Anda di halaman 1dari 10
ARIF SULISTYAWAN
ARIF SULISTYAWAN
ARIF SULISTYAWAN

GEJALA

• Batuk, wheezing, sesak, sering menjelek waktu malam • Pemx fisik: fase ekspirasi memanjang, wheezing
• Batuk, wheezing, sesak, sering menjelek
waktu malam
• Pemx fisik: fase ekspirasi memanjang,
wheezing bilateral, takipnea, takikardia,
hipoksia
• Reversibel dengan bronkhodilator

Asma inflamasi kronik yang reversibel dari

saluran nafas besar dan kecil. • Ditandai obstruksi saluran nafas karena bronkospasme periodik dan hipersekresi
saluran nafas besar dan kecil.
• Ditandai obstruksi saluran nafas karena
bronkospasme periodik dan hipersekresi
mukus
• Karena berjalan kronis dan serangan
memanjang saluran nafas kecil bisa
tersumbat karena hipertrofi otot polos
bronkhial atau kelenjar mukus, aktivasi sel
Mast & infiltrasi sel radang
• Terjadi trapping udara, gangguan perfusi-
ventilasihipoksemiagagal nafas
ventilasihipoksemiagagal nafas

Eksaserbasi ringan :

– Takipnea, status mental normal, saturasi O2 > 95 %, bicara normal, wheezing ekspirasi, ekspirasi
– Takipnea, status mental normal, saturasi O2 > 95
%, bicara normal, wheezing ekspirasi, ekspirasi
memanjang
• Eksaserbasi sedang:
– Sesak utk bicara,lebih suka duduk/berdiri
tegak,agak gelisah, RR meningkat, otot bantu
nafas menonjol, takikardia,sturasi oksigen 91-95
%, p CO2 mendekati normal, wheezing inspirasi
dan ekspirasi
• Eksaserbasi Berat
– Sesak saat istirahat, bicara beberapa patah kata,
tidak bisa berbaring, RR > 120 x, pulsus

paradoksus, gelisah, suara nafas tak terdengar

Impending Gagal Nafas

– Tidak bisa bicara lagi,gerakan thorkoabdominal paradoksikal, bradikardi relatif, pergerakan udara minimal,
– Tidak bisa bicara lagi,gerakan thorkoabdominal
paradoksikal, bradikardi relatif, pergerakan
udara minimal, bingung/mengantuk krn kadar
CO2 tinggi
TERAPI
1.
Koreksi cepat hipoksia
2.
Hilangkan obstruksi saluran nafas
3.
Kurangi obstruksi saluran nafas berulang

Eksaserbasi ringan

– Support nafasberi oksigen dengan nasal kanula, jaga saturasi oksigen > 90 % – Agonist
– Support nafasberi oksigen dengan nasal
kanula, jaga saturasi oksigen > 90 %
– Agonist β adrenergikshort actingrelaksasi
cepat otot polos
bronkhusbronkhodilatasiobstruksi berkurang
– Inhalasi dgn MDI(metered dose inhaler) atau
nebulizer cepat dan konsentrasi tinggi di paru ,
efek samping sistemik minimal
– Dosis MDI 4-6 puff setiap 20menit sampai 4 jam
– Nebulizer 2,5 mg setiap 20-30 menit 3 dosis
– Monitor efek sampingtakikardi

Kortikosteroid sistemik

– Bila px tak respon baik dgn bronkhodilator, serangan lebih lama dari biasanya – Prednison
Bila px tak respon baik dgn bronkhodilator,
serangan lebih lama dari biasanya
Prednison 60 mg Hr I, 40 mg setelah KRS 3-10 hr
• Antikolinergik
– Ipratropium bromidatrovent
– Tx Bronkospasme karena mekanisme vagal,
tanpa efek samping antikolinergik
• Antibiotik
Bila ada infeksipneumonia

Eksaserbasi sedang

– Support nafasnasal kanula , saturasi oksigen > 90 % – Agonis β adrenergikalbuterol nebulizer
– Support nafasnasal kanula , saturasi oksigen >
90 %
– Agonis β adrenergikalbuterol nebulizer 2,5 mg
setiap 20-30 menit 3x/hr atau MDI 6-12 puff
setiap 20 menit
– Kortikosteroid sistemikprednison 60 mg oral,
metilprednisolon 60-125 mg IM/IV
– Antikolinergik MDI
– Antibiotik bila ada infeksi
– Ventilator bila tak ada perbaikan

Eksaserbasi berat atau mengancam jiwa

– Pd status asmatikus bronkospasme berat tak respon terapi agresif dalam 30-60 menit – Support
– Pd status asmatikus bronkospasme berat tak
respon terapi agresif dalam 30-60 menit
– Support nafas oksigen masker 100%, saturasi
oksigen > 90 %
– Intubasi & ventilator
– Albuterol nebulizer selama 1 jam 5 mg setiap 20-
30 menit
– 3x/hr –
3x/hr
selama 1 jam 5 mg setiap 20- 30 menit – 3x/hr – – Metilprednisolon 60-125 mg

Metilprednisolon 60-125 mg IV

Antikolinergik nebulizer 0,5 mg tiap 20-30 menit
Antikolinergik nebulizer 0,5 mg tiap 20-30 menit
Antibiotikfluoroquinolon, cefalosporin gen III
Antibiotikfluoroquinolon, cefalosporin gen III

Oxygen to alleviate the hypoxia (but not the asthma itself) that results from extreme asthma attacks.

Nebulized salbutamol or terbutaline (short-acting beta-2-agonists), often combined with

ipratropium (an anticholinergic).

Systemic steroids, oral or intravenous (prednisone, prednisolone, methylprednisolone, dexamethasone, or hydrocortisone). Some research has looked into an alternative inhaled route.[116]

Other bronchodilators that are occasionally effective when the usual drugs fail:

Intravenous salbutamol Nonspecific beta-agonists, injected or inhaled (epinephrine, isoetharine,

Anticholinergics, IV or nebulized, with systemic effects (glycopyrrolate, atropine, ipratropium) Methylxanthines (theophylline, aminophylline)

Inhalation anesthetics that have a bronchodilatory effect (isoflurane, halothane, enflurane) The dissociative anaesthetic ketamine, often used in endotracheal tube induction

Magnesium sulfate, intravenous

Intubation and mechanical ventilation, for patients in or approaching respiratory arrest. Heliox, a mixture of helium and oxygen, may be used in a hospital setting. It has a more laminar flow than ambient air and moves more easily through constricted airways.