Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA DAN

KEWARGANEGARAAN

“KONSTITUSI”

Disusun oleh :

Nama :1. Wahyu Robi’ah Nuralhasanah (16020009)


2. Nurfadilah Ikhsani (16020011)
3. Sunandita Fadillah (16020012)
4. Yessy Arya Saputri (16020013)
5. Ririn Anjasni Surya Dewi (16020015)
Grup : 3K1
Dosen : Deni Z. T., M.Pd.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Definisi konstitusi adalah aturan dasar mengenai ketatanegaraan suatu negara.
Kedudukannya merupakan hukum dasar dan hukum tertinggi. Konstitusi memiliki
dua sifat yaitu kaku dan luwes. Adapun fungsi konstitusi adalah membatasi
kekuasaan dan menjamin HAM. Isinya berupa pernyataan luhur, struktur dan
organisasi negara, jaminan HAM, prosedur perubahan, dan larangan perubahan
tertentu. Konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia terdiri dari 1. UUD 1945
(Konstitusi I), 2. Konstitusi RIS 1949, 3. UUDS 1950, 4. UUD 1945 Amandemen.
Amandemen konstitusi terdiri dari pengertian, hasil-hasil dan sikap yang
seharusnya positif-kritis dan mendukung terhadap proses Amandemen UUD
1945. Pelaksanaan Konstitusi di Indonesia pernah terjadi penyimpangan, yang
mana bertujuan untuk menjadi pelajaran bagi masa depan.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa itu Konstitusi ?
2) Bagaimana sifat, fungsi dan kedudukan konstitusi?
3) Apakah masalah-masalah mengenai konstitusi yang terjadi di Indonesia?
4) Bagaimanakah penyelesaian masalah konstitusi tersebut ?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui apa itu konstitusi.
2) Untuk mengetahui sifat, fungsi dan kedudukan konstitusi.
3) Untuk mengetahui contoh masalah mengenai konstitusi yang terjadi di
Indonesia beserta penyelesaiannya.

1.4 Manfaat
Manfaat belajar konstitusi adalah supaya lebih tahu hukum dasar tertulis yang
merupakan aturan -aturan yang ada di Indonesia, supaya dapat mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari, bahwa konstitusi itu sangat penting.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konstitusi
2.1.1 Pengertian dan Istilah Konstitusi
Konstitusi berasal dari kata constitution (Inggris)–constitutie (Belanda)–
constituer (Perancis), yang berarti membentuk, menyusun, menyatakan. Dalam
bahasa Indonesia, konstitusi diterjemahkan atau disamakan artinya dengan UUD.
Konstitusi menurut makna katanya berarti dasar susunan suatu badan politik yang
disebut negara. Konstitusi menggambarkan keseluruhan sistem ketatanegaraan
suatu negara, yaitu berupa kumpulan peraturan untuk membentuk, mengatur, atau
memerintah negara. Sedangkan menurut para ahli :
1) Koernimanto soetopawiro
Istilah konstitusi berasal dari bahasa latin cisme yang berarati bewrsama
dengan dan statute yang berarti membuat sesuatu agar berdiri. Jadi konstitusi
berarti menetapkan secara bersama.
2) Lasalle
Konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat di dalam
masyarakat seperti golongan yang mempunyai kedudukan nyata di dalam
masyarakat misalnya kepala negara angkatan perang, partai politik.
3) Herman heller
Konstitusi mempunyai arti luas daripada uud. Konstitusi tidak hanya
bersifat yuridis tettapi juga sosiologis dan politis
4) K. C. Wheare
Konstitusi adalah keseluruhan sistem ketaatanegaraaan suatu negara yang
berupa kumpulan peraturan yang mmbentuk mengatur /memerintah dalam
pemerintahan suatu negara
5) Herman Heller
Menyatakan bahwa konstitusi mencakup tiga pengertian, yaitu:
 Die politische verfassung als gesselchaffliche wirklichkeit, yaitu konstitusi
yang mencerminkan kehidupan politik di dalam masyarakat sebagai suatu
kewajiban.
 Die verselbstandigte rechtverfassung, yaitu mencari unsur-unsur hukum dari
konstitusi yang hidup dalam masyarakat tersebut untuk dihadirkan sebagai
suatu kaidah hukum.
 Die geschriebene verfassung, yaitu menuliskan konstitusi dalam suatu
naskah sebagai peraturan perundangan yang tertinggi derajatnya dan berlaku
dalam suatu negara.

Dalam perkembangannya, istilah konstitusi mempunyai dua pengertian, yaitu:


1) Dalam pengertian luas (dikemukakan oleh Bolingbroke), konstitusi berarti
keseluruhan dari ketentuan-ketentuan dasar atau hukum dasar. Seperti halnya
hukum pada umumnya, hukum dasar tidak selalu merupakan dokumen tertulis
atau tidak tertulis atau dapat pula campuran dari dua unsur tersebut. sebagai
hukum dasar yang tertulis atau undang-undang Dasar dan hukum dasar yang
tidak tertulis/ Konvensi. Konvensi sebagai aturan-aturan dasar yang timbul
dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan bearnegara mempunyai sifat :
• Merupakan kebiasaan yang berulangkali dalam prektek penyelenggaaraan
Negara.
• Tidak bertentangan dengan hukum dasar tertulis/Undang-undang Dasar dan
bearjalan sejajar.
• Diterima oleh rakyat Negara Bersifat melengkapi sehingga memungkinkan
sebagai aturan dasar yang tidak terdapat dalam Undang-undang Dasar.
Konstitusi sebagiai hukum dasar memuat aturan-aturan dasar atau pokok-
pokok penyelenggaraan bernegara, yang masih bersifat umum atau bersifat
garis besar dan perlu dijabarkan lebih lanjut kedalam norma hukum
dibawahnya.
2) Dalam arti sempit (dikemukakan oleh Lord Bryce), konstitusi berarti piagam
dasar atau UUD, yaitu suatu dokumen lengkap mengenai peraturan-peraturan
dasar negara. Contohnya adalah UUD 1945.

Istilah konstitusi secara umum menggambarkan keseluruhan sistem


ketatanegaraan suatu negara, yaitu berupa kumpulan peraturan yang membentuk
mengatur atau memerintah negara, peraturan-peraturan tersebut ada yang tertulis
dan ada yang tidak tertulis. Sehubungan dengan konstitusi ini para sarjana dan
Ilmuan Hukum Tata Negara terjadi perbedaan pendapat antara kelompok yang
menyamakan konstitusi dengan undang-undang dan yang tidak. Menurut Lord
Bryce, terdapat empat motif timbulnya konstitusi :
1) Adanya keinginan anggota warga negara untuk menjamin hak-haknya yang
mungkin terancam dan sekaligus membatasi tindakan-tindakan penguasa
2) Adanya keinginan dari pihak yang diperintah atau yang memerintah dengan
harapan untuk menjamin rakyatnya dengan menentukan bentuk suatu sistem
ketatanegaraan tertentu
3) Adanya keinginan dari pembentuk negara yang baru untuk menjamin tata cara
penyelenggaraan ketatanegaraan
4) Adanya keinginan untuk menjamin kerja sama yang efektif antar negara
bagian.

2.1.2 Kedudukan konstitusi


Konstitusi menempati kedudukan yang begitu krusial di dalam kehidupan
ketatanegaraan sebuah Negara sebab konstitusi menjadi tolak ukur kehidupan
berbangsa dan bernegara yang penuh dengan fakta sejarah perjuangan para
pahlawannya.Hampir semua Negara didunia memiliki konstitusi, kecuali inggris
yng memang tidak memiliki konstitusi atau undang-undang dasar.walupun
demikian setiap konstitusi yangmempunyai kedudukan resmi/formal yang relative
sama,yaitu hukum dasar dan hukum tinggi :
Konstitusi sebagai hukum dasar
Konstitusi berkedudukan sebagai hukum dasar karena berisi aturan dan
ketentuan tentang hal-hal yang mendasar dalam kehidupan suatu Negara.
Konstitusi sebagai hukum tertinggi
Konstitusi lazimnya juga diberikan kedudukan sebagai hukum tertinggi dala
tata hukum yang bersangkutan.

2.1.3 Macam Konstitusi


Menurut C.F. Strong konstitusi memiliki bentuk tertulis dan tidak tertulis.
Konstitusi tertulis adalah aturan – aturan pokok dasar negara , bangunan negara
dan tata negara, demikian juga aturan dasar lainnya yang mengatur perikehidupan
suatu bangsa di dalam persekutuan hukum negara. Konstitusi tidak
tertulis/konvensi adalah berupa kebiasaan ketatanegaraan yang sering timbul.
Adapun syarat – syarat konvensi adalah: Diakui dan dipergunakan berulang – ulang
dalam praktik penyelenggaraan negara, tidak bertentangan dengan UUD 1945,
memperhatikan pelaksanaan UUD 1945.
Secara teoritis konstitusi dibedakan menjadi konstitusi politik dan konstitusi
sosial. Konstitusi politik adalah berisi tentang norma- norma dalam
penyelenggaraan negara, hubungan rakyat dengan pemerintah, hubuyngan antar
lembaga negara.Sedangkan konstitusi sosial adalah konstitusi yang mengandung
cita-cita sosial bangsa, rumusan filosofis negara, sistem sosial, sistem ekonomi,
dan sistem politik yang ingin dikembangkan bangsa itu.

2.1.4 Sifat dan Fungsi Konstitusi


Sifat pokok konstitusi negara adalah fleksibel (luwes) dan rigit (kaku).
Konstitusi negara memiliki sifat fleksibel / luwes apabila konstitusi itu
memungkinkan adanya perubahan sewaktu-waktu sesuai perkembangan jaman
/dinamika masyarakatnya. Sedangkan konstitusi negara dikatakan rigit / kaku
apabila konstitusi itu sulit untuk diubah kapanpun. Adapun fungsi konstitusi adalah
:
1) Fungsi pokok konstitusi adalah membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian
rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang.
2) Menjamin hak-hak asasi warga Negara

Fungsi Konstitusi menurut, (Jimly Asshiddiqie, 2002).


1) Fungsi penentu atau pembatas kekuasaan Negara
2) Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar lembaga Negara.
3) Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antara lembaga dengan warga Negara.
4) Fungsi pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan ataupun kegiatan
penyelnggaraan kekuasaan Negara.
5) Fungsi penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan yang asli
(dalam demokrasi adalah rakyat) kepada organ Negara.
6) Fungsi simbolik yaitu sebagai sarana pemersatu (symbol of unity), sebagai
rujukan identitas dan keagungan kebangsaan (identitu of nation) serta
sebagai center of ceremony.
7) Fungsi sebagai sarana pengendalian masyarakat (social control), baik dalam
arti sempit yaitu bidang politik dan dalam arti luas mencakup bidang social
ekonomi.
8) Fungsi sebagai sarana perekayasaan dan pembaruan masyarakat.

Konstitusi merupakan tonggak atau awal terbentuknya suatu negara dan


menjadi dasar utama bagi penyelenggara negara. Oleh sebab itu, konstitusi
menempati posisi penting dan strategis dalam kehidupan ketatanegaraan suatu
negara. Konstitusi juga menjadi tolok ukur kehidupan berbangsa dan bernegara
yang sarat dengan bukti sejarah perjuangan para pendahulu sekaligus memuat ide-
ide dasar yang digariskan oleh pendiri negara ( the founding fathers ). Konstitusi
memberikan arahan kepada generasi penerus bangsa dalam mengemudikan negara
menuju tujuannya.

2.1.5 Tujuan Konstitusi


Secara garis besar konstitusi bertujuan untuk membatasi tindakan sewenang-
wenangpemerintah, menjamin hak-hak pihak yang diperintah (rakyat) dan
menetapkan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat. Sehingga pada hakekatnya
tujuan konstitusi merupakan perwujudan paham tentang konstitusionalisme yang
berati pembatasan terhadap kekuasaan pemerintah diastu pihak dan jaminan
terhadap hak-hak warga Negara maupun setiap penduduk dipihak lain.
Tujuan konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-wanang pemerintah
dan menjamin hak-hak rakyat yang diperintah, dan menetapkan pelaksanaan
kekuasan yang berdaulat. Menurut Bagir Manan, hakekat dari konstitusi
merupakan perwujudan paham tentang konstitusi atau konstitusionalisme, yaitu
pembatasan terhadap kekuasaan pemerintah di satu pihak dan jaminan terhadap
hak-hak warga negara maupun setiap penduduk di pihak lain.Sedangkan, menurut
Sri Soemantri, dengan mengutip pendapat Steenbeck, menyatakan bahwa terdapat
tiga materi muatan pokok dalam konstitusi, yaitu jaminan hak-hak manusia,
susunan ketatanegaraan yang bersifat mendasar dan pembagian serta pembatasan
kekuasaan.
Dalam paham konstitusi demokratis dijelaskan bahwa isi konstitusi meliputi :
1. Anatomi kekuasaan (kekuasaan politik) tunduk pada hukum.
2. Jaminan dan perlindungan hak-hak asasi manusia.
3. Peradilan yang bebas dan mandiri.
4. Pertanggungjawaban kepada rakyat (akuntabilitas publik) sebagai sendi utama
dari asas kedaulatan rakyat.
Keempat cakupan isi konstitusi di atas merupakan dasar utama dari suatu
pemerintah yang konstitusional. Namun demikian, indikator suatu negara atau
pemerintah disebut demokratis tidaklah tergantung pada konstitusinya. Sekalipun
konstitusinya telah menetapkan aturan dan prinsip-prinsip diatas, jika tidak
diimplementasikan dalam praktik penyelenggaraan tata pemerintahan, ia belum
bisa dikatakan sebagai negara yang konstitusional atau menganut paham konstitusi
demokrasi. Tujuan-tujuan adanya konstitusi tersebut, secara ringkas dapat
diklasifikasikan menjadi tiga tujuan, yaitu:
1) Konstitusi bertujuan untuk memberikan pembatasan pembatasan sekaligus
pengawasan terhadap kekuasaan politik
2) Konstitusi bertujuan untuk melepaskan control kekuasaan dari penguasa
sendiri
3) Konstitusi berjuan memberikan batasan-batasan ketetapan bagi para penguasa
dalam menjalankan kekuasaannya.

2.1.6 Pentingnya Konstitusi Dalam Negara


Konsekuensi logis dari kenyataan bahwa tanpa konstitusi negara tidak
mungkin terbentuk, maka konstitusi menempati posisi yang sangat krusial dalam
kehidupan ketatanegaraan suatu negara. Negara dan konstitusi merupakan lembaga
yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Dr. A. Hamid S. Attamimi,
dalam disertasinya berpendapat tentang pentingnya suatu konstitusi atau Undang-
undang Dasar adalah sebagai pegangan dan pemberi batas, sekaligus tentang
bagaimana kekuasaan negara harus dijalankan.
Sejalan dengan pemahaman di atas, Struycken dalam bukunya Net
Staatsrecht van Het Koninkrijk der Nederlanden menyatakan bahwa konstitusi
merupakan barometer kehidupan bernegara dan berbangsa yang sarat dengan bukti
sejarah perjuangan para pendahulu, sekaligus ide-ide dasar yang digariskan oleh
the founding father, serta memberi arahan kepada generasi penerus bangsa dalam
mengemudikan suatu negara yang akan dipimpin. Semua agenda penting
kenegaraan ini tercover dalam konstitusi, sehingga benarlah kalau konstitusi
merupakan cabang yang utama dalam studi ilmu hukum tata negara.
Pada sisi lain, eksistensi suatu ”negara” yang diisyaratkan oleh A. G.
Pringgodigdo, baru riel ada kalau telah memenuhi empat unsur, yaitu:
1) Memenuhi unsur pemerintahan yang berdaulat,
2) Wilayah Tertentu
3) Rakyat yang hidup teratur sebagai suatu bangsa (nation), dan
4) Pengakuan dari negara-negara lain.
Dari keempat unsur untuk berdirinya suatu negara ini belumlah cukup
menjamin terlaksananya fungsi kenegaraan suatu bangsa kalau belum ada
hukum dasar yang mengaturnya. Hukum dasar yang dimaksud adalah sebuah
konstitusi atau Undang-Undang Dasar
Prof. Mr. Djokosutono melihat pentingnya konstitusi dari dua segi. Pertama,
dari segi sisi (naar de Inhoud) karena konstitusi memuat dasar dari struktur dan
memuat fungsi negara. Kedua, dari segi bentuk (Naar de Maker) oleh karena yang
memuat konstitusi bukan sembarangan orang atau lembaga. Mungkin bisa
dilakukan oleh raja, raja dengan rakyatnya, badan konstituante atau lembaga
diktator.
Pada sudut pandang yang kedua ini, K. C. Wheare menggkaitkan pentingnya
konstitusi dengan peraturan hukum dalam arti sempit, dimana konstitusi dibuat
oleh badan yang mempunyai ”wewenang hukum” yaitu sebuah badan yang diakui
sah untuk memberikan kekuatan hukum pada konstitusi.

2.1.7 Perubahan Konstitusi di Negara Indonesia


Dalam UUD 1945 menyediakan satu pasal yang berkenaan dengan cara
perubahan UUD, yaitu pasal 37 yang menyebutkan:
1. Untuk mengubah UUD sekurang-kuranngnya 2/3 daripada anggota MPR
harus hadir;
2. Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 jumlah
angggota yang hadir.
Pasal 37 terrsebut mengandung tiga norma, yaitu:
1. Bahwa wewenang untuk mengubah UUD ada pada MPR sebagai lembaga
tertinggi negara;
2. Bahwa untuk mengubah UUD, kuorum yang dipenuhi sekurang-
kurangnya adalh 2/3 dari sejumlah anggota MPR;
3. Bahwa putusan tentang perubahan UUD adalah sah apabila disetujui oleh
sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota MPR yang hadir.

Jika dihadapkan pada klasifikasi yang disampaikan KC. Wheare, merupakan


bentuk konstitusi bersifat “tegar”, karena selain tata cara perubahannya tergolong
sulit, juga karena dibutuhkannya prosedur khusus. Menurut KC. Wheare, tingkat
kesulitan perubahan-perubahan konstitusi memilki motif-motif tersendiri yaitu:
1. Agar perubahan konstitusi dilakukan dengan pertimbangan yang masak,
tidak secara serampangan dan dengan sadar (dikehendaki);
2. Agar rakyat mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangannya
sebelum perubahan dilakukan;
3. Agar hak-hak perseorangan atau kelompok seperti kelompok minoritas
agama atau kebudayaanya mendapat jaminan.
Apabila kita amati mengenai system pembaharuan konstitusi di berbagai
Negara , terdapat dua system yang berkembang yaitu renewel (pembaharuan) dan
Amandement (perubahan). System renewel adalah bila suatu konstitusi dilakukan
perubahan (dalam arti diadakan pembaharuan) maka yang berlaku adalah
konstitusi baru secara keseluruhan. System ini dianut di Negara-negara Eropa
Kontinental. System Amandement adalah bila suatu konstitusi yang asli tetap
berlaku sedang hasil amandemen tersebut merupakan bagian atau dilampirkan
dalam konstitusi asli. Sistem ini dianut di Negara-negara Anglo Saxon.
Factor utama yang menentukan pembaharuan UUD adalah berbagai
pembaharuan keadaan di masyarakat. Dorongan demokrasi, pelaksanaan paham
Negara kesejahteraan (welfare state), perubahan pola dan system ekonomi akibat
industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi kekuatan
(forces) pendorong pembaharuan UUD. Demikian pula dengan peranan UUD itu
sendiri. Hanya masyarakat yang berkendak dan mempunyai tradisi menghormati
dan menjunjung tinggi UUD yang akan menentukan UUD dijalankan sebagaimana
semestinya.
Menurut KC Wheare, perubahan UUD yang timbul akibat dorongan kekuatan
(forces) dapat berbentuk:
1) Kekuatan tertentu dapat melahirkan perubahan keadaan tanpa mengakibatkan
perubahan bunyi tertulis dalam UUD. Yang terjadi adalah pembaharuan
makna. Suatu ketentuan UUD diberi makna baru tanpa mengubah bunyinya.
2) Kekuatan kekuatan yang melahirkan keadaan baru itu mendorong perubahan
atas ketentuan UUD, baik melalui perubahan formal, putusan hakim, hukum
adat maupun konvensi.

Secara Yuridis, perubahan konstitusi dapat dilakukan apabila dalam konstitusi


tersebut telah ditetapkan tentang syarat dan prosedur perubahan konstitusi.
Perubahan konstitusi yang ditetapkan dalam konstitusi disebut perubahan secara
formal (formal amandement). Disamping itu perubahan konstitusi dapat dilakukan
melalui cara tidak formal yaitu oleh kekuatan-kekuatan yang bersifat primer,
penafsiran oleh pengadilan dan oleh kebiasaan dalam bidang ketatanegaraan.
Menurut CF Strong ada empat macam cara prosedur perubahan konstitusi,
yaitu:
1. Melalui lembaga legislative biasa tetapi dibawah batasan tertentu.( By the
ordinary legislature, but under certain restrictions) Ada tiga cara yang
diizinkan bagi lembaga legislative untuk melakukan amandemen konstitusi.
2. Untuk mengubah konstitusi siding legislative harus dihadiri sekurang-
kurangnya 2/3 jumlah keseluruhan anggota lembaga legislative. Keputusan
untuk mengubah konstitusi adalah sah bila disetujui oleh 2/3 dari jumlah
anggota yang hadir.
3. Untuk mengubah konstitusi, lembaga legislative harus dibubarkan lalu
diselenggarakan Pemilu. Lembaga legislative yang baru ini yang kemudian
melakukan amandemen konstitusi.
4. Cara ini terjadi dan berlaku dalam system dua kamar. Untuk mengubah
konstitusi, kedua kamar harus mengadakan sidang gabungan. Sidang inilah
yang berwenang mengubah konstitusi sesuai dengan syarat cara kesatu.
5. Melalui rakyat lewat referendum. (By the people through a referendum)

Apabila ada berkehendak untuk mengubah konstitusi maka lembaga Negara


yang berwenang m,engajukan usul perubahan kepada rakyat melalui referendum.
Dalam referendum ini rakyat menyampaikan pendapatnya dengan jalan menerima
atau menolak usul perubahan yang telah disampaikan kepada mereka. Penentuan
diterima atau ditolaknya suatu usul perubahan diatur dalam konstitusi
a) Melalui suara mayoritas dari seluruh unit pada Negara federal.( By a majority
of all units of a federal state). Cara ini berlaku pada Negara federal. Perubahan
terhadap konstitusi ini harus dengan persetujuan sebagian besar Negara
bagian. Usul perubahan konstitusi diajukan oleh Negara serikat tetapi
keputusan akhir berada di tangan Negara bagian. Usul perubahan juga dapat
diajukan oleh Negara bagian.
b) Melalui konvensi istimewa.( By a special conventions)

Cara ini dapat dijalankan pada Negara kesatuan dan Negara serikat. Bila
terdapat kehendak untuk mengubah UUD maka sesuai ketentuan yang berlaku
dibentuklah suatu lembaga khusus yang tugas serta wewenangnya hanya
mengubah konstitusi.usul perubahan dapat berasal dari masing-masing lembaga
kekuasaan dan dapat pula berasal dari lembaga khusus tersebut. Bila lembaga
khusus tersebut telah melaksanakan tugas dan wewenangnya sampai selesai
dengan sendirinya dia bubar.
Pada dasarnya dua metode amandemen konstitusi yang paling banyak
dilakukan di Negara-negara yang menggunakan konstitusi kaku: pertama
dilakukan oleh lembaga legislative dengan batasan khusus dan yang kedua,
dilakukan rakyat melalui referendum. Dua cara yang lain dilakukan pada Negara
federal. Meski tidak universal dan konvensi istimewa umumnya hanya bersifat
permisif (dapat dipakai siapa saja dan dimana saja). Berdasarkan hasil penelitian
terhadap beberapa konstitusi dari berbagai Negara dapat dikemukaka hal-hal yang
diatur dalam konstitusi mengenai perubahan konstitusi, yaitu:
1. Usul inisiatif perubahan konstitusi.
2. Syarat penerimaan atau penolakan usul tersebut menjadi agenda resmi bagi
lembaga pengubah konstitusi.
3. Pengesahan rancangan perubahan konstitusi.
4. Pengumuman resmi pemberlakuan hasil perubahan konstitusi.
5. Pembatasan tentang hal-hal yang tidak boleh diubah dalam konstitusi.
6. hal-hal yang hanya boleh diubah melalui putusan referendum atau klausula
khusus.
7. Lembaga-lembaga yang berwenang melakukan perubahan konstitusi, seperti
parlemen, Negara bagian bersama parlemen, lembaga khusus, rakyat melalui
referendum.

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, Konstitusi atau Undang-undang


Dasar 1945 yang diberlakukan di Indonesia, telah mengalami perubahan-
perubahan dan masa berlakunya di Indonesia, yakni dengan rincian sebagai
berikut:
a) Undang-undang dasar 1945 (18 Agustus 1945-27 Desember 1949);
b) Konstitusi Republik Indonesia Serikat (27 Desember 1949-17 Agustus 1950);
c) Undang-undang Dasar Semntara Rrepublik Indonesia 1950 (17 Agustus 1950-
5Juli 1959);
d) Undang-undang Dasar 1945 (5 Juli 1959-19 Oktober 1999);
e) Undang-undang Dasar 1945 dan Perubahan I (19 Oktober 1999-18 Agustus
2000);
f) Undang-undang Dasar 1945 dan Perubahan I dan II (18 Agustus 2000-9
Nopember 2001);
g) Undang-undang Dasar 1945 dan peereubahan I, II, dan III (9 Nopember 2001-
10 Agustus 2002);
h) Undang_undang Dasar 1945 dan perubahan I,II, III dan IV (10 Agustus 2002).

2.2 Contoh Masalah dan Penyelesaiannya dalam Konstitusi


Dalam khazanah hukum tata negara (constitutional law), kejahatan konstitusi
lebih sering ditujukan pada kejahatan-kejahatan yang secara eksplisit disebutkan
dalam konstitusi. Misalnya kejahatan yang bermuara pada pemakzulan, seperti
korupsi, pengkhianatan terhadap negara, suap, dan tindak pidana berat lainnya.
Biasanya tindakan ini dilakukan oleh mereka yang melakukan tugas publik (public
official), sehingga dapat bermuara pada proses pemberhentian dalam masa jabatan.

 Gerakan Aceh Merdeka (GAM)


Gerakan Aceh Merdeka adalah salah satu masalah konstitusi tentang
pengkhianatan terhadap negara. Setelah rezim Soekarno jatuh, tokoh-tokoh
Aceh berharap bahwa kehidupan sosial, ekonomi, dan politik di daerahnya bisa
terwujud lebih baik dibandingkan dengan yang terjadi sepanjang era Orde
Lama. Tapi, harapan ini tidak terwujud karena rakyat Aceh masih tetap saja
miskin. Provinsi Aceh pada saat itu dapat diibaratkan seperti “sapi perah”
kekayaan alamnya dikuras, sementara keuntungan yang didapat diambil oleh
pemerintah pusat dan yang dikembalikan kepada Aceh dalam bentuk
pembangunan tidakk sebanding dengan sumbangan yang telah diberikannya
untuk Republik Indonesia. Hampir seluruh hasil sumber daya alam dari Aceh
diserap oleh pemerintah pusat dan hanya sebagian kecil saja yang dikembalikan
ke Aceh. Ketidakpuasan terhadap situasi dan kondisi Aceh yang makin
menurun secara social, ekonomi, dan moral, mendorong beberapa kalangan
masyarakat untuk mengangkat kembali cita-cita Aceh masa lalu sebagai bangsa
yang makmur, berdaulat dan islami. Diantaranya dengan mendirikan negara
Aceh berdiri sendiri lepas dari pemerintahan Indonesia.
Gerakan Aceh Merdeka berlangsung dari tahun 1976-2005. Bukan suatu
hal yang mudah untuk mengakhiri konlik yang berlangsung selama puluhan
tahun tersebut karena ketidakpercayaan diantara kedua pihak (GAM dan RI)
untuk memulai proses dialog. Adanya mediator yang berhasil membujuk pihak
yang bertikai untuk memahami makna dari perdamaian merupakan gambaran
yang populer dari resolusi konflik.
Mediasi yang dilakukan oleh Henry Dunant Centre dan Crisis
Management Initiative dalam menyelesaikan konflik Aceh adalah dengan terus
berusaha mendapatkan solusi yang didasarkan pada pandangan dan pengalaman
dari Pemerintah Indonesia dan GAM. Sehingga berbagai kesepakatan yang
telah dihasilkan untuk menghentikan kekerasan (penyelesaian konflik) dapat
disetujui. Kemudian melalui proses mediasi inilah akhirnya perdamaian antara
Pemerintah Indonesia dengan GAM dapat tercapai, hal ini ditandai dengan
ditandatanganinya Nota Kesepahaman Perdamaian (Memorndum of
Understanding / MoU) pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.
Situasi damai yang telah tercipta di bumi Aceh hingga kini terus dijaga
baik oleh Pemerintah Indonesia maupun GAM dengan memenuhi butir-butir
kesepakatan yang tercantum dalam Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian
Aceh tersebut. Karena keberhasilan proses perdamaian dan implementasi
kesepakatan damai pada dasarnya berada sepenuhnya ditangan para pihak untuk
setia pada kesepakatan yang telah ditandatangani, sedangkan pihak ketiga
sebagai juru damai (mediator) dalam hal ini hanya sebagai pemantau
pelaksanaan perdamaian.

 Kasus Korupsi Bank Century


Kasus Korupsi Bank Century adalah kasus korupsi yang sempat heboh
di Indonesia pada tahun 2008-2009. Dana korupsi pada kasus ini sebesar 6,7
triliun rupiah. Kasus bank century ini ramai dibahas di media karena mantan
gubernur Bank Indonesia, Budiono, yang pada saat itu juga menjadi wakil
presiden dikait-kaitkan dengan kasus ini. Dari beberapa diskusi dalam media,
diketahui bahwa masalah utama dalam kasus bank century ini ialah keputusan
bail out bank century yang kontroversial.
Masalah bermula saat Budi Sampoerna (salah satu nasabah) tak dapat
menarik uangnya yang berjumlah sekitar 2 triliun rupiah dari bank century.
Sepekan kemudian, bos Bank Century Robert Tantular membujuk Budi dan
anaknya yang bernama Sunaryo, agar menjadi pemegang saham dengan alasan
Bank Century mengalami likuiditas. Sejak itu, Bank Century mulai diselidiki
oleh Menteri Keuangan dan KPK. Pada November 2008, Robert Tantular
ditangkap di kantornya dan langsung ditahan di Rumah Tahanan Markas Besar
Polri. Robert diduga mempengaruhi kebijakan direksi sehingga mengakibatkan
Bank Century gagal kliring. Pada saat yang sama, Maryono mengadakan
pertemuan dengan ratusan nasabah Bank Century untuk meyakinkan bahwa
simpanan mereka masih aman.
Setelah penyelelidikan beberapa lama dengan KPK dan tim khusus
yang dibentuk oleh KPK, kasus ini tak kunjung menemukan titik terang sampai
akhirnya pemerintah Indonesia mengucurkan dana talangan sebesar Rp 6,7
triliun untuk menyelamatkan Bank Century pada 2008
Pada Oktober 2009, Pemilik baru Bank Century Tbk yaitu Lembaga
Penjamin Simpanan (yang mendapatkan dana dari iuran bank-bank yang ikut
mendirikannya) memutuskan mengganti namanya menjadi Bank Mutiara Tbk.
 Kasus pelanggaran pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
dan Jusuf Kala
Dalam masa pemerintahan SBY-JK terdapat pelanggaran konstitusi
dalam dua hal.
1) Pemerintah telah melanggar preambule UUD 1945, sebab dalam preambule
disebutkan tujuan Negara RI adalah memajukan kesejahteraan umum,
sementaara kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah dibuat lebih
menguntungkan kepentingan asing yang hanya berorientasi pada
keuntungan asing tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan lebih
menyengsarakan rakyat. Bahkan seluruh aspek perekonomian riil terpukul
dengan kebijakan pemerintah yang condong kepada kepentingan asing.
2) Pemerintah juga telah melanggar Pasal 33 yang mana dalam pasal tersebut
menjelaskan bahwa semua sumber kekayaan alam Indonesia dikelola oleh
Negara dan digunakan sepenuhnya demi kemakmuran rakyat. Namun dalam
kenyataannya pemerintah hanya berpatokan pada UU Migas 2001 untuk
mengeksploitasi alam Indonesia. Padahal kalau di tilik lebih dalm UU
Migas 2001 malah mengamanahkan liberalisasi sektor migas Indonesia baik
sektor hulu maupun sektor hilir.

Dari kasus diatas jelas sekali bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah


hanya akan menguntungkan pihak asing. Pemerintahpun dalam APBN lebih
memperioritaskan pembayaran hutang kepada IMF, Bank Dunia serta Negara-
negara maju seperti AS dan Jepang. Seharusnya sumberdaya alam Indonesia
adalah milik rakyat sedang pemerintah hanya sebagai pengelola yang nantinya
hasil dari pemanfaatan SDA alam tersebut akan kemabalilagi ke rakyat
sehingga rakyatpunakan semakin sejahtera.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1) Konstitusi menurut makna katanya berarti dasar susunan suatu badan politik
yang disebut Negara.
2) Sifat pokok konstitusi negara adalah fleksibel (luwes) dan rigit (kaku).
 Konstitusi negara memiliki sifat fleksibel / luwes apabila konstitusi itu
memungkinkan adanya perubahan sewaktu-waktu sesuai perkembangan
jaman dinamika masyarakatnya.
 Sedangkan konstitusi negara dikatakan rigit / kaku apabila konstitusi itu
sulit untuk diubah kapanpun.
Adapun fungsi konstitusi adalah:
3) Fungsi pokok konstitusi adalah membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian
rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang
dan mampu menjamin hak-hak asasi warga Negara
4) Kedudukan konstitusi yaitu:
 Konstitusi sebagai hukum dasar
Konstitusi berkedudukan sebagai hukum dasar karena berisi aturan dan
ketentuan tentang hal-hal yang mendasar dalam kehidupan suatu Negara.
 Konstitusi sebagai hukum tertinggi
Konstitusi lazimnya juga diberikan kedudukan sebagai hukum tertinggi
dala tata hukum yang bersangkutan.