Anda di halaman 1dari 10

KAJIAN FISIKA LINGKUNGAN

PENGGUNAAN IODINE 131 PADA


BIDANG KESEHATAN

Disusun oleh:

Dwi Nastiti Lukita N. (06111181621062)


Elsa Meilani (06111181621060)
Kiki Wulandari (06111181621012)
Eka Badiatul Kharimah (06111181722043)
Mutia Faradini R. (06111281722015)

Dosen Pembimbing:
Dra. Murniati, M.Si

Program Studi Pendidikan Fisika


Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultass Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sriwijaya
2019
1
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kengerian sering langsung terbayang ketika mendengar kata nuklir dan senyawa
radioaktif. Ada tragedi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyll dan
Fukushima yang akan langsung membuat bergidik. Keamanan tenaga nuklir sebagai sumber
energi memang masih diperdebatkan. Namun dalam bidang kesehatan, pemanfaatan nuklir
terus berkembang. Bukannya memicu penyakit, nuklir dalam kesehatan malah dijanjikan
membantu mendiagnosa bahkan mengobati penyakit
Iodine-131 ( I-131 ) merupakan salah satu dari sekian banyak isotop radioaktif yang
ada di bumi ini. I-131 merupakan radioisotop yang penting dari unsur iodine. Radioisotop
ada yang terdapat di alam yang disebut radioisotop alami dan ada juga yang tidak ada di
alam. Beberapa radioisotop tidak ada di alam disebabkan waktu paro yang dimiliki terlalu
singkat. Sedangkan, Iodine-131 merupakan radioisotop buatan karena isotop ini dapat
dibuat di dalam laboratorium (reaktor) dengan reaksi inti. Radioisotop ini dibuat di dalam
suatu reaktor nuklir yang mempunyai kerapatan (fluks) neutron tinggi dengan mereaksikan
antara inti atom tertentu dengan neutron. Selain itu, radioisotop dapat juga diproduksi
menggunakan akselerator melalui proses reaksi antara inti atom tertentu dengan suatu
partikel, misalnya alpha, neutron, proton atau partikel lainnya.

2. Rumusan Masalah
a) Apa itu Iodine 131 (I-131)?
b) Bagaimana penggunaan Iodine 131 (I-131) bagi penderita kanker tiroid?
c) Bagaimana perkembangan dalam penyediaan Iodine 131 (I-131) di Indonesia?

3. Tujuan
a) Menjelaskan radioisotop Iodine 131 (I-131)
b) Mengetahui peggunaan Iodine 131 (I-131) bagi penderita kanker tiroid?
c) Mengetahui perkembangan dalam penyediaan Iodine 131 (I-131) di Indonesia?

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Radioisotop : Iodine 131 (I-131)
Iodine-131 ( I-131 ) merupakan salah satu dari sekian banyak isotop radioaktif yang
ada di bumi ini. I-131 merupakan radioisotop yang penting dari unsur iodine. Isotop ini
kebanyakan digunakan dalam ilmu kedokteran dan farmatologi. Isotop ini juga memainkan
peranan penting sebagai bahaya dari kehadiran unsur radioaktif ini dalam reaksi fisi nuklir,
dan merupakan sebuah kontributor yang signifikan terhadap pengaruh kesehatan akibat dari
percobaan bom atom di udara terbuka pada tahun 1950-an, dan juga dari kecelakaan reaktor
nuklir di Chernobyl.
Kebanyakan I-131 diperoleh dari hasil penyinaran partikel neutron pada reaktor nuklir
terhadap Tellurium alami. Penyinaran terhadap Tellurium alami hampir seluruhnya
menghasilkan I-131, dimana kebanyakan isotop dari Tellurium yang lebih ringan berubah
menjadi isotop stabil yang lebih berat. Bagaimanapun, nuklida Tellurium alami yang
terberat, Te-130 menyerap sebuah partikel neutron dan memancarkan sinar beta untuk
menghasilkan Te-131, yang akan meluruh menjadi I-131 dengan waktu paruh 25 menit.
I-131 juga dapat meluruh dengan waktu paruh 8,02 hari dengan memancarkan sinar
beta dan sinar gamma. Dalam proses peluruhan ini, I-131 akan berubah menjadi Xe-131.
Iodine yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh kita dan akan terkonsentrasi di
kelenjar gondok, dimana Iodine sangat diperlukan dalam menjalankan fungsi dari kelenjar
tersebut.
Apabila I-131 terdapat dalam jumlah yang sangat banyak dalam lingkungan yang
berasal dari kebocoran unsur radioaktif, zat tersebut dapat mengkontaminasi makanan, dan
juga akan menumpuk pada kelenjar gondok. Dan saat zat tersebut meluruh, dapat merusak
kelenjargondok. Resiko utama dari kehadiran I-131 dalam jumlah yang sangat banyak
adalah dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kanker pada kelenjar gondok
di kemudian hari.
Iodine-131 juga merupakan salah satu pelacak industri radioaktif pemancar gamma
yang paling umum digunakan. Isotop pelacak radioaktif disuntikkan dengan cairan rekahan
hidrolik untuk menentukan profil injeksi dan lokasi rekahan yang dibuat oleh rekah
hidrolik.
Dalam ilmu kedokteran, I-131 digunakan untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar
gondok karena I-131 dapat diserap oleh kelenjar gondok tersebut. Pada umumnya, I-131 juga
digunakan dalam terapi pengobatan terhadap penyakit "thyrotoxicosis" dan beberapa tipe
kanker pada kelenjar gondok yang menyerap iodine.
Dari semua kegunaan I-131 dalam ilmu kedokteran, isotop ini dapat merusak
jaringan tubuh dengan memancarkan sinar beta dan sinar gamma. Iodine yang terdapat dalam
makanan akan diserap oleh tubuh kita dan akan terkonsentrasi di kelenjar gondok, dimana
Iodine sangat diperlukan dalam menjalankan fungsi dari kelenjar tersebut. Apabila I-131
terdapat dalam jumlah berlebih dalam lingkungan yang berasal dari kebocoran unsur
radioaktif, zat tersebut dapat mengkontaminasi makanan, dan juga akan menumpuk pada
kelenjar gondok. Dan saat zat tersebut meluruh, dapat merusak kelenjar gondok. Resiko
utama dari kehadiran I-131 dalam jumlah yang sangat banyak adalah dapat meningkatkan
kemungkinan terjadinya penyakit kanker pada kelenjar gondok di kemudian hari. Ada metode
yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit yang ditimbulkan oleh I-131, yaitu dengan
mengonsumsi makanan yang mengandung unsur nonradioaktif I-127 (Iodine stabil).
Isotop I-131 digunakan sebagai terapi radioisotop langsung untuk mengobati
hipertiroidisme karena penyakit Grave's, dan nodul tiroid hiperaktif (jaringan tiroid aktif

3
abnormal yang tidak ganas). Penggunaan terapi ini untuk mengobati hipertiroidisme dari
penyakit Grave pertama kali dilaporkan oleh Hertz Saul pada tahun 1941.
Isotop I-131 juga digunakan sebagai label radioaktif untuk radiofarmasi tertentu yang
dapat digunakan untuk terapi, misalnya I-131-metaiodobenzylguanidine (131 I-MIBG) untuk
pencitraan dan pheochromocytoma mengobati dan neuroblastoma. Dalam semua keperluan
terapeutik, I-131 menghancurkan jaringan dengan range radiasi beta-pendek. Sekitar 90%
dari kerusakan radiasi untuk jaringan adalah melalui radiasi beta, dan sisanya terjadi melalui
radiasi gamma (pada jarak yang lebih jauh dari radioisotop tersebut). Hal ini dapat dilihat
dalam scan diagnostik setelah digunakan sebagai terapi, karena I-131 juga merupakan
emittor-gamma.

B. Penggunaan Iodine 131 (I-131) bagi Penderita Kanker Tiroid


Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher. Kelenjar ini memproduksi
hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam
aliran darah. Terdapat 4 atom iodine di setiap molekul T4 dan 3 atom iodine pada setiap
molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH
(thyroid stimulating hormone) Iodine nonorganik yang diserap dari saluran cerna merupakan
bahan baku hormon tiroid.
Struma adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid
akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan
kelenjar dan morfologinya. Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran
kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya
Struma terjadi akibat kekurangan iodine yang dapat menghambat pembentukan hormon tiroid
oleh kelenjar tiroid. Hal tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah
yang berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin
dalam jumlah yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama makin
bertambah besar. Akibat kekurangan iodine maka tidak terjadi peningkatan pembentukan T4
dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar
300-500 gram.

Radioterapi
Radioterapi adalah penggunaan radiasi ion di bidang kedokteran sebagai satu bagian
pengobatan kanker dengan mengontrol pertumbuhan sel ganas. Lapangan radiasi juga
mencakup jaringan limfonodus dan pembuluh darah yang menjadi risiko utama untuk
metastase tumor. Radioterapi adalah penggunaan radiasi untuk menghancurkan sel kanker
atau merusak sel tersebut sehingga tidak dapat bermultiplikasi lagi. Walaupun radiasi ini akan
mengenai seluruh sel, tetapi umumnya sel normal lebih tahan terhadap radiasi dibandingkan
dengan sel kanker. Adapun kegunaan Radioterapi antara lain:
 Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan radioterapi, baik dengan
atau tanpa dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti pembedahan dan
kemoterapi.
 Mengontrol : Jika tidak memungkinkan lagi adanya penyembuhan, radioterapi
berguna untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan membuat sel kanker
menjadi lebih kecil dan berhenti menyebar.
 Mengurangi gejala : Selain untuk mengontrol kanker, radioterapi dapat mengurangi
gejala yang biasa timbul pada penderita kanker seperti rasa nyeri dan juga membuat
hidup penderita lebih nyaman.
 Membantu pengobatan lainnya : terutama post operasi dan kemoterapi yang sering
disebut sebagai “adjuvant therapy” atau terapi tambahan dengan tujuan agar terapi
bedah dan kemoterapi yang diberikan lebih efektif.

4
Radioterapi memiliki dua jenis, yaitu:
1) Radioterapi eksternal (radioterapi konvensional).
Pada terapi eksternal, mesin akan mengeluarkan sinar radiasi pada tempat kanker dan
jaringan sekitarnya. Mesin yang digunakan dapat berbeda, tergantung dari lokasi kanker.
Banyaknya dosis radiasi yang digunakan dihitung dengan ukuran grays (Gy). Dosis yang
diberikan tergantung jenis dan luas tumor. Beberapa kasus yang bersifat kuratif, dosis
yang diberikan sebesar 50 sampai 70 Gy, sedangkan limfoma diobati dengan dosis 20 to
40 Gy. Untuk terapi adjuvan sekitar 50 – 60Gy.
2) Radioterapi internal (Radioisotope Therapy (RIT))
Radioterapi diberikan melalui cairan infus yang kemudian masuk ke dalam pembuluh
darah atau dapat juga dengan cara menelannya. Contoh obat radioterapi melalui infus
adalah metaiodobenzylguanidine (MIBG) untuk mengobati neuroblastoma, sedangkan
melalui oral contohnya iodine-131 untuk mengobati kanker tiroid.

Penggunaan Radioaktif Iodin Pada Kanker Tiroid


Radioaktif iodin adalah salah satu isotop radioaktif. Jenis isotop radioaktif iodin yang
digunakan dalam bidang kedokteran adalah I-123 dan I-131. Radioaktif iodin ini
berkonsentrasi dalam kelenjar tiroid sama seperti iodine pada umumnya sehingga dapat
digunakan untuk diagnosis maupun pengobatan. Untuk diagnosa digunakan I-123 sedangkan
untuk pengobatan yang bertujuan untuk menghancurkan kelenjar tiroid adalah I-131.
Radioaktif iodin yang tidak berada di dalam tiroid akan segera dieliminasi dari tubuh melalui
kelenjar keringat dan urine.
 Sebagai Alat Diagnosa
I-123 adalah isotop yang digunakan untuk dapat melihat gambaran kelenjar tiroid.
Cukup dengan menelan I-123 dalam dosis kecil, maka dalam jangka waktu 3-6 jam
sudah dapat diambil gambarannya. Kamera yang digunakan serupa dengan X-ray atau
CT scan. Isotop ini tidak mempunyai efek samping dan tidak berbahaya bagi
pemakainya.
 Sebagai Alat Terapi Hipertiroid Dan Post Operatif
I-131 digunakan sebagai terapi pengobatan untuk kondisi tiroid yang over aktif atau
kita sebut hipertiroid. I-131 ini sendiri adalah suatu isotop yang terbuat dari iodin yang
selalu memancarkan sinar radiasi. Jika I-131 ini dimasukkan kedalam tubuh dalam dosis
yang kecil, maka I-131 ini akan masuk ke dalam pembuluh darah traktus
gastrointestinalis. I-131 dan akan melewati kelenjar tiroid yang kemudian akan
menghancurkan sel-sel glandula tersebut. Hal ini akan memperlambat aktifitas dari
kelenjar tiroid dan dalam beberapa kasus dapat merubah kondisi tiroid yang semula
overactive menjadi underactive.
I-131 digunakan untuk terapi graves’ disease, goiter, tiroid nodul, dan karsinoma
tiroid. Seorang ahli bedah tiroid dapat mengeluarkan seluruh bagian dari tiroid dengan
komplikasi bedah yang paling minimal, sedangkan I-131 digunakan untuk
menghancurkan kelenjar yang masih tersisa. Dalam keadaan ini, tidak diperkenankan
menggunakan hormon pengganti selama beberapa minggu setelah terapi dengan tujuan
menurunkan level hormon tiroid hingga dibawah normal. Dengan demikian, I-131 dapat
bekerja secara maksimal untuk menghancurkan tiroid yang tersisa. Pengobatan dengan
cara ini dapat secara signifikan menurunkan kemungkinan timbulnya kembali kanker
tiroid dan meningkatkan kemampuan dokter untuk mendeteksi dan mengobati kanker
yang mungkin berulang.
 Sebagai Terapi Definitif Untuk Karsinoma Tiroid Persisten

5
Semua penderita kanker harus mendapatkan follow-up yang reguler oleh ahli
endokrinologi. Jika dari hasil follow up diketahui bahwa masih ada kanker tiroid yang
tersisa dan bersifat persisten atau rekuren, maka ahli endokrinologi diperbolehkan untuk
memberikan dosis tambahan I-131. Pasien dengan kanker tiroid residual atau telah
menyebar ke regio belakang leher, dapat melakukan scanning menggunakan radioaktif.

Bentuk Sediaan yang Digunakan


Radioaktif iodine diberikan oral dalam bentuk pil, kapsul atau cairan, tapi yang
paling banyak digunakan adalah bentuk cairan. Gunanya untuk mengatasi kelenjar yang
hiperaktif. seperti larutan iodine-131 (Na131l) untuk terapi kelainan tiroid.
Contoh sediaan yang digunakan:
 contoh sediaan radiofarmaka antara lain : Brom Sufatein I-131 (BSP), Hipuran I-131,
Rose Bengal I-131,
 contoh radiofarmaka untuk terapi : I-131.
Radiofarmaka yang banyak dipakai untuk keperluan in-vitro test adalah I-125.

Dosis yang Digunakan


Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut:
 Dosis kecil, yaitu sebesar 5-30 millicuries (mCi) pada penderita hipertiroid
 Dosis sedang , yaitu 25-75 mCi digunakan untuk mengecilkan ukuran tiroid yang
membesar tetapi mempunyai fungsi yang normal.
 Dosis besar, yaitu 30-200mCi digunakan untuk menghancurkan sel kanker tiroid.
Bila ahli radiologi akan memberikan dosis yang lebih tinggi, maka penderita akan
diminta untuk tinggal di dalam ruang yang terisolasi selama 24 jam untuk
menghindari paparan dengan orang lain.

Prosedur Pelaksanaan
I-131 ditelan dalam bentuk dosis tunggal dengan bentuk cairan dan dengan cepat
masuk ke dalam pembuluh darah traktus gastrointestinalis, masuk ke dalam kelenjar tiroid
dan mulai menghancurkan kelenjar tiroidnya. Efeknya baru akan terlihat dalam jangka waktu
satu sampai tiga bulan dengan efek maksimal tiga sampai enam bulan setelah pengobatan.
Iodine radioaktif diberikan melalui mulut, dalam bentuk cairan 1-2 ml, tidak berasa dan
berbau, dan dengan cepat diserap melalui saluran cerna. Iodine radioaktif ini akan masuk ke
kelenjar tiroid melalui aliran darah dan merusak kelenjar tiroid. Akan diserap oleh kelenjar
gondok, hati dan bagian-bagian tertentu dari otak. Oleh karena itu, 1-131 dapat digunakan
untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok, hati dan untuk mendeteksi tumor otak.
Walaupun radioaktivitas ini menetap selama beberapa waktu dalam kelenjar tiroid, iodine
radioaktif ini akan dikeluarkan melalui bagian tubuh dalam beberapa hari.

Efek Samping
Efek samping dari terapi ini pada umumnya adalah :
a) timbulnya rasa nyeri setelah pengobatan dan pembengkakan kelenjar ludah. Untuk hal
ini, maka penderita boleh diberikan obat simptomatik seperti aspirin, ibuprofen atau
asetaminofen
b) keadaan hipotiroid.
c) Perburukan oftalmopati aktif yang dapat dicegah dengan pemberian kortikosteroid oral
sebelum pemberian iodine radioaktif.
d) Tiroiditis radiasi yang jarang terjadi, terjadi beberapa hari setelah minum iodine
radioaktif dan dapat diatasi dengan pemberian salisilat.
e) Gastritis radiasi yang juga jarang terjadi.

6
f) Eksaserbasi tirotoksikosis yang diantisipasi dengan pemberian obat anti tiroid sebelum
pemberian iodine radioaktif terutama pada pasien lanjut usia dan dengan penyakit
jantung.

Pengawasan
Seseorang yang sedang dalam terapi I-131 ini sebenarnya diperbolehkan pulang ke
rumah, dengan catatan tidak boleh melakukan kontak yang terlalu dekat dan lama dengan
orang lain untuk beberapa hari terutama wanita hamil dan anak-anak. I-131 akan keluar dari
tubuh selama dua hari pertama pengobatan, terutama melalui urin. Selain itu juga ada yang
diekskresikan dalam kelenjar liur, kelenjar keringat, kelenjar air mata, sekresi cairan vagina
dan feses. Akan lebih baik lagi, bila seseorang yang sedang menjalani terapi ini beristirahat
selama beberapa hari, terutama yang pekerjaan sehari-harinya kontak dngan anak-anak dan
wanita hamil.
Nuclear Regulatory Commission merekomendasikan sebagai berikut:
a) Gunakan fasilitas toilet pribadi, jika ada, dan cucilah dua kali lebih banyak setelah
menggunakannya.
b) Mandi setiap hari dan cucilah tangan sesering mungkin
c) Minum cairan dalam jumlah yang normal.
d) Gunakanlah alat makan yang disposabel atau pisahkan dengan alat makan yang lain
saat mencucinya.
e) Cuci pakaian dan semua yang kontak dengan tubuh tiap hari dan harus dipisah dari
pakaian anggota keluarga yang lain. Tidak diperlukan teknik pencucian yang khusus.
f) Jangan menyiapkan makanan kepada orang lain jika mengharuskan penderita kontak
tangan lama dengan makanan tersebut.
Perlu diketahui, bahwa I-131 yang diberikan selama periode kehamilan akan
berakibat rusaknya kelenjar tiroid pada bayi. Iodine radioaktif tidak diberikan kepada wanita
hamil karena bisa melewati sawar plasenta dan bisa merusak kelenjar tiroid janin atau melalui
air susu penderita. Karena itulah kebanyakan para ahli menunda terapi pada wanita yang
sedang dalam masa menyusui. Selain itu, kehamilan sebisa mungkin ditunda paling tidak
enam sampai 12 bulan setelah terapi karena adanya paparan radiasi pada ovarium.
Terapi ini memerlukan suatu keahlian khusus, karena itulah mereka yang terlibat langsung
dalam bagian pengobatan ini adalah para ahli radiologi yang telah mendapat pelatihan khusus
di bidang kedokteran nuklir, termasuk juga para ahli endokrinologi, onkologi, ahli bedah dan
petugas lapangan.

Proteksi
Selain menggunakan alat pelindung diri dan mencegah untuk banyak melakukan
kontak dengan penderita yang sedang menjalani terapi, para ahli dapat menggunakan kalium
iodida. Kalium Iodida (KI) mempunyai bentuk yang sama dengan iodine yang terdapat dalam
garam. KI membanjiri tiroid dengan iodine yang mencegah absorbsi dari radioaktif iodin dari
sumber manapun, termasuk air, makanan, minuman dan udara. KI termasuk obat yang bebas
dijual dipasaran dalam bentuk tablet pil dan cairan.
Para ahli terapi dapat menggunakan KI ini untuk mengurangi paparan terhadap
radioiodin. KI sebaiknya dikonsumsi 6-12 jam sebelum terjadi paparan terhadap radioaktif
iodin. KI tetap efektif walau digunakan beberapa jam segera setelah terjadi paparan.
Dikonsumsi dengan dosis satu kali sehari, sehari ketika sedang terpapar dan satu hari lagi
sesudahnya. Tetapi penggunaan KI juga dapat mengakibatkan efek samping seperti terjadinya
alergi.

Petunjuk bagi Pasien yang Mendapat Pengobatan Iodine Radioaktif.

7
 Sebelum pengobatan.
a) Wanita hamil atau menyusui tidak boleh mendapat pengobatan iodine radioaktif.
b) Hindari makanan laut (ikan laut, udang, kerang, kepiting dan lain-lain) selama lima hari
sebelum dan sesudah pengobatan
c) Hentikan obat anti tiroid, obat batuk dan vitamin serta obat tradisional (seperti jamu
dan lain-lain) atau obat lain yang mengandung iodineselama lima hari sebelum dan
sesudah pengobatan
d) Obat hormon tiroid seperti triiodothyronine harus dihentikan 2 minggu sedangkan
thyroxine 4-6 minggu sebelum pemberian iodine radioaktif.
e) Puasa paling kurang 4 (empat) jam sebelum pengobatan; boleh minum air putih atau
teh.

 Sesudah pengobatan
a) Boleh makan 1 (satu) jam sesudah pengobatan iodine radioaktif.
b) Hindari kontak dengan anak-anak di bawah umur 12 tahun dan ibu hamil selama 3
(tiga) hari.
c) Bagi pasien wanita atau istri dari pasien pria tidak boleh hamil paling kurang 6 (enam)
bulan sesudah pengobatan iodine radioaktif. Gunakan kontrasepsi selama masa
tersebut.
d) Gunakan alat makan tersendiri (sendok, garpu, piring, gelas) selama 3 (tiga) hari
sesudah pengobatan.
e) Setelah menggunakan jamban dan kamar mandi, guyur dengan air yang banyak.
f) Pasien yang mendapat pengobatan iodine radioaktif dengan dosis tinggi perlu dirawat
di kamar isolasi selama 11 hari.

Penandaan
a) Semua produk harus diidentifikasi secara jelas dengan penanda yang harus menempel
secara permanen pada wadah dalam semua kondisi penyimpanan.
b) Penanda radiofarmasi harus memenuhi peraturan nasional dan kesepakatan
internasional yang relevan
c) Informasi mengenai bets harus tersedia untuk badan pengawas nasional dan/atau
regional
Identifikasi dan persyaratan mutu mengenai bahan penanda radioaktif yang dapat digunakan
untuk menyiapkan radiofarmasi, seperti:
a) Petunjuk penyiapan radiofarmasi
b) Indikasi dan kontraindikasi
c) Peringatan dan pengamanan
d) Aspek farmakologi dan farmakokinetik seperti rute eliminasi dan waktu paruh
e) Dosis radiasi

C. Perkembangan Penyediaan Iodine 131 (I-131) di Indonesia


Perkembangan teknologi nuklir kian dinilai efektif dalam mengobati kanker.
Setidaknya, hingga saat ini terdapat lima rumah sakit yang menggunakan teknik radioterapi
paling canggih berupa Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) yang dapat
meminimalkan efek samping pengobatan kanker. Kelima rumah sakit tersebut yaitu RS Cipto
Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, RS Dokter Soetomo Surabaya, RS Gading Pluit Jakarta,
MRCC Siloam Jakarta , dan RS Murni Teguh Medan.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, ada 17 rumah sakit (RS)
yang memiliki instalasi kedokteran nuklir serta menggunakan radiofarmaka untuk diagnosis
dan terapi penyakit. Kesepuluh RS itu adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (Jakarta),

8
RS Harapan Kita (Jakarta), RS Pusat Pertamina (Jakarta), RSPAD Gatot Soebroto (Jakarta),
RS Kanker Dharmais (Jakarta), RS Gading Pluit (Jakarta), RS Hasan Sadikin (Bandung),
RSdr Sutomo (Surabaya), RS M Djamil (Padang) dan RS Marta Fiesta (Medan).
Sementara tujuh rumah sakit lainnya tidak secara aktif menggunakan peralatan
teknologi kedokteran nuklir yang dimiliki. Tujuh RS itu adalah RS Fatmawati (Jakarta), RS
MMC (Jakarta), RS dr.Sardjito (Yogyakarta), RS Kaiadi (Semarang), RS Saeful Anwar
(Malang), RS Adam Malik (Medan) dan RS Akademis (Makassar)
Pemanfaatan teknologi nuklir ini dibantu oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional
(BATAN) dan diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Sedangkan
regulasinya-untuk mencegah penyalahgunaan teknologi nuklir akan dilakukan langsung oleh
Kementerian Kesehatan.

9
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Iodine-131 ( I-131 ) merupakan salah satu dari sekian banyak isotop radioaktif yang
ada di bumi ini. I-131 merupakan radioisotop yang penting dari unsur iodine. Isotop ini
kebanyakan digunakan dalam ilmu kedokteran dan farmatologi. Dalam ilmu kedokteran, I-
131 digunakan untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok karena I-131 dapat diserap
oleh kelenjar gondok tersebut. Pada umumnya, I-131 juga digunakan dalam terapi
pengobatan terhadap penyakit "thyrotoxicosis" dan beberapa tipe kanker pada kelenjar
gondok yang menyerap iodine.
Seperti yang diketahui kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher. Kelenjar
ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon
tersebut ke dalam aliran darah. Terdapat 4 atom iodine di setiap molekul T4 dan 3 atom
iodine pada setiap molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang
tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) Iodine nonorganik yang diserap dari saluran cerna
merupakan bahan baku hormon tiroid. Dalam penanganannya diperlukan penanganan khusus
ager terapi tersebut menunjang kesembuhan.

2. Saran
Negera kita tentu memiliki banyak peluang dalam pengembangan dari obat-obatan
yang mampu membuat penderita kanker sembuh tentunya dengan adanya penanganan yang
tepat dan sumber daya yang cukup sesuai dengan bidangnya. Rumah sakit yang menunjang
penyembuhan penderita kanker hendaknya ditambah diberbagai wilayah Indonesia. Sehingga,
dapat memudahkan perawatan bagi penderitanya.

DAFTAR PUSTAKA
 http://chacissysworld.blogspot.com/2011/10/penggunaan-radioaktif-iodine-
dalam.html?m=1
 http://titin-chemist.blogspot.com/2011/09/iodium-131.html
 http://radiograferatrosumbar.blogspot.com/2011/05/isotop-iodium-131.html
 https://en.m.wikipedia.org/wiki/Iodine-131
 https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/sains/read/2013/11/26/1137101/Nu
klir.dalam.Pemeriksaan.Kesehatan.Kita
 https://www.liputan6.com/health/read/2453125/daftar-rumah-sakit-yang-gunakan-
teknologi-nuklir-untuk-kanker

10