Anda di halaman 1dari 8

SAK ETAP Untuk Lembaga Keuangan

1. Pengertian SAK ETAP


SAK ETAP adalah Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik, artinya SAK ETAP diperuntukkan bagi entitas
yang laporan keuangannya tidak akuntabel untuk publik secara luas.
Biasanya SAK ETAP diterapkan oleh usaha kecil dan menengah, karena
tidak memperjualbelikan sahamnya di pasar modal. SAK ETAP disusun
dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan
kondisi Indonesia. SAK ETAP merupakan SAK yang berdiri sendiri dan
tidak mengacu pada SAK Umum, sebagian besar menggunakan konsep
biaya historis; mengatur transaksi yang dilakukan oleh ETAP; bentuk
pengaturan yang lebih sederhana dalam hal perlakuan akuntansi dan relatif
tidak berubah selama beberapa tahun. SAK ETAP diterbitkan tahun 2009
berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan lebih awal yaitu 1
Januari 2010. SAK ETAP ini dimaksudkan agar semua unit usaha
menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK ETAP maka Standar ini dimaksudkan
untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik.

2. Ruang Lingkup SAK ETAP


Digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik yaitu:
a. Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik,
b. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose
financial statement) bagi pengguna eksternal, Contoh pengguna
eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan
usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
c. Entitas dengan akuntabilitas publilk signifikan boleh menggunakan
SAK ETAP jika diijinkan oleh otoritas berwenang. SE
No.11/37/DKBU Bank Indonesia tanggal 31 Desember 2009 yang
menetapkan standar akuntansi keuangan untuk BPR adalah SAK ETAP
dan SE No. 12/14/DKBU Bank Indonesia tanggal 1 juni 2010 yang

1
menetapkan penggunaan Pedoman Akuntansi Bank Perkreditas Rakyat
(PA – BPR) yang diberlakukan sejak 1 Januari 2010.

3. Manfaat Penerapan SAK ETAP


SAK ETAP memiliki beberapa manfaat untuk diterapkan, diantaranya
adalah:
1) Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil, menengah,
mampu untuk:
a. Menyusun laporan keuangannya sendiri.
b. Dapat diaudit dan mendapatkan opini audit.
2) Sehingga dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan
dana (misalnya dari Bank) untuk pengembangan usaha.
3) Lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK - IFRS sehingga lebih
mudah dalam implementasinya.
4) Tetap memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan
keuangan

4. Konsep dan Prinsip Pervasif SAK ETAP


1) Tujuan laporan keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan
keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat
meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan
informasi tertentu.
2) Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan
a. Dapat Dipahami.
b. Relevan.
c. Materialitas
d. Keandalan.
e. Pertimbangan Sehat
f. Kelengkapan

2
g. Dapat Dibandingkan
h. Tepat Waktu
i. Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat
3) Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan
Posisi keuangan suatu entitas terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas
pada suatu waktu tertentu. Unsur laporan keuangan yang berkaitan
secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aset,
kewajiban, dan ekuitas.
4) Kinerja keuangan
Kinerja keuangan adalah hubungan antara penghasilan dan beban
dari entitas sebagaimana disajikan dalam laporan laba rugi. Laba sering
digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar untuk pengukuran lain,
seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-unsur
laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba
adalah penghasilan dan beban.
5) Pengakuan
a. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos
tersebut akan mengalir dari atau ke dalam entitas; dan
b. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan
andal.
6) Pengukuran unsur-unsur laporan keuangan
Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan
entitas untuk mengukur aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam
laporan keuangan. Proses ini termasuk pemilihan dasar pengukuran
tertentu. Dasar pengukuran yang umum adalah biaya historis dan nilai
wajar:
7) Prinsip pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas (pervasif)
Persyaratan untuk pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban,
penghasilan dan beban dalam SAK ETAP didasarkan pada prinsip
pervasif dari Kerangka Dasar Penyajian dan Pengukuran Laporan
Keuangan.

3
8) Dasar akrual
Entitas harus menyusun laporan keuangan, kecuali laporan arus kas,
dengan menggunakan dasar akrual. Dalam dasar akrual, pos-pos diakui
sebagai aset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban (unsur-unsur
laporan keuangan) ketika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan
untuk pos-pos tersebut.
9) Pengakuan dalam laporan keuangan
a. Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonominya di
masa depan akan mengalir ke entitas dan aset tersebut mempunyai
nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Aset tidak diakui
dalam neraca jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya
dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam entitas setelah periode
pelaporan berjalan. Sebagai alternatif transaksi tersebut
menimbulkan pengakuan beban dalam laporan laba rugi.
b. Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran
sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan
untuk menyelesaikan kewajiban masa kini dan jumlah yang harus
diselesaikan dapat diukur dengan andal.
c. Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan
aset dan kewajiban. Penghasilan diakui dalam Laporan laba rugi jika
kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan
peningkatan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat
diukur secara andal.
d. Pengakuan beban merupakan akibat langsung dari pengakuan aset
dan kewajiban. Beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan
manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset
atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara
andal.
e. Laba atau rugi merupakan selisih aritmatika antara penghasilan dan
beban. Hal tersebut bukan merupakan suatu unsur terpisah dari
laporan keuangan, dan prinsip pengakuan yang terpisah tidak
diperlukan.

4
10) Saling hapus
Saling hapus tidak diperkenankan atas aset dengan kewajiban, atau
penghasilan dengan beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh SAK
ETAP.

5. Penyajian Laporan Keuangan


Entitas harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh
kepatuhan terhadap SAK ETAP dalam catatan laporan keuangan yang
terdiri dari:
1) Penyajian Wajar
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyarakatkan
penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa, dan kondisi lain yang
sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan asset, kewajiban,
penghasilan, dan beban.Penyajian wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan dan arus kas.
2) Kepatuhan terhadap SAK ETAP
Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus
membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh atas kepatuhan
tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak
boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua
persyaratan dalam SAK ETAP.
3) Kelangsungan Usaha
Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang
menggunakan SAK ETAP membuat penilaian atas kemampuan entitas
melanjutkan kelangsungan usahanya.
4) Frekuensi Pelaporan
Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi
komparatif) minimum satu tahun sekali.
5) Konsistensi Penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar perioda
harus konsisten kecuali:

5
a. Terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas
b. SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian.
Penyajian dan klasifikasi pos-pos harus konsisten, kecuali:
a. Terjadi perubahan signifikan operasi entitas atau perubahan tersebut
menghasilkan penyajian yang lebih andal dan relevan.
b. SAK ETAP mensyaratkan perubahan penyajian.
c. Reklasifikasi harus dilakukan retrospektif, kecuali tidak praktis dapat
secara prospektif.
d. Jika prospektif: diungkapkan sifat reklasifikasi dan jumlah pos yang
direklasifikasi serta alasannya.
6) Informasi Komparatif
Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan perioda
sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi
dalam laporan keuangn dan catatan atas laporan keuangan).
7) Materialitas dan Agregasi
Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan
sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki
sifat atau fungsi yang sejenis.
8) Identifikasi Laporan Keuangan Lengkap
Terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan
arus kas, catatan atas laporan keuangan. Perubahan perioda laporan
keuangan sehingga perioda laporan berbeda, maka ETAP mengungkapkan:
a. Fakta tersebut.
b. Alasan penggunaan perioda yang lebih pendek atau lebih panjang.
c. Fakta bahwa jumlah informasi komparatif dalam laporan keuangan
yang terkait tidak dapat diperbandingkan.
d. Identifikasi secara jelas setiap komponen laporan keuangan.
Informasi berikut, jika perlu, pada setiap halaman:
a. Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak laporan
perioda terakhir;
b. Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang
lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan;

6
c. Mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dalam Bab 25 Mata Uang
Pelaporan;
d. Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.
Catatan laporan keuangan:
a. Domisili, bentuk hukum dan alamat kantor yang terdaftar;
b. Penjelasan sifat operasi dan aktivitas Utama.

6. Implementasi SAK ETAP


Entitas dapat menerapkan SAK ETAP secara retrospektif artinya bahwa
kebijakan akuntansi yang baru diterapkan seolah-olah kebijakan akuntansi
tersebut telah digunakan sebelumnya. Oleh karena itu, kebijakan akuntansi
yang baru, diterapkan pada kejadian atau transaksi sejak tanggal terjadinya
kejadian atau transaksi tersebut, namun jika tidak praktis, maka entitas
diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif artinya
kebijakan akuntansi yang baru, diterapkan pada kejadian atau transaksi yang
terjadi setelah tanggal perubahan. Tidak ada penyesuaian yang dilakukan
terhadap periode sebelumnya. Entitas yang menerapkan secara prospektif
dan sebelumnya telah menyusun laporan keuangan maka:
a. Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya
dipersyaratkan dalam SAK ETAP;
b. Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP
tidak mengijinkan pengakuan tersebut;
c. Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset,
kewajiban atau komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan
sebelumnya, tetapi merupakan jenis aset, kewajiban, atau komponen
ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP;
d. Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban
yang diakui.

7. Kebijakan Akuntansi SAK ETAP


Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, yang terdiri dari perubahan
estimasi dan Koreksi kesalahan periode lalu. Kebijakan akuntansi adalah

7
prinsip, dasar, konvensi, aturan dan praktik tertentu yang diterapkan oleh
suatu entitas dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangannya. Jika
SAK ETAP secara spesifik mengatur transaksi, kejadian atau keadaan
lainnya, maka entitas harus menerapkan SAK ETAP. Namun, jika dampak
tidak material maka entitas tidak perlu mengikuti persyaratan dalamSAK
ETAP. Jika transaksi, peristiwa tidak diatur spesifik dalam SAK ETAP,
maka manajemen dengan menggunakan judgementnya mengembangkan
dan menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang menghasilkan informasi:
a. Relevan bagi pemakai untuk kebutuhan pengambilan keputusan
ekonomi; dan
b. Andal yaitu dalam laporan keuangan yang menyajikan dengan jujur
posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas dari suatu entitas.
c. Mencerminkan substansi ekonomi dari transaksi, peristiwa dan kondisi
lainnya, serta tidak hanya mencerminkan bentuk hukumnya.
d. Netral yaitu bebas dari bias
e. Mencerminkan kehati-hatian.
f. Bersifat lengkap dalam semua hal yang material

Acuan dalam membuat pertimbangan (Bab 9.5):

a. Persyaratan dan panduan dalamSAK ETAP yang berhubungan dengan


isu yang serupa dan terkait; dan
b. Definisi, kriteria pengakuan dan konsep pengukuran untuk aset,
kewajiban, pendapatan dan beban dan prinsip-prinsip pervasif di Bab 2
Konsep dan Prinsip Pervasif.
c. PSAK non ETAP dan panduan tambahan dapat dijadikan rujukan, namun
tidak boleh bertentangan dengan Bab 9.5