Anda di halaman 1dari 4

“Udah tau”ujarnya kemudian memotong perkataan Sia

Dua kata itu sukses membuat Sia kaget. Jadi selama ini Arcel sudah tau? Tapi Arcel diam seperti tidak tau
apa apa. Ada apa dengan sahabatnya ini.
“Persahabatan gua , Bela sama Evans itu rumit” jelas Arcel. Jelas sekali wajah sedihnya itu
“Sejak kapan lu tau?” tanya Sia
“Lu yang orang baru dalam persahabatan kita aja langsung tau, apalagi gua yang udah sahabatan lama
sama mereka”jelas itu bukan jawaban yang Sia inginkan. Jawaban Arcel seperti mengambang tak
memberi kejelasan. Sia diam memberi Arcel ruang untuk lebih banyak bercerita
“Gua cinta sama Bela. Tapi gua diem. Sama kaya Evans. Sampe Bela nembak gua. Gua bingung,
haruskah gua terima atau gua tolak. Gua bingung pilihan antara cinta atau persahabatan. Dan gua
akhirnya milih buat nerima Bela. Toh gua sama Bela sama-sama saling cinta kan. Bela juga nggak ada
tanda-tanda suka sama Evans” cerita itu terjeda oleh helaan nafas panjang dari Arcel. Sia masih
menyimak.
“Tapi ternyata gua salah. Hati gua nggak tenang. Persahabatan gua juga sama-sama berharganya dengan
perasaan gua. Tapi disisi lain gua nggak mau mutusin Bela. Akhirnya gua main dibelakang dia. Nggak
dibelakang juga si. Gua berusaha terang-terangan buat ngeliatin gua selingkuh. Gua berharap Bela bisa
benci sama gua dan mutusin gua. Tapi Bela nggak pernah mau mutusin gua. Bela malah nangis setiep
saat. Gua nggak seneng dia nangis apalagi gara-gara gua” wajah Arcel tampak sangat sedih, dia
menunduk.
“Evans marah karena gua selalu buat Bela nangis. Sering kali kemarahan dia berujung pukulan ke gua.
Tapi gua nggak pernah balas itu. Gua berfikir dengan Evans mukulin gua, setidaknya rasa marah dia ke
gua berkurang dan rasa penyesalan gua kedia juga berkurang”
Sia kaget. Arcel menangis dengan wajahnya yang menunduk. Pertama kalinya Sia melihat Arcel
menangis. Ntahlah. Rasanya Sia seperti merasakan pedih, bingung dan sakit yang Arcel rasain. Bukankah
kalo cowok nangis itu nunjukin kalo dia benar-benar nggak kuat? Perlahan tangan Sia terulur ke
punggung Arcel dan mengelusnya.
“Lo nggak pernah nyoba ngomong sama Evans?” tanya Sia
“Nggak lah. Gila lo. Bisa hancur persahabatan gua sama dia” jawab Arcel.
“Cara lo salah cel. Bagaimanapun sakitnya lo, harusnya lo jangan nyakitin cewek. Lo jadi playboy itu
nggak cuman nyakitin Bela, tapi juga banyak cewek diluaran sana yang lo mainin hatinya. Nggak semua
orang punya hati yang kuat cel. Gue ngerti lo sakit. Tapi gue juga cewek, gue ngerti perasaan mereka”
nasihat Sia. Sia memang kalo merasa sahabatnya ini salah, dia akan secara terang-terangan bilang kalo dia
salah.
“Gua harus gimana lagi? Haruskah gua putusin Bela trus relain dia bareng sama Evans? Hati gua nggak
setegar itu” suara Arcel perlahan makin pelan
“Gue tau lo sayang banget sama Bela. Perjuangin dia cel. Gua dukung lo. Gua akan bantu lo cel”
“Caranya? Tolong, jangan kasi tau kalo gua tau perasaan Evans atau Bela tentang hal ini gua mohon. Gua
nggak mau hubungan gua sama mereka rusak. Gua juga nggak mau Bela malah ngerasa bersalah” jawab
Arcel.
“Caranya itu biar gue yang urus. Lo pokoknya tenang aja. Menurut gue lo, Bela, dan Evans punya hak
buat bahagia. Dan gue akan ngebuat kalian bahagia tanpa ngerasa tersakiti satu sama lain. Pegang janji
gue” ucap Sia. Arcel tersenyum tipis. Arcel berharap apa yang dikatakan Sia bisa terwujud. Kadang Arcel
berfikir, egois nggak sih Arcel kalau mengharapkan Sia dan Evans bisa saling mencintai?
“Maaf ya Yak, gua udah buat lu masuk ke dalam hubungan persahabatan gua, Bela dan Evans yang rumit
ini. Lu emang sahabat terbaik gua” ujar Arcel
“Asal lu janji, jangan pernah buat Bela nangis karena lo selingkuhin. Itu dah cukup jadi balasan gue” ujar
Sia. Arcel hanya memperlihatkan sederetan gigi rapinya kemudia mengangguk antusias.
“Yaudah ya gua mau jemput nyonya putri sama nyonya besar kayanya mereka udah pulang arisan deh”
pamit Arcel
“Udah kenyang, trus puas nangis langsung pergi aja lo kunyuk” ceplos Sia
“Ya kan itu fungsi sahabat kodok” ucap Arcel tak kalah ngegas
“Kita musuh. Bukan sahabat ya” perjelas Sia
“Udah deh. Mending lu anterin gua keluar daripada lu ngajakin debat, bisa bisa para nyonya marah sama
gua telat jemput” jawab Arcel
“Ogahhhh… Lo dateng maen nyelonong giliran pulang minta dianterin. Ogah gue mah” ujar Sia yang
kemudian tiduran di sofa.
“Ih lo mah. Baru aja tadi gua puji jadi sahabat terbaik gua” setelah itu Arcel berlalu dari ruangan itu. Ia
harus segera pergi. Kalau tidak, nyonya putri dan nyonya besar marah padanya.
Setelah perginya Arcel, lagi-lagi Sia kembali merenung. Apa yang dia sudah katakan pada Arcel tadi?
Membantu hubungan persahabatan mereka? Bagaimana caranya? Sedangkan hatinya saja saat ini masih
berantakan dna hancur. Saat ini dia mulai menggerutuki sifat dia yang sok ingin membantu. Padahal
dirinya pun sedang jatuh. Apa ia bisa cerita ke Arcel mengenai laki-laki dimasa lalunya itu?

Flashback on
Sia saat ini sedang duduk di pantai sambil menenggelamkan kepalanya kedalam dua tangannya.
Kepalanya terasa berat oleh masalah yang ia hadapi.
“Dia pacarku. Tidak, maksudku. Hmmm. Dia selingkuhanku. Dia teman kuliahku dan aku tanpa sadar
mencintaiinya” jelas lelaki disampingnya itu. Lagi-lagi Sia hanya diam. Hanya isakan yang berusaha ia
tahan dari mulutnya itu
“Kaka” Sia diam. “sayang sama huft aku?” lanjutnya.
Kepalanya masih menunduk. Dia ingin mengatakan lebih. Dia ingin memarahi lelaki yang sudah satu
tahunan ini menjadi pacarnya itu. Tapi hanya empat kata itu yang lolos dari bibirnya.
Setelah lama hening akhirnya terdengarlah cicitan dari laki-laki itu.
“Aku nggak cinta sama kamu. Aku jadiin kamu pacar biar kamu nyaman waktu belajar sama aku”
“Maaf” lanjut lelaki itu lagi lalu pergi dari hadapannya.
Merasakan kepergian lelaki itu, Sia pun mengangkat kepalanya. “Hujan” batinnya. Sia kemudian
menengadahkan kepalanya ke atas langit. Merasakan air hujan menyapu habis jejak air mata dipipinya.
Tubuhnya mematung. Otaknya kembali berfikir. Laki-laki itu memang orang yang mengajar Sia di rumah.
Mamanya Sia mengenalkan laki-laki itu pada Sia sebagai tuthor. Tapi ntah bagaimana caranya, laki-laki
itu dapat mengambil hatinya yang tak tersentuh.
“Kalo kaka hanya datang untuk pergi, kenapa malah mengambil hal penting dalam hidupku? Apakah
sebuah hubungan itu lelucuan? Aku mengorbankan segalanya untuk kaka” suara Sia kini sedang beradu
dengan derasnya hujan. Sesekali terdengar suara petir seakan menjawab pertanyaan Sia yang ntah Sia
lontarkan untuk siapa.
Flashback off
Sia tak habis fikir, bagaimana perasaan Bela yang sudah berulang kali Arcel selingkuhi Bela bahkan
secara terang-terangan?
“Bel, lo sahabat gue. Dan gue janji gue nggak akan biarin lo nangisin hal yang nggak berguna lagi. Ini
saatnya lo bahagia Bel”
***
Sia sedang melangkahkan kaki dengan riang gembira di koridor sekolah. Tak sedikit lelaki yang berani
menghampirinya atau sekedar menyapanya di koridor itu. Tentu saja Sia membalas sapaan mereka dengan
ramah. Begitulah Sia. Ramah tapi tak tersentuh.
Seketika Sia merasakan bahunya berat sebelah. Diliriknya samping kanannya. Ternyata sudah ada wajah
dingin Evans disamping.
“Gua nggak suka liat lu senyum sama mereka” cicit Evans dengan tatapan yang masih tetap mengarah ke
depan. Tatapannya masih dingin. Sia hanya dapat melongo mendengar cicitan Evans
“Apa maksudnya anak ini? Apakah dia sakit? Bukankah ramah dna tersenyum kepada orang lain adalah
manners yang baik? Dingin lagi dia” Batin Sia
Tangan Evans masih bertengger pada bahu Sia. Berjalan beriringan melewati koridor. Sia masih
merasakan berat pada bahunya. Tapi, apa boleh buat Evans tidak ingin menurunkan tangannya itu.
Mereka melewati kelas XI IPA 1, kelas Evans.
“Eh eh itu kelas lo kelewatan Vans” cicit Sia ingin menyadarkan Evans. Tapi ternyata Evans tau itu. Dia
masih saja berjalan bersama Sia sampai didepan kelas XI IPA 2. Kemudian mereka masuk ke kelas dan
sampailah mereka di depan bangku Sia dan Bela yang sudah ada Bela sedang duduk di sana. Barulah
Evans menurunkan tangnya dari bahu Sia.
“Nggak usah senyum atau ramah sama cowok disini. Belajar yang rajin ya Sia Alexa Matthew” ujar
Evans kemudian mengacak rambut Sia dan tersenyum. Sangat manis ditambah dengan lesung pipinya.
“Njiirrr ganteng banget dia astagaaa” batin Sia yang melihat senyuman Evans yang bertengger di
wajahnya. Boong kalo hatinya nggak berdesir hebat mendapatkan perilaku seperti itu. Tapi sejurus
kemudian Sia sadar “Sumpah itu ana labil” batinnya.
Sedangkan Evans kemudian pergi meninggalkan kelas Sia dan Bela. Senyuman meremehkanpun ia
tunjukkan saat ia melihat Arcel yang melihat kejadian tadi “gitu aja blushing” batin Evans. “Satu kosong”
batin Evans kembali. Kemudian berlalu ke kelasnya.
“Evans mulai beraksi” batinnya saat ia melihat Evans dan Sia sedari tadi.
Sedangkan saat ini Bela geram. Dia tau betul sifat sahabatnya itu. Sia terlalu baik untuk Evans sakiti.
“Lu deket sama Evans?” tanya Bela akhirnya
“Hmmm nggak juga si. Biasa aja. Dari kemaren juga gitu. Lagi stress kali dia, makanya jadi labil begitu”
jawab Sia disamping Bela. Sia tidak terlalu menghiraukan Evans karena menurutnya semua laki-laki pasti
sama. Jadi dia tidak ingin berurusan dengan kata cinta lagi.
“Saran gua sih. Hati-hati sama Evans. Gua tau Evans begimana” ujar Bela menasehati Sia. Sia hanya
tersenyum
“Udah tenang aja Bel. Ehh jadi lo mau liat PR fisika nih? Buru nih salin. Ntar keburu gurunya masuk”ujar
Sia sambil menyodorkan buku bertuliskan FISIKA di sampulnya itu.
“Ah iya iya hampir gua lupa. Mana sini. Astaga gua udah nunggu lu lama banget. Besok-besok cepetan
dong datengnya” ujar Bela yang langsung mengambil buku yang disodorkan Sia.
“Yeee. Lunya aja yang kecepetan dateng Bel” cicit Sia beralasan.
“Hehehe iya juga si. Takut keburu gua soalnya. Thanks yeee” jawab Bela yang di jawab anggukan oleh
Sia.
***
Dikantin saat ini seperti biasa Bela, Arcel, Evans dan Sia duduk bersama sambil memakan pesanan
masing-masing.
“Bel, nanti jadi kan ya. Jangan lupa kita ke mall” ujar Sia mengingatkan
“Ahsiyappp. Kalian nggak ikut? Arcel ikut ya. Biar ada yang anterin aku” Bela pun menampakkan
senyum sambil matanya memohon. Tak tahan melihat ekspresi yang diperlihatkan pacarnya, Arcel pun
mengacak rambut Bela.
“Iya sayangg. Aku ikut kok”sambil tersenyum “demi kamu” lanjut Arcel. Evans memilih tak ingin
melihat adegan itu. Iya hanya mengaduk nasi goreng yang ia pesan tadi.
“Anjirrr. Kalo Arcel ikut, gue jadi kambing conge dong disana”protes Sia setelah melihat adegan
menjijikkan dihadapannya itu.
“Tenang ajalah. Lu nggak bakalan jadi kambing conge. Van, lu ikut kan”ajak Arcel kepada Evans
kemudian. Yang ditanya hanya memasang wajah datarnya kemudian mengangguk malas.
Sia yang melihat itu memikirkan segala cara agar Evans tak sedih lagi. Pasti Evans sakit hati dah tuh
sekarang, piker Sia.
“Jangan diliat. Hati lu nggak tercipta dari besi” bisik Sia ditelinga Evans yang kebetulan berada
disampingnya. Evans menatap Sia penuh tanya dan harap. “Dia tau perasaan gua?” batin Evans. Perlahan
tangan Sia menggenggam tangan Evans. Tidak erat tapi cukup hangat menenangkan perasaan Evans saat
ini.