Anda di halaman 1dari 20

CRITICAL BOOK REVIEW

MK. Geologi &


Geomorfoogi Indonesia
PRODI S1 Pend.Geo/FIS

Skor Nilai:

“GEOLOGI DAN GEOMORFOLOGI INDONESIA”

NAMA MAHASISWA : Muhammad Rais


NIM : 3183331005
DOSEN PENGAMPU : Dr. Dwi Wahyuni Nurwihastuti,
S.Si., M. Sc.
MATA KULIAH : GEOLOGI DAN GEOMORFOLOGI
INDONESIA

PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Pertama sekali segala puji bagi Allah s.w.t yang telah memberikan limpahan nikmat dan
karunia-NYA sehingga say dapat membuat laporan critical book report ini dengan tepat waktu
sesuai dengan tenggat waktu yang telah di sepakati antara kami sebagai mahasiswa dan dosen
pengampu mata kuliah tersebut.

Didalam proses pengerjaan laporan ini tentunya memiliki campur tangan dari pihak yang
lain, untuk itu saya berterima kasih kepada teman-teman yang seperjuangan dengan saya, yang
kiranya telahg meluangkan buah pikir mereka dalam pengerjaan laporan ini. Dan saya juga
mengucapkan rasa terima kasih sebsar-besarnya kepada dosen pengampu mata kuliah yang telah
memberikan sistematika dalam pengerjaan laporan sekaligus pemenuhan tugas.

Menyangkut akan minimnya pengetahuan reviewer, maka saya meminta maaf kepada pihak
buku yang saya kritis, bahwa pengkritisan buku ini hanya sebuah wujud pemenuhan tugas dari
mata kuliah tersebut.

Oleh karena itu besar harapan saya kepada pembaca agar kiranya memiliki kritik dan saran
mengenai laporan yang saya buat ini, guna untuk meningkatkan kemampuan saya dalam menulis
dan untuk melatih pemikiran kita yang kritis demi maju bersama.

Medan, 20 Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Rasionalisasi ................................................................................................... 1
B. Tujuan.............................................................................................................. 1
C. Manfaat ........................................................................................................... 1
D. Identitas Buku ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Ringkasan Buku ............................................................................................. 4
BAB III ANALISIS CRITICAL BOOK
A. Kelebihan ....................................................................................................... 20
B. Kelemahan ...................................................................................................... 20
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................................... 22
B. Saran ............................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 23

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR


Perkembangan teknologi dan komunikasi saat ini berjalan begitu cepat dan membawa perubahan
yang sangat signifikan di dalam hidup manusia, baik kalangan pemerintahan maupun masyarakat,
jaman dimana semua dapat dilakukan dengan instan mulai dari memesan makanan, berkomunikasi
maupun perkerjaan yang lainnya.

Perubahan ini bukan saja dirasakan oleh kalangan pemerintahan maupun masyarakat pada
umumnya, namun, berdampak pula pada lingkungan pendidikan khususnya di tingkat perguruan
tinggi, atau yang biasa kita panggil adalah mahasiswa ( orang yang menempuh pendidikan di
perguruan tinggi).

Perubahan ini berdampak pada performance mahasiswa dalam proses pembelajaran, akibatnya,
mahasiswa yang seharus dituntut untuk lebih banyak membaca, malahan sibuk dengan teknologi
yang mereka rasakan saat ini, akibat dari itu minat membaca pada mahasiswa sangat begitu rendah
bahkan hamper jarang kita temui saat ini.

Namun pada akhirnya terobosan-demi trobosan di buat untuk membudayakan kegiatan membaca,
yaitu dengan melakukan critical book report dan review, dimana mahasiswa dituntut untuk
membaca banyak agar bias menuangkan pemikiran yang kritis dalam melihat dan menelaah isi
dari suatu buku. Tentu hal ini sangat lah berguna untuk melahirkan kader-kader di masa depan
yang bias melihat suatu permasalahan denga segera dan dapat mencari solusi nya.

B. Tujuan
Mengkritisi atau membandingkan dua buah buku tentang Geologi dan Geomorfologi
Indonesia yang berbeda dengan topik yang sama. Yang dibandingkan dalam buku tersebut yaitu
kelengkapan pembahasannya, keterkaitan antar babnya, dan kelemahan dan kelebihan pada buku-
buku yang dianalisis.

1
C. Manfaat
Manfaat yang dapat kita simpulkan pada hal diatas ialah:
 Menambah wawasan pengetahuan tentang pelajaran Geologi dan Geomorfologi di Indonesia.
 Mempermudah pembaca mendapatkan inti dari sebuah buku yang telah di lengkapi dengan
ringkasan buku, pembahasan isi buku, serta kekurangan dan kelebihan buku tersebut.
 Melatih mahasiswa merumuskan serta mengambil kesimpulan-kesimpulan atas buku-buku
yang dianalisis tersebut.

D. Identitas Buku

- Judul Buku : Geologi dan Geomorfologi Indonesia


- Penerbit : Ombak
- Tahun Terbit : 2014
- Nama Pengarang : Drs. Sriyono, M.Si.
- No. ISBN : 978-602-258-190-1
- Edisi Pertama : Pertama
- Kota Terbit : Yogyakarta

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Ringkasan Buku

Bab I Pendahulauan

A. Deskripsi

Pemahaman dan kajian tentang kondisi geologis dan geomorfologi Indonesia serta daerah
atau kawasan tertentu memberikan pengetahuan akan arti dan kendala-kendala yang dimiliki oleh
bangsa Indonesia.

B. Standar Kopetensi

Menganalisis berbagai potensi alam secara geologi dan geomorfologi yang dimiliki oleh
wilayah Indonesia dan factor penghambat sebagai kendala yang perlu dipahami untuk diatasi.

C. Materi Pokok dan Submateri Pokok

1. Geotektonik Indonesia

3
a. Luas geotektonik Indonesia

b. Teori geotekttonik indonesia

c. Keunikan geologi Indonesia

2. Perkembangan Geologi Indonesia

a. Zaman Pra-Kambrium

b. Masa Paleozoikum

c. Masa Mesozoikum

d. Masa Kenozoikum

3. Pembagian Wilayah geologi Indonesia

a. Daerah Sunda

b. Sistem Orogan Sirkum Sunda

c.Sistem Orogan Sirkum Australia

d. Daerah Sahul

4. Kapita Selekta Geologi Kawasan/ Daerah

a. Geologi Semarang dan sekitarnya

b. Geologi Dataran Tinggi/ Plato Dieng

c. Geologi Gunung Kidul dan Parangtritis

d. Geologi Dataran Tinggi bandung

e. Geologi kompleks Karangsambung

5. Geomorfologi Pulau Jawa

a. Geomorfologi Jawa Timur

b. Geomorfologi Jawa Tengah

c. Geomorfologi Jawa Barat

4
Bab II Geotektonik Indonesia

Satuan unit geologi Indonesia mencakup daerah- daerah seluas 2.832.161 km yang meliputi
satuan politik/ kepulauan Indonesia, Kalimantan Utara (Malaysia Timur, Serawak, dan Brunei).
Papua Nugini, Philiphina, Kepulauan Christmas, Andaman, dan Nichobar. Gugusan kepulauan ini
membentang antara Asian Tenggara dan Australia serta antara Samudera pasifik dan samudera
Indonesia atau terletak pada lintang 21° LU - 11° LS dan antara garis bujur 95°15’BT - 150°48’BT.

Menurut teori andasi bahwa system orogen diindonesia dipengaruhi oleh pusat-pusat
gangguan pada kerak bumi. Pusat-pusat gangguan itu adalah : (1) Shan, Mergul, Anambas, Laut
Flores, dan pusat gangguan dilaut Banda untuk system orogen Sirkum Sunda ; (2) palung Sulawesi
dan palung Makassar (palung laut) untuk system busur tepi asia timur ; (3) pusat orogen perisai
yang tenggelam dari melanesia Utara untuk Busur Halmahera, kepala Burung Irian, pegunungan
pemisah tubuh irian sam[ai Bismarck; dan (4) orogen papua untuk system orogen Australia.
Berdasarkan teori tektonik lempeng system orogen di Indonesia dipengaruhi oleh adannya gerakan
lempeng indo-australia kearah utara, lempeng pasifik yang kea rah barat dan bertumbukan dengan
lempeng Eurasia diindonesia. Akibat pertemuan ketiga lempeng tersebut bagian kerak bumi yang
rusak terjadi kegitan-kegiatan orogen.

Gejala-gejala yang tercermin dalam keunikan geotektonik Indonesia sehingga menarik


perhatian para geologi adalah : (1) merupakan pertemuan system pegunungan sirkum sunda dan
system pegunungan sirkum Australia, serta batas antara Benua Asia dan Gondwana, dimana
kegiatan- kegiatan pembentukan pegunungan, aktivitas vulkanis, gempa bumi, penyimpangan
gaya berat masih terjadi sampai sekarang; (2) perbedaan relief yang sangat besar yaitu adannya
puncak-puncak yang tinggi (puncak jaywijaya lebih dari 5.000 mater), philipina lebih dari 10.000
metar dalamnya; (3) keadaan stratigrafi dan paleotologi yang mempunyai sumbangan besar pada
pengembangan ilmu geologi (perubahan fasies cepat dalam penyebaran vertikal dan horizontal);
dan (4) terdapatnya potensi-potensi barang tambang yang menguntungkan.

Bab III Perkembangan Geologis Indonesia

5
Berdasarkan penyebaran batuan dengan timur tertentu dapat diperoleh gambaran
perkembangan geologi Indonesia (perubahan bentuk daratan dan laut) dari zaman Pra-kambrium
sampai zaman Kwater.

Pada zaman Pra- Kambrium wilayah Indonesia berupa daratan besar yang terdiri dari
batuan sekis kristalin yang dinamakan daratan Aequinotia. Di daratan cekungan sedimentasi
bersifat bukan geosinklin. Zaman Kambrium daratan Aequinoctia mulai berkurang karena
terbentuknya geosinklin Tasmania dibagian timur Indonesia.

Daratan Aequinoctia pada zaman silur makin berkurang karena geosinklin Tasmania
bertambah luas dan berkembang dengan palung papua. Pada zaman Devon daratan Aequinoctia
makin berkurang lagi karena sebagian irian berfungsi sebagai geosinklin. Geosinklin Tasmania
masih tetap ada dan bagian barat Australia (perbatasan Australia dengan pulau timor) terbentuk
geosinklin Westralia. Kalimantan tengah berupa palung anambas dan bersambung dengan laut kea
rah barat laut antara malaka dan sumatera.

Pada zaman karbon geosinklin yang terbentuk pada zaman sebelumnya mulai menghilang
seperti geosinklin weastralia lenyap, tetapi daerah antara sumatera dan Kalimantan berubah
menjadi palung anambas. Pada zaman Perm geosinklin yang ada pada peta zaman sebelumnya
tetap ada, hanya pelamparannya yang mengalami perubahan. Palung anambas berfungsi sebagai
geosinklin danau bertambah luas. Daerah lain di indonesia masih berupa daratan Aequinoctia.

Geosinklin papua pada zaman Trias berubah menjadi daratan, geosinklin Tasmania
menyempit, sedangkan geosinklin Danau dan geosinklin westralia dihubungkan oleh geosinklin
Timor-sulawesi (geosinklin banda), yang termasuk satu system geosinklin Tethys. Pada zaman
Yura terbentuk beberapa geosinklin baru. Geosinklin papua yang pada zaman trias berupa daratan,
berfungsi kembali sebagai geosinklin Danau masih tetap ada dan makin meluas. Geosinklin
Sumatera- jawa juga mulai terbentuk. Dengan adanya geosinklin- geosinklin di Indonesia, berarti
merubah daratan Indonesia menjadi 3 bagian yakni daratan sunda, daratan filiphina (termasuk train
utara) dan dataran Australia oleh palung anambas, geossinklin banda, dan geosinklin papua.

Pada zaman kapur timbul geosinklin baru seperti geosinklin Mariana dan geosinklin birma.
Geosinklin danau mulai menyempit, sedangkan geosinklin Tasmania muncul kembali. Sementara
itu geosinklin Sumatera jawa, banda dan geosinklin papua masih tetap ada, dengan pola yang

6
berbeda (lebih luas) bila disbanding dengan zaman sebelumnya. Daratan philipina yang menjadi
satu dengan papua oleh geosinklin mariana.

Pada sub zaman paleogen di kala Erosen daratan sunda menutupi sumatera barat, dan
tengah, jawa bagian utara dan nusa tenggara (kecuali sumba, roti, dan timot). Daratan philipina
menutupi Kalimantan timur laut, Sulawesi Utara, kep. Banggai, dan sula. Kep. Aru dan Marauke
bergabung dengan daratan Australia, sedangkan pulau yappen dab sebagian timur laut irian berupa
daratan papua.

Bab IV Pembagian Wilayah Geologi Indonesia

Fisiogarafi daru masing- masing wilayah geologi Indonesia adalah :

1. Daerah Sunda

Dangkalan sunda adalah laut dangkal yang dalamnya kurang dari 100 meter, yang terdiri
atas Teluk Thailand, Selat malaka, bagian barat Laut Cina Selatan, laut Jawa, bagian barat daya
Selat Makassar. Dangkalan Sunda dianggap sebagai peneplain tua, terbukti adannya bekas-bekas
alur sungai purba Nort Sunda River System dan south River.

Pulau-pulau di dangkalan sunda (Natuna, Anambas, Bangka dan Belitung) merupakan sisa
tanah sunda yang disebut pematang Natuna- Anambas dan Bangka Belitung. Kalimantan
mempunyai relief yang bergunung dan terbukit. Arah jalur pegnungan timur laut-barat daya
(Pegunungan Kinibalu, Iran, Muller dan pegunungan Cchwaner). Cabang kea rah barat yaitu
pegunungan Kapuas Hulu dan Plato Madi, dan cabang kea rah timur pegunungan Kalimantan
Utara, dan pegunungan yang berakhir di semenanjung mangkaliat. Kalimantan barat merupakan
massa kontinen yaitu bagian paling timur dari daratan oleh tiga sungai besar yaitu sungai Kapuas
mengalir kearah dialiri oleh tiga sungai besar yaitu sungai Kapuas mengalir kearah barat dan
bermuara ke laut sunda, sungai Barito mengalir keselatan sungai Mahakam mengalir kearah timur.

2. Sistem Orogen Sirkum Sunda

Fisiografi Sumatera dibentuk oleh rangkaian pegunungan bukit barisan disepanjang sisi
baratnya, yang memisahkan antara pantai barat dan pantai timur. Lereng kearah dan sisi timur
berupa dataran rendah dengan beberapa perbukitan.

7
Unsur struktur utama pulau jawa adalah geantiklin jawa selatan dan geosinklin jawa utara.
Geosinklin jawa utara menjadi semakin lebar kearah timur, tetapi mulai dari semarang terpecah
menjadi dua yaitu perbukitan rambeng-madura dan antiklinorium kandeng-selat Madura. Puncak
geantiklin jawa selatan telah runtuh melalui sesar-sesar, sehngga sayap selatan berupa bongkah-
bongkah yang miring kea rah selatan.

Nusa tenggara dibentuk oleh dua geantiklin yaitu : (1) bagan utara berupa busur dalam
yang vulkanis, yang terdiri dari pulau-pulau bali, Lombok, Sumbawa, komodo, rinca, flores,
adonara, solor, lomblen, pantar, alor, kmbing,wetwr dan romang dan (2) bagian selatan berupa
busur luar yang tak vulkanis, yang terdiri dari pengunungan dasar laut busur laut yang tak vulkanis,
yang terdiri dari pegunungan dasar laut selatan jawa, pulau dana, raijua, sawu, roti dan timor, pulau
sumba merupakan penghubung antara busur dalam dan busur luar.

3. Sistem Orogen Sirkum Australia

Kepala burung irian bagian utara berupa rangkaian-rangkaian pegunungan yang sejajar
dengan pantai utara, yang dipisahkan oleh sebuah depresi. Semenanjung Bombai merupakan
pegunungan yang menjorok ke laut yang dibagian barat bertipe topografi kasrt. Daratan utama
irian dari utara keselatan terdiri dari satuan-satuan fisiografi: depresi Memberamo-bawani (tanah
rendah dan perbukitan), rangkaian pegunungan pembagi utara (deretan pegunungan dan
penggungan-punggungan), Tariku-tarikaku,zona sumbu utama irian (rangkaian pegunungan
tengah), depresi digul-fly (dataran rendah dengan rawa-rawa, danau dan kanak), pegunungan aru-
merauke,

4. Daerah Sahul

Dangkalan sahul ditutupi oleh laut Arafuru dengan kedalaman 20 meter disekitar
kepulauan Aru, tetapi kearah barat mencapai 1.000 meter. Di dangkalan sahul terdapat kepulauan
Aru yang kecil. Antara empat pulau besar dipisahkan oleh selat sempit dan dalam yang disebut
“sungi”

Bab V Kapita Selekta Geologi Daerah/ Wilayah

A. Daerah Semarang dan Sekitarnya

8
Menurut analisis Van Bemmelen unit geologi semarang dan sekitarnya dipengaruhi oleh
pusat gangguan kerak bumi yang berada di kompleks vulkan Ungaran. Perkembangan geologi
semarang dan sekitarnya dimulai dari kala Pleitosen geologi semarang dan sekitarnya dimulai dari
kala pleitosen atas yaitu dengan daur geologi berupa pembentukan geonsiklin jawa utara yang
menghasilkan lapisan marine neogen.

Siklus pertama pertumbuhan vulkan ini diakhiri oleh runtunya kerucut utama yaitu pada
akhir pleitosen tengah. Runtuhnya kerucut utama vulkan Ungaran Tertua berakibat terdesaknya
lapisan batuan di kaki vulkan, sehingga terjadi lipatan dan patahan pada lapisan marine neogen
dan lapisan Seri damar.

Pada Pleistosen atas vulkan ini giat kembali ini diakhiri dam membentuk vulkan Ungaran
Tua. Material erupsi yang menghasilkan berupa lapisan breksi Notopuro. Runtuhnya kerucut
Vulkan Ungaran Tua ini juga menyebabkan terdesaknya lapisan batuan dikaki vulkan yaitu lapisan
marine Neogen, lapisan Seri Damar sehingga terjadi lipatan-lipatan dan patahan-patahan yang
lebih komplek. Di permukaan bumi lapisan breksi Notopuro mengalami pelipatan lemah,
sedangkan lapisan dibawahnya (lapisan seri damar) lipatan-lipatannya sangat kompleks. Lipatan-
lipatan Seri Damar yang kompleks yang terletak disebelah utara (yang tak tertutup lapisan breksi
Notopuro) berupa perbukitan yang dikenal sebagai Bukit Candi (Candi Hills). Sebelah utara Bukit
candi pada waktu masih berupa laut atau kaki bukit candi pada waktu masih berupa laut atau kaki
bukit candi merupakan batas pantai.

Pada awal kala Holosen sesudah peruntuhan kedua dari kerucut Ungaran Tua, terbentuknya
kerucut Ungaran Tua, terbentuknya kerucut Ungaran Muda yang masih ada sampai sekarang.
Akibat retakan, patahan disebalah selatan kompleks Ungaran menyebabkan munculnya magma
kepermukaan bumi dan terbentuknya kerucut vulkan telomoyo. Sejak awal holosen, perbukitan
Candi mulai tererosi dan materianya diendapkan disebelah utara, sehingga membentuk dataran
alluvial sekarang. Secara garis besar keadaan geomorfologi dan geologi semarang dan sekitarnya
dapat dibedakan menjadi dua subunit yaitu daerah perbukitan dibagian selatan dan dataran alluvial
pantai disebelah utara.

2. Dataran Tinggi Dieng

9
Dataran tinggi Dieng dan sekitarnya terletak pada zone pegunungan Serayu Utara. Sebelah
barat berbatasan dengan daerah karangkobar dan sebelah timur berbatasan dengan daerah
Ungaran. Dataran tinggi atau plato adalah tempat yang struktur pelapisannya horizontal dan berada
pada tempat yang tinggi(untuk Dieng kurang lebih 2.093 meter dpal). Uraian tentang Dataran
Tinggi Dieng pertama kali ditulis oleh yunghuhn pada tahun 1853/ 1854. Dalam tulisannya
dijelaskan bahwa dataran tinggi Dieng adalah sebuah kaldera besar dari vulkan raksasa tua, yang
sekarang tinggal dinding-dinding tepinya berupa gunung prau, sesudah erupsi vulkan raksasa tua
dan terbentuk kaldera, kemudian diatas dasar kaldera tumbuh vulkan- vulkan muda seperti gunung
pangonan, gunung pakuwojo dan sebagainya. Pendapat ini berupa dengan yang dukemukakan
verbeck dan fennema 1890.

Pendapat lain tentang Dataran Tinggi Dieng adalah Umbgrove (1936) menyatakan bahwa
dataran tinggi Dieng bukan dasar suatu kaldera. Ia tidak melihat sisa-sisa yang dapat digunakan
untuk membuktikan kebenaran anggapan tentang kaldera besar itu, dan tidak ada bukti yangcukup
nyata untuk membenarkan anggapan Dataran Tinggi Dieng sebagai dasar lubang kepunden.
Menurut pendapatnya Dataran Tinggi Dieng merupakan suatu tempat yang dikelilingi oleh
kerucut- kerucut vulkan.

Menurut Sakseeve dan Dudkinski (1962) mengatakan bahwa Dataran Tinggi Dieng adalah
kaldera yang besar dengan batas-batasnya gunung prau, gunung sroja, gunung bisma dan gunung
nagasari. Sedangkan Gunung Kendil,gunung pakuwojo, dan gunung panganon adalah gunung-
gunung api yang muncul dalam kaldera besar tadi. Vulkan- vulkan ini merupakan struktur vulkan
yang terdiri sendiri dan satu sama lainnya dipisahkan oleh lembah antargunung- gunung prau,
sroja, dan gunung nagasari merupakan vulkan yang tertua didaerah dataran tinggi dieng.

Secara garis besar daerah Dieng dapat dikelompokkan kedalam 2 unit morfologi yaitu: (1)
daerah pegunungan dan (2)dataran tinggi (plato).

3. Gunung Kidul dan parangtritis

Sejarah geologi daerah gunung kidul dan parangkritis mulai dari kala pliosen. Pada kala
pliosen dan pleitosen bawah daerah pegunungan selatan yang sekarang merupakan tanah rendah
yang sedikit terangkat lebih tinggi dari permukaan laut. Bagian selatan dari lowland ini terdiri dari

10
gamping wonosari dan kepek maris yang berusia miosen. Di bagian utaranya merupakan material
yang berasal dari kegiatan vulkanisme.

Peristiwa transgeresi dan regresi bergantian menyebabkan pembentukan endapan pada


waktu itu berbeda-beda. Akibat dari pengangkatan ini maka daerah low lands (lahan rendah)
sepanjang pantai selatan terangkat dan termiringkan kearah selatan membentuk sisi bagian selatan
geantiklin yang besar. Bagian tengah dari geantiklin dari yang berbatasan dengan sedimentasi
lunak dan plastis dari bagian cekungan kendeng mengalami patahan. Bagian selatan geantiklin
tetap berada pada posisinya dan bidang patahannya sekarang berupa escarpment batur agung
range, sedangkan bagian utara geantiklin menurun dan meluncur dan meluncur kearah utara dan
barat laut. Dengan meluncurnya bagian geantiklin ini, endapan cekungan kendeng sekarang
diimbangi oleh gerakan keatas karena desakan dari selatan itu, sehingga lipatan-lipatan kendeng
muncul lebih tinggi dari permukaan air laut.

Sesudah pengangkatan pada pleitosen tengah, di zone solo terbentuklah lapisan endapan
kabuh dengan fosil Phitecantropus Erectus, sedangkan dibagian selatan pola aliran sungai yang
mula-mula terbentuklah bersifat konsekuen, yaitu sungai-sungai mengalir ke selatan sesuai dengan
miringnya daerah.

4. dataran Tinggi Bandung

Sejarah geologi dataran tinggi bandung dimulai sejak kala miosen (20 juta tahun yang lalu).
Pada waktu itu pesisir utara jawa purba terletak disebelah selatan, yaitu disekitar pangelangan.
Daerah sebelah utara pengalengan pada saat itu masih merupakan lautan, dimana terjadi
pembentukan atau pengendapan berbagai macam batuan sedimen. Akibat letusan Gunung Sunda,
selain terbentuknya kaldera juga terjadi pula retakan yang memanjang dengan arah barat-timur dan
lubang kepundan mengalami kekosongan.

Sesudah terjadi letusan gunung sunda, dalam kerak bumi terjadi gerak naik-turun. Tubuh
gunung sunda sebelah selatan mendesak ke utara dengan membentuk patahan, yang mengisi
sebagian lubang kepundan yang kosong. Terjadinya patahan merupakan gerak lengser yang
mendesak kea rah utara, sehingga menyebabkan terjadinya pengerutuan sedimen. Hasil
pengerutuan sedimen ini berupa punggungan tambakan disubang. Tebing patahan itu tidak
merupakan tebing yang tersambung secara baik, namun pada beberapa tempat tersayat lembah

11
sungai, seperti lembah sungau Cikapundang dimaribaya, lembah sungai cipaganti, lembah sungai
cheundeung di sebelah barat lembeng patahan ini terkenal dengan nama patahan lembang.

Bab VI Geomorfologi Pulau Jawa

a. Sifat Umum Relief

Pulau jawa mempunyai sifat fisiografis yang karakteritik oleh karena beberapa keadaan.
Salah satu diantaranya adalah iklim tropis yang terdapat dipulau itu, yang sama dengan daerah lain
yang letaknya jalur fisiografis dengan vulkanisme yang kuat, maka pulau jawa benbentuk sempit
dan panjang, dan terbagi dalam zona melintang (klongitudinal Zonas) yang tersebar sepanjang
pulau dari ujung yang ke ujung yang lain.

Sifat-sifat karakteristik dari suatu relief yang beiklim tropis sudah cukup diketahui umu
dan dipelajari secara mendalam, juga di Indonesia, maka disini hanya dibicarakan secara singkat.
Hujan banyak dan deras dan suhu yang tinggi menyebabkan pelapulakan dan penelanjangan
(denudase) yang berjalan cepat dan intensif, dan kedua hal ini menyebabkan erosi vertikal cepat.
Perbedaan topografi yang disebabkan karena perbedaan batuan tidak begitu tampak seperti dalam
daerah yang beriklim lain, bahkan lembah-lembah kecil pun mempunyai tebing yang curam.
Karena hujan yang deras air yang banyak initelah mengikis tanah tersebut, dan hal ini
mengakibatkan terjadinya system lembah-lembah dan parit- parit yang dalam. Karena pola lembah
yang rapat, maka topografijauh lebih terkikia sifatnya (Dissected) dari pada ditempat lain, dan
sebagai akibatnya maka beberapa sisa-sisa bentuk permukaan yang terangkat hanya terdapat pada
igir-igir yang sempit dan umumnya hilang dalam waktu yang relative singkat. Sebaliknya
peneplain dan permukaan lain yang datar terbentuk lebih cepat daripada iklim yang lainnya ;
contoh-contoh akan diberikan selanjutnya.

Dalam keadaan ini orang mungkin bertanya mengapa topografi dari pulau ini belum
seluruhnya menjadi peneplain yang rendah? Sebabnya ialah erosi dan denudasi yang diimbangi
oleh gerak orogenic dan epeirogenik dari daerah yang tidak stabil ini, dimana gunging api yang
besar mengeluarkan materil yang lebih banyak pada permukaan bumi daripada yang dapat
diangkut oleh erosi.

12
Dapat digunakan tiga zona melintang bagi seluruh pulau jawa. Karakter tiga zona ni
sepanjang pulau jawa tidak berbeda walaupun terdapat variasi setempat yang cukup besar. Tiga
zonatesebut sangat berbeda-beda sifatnya di jawa, timur, dan sebagian jawa barat. Dibagian tengah
pulau ini dan dibagian paling barat nampaknya kurang jelas.

Sifat tiga zona ini adalah sebagai berikut :

1. Zona selatan : kuraang lebih berupa plateum, miring (sloping) kearah selatan menuju ke
samudera Indonesia, dan umumnya dibagian utaranya terpotong oleh escarement. Kadang-kadang
zona ini begitu terkikis sehingga bentuk plateum nya hilang. Dijawa tengah plateum ini sebagian
diganti oleh daratan alluvial.

2. Zona tengah : dijawatimur dan sebagian jawa barat zona ini merupakan suatu daerah depressi
dimana timbul gunung- gunung api. Akan tetapi dijawa tengah zona tengah ini ditempati oleh
rangkaian pegunungan-pegunungan (serayu selatan) ; didaerah utamanya pegunungan ini
berbatasan dengan depressi kecil (lembah serayu) juga dibagian barat (daerah bantam) daerah ini
ditempati ileh pegunungan dan bukut- bukit

3. Zona utara ; terdiri dari rantai yang berbentuk bukit- bukit dan pegunungan yang rendah diselingi
oleh beberapa gunung berapi. Zona ini sering berbatasan dengan daratan alluvial.

b. Sifat Geologi

Juga dari sudut geologis ketiga zona tersebut mempunyai sifat yang berbeda jelas.

1. Zona Selatan : dizona selatan lapisan-lapisan Miocene tua (owder Miocene), yang terdiri dari
endapan vulkanis, yang sangat tebal dan batuan sedimen (misalnya: the anlatus bets), yang terlibat
selama Miocene tengah.

2. Zona tengah : dijawa tengah zona ini berupa suatu depresi yang terdiri dari endapan vulkanis
muda, sifat geologisnya hanya bisa diselidiki dijawa tengah dan dijawa barat. Gerakan-gerakan
orogenetik dari Miocene tengah sampai Miocene muda adalah yang terkuat dizona ini dan sering
menyebabkan ovierturned-folds (lipatan yang menumpang) atau imbricatetd-structures, dimana
lapisan yang berbentuk pada owderthertiary (thertiary tua) atau bahkan pada prethertiary jadi
tersingkap. Pada periode neogen ada juga beberapa unconformities ( ketidaksamaan lapisan) dan
sedikit kelipatan terjadi pada akhir neogen atau sesudahnya. Vulkanisme dan gerakan-gerakan

13
yang terjadi kemudian , yang mengakibatkan depresi tengah dan bentuk topografi sekarang, akan
dibicarakan dalam uraian tentang physiografi.

3. Zona Utara : pada zona utaralah younggrr neogen memncapai ketebalan yang paling tebal ini
adalah inti dari geosinklin, kelipatan yang lebih tua terjadi pada Miocene atas paling jelas pada
zona tengah, tetapi kelipatan ini dapat juga diamati apada zona utara dari jawa tengah tetapi di
tempat-tempat lain sedimentasi geosinklinal masih berjalan terus sampai pleis tengah ;
stratigrafinya akan dibicarakan pada bagian fisiografi. Dijawa barat lipatan yang utama terjadi
pada permulaan pleis tua. Disebelah utara sedang terjadi igir kendeng dijawa timur terdapat
dibagian lain yaitu zona pelipatan utara yang berbentuk bukit-bukit ini tidak mempunyai
counterpart dijawa tengah dan jawa barat, tetapi dimadura.inilah yang dikenal sebagai
rembanghills.

14
BAB III

ANALISIS CRITICAL BOOK

A. Kelebihan

Setelah membaca dan menganalisis buku ini, saya menemukan kelebihan pada buku ini,
yaitu materi yang disampaikan oleh penulis sangat luas dan merinci tentang materi yang mencakup
pembahasan dalam Geologi dan Geomorfologi Indonesia. Terdapat beberapa ilustrasi atau
gambaran tentang beberapa materi yang di jabarkan. Selain itu, ukuran buku ini juga tidak terlalu
besar dan tidak berat sehingga praktis untuk dibawa kemana-mana.

Terdapat banyak keterikatan antar bab . Materi yang disajikan juga seimbang sehingga
kedua buku ini saling melengkapi. Sama seperti buku utama, di buku ini juga terdapat banyak
ilustrasi sehingga mempermudah pembaca untuk memahami materinya. Tata bahasa dalam buku
ini juga sudah baik. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan buku pembelajaran tentang geolofi dan
geomorfologi bagi para mahasiswa.

B. Kelemahan

Selain kelebihan, saya juga menemukan kelemahan yang terdapat dalam buku ini, yaitu:

- Terdapat kesalahan pengetikan pada halaman 89 yaitu (telak) yang seharusnya “letak”.

- Penyusunan bahasa di dalam buku masih kurang beraturan dan agak sulit dimengerti.

- Beberapa kata dalam buku tidak sesuai dengan EYD.

15
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

kedua buku ini mencakup pembahasan yang baik dan berkaitan, hanya saja buku utama
sedikit sulit untuk dimengerti. Tetapi kedua buku ini sudah cukup baik dalam menjabarkan materi
tentang Geologi dan Geomorfolgi sehingga sangat cocok untuk dijadikan buku pembelajaran bagi
para mahasiswa.

B. Saran

Alakala baiknya jika buku-buku tentang geologi dan gemorfologi banyak, apabila banyak
jinis bukunya mahasiswa dapat mengkeriktinya lebih banyak lagi, dan untuk kedua buku ini sudah
cukup baik.

16
DAFTAR PUSTAKA

Hutabarat, S; Evans, S.M. 2017. Pengantar Oseanografi. Jakarta: UI-Press

Prarikeslan, W. 2014. Oseanografi. Jakarta: Prenadamedia Group

17