Anda di halaman 1dari 17

Hari/Tanggal : Senin, 25 November 2019

Dosen Pembimbing : Aziiz Mardanarian


Rosdianto,
S.Kep., Ns., MHKes.,
M.Si., AIFO
Kelompok Praktikum : 5 dan 6

LAPORAN FARMAKOLOGI VETERINER II


LAKSANSIA

Anggota kelompok : NPM Tanda tangan


Nadila Rahmadhani 130210160004 ……………..
Utari Tyastaningrum A. 130210170016 ……………..
Madhani Pradipta N 130210170029 ……………..
Haifa Maziyyah 130210170034 ……………..
Vinne Chandra Sentosa 130210170041 ……………..
Khairunnisa Lazuardini 130210170046 ……………..

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS


KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Dasar Teori

I.1.1 PENGGUNAAN UTAMA OBAT PENCAHAR

I.1.1.1 KONSTIPASI

Laksansia atau pencahar bekerja dengan cara menstimulasi gerakan peristaltik


dinding usus sehingga mempermudah buang air besar (defikasi) dan meredakan
sembelit. Tujuannya adalah untuk menjaga agar tinja (feces) tidak mengeras dan
defikasi menjadi normal. Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui
lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/ kolon. Di dalam kolon inilah
terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila massa feses berada
terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya
konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat
pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang
mengalami kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang
lumpuh maupun gangguan refleks defekasi (Arif & Sjamsudin, 1995) yang
mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu.

Frekuensi defekasi/ buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12
kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia
mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai konsistensi
feses yang keras, kesulitan mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar
maupun akibat terjadinya gangguan refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa
tidak puas pada saat BAB (McQuaid, 2006). Orang yang frekuensi defekasi/ BAB-
nya kurang dari normal belum tentu menderita konstipasi jika ukuran maupun
konsistensi fesesnya masih normal.

Konstipasi juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan
hilangnya nafsu makan. Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit,
tetapi lebih tepat disebut gejala yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau
masalah dalam tubuh (Dipiro, et al, 2005), misalnya terjadi gangguan pada saluran
pencernaan (irritable bowel syndrome), gangguan metabolisme (diabetes), maupun
gangguan pada sistem endokrin (hipertiroidisme).

I.1.1.2 OBAT PENCAHAR


Sasaran terapi konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding
kolon. Tujuan terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi
mengalami konstipasi atau proses defekasi/ BAB (meliputi frekuensi dan
konsistensi feses) kembali normal. Strategi terapi dapat menggunakan terapi
farmakologis maupun non-farmakologis.Terapi non-farmakologis digunakan untuk
meningkatkan frekuensi BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah
asupan serat sebanyak 10-12 gram per hari dan meningkatkan volume cairan yang
diminum, serta meningkatkan aktivitas fisik/ olahraga. Sumber makanan yang kaya
akan serat, antara lain: sayuran, buah, dan gandum. Serat dapat menambah ‘volume’
feses (karena dalam saluran pencernaan manusia ia tidak dicerna), mengurangi
penyerapan air dari feses, dan membantu mempercepat feses melewati usus
sehingga frekuensi defekasi/ BAB meningkat (Dipiro, et al, 2005).
Sedangkan terapi farmakologis dengan obat laksatif/ pencahar digunakan
untuk meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang
kering dan keras. Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi
pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen,
dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah
kolon, yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan
menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit (Dipiro, et al, 2005). Obat
pencahar sendiri dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu: (1) pencahar yang
melunakkan feses dalam waktu 1-3 hari (pencahar bulk-forming, docusates, dan
laktulosa); (2) pencahar yang mampu menghasilkan feses yang lunak atau semicair
dalam waktu 6-12 jam (derivat difenilmetan dan derivat antrakuinon), serta (3)
pencahar yang mampu menghasilkan pengluaran feses yang cair dalam waktu 1-6
jam (saline cathartics, minyak castor, larutan elektrolit polietilenglikol).
Pencahar yang melunakkan feses secara umum merupakan senyawa yang
tidak diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan beraksi dengan meningkatkan
volume padatan feses dan melunakkan feses supaya lebih mudah
dikeluarkan.Pencahar bulk-forming meningkatkan volume feses dengan menarik air
dan membentuk suatu hidrogel sehingga terjadi peregangan dinding saluran cerna
dan merangsang gerak peristaltik.Penggunaan obat pencahar ini perlu
memperhatikan asupan cairan kedalam tubuh harus mencukupi, jika tidah bahaya
terjadi dehidrasi.
Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan fenolptalein.
Senyawa-senyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa kolon yang
mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus (peristaltik) dalam
waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah diberikan melalui
rektal.Namun penggunaan fenolptalein sudah dilarang karena bersifat karsinogen.
Senyawa ini tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari. Jarak antara setiap
kali penggunaan harus cukup lama, sekitar beberapa minggu, untuk mengobati
konstipasi ataupun untuk mempersiapkan pengosongan kolon jika diperlukan untuk
pembedahan.
Saline cathartics merupakan garam anorganik yang mengandung ion-ion
seperti Mg, S, P, dan sitrat, yang bekerja dengan mempertahankan air tetap dalam
saluran cerna sehingga terjadi peregangan pada dinding usus, yang kemudian
merangsang pergerakan usus (peristaltik). Selain itu, Mg juga merangsang sekresi
kolesistokinin, suatu hormon yang merangsang pergerakan usus besar dan sekresi
cairan. Senyawa ini dapat diminum ataupun diberikan secara rektal.Pencahar saline
ini juga dapat digunakan untuk mengosongkan kolon dengan cepat sebagai
persiapan sebelum pemeriksaan radiologi, endoskopi, dan pembedahan pada bagian
perut (Gangarosa & Seibertin, 2003).
Secara umum, penggunaan pencahar untuk mengatasi konstipasi sebaiknya
dihindari. Namun, jika konstipasi yang terjadi dapat menimbulkan keparahan
kondisi pasien, misalnya pada pasien wasir atau pasien yang baru menjalani
pembedahan perut, penggunaan obat pencahar sangat diperlukan.
Salah satu contoh obat pencahar yaitu Laxadine dan MgSO4. Laxadine adalah
obat pencahar yang bekerja dengan cara merangsang gerakan peristaltis usus besar,
menghambat reabsorbsi air dan melicinkan jalannya tinja. Laxadine dapat
membantu pengobatan susah buang air besar / konstipasi. Setiap 5 ml Laxadine
sirup emulsi mengandung : phenolphtalein 55 mg, paraffin liquidum 1200 mg, dan
glycerin 378 mg. Indikasi Laxadine yaitu untuk kondisi konstipasi / susah buang air
besar yang memerlukan : 1). Perbaikan peristaltis usus, 2). Pelicin jalannya tinja, 3).
Penambahan volume tinja secara sistematis sehingga tinja mudah dikeluarkan.
Laxadine diminum sekali sehari pada malam hari menjelang tidur.
Laxadine kontra indikasi untuk penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap zat
aktif dan komponen lain dalam Laxadine, Ileus obstruksi, nyeri perut yang belum
diketahui penyebabnya. Efek samping Laxadine yang dapat terjadi diantaranya,
reaksi alergi kulit rash dan pruritus / gatal-gatal, perasaan terbakar, kolik,
kehilangan cairan & elektrolit, diare, mual dan muntah.
Magnesium Sulfat merupakan salah satu jenis garam. Magnesium Sulfat memiliki
banyak jenis, dimana masing - masing jenis ini memiliki fungsi tertentu. Hal ini
tergantung pada hydrat yang dimiliki.

Garam Epsom adalah Salah satu jenis Magnesium Sulfat yang dianggap
potensial . Garam ini dikenal sebagai salah satu jenis garam yang sangat penting dan
dapat digunakan dalam industri-industri, seperti: dalam pewarnaan anilin, untuk
produksi pakaian dari bahan katun. Seiring dengan perkembangan industri terutama
dalam bidang farmakologi, aplikasi lain yang ditemukan dalam kegunaan garam
Epsom ini adalah sebagai obat pencahar (pengobatan konstipasi fungsional dan
tidak dapat mengatasi konstipasi yang disebabkan keadaan patologis usus sebelum
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan rektum dan opersai usus dan untuk
menghilangkan racun pada penderita keracunan). Dalam proses pembuatannya,
Magnesium Sulfat dibuat dari bahan baku Magnesium Karbonat dan Asam Sulfat
(Asril dkk, 1986). Reaksinya sebagai berikut :

MgCO3 + H2SO4 → MgSO4 + CO2 + H2O

Secara umum pemakaian atau kegunaan dari Magnesium Sulfat Heptahydrate yang
dikenal dengan garan Epsom (MgSO4.7H2O) dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Dalam skala besar digunakan dalam industri tekstil yaitu sebagai bahan celupan
dengan warna anilin, pada pakaian dari bahan katun.
2. Digunakan sebagai koagulan dan bahan pengendap pada proses pengolahan air,
baik air minum maupun air buangan.
3. Digunakan sebagai bahan analgesik yaitu suatu obat yang dapat menghilangkan
rasa nyeri.
4. Dalam pertanian garam Epsom dapat digunakan sebagai pupuk. (Nurhaida,
1997).
5. Sebagai bahan purgatif yaitu dapat digunakan sebagai obat pencahar atau obat
pencuci perut.

Garam MgSO4 merupakan pencahar salin dengan mekanisme meningkatkan


volume cairan di lumen bowel, mempercepat transfer makanan ke usus halus, massa
yg sangat besar masuk kolon, distensi kemudian ekspulsi feses.

Obat golongan laksatif atau pencahar sering dipakai untuk mengurangi berat
badan dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga
relatif terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang
”diindikasikan” untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat
tinggi tadi diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik
usus sehingga akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya
umumnya tidak terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain
juga sering dipakai sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing
dalam waktu lama tidak disarankan karena usus akan menjadi “malas”, akan bekerja
jika ada pemicunya, dan hal ini akan menjadikan semacam “ketergantungan”.

I.1.1.3 DAMPAK NEGATIF OBAT PENCAHAR


Sebagian besar obat pelangsing dapat menimbulkan dampak negatif seperti:
gangguan emosi, hiperaktivitas, sulit tidur, perut kembung dan perih, keletihan terus
menerus, depresi, ketagihan, mual, muntah, dan tubuh gemetar. Ada juga yang
menggangu kesuburan dan sikulasi menstruasi .Penggunaan obat pelangsing yang
bersifat pencahar atau laksatif dapat menyebabkan usus bereaksi lebih aktif
menyerap makanan, sehingga membuat makanan yang dikonsumsi cepat dibuang
sebelum diserap. Akibatnya bila konsumsi obat dihentikan maka tubuh akan
semakin gemuk karena usus jadi lebih efisien dalam menyerap makanan.
Penggunaan laksatif yang berlebihan mempunyai efek yang sama dengan
mengabaikan keinginan BAB – refleks pada proses defekasi yang alami dihambat.
Kebiasaan pengguna laksatif bahkan memerlukan dosis yang lebih besar dan kuat,
sejak mereka mengalami efek yang semakin berkurang dengan penggunaan yang
terus-menerus (toleransi obat).
I.2 Tujuan
1.2.1 Mengetahui pengaruh beberapa obat yang memiliki daya kerja sebagai
laksansia
1.2.2 Mengetahui mekanisme perubahan yang terjadi dari pengaruh obat
tersebut di dalam usus.
BAB II
MATERI DAN METODE

II. 1 Materi
Alat-alat yang digunakan adalah alat bedah minor dan syringe. Bahan
yang digunakan adalah seekor tikus, benang, kapas, uretan, akuades, NaCl
fisiologis 0,9%, NaCl fisiologis 3%, MgSO4 4,7%, dan MgSO4 27%
II. 2 Metode
1. Bobot badan tikus ditimbang untuk mengetahui berat badan dan dosis
anestesi yang akan diberikan.
2. Anestetikum disuntikkan secara intraperitoneal. Setelah teranastesi, tikus
diletakkan pada pengalas, posisi ventrodorsal dan kaki-kaki diikat.
3. Dengan alat bedah, lakukan pembedahan bagian abdomen, kemudian
usus di siapkan sepanjang 2,5 cm dari daerah pylorus diikat dengan
benang.
4. Bagian usus halus dibagi menjadi 5 segmen dengan cara mengikat usus
dengan benang, dengan interval panjang 5 cm, dan jarak 0,5 cm antar
ikatan.
5. Dengan menggunakan syringe, segmen pertama diinjeksi dengan
akuades, segmen kedua dengan NaCl 0,9%, segmen ketiga dengan NaCl
3%, segmen keempat dengan MgSO4 4,7%, dan segmen terakhir dengan
MgSO4 27%. Masing-masing sebanyak 0,25%.
6. Setelah semua segmen terinjeksi maka ruang abdomen yang terbuka
tersebut ditutup dengan kapas yang dibasahi dengan NaCl 0,9%.
7. Setelah 45 menit dari penyuntikan larutan tersebut, dilakukan aspirasi
cairan dari tiap segmen menggunakan syringe. Volume cairan yang
diaspirasi dari tiap-tiap segmen dihitung. Cara lain bisa dilakukan untuk
mengoleksi sampel adalah dengan cara memotong usus dekat ikatannya
dan volume cairan yang tersisa ditampung pada gelas ukur, kemudian
dicatat hasilnya.
BAB III
HASIL

III.1 Hasil Perhitunga Anestesi


 Xylazine

Dosis yang diberikan setelah dikalikan faktor koreksi adalah 0,1ml.


 Ketamine

Dosis yang diberikan setelah dikalikan faktor koreksi adalah 0,4 ml.

III.1 Hasil Pengamatan Laksansia

No. Larutan Volume Awal (ml) Volume Akhir (ml)

1. Aquades 0,25 0,15

2. NaCl 0,9% 0,25 0,25

3. NaCl 3% 0,25 0,21

4. MgSO4 4,7% 0,25 0,23

5. MgSO4 27% 0,25 0,05


BAB IV
PEMBAHASAN

Produser pertama yang dilakukan adalah menginjeksikan 0,4ml ketamin dan 0,1ml
xylazine sebagai anestesi secara intraperitoneal. Uji laksansia pada tikus dilakukan dalam
keadaan tikus teranestesi karena usus halus tikus hanya dapat dijangkau melalui prosedur
pembedahan. Anestesi diperlukan agar kinerja usus halus tetap berlangsung mengkipun
rongga abdomen dalam keadaan terbuka. Setelah tikus teranestesi, segera dilakukan
pembedahan rongga abdomen hingga usus halus ter-expose.
Usus halus tikus dimulai dari ujung pylorus dibagi menjadi lima segmen
dengan cara diikat dengan benang serta perlu dipastikan ikatan tertali
dengan benar sehingga tidak terlepas selama pengujian. Masing-masing
segmen memiliki panjang 5 cm dengan jarak 0,5 cm antarsegmen. Hal ini
dilakukan agar larutan uji tidak bercampur satu sama lain di dalam usus
sehingga pengaruh masing-masing larutan dapat diamati. Masing-masing
0,25ml larutan diinjeksikan kedalam usus halus kemudian ditunggu
selama 45 menit. Selama waktu tunggu, rongga abdomen tikus ditutupi
dengan kapas yang dibasahi larutan fisiologis dengan tujuan
melembabkan organ-organ visceral.
Hasil pengamatan menunjukkan adanya pengurangan jumlah cairan
pada seluruh larutan uji kecuali NaCl 0,9%. Tidak berubahnya volume
cairan NaCl 0,9% adalah karena NaCl 0,9% merupakan larutan fisiologis
tubuh sehingga tidak memberikan pengaruh apapun pada tubuh. Hasil uji
aquades pada usus halus menunjukkan penurunan volume dari 0,25 ml
menjadi 0,15 ml. terjadinya pengurangan voleme aquades disebabkan
oleh mudahnya aquades diserap oleh lumen usus (Widiantodkk., 1991).
Aquades yang diberikan kedalam usus melalui syringe termasuk larutan
hipotonis (Karczmar 1963). Hipotonis merupakan keadaan dimana
konsentrasi dalam larutan rendah (banyak air). Ketika larutan hipotonis
(aquades) dimasukkan kedalam lumen usus, maka aquades tersebut akan
diabsorpsi ke luar usus hingga tercapai suatu keseimbangan konsentrasi
di dalam maupun diluar usus. Hal ini yang menyebabkan volume akhir
berukurang dari 0,25 ml menjadi 0,15 ml. Hasil ini menunjukkan bahwa
aquades tidak dapat digunakan sebagai laksansia. Akibat kemudahan
lumen usus dalam mengabsorbsi air, maka pemberian aquades sangat
penting bagi penderita diare, agar tidak terjadi dehidrasi pada tubuh.
Berbeda dengan aquades, berdasarkan literature, larutan NaCl 3%
cukup efektif sebagai laksansia. Hal ini karena larutan garam dalam lumen
usus bersifat hipertonis, sehingga air akan dibebaskan kedalam lumen
usus yang meneyebabkan peningkatan kadar air di dalam lumen usus.
Apabila larutan hipertonis berada pada lumen usus dalam jumlah tertentu
maka cairan akan bergerak dari epitel usus ke lumen usus. Pergerakan
cairan ini akan membuat feses yang padat akan menjadi encer sehingga
defekasi menjadi mudah. Cairan hipertonis mendorong sejumlah besar air
kedalam usus besar. Selain itu, cairan yang berlebihan juga meregangkan
dinding usus besar dan merangsang kontraksi. Akibatnya feses menjadi
lunak dan mudah dikeluarkan. Penggunaan NaCl 3% menghasilkan
volume yang lebih tinggi daripada NaCl 0,9%, karena konsentrasi garam
pada NaCl 3% lebih pekat, sehingga air yang diserap ke dalam lumen usus
lebih banyak (Widiantodkk., 1991). Namun hal ini tidak sesuai dengan
hasil praktikum yang dilakukan. Uji NaCl 3% pada tikus mengalami
penurunan volume dari 0,25 ml menjadi 0,21 ml.
Larutan MgSO4yang diinjeksikan ke dalam usus mengalami
pengurangan volume dari 0,25ml menjadi 0.23 ml untuk konsentrasi 4,7%
dan 0,05 ml untuk konsentrasi 27%. Penurunan konsentrasi terjadi lebih
besar pad akonsentrasi 27% kemungkinan disebabkan oleh
konsentrasinya yang lebih tinggi dan lokasi pengujian yang lebih caudal
daripada konsentrasi 4,7% yang memungkinkan adanya sisa isi usus. Hal
ini bertentangan dengan sumber literature yang menyatakan bahwa
bagian usus yang disuntikkan MgSO4 akan terlihat lebih besar dan
volumenya meningkat karena MgSO4 merupakan laksan osmotik yang
bersifat menyerap cairan dari seluruh tubuh sehingga defekasi dapat
berlangsung normal (Widiantodkk., 1991).MgSO4 merupakan obat
laktansia garam yang terdiri dari kation yang tidak bisa diserap
(Magnesium) dan anion yang tidakbisadiserap pula (Sulfat) yang bekerja
membentuk massa, juga menghasilkan stimulus pada aktivitas peristaltic
sehingga bekerja cepat untuk mendorong garam tersebut. Tetapi
meskipun begitu konsentrasi cairan obat ini bisa mengiritasi perut dan
menstimulus terjadinya muntah. Obat ini bekerja sangatcepat, biasanya
selama tiga sampai empat jam dan yang perlu diingat adalah karena
begitu banyaknya cairan yang hilang melalui usus, akan mengakibatkan
terjadinya dehidrasi (Karczmar 1963).
Ketidaksesuaian hasil pengujian dengan literature kemungkinan
disebabkan oleh ketidakmaksimalan praktikan dalam melakukan
pengujian, seperti saat melakukan aspirasi, saat melakukan penalian di
usus. Selain itu, meskipun tikus telah dipuasakan ada kemungkinan masih
tersisanya isi usus sehingga mempengaruhi hasil uji, kemungkinan
adanya kerusakan epitel usus juga dapat mempengaruhi hasil uji, lalu
serta kemungkinan adanya beberapa factor yang tidak teridentifikasi.
Sebagai informasi tambahan, tikus uji mengalami kematian pada menit
ke-35 dengan dugaan pendarahan. Kematian pada tikus bisa berpengaruh
pada hasil dikarenakan sudah tidak adanya aktivitas di usus.
BAB V
KESIMPULAN
V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil dan
pembahasan mengenai praktikum ini, yaitu:
1. Adanya pengurangan jumlah cairan pada seluruh
larutan uji kecuali NaCl 0,9%.
2. Tidak berubahnya volume cairan NaCl 0,9% adalah
karena NaCl 0,9% merupakan larutan fisiologis
tubuh sehingga tidak memberikan pengaruh
apapun pada tubuh.
3. Hasil uji aquades pada usus halus menunjukkan
penurunan volume dari 0,25 ml menjadi 0,15 ml.
terjadinya pengurangan voleme aquades
disebabkan oleh mudahnya aquades diserap oleh
lumen usus.
4. Uji NaCl 3% pada tikus mengalami penurunan
volume dari 0,25 ml menjadi 0,21 ml. Seharusnya
penggunaan NaCl 3% menghasilkan volume yang
lebih tinggi daripada NaCl 0,9%, karena
konsentrasi garam pada NaCl 3% lebih pekat,
sehingga air yang diserap ke dalam lumen usus
lebih banyak
5. Larutan MgSO4yang diinjeksikan ke dalam usus
mengalami pengurangan volume dari 0,25ml
menjadi 0.23 ml untuk konsentrasi 4,7% dan 0,05
ml untuk konsentrasi 27%. Hal ini bertentangan
dengan sumber literature yang menyatakan bahwa
bagian usus yang disuntikkan MgSO4 akan terlihat
lebih besar dan volumenya meningkat karena
MgSO4 merupakan laksan osmotik yang bersifat
menyerap cairan dari seluruh tubuh sehingga
defekasi dapat berlangsung normal

V.2 Saran
Hasil praktikum ini, diharapkan dapat dijadikan sarana untuk
pengembangan pembelajaran. Selain itu, kritik dan saran dari pembaca
sangat diharapkan guna untuk kesempurnaan penulisan dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

Ganiswara, Sulistia G.1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru.


Goth, Andres. 1984. Medical Pharmacology. USA: The C.V. Mosby Company.
Hall, LW and Clark, KW.1383. Veterinary Anaesthesia. Spanish: Bailliere Tindall Ltd.
Karczmar, AG and koppanyi, T. 1963. Experimental Pharmacodynamics. USA:
Burgess Publishing Company.
Widianto B,Mathilda dan Ranti Setiadi, Anna.1991. DINAMIKA OBAT (Terjemahan
dari) Arzneimittelwirkungen, 5 vollig neubearbeitete und erweiterte Auflage.Bandung: ITB
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31605/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada 1 Desember 2019 pukul 13.00 WIB

eprints.undip.ac.id/7905/1/1165-ki-fpet-05.pdf

diakses pada 1 Desember 2019 pukul 13.00 WIB

www.pom.go.id/public/publikasi/kompendia/.../saluran%20cerna.pdf
diakses pada 1 Desember 2019 pukul 13.00 WIB

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18302/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada 1 Desember 2019 pukul 13.00 WIB