Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TEKNOLOGI PENCELUPAN 3

“PENCELUPAN POLIESTER-CDP DENGAN MENGGUNAKAN


ZAT WARNA DISPERSI-KATIONIK”

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teknologi Pencelupan 3

Disusun oleh :
Nama :1. Wahyu Robi’ah Nuralhasanah (16020009)
2. Nurfadilah Ikhsani (16020011)
3. Sunandita Fadillah (16020012)
4. Yessy Arya Saputri (16020013)
5. Hafilda Narulita A (16020014)
Grup : 3K1
Dosen : Dede Karyana S.Teks, M.Si.
Asisten : Ikhwanul M., S.ST., M.T.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Saat ini Industri sandang cenderung untuk menggunakan bahan dari serat sintetis
yang memiliki beberapa keunggulan dalam hal keawetan dan kenyaman pemakaian. Serat
poliester dan CDP (Poliester yang dimodifikasi) merupakan bahan yang sering digunakan
dalam memproduksi kain sandang baik untuk campurannya maupun untuk bahan tunggal.
Poliester memiliki sifat stabilitas dimensi yang tinggi serta ketahanan terhadap zat kimia
maupun gerakan mekanik yang baik, akan tetapi daya serap airnya rendah. Untuk itu
serat poliester biasanya dicampur dengan serat CDP guna memperbaiki kekurangan yang
ada. Pencampuran antara serat poliester dengan CDP ini akan menaikkan daya serap
terhadap zat warna dispersi. Hal ini disebabkan serat CDP mempunyai kemampuan
menyerap zat warna lebih besar dibanding serat poliester, selain itu juga serat tersebut
dapat dicelup dengan zat warna kationik. Penggunaan dua jenis zat warna ini pada kain
campuran poliester CDP akan menimbulkan efek two tone (efek ganda warna) yang
sangat diminati konsumen.

1.2. Rumusan Masalah

 Bagaimana resep pencelupan kain campuran poliester-CDP menggunakan zat warna


dispersi-kationik?

 Bagaimana skema proses pencelupan kain campuran poliester-CDP menggunakan


zat warna dispersi-kationik dalam metoda exaust 2 bath 2 stage, 1 bath 2 stage dan
juga 1 bath 1 stage?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Serat Poliester

Poliester merupakan serat sintetis yang dibuat dari asam tereftalat dan etilena
glikol. Pemintalan dilakukan dengan cara pemintalan leleh yang menghasilkan morfologi
berbentuk silinder dengan penampang melintang bulat. Morfologi serat polyester tidak
hanya berbentuk bulat, tetapi juga dapat berbentuk lain sesuai dengan lubang spineret.
Poliester dalam bentuk stapel terkenal sebagai serat pencampur paling baik karena
bisa dicampur dengan begitu banyak jenis serat, menghasilkan bahan dengan perbaikan
sifat yang diinginkan tanpa terjadi kerusakan pada komponen seratnya.Serat poliester
dalam bentuk filamen terkenal sebagai serat yang paling multifungsi. Serat poliester telah
mempunyai warna putih sehingga tidak perlu lagi dikelantang.

1. Sifat Kimia Poliester

Poliester tahan tehadap asam lemah meskipun pada suhu mendidih, dan tahan
asam kuat dingin. Poliester tahan tehadap basa lemah, tetapi kurang tahan terhadap
basa kuat. Poliester tahan terhadap zat oksidator, alkohol, keton, sabun, dan zat-zat
untuk pencucian kering. Poliester meleleh diudara pada suhu 250oC dan tidak
menguning pada suhu tinggi.

2. Sifat Fisika Poliester

Poliester memiliki elastisitas yang baik sehingga kain polyester tahan kusut. Berat
jenisnya adalah 1,38, memiliki morfologi berbentuk silinder dengan penampang
lintang bulat (peneampang melintang sesuai dengan spinneret). Poliester adalah serat
sintetik yang terbentuk dengan cara polimerisasi kondensasi asam tereftalat dengan
etilena glikol pada temperatur tinggi. Poliester dari 1,2-ethanediol (etilena glikol) dan
benzene 1,4-asam dikarboksilat (asam tereptalik) telah diolah dan ditemukan meleleh
pada suhu ± 265 ºC, dimana hasilnya poliester lebih dikenal dengan poli (etilena
tereftalat).

nHOOC COOH + nHO-CH2-CH2-OH

Asam Tereftalat Etilena Glikol

=
H O-C C - O - CH2 - CH2 OH + (2n-1) H2O

=
O n

Polietilena Tereftalat Air

Setiap unit polimer di dalam serat poliester terikat satu dengan yang lainnya
membentuk ikatan hidrogen dan van der waals. Dengan tingginya tingkat orientasi
selama pembuatan filamen menyebabkan suatu struktur yang kompak dan sejajar
dengan sumbu serat sehingga daya serap poliester menjadi lemah.
Poliester tahan asam lemah dan asam kuat dingin, basa lemah, tetapi kurang
tahan basa kuat. Serat poliester 100% mempunyai sifat-sifat yang baik seperti tahan
gosokan, sifat cuci dan pakai (wash and wear) sifat tahan kusut dan dimensi yang
stabil. Selain sifat-sifat di atas, serat poliester 100% dikenal dapat menimbulkan
elektrostatik bila dipakai.

2.2. Serat CDP

Serat CDP merupakan serat poliester yang sudah dimodifikasi, yang telah
diberi komponen tambahan. Serat CDP dibuat dari kopolimerisasi komponen yang
dapat mengikat zat warna kation. Komponen ketiga tersebut antara lain adalah asam
sulfoisoftalat. Komponen ketiga ditambahkan pada asam tereftalat dan etilena glikol
sebagai komponen utama dari polimer poliester. Dengan ditambahkannya zat tersebut,
maka sifat kimia dan fisika poliester berubah sehingga memiliki afinitas terhadap zat
warna kation dan zat warna dispersi.

n HO–CH2–CH2–OH + (n-x) HOOC COOH + x HOOC COOH

SO3H
O O O O
HO-CH2-CH2-O-C C-O-CH2-CH2-O-C C-O-R + n H2O

SO3H

Sifat yang dimiliki serat CDP antara lain adalah :

 Karena adanya penambahan komponen ketiga, derajat orientasi dan derajat


kristalinitas menurun sehingga kekuatan dan titik lelehnya menurun pula.
 CDP memiliki sifat anti pilling, hal ini dikarenakan kekuatan gesekan filamen CDP
relatif lebih rendah daripada poliester biasa. Serat yang putus karena gesekan tidak
akan membentuk pilling karena kekuatan serat yang rendah, sehingga serat tersebut
mudah lepas.
 CDP mempunyai daya mulur lebih rendah dari serat poliester biasa, tetapi lebih tinggi
dari serat wol.
 Serat CDP tahan terhadap asam lemah tetapi akan terhidrolisa pada asam kuat.
 Serat CDP tahan terhadap alkali lemah pada suhu kamar, tetapi jika suhu dinaikkan
sampai suhu mendidih atau lebih akan menurunkan kekuatan serat CDP. Serat CDP
akan cepat rusak bila dikerjakan dengan alkali kuat pada suhu dan tekanan tinggi.
 Pengerjaan dengan waktu lama dengan eduktor akan menurunkan kekuatan serat,
sedangkan ketahanan terhadap oksidator cukup baik.

2.3. Zat Warna Dispersi

Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara sintesis, memiliki
sifat kelarutan yang kecil dalam air dan merupakan larutan disperse. Zat warna dispersi
digunakan untuk mewarnai serat-serat hidrofob seperti serat poliamida, poliester dan
poliakrilat. Zat warna dispersi merupakan zat warna nonion yang terdiri dari inti kromofor
azo dan antrakuinon.
 Kromofor Golongan Azo

Dispersol Yellow 3G

 Kromofor Golongan Antrakuinon

Duranol Blue G.

Meskipun azobenzena dan antrakuinon dalam bentuk dispersi dapat mencelup serat
hidrofob, kebanyakan zat warna dispersi mengandung gugus aromatik dan alifatik yang
mengikat gugusan fungsional (-OH, -NH2, NHR dan sebagainya) dan bertindak sebagai
gugus pemberi (donor) hidrogen. Gugus fungsional dapat membentuk ikatan hidrogen
dengan gugus karbonil atau gugus asetil dari serat yang dicelup.
Dalam pemakaian zat warna dispersi, diperlukan bantuan zat pendispersi yang
berfungsi mendispersikan zat warna dispersi dalam larutan celup sehingga dapat digunakan
untuk mencelup serat hidrofob. Sehubungan dengan struktur serat hidrofob yang umumnya
relatif rapat maka ukuran molekul zat warna dispersi harus kecil dan ramping agar
penyerapan zat warnanya baik, oleh karena itu zat warna dispersi umumnya berupa zat
warna monoazo. Contoh :
Pengaturan letak gugus nitro pada posisi orto terhadap azo pada CI Disperse Yellow
8 tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan zat warna yang tahan luntur warna terhadap
sinarnya baik. Untuk mendapatkan efek batokromik yang lebih besar pada struktur zat
warna yang kecil dapat digunakan komponen kopling NN-dialkilanilin yang tersubstitusi
pada posisi 𝜔, dan menempatkan letak auksokrom NN-dialkil sebagai gugus pemberi
elektron kuat tersebut bersebrangan dengan letak gugus penarik elektron seperti gugus
nitro pada ujung komponen diazo, sehingga resonansi elektron pada struktur zat warnanya
makin luas dan makin polar seperti pada contoh berikut :

Komponen kopling CI Disperse Red 90 adalah senyawa amina tersier kompleks yang
membawa gugus siano dan karboetoksi pada rantai alkilnya. Pemasukan gugus sianoetif
pada senyawa amina tersier tersebut dimaksudkan agar zat warnanya mempunyai
ketahanan luntur warna terhadap cahaya dan sublimasi yang lebih baik. Guna mendapatkan
zat warna dispersi yang lebih tahan suhu tinggi dibuat pula zat warna dispersi yang
molekulnya lebih besar tapi ramping. Contoh berupa jenis diazo yang sederhana yang juga
secara ekonomis murah, contoh :

Untuk proses pencapan rusak (discharge printing) dan pencelupan kain campuran
poliester katun, dibuat pula zat warna dispersi dan komponen kopling amina tersier yang
mengandung gugus ester, contoh :

Gugus ester tersebut pada proses pencucian dalam suasana alkali akan terhidrolisis
menjadi karboksilat sehingga zat warna berubah menjadi larut, akibatnya, proses
penghilangan zat warna dispersi yang menodai serat katun akan menjadi lebih mudah.

Sifat Zat Warna Dispersi

 Bersifat hidrofob
 Molekulnya kecil
 Tahan luntur warna terhadap sinar kurang baik. Hal ini dikarenakan ikatan zat warna
dengan serat yang dihasilkan adalah ikatan hidrogen dan hidrofobik.
 Tahan luntur warna terhadap pencucian baik
 Kelarutan dalam air sangat kecil
 Mempunyai titik kejenuhan 30-200 mg/g zat warna dalam serat
 Pada umumnya, tidak mengalami perubahan kimia selama proses pencelupan
berlangsung
 Membuat ikatan hidrogen dan ikatan hidrofobik saat berikatan dengan serat
 Apabila digerus sampai halus dan didispersikan dengan zat pendispersi dapat
menghasilkan dispersi yang stabil dalam larutan pencelupan dengan ukuran partikel 0,5-
2,0 mikron

Tipe Zat Warna Dispersi


Klasifikasi, sifat dan pengunaan zat warna dispersi secara umum dapat dilihat pada tabel
berikut ini :

Suhu Tahan Suhu


Tipe Ukuran Metoda Celup
Serat Sublimasi Luntur Kerataan Termosol
ZW Molekul
(OC) Warna (OC)
Carrier HT/HP Padding
A Poliakrilat 150 Baik
Poliester/ Mudah Kurang Kurang
B 190 Baik Cocok 200
Poliamida rata cocok cocok
Poliester/ Lebih
C 200 Rata Bisa Bisa Bisa 210
Poliamida baik
Poliester/ Baik Sukar Kurang
D 210 Cocok Cocok 220
Poliamida sekali rata cocok

2.4. Zat Warna Kationik

Zat warna kationik merupakan zat warna sintetik yang pertama kali ditemukan oleh
W.H Perkin pada tahun 1856, sebagai zat warna Mauvein, yakni Magenta dan Malachite
Green. Zat warna kationik terionkan di dalam mediumnya dengan gugus kromofor yang
bersifat kation, sehingga sering disebut sebagai zat warna kation, yang dapat mencelup serat
protein, poliamida dan poliakrilat berdasarkan ikatan elektovalen.
Struktur Kimia Zat Warna Kationik
Zat warna kationik sebagian besar molekulnya tersusun oleh senyawa alkilol
fenilamina yang dapat membentuk garam dengan asam sebagai berikut :
Zat warna kation yang diperdagangkan dapat berbentuk garam dengan asam
hidro-klorida sebagai asamnya dan mungkin pula berbentuk garam rangkap dengan
seng klorida.
Sifat-Sifat Umum Zat Warna Kationik
 Mempunyai kecerahan dan intensitas warna yang tinggi.
 Zat warna kation larut dalam alkohol dan asam asetat 30%, tetapi pada
umumnya tidak mudah larut dalam air sehingga seringkali terjadi
penggumpalan.
 Pendidihan yang lama akan mengakibatkan sebagian zat warna terurai yang
menghasilkan penurunan intensitas warna.
 Zat warna kation dapat diendapkan dengan zat warna direk dan zat warna
asam, terutama dalam larutan yang tidak encer.
 Ketahanan terhadap sinar tergantung pada gugus yang dikandung oleh serat,
yang mengandung gugus sulfonat ketahanan sinarnya lebih baik daripada
mengandung gugus karboksilat.
 Ketahanan terhadap pencucian sangat baik.

Zat warna kationik adalah sekelompok zat warna yang larut air dengan warna-
warna cerah. Zat warna ini mengionisasi menjadi ion kation dalam larutan air dan serat
dengan membentuk hubungan ion dengan gugus asam pada serat melalui fungsi muatan
listrik. Zat warna kationik terutama digunakan dalam pencelupan dan pencetakan kain
polypropylene dan pencelupan dimodifikasi polyester dan polyacrylicsserat.
Zat warna kationik diklasifikasikan ke dalam enam kelompok yaitu umum, X, M, SD, L dan
menurut pencelupan dan sifatnya:
 Kelompok Umum
Zat warna kationik jenis umum memiliki tahan luntur warna pencucian baik dan
tahan luntur cahaya, cocok untuk pencelupan menengah dan gelap untuk kain rajut,
campuran serat polyacrylonitrile non-woven, kain bulked dengan warna sedang
atau gelap, dan selimut dari polyacrylonitrile. Kelompok ini mencakup Red 2GL,
Light Yellow 7GL, Brilliant Blue RL, Pink FG, Turquoise Biru GB, Hitam WHL,
dll.
 Grup X
Zat warna kationik jenis ini memiliki sifat kerataan yang baik untuk pencelupan
benang polyacrylonitrile yang bulky dan campuran dengan wol. Kelompok ini
mencakup kuning X-8GL, Golden Yellow X-GL, Red X-GRL, Biru X-GRL, Biru-
X-grrl, Black X-2RL, dll.
 Grup M
Zat warna kationik jenis ini memiliki kemampuan migrasi dan kerataan yang baik,
cocok untuk pencelupan benang polyacrylonitrile yang bulky. Jenis ini mencakup
Red M-RL, Kuning M-RL, Biru M-RL atau Black M-RL, dll.
 Grup SD
Zat warna kationik jenis SD memiliki perilaku yang sangat baik dan tahan suhu
tinggi saat pencelupan, cocok untuk pencelupan polyacrylonitrile, Cationik Dyeable
Polyester, dan pencelupan polyacrylonitrile / wol dengan campuran zat warna asam
dan poliester asam-dimodifikasi / polyester dengan zat warna disperse. Jenis ini
mencakup Brilliant Red SD-GRL, Red SD-5GL, Yellow SD-5GL, Biru SD-GSL,
Biru SD-RL, Black SD-RL dan Black SD-O, dll.
 Grup L
Zat warna kationik jenis L pewarna kationik berbentuk cair dan mampu dicampur
dengan air dalam rasio apapun, cocok untuk pencelupan benang polyacrlonitrile
basah. Jenis ini mencakup Brilliant Red L-5GN, Red LX-GRL, Golden Yellow LX-
GL, Yellow LX-GRL, Biru LX-BL, Biru LX-GRL dan Black LX-RL, dll.

 Grup D
Zat warna kationik jenis D adalah zat warna dischargeable, cocok untuk pencapan
rusak sebagai landasan. Kelompok ini mencakup Red D-TL, Yellow D-2RL,
Orange D-BRL, Biru D-2GL dan Black D-HO, dll.
2.5. Mekanisme

 Pencelupan poliester dispersi

Mekanisme lain menjelaskan demikian : zat warna dispersi berpindah dari keadaan
agregat dalam larutan celup masuk kedalam serat sebagai bentuk molekuler. Pigmen zat
warna dispersi larut dalam jumlah yang kecil sekali, tetapi bagian zat warna yang terlarut
tersebut sangat mudah terserap oleh bahan. Sedangkan bagian yang tidak larut merupakan
timbunan zat warna yang sewaktu-waktu akan larut mempertahankan kesetimbangan.
Bagian zat warna dalam bentuk agregat, pada suatu saat akan terpecah menjadi
terdispersi monomolekuler. Zat warna dispersi dalam bentuk ini akan masuk ke dalam serat
melalui pori-pori serat.
Pencelupan dimulai dengan adsorpsi zat warna pada permukaan serat, selanjutnya
terjadi difusi zat warna dari permukaan ke dalam serat. Adsorpsi dan difusi zat warna ke
dalam serat dapat dipercepat dengan menaikkan temperatur proses.
Dalam air, serat akan memiliki gaya dipol antar serat. Gaya ini terjadi karena atom karbon
bermuatan parsial positif (+) dan atom oksigen bermuatan parsial negatif (-). Gaya dipol
akan renggang pada saat pemanasan di atas 80oC sehingga zat warna bisa masuk ke dalam
serat. Pada suhu tinggi, rantai-rantai molekul serat pada daerah amorf mempunyai mobilitas
tinggi dan pori-pori serat mengembang. Kenaikan suhu menyebabkan adsorpsi dan difusi zat
warna bertambah. Energi rantai molekul serat bertambah sehingga mudah bergeser satu
sama lain dan molekul zat warna dapat masuk ke dalam serat dengan cepat. Masuknya zat
warna ke dalam serat dibantu pula dengan adanya tekanan tinggi.

Zat warna akan menempati bagian amorf dan terorientasi dari serat. Pada saat
pencelupan berlangsung, kedua bagian tersebut masih bergerak sehingga zat warna dapat
masuk di antara celah-celah rantai molekul dengan adanya ikatan antara zat warna dengan
serat. Ikatan yang terjadi antara serat dengan zat warna mungkin merupakan ikatan fisika,
tetapi dapat pula merupakan ikatan hidrogen yang terbentuk dari gugusan amina primer pada
zat warna dengan gugusan asetil pada molekul serat.
 Ikatan Antara Zat Warna Kationik dan CDP :

Pelarutan zat warna kationik dengan CH3COOH:

CH3COOH  CH3COO- + H+

ZW – NH2 + H+  ZW – NH3+

Tidak larut Larut

Pembentukan ikatan ionik antara zat warna kationik yang larut dengan serat CDP yang
telah mengion dalam air :

ZW – NH3+

Zat Warna Kationik


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Resep

 Resep Pencelupan

Resep Pencelupan Zat Warna Dispersi

Zat Warna Dispersi : x% owf

Zat Pendispersi : 1 ml/l

Asam Asetat : 2 ml/l

Vlot : 1:20

Suhu : 120-130 OC

Waktu : 30 menit

Resep Pencelupan Zat Warna Kationik

Zat Warna Kationik : x% owf

Asam Asetat : 2 ml/l

Natrium asetat : 2 g/l

NaCl : 3 g/l

Vlot : 1:20

Suhu : 120 OC

Waktu : 30 menit
 Resep Pencucian Reduksi

NaOH : 1 g/l

Na2S2O4 : 2 g/l

Vlot : 1:20

Suhu : 80 OC

Waktu : 10 menit

 Resep Pencucian Sabun

Sabun : 1 g/l

Na2CO3 : 1 g/l

Vlot : 1:20

Suhu : 70OC

Waktu : 10 menit

3.2.Skema Proses

 Metoda Exhaust 2 Bath 2 Stage

130 OC
zw dispersi NaOH
pendispersi anionik O Na2S2O4
110 C
asam asetat
80 OC
70 OC

40 OC 5’ 20’ 5’ 30’ 10’ 10’


zw kationik 120 OC
asam asetat
na-asetat
NaCl
80 OC
Sabun
Na2CO3

70 OC

40 OC
5’ 10’ 5’ 10’ 30 ‘ 10’ 10’

 Metoda Exhaust 1 Bath 2 Stage

130 OC zw kationik
zw dispersi 120 OC
asam asetat
pendispersi anionik NaOH
110 OC na-asetat
asam asetat Na2S2O4 Sabun
NaCl Na2CO3
80 OC
70 OC 80 OC
70 OC

40 OC 20’ 10’ 5’ 5’ 10’ 10’ 10’ 10’ 10’


5’ 5’ 30’ 30’

 Metoda Exhaust 1 Bath 1 Stage

zw dispersi 120 OC
pendispersi modified anionik NaOH
asam asetat Na2S2O4 Sabun
zw kationik Na2CO3
80 OC
na-asetat 80 OC
NaCl 70 OC

5’ 15’ 5’ 20’ 30’ 10’ 10’ 10’


BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Kain campuran poliester-CDP dapat dicelup menggunakan zat warna dispersi-
kationik dengan metoda exhaust 2 bath 2 stage, 1 bath 2 stage dan 1 bath 1 stage.
Metoda pencelupan yang paling efisien adalah metoda 1 bath 1 stage dimana bisa
menghemat waktu proses dan juga zat yang digunakan. Hanya saja perlu pemilihan
resep dan skema yang tepat agar hasil pencelupan dapat sesuai dengan yang di harapkan