Anda di halaman 1dari 21

URGENSI TASAWUF DI ERA MODERN

Disusun guna memenuhi tugas terstruktur pada


Mata Kuliah:

AKHLAK TASAWUF

Dosen Pengampu:

Juliarseh, M.Pd

Disusun oleh :

Kelompok 9

1. Julkarnain Hidayat (0701193198)


2. Syauqi Rahmatullah (0701193204)
3. Riko Aldinata (0701193205)

PROGRAM STUDI ILMU KOMPUTER


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Segala puji bagi Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya makalah ini dapat
terselesaikan dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan memenuhi kriteria sebagai salah satu
pemenuhan tugas pada mata kuliah Akhlak Tasawuf. Shalawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai panutan ummat. Semoga kita sebagai
umatnya mendapatkan syafa’at darinya.

Menyikapi kemajuan zaman dan perubahan-perubahan system yang ada di tengah-


tengah masyarakat saat ini dimana telah banyak mengakibatkan manusia modern mengalami
krisis spiritual. Salah satunya pengaruh sekularisasi yang lama menimpa manusia modern
setelah saintek yang dibawanya memutuskan untuk mengambil pandangan sekuler sebagai
pilosofisnya. Maka dari itu, kami tertarik untuk memberikan solusi melalui makalah yang
berjudul “Tasawuf Di Era Modern”.

Semoga dengan kehadiran makalah ini sedikit banyak menjadi sumbangsih pemikiran
guna menyadarkan umat Islam modern khususnya. Kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan karya-karya tulis
selanjutnya.

Medan, 19 November 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................................... 1


B. Tujuan ............................................................................................................................ 1
C. Rumusan Masalah .......................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 2

1. Perlukah Tasawuf Dipraktekkan di Era Modern? .......................................................... 2


2. Dimana Letak Urgensitas Tasawuf di Era Modern? ...................................................... 9
3. Bagaimanakah Bentuk Aplikasi Tasawuf di Era Modern yang dipandang Relevan? . 11

BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 17

A. Kesimpulan .................................................................................................................. 17
B. Saran ............................................................................................................................ 17
C. Penutup......................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 18

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modernisme adalah paham tentang hal-hal yang bersifat modern. Sebagian orang
beranggapan bahwa Islam dan Modernisme adalah suatu kata yang tidak tepat untuk di
sandingkan, menurut mereka modernisme adalah pintu utamanya bid’ah dan bid’ah adalah
virusnya agama. Masyarakat modern umumnya lebih mempergunakan akal atau rasio mereka
untuk memecahkan setiap masalahnya. Sedangkan islam mempunyai konsep bahwa manusia
tetap menggunakan dalil naqli di samping dalil aqlinya. Sehingga konsep diri yang ada pada
masyarakat modern adalah hedonisme, yang mengakibatkan kemerosotan akhlak.

Kehidupan masyarakat modern identik dengan mendewakan ilmu pengetahuan dan


teknologi, mengesampingkan pemahaman tentang agama. Mereka beranggapan bahwa
pengatahuan dan teknologi akan mampu meningkatkan taraf hidup dan derajat sosial
mereka.karena teknologi dan ilmu pengetahuan akan memberikan dampak positif dan pada
sisi lain juga menimbulkan dampak negatif.

Selain problematika itu dalam masyarakat modern juga mengalami berbagai problem,
seperti dalam aspek politik, pluralisme agama, spiritual, dan etika. Sehingga bagi penulis
peranan akhlak tasawuf urgensi sangat membahas problematika masyarakat modern.

Sikap umat Islam dalam menyikapi modernisasi inilah yang mendorong penulis untuk
mencoba menyampaikan informasi yang sebenarnya mengenai modernisme menurut Islam.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pentingnya Tasawuf pada Era Modern?
2. Dimana letak urgensitas Tasawuf di Era Modern?
3. Bagaimanakah Bentuk Aplikasi Tasawuf di Era Modern yang dipandang Relevan?

C. Tujuan
1. Menjelaskan tentang bagaimana urgensi tasawuf pada era modern.
2. Mengetahui letak urgensitas tasawuf di era modern.
3. Menjelaskan bagaimana pengaplikasian tasawuf pada era modern.
4. Mengetahui pokok-pokok ajaran tasawuf yang penting dan relefan untuk diamalkan
pada era modern saat ini.

1
BAB II

PEMBAHASAN

1. Perlukah Tasawuf Dipraktekkan di Era Modern?

Sebelum berbicara tentang perlukah tasawuf dipraktekkan di era modern, ada baiknya
kita merujuk ke-apa sebenarnya tasawuf itu sendiri. Arti tasawuf dan asal katanya secara
etimologis menjadi perdebatan para ulama ahli bahasa. Sebagian mengatakan bahwa tasawuf
itu diambil dari kata shafa artinya suci bersih. Sebagian lagi mengatakan bahwa kata tasawuf
itu berasal dari kata shuf yang artinya bulu binatang domba, karena orang-orang yang
memasuki dunia tasawuf pada zaman dahulu sering memakai pakaian dari bulu domba, dan
ada juga yang mengatakan asal katanya dari shuffah yaitu sahabat-sahabat Nabi yang tinggal
disalah satu ruang masjid Nabawi yang bernama sufah, ada pula yang mengatakan berasal
dari shaf yang artinya barisan (pertama) dalam sholat, karena sufi selalu memaksimalkan
perbuatan kesempurnaan disetiap ibadah (sholat). Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa
tasawuf itu berasal dari bahasa Yunani yaitu shofia yang artinya hikmah kebijaksanaan.1

Sedangkan secara terminologis, para ulama juga berbeda pendapat, menurut Ibnu
Khaldun, tasawuf itu adalah semacam ilmu syar’iyah yang timbul kemudian dalam
agama.Ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf itu adalah ilmu yang mengkaji segala
upaya/uasaha mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam rangka mencari keridloan Allah
SWT atau segala bentuk ibadah yang bertujuan mencari keridloan Allah SWT. Tasawuf
merupakan suatu system latihan dengan penuh kesungguhan untuk membersihkan,
mempertinggi dan memperdalam nilai-nilai kerohanian dalam rangka mendekatkan diri
kepada Allah, sehingga dengan cara itu, segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-
Nya. Oleh karena itulah maka al-Suhrawardi mengatakan bahwa semua tindakan yang mulia
adalah tasawuf.2

Era modern yang terjadi saat ini banyak memberikan kemudahan dalam segala
aktifitas sehari-hari manusia. Bisa dibilang apa yang disebut modernisasi itu seakan menjadi
“dewa penolong” diberbagai hal. Modernisasi telah memberikan kemudahan mulai dari saat

1
Usman Said, Pengantar Ilmu Tasawuf, (cet. 1, Medan: IAIN Sumatera Utara, 1982) h.

2
M. Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1999.

2
manusia membuka mata di pagi hari pertama hingga malam menutup mata.Bahkan
modernisasi telah membantu manusia sejak dilahirkan di dunia ini.

Di zaman modern ini dapat dikatakan semua bidang menggunakan teknologi


canggih.Hampir semua aspek kehidupan sudah cenderung menggunakan teknologi canggih.
Bahkan istilah high-end technology sudah “mendarah daging” di dalam berbagai bidang
kehidupan manusia. Mulai dari teknologi untuk publik maupun kepentingan individu. Hasil
karya dari teknologi ini secara tidak langsung mempengaruhi gaya hidup manusia, kenapa?
Karena prinsip dasar diciptakannya teknologi adalah untuk memudahkan kehidupan manusia
dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Hal ini mendorong manusia untuk merubah gaya
hidupnya dari yang sebelumnya serba manual dan sederhana ke gaya hidup yang instan dan
praktis. Hingga ujungnya, semua ini akan mempengaruhi pola berpikir, dan gaya hidup kita
dalam menjalani hidup.

Kekuatan modernisasi dengan segala atribut perangkatnya memang sudah membantu


manusia dalam banyak hal.Teman dan saudara jauh tidak lagi terasa jauh, bahka sangat
dekat.Segala hal yang dikonsumsi, baik makanan, pakaian, rumah, kendaraan, bahkan tempat
ibadah saat ini kesemuanya tidak bisa dilepaskan dari corak modernisasi. Jelmaan modernitas
lalu menjelma menjadi gaya hidup adalah sebuah pilihan dari kemudahan berbagai alat dan
perngkat yang dihadirkan di era modern saat ini.

Saat masuk era modern ini, manusia akan dapat melakukan banyak hal dengan
semudah-mudahnya. Manusia dapat dengan mudah terhubung dengan “seluruh” manusia di
bumi ini, tanpa mengenal batasan dan perbedaan usia, suku, ras, agama bahkan teritori.
Dengan jaringan kabel atau nrikabel yang ada, masyarakat dunia telah disambungkan.

Seseorang dengan gaya hidup modern menangkap ini sebagai peluang, baik itu
peluang untuk kegiatan sosial, peluang untuk bisnis, peluang untuk kegiatan keagamaan,
peluang untuk pendidikan, bahkan peluang untuk mendapatkan pasangan dan membangun
kebahagiaan rumah tangga.

Jika manusia ingin berperilaku secara modern, maka dipastikan manusia tersebut
dapat meringkas seluruh kehidupannya, baik untuk efisiensi waktu atau tenaga, baik untuk
kegiatan produktif maupun konsumtif. Pada kegiatan produktif, gaya hidup modern telah
menyumbang kekayaan berlimpah kepada banyak orang, kepada banyak pebisnis, kepada
banyak badan usaha, dan juga kepada banyak negara.

3
Kegiatan produktif saat disandingkan dengan gaya hidup modern, maka dipastikan
akan menghadirkan kekuatan luar biasa yang meransang kegiatan produktif manusia tersebut
mengembang dan membesar. Kegiatan produktif tersebut tentu saja tidak hanya dalam bidang
bisnis saja.

Begitupun untuk urusan konsumsi. Saat ini manusia mulai melupakan bagaimana cara
pemenuhan konsumsi yang kuno. Saat ini hampir keseluruhan produk konsumsi, manusia
tidak perlu keluar rumah untuk membelinya.Mulai dari sayuran, makanan, pakaian, pernik-
pernik alat rumah tangga, sepeda motor, mobil, tiket perjalanan, dan banyak hal lagi. Manusia
hanya butuh perangkat modern yang tergenggam erat di tangan, dengan ketersediaan dana di
rekening, maka segala kebutuhan konsumtif di atas dapat dihadirkan di hadapan, tanpa
merepotkan atau mengganggu kegiatan produktif yang sedang harus manusia kerjakan.

Dengan segala kemudahan yang dirasakan, tidak bisa dipungkuri modernisasi juga
akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Modernisasi tidak selamanya membuat
hidup kita menjadi bahagia.Ketauhilah bahwa kebahagiaan tiap-tiap sesuatu ialah bila kita
merasa ni’mat kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabi’at kejadian
masing-masing. Maka kelezatan mata ialah melihat rupa yang indah, keni’matan telinga
mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain ditubuh manusia.3

Tidak adil rasanya jika berbagai perangkat modern yang telah menghadirkan
kemudahan bagi manusia dalam banyak hal dianggap sebagai pengganggu.Barangkali
manusia sedemikian lemahnya sehingga segala hal kemudahan yang telah dinikmati di
tengah-tengah suguhan modernitas bahkan dianggap sebagai ancaman.

Akan tetapi rasanya juga sama-sama tidak adil jika gaya hidup modern kemudian
menjelma menjadikan manusia satu dengan manusia lain semakin berjauhan, karena
konsentrasi kehidupan tidak lagi dengan sesama antar manusia, akan tetapi lebih terfokus
kepada manusia dan perangkat alat-alat modern. Ini adalah ancaman pada kehidupan sosial
manusia.

Barangkali saja ini terjadi saat titik klimaks dari dua kutub modern dan kuno, saat
kedua kutub ini menjadi bersingkuran.Tidak ada lagi sambang sanak family, karena cukup
berinteraksi dengan telepon atau sofware yang mampu bercengkrama seperti di hadapannya

3
Hamka, Tasawuf Modern, (Pustaka Panjimas, Jakarta Tahun : 1990).

4
langsung.Tidak ada lagi menyapa tetangga, karena sudah tidak bisa ketemu lagi.Jangan
bertemu, keluar rumah saja sudah ada dalam mobil.

Sikap hidup yang mengutamakan materi (materialistik) memperturutkan kesenangan


dan kelezatan syahwat (hedonistik) ingin menguasai semua aspek kehidupyan (totaliteristik)
hanya percaya pada rumus – rumus pengetahuan empiris saja, serta paham hidup positivistis
yang bertumpu pada kemampuan akal pikiran manusia tampak lebih menguasai manusia
yang memegang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tangan mereka yang berjiwa dan
bermental demikian itu, ilmu pengetahuan dan teknologi modern memang sangat
mengkhawatirkan.4

Mereka akan menjadi penyebab kerusakan di muka bumi, sebagaimana firman Allah
SWT :

َ‫عمِ لُوا لَعَلَّ ُه ْم يَ ْر ِجعُون‬


َ ‫ض الَّذِي‬ ِ َّ‫ت أَ ْي ِدي الن‬
َ ‫اس ِليُذِيقَ ُه ْم بَ ْع‬ َ ‫سادُ فِي ْالبَ ِ ِّر َو ْالبَ ْح ِر بِ َما َك‬
ْ َ‫سب‬ َ َ‫ظ َه َر ْالف‬
َ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS al-Rum: 41).5

Secara praktis problematika masyarakat modern dapat disebutkan sebagaimana


berikut :

Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah
melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern sebagai berikut:

1) Desintegrasi Ilmu Pengetahuan

Kehidupan moden antara lain ditandai oleh adanya spesialisasi di bidang ilmu
pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma sendiri dalam
memecahkan masalah yang dihadapi. Bila seseorang menghadapi masalah, lalu berkonsultasi
kepada teolog, ilmuwan, politisi, psikiater, dan ekonom, misalnya, mereka akan memberi
jawaban yang berbeda-beda dan terkadang saling bertolak belakang. Hal ini pada akhirnya
membingungkan manusia.6

4
Moh. Al-Badir, Ilmu dan Persepektif Tasawuf (Jakarta: Kharisma, 1996).

5
Al Quraan dan Terjemahnya, (Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Quraan) .

6
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta Utara: Rajawali Press, 2011), cetakan ke-10.

5
2) Kepribadian yang terpecah (Split personality)

Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya
kering nilai-nilai spiritual dan berkotak-kotak itu, maka manusianya menjadi pribadi yang
terpecah (split personality). Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada di bawah
kendali agama, maka proses kehancuran pribadi manusia akan terns bedalan. Dengan
berlangsungnya proses tersebut. Semua kekuatan yang lebih tinggi untuk mempertinggi
derajat kehidupan manusia menjadi hilang, sehingga bukan hanya kehidupan kita yang
mengalami kemerosotan tetapi juga kecerdasan dan moral kita.

3) Penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi karena terlepas dari spriritualitas

Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual,
maka iptek telah disalah gunakan dengan segala implikasi negatifnya sebagaimana
disebutkan diatas. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan menjajah
bangsa lain dan menindas yang lemah. Seperti yang ada kawasan timur tengah, seperti Libya,
Suriah, Palestina, Irak, dan lain sebagainnya.

4) Pendangkalan iman

Lebih mengutamakan keyakinan kepada akal pikiran dari pada keyakinan religius.
Akibat lain dari pola pikiran keilmuan tersebut di atas, khususnya ilmu yang hanya bersifat
empirik menyebabkan manusia dangkal imannya. Ia tidak tersentuh informasi yangdiberikan
wahyu, bahkan informasi yang diberikan wahyu itu menjadi bahan tertawaan dandianggap
tidak ilmiah dan kampungan. Contohnya pornografi dan budaya hidup liberal menyergap
generasi muda.

5) Pola hubungan materialistik

Memilih pergaulan atau hubungan yang saling menguntungkan secara


materi.Semangat persaudaraan dan rasa saling gotong royong yang didasarkan iman sudah
tidak nampak lagi, karena imannya sudah dangkal.Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan
oleh seberapa jauh dapat memberikan keuntungan yang bersifat material. Demikian juga
penghormatan yang diberikan atas orang lain banyak diukur oleh sejauh mana orang tersebut
dapat memberikan manfaat secara material. Akibatnya ia menempatkan pertimbangan
material diatas pertimbangan akal sehat, hati nurani, kemanusiaan dan imannya.

6
6) Menghalalkan segala cara

Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistik,
makamanusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam
mencapaitujuan. Jika hal ini terjadi maka terjadilah kerusakan akhlak dalam segala bidang,
baik ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.

7) Stress dan frustasi

Jika tujuan tidak tercapai, sering berputus asa bahkan tidak jarang yang
depresi.Kehidupan modern yang demikian kompetitif menyebabkan manusia harus
mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuan.Mereka terus bekerja dan bekerja tanpa
mengenal batasdan kepuasan.Hasil yang dicapai tak pernah disyukurinya dan selalu merasa
kurang. Apalagi jika usaha atau proyeknya gagal, maka dengan mudah ia kehilangan
pegangan, karena tidak lagi memiliki pegangan yang kokoh yang berasal dari Tuhan. Mereka
hanya berpegang atau bertuhan pada hal-hal yang bersifat material yang sama sekali tidak
dapat membimbingnya. Akibatnya iastres dan frustasi yang jika hal ini terus berlanjut akan
menjadikan ia gila atau hilang ingatan.

8) Kehilangan harga diri dan masa depan

Jika kontrol nilai agama telah terlepas dari kehidupan, maka manusia tidak lagi punya
harga diri dan masa depan. Terdapat sejumlah orang yang terjerumus atau salah memilih
jalan kehidupan. Masa mudanya dihabiskan untuk memperturutkan hawa nafsu dan segala
daya dan cara telah ditempuhnya. Namun ada suatu saat dimana ia sudah tua renta, fisiknya
sudah tidak berdaya, tenaganya sudah tidak mendukung dan berbagai kegiatan sudah tidak
dapat ia lakukan. Manusia yang demikian ini merasa kehilangan harga diri dan masa
depannya, kemana ia harus berjalan, ia tidak tahu. Mereka perlu bantuan dari kekuatan yang
berada diluar dirinya, yaitu bantuan Tuhan.7
Masyarakat modern mengalami kehampaan dan ketidakbermaknaan
hidup.Keberadaannya tergantung kepada pemilikan dan penguasaan simbol kekayaan,
keinginan mendapatkan harta yang berlimpah melampaui komitmennya terhadap solidaritas
sosial. Hal ini didorong oleh pandangan, bahwa orang yang banyak harta merupakan manusia
unggul.

7
MS. Syukron Sajadi, “Tasawuf dan Akhlak Di Era Modern http://adeebe.blogspot.com/ 2014/11/
tasawuf-dan-akhlaq-di-era-modern.html (Selasa, 19 November 2019, 22.23)

7
Berdasarkan penjelasan mengenai problem modernisasi diatas, sudah jelas bahwa
manusia modern membutuhkan sesuatu hal yang bisa membuat dirinya nyaman dan tentram.
Jawabannya adalah dengan mengikuti ajaran tasawuf.tasawuf sebagai inti ajaran Islam
muncul dengan memberi solusi dan terapi bagi problem manusia dengan cara mendekatkan
diri kepada Allah yang Maha Pencipta.

Kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat diperlukan, guna membimbing manusia
agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga untuk orang-orang yang semula hidupnya
glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang asketis (Zuhud pada dunia).Disamping itu
juga, tasawuf modern juga sebagai terapi penyembuhan bagi kegundahan hati dalam
merindukan tuhannya.

Banyak cara yang diajukan para ahli untuk mengatasi masalah tersebut, dan salah satu
cara yang hampir disepakati para ahli ialah dengan mengembangkan kehidupan yang
beraklak dan bertasawuf. Menurut Husein Nahr, paham sufisme mulai mendapat tempat di
kalangan orang masyarakat termasuk kalangan barat, karena mereka mulai merasakan
kekeringan batin. Mereka mulai mencari-cari dimana sufisme yang dapat menjawab sejumlah
masalah tersebut di atas.

Menurut Komaruddin Hidayat terdapat tiga tujuan perlunya sufisme dimasyarakatkan


pada mereka.Pertama, turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan
kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual. Kedua,
memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoteris (kebatinan islam), baik
terhadap masyarakat islam yang mulai melupakan maupun non Islam, khususnya terhadap
masyarakat barat. Dalam hal ini Nashr menegaskan “tarikat” atau “jalan rohani” yang biasa
dikenal sebagai tasawuf atau sufisme adalah merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan
(esoteric) dalam islam, sebagaimana syariat berasal dari Al-Quran dan Al-Sunnah. Ia menjadi
jiwa risalah islam, seperti hati yang ada pada tubuh, tersembunyi jauh dari pandangan luar.
Betapa pun ia tetap merupakan sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh
organisme keagamaan dalam islam.8

8
Husein Nashr, Tasawuf Dulu dan Sekarang, (terj.) Abdul Hadi W.M., dari judul asli, Living Sufisme,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985), cet.I.

8
2. Dimana Letak Urgensitas Tasawuf di Era Modern?

Dalam tasawuf terdapat prinsip-prinsip positif yang mampu mengembangkan masa


depan manusia, seperti melakukan instropeksi diri (muhasabah) baik dengan masalah
vertikal maupun horizontal, pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela (takhalli), dan
penghiasan diri dengan sifat-sifat mulia (tahalli). Prinsip-prinsip yang terdapat dalam tasawuf
tersebut dapat dijadikan sebagai sumber gerak, sumber kenormatifan, sumber motivasi, dan
sumber nilai sebagai acuan hidup.

Intisari ajaran tasawuf adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari
dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya itu berada di hadirat-Nya.
Upaya ini antara lain dilakukan dengan kontemplasi, melepaskan diri dari jeratan dunia yang
senantiasa berubah dan bersifat sementara. Sifat dan pandangan sifistik ini sangat diperlukan
oleh masyarakat modern yang mengalami jiwa yang terpecah, asalkan pandangan terhadap
tujuan hidup tasawuf tidak dilakukan secara ekslusif dan individual, melaikan berdaya
implikatif dalam meresponi berbagai masalah yang dihadapi.

Dengan adanya bantuan tasawuf ini maka ilmu pengetahuan satu dan lainnya tidak
akan bertabrakan, karena ia berada dalam satu jalan dan satu tujuan. Hubungan ilmu dan
ketuhanan yang diajarkan agama jelas sekali. Ilmu mempercepat anda sampai ke tujuan,
agama menentukan arah yang dituju. Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya,
dan agama menyesuaikan dengan jati dirinya. Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai
dengan “bagaimana” dan agama menjawab pertanyaan yang diawali dengan “mengapa”. Ilmu
tidak jarang mengeluarkan pikiran pemiliknya, sedangkan agama menenangkan jiwa
pemeluknya yang tulus.9

Selanjutnya sikap frustasi bahkan hilang ingatan alias gila dapat diatasi dengan sikap
ridla yang diajarkan dalam tasawuf, yaitu selalu pasrah dan menerima terhadap segala
keputusan Tuhan.Ia menyadari bahwa Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu adalah Tuhan.
Sikap yang demikian itu diperlukan untuk mengatasi frustasi dan sebagainya.

Sikap materialistik dan hedonistik yang merajalela dalam kehidupan modern ini dapat
diatasi dengan menerapkan konsep zuhud, yang pada intinya sikap yang tidak mau
diperbudak atau terperangkap oleh pengaruh duniawi. Jika sikap ini telah mantap, maka ia
tidak akan berani menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Sebab tujuan yang ingin

9
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, (Bandung: Mizan, 1996), cet.III.

9
dicapai dalam tasawuf adalah menuju Tuhan, maka caranyapun harus ditempuh dengan cara
yang disukai Tuhan.

Demikian juga ajaran uzlah, yaitu usaha mengasingkan diri dari terperangkap tipu
daya keduniaan, dapat pula digunakan untuk membekali manusia modern agar tidak menjadi
sekruft dari mesin kehidupan, yang tidak tahu lagi arahnya mau dibawa kemana.Konsep ini
berusaha membebaskan manusia dari perangkap-perangkap kehidupan yang
memperbudaknya. Ini tidak berarti seseorang harus menjadi pertapa. Ia tetap terlihat dalam
berbagai kehidupan itu, tetapi ia tetap mengendalikan aktivitasnya sesuai dengan nilai-nilai
ketuhanan, dan bukan sebaliknya larut dalam pengaruh keduniaan.

Di balik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia modern sesungguhnya


menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia.10 Untuk
menyelamatkannya perlu tasawuf yang wujud konkretnya dalam akhlak yang mulia. Menurut
jalaluddin Rahmat, sekarang ini di seluruh dunia timbul kesadaran betapa pentingnya
memperhatikan etika dalam pengembangan sains.Di beberapa negara maju telah didirikan
lembaga-lembaga “pengawal moral” untuk sains.Yang paling terkenal ialah The Institut of
Society, Etics and Life Science di Hasting New York. Kini telah disadari, seperti kata Sir
Mac Farlance Burnet, biolog Australia, bahwa: “sulit bagi seorang ilmuwan eksperimental
mengetahui apa yang tidak boleh diketahui. Ternyata, sains tidak bisa dibiarkan lepas dari
etika, kalau kita tidak ingin senjata makan tuan.”11

Di sinilah pentingnya tasawuf modern, di mana konsep kebenaran ilmu pengetahuan


tidak hanya berdasarkan korespondensi, koherensi dan pragmatisme saja, tapi juga yang
bersifat spiritual-ilahiyah.Artinya sumber ilmu pengetahuan, selain mungkin didapat melalui
akal rasional, dan empiris inderawi (observasi) juga niscaya didapatkan dan diperkuat melalui
petunjuk wahyu (kitab suci), pelajaran sejarah, latihan-latihan ruhani, penyaksian dan
penyingkapan ruhaniyah. Seperti kata Jalaludin Rumi, seorang sufi agung, kaki rasionalisme
semata adalah kaki kayu yang rapuh untuk meraih ilmu pengetahuan dan kebenaran. Sufisme
atau tasawwuf mengajarkan kita untuk melihat di balik selubung kegelapan yang telah
menutupi sistem-sistem kepercayaan kita.

10
Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interprestasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1991), cet.I.

11
Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1991), cet.IV.

10
Terakhir problema masyarakat modern di atas adalah manusia yang kehilangan
masadepannya, merasa kesunyian dan kehampaan jiwa di tengah-tengah derunya laju
kehidupan.Untuk ini ajaran akhlak tasawuf yang berkenaan dengan ibadah, zikir, taubat dan
berdoa menjadi penting, sehingga ia tetap mempunyai harapan, yaitu bahagia hidup di akhirat
nanti. Bagi orang-orang yang sudah lanjut usia yang dahulu banyak menyimpang hidupnya,
akan terus dibayangi perasaan dosa, jika tidak segera bertaubat. Tasawuf akhlak memberi
kesempatan bagi penyelamatan manusia yang demikian. Itu penting dilakukan agar ia tidak
terperangkap ke dalam praktek kehidupan spiritual yang menyesatkan, sebagaimana yang
akhir-akhir ini banyak berkembang di masyarakat.

Itulah sumbangan positif yang dapat digali dan dikembangkan dari ajaran tasawuf
akhlak.Untuk itu, dalam mengatasi problematika masyarakat modern saat ini, akhlak tasawuf
harus dijadikan alternatif terpenting.Ajaran akhlak tasawuf perlu disuntikkan ke dalam
seluruh konsep kehidupan. Ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, polotik, kebudayaan dan lain
sebagainya perlu dilandasi ajaran akhlak tasawuf. Dan inilah harapan kita.12

3. Bagaimanakah Bentuk Aplikasi Tasawuf di Era Modern yang dipandang Relevan?

Cara pengamalan tasawuf di era modern ini sudah berbeda dengan pengamalan
tasawuf di era sebelumnya, pada masa sebelumnya tasawuf diamalkan dengan cara
mendirikan tarikat” yang berbeda pendapat antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan
tasawuf pada saat ini yaitu pada saat era modern lebih menekankan terhadap akhlak.

Tasawuf pada dasarnya merupakan jalan atau cara yang ditempuh oleh seseorang untuk
mengetahui tingkah laku nafsu dan sifat-sifat nafsu, baik yang buruk maupun yang terpuji.
Karena itu kedudukan tasawuf dalam Islam diakui sebagai ilmu agama yang berkaitan dengan
aspek-aspek moral serta tingkah laku yang merupakan substansi Islam. Dimana secara filsafat
sufisme itu lahir dari salah satu komponen dasar agama islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Kalau iman melahirkan ilmu teologi (kalam), Islam melahirkan ilmu syari’at, maka ihsan
melahirkan ilmu akhlaq atau tasawuf. (Amin Syukur, 2002:112).

Meskipun dalam ilmu pengetahuan wacana tasawuf tidak diakui karena sifatnya yang
Adi Kodrati, namun eksistensinya di tengah-tengah masyarakat membuktikan bahwa tasawuf

12
Ikhsan Ramadan “Problematika Masyarakat Modern Dan Pentingnya Akhlak Tasawuf http://isiotake
rudon.blogspot.com/2013/12/problematika-masyarakat-modern-dan.html (Selasa, 19 November 2019)

11
adalah bagian tersendiri dari suatu kehidupan masyarakat; sebagai sebuah pergerakan,
keyakinan agama, organisasi, jaringan bahkan penyembuhan atau terapi.

Tasawuf atau sufisme diakui dalam sejarah telah berpengaruh besar atas kehidupan
moral dan spiritual Islam sepanjang ribuan tahun yang silam. Selama kurun waktu itu tasawuf
begitu lekat dengan dinamika kehidupan masyarakat luas, bukan sebatas kelompok kecil yang
eksklusif dan terisolasi dari dunia luar. Maka kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat
diperlukan, guna membimbing manusia agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga
untuk orang-orang yang semula hidupnya glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang
asketis (Zuhud pada dunia). Proses modernisasi yang makin meluas di abad modern kini telah
mengantarkan hidup manusia menjadi lebih materealistik dan individualistic. Perkembangan
industrialisasi dan ekonomi yang demikian pesat, telah menempatkan manusia modern ini
menjadi manusia yang tidak lagi memiliki pribadi yang merdeka, hidup mereka sudah diatur
oleh otomatisasi mesin yang serba mekanis, sehingga kegiatan sehari-hari pun sudah terjebak
oleh alur rutinitas yang menjemukan. Akibatnya manusia sudah tidak acuh lagi, kalau peran
agama menjadi semakin tergeser oleh kepentingan materi duniawi.

Menurut Amin Syukur, tasawuf bagi manusia sekarang ini, sebaiknya lebih
ditekankan pada tasawuf sebagai akhlak, yaitu ajaran-ajaran mengenai moral yang hendaknya
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan optimal. Tasawuf
perilaku baik, memiliki etika dan sopan santun baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
terhadap Tuhannya.

Pokok-pokok ajaran tasawuf yang dipandang penting dan relefan untuk diamalkan pada era
modern saat ini:

A. Tasawuf Akhlak

Sikap istimewa kaum sufi adalah dalam memberikan makna terhadap institusi-
institusi Islam. Ajaran Agama Islam mereka pandang dari dua aspek, yaitu aspek lahiriyah
(luar) dan aspek bathiniyah (dalam). Pendalaman dan pengamalan aspek “dalamnya” adalah
yang paling utama tanpa mengabaikan aspek “luarnya” yang dimotifasikan untuk
embersihkan jiwa. Tanggapan perenungan mereka lebih berorientsi pada aspek “dalam”,
yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa dan rencana, lebih mementigkan keagungan
tuhandan bebas dari egoisme. Sebagai perilaku perorangan yang terbaik dalam mengontrol
diri, kesetiaan dan realisasi kehadiran Tuhan yang tetap dalam segala peilaku dan perasaan
seseorang.

12
Bagian terpenting dari tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan lansung dengan
tuhan, sehingga merasa dan sadar berada di “hadirat” Tuhan. Keberadaan itu dirasakan
sebagai nikmat dan kebahagiaan yang hakiki.

Sufisme perlu dimasyarakatkan pada kehidupan modern yang sekarang karena


terdapat 3 (tiga) tujuan penting, yaitu:

1. Turut serta berperan menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat


hilangnya nilai-nilai spiritual.
2. Memperkenalkan literature atau pemahaman tentang aspek esoterik (kebatinan) Islam,
baik terhadap masyarakat Muslim yang mulai melupakannya maupun non Muslim.
3. Untuk menegaskan kembali, bahwa aspek esoterik Islam, yakni sufisme merupakan
jantung dari ajaran Islam sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka
keringlah aspek-aspek lain ajaran Islam.
Tasawuf sekarang ini dibutuhkan untuk memperbaiki akhlak seseorang sebagai
pembentuk diri dalam hal spiritual, sikap mental dan perbuatan luhur yang sangat penting
diisikan ke hati mereka dan dibiasakan dalam perbuatan untuk pembentukan manusia
paripurna, antara lain :

a. At-taubah

Menurut Qamar kailany dalam bukunya “Fi at-tasawuf al-Islami” yang dimaksud
taubat adalah: rasa penyesalan yang sungguh-sungguh dalam hati dengan disertai
permohonan ampun serta meninggalkan segala perbuatan yang dapat menimbulkan dosa”.
Tekanan dan penyesalan itu adalah terhadap seluruh aspek kehidupan kecuali Allah.

Oleh karena itu, arti taubat itu diperdalam, yaitu melupakan segala sesuatu kecuali
Allah.Hanya Allah yang ada dalam ingatan dan jiwanya, itulah taubat.

b. Cemas dan harap

Sikap mental rasa cemas dan harap, atau yang dalam sitilah tasawuf khouf dan raja’,
adalah salah satu ajaran tasawuf yang selalu dikaitkan kepada hasan basri. Karena, secara
hitoris memang dialah yang pertama kali memunculkan ajaran ini sebagai ciri kehidupan sufi.

Dengan adanya rasa takut ini akan menjadi pendorong bagi seseorang untuk
mempertinggi nilai dan kadar pengabdiannya dengan harap (raja’), amunan dan anugerah
Allah, oleh karena itu ajaran khouf dan raja’ ini adalah sikap mental yang bersifat introspeksi,
mawas diri dan selalu memikirkan kehidupan yang akan datang yaitu kehidupan yang abadi.

13
c. Az-zuhud

Sesuai dengan pandangan sufi, abhwa hawa nafsu duniawilah yang menjadi sumber
kerusakan moral manusia. Sikap kecenderungan seseorang kepada hawa nafsunya,
mengakibatkan kebrutalan tindakan manusia dalam mengejar kepuasan nafsunya. Dorongan
jiwa yang ingin menikmati kehidupan duniawi akan menimbulkan kesenjangan manusia
dengan Allah. Agar manusia terbebas dari godaan dan pengaruh hawa nafsunya, manusia
harus bersikap hati-hatiterhadap dunia.Manusia haruslah zuhud terhadap dunia, yaitu
meninggalkan kehidupan duniawi dan melepaskan diri dari pengaruh materi.

d. Al-faqr

Kata ini berarti tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai. Merasa
puas dan bahagia dengan apa yang sudah dimilikinya. Sehingga tidak meminta sesuatu yang
lain walaupun sesuatu itu belum dimiliki. (Al-kalabazi : 114). Sikap mental faqir ini
merupakan benteng pertahanan yang kuat dalam menghadapi pengaruh kehidupan materi.
Sebab, apabila sikap mental ini dimiliki, akan menghindarkan seseorang dari keserakahan.
Orang tdak akan berbuat nekatwalaupun tidak punya, karena sudah merasa puas akan apa
yang telah ia dapatkan. Dengan demikian, pada prinsipnya sikap mental faqir ini merupakan
rentetan dari sikap zuhud.hannya saja zuhud lebih keras menghadapi kehidupan duniawi,
sedangkan faqir hanya sekedar pendisiplinan diri dalam mencari dan memanfaatkan fasilitas
diri dalam mencari dan memanfaatkan fasiltas hidup dalam kehidupan.

e. As-shobru

Salah satu sikap yang fundamental bagi sufi dalam usahanya mencapai sasaran,
adalah sabar. Sabar mereka artikan sebagai satu keadaan jiwa yang kokoh, stabil dan
konsekwendalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan , pendiriannya tidak lebih walau
bagaimanapun beratnya tantangan yang dihadapi. Pantang mundur dan tak kenal menyerah,
karena sufi beranggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan irodah Tuhan dan
mengandung uian. (Qomar kailani : 34).

Sikap mental sabar diperlukan dalam segala situasi dan sepanjang waktu.Waktu
senang juga diperlukan kesabaran agar tidak sombong dan lupa daratan. Pada saat susah,
kesabaran tetap dibutuhkan agar tidak bergeser dari prinsip yang dipedomani. Agaimanapun
pahitnya kehidupan yang dialami, ketetapan hati harus dipertahankan.Itulah yang
dikehendaki sikap mental sabar.

14
f. Ridho

Sikap mental ridho adalah kelanjutan dari rasa cinta atau perpaduan dari mahabbah
dan sabar. Term ini mengandung pegertian menerima dengan lapang dada dan hati terbuka
apa saja yang ada dari Allah, baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketentuan
agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib dirinya.

Dengan tumbuhnya rasa cinta yang diperkuat dengan ketabahan hati, maka terbinalah
kelapangan hati dan kesediaan yang tulus untuk berkorban, berbuat apa saja yang
diperintahkan oleh yang dicintainya.

g. Muroqabah

Seorang calon sufi sejak awal sudah diajarkan kepadanya bahwa ia tidak pernah lepas
dari pengawasan Allah. Sebaliknya, seluruh aktivitas hidupnya ditujukan untuk mendapat
berada sedekat mungkin dengan Allah.Ia tahu dan sadar bahwa Allah “memandang”
kepadanya, maka kesadaran itu membawanya kepada satu sikap mawas diri atau muroqobah
kata ini mempunyai arti yang mirip dengan introspeksi diri. Dengan kalimat yang lebih
populer muroqobah dapat dikatakan adalah setiap saat siap dan siaga meneliti keadaan diri
sendiri.

Kecerdasan rohaniah mampu membekalkan semangat, kekentalan, kesabaran,


keikhlasan, kejujuran, integriti, dsb. Seseorang yang merasakan dirinya dekat dengan Tuhan
akan sentiasa berbuat baik, berbakti kepada masyarakat demi mencapai keridhaan Sang
Kekasih dan mengharapkan ganjaran-Nya di akhirat kelak. Kecerdasan rohaniah
menghasilkan taqwa (self-restrain) yang dapat menghalang seseorang Muslim daripada
melakukan perbuatan maksiat, jahat dan tercela walaupun tiada pengawasan dan kawalan
luaran.

Tasawuf tidak memundurkan seseorang.Seseorang yang dekat dengan Allah Swt.


adalah orang yang banyak berbuat dan bukan hanya berharap.Ungkapan yang
menggambarkan keperibadian para sahabat di zaman Rasulullah s.a.w. adalah mereka itu
seperti para rahib di waktu malam dan pasukan berkuda pada waktu siang “ruhbanun fi al-
layl wa fursanun bi al-nahar.”Inilah gambaran sebenar seorang Muslim yang benar-benar
mengikuti ajaran Islam.Seorang yang dekat dengan Tuhan tetapi juga seorang yang beraksi
dan bukan hanya penonton.Seorang Muslim sejati adalah yang memainkan peranan sebagai
aktivis, reformis, pengurus, pentadbir, pemikir, pendidik dsb. Mereka adalah golongan yang

15
dirasakan akan kehadiran mereka oleh umat ini dan merasa kehilangan dengan ketiadaan
mereka.

Jadi tasawuf modern ini, lebih mengutamakan ihsan yang bersifat konkret yang
menyentuh langsung dengan kehidupan social kemasyarakatan, bukan dengan sesuatu yang
bersifat abstrak, karena ibadah itu adalah hal yang wajib bagi setiap hamba, tetapi hanya
menyangkut hubungan seseorang dengan sangg khalik yang tentunya tidak berdampak apa-
apa bagi orang lain, sebab itu hanyalah untuk kebahaggiaan akhirat saja. Sedangkan dalam
tasawuf modern, harus ada keseimbangan antara dunia dengan akhirat, sehingga akan
tercapailah apa yang dinamakan dengan kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.13

13
Ahmad Fauzi Nasution, Pentingnya Tasawuf Bagi Masyarakat Modern http://ahmadfauzinasution
pemulungilmu.blogspot.com/2013/05/pentingnya-tasawuf-bagi-masyarakat.html (Selasa, 19 November, 2019)

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Jadi, fungsi tasawuf dalam kehidupan sehari-hari pada era modern ini ialah
membentuk kepribadian diri yang sholih serta berperilaku mulia dan ibadahnya berkualitas.
Dalam kehidupan modern, tasawuf menjadi obat yang mengatasi krisis kerohanian manusia
modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti
dan tujuan dari hidupnya.

B. Saran

Kami menyadari bahwa didalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu demi pemahaman kita bersama, mari kita membaca dari buku-buku lain yang bisa
menambah ilmu dan pengetahuan kita tentang tasawuf di era modern dan kami sangat
mengharapkan kritik maupun saran yang sifatnya membangun, dari Dosen Pembimbing dan
para pembaca agar untuk berikutnya makalah ini bisa lebih baik lagi.

C. Penutup

Dengan mengucap alhamdu lillaahi robbil’alamiin, kami selaku penyusun


memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT.Atas segala nikmat dan karunia-Nya hingga
dapat terselesaikan penulisan makalah ini.Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat
khususnya bagi kami dan bagi yang membaca sekalian.

17
DAFTAR PUSTAKA

Al Quraan dan Terjemahnya, (Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Quraan)

Syukur, Amin. Tasawuf Kontekstual: Problem Manusia Modern, Pustaka Pelajar:Yogyakarta,


2003

Hamka, Tasauf Modern, Pustaka Panjimas, Jakarta Tahun : 1990.

Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interprestasi unutk Aksi, Bandung: Mizan, 1991.

Nashr , Husein, Tasawuf Dulu dan Sekarang, (terj.) Abdul Hadi W.M., dari judul asli, Living
Sufisme, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985.

Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, Jakarta Utara: Rajawali Press, 2011.

Said, Usman, Pengantar Ilmu Tasawuf, Medan: IAIN Sumatera Utara, 1982.

Syukur, M. Amin, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999

Ahmad Fauzi Nasution (2013, 25 Mei). Pentingya Tasawuf Bagi Masyarakat Modern.
Diperoleh 19 November 2019, dari (http://ahmadfauzinasutionpemulungilmu.
blogspot.co.id/2013/05/pentingnya-tasawuf-bagi-masyarakat.html

MS. Syukron Sajadi. (2014, 28 November). Tasawuf dan Akhlak di Era Modern. Diperoleh
19 November 2019, dari http://adeebe.blogspot.com/2014/11/tasawuf-dan-akhlaq-di-
era-modern.html

Ikhsan Ramadan. (2013, 28 Desember). Problematika Masyarakat Modern dan Pentingnya


Akhlak Tasawuf. Diperoleh 19 November 2019, dari http://isiotakerudon.blogspot.co.
id/2013/12/problematika-masyarakat-modern-dan.html

18

Anda mungkin juga menyukai