Anda di halaman 1dari 20

TINJAUAN KRIMINOLOGIS TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN

NARKOTIKA OLEH REMAJA

OLEH :

ARMAWAHDA
B11116009

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Remaja adalah bagian dari generasi muda merupakan suatu kekuatan
sosial yang sangat berperan dalam pembangunan bangsa dan negara. Di
tangan generasi muda terletak masa depan bangsa yang kelak akan menjadi
pemimpin dalam membangun hari depan yang lebih baik. Sebagai generasi
penerus perjuangan bangsa Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban
ikut serta dalam membangun negara dan bangsa Indonesia, generasi muda
dalam hal ini remaja merupakan subyek dan obyek pembangunan nasional
dalam usaha mencapai tujuan bangsa Indonesia yaitu mewujudkan
masyarakat yang adil dan makmur.
Remaja merupakan modal pembangunan yang akan memelihara dan
mengembangkan hasil pembagunan baik fisik maupun mental sosial
Indonesia yang harus ditumbuh-kembangkan sebagai manusia seutuhnya,
sehingga mempunyai kemampuan untuk melaksanakan hak dan
kewajibannya sebagai warga negara Indonesia yang senantiasa memiliki
tanggungjawab dan bermanfaat sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Sebagai salah satu sumber daya manusia yang mempunyai potensi
dan memiliki peranan yang stategis dan kedudukannya sebagai generasi
penerus cita-cita bangsa keberadaannya di tengah kehidupan masyarakat,
pada prinsipnya remaja merupakan pilar terpenting yang akan menentukan
nasib peradaban masyarakat di masa yang akan datang dan juga remaja
mempunyai ciri dan sifat khusus yang memerlukan pembinaan dalam rangka
menjamin pertumbuhan fisik dan mentalnya secara utuh, selaras dan
seimbang.
Namun yang menjadi suatu permasalahan serius yang sedang
dihadapi adalah masalah kenakalan remaja yang merupakan persoalan
aktual dihampir setiap negara di dunia termasuk Indonesia. Saat ini sebagai
gambaran merebaknya kasus-kasus pelanggaran hukum yang dilakukan
remaja dapat berupa perkelahian, penodongan, perampokan, pencurian,
pemilikan senjata tajam bahkan penyalahgunaan narkotka atau berbagai
pelanggaran hukum lainnya. Dari beberapa kasus pelanggaran hukum
tersebut dapat memberikan gambaran bahwa di era pembangunan manusia
seutuhnya, remaja yang mempunyai hak dan kewajiban membangun bangsa
dan negara, justru mereka melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
Berkaitan dengan masalah penyalahgunaan narkotika, merupakan
masalah yang sangat kompleks yang memerlukan upaya penanggulangan
yang komprehensif dengan melibatkan kerjasama antara multidispliner, multi
sektor dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Perkembangan
penyalahgunaan narkotika dari waktu-kewaktu menunjukan kecenderungan
yang semakin meningkat dan akan berakibat sangat merugikan bagi individu
maupun masyarakat luas dan terhadap remaja.
Khususnya terhadap remaja yang sedang berada dalam fase transisi
perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang dapat
menimbulkan masa krisis, ditandai dengan kecenderungan munculnya
perilaku menyimpang dimana pada masa remaja akan timbul keinginan yang
sangat tinggi untuk mencoba-coba sesuatu, mengikuti trend dan gaya hidup,
serta bersenang-senang walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar
saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remaja untuk terdorong untuk
menyalahgunakan narkotika. Oleh karena itulah apabila pada masa remaja
telah rusak karena penyalahgunaan narkoba, maka suram atau bahkan
hancurlah masa depan remaja tersebut.
Dengan peningkatan jumlah populasi penduduk yang cukup tinggi
setiap tahunnya serta berada pada lokasi yang strategis yaitu merupakan
salah satu jalur akses transportasi antara propinsi dan juga menjadi pusat
aktivitas perekonomian, perdagangan serta kegiatan masyarakat lainnya
sehingga memungkinkan akan banyak terjadi tindak pidana di tengah–tengah
kehidupan masyarakat khususnya tindak pidana penyalahgunaan narkotika
yang melibatkan remaja sebagai pelaku tindak pidana.
Hasil observasi awal penulis (tanggal 25 Januari 2019), yang
dilakukan pada Satuan Reserse Kriminal menunjukan bahwa jumlah tindak
pidana penyalahgunaan narkotika yang terjadi di Kabupaten X pada tahun
2015 sebanyak 2 kasus, kemudian pada tahun 2016 mengalami peningkatan
menjadi 3 kasus, dan sampai bulan April 2017 tercatat sebanyak 5 kasus
yang dilakukan oleh remaja sehingga menimbulkan kekhawatiran dan
keresahan dari masyarakat terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak.
Dengan alasan-alasan yang dikemukakan di atas maka penulis
terdorong untuk melakukan kajian secara mendalam tentang
penyalahgunaan narkotika yang dilakukan oleh remaja dalam bentuk skripsi
dengan mengangkat judul tinjauan kriminologis terhadap tindak pidana
penyalahgunaan narkotika oleh remaja.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian yang dikemukakan dalam latar belakang masalah di atas,
maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindak pidana
penyalahgunaan narkotika oleh remaja?
2. Bagaimanakah upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak Kepolisian dalam
menanggulangi terjadinya tindak pidana penyalahgunaan narkotika oleh
remaja?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindak
pidana penyalahgunaan narkotika oleh remaja di Kabupaten X.
b. Untuk mengetahui bagaimanakah upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak
Kepolisian dalam menanggulangi terjadinya tindak pidana penyalahgunaan
narkotika oleh remaja
2. Manfaat Penelitian ini adalah :
a. Manfaat Teoritis :
1). Hasil penelitian dapat memberikan kegunaan untuk mengembangkan ilmu
hukum khususnya hukum pidana.
2). Dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penelitian yang lain yang sesuai
dengan bidang penelitian yang penulis teliti.
b. Manfaat Praktis :
1). Diharapkan dapat digunakan sebagai informasi bagi masyarakat atau praktisi
hukum dan instansi terkait tentang tindak pidana penyalahgunaan narkotika
oleh remaja.
2). Dengan dibuatnya penulisan ini diharapkan dapat memberikan dapat
memberikan masukan kepada pihak Kepolisian Resor X dalam rangka
menanggulangi tindak pindana penyalahgunaan narkotika oleh remaja di
Kabupaten X.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Kriminologi
1. Pengertian Kriminologi
Kriminologi sebagai salah satu cabang dari ilmu pengetahuan sosial
(social science), sebenarnya masih tergolong sebagai ilmu pengetahuan
yang masih muda, oleh karena kriminologi baru mulai menampakkan dirinya
sebagai salah satu disiplin ilmu pengetahuan pada abad ke XIII. Meskipun
tergolong ilmu yang masih muda, namun perkembangan kriminologi tampak
begitu pesat, hal ini tidak lain karena konsekuensi logis dari berkembangnya
pula berbagai bentuk kejahatan dalam masyarakat.
Perkembangan kejahatan bukanlah suatu hal yang asing, oleh karena
sejarah kehidupan manusia sejak awal diciptakan telah terbukti mengenal
kejahatan. Apalagi pada saat seperti sekarang ini perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi justru memberi peluang yang lebih besar bagi
berkembangnya berbagai bentuk kejahatan. Atas dasar itulah maka
kriminologi dalam pengaktualisasian dirinya berupaya mencari jalan untuk
mengantisipasi segala bentuk kejahatan serta gejala-gejalanya.
Secara etimologi, kriminologi berasal dari kata Crime artinya
kejahatan dan Logos artinya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu kriminologi
dapat diartikan secara luas dan lengkap sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang kejahatan. (Abdul Syani, 1987 : 6).

1. Pengertian dan Penggolongan Narkotika


Narkotika secara umum disebut sebagai drugs yaitu sejenis zat yang
dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi mereka yang
menggunakan dengan cara memasukan kedalam tubuh manusia. Pengaruh
tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat dan
halusinasi atau khayalan-khayalan.
Secara etimologi, kata Narkotika berasal dari bahasa Yunani
yaitu narke yang artinya terbius sehingga tidak merasakan apa-apa. Orang
Amerika menyebutnya dengan nama narcotic, di Malaysia dikenal dengan
istilah dadah sedangkan di Indonesia disebut Narkotika. (Andi Hamzah, 1986
: 224).
Sebagian orang berpendapat bahwa narkotika berasal dari
kata Narcissus yang berarti sejenis tumbuh-tumbuhan yang mempunyai
bungan yang dapat menyebabkan orang menjadi tidak sadarkan diri. (Hari
Sasangka, 2003 : 35).
Selain itu, pengertian Narkotika secara farmakologis medis menurut
Ensiklopedia Indonesia adalah obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri
yang berasal dari daerah Viseral dan dapat menimbulkan efek stupor
(bengong atau kondisi sadar tetapi harus digertak) serta adiksi, efek yang
ditimbulkan narkotika adalah selain menimbulkan ketidaksadaran juga dapat
menimbulkan daya khayal / halusinasi serta menimbulkan daya rangsang /
stimultant.
Menurut vide Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 2882 Tahun
1970, narkotika atau obat bius diartikan secara umum sebagai semua bahan
obat yang umumnya mempunyai efek kerja bersifat membiuskan (dapat
menurunkan kesadaran), merangsang (meningkatkan prestasi kerja),
menagihkan (meningkatkan ketergantungan), dan menghayal (halusinasi).
Pengertian Narkotika menurut Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang
Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yaitu :
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabka
menurunnya atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang
dibedakan dalam golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang
ini.

Selanjutnya mengenai penggolongan Narkotika di atur dalam Pasal 6


Ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yaitu :
a. Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya digunakan untuk tujuan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi
yang sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
b. Narkotika Golongan II adalah narkotika berkhasiat pengobatan digunakan
sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi yang
tinggi mengakibatkan ketergantugan.

c. Narkotika Golongan III adalah narkotika berkhasiat pengobatan dan


banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu
pengembangan pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan ketergantungan.

Menurut Wresniworo (1999 : 28), narkotika menurut cara / proses


pengolahannya dapat dibagi kedalam tiga golongan, yaitu :
a. Narkotika alam adalah narkotika yang berasal dari hasil olahan tanaman
yang dapat dikelompokkan dari tiga jenis tanaman masing-masing :
1). Opium atau candu, yaitu hasil olahan getah dari buah tanaman papaver
somniferum.Yang termasuk dalam kelompok ini adalah opium mentah, opium
masak dan morfin. Jenis opium ini berasal dari luar negeri yang
diselundupkan ke Indonesia, karena jenis tanaman ini tidak terdapat di
Indonesia.
2). Kokain, yang berasal dari olahan daun tanaman koka yang banyak terdapat
dan diolah secara gelap di Amerika bagian selatan seperti Peru, Bolivia,
Kolombia.
3). Canabis Sativa atau marihuana atau yang disebut ganja termasuk hashish
oil (minyak ganja). Tanaman ganja ini banyak ditanam secara ilegal didaerah
khatulistiwa khususnya di Indonesia terdapat di Aceh.

b. Narkotika semi sintetis, yang dimaksud dengan Narkotika golongan ini


adalah narkotika yang dibuat dari alkaloida opium dengan inti penathren dan
diproses secara kimiawi untuk menjadi bahan obat yang berkhasiat sebagai
narkotika. Contoh yang terkenal dan sering disalahgunakan adalah heroin
dan codein.

c. Narkotika sintetis, narkotika golongan ini diperoleh melalui proses kimia


dengan menggunakan bahan baku kimia, sehingga diperoleh suatu hasil baru
yang mempunyai efek narkotika seperti Pethidine, Metadon dan Megadon.

2. Bentuk-Bentuk dan Sanksi Tindak Pidana Penyalahgunaan


Narkotika

Narkotika dalam dunia kesehatan bertujuan untuk pengobatan dan


kepentingan manusia seperti operasi pembedahan, menghilangkan rasa
sakit, perawatan stress dan depresi.
Di dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika, menyatakan bahwa narkotika hanya dapat digunakan untuk
kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sedangkan untuk pengadaan, impor, ekspor,
peredaran dan penggunaannya diatur oleh pemerintah dalam hal ini Menteri
Kesehatan. Sehingga penggunaan narkotika selain yang disebutkan pada
Pasal 7 di atas, mempunyai konsekuensi akibat yuridis yaitu penyalahgunaan
narkotika dan akan memperoleh pidana / ancaman pidana sesuai yang diatur
dalam undang-undang tersebut.
Menurut Pasal 1 Angka 15 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotika, yaitu :
Penyalahgunaan adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak
atau melawan hukum.

Selanjutnya dalam Pasal 1 Angka 6 Undang-Undang Nomor 35 Tahun


2009 tentang narkotika, memberikan pengertian :
Peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika adalah setiap kegiatan
atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak atau melawan
hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana Narkotika dan Prekursor
Narkotika.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, tindak pidana narkotika


adalah tindak pidana penyalahgunaan narkotika tanpa hak atau melawan
hukum selain yang ditentukan dalam undang-undang.
Adapun bentuk-bentuk dan sanksi terhadap tindak pidana
penyalahgunaan narkotika di atur dalam Bab XV Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika yaitu sebagai berikut :
Pasal 111 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam,
memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika
Golongan I dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun atau pidana
denda paling sedikit Rp 800.000.000 (Delapan ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp 8.000.000.000 (Delapan milyar rupiah).

(2). Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan,


menguasai, atau menyediakan narkotika Golongan I sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5
(lima) batang pohon, pelaku dipidana dengan penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditambah 1/3.

Pasal 112 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan,
menguasai, atau menyediakan narkotika Golongan I, dipidana dengan
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun
atau pidana denda paling sedikit Rp 800.000.000 (Delapan ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 8.000.000.000 (Delapan milyar rupiah).

(2). Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan


narkotika Golongan I sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) beratnya
melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditambah 1/3.

Pasal 113 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi,
mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan narkotika Golongan I, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp 1.000.000.000 (Satu milyar
rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000.000 (Sepuluh milyar rupiah).

(2). Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau


menyalurkan narkotika Golongan I sebagaimana yang dimaksud pada ayat
(1) beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon
atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku
dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun
dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditambah 1/3.

Pasal 114 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk
dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli,
menukar atau menyerahkan narkotika Golongan I, dipidana dengan penjara
seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling
lama 20 (dua puluh) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp
1.000.000.000 (Satu milyar rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000.000
(Sepuluh milyar rupiah).

(2). Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli,


menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan
narkotika Golongan I sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) yang dalam
bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima)
batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram,
pelaku dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditambah 1/3.

Pasal 115 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum membawa, mengirim,
mengangkut, mentransito narkotika Golongan I, dipidana dengan penjara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun atau
pidana denda paling sedikit Rp 800.000.000 (Delapan ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp 8.000.000.000 (Delapan milyar rupiah).

(2). Dalam hal perbuatan membawa, mengirim, mengangkut, mentransito


narkotika Golongan I sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) yang dalam
bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima)
batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram,
pelaku dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda
maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3.
Pasal 116 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan
narkotika Golongan I terhadap orang lain atau memberikan narkotika
Golongan I untuk digunakan orang lain, dipidana dengan penjara paling
singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun atau pidana
denda paling sedikit Rp 1.000.000.000 (Satu milyar rupiah) dan paling
banyak Rp 10.000.000.000 (Sepuluh milyar rupiah).

(2). Dalam hal penggunaan narkotika terhadap orang lain atau pemberian
narkotika Golongan I untuk digunakan orang lain sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang lain mati, cacat permanen,
pelaku dipidana mati, pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan
pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah
1/3.

Pasal 117 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan,
menguasai, atau menyediakan narkotika Golongan II, dipidana dengan
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun atau
pidana denda paling sedikit Rp 600.000.000 (Enam ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp 5.000.000.000 (Lima milyar rupiah).

(2). Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan


narkotika Golongan II sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) beratnya
melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda
maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3.

Pasal 122 : (1). Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan,
menguasai, atau menyediakan narkotika Golongan III, dipidana dengan
penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun atau
pidana denda paling sedikit Rp 400.000.000 (Empat ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp 3.000.000.000 (Tiga milyar rupiah).

(2). Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan


narkotika Golongan III sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) beratnya
melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda maksimum
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3.

Dengan demikian, dari uraian-uraian di atas tentang bentuk-bentuk


penyalahgunaan narkotika sebagaimana yang diatur Undang-Undang Nomor
35 Tahun 2009 tentang Narkotika, maka tindak pidana penyalahgunaan
narkotika dapat dikelompokan sebagai berikut :
a. Penguasaan Narkotika.
b. Produksi Narkotika.
c. Jual-beli Narkotika.
d. Pengangkutan dan transito Narkotika.
e. Penyalahgunaan Narkotika.

D. Pengertian Remaja
Dalam kajian ilmu hukum tidak dikenal adanya istilah remaja
sehingga tidak ditemukan pengaturan yang jelas mengenai remaja. Namun
demikian jika kita cermati dengan seksama, istilah remaja termasuk dalam
kategori golongan anak yang telah mendapat pengaturan dalam berbagai
peraturan perundang-undangan meskipun pengertian anak itu sendiri tidak
ada keseragaman mengenai batasan usia anak didalam menentukan
batasan ukuran kedewasaan.
Secara etimologi remaja dalam bahasa latin yaitu adolensence yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai
arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional
sosial dan fisik. Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas
karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau
tua. (Hurlock, 1998 : 9).
Menurut WHO (Sarwono, 2002 : 4), mendefinisikan remaja lebih
bersifat konseptual, ada tiga krieria yaitu biologis, psikologik, dan sosial
ekonomi, dengan batasan usia antara 10-20 tahun, yang secara lengkap
definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda
seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada
keadaan yang relatif lebih mandiri.

Menurut Hurlock (1998 : 11), Masa remaja merupakan masa dimana


seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ketahap berikutnya dan
mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku dan juga
penuh dengan masalah-masalah. Oleh karenanya remaja sangat rentan
sekali mengalami masalah psikososial yakni masalah psikis atau kejiwaan
yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial.
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang
batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang
dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai
patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu
terjadi pada akhir usia belasan antara 15-18 tahun kini terjadi pada awal belasan
bahkan sebelum usia 11 tahun. (Singgih Gunarso, 1985 : 29).
Lebih lanjut, Singgih Gunarso (1985 : 30), menjelaskan
bahwa seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah atau sedang mengalami
pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap
menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang
dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita
yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola
perkembangan yang pasti.
Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-
kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk
bersikap mandiri dan dewasa. Sehingga dapat dikatakan remaja adalah seorang
yang berusia 13 sampai dengan 17 tahun dan belum menikah. (Singgih
Gunarso, 1985 : 31). .
Menurut Zakiah Drajat (Gatot Supranomo, 2000 : 2), masa
remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi
wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria, dimana masa remaja
adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam
masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan
fisiknya maupun perkembangan psikisnya.
Selanjutnya, Zakiah Drajat (Gatot Supranomo, 2000 : 3),
mengemukakan bahwa remaja bukanlah anak-anak baik bentuk badan
ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang
telah matang. Sehingga remaja sering mengalami masa kegoncangan karena
banyaknya perubahan yang terjadi dan tidak stabilnya emosi yang kadang-
kadang menyebabkan timbulnya sikap dan tindakan yang oleh orang dinilai
sebagai perbuatan nakal.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian
Penelitian tentang tinjauan kriminologis terhadap tindak pidana
penyalahgunaan narkotika oleh remaja di Kabupaten X adalah Empiris yaitu
adalah penelitian berdasarkan fakta–fakta yang ada di dalam masyarakat
mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana
penyalahgunaan narkotika oleh remaja di Kabupaten X dan bagaimanakah
upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak Kepolisian Resor X dalam
menanggulangi terjadinya tindak pidana penyalahgunaan narkotika oleh
remaja di Kabupaten X
B. Lokasi Penelitian
Penulis memilih lokasi penelitian di Kabupaten X yang merupakan
wilayah hukum Polres X. Adapun alasan memilih lokasi penelitian ini karena
semakin meningkatnya jumlah kriminilitas yang ditangani oleh pihak
Kepolisian Resort X khususnya tindak pidana penyalahgunaan narkotika oleh
remaja di Kabupaten X.
C. Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua
kategori, yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari nara sumber dilokasi
penelitian yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan narkotika
oleh remaja di Kabupaten X.
2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan yaitu
menelaah literatur, artikel, liputan, makalah serta peraturan perundang–
undangan yang ada kaitannya dengan tinjauan kriminologis terhadap tindak
pidana penyalahgunaan narkotika oleh remaja.
D. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh aparat Polres X yang menangani
upaya penanggulangan penyalahgunaan narkotika dan masyarakat yang di
anggap mengetahui tentang penyebab terjadinya tindak pidana narkotika
serta pelaku tindak pidana narkotika. Sedangkan sampel dalam penelitian ini
adalah 1 orang Kasat Narkoba, 1 orang Kanit dan 3 orang penyidik Polres X,
2 orang tokoh masyarakat, 2 orang Tokoh Agama, 2 orang tokoh pemuda
serta 5 orang remaja pelaku tindak pidana narkotika.
Pertimbangan peneliti memilih 2 orang tokoh masyarakat, 2 orang
Tokoh Agama, 2 orang tokoh pemuda serta 5 orang remaja pelaku tindak
pidana narkotika, karena sampel tersebut cukup representatif memberikan
informasi mengenai faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya
tindak pidana penyalahgunaan narkotika di Kabupaten X. Sedangkan
pertimbangan peneliti memilih 1 orang Kasat Narkoba, 1 orang Kanit dan 3
orang penyidik Polres X, karena peneliti mengharapkan dan berkeyakinan
akan mendapatkan informasi mengenai upaya-upaya yang dilakukan oleh
pihak kepolisian dalam mengatasi terjadinya tindak pidana penyalahgunaan
narkotika oleh remaja di Kabupaten X.
Adapun teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan
dengan cara Purposive Sampling yaitu dengan penunjukan langsung oleh
peneliti untuk dijadikan sebagai sampel penelitian.
E. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Yaitu penulis melakukan pengumpulan data dengan cara membaca
sejumlah literatur yang relevan dengan tinjauan kriminologi terhadap tindak
pidana penyalahgunaan narkotika oleh remaja, serta bahan-bahan normatif
berupa produk hukum yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP), Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
2. Penelitian di Lapangan (Field Research)
a). Observasi (Observation)
Yaitu penulis mendatangi lokasi penelitian kemudian melakukan
pengamatan secara langsung dan seksama terhadap obyek penelitian guna
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana
penyalahgunaan narkotika oleh remaja dan upaya-upaya yang dilakukan oleh
pihak kepolisian dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan
narkotika oleh remaja di Kabupaten X.
b). Wawancara (Interview)
Yaitu penulis melakukan tanya jawab (interview) kepada sejumlah nara
sumber yang berkompeten seperti remaja yang pernah menjadi pelaku dalam
tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan penyidik Polri Polres X, serta
masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda dalam upaya menanggulangi
terjadinya tindak pidana penyalahgunaan narkotika oleh remaja di Kabupaten
X.
c). Dokumentasi (Documentation)
Yaitu penulis melakukan pengumpulan data-data dilokasi penelitian yang
berhubungan dengan tindak pidana penyalahgunaan narkotika oleh remaja
dan upaya-upaya yang dilakukan pihak kepolisian dalam menanggulangi
terjadinya pidana penyalahgunaan narkotika oleh remaja di Kabupaten X.
F. Teknik Analisis Data
Data penelitian diolah dan dianalisis secara kualitatif yaitu
menganalisa data berdasarkan kualitasnya lalu dideskripsikan dengan
menggunakan kata-kata sehingga diperoleh bahasan atau paparan dalam
bentuk kalimat yang sistematis dan dapat dimengerti, kemudian ditarik
kesimpulan.
G. Definisi Operasional
Dalam definisi operasional ini, penulis akan memberikan batasan,
pengertian atau istilah yang digunakan dalam penulisan hukum ini, yang
berkaitan dengan judul dan digunakan oleh penulis yaitu sebagai berikut :
1. Kriminologi adalah ilmu yang mempelajari sebab-sebab terjadinya suatu
kejahatan serta cara-cara menanggulangi kejahatan tersebut.
2. Tindak Pidana adalah suatu perbuatan atau tindakan melanggar
ketentuan hukum mengenai narkotika yang berlaku dan diancam dengan
sanksi.
3. Tindak pidana narkotika adalah. tindak pidana penyalahgunaan narkotika
tanpa hak atau melawan hukum selain yang ditentukan dalam undang-
undang yang terjadi di Kabupaten X.
4. Remaja adalah seseorang yang berumur 12 tahun tetapi belum mencapai
umur 18 tahun dan belum pernah kawin yang terlibat tindak pidana
penyalahgunaan narkotika di Kabupaten X.