Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR DAN SETENGAH PADAT

“SUSPENSI REKONSTITUSI”

Tanggal Praktikum : Jumat,15 November 2019

Tanggal Penyerahan : Jumat, 22 November 2019

Kelompok :4

Penyusun : 1. Alzena Anjani (066118273)

2. Linar Seftiany (066118277)

3. Mai Yuliani S. (066118293)

4. Harfina Nur Tri J. (066118299)

Dosen : 1. Septia Andini, M.Farm., Apt.

2. Erni Rustiani, M.Farm., Apt.

3. Rini Ambarwati, M.Si., Apt.

4. Cyntia Wahyuningrum, M.Farm., Apt.

5. Wilda Nurhikmah, S.Si., M.Farm., Apt.

6. Asri Wulandari, S.Farm.

Asisten Dosen : 1. Melyartati 6. Erisa Dwiyana P.

2. Fitri Widya 7. Mirna Wati

3. Suci Puspa 8. Monicha Sri Mahesa

4. Shinta Mustika 9. Nuha Dzikri

5. Rahma Dila N.

LABORATORIUM FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PAKUAN

BOGOR

2019

1
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................ 3


1.1 Tujuan Percobaan ......................................................................... 3
1.2 Dasar Teori ................................................................................... 3
BAB II DATA PREFORMULASI .............................................................. 8
BAB 111 METODE KERJA ..................................................................... 12
3.1 Alat dan Bahan ............................................................................ 12
3.1.1 Alat ..................................................................................... 12
3.1.2 Bahan .................................................................................. 12
3.2 Cara kerja ...................................................................................... 12
3.2.1 Cara pembuatan suspensi.................................................... 12
3.2.2 Cara evaluasi sediaaan ........................................................ 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... 15
4.1 Data Pengamatan .......................................................................... 15
4.2 Perhitungan ................................................................................... 16
4.3 Grafik ............................................................................................ 17
4.4. Pembahasan ................................................................................. 18
BAB V PENUTUP ...................................................................................... 22
5.1 Kesimpulan ................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 23
LAMPIRAN ................................................................................................ 24

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. TujuanPercobaan

Mengetahui cara membuat formula suspensi kering/rekonstitusi, dan


mengamati pengaruh bahan pembantu terhadap fromula suspensi kering.

1.2. Dasar Teori

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan
terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa, atau sediaan padat terdiri dari
obat dalam bentuk serbuk halus, dengan atau tanpa zat tambahan, yang akan
terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan. Suspensi dapat
dibagi menjadi dua jenis, yaitu suspensi yang siap digunakan atau suspensi yang
direkonstitusikan dengan sejumlah air atau pelarut lain yang sesuai sebelum
digunakan. Jenis produk ini umunya campuran serbuk yang mengandung obat dan
bahan pensuspensi yang dengan melarutkan dan pengocokan dalam sejumlah
cairan pembawa (biasanya air murni) menghasilkan bentuk suspensi yang cocok
untuk diberikan (Siregar, 2010).

Supensi kering adalah suatu campuran padat yang ditambahkan air pada saat
akan digunakan. Agar campuran setelah ditambah air membentuk dispersi yang
homogen maka dalam formulanya digunakan bahan pensuspensi. Komposis
supensi kering biasanya terdiri dari bahan pensuspensi, pembasah, pemanis,
pengawet, penambah rasa atau aroma, buffer dan zat warna. Obat yang biasa
dibuat dalam sediaan suspensi kering adalah obat yang tidak dapat stabil untuk
disimpan dalam periode waktu tertentu dengan adanya pembawa air sehingga
lebih sering diberikan semagai campuran kering untuk dibuat sespensi pada waktu
akan digunakan. Biasnaya suspensi kering hanya digunakan untuk pemakaian
selama satu minggu dan dengan demikian maka penyimpanan dalam bentuk
cairan tidak terlalu lama (Voigt,1994).

3
Granul adalah gumpalan-gumpalan dari pratikel yang lebih kecil. Umumnya
berbentuk tidak merata dan menjadi seperti partikel tunggal yang lebih besar.
Ukuran biasanya berkisar antara ayakan 4-12, walaupun demikian bermacam-
macam ukuran lubang ayakan mungkin dapat dibuat tergantung dari tujuam
pemakaiannya. Granulasi merupakan proses dimana partikel serbuk diubah
menjadi granul. Secara umum granulasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
(Rowe,2006) :

a. Granulasi Basah

Pada granulasi basah, bahan dilembabkan dengan larutan pengikat yang


cocok. Sehingga serbuk terikat bersama dan terbentuk massa yang lembab.
Pelarut yang digunakan umumnya bersifat volatil sehingga mudah dihilangkan
pada saat dikeringkan. Massa lembab kemudian dibagi-bagi sehingga terbentuk
butiran granul.

b. Granulasi Kering

pada granulasi kering obat dan bahan pembantu mula-mula dikocok


menjadi tablet yang cukup besar, yang massanya tidak tentu. Selanjutnya tablet
yang terbentuk dihancurkan dengan mesin penggranul kering gesekan atau
dengan cara sederhana menggunakan alu diatas sebuah ayakan sehingga
terbentuk.

Suspensi oral adalah sediaan cair yang menggunakan partikel-partikel padat


terdispersi dalam suatu pembawa cair dengan flavouring agent yang cocok yang
dimaksudkan untuk pemberian oral.Suspensi topikal adalah sediaan cair yang
mengandung partikel-partikel padat yang terdispersi dalam suatu pembawa cair
yang dimaksudkan untuk pemakaian pada kulit.Suspensi otic adalah sediaan cair
yang mengandung partikel-partikel mikro untuk pemakaian di luar telinga.

4
Keuntungan suspensi :

1. Baik digunakan untuk pasien yang sukar menerima tablet / kapsul,


terutama anak-anak.
2. Homogenitas tinggi
3. Lebih mudah diabsorpsi daripada tablet/kapsul (karena luas permukaan
kontak antara zat aktif dan saluran cerna meningkat).
4. Dapat menutupi rasa tidak enak / pahit obat (dari larut / tidaknya)
5. Ketepatan dosis lebih rendah daripada bentuk sediaan larutan

Syarat Suspensi:

a. Menurut FI IV, 1995


1. Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara iv dan intratekal

 Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan dengan cara tertentu


harus mengandung zat antimikroba.
 Suspensi harus dikocok sebelum digunakan
 Suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.

b. Menurut FI III, 1979:

1. Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap


2. Jika dikocok, harus segera terdispersi kembali
3. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi
4. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah
dikocok dan dituang.
5. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel
dari suspensoid tetap agak konstan untuk yang lama pada
penyimpanan.(Ansel, 356)

5
c. Menurut Fornas Edisi 2, 1978

Pada pembuatan suspensi, untuk mencegah pertumbuhan


cendawan, ragi dan jasad renik lainnya, dapat ditambahkan zat pengawet
yang cocok terutama untuk suspensi yang akan diwadahkan dalam wadah
satuan ganda atau wadah dosis ganda.

Penggunaan Suspensi dalam Farmasi

1. Beberapa orang terutama anak-anak sukar menelan obat yang


berbentuk tablet / zat padat. Oleh karena itu diusahakan dalam bentuk
larutan. Kalau zat berkhasiat tidak larut dalam air, maka bentuk
suspensi-dimana zat aktif tidak larut-terdispersi dalam medium cair
merupakan suatu alternatif.
2. Mengurangi proses penguraian zat aktif didalam air. Untuk zat yang
sangat mudah terurai dalam air, dibuat bentuk yang tidak larut.
Dengan demikian, penguraian dapat dicegah. Contoh : untuk
menstabilkan Oxytetrasiklin HCl di dalam sediaan cair, dipakai
dipakai garam Ca karena sifat Oxytetrasiklin yang mudah sekali
terhidrolisis di dalam air.
3. Kontak zat padat dengan medium pendispersi dapat dipersingkat
dengan mengencerkan zat padat medium dispersi pada saat akan
digunakan. Contoh : Ampisilin dikemas dalam bentuk granul,
kemudian pada saat akan dipakai disuspensikan dahulu dalam medim
pendispersi. Dengan demikian maka stabilitas ampisilin untuk 7 hari
pada temperatur kamar masih dapat dipenuhi.
4. Apabila zat aktif sangat tidak stabil dalam air, maka digunakan
medium non-air sebagai medium pendispersi. Contoh : Injeksi
Penisilin dalam minyak dan Phenoxy penisilin dalam minyak kelapa
untuk oral.
5. Sediaan suspensi yang terdiri dari partikel halus yang terdispersi dapat
menaikkan luas permukaan di dalam saluran pencernaan, sehingga

6
dapat mengabsorpsi toksin-toksin atau menetralkan asam yang
diproduksi oleh lambung. Contoh Kaolin, Mg-Karbonat, Mg-
Trisilikat. (antasida/Clays)
6. Sifat adsorpsi daripada serbuk halus yang terdispersi dapat digunakan
untuk sediaan yang berbentuk inhalasi. Zat yang mudah menguap
seperti mentol, Ol. Eucaliptus, ditahan dengan menambah Mg-
Karbonat yang dapat mengadsorpsi tersebut.
7. Dapat menutup rasa zat berkhasiat yang tidak enak atau pahit dengan
lebih baik dibandingkan dalam bentuk larutan. Untuk suspensi
Kloramfenikol dipakai Kloramfenikol Palmitas yang rasanya tidak
pahit.
8. Suspensi BaSO4 untuk kontras dalam pemeriksaan X-Ray.
9. Suspensi untuk sediaan bentuk aerosol.

7
BAB II

DATA PREFORMULASI

Bahan Tanpa granulasi Granulasi


Amoxicillin 125 mg/5ml 125 mg/5ml
Pvp 1% 1%
Cmc Na 1,5 % 1,5 %
Sukrosa 15% 15%
Na benzoat 0,25% 0,25%
Alkohol - 3%

1. Amoxicillin
 Pemerian : Serbuk hablur putih
 Kelarutan : 1:400 dalam air , 1:1000 dalam alkohol, 1:100 dalam
metil alkohol, praktis tidak larut dalam kloroform,
eter, karbon feri klorida, dan campuran minyak
 Ph : 3,5 dan 6,0
 Sediaan : dalam bentuk trihidrat
 Ph untuk suspensi : Antara 5,0 dan 7,5 dalam suspensi yang disiapkan
pada etiket.
 Indikasi : Antibiotika spektrum luas yang aktif terhadap kuman-
kuman gram positif dan gram negatif, kecuali
Pseudomonas, Klabsiella dan B Fraglis.

2. PVP ( Povidon ) (Handbook Of Pharmaceutical Exipent edisi VI halaman


508; Farmakope Indonesia Edisi III halaman 510).

 Pemerian : Putih sampai krem; Pahit; tidak berbau;


Higroskopi (serbuk).
 Kelarutan : Praktis larut dalam asam, kloroform, etanol,
metanol, keton dan air. Praktis tidak larut dalam
eter hidrokarbon dan minyak mineral.

8
 Stabilitas : Stabil pada suhu 110 – 130 0C ; Mudah terurai
dengan adanya udara dari luar ; Dapat bercampur
dengan air ; Stabil bila disimpan ditempat kering.
 OTT : Jika ditambahkan thimerosol akan membentuk
senyawa kompleks. Kompatibel terhadap
gerak organik alami, resin sintetik dan
senyawa lainnya.

3. Na CMC (Carboxymethylcelulose sodium) FI IV Hal. 175)


 Pemerian : Serbuk atau granul, putih sampe krem, higroskopis
 Kelarutan : Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan
klorida,tidak larut dalam etanol, eter dan pelarut
organik lain.
 Stabilitas : Larutan stabil pada pH 2-10, pengendapan pada pH
dibawah 2. Viskositas larutan berkurang dengan cepat
jika pH diatas 10. Menunjukan viskositas dan stabilitas
maksimum pada pH 7-9.
 Penyimpanan : Wadah tertutup baik.
 Konsentrasi : 12,62.
 Kegunaan : Suspending agent, bahan penolong tablet, peningkat
Viskositas

4. Sukrosa (Farmakope Indonesia IV hal 762, Handbook of Pharmaceutical


Excipient edisi 6 hal 704).
 Rumus Molekul : C11H22O11
 Berat Molekul : 342,30.
 Pemerian : Hablur putih atau tidak berwarna; masa hablur atau
berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih; tidak
berbau, rasa manis, stabil di udara. Larutannya netral
terhadap lakmus

9
 Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut
dalam air medidih; sukar larut dalam etanol; tidak
larut dalam kloroform dan dalam eter.
 Titik Leleh : 1600 C – 1680 C
 Khasiat : Pemanis dan pengental.
 Konsentrasi : 67 % w/w.
 OTT : Serbuk sukrosa mungkin saja terkontaminasi dengan
logam berat yang dapat menjadi inkompatibel dengan
bahan penolong seperti asam askorbat. Sukrosa juga
mungkin saja terkontaminasi sulfit yang pada
konsentrasi sulfit tinggi menyebabkan perubahan
warna saat penyalutan tablet.
 Stabilitas : Sukrosa mempunyai stabilitas yang bagus pada tempe-
ratur ruangan dan kelembaban sedang, dapat menyerap
1% bau yang dilepaskan ketika dipanaskan pada suhu
900 C. Membentuk karamel ketika dipanaskan diatas
1600 C . Bisa disterilkan dengan autoklaf atau
penyaringan. Pada suhu 1100 C – 1450 C dapat
mengalami inversi menjadi dekstrosa dan fruktosa.
Inversi dipercepat pada suhu diatas 1300 C dan dengan
adanya asam.
 Penyimpanan : Wadah tertutup baik.
 pKa : 12,62.
 Bj : 1,2865 – 1,3471.

5. Natrium Benzoat (FI IV Hal 584)


 Rumus kimia : C7H5NaO2
 Berat molekul : 144.11
 Warna : putih

10
 Bau : tidak berbau atau praktis tidak berbau
 Penampilan : Granul atau serbuk hablur
 Kelarutan :
a. Air : mudah larut dalam air
b. Etanol : Agak sukar larut dalam etanol dan lebih larut dalam etanol
(90%)
 Titik lebur : 410° (770°F)
 Syarat : Natrium Benzoat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan
tidak lebih dari 100,5% C7H5NaO2, dihitung terhadap zat anhidrat.
 Khasiat : Pengawet makanan
 Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.

6. Alkohol (FARMAKOPE INDONESIA IV halaman 63, Martindale


30th edition halaman 783, Handbook of Pharmaceutical excipient edisi
VI halaman 7)
 Rumus molekul : C2H6O.
 BM : 46,07.
 Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna, bau
khas dan menyebabkan rasa terbakar pada lidah.
Mudah menguap meskipun pada suhu rendah dan
mendidih pada suhu 78ºC dan mudah terbakar.
 Kelarutan : Bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan
semua pelarut organic.
 BJ : 0,812 – 0,816 g/ml.
 Stabilitas : Mudah menguap walaupun pada suhu rendah.
 OTT : Bahan pengoksidasi Bila dicampur dengan alkali,
warna akan menjadi gelap.
 Konsentrasi : 60-90 %.
 Kegunaan : Anti mikroba, desinfektan, pelarut, penetrasi kulit.
 Penyimpanan : Wadah tertutup rapat jauh dari api

11
BAB III

METODE KERJA

3.1.Alat dan Bahan

3.1.1. Alat
1. Batang pengaduk
7. Kertas perkamen
2. Botol 100 ml
8. Lumpang dan alu
3. Beker glass
9. Pemanas
4. Cawan penguap
10. Sendok tanduk
5. Corong
11. Timbangan analitik
6. Gelas ukur

3.1.2. Bahan

1. Alkohol
2. Amoxicillin
3. Aquadest
4. Na CMC
5. Na Benzoat
6. PVP
7. Sukrosa

3.2. Cara Kerja


3.2.1. Pembuatan tanpa Granulasi
1. Siapkan alat dan bahan
2. Kalibrasi botol
3. Gerus masing-masing zat dan campurkan hingga homogen
4. Keringkan di dalam oven
5. Masukkan kedalam botol, tambahkan aqua sampai batas
kalibrasi

12
3.2.2 Pembuatan dengan Granulasi
1. Siapkan alat dan bahan
2. Kalibrasi botol
3. Gerus masing-masing bahan
4. Buat massa granulasi :
- Zat pemanis
- Zat warna
- Zat berkhasiat
- Zat pengawet yang dilarutkan dahulu dalam pelarut yang
sesuai
Campur seluruh zat dan ditambahkan pelarut untuk
membuat masa granul sedikit demi sedikit dengan pipet
hingga terbentuk masa yang dapat digranulasi. Masa
granulasi diayak, kemudian dikeringkan sampai masa tidak
lembab.

5. masukkan kedalam botol, tambahkan aqua ad batas kalibrasi.

3.2.3. Cara Evaluasi Sediaan

a. Uji Organoleptik
1. Dilihat bentuk sediaan
2. Dilihat warna
3. Diamati bau
4. Diamati rasa

b. Uji Suhu Kamar


1. Diamati bentuk sediaan, bau, rasa, warna
2. Diukur tinggi endapan
3. Dilihat waktu dispersi dan redispersi
4. Diuji pH

13
c. Uji Suhu Dingin (4°C)
1. Dimasukkan sediaan dalam 3 buah vial 10 ml
2. Dimasukkan dalam kulkas dengan suhu 4°C selama 5 hari
3. Setiap harinya diamati bentuk sediaan, warna, bau, dan rasa
4. Setiap harinya diukur tinggi endapan

d. Uji Suhu Panas (40°C)


1. Dimasukkan sediaan dalam 3 buah vial 10 ml
2. Dimasukkan dalam oven dengan suhu 40°C selama 5 hari
3. Setiap harinya diamati bentuk sediaan, warna, bau, dan rasa
4. Setiap harinya diukur tinggi endapan

e. Freeze Thaw
1. Dimasukkan sediaan dalam 6 buah vial 10 ml
2. Hari pertama dimasukkan ke dalam oven
3. Dipindahkan setiap harinya selama 5 hari
4. Setiap harinya diamati bentuk sediaan, warna, bau, dan rasa
5. Setiap harinya diukur tinggi endapan

14
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Pengamatan

a. Suhu Kamar

 Granulasi

Jumat Sabtu Senin Selasa Rabu


Evaluasi Formula Formula Formula Formula Formula
Warna +++ +++ +++ +++ +++

Bau +++ +++ +++ ++ ++


Rasa +++ +++ +++ +++ +++
BJ (g/ml) - - - - -
Ph 5 5 6 6 6

Tinggi Endapan 0,3 0,2 0,3 0,4 0,3


Waktu Redispersi 3s 4s 4s 3s 3s
Waktu Dispersi 3s 3s 3s 4s 3s

 Tanpa Granulasi
Jumat Sabtu Senin Selasa Rabu
Evaluasi Formula Formula Formula Formula Formula
Warna +++ +++ +++ +++ +++

Bau +++ +++ +++ +++ +++


Rasa +++ +++ +++ +++ +++
BJ (g/ml) - - - - -
pH 5 6 6 6 7

15
Tinggi Endapan 0,3 0,2 0,2 0,3 0,4
Waktu Redispersi 2s 4s 3s 4s 3s
Waktu Dispersi 4s 3s 3s 4s 4s

4.2. Perhitungan
 Formulasi
Bahan Tanpa Granulasi Granulasi
125mg/5ml 125mg/5ml
Amoxicillin
1% 1%
PVP
1,5% 1,5%
Na CMC
15% 15%
Sukrosa
0,25% 0,25%
Na Benzoat
Ad 100 ml Ad 100 ml
Aquadest

 Tanpa Granulasi
125 𝑚𝑔
Amoxicillin 125mg/5ml = x 100 ml = 2,5g
5 𝑚𝑙
1
PVP 1% = 100 x 100 ml = 1g
1,5
Na CMC 1,5% = x 100 ml = 1,5g
100
15
Sukrosa 15% = 100 x 100 ml = 15g
0,25
Na Benzoat 0,25% = x 100 ml = 0,25g
100

16
 Granulasi
125 𝑚𝑔
Amoxicillin 125mg/5ml = x 100 ml = 2,5g
5 𝑚𝑙
1
PVP 1% = 100 x 100 ml = 1g
1,5
Na CMC 1,5% = 100 x 100 ml = 1,5g
15
Sukrosa 15% = 100 x 100 ml = 15g
0,25
Na Benzoat 0,25% = x 100 ml = 0,25g
100

4.3.Grafik
a. Grafik pH
Granulasi

pH
10

0
T0 T1 T2 T3 T4

Granulasi

Tanpa Granulasi

pH
10

0
T0 T1 T2 T3 T4

Tanpa Granulasi

17
4.4. Pembahasan
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung bahan obat padat,
tidak melarut dan terdispersi sempurna dalam cairan pembawa, atau
sediaan padat yang terdiri dari obat dalam bentuk serbuk halus, dengan
atau tanpa zat tambahan, yang akan terdispersikan sempurna dalam cairan
pembawa yang di tetapkan. Yang pertama berupa suspensi jadi.
Sedangkan yang kedua berupa serbuk untuk suspensi yang harus
disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan (suspensi rekonstitusi).
Ada dua metode yang digunakan pada praktikum kai ini yaitu metode
dengan granulasi dan metode tanpa granulasi. Cara pembuatan dengan
metode granulasi yaitu cara pembuatan dengan mencampurkan zat aktif
dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan
cairan pengikat dengan jumlah yang tepat sehingga diperoleh masa
lembab yang dapat digranulasi. Prinsip metode ini yaitu membasahi
serbuk atau campuran serbuk dengan bahan pengikat dan diayak dengan
ayakan mesh tertentu untuk mendapatkan ukuran granul yang diinginkan.
metode ini bisa dilakukan apabila zat aktif tahan lembab dan tahan panas
dan sifat alirannya buruk.
Keuntungan pembuatan dengan metode granulasi :
- memperoleh aliran yang lebih baik
- meningkatkan kompresibilitas
- untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
- mengontrol pelepasan
- mencegah pemisahan komponen selama proses
- meningkatkan distribusi keseragaman kandungan
Kekurangan/kerugianpembuatan dengan metode granulasi :
- tahap pengerjaan lebih lama
- banyak tahapan validasi yang harus dilakukan
- biaya cukup tinggi
- zat aktif tidak tahan lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan
metode ini

18
Metode tanpa granulasi adalah proses pembuatan dengan cara
mencampurkan zat aktif dan bahan dalam keadaan kering, untuk kemudian
dikempa, lalu dihancurkan menjadi partikel yang lebih besar, lalu dikempa
kembali untuk mendapatkan suspensi yang memenuhi persyaratan.
prinsipnya membuat granul yang baik dengan cara mekanis, tanpa
pengikat dan pelarut. metode ini boleh digunakan apabila :
- zat aktif memiliki sifat aliran yang buruk (tidak amorf)
- zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab
- kandungan zat aktif dalam tablet tinggi
Keuntungan granulasi kering :
- peralatan lebih sedikit dibanding granulasi basah
- cocok digunakan pada zat aktif tidak tahan panas dan lembab
- tahap pengerjaan tidak terlalu lama
- biaya lebih efisien dibanding granulasi basah
- mempercepat waktu hancur obat dalam tubuh karna tidak menggunakan
pengikat
Kerugian/kekurangan granulasi kering :
- proses banyak menghasilkan debu, sehingga rentan terhadap kontaminasi
Silang.
Percobaan yang kita lakukan kali ini adalah membuat suspensi
rekonstitusi atau suspensi kering (dry syrup). Umumnya, suatu sediaan
suspensi kering dibuat karena stabilitas zat aktif di dalam pelarut air
terbatas, baik stabilitas kimia atau stabilitas fisiknya. Umumnya antibiotik
mempunyai stabilitas yang terbatas di dalam pelarut air. Seperti zat aktif
yang akan digunakan pada suspensi rekonstitusi kali ini yaitu antibiotik
amoxicillin.
Dalam percobaan suspensi rekonstitusi dilakukan dengan dua formula
yaitu dengan granulasi dan tanpa granulasi. Dalam percobaan granulasi
dilakukan pengovenan karena pada saat ditambahkan dengan essence, zat
perwarna dan zat pengikat yang berupa cair yang apabila tidak
dikeringkan maka dapat mempengaruhi ukuran granul yang ukurannya

19
sudah sama karena kadar air nya masih terlalu tinggi, yang mengakibatkan
granul-granul tersebut saling menempel dan melekat menghasilkan ukuran
yang berbeda-beda, maka dari itu dilakukan pengovenan agar kadar airnya
berkurang.
Formula kedua adalah tanpa granulasi. Yang membedakan antara
suspensi tanpa granulasi dan suspensi granulasi adalah perlakuan pada
saat pembuatannya. Pembuatan dengan granulasi yaitu membuat mucilago
terlebih dahulu untuk mengikat bahan bahan yang sukar larut dalam air
atau bahan bahan lain yang berbentuk kering. Pembuatan mucilago yaitu
dengan mencampurkan Cmc Na dengan air untuk Cmc Na, lalu diikuti
dengan penambahan bahan lain seperti zat aktif dan bahan lain yang
berbentuk serbuk terlebih dahulu. Sedangkan suspensi tanpa granulasi
pada cara pembuatannya tidak membuat mucilago, melainkan Cmc Na
ditambahkan dengan bahan obat yang berbentuk serbuk kemudian
penambahan air untuk Cmc Na dicampurkan terakhir.
Seperti yang telah dijelaskan fungsi Cmc Na adalah sebagai pengikat
zat aktif yang sulit larut dalam air atau sebagai suspending agent. Fungsi
penambahan Natrium benzoat pada suspensi adalah sebagai pengawet
yang menahan laju pertumbuhan mikroba pada cairan yang berpotensi
membuat sediaan menjadi cepat rusak. Fungsi penambahan sukrosa pada
suspensi adalah sebagai pemanis dan juga untuk menstabilkan suata
kelarutan.
Ukuran partikel pada suspensi tanpa granulasi, diameter rata-rata yang
didapatkan dari formula ini adalah ukuran nya kecil. Hal ini disebabkan
karena metode yang digunakan adalah metode tanpa granulasi. Metode ini
menyebabkan ukuran partikel dari formula ini menjadi lebih kecil dan
tidak ada nya pengikat juga menyebabkan ukuran partikel ini menjadi
lebih kecil.
Ukuran partikel pada suspensi granulasi. Diameter rata-rata yang
didapatkan dari formula ini adalah ukurannya besar. Hal ini disebabkan
karena adanya pembuatan mucilago yaitu PGA dengan air sehingga

20
mengikat bahan yang lain dan membuat bahan yang berbentuk serbuk
yang tadinya kering menjadi basah.
Pada percobaan suspensi rekonstitusi penambahan essence dan zat
perwarna yang tepat dan sesuai dengan sifat zat aktif akan mempengaruhi
stabilitas dari suspensi tersebut dan mempengaruhi hasil akhirnya, karena
apabila digunakan essence yang tidak sesuai akan mengakibatkan
aromanya berubah dan apabila pemilihan zat perwarnanya salah maka
akan ada kemungkinan perubahan pada warna asalnya.
Dari hasil pengamatan selama 5 hari, suspensi dengan granulasi
memiliki endapan yang lebih banyak dan granul tidak larut merata dalam
air. Sedangkan suspensi tanpa granulasi lebih larut dalam air karena
ukuran partikel yang lebih kecil dari granul dan lebih kering dari granul.
Jadi suspensi tanpa granulasi lebih homogen didalam air daripada dengan
granulasi. Sehingga suspensi tanpa granulasi lebih baik daripada suspensi
dengan granulasi.

21
BAB V

PENUTUP

V.1 KESIMPULAN

Pada kesimpulan kali ini dapat disimpulkan bahwa :

1. Suspensi kering atau suspensi rekonstitusi yaitu sejumlah sediaan resmi


dan diperdagangkan yang terdiri dari campuran kering atau serbuk
granula, dimaksudkan untuk disuspensikan dalam air atau pembawa
lainnya sebelum pemberian.
2. Granulasi yaitu suatu metode yang memperbesar ukuran partikel serbuk
guna memperbaiki sifat alir.
3. suspensi tanpa granulasi lebih homogen didalam air daripada dengan
granulasi

22
DAFTAR PUSTAKA

Ansel , 1990 . Ilmu kefarmasian . Jakarta : UI Press


Dirjen POM Depkes RI,1979. Farmakope Indonesia. Edisi III.
Jakarta: Depkes RI.
Fornas edisi 2. .Ilmu meracik obat . Jakarta: EGC
Siregar, C.J.P.2010.Teknologi Farmasi Tablet, Dasar-Dasar Praktis.
EGC: Jakarta
Rowe, et all.2006.Handbook od Pharmaceutical Exipiens. The
Pharmaceutical Press: London
Voigt.1994.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi V.Gadjah Mada
Press.Yogyakarta

23
LAMPIRAN

bahan-bahan serbuk yang sudah ditimbang

Serbuk yang sudah dibuat dengan metode granulasi

dan metode tanpa granulasi

24

Anda mungkin juga menyukai