Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan gerontik adalah salah satu bentuk pelayanan profesional yang
didasarkan ilmu dan kiat keperawatan gerontik yang berbentuk biopsikososial
spiritual yang komperhensif, ditujukan pada lanjut usia baik sehat maupun sakit pada
tingkatan individu, keluarga, kelompok/pantiatau masyarakat (Nugroho, 2008).
Keperawatan gerontik merupakan bagian integral dari keperawatan komunitas yang
mengkhususkan diri dalam mempelajari pelaksanaan perawatan terpadu yang lebih
aktif terhadap penderita-penderita lanjut usia dilengkapi dengan latihan jasmani dan
rohani dengan giat dan sistematik (Nugroho, 2008).
Usia individu tidak dapat dielakkan terus bertambah dan berlangsung konstan
dari lahir sampai mati, sedangkan penuaan dalam masyarakat tidak seperti itu,
proporsi populasi lansia relatif meningkat dibandingkan populasi usia muda (Watson,
2003). Terbukti bahwa Indonesia saat ini masuk ke dalam negara berstruktur
penduduk tua (ageing population) karena memiliki proporsi lanjut usia (Lansia) (60
tahun keatas) yang besar (di atas 7%). Hal tersebut dapat ditunjukkan dari data
Susenas tahun 2015, bahwa jumlah Lansia sebanyak 21,5 juta jiwa atau sekitar 8,43%
dari seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2015. Dari data penduduk tersebut
menunjukkan populasi lansia cenderung meningkat setiap tahunnya, sehingga akan
diikuti pula meningkatnya masalah lansia (Bkkbn, 2017).
Proses menua adalah hal yang fisiologis terjadi pada lansia. Hal tersebut
mengakibatkan menghilangkan secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo, 2000). Efek yang bisa ditimbulkan
dari proses penuaan ada berbagai macam meliputi biologis, psikis, sosial, bahkan

1
2

spiritual. Sehingga permasalahan pada lansia menjadi cukup banyak (Nugroho,


2008).
Jumlah lansia yang ada di Kalimantan Selatan menurut Bkkbn adalah sekitar
96.769 orang (19,8%) dari total penduduk. Menurut Dinas Sosial Kalimantan Selatan
tahun 2015 terdapat Lanjut Usia Terlantar sebanyak 29.048 orang. Penanganan
usaha kesejahteraan sosial untuk Lanjut Usia (Lansia/Jompo) terlantar merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Salah satu
usaha pemerintah dalam penanganan lanjut usia terlantar adalah melalui Program
pelayanan dalam Panti Sosial Tresna Werdha. PSTW (Panti Sosial Tresna Wherda)
adalah sebuah lembaga yang memberikan bimbingan, pelayanan yang bersifat kuratif,
rehabilitatif, promotif dalam bentuk bimbingan fisik, mental, sosial, pelatihan
keterampilan, resosialisasi bagi lanjut usia terlantar agar dapat hidup secara wajar
dalam kehidupan bermasyarakat serta pengkajian dan penyiapan standar pelayanan
dan rujukan (Kemensos, 2017).
Permasalahan yang didapatkan dalam pengkajian tanggal 14 Agustus 2017 di
PSTW Budi Sejahtera Martapura di wisma Lily adalah didapatkan hasil MMSE dari
10 lansia, sebanyak 3 orang (30%) dinyatakan Probable gangguan kognitif, 20 orang
(20%) dinyatakan definitif gangguan kognitif dan 1 orang (10%) tidak dapat
dilakukan pengkajian karena tidak dapat berbicara karena menderita gangguan jiwa
dan post stroke. Hasil SPMSQ dari 10 lansia, sebanyak 2 orang (20%) mengalami
kerusakan intelektual ringan, 2 orang (20%) mengalami kerusakan intelektual sedang,
1 orang (10%) mengalami kerusakan intelektual berat, dan 1 orang (10%) tidak
dilakukan pemeriksaan karena menderita gangguan jiwa dan post stroke. Barthel I
tentang penilain fungsi perawatan diri dari 10 lansia, sebanyak 3 orang (30%)
mengalami ketergantungan ringan dan 1 orang (10%) mengelami ketergantungan
sedang. Barthel II tentang penilain fungsi kerumah-tanggaan dan aktivitas keseharian
dari 10 lansia, sebanyak 3 orang (30%) mengalami ketergantungan ringan, 3 orang
mengalami ketergantungan berat dan 2 orang (20%) mengalami ketergantungan total.
KATZ Index pada 10 lansia didapatkan kategori B berjumlah 2 orang (50%), D
3

berjumlah 1 orang (10%), F berjumlah 1 orang (10%), dan G berjumlah 1 orang


(10%) dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasil Morse Fall Scale (MFS) pada
10 lansia, sebanyak sebanyak 2 orang (20%) beresiko rendah, sebanyak 3 orang
(30%).
Berbagai permasalahan diatas menimbulkan efek yang merugikan bahkan
membahayakan jika tidak ditangani lebih lanjut. Oleh karena itu, kami mahasiswa
profesi ners kelompok B akan melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan
permasalahan yang dialami lansia di PSTW Budi Sejahtera Wisma Lily selama satu
minggu kedepan yaitu dari tanggal 14 – 19 Agustus 2017..

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada kelompok
lansia di Wisma Lily Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera
Martapura.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian kepada kelompok lansia di
Wisma Lily Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera
Martapura.
b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masalah kesehatan kelompok lansia
yang tinggal di Wisma Lily Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi
Sejahtera Martapura.
c. Mahasiswa dapat menetapkan rencana tindakan keperawatan atas
permasalahan yang ditemukan pada kelompok lansia di Wisma Lily
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera Martapura.
d. Mahasiswa dapat mengimplementasikan tindakan keperawatan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan pada kelompok lansia di Wisma
Lily Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera Martapura.
e. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada
kelompok lansia di Wisma Lily Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)
Budi Sejahtera Martapura.
4

C. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Menambah pengetahuan dan mampu membuat serta memberikan
asuhan keperawatan lansia sehingga nantinya diharapkan mampu
mengembangkan asuhan keperawatan terhadap lansia di masa mendatang.
2. Bagi Lansia di Wisma Lily Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi
Sejahtera Martapura
Diharapkan lansia dapat mengenal masalah kesehatannya sehingga
lansia dapat meningkatkan kualitas hidupnya secara optimal. Selain itu
lansia dapat menerapkan implementasi yang sudah diajarkan oleh
mahasiswa.
3. Panti Sosial Tresna Werdha
Diharapkan dapat memberikan sumbangan/masukan berupa informasi
tentang kondisi kesehatan masyarakat panti guna membantu program
kesehatan pada masyarakat khususnya pada lansia.