Anda di halaman 1dari 5

3.

KONSEP PENANGGULANGAN BENCANA


DI INDONESIA

1. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk dalam kategori paling rawan terhadap
bencana. Menurut Arnold (1986) bahwa wilayah Indonesia memiliki potensi bencana 10 kali lebih
besar dari Amerika Serikat. Hal senada menurut UNISDR (United Nation International Strategy
For Disaster Reduction) bahwa negara-negara di Asia Pasifik memiliki kerentanan terhadap
bencana alam 4 kali lebih besar dari negara-negara di Afrika dan bahkan 25 kali lebih besar dari
negara-negara Eropa dan Amerika Utara.

Peristiwa gempa bumi yang berkekuatan 9,1 skala richter di sertai tsunami yang melanda Banda
Aceh tahun 2004 yang lalu telah membuka mata terutama pemerintah Indonesia untuk
memiliki konsep yang konprehensif tentang penanggulangan bencana di Indonesia.
Pembelajaran secara cepat dari pengalaman dan negara lainnya terus dilakukan untuk memahami
konsep penanggulangan bencana yang tepat sehingga mengurangi jatuhnya korban akibat
bencana di masa yang akan datang.

Pengalaman bencana tahun 2004 telah melahirkan konsep penanggulangan bencana yang
sebelumnya focus pada tanggap darurat (emergency response) beralih menjadi pengurangan risiko
bencana PRB (disaster risk reduction).

1. ASPEK REGULASI

Regulasi dalam penanggulangan bencana diperlukan dalam rangka pelaksanaan pencapaian


program-program dilapangan agar terjadi keteraturan dan terkoordinasi dengan
baik. Konsep dasar penanggulangan bencana di Indonesia dirumuskan dalam bentuk regulasi
aturan perundang-undangan antara lain UU No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana,
Peraturan Pemerintah No. 21/2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan
Peraturan Pemerintah 22/2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Dana Penanggulangan
Bencana. Terkait koordinasi dengan lembaga atau kementerian lainya diatur dalam Undang-
Undang No.27/2007 tentang Pengelolaan daerah pesisir dan UU No. 26 /2007 tentang penataan
ruang. Dalam hal pengaturan dan arahan secara teknis pelaksanaan diatur dalam bentuk
Peraturan Kepala BNPB (Perka). Beberapa konsep utama dalam penanggulangan bencana yang
terdapat dalam Undang-Undang No.24/2007 ini dijelaskan sebagai berikut.

Pengertian

Bencana diartikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam
dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU 24/2007 pasal
1).

Dalam konsep Undnag-Undang No.24 tahun 2007 ini bencana dibagi dalam tiga macam bentuk
bencana. Pertama, bencana alam yaitu yang disebabkan oleh faktor alam seperti gempa bumi,
tsunami, erupsi gunung berapi, angin puting beliung dan banjir. Kedua, bencana yang disebabkan
oleh faktor non alam seperti gagal teknologi, keracunan atau polusi zat kimia. Dan ketiga,
bencana sosial yaitu bencana yang disebabkan oleh ulah tangan manusia seperti konflik sosial.

Pengertian bencana ini harus dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan dalam bidang
kebencanaan. Karena menjadi patokan dalam menentukan suatu kondisi atau kejadian
termasuk bencana atau bukan bencana. Perbedaan dalam memahami konsep akan berdampak
pada implementasi dilapangan. Munculnya permasalahan seperti kurang koordinasi dan tumpang
tindih program.
Landasan, Asas dan Tujuan

Pelaksanaan penanganan bencana di Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dan
berasaskan keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, keseimbangan,
keselarasan, keserasian, ketertiban dan kepastian hukum, kebersamaan, kelestarian lingkungan
hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi (UU 24/2007 pasal 2 dan pasal 3).

Penanggulangan bencana dilakukan dengan prinsip-prinsip cepat dan tepat, prioritas, koordinasi
dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna, transparansi dan akuntabilitas, kemitraan;
pemberdayaan, nondiskriminatif, dan nonproletisi (UU 24/2007 pasal 3).

Dalam Undang-Undang ini menyebutkan yang menjadi tujuan dalam penanggulangan bencana
antara lain yaitu; memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menjamin
terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, menyeluruh,
menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong
semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan, dan menciptakan perdamaian
dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara (UU 24/2007 pasal 4).

Tanggung Jawab dan Wewenang

Pemerintah pusat membentuk BNPB sebagai pemegang mandat utama Undang-Undang No.24
tahun 2007 yaitu yang bertanggung jawab dalam masalah koordinasi, komando dan pelaksanaan
penanggulangan bencana ditingkat nasional. Sedangkan ditingkat daerah pemerintah
membentuk BPBD melalui Peraturan Daerah atau Peraturan Gubernur sebagai penanggung jawab
untuk Propinsi dan Kabupaten/Kota (UU 24/2007 pasal 6).

Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi:


pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program
pembangunan, perlindungan masyarakat dari dampak bencana, penjaminan pemenuhan hak
masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan
minimum; pemulihan kondisi dari dampak bencana; pengalokasian anggaran penanggulangan
bencana dalam APBN yang memadai; pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam
bentuk dana siap pakai; dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan
dampak bencana.

BNPB bertugas memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana
yang mencakup pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi
secara adil dan setara; menetapkan standarisasi dan kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan
bencana berdasarkan Peraturan Perundang-undangan (pasal 12 UU 24/ 2007)

Penyelenggaran Penanggulangan Bencana

BNPB dalam hal penyelenggaraan penanggulangan bencana menetapkan 3 (tiga) tahap yaitu
yang meliputi: prabencana, saat tanggap darurat, dan pascabencana. Penyelenggaraan pra
bencana antara lain perencanaan penanggulangan bencana; pengurangan risiko bencana,
pencegahan, pendidikan dan pelatihan (UU 24/2007 pasal 33). Penyelenggaraan penanggulangan
bencana pada saat tanggap darurat meliputi: pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi,
kerusakan, dan sumber daya; penentuan status keadaan darurat bencana; penyelamatan dan
evakuasi masyarakat terkena bencana. (UU 24/2007 pasal 48). Sedangkan penyelenggaraan pasca
bencana yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi.
 ASPEK KELEMBAGAAN

Dari aspek kelembagaan yang terlibat dalam penanggulangan bencana di Indonesia ada tiga
komponen besar yaitu Pemerintah, Masyarakat dan pihak swasta atau perusahaan yang dijelaskan
sebagai berikut.

Pertama, pihak pemerintah sebagaimana yang telah diatur dalam UU 24/2007 pasal 10
yaitu sebagai penanggung jawab dan pelaksana penanggulangan bencana di tingkat nasional yang
dilaksanakan oleh BNPB dan di tingkat provinsi atau kabupaten/kota di laksanakan oleh BPBD.

BNPB merupakan lembaga Non Departemen setingkat Kementerian yang dijabat oleh seorang
Kepala Badan yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sedangkan BPBD adalah
diangkat dan bertanggung jawab kepada Gubernur untuk Provinsi dan Bupati /walikota untuk
tingkat Kabupaten/Kota. Dalam struktur antara BNPB dan BPBD tidak ada garis komando, yang
ada hanyalah garis koordinasi. BPBD sepenuhnya dibawah kendali Kepala Daerah yang
bersangkutan.

BNPB bertugas memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana
yang mencakup antara lain pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan
rekonstruksi; menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan
bencana; menyampaikan informasi kegiatan kepada masyarakat; melaporkan penyelenggaraan
penanggulangan bencana kepada Presiden; menggunakan dan mempertanggungjawabkan
sumbangan/bantuan nasional dan internasional; mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran
yang diterima dari APBN.

BNPB memiliki wewenang untuk mengkoordinasikan lembaga /kementerian serta komponen


masyarakat maupun swasta yang terlibat dalam penanggulangan bencana. Dalam hal penetapan
status bencana nasional BNPB diberikan wewenang dan tanggung jawab untuk menetapkan status
kondisi bencana apakah termasuk status bencana nasional atau bukan. Penetapan status bencana
nasional ini dilakukan dengan berkoordinasi dengan lembaga terkait lainnya.

Kedua, komponen masyarakat dalam penanggulangan bencana terdiri dari berbagai unsur seperti
organisasi masyarakat (ORMAS), lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga relawan.
Keterlibatan unsur masyarakat dalam penanggulangan bencana sangat penting oleh sebab itu
permasalahan ini diatur dalam UU 24/2007 pasal 27 yang antara lain menyebutkan bahwa
masyarakat berkewajiban menjaga keharmonisan sosial dan lingkungan hidup serta melaksanakan
kegiatan penanggulangan bencana.

Ketiga, pihak swasta dapat berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana.
Pihak swasta memliki banyak kepentingan terhadap bencana termasuk kepentingan ekonomi.
Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan dari pihak swasta dan masyarakat.

 ASPEK ANGGARAN

Dana penanggulangan bencana terbagi dalam tiga kategori.

Pertama, dana kontijensi bencana disediakan dalam APBN untuk kegiatan kesiapsiagaan pada
tahap Prabencana.

Kedua, dana siap pakai disediakan dalam APBN yang ditempatkan dalam anggaran BNPB untuk
kegiatan pada tahap keadaan darurat. Selain itu, pemerintah daerah dapat menyediakan dana siap
pakai (DSP) yang berasal dari APBD/APBN. Dana Siap Pakai harus selalu tersedia sesuai dengan
kebutuhan pada saat tanggap darurat.

Ketiga, dana bantuan sosial berpola hibah disediakan dalam APBN untuk kegiatan pada tahap
Pasca Bencana. Selain itu terdapat pula sumber dana Bantuan Sosial Berpola Hibah, Dana yang
bersumber dari masyarakat, Dana dukungan komunitas internasional.

Sebagai gambaran penggunaan dana yang didapat dari APBN tahun anggaran 2016 sebesar Rp.
986.Milyar yang dianggarkan untuk penanggulangan bencana adalah sebesar 64%, jumlah jauh
lebih kecil dibanding penggunaan anggaran untuk penanggulangan bencana tahun 2014 sebesar
74% dari total anggaran BNPB. Sedangkan dana cadangan untuk dana siap pakai (on call) sebesar
4 Trilyun.

Pengawasan

Pengawasan penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah pusat dan


pemerintah daerah

Penyelesaian sengketa

 Melalui musyawarah mufakat


 Pengadilan

Pemantauan dan evaluasi

Oleh unsur pengarah beserta unsur pelaksana BNPB dan/atau BPBD dan dapat melibatkan
lembaga perencanaan pembangunan nasional dan daerah, sebagai bahan evaluasi menyeluruh
dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana (PP No 21 th 2008).