Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dunia otomotif aspek kendaraan roda empat (mobil) meloncat


signifikan menjadi lebih canggih. Dalam menghadapi era revolusi industry 4.0 berbagai
macam industry otomotif berlomba-lomba dalam menciptakan inovasi pada mobilnya sendiri.
Inovasi yang muncul mengarah ke efisiensi bahan bakar dan kenyamanan interior mobil,
namun dari segi harga pun mulai menjadi tolak ukur pemasaran mobil karena banyak mobil
dengan efisiensi bahan bakar yang baik serta kenyamanan interior yang maksimal namun
harga tidak terlalu tinggi.

Untuk mempelajari ilmu dunia otomotif mobil yang teknologinya semakin maju
pesat, maka peserta didik yang menempuh dunia pendidikan bidang otomotif mobil harus
mengikuti perkembangan teknologi tersebut, keseimbangan antara pengetahuan peserta didik
dengan kemajuan teknologi. Dalam mendalami teknologi otomotif mobil, peserta didik harus
mengetahui dasar-dasar teknologi otomotif mobil itu sendiri. Dengan mengetahui dasar-
dasarnya makan mempelajari perkembangan teknologi otomotif yang maju pesat akan mudah
dan terstruktur step by step.

Salah satu bagian mobil yang mengalami perkembangan teknologi yang pesat yaitu
pada bagian chassis, saat ini banyak kendaraan dengan beraneka ragam bentuk chassis,
industri otomotif menciptakan chassis yang tentunya agar kendaraan stabil dan nyaman saat
kecepatan tinggi, dari aspek aerodinamik salah satunya.

1.2 Tujuan Praktikum

Dari latar belakang yang telah dipaparkan, maka tujuan praktikum pada matakuliah
Praktik Sistem Chassis, yaitu

1. Mengetahui dasar-dasar teknologi pada sistem chassis mobil berupa steering, shock
absorber, shock breaker, dan anti-lock brake system.
2. Memenuhi beban studi program studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif.

1
1.3 Tempat Pelaksanaan
Waktu : Selasa, Jam 12.30 – 14.45 WIB
Tempat : G5 Lab. Chassis dan Gedung Baru Fakultas Teknik
1.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup praktik sistem chassis ini bertempat di G5 Lab. Chassis dan gedung baru di
lingkungan Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Praktikum ini dibina oleh Bapak Eddy
Rudiyanto selaku dosen yang mengajar mata kuliah ini.

1.5 Alat dan Media Praktik


Dalam menempuh matakuliah Praktik Sistem Chassis, alat dan bahan yang digunakan
yaitu,
 1 unit mobil Nissan Juke
 1 unit dongkrak
 1 unit scan tool
 1 manual book
 2 jack stand
 Bahan praktik
 Recirculating ball steer
 Shock absorber
 Shock breaker
 Hand tools

2
BAB II

HASIL PRAKTIK

2.1 Anti-Lock Brake System

Rem ABS atau yang disebut juga dengan Anti-Lock Braking System adalah sebuah
sistem rem yang ada di kendaraan mobil ataupun motor agar tidak terjadi penguncian roda saat
pengendara mengerek secara mendadak.

2.1.1 Komponen Rem ABS

A. Sensor Kecepatan
Sensor kecepatan pada pengereman ABS berguna untuk membaca kecepatan pada
bagian putaran roda kendaraan. Sensor ini akan dipasangkan pada setiap roda.
B. Katup Pengereman
Pada jalur minyak rem terdapat sebuah katup pengereman yang digunakan oleh
controller ABS. Setidaknya ada 3 katup Rem di ABS. Yang pertama katup posisi satu yang
berada dalam posisi terbuka penuh, agar tekanan minyak rem bisa maksimal dan akan
langsung disambungkan dengan rem. Kedua katup posisi dua, merupakan katup yang
berfungsi menghalangi tekanan minyak rem. Agar tekanan tidak bisa diteruskan ke rem.
Ketiga katup posisi tiga adalah katup yang berguna menghalangi beberapa tekanan minyak
rem agar tekanan hanya setengah yang bisa dilanjutkan ke rem.

3
C. Pompa
Pada Rem ini juga memiliki sebuah pompa yang berfungsi untuk mengembalikan
tekanan di jalur pengereman yang bisa diantarkan ke katup rem.
D. Controller ABS
Controller pada sistem Rem ini berfungsi untuk menjadi otak yang bisa
mengendalikan katup lalu mengolah datanya dari sensor kecepatan yang ada di semua
bagian roda kendaraan.

2.1.2 Kelebihan dan Kekurangan ABS

Kelebihan ABS

1. Pengereman bisa lebih cepat dibandingkan sistem Rem Biasa


2. Kendaraan akan lebih stabil meskipun terjadi rem mendadak
3. Bagus digunakan untuk jalanan yang basah ataupun pasir

Kekurangan ABS

1. Jika terjadi pengereman jarak dekat ada kemungkinan terjadi tabrakan


2. Ada kemungkinan terjadi gaya Sentrifugal
3. Kurang bagus untuk kondisi jalan yang tidak rata
4. Kerjanya kurang maksimal jika sensor ABS terkena air

2.1.3 Hasil Praktikum Rem ABS

1. Pemeriksaan Trobel Sistem ANTI-LOCK BRAKE SYSTEM (ABS) dengan SCAN


TOOLS :
a. Pasang socket (scan tools) pada bawah dashboard mobil, sebelum memasang
pastikan jumlah pin yang ada pada konektor scan tools sama dengan jumlah pin yang
ada pada kendaraan, beda kendaraan beda pula jumlah pin nya.

4
b. ON-kan power scan tools (Terlebih dahulu hidupkan mesin).

c. Pilih VEHICLE DIAGNOSA pada scan tools.

d. Pilih VP AII432 ENGI404II pada scan tools

e. Pilih ASSIAN PACK #I pada scan tools.

5
\

f. Pilih NISSAN pada scan tools.

g. Pilih GENERAL pada scan tools.

h. Langkah kedelapan pilih ANTI-LOCK BRAKE SYSTEM (ABS) → pilih OBD-


III6 PIN CONNECTOR pada scan tools.

6
i. Langkah kesembilan FI diagnostic trouble codes setelah itu kita dapat mengetahui
hasil dari diagnostic scan tools yaitu CII04 NO MATCH IN DATASE (adanya
trouble pada sensor ABS).

2.2 Shock Absorber dan shock breaker

Alat dan bahan

1. Recirculating ball steer


2. Shock absorber
3. Shock breaker
4. Handtools
5. Wearpack
6. Scantool

7
2.2.1 Prosedur Kerja
1. Pembongkaran dan pemasangan recirculating ball

Pada tahap ini dilakukan pembongkaran dan pemasangan kembali komponen


recirculating ball. Pada bagian recirculating ball terdapat komponen-komponen berupa ball
nut, locknut, sector shaft, worm trust bearing, seal, wormshaft, dan balls and guides. Sistem
kemudi tipe recirculating ball merupakan sistem kemudi yang konvensional, sehingga
pengemudi memerlukan tenaga besar untuk memutar steering wheel. Biasanya sistem
kemudi tipe ini digunakan di mobil kecil dengan muatan rendah. Cara kerjanya yaitu ketika
steering wheel berputar ke kanan atau ke kiri maka putaran akan diteruskan oleh steering
shaft menuju worm shaft, kemudian worm shaft akan mendorong roda gigi sector yang
terpaut dengan worm gear.

2. Pembongkaran dan pelepasan shock breaker dan shock absorber

Gambar Shock absorber 2 tabung

Gambar Shock absorber 1 tabung dan per

8
Gambar tie road

Pada tahap ini dilakukan pembongkaran dan pemasangan kembali komponen shock
breaker, shock absorber, dan tie road. Pada bagian shock breaker dan shock absorber
terdapat komponen-komponen berupa tabung shock, piston, orifice, dan seal. Shock
absorber memiliki 2 jenis tipe tabung, yaitu mono tube (satu tabung) dan twin tube (dua
tabung) dimana tabung pertama sebagai working chamber dan tabung kedua sebagai
reservoir chamber. Fungsi dari shock absorber yaitu meredam kejutan ketika kendaraan
melalui jalan yang tidak rata, dalamnya terdapat seal yang mencegah kebocoran oli shock
absorber.

2.3 Scan sensor mobil Nissan Juke menggunakan scan tool

Gambar Soket scan

9
Gambar Tampilan display scantool error

Gambar Tampilan scantool error

Pada tahap ini melakukan scan pada beberapa sensor di mobil Nissan Juke. Pertama
masukan kabel scantool ke soket yang berada di bagian bawah steering wheel. Selanjutnya
nyalakan scantool dan kunci kontak pada posisi ON, kemudian scantool bisa digunakan
sesuai keinginan pemakai. Fungsi dari scantools yaitu membaca sensor mobil jika agar
mengetahui sensor dalam keadaan baik atau tidak, jika sensor mengalami masalah maka
scantool akan menampilkan sensor yang bermasalah. Namun kendalanya yaitu tidak semua
mobil dapat menggunakan scantool dikarenakan software yang tidak memadai sehingga
perlu dilakukan update software.

2.4 Spooring

Spooring adalah meluruskan roda antaradepan dan belakang kedudukan roda sesuai
dengan spesifikasi dari tipe mobil. Dengan kata lain, spooring adalah menyelaraskan

10
kedudukan tiap roda depan anatara roda kiri dan roda kanan (penyelarasan FWA). Efek yang
ditimbulkan dari penyetelan front wheel alignment dapat dianalisa dengan adanya
pengamatan serta pengujian. Kekurangan dari penyetelan front wheel alignment ini terdetksi
dari percobaan tes jalan lurus, jalan berbelok, saat posisi kembali dari perlakuan berbelok,
keausan bagian – bagian ban yang mendapat traksi pada bidang jalan serta seberapa factor
keselamatan dari pengemudi.

Kenyamanan berkendara merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki
sebuah kendaraaan.Karena berhubungan dengan keamanan atau safety untuk pengendara,
penumpang, kendaraan itu sendiri ataupun terhadap kendaraan lain, dan terbentuknya
keadaan regulasi lalu lintas yang baik.Salah satu faktor yang sangat berperan adalah kondisi
steering/kemudi kendaraan.Kemudi berfungsi sebagai pengatur arah kendaraan yang
dilakukan oleh driver, sehingga kondisi kemudi mempengaruhi driver dalam rangka
mengontrol laju kendaraan itu sendiri. Kondisi kemudi yang kurang baik akan
mengakibatkan ketidaknyamanan bai driver, sehingga cepat lelah dan lebih besar lagi
berdampak pada terjadinya kecelakaan. Karena berhubungan dengan keamanan atau safety
untuk pengendara, penumpang, kendaraan itu sendiri ataupun terhadap kendaraan lain, dan
terbentuknya keadaan regulasi lalu lintas yang baik.Salah satu faktor yang sangat berperan
adalah kondisi steering/kemudi kendaraan.Kemudi berfungsi sebagai pengatur arah
kendaraan yang dilakukan oleh driver, sehingga kondisi kemudi mempengaruhi driver dalam
rangka mengontrol laju kendaraan itu sendiri. Kondisi kemudi yang kurang baik akan
mengakibatkan ketidaknyamanan bai driver, sehingga cepat lelah dan lebih besar lagi
berdampak pada terjadinya kecelakaan.

Aspek pengamatan dari pengujian tersebut meliputi camber, caster, toe angle, dan
kingpin inclination. Pengamatan secara visual dapat terdeteksi dengan adanya pola pada
keausan ban.

11
Gambar camber, caster, dan toe angle

Chamber adalah kemiringan roda jika dilihat dari depan, chamber bisa bernilai (+) dan
(-). Chamber (+) jika roda miring keluar, sedangkan chamber (-) jika roda miring ke dalam.

Chaster adalah kemiringan poros putar roda (steering axis) jika dilihat dari samping,
ada dua jenis caster yaitu:

Chaster positif, yaitu kemiringan poros putar roda (steering axis) dilihat dari samping
ke arah belakang.

Chaster negatif, yaitu kemiringan poros putar roda (steering axis) dilihat dari samping
ke arah depan.

Toe angle adalah perbandingan panjang roda bagian depan dengan panjang roda
bagian belakang. Ada dua jenis toe angle.

Toe-in yaitu panjang roda bagian depan (A) lebih pendek dibandingkan panjang roda
bagian belakang (B)

Toe-Out yaitu panjang roda bagian depan (A) lebih panjang dibandingkan panjang
roda bagian belakang (B)

2.4.1 Spooring Manual/ Konvensional

Ada dua metode yang bisa dipakai dalam spooring manual yaitu sebagai berikut:

12
a. Memakai meteran

Gambar Spooring meteran

Bukannya meragukan hasil pengukuran mesin yang sangat akurat.Tetapi tetap


berguna kala darurat.Atau juga kala setelan bengkel kurang afdol dengan keinginan.
Bisa saja, kondisi mobil kurang fit saat dilakukan wheel alignment. Nah penyetelan
manual seperti berikut bisa jadi alternatif. Kedua cara ini lebih dominan pada
penyetelan toe. Yaitu sudut roda terhadap garis lurus dari depan. Seperti trik Hadhi,
pria unik yang hobi utak-atik. Pertama-tama cek kondisi kaki-kaki harus bagus
termasuk tekanan angin ban harus sama. Kemudian, carilah jalan rata dan lapang yang
aman atau di dalam garasi juga boleh.Jalankan mobil lurus sepanjang 3 meter, tarik
rem tangan (hand brake).Biar semua roda lurus. Tarik meteran, ukur jarak dari ujung
ke ujung ban depan kiri dan kanan dari depan moncong, dengan menempelkan meteran
ke salah satu alur ban yang sama. Selanjutnya, ukur ban depan pada bagian
belakangnya, hitung berapa selisih hasil ukur tersebut dalam skala centimeter. Kalau
selisihnya banyak, spooring harus dikerjakan. Kendurkan mur tie rod dan setel tie rod
dengan cara memutar Tie rod disetel sampai ukuran ban depan sisi luar membentuk
kuncup dengan batas (limit) antara 1 s/d 5 milimeter maksimal, ukuran ini menjadikan
ban aus secara merata. Lalu, kencangkan lagi mur tie rod. Kuncup melebihi limit 5 mm
mengakibatkan ban depan botak sisi luar. Sebaliknya, jika ukuran ban depan sisi luar
membentuk kembang atau mengembang mengakibatkan ban botak sisi dalamnya.

b. Memakai benang

13
Caranya sangat simpel pada mobil yang tergolong masih standar dan tidak
terhalangi dengan penutup pelek yang menonjol keluar. Selain itu pelek yang
digunakan tentunya tidak mempunyai offset berbeda atau jarak sumbu yang relatif
sama. Peralatan disediakan cukup dengan bantuan tali atau benang nylon yang tersedia
di toko bangunan.Selain itu cari dudukan tali berupa penyanggah, seperti jack stand.
Oh, iya. Pastikan penyetelan dilakukan pada tempat yang relatif rata pada semua
roda.Langkah pertama, bagi rata putaran setir ke kiri dan ke kanan.Setelah setir diputar
habis ke kanan, hitung putaran ke kiri hingga setir habis diputar. Umumnya jarak putar
setir berkisar 3,8 putaran. Setelah terhitung, barulah gerak dibagi dua. Yaitu menjadi
1,9 putaran dari posisi habis. Setelah putaran terbagi rata, tinggal atur ketegangan
benang saat dibentang melalui kedua tonggak dengan patokan kelurusan pada bibir
belakang ban belakang dan juga bibir depan roda depan Posisikan jack stand sekitar 1
meter di depan roda depan dan dibelakang roda belakang Biar tidak bingung, setelah
benang di bagian roda belakang menyentuh salah satu bibirnya tonggak jangan digeser
lagi . Setelah itu, atur kerapatan benang di roda depan sama dengan mengatur tonggak
belakang. Begitu juga dengan tonggak di sisi lawan. Kendurkan mur penahan tie rod
sebelum as long tie rod diputar untuk penyetelan. Nah, sewaktu penyetelan as long tie
rod, pastikan juga kemudi tidak bergeser. Setelah benang dapat rata sisi belakang dan
depan roda bagian depan. Anda bisa lanjutkan pada sisi ban lainnya. Setelah selesai
kedua ban depan, perhatikan garis antara kedua sisi ban. Semestinya tali lurus merapat
pada kedua sisinya.Berbeda dengan penyetelan roda belakang yang sudah
menggunakan sistem independen atau multi link. Penyetelan ban bukan lagi pada baut
as long tie rod. Baut dudukan salah satu arm akan dikendurkan lalu diputar
menyesuaikan setelan yang dikehendaki. Sebagai patokan, juga sama dengan roda
depan. Kedua bagian bibir ban akan menyentuh bentangan tali saat memiliki sudut nol.

2.4.2 Spooring Bluetooth

Teknologi ini pada dasarnya sama dengan sistem spooring yang lain, hanya saja
teknologi ini lebih akurat dalam mentransfer hasil data dari head ke cpu karena lebih akurat
bila memakai Bluetooth.

14
Gambar Spooring Bluetooth

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Matakuliah Praktik Sistem Chasis mempelajari teknologi dasar sistem kemudi dan kaki-kaki.
Dengan melakukan pembongkaran dan pemasangan kembali sistem kemudi tipe recirculating
ball, shock absorber, dan shock breaker membuat peserta didik mengetahui secara detail mengenai
konstruksi komponen tersebut. Kemudian pula peserta didik melakukan pengukuran derajat
kemiringan roda depan menggunakan alat ukur manual.

Pada sistem kemudi tipe recirculating ball terdapat komponen kecil berupa ball nut, locknut,
sector shaft, worm trust bearing, seal, wormshaft, dan balls and guides. Kemudian pada bagian
shock breaker dan shock absorber terdapat komponen kecil berupa tabung shock, piston, orifice,
dan seal. Penyakit umum yang dirasakan pada bagian shock breaker dan shock absorber yaitu
bocor dan mati sehingga suspense mobil tidak bekerja maksimal atau tidak bekerja sama sekali.

Memahami camber, caster, dan toe angle pada roda kendaraan serta perbaikanya yaitu
Spooring. Memahami dan mempraktekkan Spooring Manual/ Konvensional maupun Spooring
Bluetooth.

16