Anda di halaman 1dari 20

Proposal Tesis

ASPEK YURIDIS PERGANTIAN KEDUDUKAN PEMBERI JAMINAN


PRIBADI (BORGTOCHT) MENJADI DEBITUR DALAM
SENGKETA KEPAILITAN

1. Latar Belakang

Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional

merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil

dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam

rangka memelihara kesinambungan pembangunan ekonomi sangat diperlukan

dukungan yang kuat dari berbagai pihak khususnya yang terkait dalam bidang

hukum bisnis. Dalam bidang hukum ini perlu adanya kepastian hukum yang

dapat menciptakan keadaan yang kondusif bagi kehidupan perekonomian

nasional, sehingga memungkinkan munculnya perusahaan yang produktif dan

sehat yang membawa manfaat bagi masyarakat dan negara.

Orang-perorangan (natural person) maupun suatu badan hukum (legal

entity) dapat melakukan kegiatan usahanya dengan baik dan sukses bila

didukung oleh modal yang kuat serta perangkat hukum yang lengkap. Modal

akan diperoleh terutama dari hartanya sendiri juga dapat berasal dari pinjaman

atau kredit dari bank maupun lembaga pembiayaan non bank.

Para kreditor sebagai pemberi pinjaman tentunya akan bersedia

memberi hutang dengan perjanjian utang piutang atau yang lebih lazim

disebut perjanjian kredit, apabila ada suatu kepastian bahwa uang yang

dipinjamkan akan dikembalikan oleh debitur tepat pada waktunya.


Dengan telah disepakatinya perjanjian kredit antara debitur dan

keditur, maka telah terjadi hubungan hukum utang piutang. Utang merupakan

kewajiban yang timbul karena perjanjian atau oleh undang-undang yang harus

dipenuhi oleh debitur kepada krediturnya, dan bila debitur tidak dapat

memenuhi kewajibannya tersebut maka timbullah hak dari kreditur untuk

mendapat pemenuhannya dari harta debitur. Apabila debitur tidak memenuhi

kewajiban membayar utangnya, disamping hak menagih (vorderingsrecht),

kreditor mempunyai hak menagih atas kekayaan debitur (verhaalsrecht)

sebesar piutangnya pada debitur.1

Pengertian utang dalam hukum perdata bersumber dari perikatan.

Menurut Mariam Darus Badrulzaman, perikatan adalah hubungan yang terjadi

antara 2 (dua) orang atau lebih yang terletak dalam harta kekayaan dengan

pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi

prestasi itu.2

Didalam memberikan pinjaman atau kredit, Bank harus

memperhatikan prinsip kehati-hatian serta asas-asas perkreditan yang baik

termasuk resiko terhadap pengembalian kredit. Untuk mengantisipasi

kemungkinan debitur tidak dapat membayar utangnya, bank selaku kreditur

dalam memberikan kredit atau utang selalu mensyaratkan adanya jaminan. Hal

ini perlu untuk mencegah atau mengurangi resiko kerugian yang mungkin

akan dialami kreditur.

1
Mariam Darus Badrulzaman. Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung, 1994, h.3
2
Ibid
Definisi tentang jaminan dalam Burgerlijk Wetboek voor Indonesie

(BW) ternyata tidak dirumuskan secara tegas, BW hanya memberikan

perumusan Jaminan secara umum yang diatur dalam pasal 1131 BW, yaitu

segala kebendaan seseorang baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak,

baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari menjadi

tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Namun jaminan secara

umum ini masih dirasakan kurang memadai oleh kreditur sehingga seringkali

kreditur meminta diberikan jaminan khusus.

Jaminan khusus dapat berupa jaminan kebendaan dan jaminan

perorangan (borgtocht). Pada jaminan kebendaan, debitur memberi jaminan

benda kepada kreditur, sebagai jaminan atas hutang yang dipinjam debitur.

Dalam hal debitur tidak membayar utangnya pada saat jatuh tempo maka

kreditur dapat menuntut eksekusi atas benda yang telah dijaminkan oleh

debitur tersebut untuk melunasi hutangnya. Sedangkan dalam jaminan

perorangan atau borgtocht ini jaminan yang diberikan oleh debitur bukan

berupa benda melainkan berupa pernyataan oleh seorang pihak ketiga

(penjamin/borg/guarantor) yang tak mempunyai kepentingan apa-apa baik

terhadap debitur maupun terhadap kreditur, bahwa debitur dapat dipercaya

akan melaksanakan kewajiban yang diperjanjikan, dengan syarat bahwa

apabila debitur tidak melaksanakan kewajibannya maka pihak ketiga itu

bersedia untuk melaksanakan kewajiban debitur tersebut.3

Menurut Pasal 1820 BW, penjaminan atau penanggungan adalah

“suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si


3
M. Yahya Harahap. 1982. Segi-Segi Hukum Perjanjian. Alumni, Bandung, 1992, h. 315
berpiutang, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang manakala

orang ini sendiri tidak memenuhinya".

Seorang penjamin mempunyai hak-hak dan hak istimewa, yang diatur

dalam Pasal 1430, 1431, 1821, 1831, 1833, 1837, 1843, 1847, 1848, dan 1849

BW, yang antara lain mengatur mengenai :

a. Hak untuk menuntut agar harta kekayaan debitur disita dan dieksekusi

terlebih dahulu untuk melunasi utangnya.

Bila hasil eksekusi tidak cukup untuk melunasi utangnya maka baru

kemudian harta kekayaan penjamin yang dieksekusi.

b. Hak tidak mengikatkan diri bersama-sama dengan debitur secara

tanggung- menanggung.

Maksud hak ini adalah ada kemungkinan penjamin telah mengikatkan diri

bersama-sama debitur dalam satu perjanjian secara jamin-menjamin.

Penjamin yang telah mengikatkan diri bersama-sama debitur dalam satu

akta perjanjian dapat dituntut oleh kreditur untuk tanggung menanggung

bersama debiturnya masing-masing untuk seluruh utang.

Jaminan perorangan dipergunakan dalam praktek, karena adanya

hubungan khusus antara penjamin dan peminjam, hubungan khusus itu dapat

berupa antara lain :

a) hubungan darah

Antara penjamin dan peminjam masih mempunyai hubungan darah,

misal orang tua yang menjadi penjamin atas hutang anaknya.

b) hubungan kepentingan
Penjamin merupakan Direktur dan/atau pemegang saham terbesar yang

merupakan pengendali dari suatu PT yang menjadi peminjam.

c) hubungan kerja

Penjamin merupakan pimpinan dan/atau bendahara tempat peminjam

bekerja

Dengan adanya jaminan perorangan maka pihak kreditur dapat menuntut

kepada penjamin untuk membayar hutang debitur bila debitur lalai atau tidak

mampu untuk membayar hutangnya tersebut.

Penyelesaian masalah utang piutang melalui proses kepailitan

sebenarnya cukup rumit, namun dengan telah diundangkannya Undang-

Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang (selanjutnya cukup ditulis UU Kepailitan), maka

penyelesaian masalah utang piutang melalui lembaga kepailitan di Pengadilan

Niaga menjadi hal yang telah banyak ditempuh oleh para pihak yang persoalan

utang piutangnya bermasalah. Hal ini antara lain disebabkan karena di dalam

undang-undang tersebut telah memberikan perlindungan hukum yang

seimbang dan adil kepada kreditor, debitor dan masyarakat.

Penyelesaian sengketa utang piutang berdasarkan UU Kepailitan

ditempuh melalui Pengadilan Niaga yang berada di lingkungan Peradilan

Umum. Pengadilan Niaga berwenang mengadili perkara permohonan pailit

dan PKPU. Pengadilan Niaga yang pertama dibentuk di Pengadilan Negeri

Jakarta Pusat (vide Pasal 281 ayat (1) UU Kepailitan) dan berdasarkan Kepres

Nomor 97 Tahun 1999 telah dibentuk Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri


Medan, Pengadilan Negeri Surabaya, Pengadilan Negeri Ujung Pandang dan

Pengadilan Negeri Semarang.

Menurut Pasal 1 angka (1) UU Kepailitan, Kepailitan adalah sita

umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan

pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim

Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Pada beberapa kasus (misal dalam Putusan Mahkamah Agung RI No.

419 K/Pdt.Sus/2012), kedudukan penjamin perorangan/personal guarantee

yang pada awalnya hanya menjadi pihak ketiga yang akan menjamin dan

menanggung pelunasan utang-utang debitor yang lalai dalam melunasi utang-

utangnya, kedudukannya dapat berubah menjadi seperti debitor utama yang

dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh kreditor secara langsung tanpa

harus terlebih dahulu menyita harta dari debitor utama yang pailit termasuk

mempailitkan penjamin perorangan tersebut.

Berkenaan dengan tujuan kepailitan sebagai salah satu sarana

penyelesaian hutang piutang, maka perlu dikaji pengaturan dalam Undang-

Undang Kepailitan mengenai kedudukan penjamin perorangan (borgtocht).

2. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut, penulis ingin mengkaji lebih dalam

mengenai kedudukan penjamin perorangan dalam sengketa kepailitan dengan

mengajukannya sebagai bahan tesis dengan membatasi pada permasalahan

yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut


1. Apakah pemberi jaminan pribadi (borgtocht) dapat digugat secara

langsung untuk memenuhi kewajiban debitur kepada kreditor ?

2. Dapatkan penjamin tersebut menggantikan kedudukan debitur utama

sehingga dapat dipailitkan ?

2. Tujuan Penelitian

Penulisan ini juga bertujuan untuk :

a. Menganalisa mengenai pemberi jaminan pribadi (borgtocht) yang dapat

digugat secara langsung untuk memenuhi kewajiban debitur kepada kreditor

b. Menganalisis mengenai pergantian kedudukan penjamin perorangan menjadi

debitur utama sehingga dapat juga dipailitkan.

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat akademis antara lain :

- Dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya

dalam bidang hukum kepailitan.

- Dapat memberikan atau menambah perbendaharaan pustaka terutama

dalam hukum kepailitan dan hukum jaminan.

b. Manfaat praktis.

Secara praktis penulisan ini dapat membantu pihak-pihak yang terkait

dengan kedudukan penjamin perorangan yang dituntut untuk memenuhi

kewajiban debitur kepada kreditur.


4. Kajian Pustaka

Pengertian Kepailitan

Secara etimologi kepailitan berasal dari kata pailit, selanjutnya istilah

“pailit” berasal dari bahasa Belanda faillet yang mempunyai arti ganda yaitu

sebagai kata benda dan kata sifat. Istilah faillet sendiri berasal dari Perancis

yaitu faillite yang berarti pemogokan atau kemacetan pembayaran, sedangkan

dalam Bahasa Inggris dikenal dengan kata to fail dengan arti sama, dan dalam

bahasa latin disebut failure. Kemudian istilah kepailitan dalam pengertian

hukum istilah faillet mengandung unsur-unsur tersendiri yang dibatasi secara

tajam, namun definisi mengenai pengertian itu tidak ada dalam undang-

undang. Selanjutnya istilah pailit dalam Bahasa Belanda adalah faiyit, maka

ada pula sementara orang yang menerjemahkan sebagai paiyit dan

faillissement sebagai kepailitan.4

Kemudian pada negara-negara yang berbahasa Inggris untuk

pengertian pailit dan kepailitan mempergunakan istilah bankrupt dan

bankruptcy.5

Menurut Munir Fuady yang dimaksud dengan pailit atau bangkrut

adalah suatu sitaan umum atas seluruh harta debitor agar dicapainya

perdamaian antara debitor dan para kreditor atau agar harta tersebut dapat

dibagi-bagi secara adil di antara para kreditor.6

4
Jono, Hukum Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hal. 84
5
Ibid, h. 1.
6
Munir Fuady, Hukum Pailit, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, h. 8
R. Subekti berpendapat bahwa kepailitan adalah suatu usaha bersama

untuk mendapatkan pembayaran bagi semua orang yang berpiutang secara

adil.7

H. M. N. Puwosutjipto berpendapat bahwa kepailitan adalah segala

sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa pailit. Pailit adalah keadaan

berhenti membayar (utang-utangnya).8

Sedangkan dalam Black’s Law Dictionary, pailit atau bankrupt adalah

”the state or condition of a person (individual, partnership, corporation,

municipality)who is unable to pay its debt as they are, or become due”. The

term includes a person against whom an voluntary petition has been filed, or

who has been adjudged a bankrupt.9

Berdasarkan pengertian yang diberikan dalam Black’s Law Dictionary

tersebut, dapat dilihat bahwa pengertian pailit dihubungkan dengan

ketidakmampuan untuk membayar dari seseorang (debitor) atas utang-

utangnya yang telah jatuh tempo, ketidakmampuan tersebut harus disertai

dengan suatu tindakan nyata untuk mengajukan, baik yang dilakukan secara

sukarela oleh debitor sendiri maupun permintaan pihak ketiga.10

Di dalam kamus hukum dikemukakan bahwa: Pailit diartikan sebagai

keadaan dimana seorang debitor telah berhenti membayar utang-utangnya.

7
R.Subekti, Pokok-Pokok Hukum Dagang, Intermasa, Jakarta, 1995, h. 2
8
H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Dan Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia,
Djambatan, Jakarta, 2004, h. 28
9
Bryan A. Garner, Black Law’s Dictionary, West Group, St. Paul, , 1999, h. 141.
10
Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis, Raja Grafndo Persada, Jakarta,
1999, h. 11
Setelah orang yang demikian atas permintaan para kreditornya atau

permintaan sendiri oleh pengadilan dinyatakan pailit maka harta kekayaan

dikuasai oleh balai harta peninggalan selaku curtirice (pengampu) dalam usaha

kepailitan tersebut untuk dimanfaatkan oleh semua kreditor.11

Di Indonesia pengertian kepailitan itu sendiri tidak disebutkan. Pasal 1

ayat 1 UU Kepailitan menyebutkan : “Debitur yang mempunyai dua atau lebih

kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan

dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan yang berwenang

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, baik atas permohonannya sendiri,

maupun atas permintaan seorang atau lebih krediturnya”. Kepailitan adalah

sita umum yang mencakup seluruh kekayaan debitur untuk kepentingan semua

krediturnya.

Tujuan kepailitan adalah pembagian kekayaan debitur oleh kurator

kepada semua kreditur dengan memperhatikan hak-hak mereka masing-

masing. Melalui sita umum tersebut dihindari dan diakhiri sita dan eksekusi

oleh para kreditur secara sendiri-sendiri. Dengan demikian para kreditur harus

bertindak secara bersama-sama (concursus creditorum) sesuai dengan asas

sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132 BW.12

Dengan dinyatakan pailit maka seorang debitur pailit tidak memiliki

kewenangan apapun lagi atas seluruh harta kekayaannya baik yang sudah ada

11
R. Subekti dan Tjitrosoedibyo, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 1989, h. 85.
12
Fred. BG. Tumbuan, Pokok-Pokok Undang-Undang Tentang Kepailitan Sebagaimana
Diubah Oleh Perpu No. 1 Tahun 1998, Makalah disampaikan dalam lokakarya UU Kepailitan,
Jakarta, 3 – 14 Agustus 1998
maupun yang akan diterimanya selama kepilitan itu berlangsung. Kepailitan

itu sendiri mencakup :

1. Seluruh kekayaan si pailit pada saat dia dinyatakan pailit

(dengan beberapa pengecualian untuk si pailit perorangan) serta asset-

asset yang diperoleh selama kepailitannya.

2. Hilangnya wewenang si pailit untuk mengurus dan

mengalihkan hak atas kekayaannya yang termasuk harta kekayaan.

Seluruh kewenangan debitur pailit untuk mengurus seluruh harta

kekayaanya tersebut selanjutnya beralih kepada kurator.

Harta debitur dapat dibagikan kepada para kreditur sesuai dengan

peraturan pemerintah. Dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan

disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan pailit adalah seseorang yang

oleh suatu pengadilan dinyatakan bankrupt, dan yang aktivitasnya atau

warisannya telah diperuntukkan untuk membayar hutang-hutangnya.13

Pengertian pailit dihubungkan dengan ketidakmampuan untuk

membayar dari seorang debitor atas utang-utangnya yang telah jatuh tempo.

Ketidakmampuan tersebut harus disertai suatu tindakan nyata untuk

mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitor sendiri,

maupun atas permintaan pihak ketiga. Maksud dari pengajuan permohonan

tersebut sebagai bentuk pemenuhan asas publisitas dari keadaan tidak

mampu membayar.14

13
Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis : Kepailitan, Rajawali Pers,
Jakarta, 2004, h. 1
14
Ibid, h. 11
Selanjutnya pada Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan menyebutkan

bahwa Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak

membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat

ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas

permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih

kreditornya.

Masalah kepailitan sesungguhnya terjadi karena adanya utang

piutang antara debitor dan kreditor. Permasalahan baru muncul apabila

debitor berhenti membayar utangnya pada waktu jatuh tempo, baik karena

tidak mau membayar maupun karena tidak mampu membayar.15 Sebenarnya

bila terjadi keadaan seperti itu terdapat beberapa usaha untuk menyelesaikan

utang piutang tersebut, yaitu antara lain dengan :16

1. perdamaian (di luar pengadilan);


2. gugatan melalui pengadilan;
3. perdamaian di dalam pengadilan;
4. ditagih individual;
5. penundaan pembayaran;
6. perdamaian penundaan pembayaran;
7. kepailitan;
8. perdamaian dalam kepailitan

Pengertian Jaminan Perorangan (Borgtocht)

Pengertian Penjamin yang dalam bahasa Inggris disebut guarantor

adalah pihak ketiga yang mengikatkan dirinya untuk menjamin kewajiban

pembayaran kembeli utang debitur.

Sutan Remy mengatakan :

15
Erman Radjagukguk, Op. cit., hal 79.
16
Ibid
Penjamin yang tampil untuk menjamin utang Debitur disebut Borg.
Sedang perjanjian penjamin yang dibuat antara penjamin dengan kreditur
disebug Borgtocht.17

Mariam Darus Badrulzaman memberikan pengertian jaminan perorangan

sebagai berikut :

Yang dimaksud dengan jaminan perorangan itu adalah jaminan berupa


pernyataan kesanggupan yang diberikan oleh seorang pihak ketiga guna
menjamin pemenuhan kewajiban-kewajiban Debitur kepada Kreditur,
apabila yang bersangkutan cidera janji (wanprestasi).18

Jaminan Perorangan di atur dalam Pasal 1820 BW yang menyatakan :

"Penjaminan atau penanggungan adalah “suatu perjanjian dengan mana


seorang pihak ketiga, guna kepentingan si berpiutang, mengikatkan diri
untuk memenuhi perikatan si berutang manakala orang ini sendiri tidak
memenuhinya."

Dalam jaminan perorangan tidak ada benda tertentu yang diperjanjijan

sebagai obyek jaminan atau benda tertentu yang diikat, dan hanya berupa

kesanggupan dari penjamin untuk memenuhi prestasi apabila pada waktu yang

ditentukan ternyata Debitur tidak memenuhi kewajiban atas hutang-

hutangnya.

Penanggungan itu lahir karena adanya perjanjian pokok antara Debitur

dan Kreditur. Perjanjian jaminan lazimnya di konstruksikan sebagai perjanjian

accesoir yaitu perjanjian yang dikaitkan dan mengacu pada perjanjian pokok.

Tujuan dan isi dari penanggungan itu adalah memberikan jaminan untuk

dipenuhinya hutang dalam perjanjian pokok dan mengacu pada perjanjian

pokok.

17
Sutan Remy Syahdeini, Hak Jaminan dan Kepailitan, Jurnal Hukum Bisnis, Volume II,
2000, h.4
18
Mariam Darus Badrulzaman, Beberapa Permasalahan Hkum Hak Jaminan, Jurnal Bisnis
Volume II, 2000, h.13
Dengan demikian hapusnya perjanjian penanggungan adalah sama

dengan hapusnya perjanjian-perjanjian lainnya (pernjanjian pokok). Hal ini

telah diatur dalam Pasal 1845 BW yang menyatakan : "Perikatan yang timbul

karena penanggungan, hapus karena sebab-sebab yang sama dengan yang

menyebabkan berakhirnya perikatan-perikatan lainnya".

5. Metode Penelitian

5.1 Pendekatan Masalah

Pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum

adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan

konseptual (conceptual approach) serta studi kasus (case study).

Statute approach yaitu pendekatan yang dilakukan dengan mengidentifikasi

serta membahas peraturan perundang-undangan yang berlaku berkaitan

dengan perjanjian jaminan perorangan dalam sengketa kepailitan, sedangkan

conceptual approach yaitu suatu pendekatan dengan cara membahas

pendapat para sarjana sebagai landasan pendukung pembahasan materi tesis,

serta case study yang dilakukan dengan cara melakukan kajian terhadap

kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi

putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

5.2 Bahan Hukum

Sesuai dengan karakter penulisan yang normatif, penulisan ini

menggunakan bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer maupun

bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang
mengikat dalam bentuk peraturan perundang-undangan, khususnya yang

mengatur atau berkenaan dengan pokok masalah yang dibahas dalam

penelitian ini. Sedang bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum

yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer.

1. Bahan Hukum Primer

Yaitu :

- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek voor

Indonesie)

- Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

- Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan

2. Bahan Hukum Sekunder

Yaitu Bahan Hukum yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer

yang dapat membantu dalam menganalisis dan memahami masalah

dalam tesis ini yang diperoleh dengan penelitian kepustakaan, berupa

majalah hukum, jurnal, makalah, artikel, dan karya ilmiah sarjana.

5.3 Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum

Bahan hukum dianalisis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

Langkah pengumpulan bahan hukum dalam tulisan ini adalah melalui studi

kepustakaan, yaitu diawali dengan inventarisasi peraturan perundang-

undangan dan semua bahan hukum yang terkait dengan pokok


permasalahan, kemudian diadakan klasifikasi bahan hukum yang terkait dan

selanjutnya bahan hukum tersebut disusun dengan sistematik untuk lebih

mudah membaca dan mempelajarinya.

5.4. Analisis Bahan Hukum

Analisa bahan hukum ini menggunakan metode interpretasi, yaitu

terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan

permasalahan jaminan perorangan dalam sengketa kepailitan dianalisis

dengan menggunakan interpretasi yang meliputi interpretasi sistematis,

interpretasi gramatikal dan interpretasi teleologis.

Penggunaan interpretasi sistematis ditujukan untuk menetukan struktur

hukum dalam penelitian ini. Interpretasi sistematis adalah menafsirkan

dengan memperhatikan naskah-naskah hukum lain. Jika ditafsirkan adalah

pasal-pasal suatu undang-undang, ketentuan yang sama apalagi satu asas

dalam peraturan lainnya juga harus dijadikan acuan. Dalam penafsiran ini

mencari ketentuan-ketentuan yang ada didalamnya saling berhubungan

sekaligus apakah hubungan tersebut menentukan makna selanjutnya. Akan

tetapi, dalam hubungan tatanan hukum yang tidak terkodifikasi, merujuk

pada sistem dimungkinkan sepanjang karakter sistematis dapat diasumsikan

(diandaikan).

Selanjutnya interpretasi gramatikal yaitu metode penafsiran hukum pada

makna teks yang di dalam kaidah hukum dinyatakan. Penafsiran dengan cara

demikian bertitik tolak pada makna menurut pemakaian bahasa sehari-hari.


Sedangkan interpretasi teleologis yang merupakan yang metode penafsiran

yang difokuskan pada penguraian atau formulasi kaidah-kaidah hukum

menurut tujuan dan jangkauannya. Tekanan tafsiran pada fakta bahwa

kaidah hukum terkandung tujuan atau asas sebagai landasan dan bahwa

tujuan atau asas tersebut mempengaruhi interpretasi.

6. Pertanggungjawaban Sistematika

Penulisan Tesis ini disusun dalam sistematika sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, yang memuat latar belakang dan rumusan

permasalahannya, dilanjutkan dengan kajian pustaka yang dipergunakan sebagai

acuan dalam memecahkan permasalahan yang telah dirumuskan, metode

penelitian yang terdiri dari pendekatan masalah, bahan hukum, prosedur

pengumpulan dan pengolahan bahan hukum.

Bab II membahas permasalahan hukum yang pertama, yang berisi tentang

aspek yuridis jaminan perorangan, hak istimewa penjamin dan pelepasan hak

istimewa tersebut.

Bab III Membahas tentang permasalahan hukum yang kedua, yang berisi

kedudukan jaminan perorangan dalam sengketa kepailitan dan pergantian

kedudukan penjamin menjadi debitor utama, permohonan pailit terhadap

penjamin perorangan.

Bab IV Penutup yang berisi kesimpulan dan saran mengenai apa yang telah

didapat dalam penulisan tesis ini dan saran Sehingga produk yang dihasilkan

dapat memberikan rasa kepastian hukum, keadilan, kemanfaatan.


DAFTAR BACAAN

A. BUKU-BUKU

Mariam Darus Badrulzaman. Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung, 1994.

Fuady Munir, Hukum Pailit, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.


Garner Bryan A., Black Law’s Dictionary, West Group, St. Paul, , 1999.

Harahap M. Yahya. 1982. Segi-Segi Hukum Perjanjian. Alumni, Bandung, 1992.

Jono, Hukum Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.

Purwosutjipto, H.M.N., Pengertian Dan Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia,


Djambatan, Jakarta, 2004, h. 28

Subekti R,, Pokok-Pokok Hukum Dagang, Intermasa, Jakarta, 1995.

Subekti R., dan Tjitrosoedibyo, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 1989.

Syahdeini, Sutan Remy, Hak Jaminan dan Kepailitan, Jurnal Hukum Bisnis,
Volume II, 2000.

Yani Ahmad, dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1999.

__________, Seri Hukum Bisnis : Kepailitan, Rajawali Pers, Jakarta, 2004,

B. JURNAL

Mariam Darus Badrulzaman, Beberapa Permasalahan Hkum Hak Jaminan, Jurnal


Bisnis Volume II, 2000.

Tumbuan, Fred. BG., Pokok-Pokok Undang-Undang Tentang Kepailitan


Sebagaimana Diubah Oleh Perpu No. 1 Tahun 1998, Makalah
disampaikan dalam lokakarya UU Kepailitan, Jakarta, 3 – 14 Agustus
1998.

C. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Burgerlijk Wetboek voor Indonesie (Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23).

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan


Kewajiban Pembayaran Utang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4443).
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3790).