Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI GARAM BERYODIUM


MATA KULIAH GIZI MASYARAKAT

Dosen Pengampu:
Choirul Anna Nur Afifah, S.Pd., M.Si.
Dra. Rahayu Dewi Soeyono, M.Si.

Penyusun:

1. Diajeng Nabella NIM. 17050394029


2. Winna Delila Ariesta NIM. 17050394034
3. Rhania Safirah Dynantra NIM. 17050394039
4. Revo Firmansyah NIM. 17050394040

PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Yodium merupakan zat mineral mikro yang harus tersedia didalam tubuh yang
berfungsi untuk pembentukan hormon tiroid dan berguna untuk proses metabolisme di
dalam tubuh. Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) merupakan salah satu
masalah gizi mikro di Indonesia yang mempunyai dampak baik secara langsung
ataupun tidak langsung pada kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia
(Almatsier, 2004).

Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian GAKY adalah asupan yodium,


tingkat pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, cara perlakuan garam yodium seperti
penyimpanan dan pengolahan serta faktor lingkungan yaitu daerah dataran tinggi.
Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting dalam terbentuknya suatu
tindakan seseorang. Pengetahuan tentang gizi dapat menentukan dalam pemilihan
makanan, apabila pengetahuan seseorang rendah maka akan menyebabkan pemilihan
makanan yang salah. Bertambahnya pengetahuan mengenai gizi, maka seseorang
akan berkemampuan untuk menerapkan informasi yang telah didapatkannya dalam
kehidupan sehari-hari (Wardani, 2009). Pengetahuan merupakan tahapan awal untuk
mengambil suatu keputusan, dimana pada akhirnya seseorang akan melakukan atau
tidak seperti pengetahuan yang telah dimilkinya (Agustini,1999). Semakin
bertambahnya pengetahuan seseorang, maka diharapkan status gizinya juga akan
menjadi lebih baik.

Upaya untuk menanggulangi kebutuhan yodium di daerah dataran tinggi,


pemerintah mengikuti program fortifikasi yodium pada garam seperti yang dianjurkan
oleh WHO (BPOM, 2006). Garam sangat stabil pada kondisi kering sehingga bisa
bertahan lebih dari lima puluh tahun tanpa mengalami kerusakan. Hal itulah yang
menyebabkan Kalium peryodat (KIO) dipakai sebagai suplemen untuk program
yodisasi garam (atau garam beryodium). Garam beryodium mengandung 0,0025%
berat KIO yang berarti 100 gram total berat garam mengandung 2,5mg KIO (Hadi dan
Nurahman, 2003).

Kestabilan kandungan yodat pada fortifikasi garam dapur dapat dipengaruhi


oleh beberapa hal yaitu kadar air, tingkat kemurnian garam, jenis pengemas, proses
pengolahan, kelembaban, suhu, adanya zat-zat pereduksi, pH dan lama penyimpanan
(BPOM, 2006). Kerusakan pada garam beryodium dapat terjadi selama penyimpanan,
salah satunya karena garam yang tidak tertutup sehingga terkena paparan sinar
matahari dan terkontaminasi dengan zat pereduksi lainnya. Berdasarkan penelitian
BPOM, 2006 menunjukkan bahwa penurunan iodat pada garam beryodium yang
disimpan selama satu bulan pada suhu ruang sebesar 46,51%.
Untuk mengetahui mana garam di pasaran yang mengandung yodium dan
mana yang tidak mengandung yodium, dengan cara membaca label pada kemasan
garam. Selain itu dapat diketahui dengan pengujian mutu garam beryodium
menggunakan larutan iodina test dan larutan dari sari singkong dengan di tambah
cuka atau asam asetat (CH3COOH).

Yodium berperan penting untuk membantu perkembangan kecerdasan atau


kepandaian pada anak. Yodium juga dapat membatu mencegah penyakit gondok,
gondong atau gondongan. Yodium berfungsi untuk membentuk zat tirosin yang
terbentuk pada kelenjar tiroid. Disamping untuk produksi hormon tiroid yaitu hormon
yang dibutuhkanuntuk perkembangan dan pertumbuhan saraf otot pusat, pertumbuhan
tulang, perkembangan fungsi otak dan sebagian besar metabolisme sel tubuh kecuali
sel otak.Yodium juga dibutuhkan untuk sel darah merah dan pernafasan sel serta
menjaga keseimbangan.

B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui kandungan yodium pada berbagai merk garam yang ada di pasaran

2. Mengetahui cara menguji kandungan yodium pada garam

C. Tinjauan Teori
Yodium (Bahasa Yunani: Iodes – ungu), adalah unsur kimia pada tabel
periodik yang memiliki simbol I dan nomor atom 53. Unsur inidiperlukan oleh hampir
semua mahkluk hidup. Yodium adalah halogen yang reaktivitasnya paling rendah dan
paling bersifat elektropositif. Yodium dapat diperoleh dari berbagai jenis pangan dan
kandungannya berbeda-beda tergantung asal jenis pangan tersebut dihasilkan.
Kandungan yodium pada buah dan sayur tergantung pada jenis tanah. Kandungan
yodium pada jaringan hewan serta produk susu tergantung pada kandungan yodium
pada pakan ternaknya. Pangan asal laut merupakan sumber yodium alamiah. Sumber
lain yodium adalah garam dan air yang difortifikasi. Makanan laut dan ganggang laut
adalah sumber yodium yang paling baik

Iodium merupakan zat gizi essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen
dari hormon thyroxin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktivitas
hormon ini, yaitu trijodotyronin (T3) dan tetrajodotyronin (T4) atau thyroxin. Iodium
dikonsentrasikan di dalam kelenjar gondok (glandula thyroxin) untuk dipergunakan
dalam sintesa hormon thyroxin. Hormon ini ditimbun dalam folikel kelenjar gondok,
terkonjugasi dengan protein (globulin) yang disebut thyroglobulin yang merupakan
bentuk yodium yang disimpan dalam tubuh, apabila diperlukan, thyroglobulin dipecah
dan akan melepaskan hormon thyroxin yang dikeluarkan oleh folikel kelenjar ke
dalam aliran darah (Yuastika, 1995).
Kekurangan yodium memberikan kondisi hypothyroidism dan tubuh mencoba
untuk mengkompensasikan dengan penambahan jaringan kelenjar gondok yang
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid tersebut.

Jumlah iodium dalam tubuh manusia relative sangat kecil dan kebutuhan
untuk pertumbuhan normal hanya 100-150 mikrogram (0,1-0,15 mg) perhari.
Kebutuhan ini dapat dipenuhi dari konsumsi 6 gram garam beriodium dengan
kandungan minimal 40 ppm, sekitar 60 mikrogram iodium yang dikonsumsi tersebut
akan ditangkap oleh kelenjar tiroid untuk pembentukan hormon thyroxin (Permaesih,
2000).

Meskipun tidak semua garam produksi lokal bermutu rendah tetapi kenyataan
memang menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang vital bagi mutu suatu
garam yang sering didapati pada garam lokal antara lain rendahnya kandungan
yodium yang tidak memenuhi standar seperti yang ditetapkan oleh Lembaga Standar
Nasional Indonesia. Setidaknya ada 13 kriteria standar mutu yang harus dipenuhi oleh
produsen garam. Diantaranya adalah penampakan bersih, berwarna putih, tidak
berbau, tingkat kelembaban rendah, dan tidak terkontaminasi dengan timbal dan
logam lainnya. Kandungan NaCl untuk garam konsumsi manusia tidak boleh lebih
rendah dari 97% untuk garam kelas satu, dan tidak kurang dari 93% untuk garam
kelas dua. Tingkat kelembaban disyaratkan berkisar 0,5% dan senyawa SO4 tidak
melebihi batas 2,0%, kadar yodium berkisar 30-80ppm.

Untuk melihat gambaran garam yang dikonsumsi, khususnya dilihat dari


kandungan iodium dalam garam dapat dilakukan dengan cara hasil uji kualitatif
terhadap garam yang dikonsumsi yaitu dengan menggunakan alat Iodina-test dari
Kimia Farma.

Bentuk garam yang kita kenal di Indonesia terbagi atas tiga, yaitu:

1. Halus, dimana garam ini adalah garam yang kristalnya sangat halus menyerupai
gula pasir yang biasa disebut garam meja. Garam halus ini biasa dikemas dalam
wadah/plastik dengan label yang lengkap.

2. Curai/krosok, dimana garam ini adalah garam yang kristalnya kasar-kasar, di


daerah Jawa disebut juga krosok, biasa dibungkus dengan karung dan dijual dalam
bentuk kilo-an.

3. Briket, yaitu garam yang berbentuk bata.

Garam beryodium merupakan garam yang sudah difortifikasi atau


ditambahkan mineral yodium. Yodium ini berfungsi untuk membantu tubuh
memproduksi hormon tiroid, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur proses
metabolisme tubuh dan berbagai fungsi organ di dalam tubuh. Garam yang dijual di
pasaran terbagi menjadi dua macam, yakni garam laut biasa dan garam meja. Kedua
jenis garam ini memiliki sedikit perbedaan. Garam laut biasa berbentuk lebih kasar
dan butirannya lebih besar, sedangkan garam meja umumnya lebih halus dengan
butiran yang lebih kecil.

Beragam Manfaat Garam Beryodium


Bagi Anda yang suka meracik masakan di dapur, tentu sudah tidak asing
dengan garam meja. Umumnya pembuatan garam meja melalui proses yang lebih
panjang dibandingkan pembuatan garam laut. Proses ini bertujuan untuk
menghilangkan kandungan mineral yang tidak dibutuhkan.
Sebagian besar garam meja yang dijual di pasaran telah ditambahkan yodium.
Yodium merupakan unsur mineral yang umumnya terkandung dalam air laut atau
tanah di sekitar lautan.
Sebagai nutrisi yang penting bagi tubuh, yodium berperan untuk:

 Menjaga fungsi tiroid tetap stabil.


 Mendukung pertumbuhan otak janin, bayi, dan anak-anak.
 Mencegah penyakit tiroid, seperti penyakit gondok dan hipotiroidisme.
 Mengurangi risiko kanker tiroid.

Rekomendasi Asupan Yodium Sehari-hari


Setiap orang disarankan memenuhi asupan yodium setiap hari. Namun jumlah
yang diperlukan setiap orang berbeda-beda, tergantung pada usianya. Kementrian
Kesehatan merekomendasikan asupan yodium sehari-hari sebagai berikut:

 Bayi: 90-120 mikrogram (mcg) yodium per hari.


 Anak-anak: 120 mcg yodium per hari.
 Remaja dan orang dewasa: 150 mcg yodium per hari.
 Ibu hamil: 220 mcg yodium per hari,
 Ibu menyusui: 250 mcg yodium per hari.

Asupan yodium ini bisa diperoleh dengan mengonsumsi garam beryodium yang
ditambahkan pada masakan atau minuman. Namun, orang yang menderita penyakit
tertentu, seperti hipertensi dan penyakit ginjal, mungkin perlu membatasi asupan
garam. Asupan yodium bisa Anda peroleh dari makanan atau minuman yang banyak
mengandung mineral ini, yaitu:

 Makanan laut, seperti ikan, kerang, dan rumput laut.


 Susu dan produk olahannya, seperti keju atau yoghurt.
 Susu.
 Multivitamin atau suplemen yang mengandung yodium.

Meski memiliki beragam manfaat yang baik, kekurangan atau kelebihan yodium
juga bisa memberikan dampak buruk pada tubuh. Berikut ini adalah penjelasannya:
Kekurangan yodium
Walaupun sumber yodium dapat dengan mudah ditemui, masih cukup banyak
orang di beberapa belahan dunia yang mengalami kekurangan yodium. Kurangnya
asupan yodium bisa mengakibatkan penurunan produksi hormon tiroid. Hal ini dapat
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid atau penyakit gondok (goiter). Selain itu,
kekurangan yodium juga bisa mengakibatkan hipotiroidisme, yaitu kondisi di mana
kelenjar tiroid tidak dapat menghasilkan hormon tiroid yang cukup. Gejala-gejala
hipotiroidisme yang dapat muncul adalah:

 Pertambahan berat badan


 Kelelahan
 Konstipasi atau sembelit
 Sering merasa kedinginan atau sensitif terhadap suhu dingin
 Kulit kering

Pada ibu hamil, kekurangan yodium dapat menyebabkan hipotiroid kongenital,


yaitu kondisi di mana janin kekurangan hormon tiroid. Penyakit ini bisa menimbulkan
gangguan tumbuh kembang janin dan kesulitan belajar pada anak di kemudian hari,
serta meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan cacat bawaan lahir.

Kelebihan yodium
Tidak hanya kekurangan yodium yang bisa menimbulkan bahaya, kelebihan
yodium juga bisa menimbulkan masalah kesehatan, yaitu hipertiroidisme. Gejala-
gejala penyakit tersebut adalah:

 Berat badan turun meski tidak sedang menjalani diet


 Napas pendek atau terasa berat
 Dada berdebar
 Tangan gemetar (tremor)
 Sering berkeringat
 Sangat sensitif terhadap suhu panas
 Mudah lelah
 Gatal-gatal
 Perubahan siklus menstruasi
Langkah Kegiatan Praktikum
A. BAHAN
- Iodina tes (tes kit yodium)
- Garam dapur dan garam meja berbagai merek
- Singkong
- Cuka 25%

B. ALAT
- Parutan
- Saringan santan
- Sendok teh
- Sendok makan
- Nampan/piring plastik
- Gelas

C. LANGKAH KERJA
1. PENGUJIAN SECARA KIMIA

1. Tuangkan satu sendok makan garam dapur atau garam meja dalam piring
plastik.
2. Tetesi dengan Iodina tes dan amati perubahan warna garam dalam beberapa
menit.
2. PENGUJIAN SECARA TRADISIONAL
1. Kupas singkong, cuci selanjutnya parut dan peras.
2. Tuang 1 sendok makan perasan singkong dalam gelas, tambahkan 4-6 sdt
garam dan 2 sdt cuka dan aduk rata, selanjutnya amati perubahan warnanya.
3. Semakin pekat warna larutan maka semakin baik kualitas garam.
Bagan Pengujian Garam secara Kimia

Iodina tes

Garam dapur/garam meja

Bagan Pengujian Garam secara Tradisional

Singkong, dikupas, diparut dan


diperas

Cuka 2 sdt Garam 4-6 sdt

Air perasan singkong 1 sdm

Diaduk rata dan amati


perubahannya
Bahan
1. Garam Garam merk:
 Gyuri
 Indomaret
 Miwon
 Koki
 Superindo
 Refina
 Daun
 Cipta rasa
 Laba-laba
 Dolina
Masing-masing di ambil sampel sebanyak
1 sdm untuk uji kimia dan uji tradisional.
2. Iodina Test

2-3 tetes pada garam yang akan di uji


secara kimia

3. Sari singkong (asam sianida alami)

1 sdm pada garam yang akan di uji secara


tradisional

4. Cuka (asam asetat)

2 sdt pada gram yang akan di uji secara


tradisional
Hasil Praktikum
Sari
Iodina Singkong + Cukup Kurang
No Merk Garam Test Cuka yodium yodium
(Kimia) (Tradision (>30 ppm) (<30 ppm)
al)
1 Miwon

iodina test 1 1 √

Sari singkong + cuka

2 Laba-Laba

1 1 √
iodina test

Sari singkong + cuka


3 Indomaret

Iodina test 1 3 √

Sari singkong + cuka


4 Cipta Rasa

Iodina test
1 2 √

Sari singkong + cuka


5 Refina

iodina test
2 4 √

Sari singkong + cuka


6 Daun

iodina test
2 3 √

Sari singkong + cuka


7 Gyuri

Iodina test 2 2 √

Sari singkong + cuka

8 Dolina

Iodina test
3 4 √

Sari singkong + cuka


9 Koki

4 4 √
Iodina test

Sari singkong + cuka


10 Superindo

Iodine test 4 5 √

Sari singkong + cuka


Keterangan skala warna:

1 = Tidak ada perubahan warna

2 = Ungu pudar

3 = Ungu cukup pekat

4 = Ungu pekat

5 = Ungu sangat pekat

Pembahasan
Pada praktikum gizi masyarakat ini menguji kandungan yodium yang ada pada
garam dapur yang beredar luas di pasaran. Kami melakukan pengujian terhadap 10
sampel garam dengan merk yang berbeda yaitu merk cap koki, merk miwon, merk
dolina, merk daun, merk laba-laba, merk indomaret, merk gyuri, merk superindo,
merk refina, dan merk cipta rasa.

Pengujian garam beryodium ini sebanyak dua kali dengan meggunakan dua
larutan yang berbeda. Yang pertama menggunakan larutan iodine test sebanyak 2 – 3
tetes pada setiap sampel garam. Yang kedua menggunakan larutan sari singkong
(asam sianida) sebanyak 1 sdm dengan cuka (asam asetat) sebanyak 2 sdm pada setiap
sampel garam.

Pada pengujian garam merk miwon setelah dilakukan pengujian pertama dan
pengujian kedua, garam tidak berubah warna menjadi ungu sehingga garam tersebut
tidak mengandung yodium.

Pada pengujian garam merk laba – laba setelah dilakukan pengujian pertama
dan pengujian kedua, garam tidak berubah warna menjadi ungu sehingga garam
tersebut tidak mengandung yodium.

Pada pengujian garam merk indomaret setelah dilakukan pengujian pertama


dan pengujian kedua, garam berubah warna menjadi ungu pudar atau ungu muda
sehingga garam tersebut mengandung kurang yodium yaitu kurang dari 30 ppm.

Pada pengujian garam merk cipta rasa setelah dilakukan pengujian pertama
dan pengujian kedua, garam berubah warna menjadi ungu pudar atau ungu muda
sehingga garam tersebut mengandung kurang yodium yaitu kurang dari 30 ppm.

Pada pengujian garam merk refina setelah dilakukan pengujian pertama garam
berubah warna menjadi ungu pekat atau ungu tua, sedangkan pada pengujian kedua,
garam berubah warna menjadi ungu muda atau ungu pudar, walaupun hasil pengujian
pertama dan kedua berbeda, garam tersebut masuk kategori cukup yodium yaitu lebih
dari 30 ppm, karena salah satu pengujian sudah menunjukkan perubahan warna
menjadi ungu tua.

Pada pengujian garam merk daun setelah dilakukan pengujian pertama dan
pengujian kedua, garam berubah warna menjadi ungu pudar atau ungu muda,
sehingga garam tersebut mengandung kurang yodium yaitu kurang dari 30 ppm.

Pada pengujian garam merk gyuri setelah dilakukan pengujian pertama dan
pengujian kedua, garam berubah warna menjadi ungu pudar atau ungu muda,
sehingga garam tersebut mengandung kurang yodium yaitu kurang dari 30 ppm.

Pada pengujian garam merk dolina setelah dilakukan pengujian pertama dan
pengujian kedua, garam berubah warna menjadi ungu tua atau ungu pekat, sehingga
garam tersebut mengandung cukup yodium yaitu lebih dari 30 ppm.

Pada pengujian garam merk cap koki setelah dilakukan pengujian pertama dan
pengujian kedua, garam berubah warna menjadi ungu tua atau ungu pekat, sehingga
garam tersebut mengandung cukup yodium yaitu lebih dari 30 ppm.

Pada pengujian garam merk superindo setelah dilakukan pengujian pertama


dan pengujian kedua, garam berubah warna menjadi ungu tua atau ungu pekat,
sehingga garam tersebut mengandung cukup yodium yaitu lebih dari 30 ppm.

Berdasarkan pengujian ini garam yang mengandung cukup yodium lebih dari
30 ppm yaitu garam dengan merk refina, merk dolina, merk cap koki, dan merk
superindo. Sedangkan garam yang mengandung yodium kurang dari 30 ppm yaitu
garam dengan merk miwon, merk laba-laba, merk daun, merk indomaret, merk cipta
rasa, dan merk gyuri.
Penutup

A. Kesimpulan
Dari 10 sampel garam dengan merk berbeda yang di uji kandungan
yodiumnya baik menggunakan uji kimia maupun uji tradisional, terdapat 2 merk
garam tidak mengandung yodium yaitu merk miwon dan merk laba-laba, terdapat 4
merk garam mengandung yodium yang kurang yaitu merk daun, merk cipta rasa,
merk indomaret, dan merk gyuri, terdapat 4 merk garam yang mengandung yodium
yang cukup yaitu merk superindo, merk dolina, merk refina, dan merk cap koki.

B. Saran
1. diharapkan masyarakat mengetahui merk garam yang mengandung cukup yodium.

2. diharapkan masyarakat bisa melakukan pengujian sendiri pada garam dapur yang
ada dirumahnya.

3. diharapkan adanya peran aktif dari petugas kesehatan yang ada di masyarakat untuk
melakukan sosialisasi pentingnya menggunakan garam beryodium.