Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Nyeri Kronis
Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang bersifat subjektif. Keluhan
sensorik yang dinyatakan seperti pegal, linu, ngilu, kemeng, dan seterusnya dapat
dianggap sebagai modalitas nyeri. Walaupun nyeri hanya salah satu rasa
protopatik (primer), namun pada hakekatnya apa yang tersirat dalam rasa nyeri itu
adalah rsa majemuk yang diwarnai oleh nyeri, panas/dingin, dan rasa tertekan.
Nyeri merupakan maknisme fisilogis yang bertujuan untuk melindungi diri.
Apabila seseorang merasakan nyeri, maka perilakunya akan berubah. Nyeri
merupakan tanda peringatan bahwa terjadi kerusakan jaringan, yang harus jadi
pertimbangan utama keperawatan saat mengkaji (Muttaqin, 2009).
Nyeri kronis merupakan suatu keadaan yang berlangsung secara konstan
atau intermiten dan menetap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini
berlangsung di luar waktu penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat
dikaitkan dengan penyebab atau cedera spsifik. Nyeri kronis dapat tidak
mempunyai awitan (onset) yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit untuk
diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respons terhadap pengobatan
yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronis adalah suatu keadaan
ketidaknyamanan yang dialami individu yang berlangsung selama 6 bulan atau
lebih (Muttaqin, 2009).
Berdasarkan analisa data mengenai nyeri kronis, didapatkan data,
berdasarkan hasil pengkajian kepada seluruh lansia di Wisma Lily, dengan
wawancara dan menggunakan standar skala nyeri dengan penilaian numerik
didapatkan hasil sebagian besar lansia mengeluhkan nyeri dengan hasil pengkajian
nyeri:
P: Nyeri pada pinggang, tutut, pergelangan kaki, tangan dan bahu
Q: Nyeri dirasakan seperti tertusuk-tusuk
R: Tempat nyeri
79
80

S: Nyeri derajat ringan (1-3), dan sedang (4-6)


T: 3 orang lansia mengatakan nyeri sering dialaminya, 2 orang mengatakan
kadang-kadang menalami nyeri dan 1 orang mengatakan nyeri jarang dialami.
Nyeri ada yang muncul pagi hari dan malam hari. Berdasarkan hasil kuesioner
terhadap 9 orang lansia di Wisma Lily didapatkan sebanyak 6 orang (75%) lansia
mempunyai keluhan yang paling sering dirasakan adalah nyeri (nyeri pada
pinggang, tutut, pergelangan kaki, tangan, bahu dan karena bisul).
Berdasarkan hasil kuesioner terhadap 6 orang lansia yang mengalami nyeri
diketahui bahwa frekuensi mengalami nyeri dengan distribusi sering sebanyak 3
orang (37,5%), kadang-kadang sebanyak 2 orang (25%), jarang sebanyak 1 orang
(17%). Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan karakteristik nyeri yang dirasakan
lansia adalah nyeri ringan (pegal) pada 2 orang (25%) lansia dan nyeri seperti
ditusuk-tusuk pada 4 orang (50%). Berdasarkan hasil kuesioner mengenai bagian
tubuh yang mengalami nyeri didapatkan sebanyak 3 orang (37,5%) lansia
merasakan nyeri pada pinggang, lutut dan pergelangan kaki, sebanyak 2 orang
(25%) lansia merasakan nyeri pada tangan dan bahu, sebanyak 1 orang (12,5%)
lansia merasakan nyeri akibat ada bisul dipantat. Berdasarkan hasil kuesioner
didapatkan bahwa terdapat sebanyak 3 orang (37,5%) lansia merasakan nyeri
derajat sedang (4-6) dan sebanyak 3 orang (37,5%) lansia merasakan nyeri ringan
(1-3). Berdasarkan hasil kuesioner terdapat sebanyak 2 orang (25%) lansia
merasakan nyeri pada pagi hari dan sebanyak 5 orang (62,5%) lansia merasakan
nyeri pada malam hari.
Semakin seseorang bertambah usia maka seseorang akan rentan terhadap
suatu penyakit karena adanya penurunan pada sistem tubuhnya.
Permasalahan yang berkembang memiliki keterikatan dengan perubahan kondisi
fisik yang menyertai lansia, perubahan kondisi fisik pada lansia
diantaranya adalah menurunnya kemampuan muskuloskeletal ke arah yang lebih
buruk. Christensen tahun 2006 menjelaskan bahwa penurunan fungsi
muskuloskeletal menyebabkan terjadinya perubahan secara degeneratif yang
dirasakan dengan keluhan nyeri, kekakuan, hilangnya gerakan dan tanda-tanda
inflamasi seperti nyeri tekan, disertai pula pembengkakan yang
81

mengakibatkan terjadinya gangguan imobilitas. Adapun penyakit dalam


sistem muskuloskeletal yang memiliki kondisi seperti diatas salah satunya
adalah arthritis rheumatoid (Christensen, 2006).
Penyakit reumatik adalah terminologi yang digunakan untuk
menggambarkan segala kondisi sakit yang melibatkan sistem muskuloskeletal
termasuk persendian, otot-otot, jaringan ikat, jaringan lunak di sekitar persendian
dan tulang, yang diakibatkan oleh berbagai faktor diantaranya gangguan
metabolik, faktor nutrisi, inflamasi, autoimun, trauma dan penyebab idiopatik.
Pada umumnya penyakit rematik mempunyai bentuk-bentuk kelainan yaitu : a)
Menyerang sendi dan otot, b) Menyerang sendi, otot dan alat-alat dalam tubuh
lainnya, c) Sistemik yang menghasilkan nyeri sendi (artralgia) dan nyeri otot
(mialgia), d) Jaringan ikat yang menyebar (difus) yang menyerang sistem sendi,
otot, kulit dan alat-alat dalam (Yuloo, 2014).
Reumatik terjadi sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut, dan gangguan
rematik akan meningkat dengan meningkatnya umur Reumatik yang sering
tampak pada usia lanjut adalah osteoartritis, osteoporosis, tendinitis, bursitis,
fibromialgia, low back pain, artropati kristal bukan gout yaitu Calcium
Pyrophosphate Dihydrate (CPPD) dan Basic Calcium Phosphate (BCP), gout,
artritis reumatoid, polymialgia rheumatica dan artritis karena keganasan
(Suhendriyo, 2014).
Berdasarkan dari latar belakang tersebut di atas, kami selaku Mahasiswa
Profesi Ners Program Studi Ilmu Keperawatan memberikan terapi massase untuk
mengurangi nyeri reumatik, diharapkan dnegan melakukan kegiatan ini rasa nyeri
pada bagian sendi lansia akan berkurang.
Berdasarkan hasil penelitian Kristanto pada tahun 2012 didapatkan hasil
bahwa terapi back massase dapat menurunkan dari intesitas nyeri reumatik pada
lansia. Dikatakan bahwa back massase yang merupakan suatu tindakan massase
pada punggung yang diberikan usapan dengan balsem atau minyak angin secara
perlahan akan memberikan sensasi rasa hangat dan mengakibatkan dilatasi
pembuluh darah sehingga memberikan efek distraksi sekaligus relaksasi yang
dapat mengurangi nyeri. Hal ini terjadi karena back massase dapat merangsang
82

serabut A beta sehingga pintu gerbang menutup dan impuls nyeri tidak dapat
diteruskan ke korteks serebral untuk diinterpretasikan sebagai nyeri (Kristanto,
2012).
Selain itu pada penelitian lain yaitu penelitian dari Sandy pada tahun 2015
bahwa nyeri sendi lutut dengan massase frirage digunakan untuk mengurangi
nyeri. Hasil dari penelitian ini didapatkan hampir dari setangah responden dari
penelitian menggunakan massase frirage untuk mengurangi nyeri sendi lutut. Hal
ini karena massase frirage dapat memperlancar peredaran darah (Sandy, 2015).

B. Sindrom Lansia Lemah


Berdasarkan hasil data sekunder diketahui bahwa sebagian besar umur
lansia di Wisma Lily adalah golongan usia elderly sebanyak 6 orang dan golongan
usia old 1 orang dan golongan usia very old 1 orang. Berdasarkan wawancara
dengan pengasuh Wisma Lily, lansia penghuni Wisma Lily yang tidak menggosok
giginya karena tidak memiliki gigi lagi dan perawat yang jaga juga tidak
membantu melakukan hal tersebut. Setelah dilakukan wawancara dengan
beberapa lansia 9 orang (100%) mengatakan tidak menggosok gigi karena giginya
sudah hampir habis juga. Saat dilakukan observasi pada lansia, sisa gigi lansia
nampak kotor dan tercium bau kurang sedap dari mulut lansia. Pengasuh juga
mengatakan lansia mandi 1 kali sehari dengan dibantu oleh perawat yang jaga.
Berdasarkan masalah yang dialami lansia, mahasiswa ners PSIK FK ULM
melakukan implementasi berupa pendidikan kesehatan tentang kebersihan diri
yang terdiri dari kebersihan diri mandi, mulut, kuku, rambut, dan tangan. Lansia
juga terlihat antusias saat melakukan demonstrasi cara membersihkan mulut yang
sudah tidak memiliki gigi. Hal ini dirasa sangat penting karena apabila tidak
membiasakan untuk merawat diri, maka akan timbul berbagai masalah kesehatan
pada lansia.
Berdasarkan teori disebutkan bahwa kebersihan diri merupakan kebutuhan
dasar manusia yang senantiasa harus terpenuhi. Kebersihan diri termasuk ke
dalam tindakan pencegahan primer yang spesifik. Oleh sebab itu sangat
diperlukan motivasi dari berbagai pihak PSTW dalam meningkatkan motivasi
83

lansia untuk selalu melakukan perawatan diri yang benar apabila lansia mampu
melakukan perawatan secara mandiri (Nofriandra, 2014).
Selain itu, kebersihan diri merupakan hal yang sangat penting dan harus
diperhatikan karena kebersihan diri akan mempengaruhi kesehatan, kenyamanan,
keamanan, dan kesejahteraan. Semakin lanjut usia seseorang, akan mengalami
kemunduran peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan
dalam mencukupi kebutuhan hidupnya khususnya kebutuhan kebersihan diri.
Perilaku merupakan suatu kegiatan organisme yang dapat diamati secara langsung
maupun tidak langsung, untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu tindakan
diperlukan faktor lain yaitu motivasi. Motivasi adalah suatu tenaga atau faktor
yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan dan
mengorganisasikan tingkah laku. Motivasi merupakan tenaga penggerak, dengan
motivasi manusia akan lebih cepat dan bersungguh sungguh untuk melakukan
kegiatan. Motivasi dibagi menjadi dua jenis motivasi yaitu motivasi intrinsik
berasal dari dalam diri manusia (meliputi kebutuhan akan perawatan diri,
keinginan untuk mengikuti kegiatan kebersihan diri yang benar, harapan dari
kegiatan kebersihan diri, dan kepuasan lansia pada kegiatan perawatan diri
(demonstrasi mengosok gigi)) dan motivasi ektrinsik yang berasal dari luar
merupakan pengaruh dari orang lain atau lingkungan (meliputi motivasi karena
rangsangan dari luar atau pengaruh dari luar lansia, misalnya dukungan dari
teman, pengasuh panti, dan petugas kesehatan di poliklinik panti) (Siswoyowati
Indhah, 2015).
Solusi yang bisa dilakukan oleh lansia dalam menjaga kebersihan diri pada
lansia salah satunya adalah memberikan motivasi kepada lansia agar lansia yang
kurang memiliki kemauan dalam melakukan kebersihan diri menjadi berkenan
melakukan kebersihan diri dengan cara mengajak lansia untuk aktif dalam
merawat dirinya. Setelah dilakukan intervensi tentang memberikan motivasi
dengan cara memberikan informasi dan mengajarkan lansia mengenai kebersihan
diri, semua lansia mengatakan merasa nyaman, pada lansia yang bersedia
melakukan kebersihan mulut menyatakan bahwa mulut terasa lebih segar
(Nofriandra, 2014).
84

Berdasarkan beberapa hasil positif yang diperoleh setelah dilakukannya


intervensi keperawatan mengenai meningkatkan motivasi lansia dalam hal
perawatan diri, diharapkan seluruh lansia dapat terus melakukan perawatan diri
yang benar setiap harinya walaupun dibantu oleh perawat agar tidak terjadi
masalah pada kesehatan. Selain itu, diharapkan pada perawat panti atau wisma
Lily dan petugas poliklinik di PSTW dapat selalu memberikan motivasi pada para
lansia agar selalu melakukan perawatan diri atau personal hygiene yang benar.
Hasil observasi dan windshield survey pada tanggal 09 September 2019
,lansia lebih sering beristirahat ditempat tidur. Semua lansia hanya bedrest total di
tempat tidur karena lansia yang berada di wisma Lily tidak mampu beraktivitas
sehari-hari. Berdasarkan hasil pengkajian kemandirian menggunakan KATZ Index
pada 9 lansia penghuni Wisma Lily di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru
didapatkan hasil seluruh lansia mengalami ketergantungan dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengkajian menggunakan angket Indeks
Barthel pada 9 lansiapenghuni Wisma Lilydi PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru
didapatkan hasil sebanyak 2 orang (25%) mengalami ketergantungan ringan, 4
orang (50%) mengalami ketergantungan sedang dan sebanyak 2 orang (25%)
mengalami ketrgantungn berat. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa
sebagian besar lansia di Wisma Lily 5 orang (62,5%) tidak mengalami nyeri pada
saat lansia beraktivitas dan 3 orang (37,5%) mengalami nyeri saat beraktivitas.
Berdasarkan hasil pengkajian menggunakan angket kognitif MMSE pada
9 lansia penghuni Wisma Lily di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru didapatkan
sebanyak 5 orang (62,5 %) dinyatakan menderita demensia, 1 orang (12,5 %)
dinyatakan normal dan 2 orang (25 %) tidak dpat dilakukan pengkajian karena
tidak dapat berbicara dan menderita stroke. Terdapat 3 orang (30%) lansia di
Wisma Lilysering mengalami tengkuk tegang/sakit kepala berat/pusing 1 orang
(12,5%), kadang-kadang mengalami tengkuk tegang/sakit kepala berat/pusing.
Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa sebagian besar lansia di Wisma
Lily 3 orang (37,5%) mengalami tengkuk tegang/sakit kepala berat/pusing selama
1-5 tahun.
85

Proses menua menimbulkan suatu proses menghilangnya secara perlahan-


lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
serta memperbaiki kerusakan yang di derita. Imobilisasi dan intoleransi aktivitas
sering terjadi pada lansia. Imobilisasi di definisikan secara luas sebagai tingkat
aktivitas yang kurang dari mobilisasi normal. Dampak fisiologis dari imobilisasi
dan ketidakaktifan adalah peningkatan katabolisme protein sehingga
menghasilkan penurunan kekuatan otot. Selain itu lansia sangat rentan terhadap
konsekuensi fisiologis dan psikologis dari imobilitas. Secara fisiologis, tubuh
bereaksi terhadap imobilitas dengan perubahan-perubahan yang hampir sama
dengan proses penuaan, oleh karena itu memperberat efek penuaan. Efek proses
penuaan dapat diatasi bila tubuh dijaga tetap sehat dan aktif (Siswoyowati Indhah,
2015).
Lingkungan internal, atau kompetensi klien adalah faktor penentu
mobilitas yang paling penting ketika derajat imobilitas yang lebih rendah terjadi.
Karena kompetensi lansia menurun, ia bergantung lebih besar pada lingkungan
eksternal untuk mempertahankan mobilitas. Sebagai contoh, jika seorang pasien
lansia hemiplegi dengan kelemahan otot berat dianjurkan untuk menggunakan
kursi roda listrik, sumber-sumber dari lingkungan eksternal membantu
meniadakan keterbatasan lingkungan internal. Lansia yang mengalami gangguan
imobilisasi fisik seharusnya melakukan latihan aktif agar tidak terjadi penurunan
kekuatan otot. Namun pada kenyataannya banyak lansia yang masih tergantung
dengan lingkungan eksternal, sehingga kompetensinya menurun. Lansia yang
mengalami keterbatasan gerak ini mengalami penurunan kekuatan otot. Efek
proses penuaan dapat diatasi bila tubuh dijaga tetap sehat dan aktif. Karena seiring
penuaan, serat otot akan mengecil kekuatan otot berkurang sesuai seiring
berkurangnya massa otot. Lansia yang berolahraga teratur tidak mengalami
kehilangan yang sama dengan lansia yang tidak aktif. Struktur kolagen pada lansia
kurang mampu menyerap energi. Hal tersebut menyebabkan masa otot dan
penyembuhannya berkurang. Hal ini tentunya perlu adanya penatalaksanaan untuk
masalah imobilisasi pada lansia. Sebagai perawat seharusnya mengintervensi
86

dalam asuhan keperawatan. Intervensi yang dapat digunakan pada lansia yaitu
dengan latihan. Terdapat berbagai macam latihan fisik untuk lansia, yaitu latihan
kontraksi otot isometrik dan isotonik, latihan kekuatan, latihan aerobik, latihan
rentang gerak (Range of Motion) (Siswoyowati Indhah, 2015).
Pemeliharaan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi, disertai latihan ROM
dapat meningkatkan dan mempertahankan kekuatan otot dan fleksibilitas
persendian. Latihan ROM merupakan latihan yang sangat efektif bagi lansia yang
mengalami penurunan kekuatan otot. Latihan ini mudah dalam pelaksanaan, dapat
di lakukan berdiri maupun berbaring, serta efisien karena tidak menggunakan alat
khusus serta dapat di lakukan kapan saja (Kozier, 2004).
Berdasarkan masalah yang dialami lansia dan teori pendukung lainnya,
mahasiswa ners PSIK FK ULM melakukan implementasi berupa Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK ) tentang ROM yang bertujuan untuk mencegah kekakuan pada
sendi-sendi lansia, dan diharapkan perawat selalu menerapkan dan memotivasi
lansia untuk melakukan ROM tersebut kepada lansia yang tidak memiliki
komplikasi untuk dilakukan ROM. Selain itu, mahasiswa ners juga melakukan
terapi modalitas berdzikir dan berdoa untuk meningkatan harapan kesehatan lansia
menjadi lebih baik dan lebih mendekatkan diri lansia kepada sang pencipta.
Berdasarkan hasil pengkajian menggunakan angket skala jatuh dengan
menggunakan Morse Fall Scale (MFS) pada 9 lansia penghuni Wisma Lily di
PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru didapatkan hasil sebanyak 5 orang lansia tidak
beresiko jatuh (62.5%) dan sebanyak 3 orang (37.5%) beresiko rendah.
Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa lansia di Wisma Lily, 1 orang
lansia (12,5%) pernah mengalami terpeleset sebanyak 1 kali. Berdasarkan hasil
wawancara diketahui bahwa sebagian besar lansia di Wisma Lily 6 orang
(75%)mempunyai pandangan mata kabur. Berdasarkan tabel diatas diketahui
bahwa sebanyak1 orang lansia (100%) lansia yang pernah jatuh disebabkan oleh
lantai/halaman yang licin.
Hasil observasi pada tanggal 09 September 2019 Di lingkungan Wisma
terdapat adanya Di dalam Wisma Lily sendiri terdapat sebagian side trail di
sepanjang dinding Wisma yang berfungsi untuk memudahkan lansia dalam
87

berjalan. Lantai dalam Wisma cukup licin karena terbuat dari keramik tidak kasar,
lantai setiap hari dibersihkan dan dipel oleh pengasuh Wisma Lily , begitu pun di
luar keadaan sanitasi cukup bersih. Side trail hanya terdapatdisepanjang ruangan
sekitar wisma Lily, di selasar menuju ke WC dan kamar mandi, di kamar mandi
tidak terdapat side trail.
Berdasarkan masalah yang dialami lansia di wisma Lily, mahasiswa ners
PSIK FK ULM melakukan implementasi secara langsung berupa membantu
lansia ketika ingin mobilisasi, membersilkan lantai dengan menyapu dan
mengepel setiap paginya, dan tidak membiarkan lantai dalam keadaan licin.

C. Risiko Jatuh
Risiko jatuh adalah peingkatan rentan jatuh, yang dapat menyebabkan
bahaya fisik dan gangguan kesehatan (Herdman, 2019). Pada saat dilakukan
pengkajian di wisma lily, pada hari senin tanggal 24 September 2019,
berdasarkan skala Fall Morse lansia tidak berisiko jatuh yaitu 1 orang (12,5%),
berisiko rendah untuk jatuh yaitu 3 orang (37,5%) dan 4 orang (50%) beresiko
tinggi untuk jatuh. 1 lansia ambulasi menggunakan alat bantu, tidak terdapat
karpet antislip pada kamar mandi wisma, lantai wisma berbahan keramik,
lansia memiliki gangguan penglihatan. Berdasarkan data di atas diangkatlah
diagnosis keperawatan risiko jatuh dengan faktor risiko lingkungan (tidak ada
materi yang antislip di kamar mandi, lantai licin), fisiologis (penurunan
kekuatan ekstremitas bawah, kesulitan gaya berjalan, hambatan mobilitas),
populasi berisiko (memiliki riwayat jatuh dalam 3 bulan terakhir, usia ≥65
tahun), kondisi terkait (gangguan fungsi kognitif, anemia, artritis, hipotensi
ortostatik, gangguan visual.
Risiko Jatuh pada Kelompok Lansia di Wisma Lily PSTW Budi Sejahtera
Martapura dengan Faktor Risiko: Usia ≥ 60 tahun, Gangguan visual dan nyeri
ditandai dengan Usia lansia > 60 tahun, terdapat 3 orang lansia yang memiliki
keluhan penglihatan kabur, terdapat lansia yang memilik nyeri pada sendi dan
pinggang, terdapat 1 lansia yang mengaku pernah terjatuh/terpeleset dengan
frekuensi minimal 2-3 kali dalam 3 bulan terakhir, terdapat 1 orang yang
88

menggunakan walker, lansia yang ada di Wisma Lily PSTW Budi Sejahtera
Martapura dilakukan pemeriksaan menggunakan tes MFS dengan hasil 5 orang
memiliki risiko rendah dan 3 orang memiliki risiko tinggi. Pada pengkajian
Indeks Barthel menunjukkan hasil 6 orang mandiri dalam melakukan ADL
(Activity Daily Living) dan 2 orang memiliki ketergantungan ringan. Setelah
dilakukan observasi, hampir semua bagian wisma berlantai keramik. Lantai
dalam Wisma cukup licin karena terbuat dari keramik tidak kasar, lantai setiap
hari dibersihkan dan dipel oleh pengasuh Wisma Lily serta pada WC tidak
terdapat side trail.
Berdasarkan analisa data tersebut, kami menemukan masalah tentang risiko
jatuh pada lansia lansia penghuni Wisma Lily di PSTW Budi Sejahtera Martapura.
Dengan adanya masalah risiko jatuh ini kami Kelompok E, Mahasiswa Profesi
Ners XV Program Studi Ilmu Keperawatan ULM, memberikan informasi dengan
mengadakan pendidikan kesehatan tentang resiko jatuh pada lansia dan
mendemonstrasikan cara pencegahan jatuh. Setelah dilakukan intervensi tentang
penyuluhan tentang risiko jatuh,semua lansia tampak mendengarkan dengan
seksama ketika diberikan penjelasan mengenai pencegahan jatuh.
Memperbaiki kondisi lingkungan yang dianggap tidak aman merupakan
salah satu pencegahan yang dapat mengurangi faktor penyebab jatuh, Kami telah
memberikan intervensi dalam upaya mencegah risiko jatuh dengan mencegah
lantai basah/ licin, mendampingi lansia dengan risiko jatuh ketika beraktivitas,
serta memberikan pencahayaan yang cukup. Berdasarkan hasil pengkajian,
ditemukan lansia dengan Pterigium, oleh karena itu kami memberikan usulan
kepada pihak panti untuk melakukan tindak lanjut lansia dengan gangguan
penglihatan dikarenakan Pterigium tersebut. Kami juga berupaya untuk
mengusulkan perbaikan kondisi lingkungan yang dianggap tidak aman seperti
keramik yang tidak anti slip dan side trail di dalam WC/ kamar mandi, apabila
pihak PSTW Budi Sejahtera Martapura memiliki anggaran besar dalam hal
perbaikan kondisi lingkungan wisma.
Sedangkan untuk anggota keluarga atau petugas panti juga dapat berperan dalam
pencegahan jatuh yaitu dengan mengunjungi/ menengok lansia secara rutin
89

(karena selain kebutuhan fisik yang diperlukan, kebutuhan psikologis dan sosial
juga sangat penting), mengamati kemampuan dan keseimbangan dalam berjalan,
berjalan bersama, dan membantu stabilitas tubuh.