 10
2.2 Perlakuan Akuntansi Terhadap Pajak Penghasilan ................................... 10
2.2.1 Pajak Penghasilan Pasal 21 ............................................................ 12
2.2.2 Pajak Penghasilan Pasal 22 ............................................................ 14
2.2.3 Pajak Penghasilan Pasal 23 ............................................................. 16
2.2.4 Pajak Penghasilan Pasal 24 ............................................................. 17
2.2.5 Pajak Penghasilan Pasal 25 ............................................................. 22
2.2.6 Pajak Penghasilan Pasal 26 ............................................................. 23
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 29
3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 29
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat


bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pemakai
laporan keuangan yang dimaksud adalah investor, karyawan, pemberi pinjaman,
pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah, dan masyarakat.
Sementara itu, tugas akuntan adalah untuk melindungi pemakai tersebut dari
kesalahan membaca inforrnasi dalam akuntansi keuangan yang disajikan oleh
akuntan.

Di dalam praktiknya, perusahaan-perusahaan yang merupakan Wajib


Pajak Badan harus menghitung penghasilan dengan dua cara yang berbeda. Di
satu sisi, akuntan perusahaan harus menyajikan laporan keuangan kepada
pemegang saham sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting
Principle) atau SAK (Standar Akuntansi Keuangan). Sementara itu, di sisi lain
akuntan juga harus menyajikan laporan keuangan kepada pemerintah, dalam ha1
ini Direktorat Jenderal Pajak, sesuai dengan ketentuan perpajakan dalam sebuah
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan atau disingkat SPT
Tahunan PPh Badan.

Tahun 1997 lkatan Akuntan lndonesia (IAl) menerbitkan Pernyataan


Standar Akuntansi Keuangan No. 46 (PSAK 46) mengenai akuntansi pajak
penghasilan. PSAK 46 ini dikeluarkan untuk memenuhi tuntutan dalam memasuki
era globalisasi agar laporan keuangan yang disajikan perusahaan lndonesia yang
digunakan di dalam negeri maupun di luar negeri dapat sejalan dengan
perkembangan standar internasional.

PSAK 46 ini sejalan dengan SFAS 96 yang diterbitkan oleh FASB tahun
1987 dan SFAS 109 pada tahun 1992, mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak
penghasilan. Masalah yang timbul adalah bagaimana pengakuan pengaruh pajak

1
pada periode berjalan dan periode mendatang terhadap transaksi yang telah diakui
dalam laporan keuangan dan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) serta
kompensasi kerugian fiskal yang belum digunakan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai
beberapa hal antara lain :

a. Apakah pengertian dari Pajak Penghasilan dan cara perhitungannya?


b. Bagaimana perlakuan akuntansi pajak terhadap Pajak Penghasilan Pasal
21, 22, 23, 24, 26, 4 (2) ?

1.3 Manfaat Penulisan

Manfaat disusunnya makalah ini antara lain sebagai berikut :

a. Mengetahui dan memahami pengertian Pajak Penghasilan dan bagaimana


penghitungannya.
b. Mengetahui dan memahami perlakuan akuntansi pajak terhadap Pajak
Penghasilan Pasal 21, 22, 23, 24, 26, 4 (2).

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pajak Penghasilan

Dalam Undang- undang Nomor 28 Tahun 2007 Pajak adalah kontribusi


wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang- undang, dengan tidak mendapatkan intreprestasi
secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya
kemakmuran rakyat.

Sedangkan pengertian penghasilan dalam Undang- undang Nomor 36


Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan adalahsetiap tambahan kemampuan
ekonomisyang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun luar Indonesia, yang dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apapun. Namun dalam penerapannya tidak setiap penghasilan dapat
dikenai pajak penghasilan.

2.1.1 Objek Pajak Penghasilan

Objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan


ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan
dalam bentuk apa pun, termasuk:

1) Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang


diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali
ditentukan lain dalam Undang- undang ini ;
2) Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan ;
3) Laba usaha
4) Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta, termasuk :

3
1. Keuntungan karena pengaliahan harta kepada perseroan, persekutuan,
dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal
2. Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu,
atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya
3. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, atau pengambilalihan usaha atau reorganisasi dengan nama
dan dalam bentuk apapun
4. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau
sumbangan dianggap sebagai penghasilan bagi yang mengalihkan,
kecuali harta tersebut dialihkan kepada keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan, badan pendidikan,
badan sosial, termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang
menjalankan usaha mikro dan kecil yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya
dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-
pihak yang bersangkutan
5. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak
penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan
dalam perusahaan penambangan
6. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai
biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak.
5) Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang
6) Dividen dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis dari pembagian sisa hasil usaha
koperasi.
7) Royalti atau imbalan atas penggunaan hak
8) Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
9) Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala
10) Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah
tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

4
11) Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing
12) Selisih lebih karena penilaian kembali aset
13) Premi asuransi
14) Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri
dari atas Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
15) Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenai
pajak
16) Penghasilan dari usaha syariah
17) Imbalan bungasebagaimana dimaksud dalam Undang- undang yang mengatur
mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
18) Surplus Bank Indonesia

2.1.2 Penghasilan yang dikenai pajak yang sifatnya Final

Dalam pasal 4 ayat (2) Undang- undang tentang Pajak Penghasilan bahwa
penghasilan yang dikenai pajak yang sifatnya final adalah

a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabunagan lainnya, bunga obligasi


dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh
koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi.
b. Penghasilan berupa hadiah undian
c. Penghasilan dari transaksi saham sekuritas lainnya, transaksi dervatif yang
diperdagangkan dibursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh
perusahaan modal ventura
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/ bangunan,
usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan
bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya.

5
2.1.3 Bukan Objek Pajak Penghasilan

Yang dikecualikan dari objek pajak penghasilan adalah :

a. 1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil
zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia, yang diterma oleh lembaga keagamaan yang dibentuk
dan disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima
sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah
2. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan
sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan
usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atas berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan ;
Sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak- pihak yang bersangkutan.
b. Warisan
c. Harta termasuk setoran tunai Yang diterima oleh badan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)huruf b sebagai pengganti penyertaan
modal ;
d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/ atau kenikmatan dari
Wajib Pajak atau pemerintah diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib
Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang
menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ;
e. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi beasiswa

6
f. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, BUMN atau BUMD, dari
penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat
kedudukan di Indonesia dengan syarat :
1. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan, dan
2. Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha
milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan
yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang
disetor.
g. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan baik yang dibayar oleh pemberi kerja
atau pegawai
h. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana
dimaksud huruf g, dalam bidang- bidang tertentu yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan.
i. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggotadari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan,
perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan
kontrak investasi kolektif.
j. Dihapus
k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura
berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan
pasangan tersebut :
1. Merupakan perusahaan mikro kecil, menegah, atau yang menjalankan
kegiatan dalam sektor- sektor usaha yang diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
2. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia
l. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuaannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan

7
m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dibidang pendidikan dan/ atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya,
yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan
pendidikan dan/ atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu
paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
n. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

2.1.4 Penghasilan Tidak Kena Pajak

Untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak Orang Pribadi dalam negeri,


maka penghasilan netonya dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak
Kena Pajak sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No 162/PMK.011/2012
tanggal 22 Oktober 2012 dan berlaku sejak 1 Januari 2013 adalah sebagai berikut:

1. Rp 24.300.000,00 tambahan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi


2. Rp 2.025.000,00 tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin
3. Rp 24.300.000,00 tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya
digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (1)
4. Rp 2.025.000,00 tambahan untuk anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan garis lurus serta anak angkat yang menjadi
tanggungan sepenuhnya paling banyak 2 orang untuk setiap keluarga.

2.1.5 Besarnya tarif Pajak Penghasilan

Berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (1) Undang- undang Pajak


Penghasilan, besarnya tarif Pajak Penghasilan yang diterapkan atas Penghasilan

8
Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia melalui suatu bentuk
usaha tetap di Indonesia, sebagai berikut :

1. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak


Sampai dengan Rp 50.000.000,00 5%
Di atas Rp 50.000.000,00 sampai 15 %
dengan Rp 250.000.000,00
Di atas Rp 250.000.000,00 sampai 25 %
dengan Rp 500.000.000,00
Di atas Rp 500.000.000,00 30 %

2. Untuk Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan BUT

Tarif PPh atas Wajib Pajak Badan dan BUT adalah sebesar 25 %. Dalam
Pasal 17 ayat (2b) yang menyatakan bahwa Wajib Pajak Badan dalam negeri
berbentuk perseroan terbuka yang sahamnya paling sedikit 40 % dari jumlah
keseluruhan saham yang disetor tersebut diperdagangkan di bursa efek di
Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu dapat memperoleh tarif sebesar 5 %
lebih rendah daripada tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b
dan Pasal 17 ayat (2a) Undang- undang Pajak Penghasilan yang selanjutnya diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

Pada pasal 31 E Undang- undang Pajak Penghasilan mengatur bagi Wajib


Pajak Badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp
50.000.000.000,00 mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari
tarif seperti yang dimaksud dalam Pasal 17 ayat(1) huruf ‘b’ dan ayat (2a) yang
dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai
dengan Rp 4.800.000.000,00.

9
3. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dab Wajib Pajak Badan yang tidak memiliki
NPWP
 Penghitungan Penghasilan Kena Pajak

Pajak Terutang = Tarif x Penghasilan Kena Pajak

2.1.6 Penghitungan Pajak Terutang

Dalam menghitung Pajak Penghasilan yang terutang dibedakan antara


Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri. Bagi wajib Pajak dalam
negeri pada dasarnya terdapat dua cara untuk menentukan besarnya Pajak
Penghasilan Kena Pajak, yaitu

1. Penghitungan Pajak Penghasilan dengan dasar pembukuan


2. Penghitungan Pajak Penghasilan dengan dasar pencatatan

2.2 Perlakuan Akuntansi Terhadap Pajak Penghasilan

Pajak Penghasilan diperlakukan sebagai biaya bagi perusahaan.Oleh


karena itu Pajak Penghasilan harus diasosiasikan dengan laba dimana pajak
penghasilan tersebut dikenakan atau diperhitungkan. Proses untuk
mengasosiasikan Pajak Penghasilan dengan laba dimana pajak itu dikenakan
disebut Alokasi Pajak.

Karena tarif Pajak Penghasilan berubah-ubah dari waktu ke waktu, maka


diperlukan suatu metode alokasi agar diperoleh kepastian dan perlakuan yang
konsisten terhadap pajak penghasilan tersebut beserta penyajiannya dalam
Laporan Keuangan.

Pada dasarnya terdapat 3 alternatif metode alokasi pajak yang bisa dipakai, yaitu :

10
1. Deferred Method

Menurut metode ini, selisih jumlah Pajak Penghasilan Terhutang (berdasar


SPT) dengan Biaya Pajak Penghasilan (berdasar laba akuntansi) dalam suatu
periode harus dicatat dan disajikan dalam Laporan Keuangan sebagai Pajak yang
Ditangguhkan.

Jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan berdasar tarif pajak yang


berlaku pada saat terjadinya transaksi atau item yang menyebabkan terjadinya
perbedaan atau selisih antara laba kena pajak dan laba akuntansinya.

Deffered Method berorientasi pada Laporan Rugi – Laba dan menitik


beratkan pada tercapainya proper matching antara pendapatan dan biaya dalam
periode di mana selisih perhitungan pajak terjadi.

2. Liability Method

Menurut metode ini jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan berdasar


tarif pajak yang diharapkan akan berlaku dalam periode di mana selisih pajak
akan dikompensasikan. Perhitungan Pajak yang Ditangguhkan bersifat tentatif
yang selalu memerlukan penyesuaian pada setiap kali terjadi perubahan tarif pajak
penghasilan.

Menurut liability method, Pajak yang Ditangguhkan harus dipandang


sebagai kewajiban ekonomis untuk Pajak yang Terhutang atau sebagai aktiva
untuk Pajak yang Dibayar Dimuka.

3. Net of Tax Method

Menurut metode ini, melaporkan Pajak yang Ditangguhkan dalam neraca


tidak dibenarkan karena Biaya Pajak Penghasilan yang dilaporkan dalam Laporan
Rugi – Laba harus sama dengan jumlah Pajak Penghasilan Terhutang atau pajak
yang harus dibayar untuk periode yang bersangkutan.

Selisih yang terjadi karena adanya perbedaan laba kena pajak dan laba
akuntansi tidak dibukukan dalam suatu rekening tersendiri, tetapi ditambahkan

11
atau dikurangkan kepada aktiva atau hutang tertentu serta unsur pendapatan atau
biaya yang bersangkutan.

Prinsip – Prinsip Alokasi Pajak

Pada dasarnya Alokasi Pajak Penghasilan bagi perusahaan sebagai wajib


pajak bisa mencakup dua hal :

Interperiod Allocation

Yaitu proses alokasi pajak penghasilan antar periode tahun buku yang satu dengan
periode-periode tahun buku berikut atau sesudahnya. Alokasi pajak penghasilan
antar periode tahun buku ini diperlukan karena adanya perbedaan terhadap jumlah
laba kena pajak dan laba akuntansi.

Intraperiod Allocation

Yaitu proses alokasi pajak penghasilan dalam suatu periode akuntansi karena
adanya perbedaan tarif pajak yang dikenakan terhadap tiap-tiap komponen laba
atau pendapatan (Misal : tarif pajak untuk laba sebelum pos luar biasa berbeda
dengan tarif pajak untuk laba atau rugi luar biasa.)

2.2.1 Pajak Penghasilan Pasal 21

Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah Pajak Penghasilan yang dikenakan atas


penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain
dengan bentuk dan nama apapun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang
Pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan tersebut
yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri.

Ayat jurnal yang disusun

 Pada saat pemotongan pajak atas pembayaran gaji tiap bulan

12
TGL AKUN DEBIT KREDIT
Biaya gaji Xxx
Iuran Pensiun Terutang xxx
PPh Pasal 21 Terutang xxx
Kas dan Bank xxx
 Pada saat perusahaan menyetor ke kas negara dan pembayaran iuran
pensiun via bank

TGL AKUN DEBIT KREDIT


PPh Pasal 21 Terutang xxx
Iuran Pensiun Terutang xxx
Kas dan Bank Xxx
Apabila suatu perusahaan memberikan tunjangan pajak kepada
karyawannya maka ayat jurnal yang disusun adalah sebagai berikut :

 Saat pembayaran gaji

TGL AKUN DEBIT KREDIT


Biaya Gaji xxx
Tunjangan Pajak xxx
PPh Pasal 21 Terutang xxx
Iuran Pensiun Terutang xxx
Kas dan Bank xxx
 Saat penyetoran PPh Pasal 21 dan iuran pensiun

TGL AKUN DEBIT KREDIT


PPh Pasal 21 Terutang xxx
Iuran Pensiun Terutang xxx
Kas dan Bank Xxx

13
 Saat pembebanan biaya atas tunjangan pajak

TGL AKUN DEBIT KREDIT


Saldo Laba xxx
Tunjangan Pajak Xxx

2.2.2 Pajak Penghasilan 22

Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah pajak yang dipungut oleh lembaga-


lembaga tertentu atas transaksi pembelian barang yang dananya bersumber dari
APBN/ APBD. Sesuai dengan Pasal 22 Undang- undang Pajak Penghasilan yang
dapat ditunjuk sebagai Pemungut yaitu :

1. Bendahara pemerintah, termasuk bendahara pada Pemerintah Pusat,


Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-
lembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan
barang, termasuk juga dalam pengertian bendahara adalah pemegang kas
dan pejabat lain yang menjalankan fungsi yang sama.
2. Badan- badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan
dengan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha dibidang lain, seperti
kegiatan produksi barang tertentu anatara lain otomotif dan semen.
3. Wajib Pajak Badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atau
penjualan barang yang tergolong mewah.

Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 22

Ayat jurnal yang disusun :

1. Pihak Pemungut
 Saat terjadi transaksi

TGL AKUN DEBIT KREDIT


Kas dan Bank xxx
PPh Pasal 22 Terutang xxx

14
Penjualan xxx
 Saat penyetoran PPh Pasal 22

TGL AKUN DEBIT KREDIT


PPh Pasal 22 terutang xxx
Kas dan Bank Xxx
2. Pihak yang dipungut
 Saat membeli

TGL AKUN DEBIT KREDIT


Pembelian xxx
PPh Pasal 22 xxx
Kas dan Bank Xxx
 Saat pengkreditan pajak

TGL AKUN DEBIT KREDIT


PPh Terutang xxx
PPh Pasal 22 Xxx
Apabila dalam transaksi laiinya ternyata pengenaan PPh Pasal 22 bersifat
final, maka pencatannya dalam akun PPh Pasal 22 tampak dari pihak pemungut.

Ayat jurnal yang disusun :

TGL AKUN DEBIT KREDIT


Pembelian xxx
PPN Impor xxx
PPh Pasal 22 xxx
Utang Usaha xxx

15
2.2.3 Pajak Penghasilan 23

Pajak Pajak Penghasilan Pasal 23 merupakan Pajak Penghasilan yang


dipotong atas penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang
dibayarkan, disediakan antuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya
oleh badan pemerintah. Subjek Pajak Badan dalam negeri, penyelenggara
kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya
kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap yang pemotongan
pajaknya dilakukan oleh pihak yang wajib membayarkan sebesar.

1. 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto atas:


a. dividen disetujui disetujui dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g;
b. bunga yang disetujui dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f;
c. royalti; dan
d. hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah
dipotong Pajak Penghasilan yang disetujui dalam Pasal 21 ayat (1)
huruf e:
2. 2% (dua persen) dari jumlah bruto atas:
a. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,
kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2), dan
b. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konstruksi jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah
dipotong pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21
Undang-Undang PPh

Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 23

Ayat jurnal yang disusun :

1. Pemberi hasil
 Saat pembayaran bunga

16
TGL AKUN DEBIT KREDIT
Biaya Bunga xxx
PPh Pasal 23 Terutang xxx
Kas dan Bank xxx
 Saat menyetor ke kas Negara melalui bank persepsi

TGL AKUN DEBIT KREDIT


PPh Pasal 23 terutang xxx
Kas dan Bank Xxx
2. Saat membeli
 Saat menerima bunga

TGL AKUN DEBIT KREDIT


Kas dan Bank xxx
PPh Pasal 23 xxx
Penghasilan Bunga Xxx
 Saat pengkreditan

TGL AKUN DEBIT KREDIT


PPh Terutang xxx
PPh Pasal 23 Xxx

2.2.4 Pajak Penghasilan 24

Pajak Penghasilan Pasal 24 merupakan pajak yang dibayarkan atau


diterima di luar neger atas yang diterima atau diperoleh dari luar negeri yang
dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas hasil terjemahan
Wajib Pajak dalam negeri. Makna pengkreditan pajak untuk Pasal 24 tersebut
untuk menghindarkan pajak berganda. Namun demikian jumlah yang dikreditkan
tidak melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan undang-undang
pajak. Tata cara pengkreditan dilakukan sesuai dengan Pasal 24 Undang-Undang
Pajak Penghasilan yang diambil dengan Keputusan Menteri Keuangan.

17
PENGKREDITAN DAN PENENTUAN SUMBER PENGHASILAN

Cara penghitungan besarnya pajak yang dapat dikreditkan selanjutnya


penghasilan menjadi sangat penting dalam perhitungan kredit pajak yang dibayar
atau terutang di luar negri yang dapat dikreditkan terhadap pajak terutang .

Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan , sumber


penghasilan ditentukan oleh :

1. Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari


pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan
menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau berkedudukan .
2. Penghasilan berupa bunga , royalti , dan sewa sehubungan dengan
penggunaan harta gerak .
3. Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tidak
bergerak adalah negara tempat harta tsb terletak .
4. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dg jasa , pekerjaan , dan kegiatan
adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan
tersebut bertempat .
5. Penghasilan BUT adalah negara tempat BUT tersebut menjalankan usaha
atau kegiatan .
6. Penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau
tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan
pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada .
7. Keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap
berada .
8. Keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu BUT
adalah negara tempat BUT berada .
Apabila terjadi pengurangan / pengembalian pajak atas penghasilan yang
dibayar di luar negeri sehingga besarnya pajak yang dapat dikreditkan di
Indonesia menjadi lebih kecil dari besarnya penghitungan semula , maka
selisihnya ditambahkan pada PPh yang terutang menurut UU PPh .

18
TATA CARA PENGKREDITAN

Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri , WP wajib


menyampaikan permohoan kepada DJP dg melampirkan :

1. Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri.


2. Fotokopi surat pemberitahuan pajak yang disampaikan di luar negeri.
3. Dokumen pembayaran di luar negeri .

Permohonan kredit pajak luar negeri haruslah disampaikan bersamaan


dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan PPh .

PENGGABUNGAN PENGHASILAN

Untuk menghitung PPh yg terutang atas seluruh penghasilan yang diterima


WP yang diperoleh dari dalam / luar negeri , maka seluruh penghasilan tersebut
digabungkan .

Penggabungan penghasilan dari luar negeri dilakukan untuk :

a) Penghasilan dari usaha yaitu dilakukan dalam tahun pajak


diperolehnya penghasilan tsb .
b) Penghasilan lainnya yaitu dilakukan dalam tahun pajak diterimanya
penghasilan tsb .
c) Penghasilan berupa deviden sebagaimana dimaksud dalam pasal 18(2)
UU PPh .

Penggabungan penghasilan ini tidak diperkenankan apabila terjadi


kerugian yang diderita di luar negeri .

TATA CARA PENGHITUNGAN KREDIT PAJAK

Ketentuan mengenai jumlah pajak luar negeri yang boleh dikreditkan


adalah sebagai berikut :

19
1. Jumlah kredit pajak yang besarna paling tinggi sama dengan jumlah pajak
yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi
jumlah tertentu .
2. Jumlah tertentu seperti pada butir 1 dihitung menurut perbandingan antara
penghasilan dari LN terhadap PKP dikalikan dg pajak yg terutang atas
PKP .
3. Kemungkinan penghasilan dari LN tersebut berasal dari beberapa negara ,
maka penghitungannya dilakukan untuk masing-masing negara .
4. PKP yg digunakan sebagai perbandingan tidak termasuk pajak yang
dikenakan pajak bersifat final .
5. Apabila ternyata jumlah PPh yang dibayar di LN melebihi jumlah kredit
pajak yang diperkenankan , atas kelebihan tsb tidak dapat diperhitungkan
dg PPh terutang tahun berikutnya . Maka kelebihan itu tidak boleh
dibebankan sebagai biaya / pengurang penghasilan . Dan tidak bisa
diajukan restitusi .

Prinsip dasarnya PPh dikenakan atas PKP yang dihitung atas dasar seluruh
penghasilan yg berasal dari dalam maupun luar negeri . Dengan demikian
digabungkan seluruh penghasilan yang diperoleh dalam tahun pajak sesuai
keputusan menteri keuangan untuk penghasilan berupa deviden .

Contoh penghitungan :

PT.Amarta yg berkedudukan di Jakarta menerima penghasilan netto dalam


tahun pajak 2014 dari sumber LN sebagai berikut :

a) Penghasilan dari usaha di Singapura dalam tahun pajak 2014 sebesar


Rp. 800.000.000
b) Deviden atas pemilikan saham pada “Singapore.Ltd” di Singapura sebesar
Rp.200.000.000 yang berasal dari keuntungan tahun 2011 yang ditetapkan
dalam RUPS tahun 2013 dan baru dibayar pada 2014 .
c) Deviden atas penyertaan saham sebesar 70%pada Sung Lie Corpdi
Hongkong yg sahamnya diperdagangkan di bursa efek sebesar

20
Rp. 75.000.000, yang berasal dari keuntungan saham tahun 2012 yang
berdasar KMK ditetapkan diperoleh tahun 2014 .
d) Bunga kuartal IV tahun 2014 sebesar Rp.100.000.000 dari Riza di Kuala
Lumpur yang baru akan diterima Juli 2015 .

Berdasar data di atas penghasilan sumber LN yang digabungkan dengan


penghasiln dalam negeri tahun pajak 2014 adalah penghasilan yg bersumber dari :

1. Penghasilan Singapura ( poin “a” )


2. Penghasilan dari deviden ( poin “b” )
3. Penghasilan dari deviden ( poin “c” )

Penghasilan yg berasal dr bunga ( poin “d” ) digabungkan dengan


penghasilan dalam negri tahun pajak 2015 .

PENGHASILAN WP DIKENAKAN PAJAK FINAL

Mengacu pada pasal 4 (2) UU PPh , penghasilan yang pengenaan pajak


nya bersifat final tidak digabungkan dengan penghasilan teratur lainnya .

Contoh :

PT. Jayakarta memperoleh penghasilan tahun 2011 yang terdiri sebagai


berikut :

1. Penghasilan dari China Rp. 2.000.000.000 dg tarif pajak 30%


2. Penghasilan dalam negeri Rp. 3.500.000.000
Dalam penghasilan dalam negeri ini termasuk penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 4(2) UU PPh sebesar Rp. 500.000.000 .

Penghitungan kredit pajak Luar Negeri :

1. Penghasilan dari LN
Penghasilan dari China Rp. 2.000.000.000
2. Penghasilan dalam negeri Rp. 3.500.000.000
Koreksi pasal 4 (2) Rp. 500.000.000

21
Rp. 3.000.000.000
3. Total Penghasilan Netto Rp. 5.000.000.000
4. PPh terutang :
25 % x Rp. 5.000.000.000 = Rp. 1.250.000.000
5. Batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar :
Rp. 2.000.000.000
x Rp. 1.250.000.000 = Rp. 500.000.000
Rp. 5.000.000.000

Pajak terutang di China sebesar 30% x Rp. 2.000.000.000 = Rp.


600.000.000 namun maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan sebesar Rp.
500.000.000 , sehingga jumlah kredit pajak luar negeri yang diperkenankan hanya
sebesar maksimum kredit pajak Rp. 500.000.000 ,-

Ayat jurnal kasus pengkreditan :

PPh terutang Rp. 500.000.000

PPh pasal 24 Rp. 500.000.000

2.2.5 Pajak Penghasilan Pasal 25

Sesuai dengan sistem perpajakan di Indonesia yang dianut yaitu self


assessment system bahwa kepada Wajib Pajak diberikan kewenangan sepenuhnya
untuk menghitung pajak terutang, memperhitungkan. menyetor, dan melaporkan
pajak yang terutang Khusus untuk pembayaran pajak yang dilakukan sendiri oleh
Wajib Pajak selama tahun berjalan atas usahanya (self payment) sesuai ketentuan
yang berlaku disebut PPh Pasal 25 Dengan demikian. PPh Pasal 25 adalah
angsuran Pajak Penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak setiap
bulan dalam tahun pajak berjalan. Besarnya angsuran pajak tersebut (PPh Pasal
25) digunakan sebagai kredit pajak terhadap pajak yang terutang atas seluruh
penghasilan Wanb Pajak pada akhir tahun pajak yang dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan.

22
Besarnya PPh Pasal 25 dapat dihitung dengan rumus berikut : PPh terutang
menurut SPT Tahunan PPh tahun lalu dikurangi dengan PPh yang dipotong
dan/atau dipungut serta PPh yang dibavar atau terutang di luar negeri vang boleh
dikreditkan (Pasal 21. Pasal 22, Pasal 23 dan Pasal 24) selanjutnya dibagi dengan
12 (dua belas) atau banyaknya bularn dalam bagian tahun pajak.

2.2.6 Pajak Penghasilan 26

Dikenakan terhadap penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak


Luar Negeri dari Indonesia, selain penghasilan usaha yang diperoleh melalui
bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong PPh Pasal 26.

Akuntansi Pajak Penghasilan Pasal 26

Khusus untuk PPh Pasal 26, apabila terjadi pembayaran dividend dan
bunga yang ditujukan pembayarannya kepada Wajib Pajak Luar Negeri yang
bersifat final (tetapi juga perlu diperhatikan adanya perjanjian perpajakan dengan
Negara lain) maka tarif yang umumnya diberlakukan untuk PPh Pasal 26 yaitu
sebesar 20% haruslah diperlukan penyesuaian dengan tarif menurut perjanjian
perpajakan (tax treaty). Secara umum akuntansi komersial dan akuntansi pajak
berkaitan dengan PPh Pasal 26 tidak terdapat perbedaan perlakuan.

Contoh :

PT Dahana membayar premi asuransi kepada Nagoya Corporation Ltd.


sebesar Rp 30.000.000,00 dengan perkiraan penghasilan neto sesuai Keputusan
Menteri Keuangan sebesar 50%.

Penghitungan PPh Pasal 26 yang dipotong oleh PT Dahana :

20% x 50% x Rp 30.000.000,00 = Rp 3.000.000,00.

23
Ayat jurnal bagi pihak pemotong :

1. Saat pemotongan PPh Pasal 26


Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Premi asuransi 30.000.000,00
Kas dan Bank 27.000.000,00
PPh Pasal 26 Terutang 3.000.000,00

2. Saat penyetoran PPh Pasal 26


Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
PPh Pasal 26 Terutang 3.000.000,00
Kas dan Bank 3.000.000,00

Akuntansi Pajak atas Pajak Penghasilan yang Pengenaannya Bersifat Final


(PPh Pasal 4 ayat 2)

Dengan mengacu pada pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan


sebagai penghasilan tertentu yang pengenaan pajaknya diatur dalam peraturan
pemerintah, penghasilan-penghasilan tertentu yang pengenaannya bersifat final
meliputi Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia
(SBI).

Peraturan Pemerintah No. 138 Tahun 2000 Tanggal 15 Desember 2000


atas bunga deposito dan tabungan serta sertifikat Bank Indonesia termasuk bunga
yang diterima atau diperoleh dari deposito dan tabungan yang ditempatkan di luar
negeri melalui bank yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau
cabang bank luar negeri di Indonesia dikenakan pemotongan pajak yang bersifat
final oleh bank termasuk Bank Indonesia. Sedangkan tarif diatur sebagai berikut :

1. 20% dari jumlah bruto dan bersifat final, atas bunga dan diskonto yang
terutang atau dibayarkan kepada penerima penghasilan, baik orang pribadi
maupun badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap di Indonesia.

24
2. 20% dari jumlah bruto atau sesuai dengan tarif yang ditetapkan dalam
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda dan bersifat final, atas bunga
diskonto yang terutang atau dibayarkan kepada penerima penghasilan wajib
pajak luar negeri, baik orang pribadi maupun badan selain bentuk usaha tetap
di Indonesia.

Perlakuan Pajak Penghasilan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi yang


Berpenghasilan Rendah

Wajib pajak dalam negeri orang pribadi yang tergolong berpenghasilan


relatif rendah dan seluruh penghasilannya termasuk bunga dan diskonto yang
dalam satu tahun pajak tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP),
atas pajak yang telah dipotong tersebut dapat diajukan permohonan restitusi
melalui prosedur restitusi sederhana.

Dikecualikan dari Pemotongan Pajak Penghasilan

Atas penghasilan berupa bunga yang berasal dari deposito dan tabungan serta
sertifikat Bank Indonesia, yang dikecualikan atau tidak dikenakan pemotongan
Pajak Penghasilan adalah sebagai berikut :

1. Bunga dari deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia
sepanjang jumlah deposito dan tabungan serta Sertifikat Bank Indonesia
tersebut tidak melebihi Rp 7.500.000,00 dan bukan merupakan jumlah yang
dipecah-pecah.
2. Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di
Indonesia atau cabang bank luar negeri.

Beberapa Jenis Penghasilan yang Pengenaan Pajaknya Bersifat Final

Dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan, pasal-pasal yang mengatur


mengenai jenis penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final terdapat pada
pasal 4 ayat (2), pasal 8 ayat (1), pasal 15, pasal 19 ayat (1), pasal 21, pasal 22,
dan pasal 23 ayat (4).

25
Hadiah Undian

Obyek pajaknya berupa hadian undian dan dikenakan pajak sebesar 25%
dari jumlah bruto nilai hadiah undian dengan sifat pengenaan bersifat final.

Akuntansi pajaknya :

Contoh : Tn. Arifin memperoleh hadiah undian yang diperolehnya dengan cara
undian sebesar Rp 100.000.000,00 tunai.

Ayat jurnal :

Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)


Kas dan Bank 75.000.000,00
PPh Final 25.000.000,00
Hadiah Undian 100.000.000,00

Persewaan Tanah dan/atau Bangunan

Tarif pajak penghasilan atas persewaan tanah dan/bangunan ditetapkan


sebesar 10% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/bangunan dan bersifat
final.

Akuntansi pajaknya :

Contoh : PT Aman membayar sewa tanah dan bangunan sebesar Rp


50.000.000,00

Jurnalnya sebagai berikut :

1. Saat pemotongan PPh pasal 4 (2)


Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Beban Sewa Bangunan 50.000.000,00
PPh Final 5.000.000,00
Kas dan Bank 45.000.000,00

26
2. Saat penyetoran PPh pasal 4 (2)
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
PPh Final 5.000.000,00
Kas dan Bank 5.000.000,00
Pajak Penghasilan atas Dividen yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak
Orang Pribadi

Pajak Penghasilan atas Dividen yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak
Orang Pribadi dalam negeri dikenai Pajak Penghasilan sebesar 10% dan bersifat
final. Tata cara pengenaan pajaknya dilakukan melalui pemotongan oleh pihak
yang membayar atau pihak lain yang ditunjuk selaku pembayar dividen.

Pajak Penghasilan atas Bunga Simpanan yang Dibayarkan kepada Anggota


Koperasi

1. Penghasilan berupa bunga simpanan yaitu imbalan berupa bunga simpanan


yang diterima anggota koperasi orang pribadi dari dana yang disimpan
anggota koperasi orang pribadi pada koperasi terdapat orang pribadi tersebut
menjadi anggota.
2. Yang tidak termasuk penghasilan berupa bunga simpanan yaitu bunga
simpanan yang diterima anggota koperasi orang pribadi yang merupakan
bagian dari Sisa Hasil Usaha (SHU).
3. Tarifnya :
a. 0% untuk penghasilan berupa bunga simpanan sampai dengan Rp
240.000,00 per bulan,
b. 10% dari jumlah bruto untuk penghasilan berupa bunga simpanan
lebih dari 240.000,00 per bulan.
c. Sifat pengenaan pemotongan pajaknya adalah final.
4. Saat terutangnya yaitu pada saat pembayaran yang dilakukan koperasi.

Pajak Penghasilan atas Penghasilan Transaksi Derivatif

27
1. Transaksi derivatif adalah transaksi yang didasari pada kontrak dan perjanjian
pembayaran yang nilainya merupakan turunan dari nilai instrument yang
mendasari seperti suku bunga, nilai tukar, komoditi, ekuiti, dan indeks baik
yang diikuti dengan pergerakan maupun tanpa pergerakan dana atau
instrument.
2. Kontrak berjangka yaitu suatu perjanjian termasuk kontrak standar untuk
membeli atau menjual sejumlah efek atau komoditas yang jumlah, mutu,
jenis, tempat,dan waktu penyerahan dikemudian hari telah ditetapkan.
3. Margin awal yaitu sejumlah uang atau surat berharga yang harus
ditempatkanoleh pialang berjangka atau anggota bursa pada lembaga kliring
dan penjamin untuk menjamin pelaksanaan transaksi kontrak berjangka.
4. Lembaga kliring dan penjamin adalah badan usaha yang menyelenggarakan
dan menyediakan system dan/atau sarana untuk pelaksanaan kliring dan
penjaminan transaksi di bursa, termasuk lembaga kliring dan penjamin
berjangka.
5. Penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh oleh orang pribadi atau badan
dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di
bursa dikenai Pajak Penghasilan sebesar 2,5% dari margin awal. Sifat
pengenaannya yaitu final.
6. Saat terutangnya yaitu pada saat orang pribadi atau badan menerima dan/atau
memperoleh penghasilan. Lembaga kliring dan penjamin wajib memungut
pajak penghasilan pada saat menerima penyetoran margin awal oleh pialang
berjangka atau anggota bursa.

28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas setiap tambahan


kemampuan ekonomisyang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia, yang dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan
dalam bentuk apapun.

Berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (1) Undang- undang Pajak


Penghasilan, besarnya tarif Pajak Penghasilan yang diterapkan atas Penghasilan
Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia melalui suatu bentuk
usaha tetap di Indonesia, sebagai berikut :

1. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak


Sampai dengan Rp 50.000.000,00 5%
Di atas Rp 50.000.000,00 sampai 15 %
dengan Rp 250.000.000,00
Di atas Rp 250.000.000,00 sampai 25 %
dengan Rp 500.000.000,00
Di atas Rp 500.000.000,00 30

2. Untuk Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan BUT

Tarif PPh atas Wajib Pajak Badan dan BUT adalah sebesar 25 %. Dalam
Pasal 17 ayat (2b) yang menyatakan bahwa Wajib Pajak Badan dalam negeri
berbentuk perseroan terbuka yang sahamnya paling sedikit 40 % dari jumlah
keseluruhan saham yang disetor tersebut diperdagangkan di bursa efek di

29
Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu dapat memperoleh tarif sebesar 5 %
lebih rendah daripada tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b
dan Pasal 17 ayat (2a) Undang- undang Pajak Penghasilan yang selanjutnya diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

Pada pasal 31 E Undang- undang Pajak Penghasilan mengatur bagi Wajib


Pajak Badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp
50.000.000.000,00 mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari
tarif seperti yang dimaksud dalam Pasal 17 ayat(1) huruf ‘b’ dan ayat (2a) yang
dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai
dengan Rp 4.800.000.000,00.

30
DAFTAR PUSTAKA

Undang- undang Nomor 28 Tahun 2007, tentang Perubahan Ketiga atas Undang-
undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, Jakarta.

Undang- undang Nomor 36 Tahun 2008, tentang Perubahan Keempat atas


Undang- undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, Jakarta.

Waluyo.2014.Akuntansi Pajak. Edisi 5.Jakarta: Penerbit Salemba Empat.