Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Mengetahui dan memahami cara melakukan optimasi fase gerak dan
menghitung parameternya.
2. Menentukan kadar zat aktif dalam saediaan secara KCKT.

1.2 Prinsip Percobaan


Pemisahan zat aktif dalam campuran berdasarkan partisi dan absorpsi dalam
kolom dan fase gerak (kepolaran) yang kemudian hasil pemisahan dideteksi
menggunakan detektor ultraviolet – visible.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Parasetamol
Parasetamol (C8H9NO2) atau asetaminofen berupa serbuk hablur, putih,
tidak berbau, rasa sedikit pahit. Mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak
lebih dari 101,0 % C8H9NO2, dihitung terhadap zatan hidrat. Kelarutannya larut
dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N serta mudah larut dalam
etanol. BM parasetamol adalah 151,16. Parasetamol memiliki khasiat sebagai
analgetikum dan antipiretikum (Depkes RI, 1995).

Gambar 1. RumusStruktur Paracetamol

Absorbansi parasetamol pada max 245 nm dalam larutan asam adalah


sebesar 668a sedangkan dalam larutan alkali atau basa absorbansinya sebesar
715a pada max 257 nm. Identifikasi: Sistem HD—k 0.1; sistem HW—k 0.32;
sistem HX—RI 264; sistem HY—RI 241; sistem HZ—waktu retensi 1.9 menit;
sistem HAA—waktu retensi 5.6 menit; sistem HAM—waktu retensi 2.0 menit;
sistem HAX—waktu retensi 4.8 menit; sistem HAY—waktu retensi 3.7 menit
(Rachdiati et al, 2008).
2.2 Nipagin

Nipagin adalah nama dagang untuk senyawa metil hidroksi


benzoat, yaitu senyawa ester metil dari asam p-hidroksibenzoat. Senyawa ini
merupakan bahan tambahan pangan senyawa turunan asam benzoat, yang
berfungsi sebagai bahan antimikroba atau pengawet. Senyawa ini sering juga
dikenal dengan nama metil paraben.Rumus kimia untuk metil paraben adalah
CH3(C6H4(OH)COO atau C8H8O3 dengan BM 154,15.

Nipagin merupakan serbuk hablur halus, hampir tidak berbau, tidak


mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal. Larut dalam 500
bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%)P dan
dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali
hidroksi, Larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak
nabati panas jika didinginkan larutan tetap jernih ( Ghalib, Ibnu 2007 ) .
2.3 High Performance Liquid Chromatography HPLC

High performance liquid chromatography (HPLC) atau yang sering


disebut kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) adalah jenis kromatografi yang
penggunaannya paling luas. Kegunaan umum HPLC adalah untuk pemisahan dan
pemurnian senyawa obat serta untuk analisis kuantitatif senyawa obat dalam
sediaan farmasetika. Disamping itu, HPLC juga digunakan untuk identifikasi
kualitatif senyawa obat berdasarkan pada parameter waktu retensi senyawa obat
standard serta senyawa obat dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2012).
Kegunaan HPLC antara lain:
- Untuk pemisahan sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa
biologis
- Analisis ketidakmurnian (impurities)
- Analisis senyawa – senyawa tidak mudah menguap (non volatile)
- Penentuan molekul – molekul netral, ionik, maupun zwitter ion
- Isolasi dan pemurnian senyawa
- Pemisahan senyawa – senyawa yang strukturnya hampir sama
- Pemisahan senyawa – senyawa dalam jumlah yang sekelumit (trace
element), dalam jumlah banyak, dan dalam skala proses industri.
(Gandjar dan Rohman, 2007) .
2.4 Parameter HPLC
Parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas suatu
kromatogram adalah Resolusi (Rs), Faktor Retensi (k), Faktor selektifitas (α),
Efisiensi dan jumlah lempeng teoritis (N).
- Resolusi (Rs)
Hal yang terpenting dari HPLC adalah mengoptimasi resolusi
dalam waktu yang minimum. Nilai resolusi yang melebihi 1,5 diantara dua
puncak akan memberikan nilai pemisahan yang baik. Resolusi dipengaruhi
oleh beberapa parameter diantaranya: Selectivity, Effieciency, dan
Retention.

- FaktorRetensi (k)
Faktor retensi adalah waktu yang diperlukan untuk membawa
keluar suatu komponen dari dalam kolom kromatografi. Nilai k yang
tinggi mengindikasikan sampel memerlukan waktu dalam berinteraksi
dengan fase diam terlebih dahulu hingga keluar dari kolom saat tepat
dalam konsentrasi maksimum.
- Faktorselektifitas (α)
Selektifitas merupakan kemampuan instrument dalam mengenali
senyawa – senyawa dalam campuran untuk mendapat selektifitas yang
maksimum diperlukan interaksi yang sesuai (partisi, adsorpsi, size
exclusion, atauion exchange). Apabila kedua senyawa memiliki k atau
nilai α = 1 kedua senyawa tidak dapat dipisahkan. Akibat waktu retensinya
identik. Agar terjadi pemisahan yang baik maka nilai selektivitas (α) harus
lebih besar daripada 1, semakin besar nilai α maka pemisahannya akan
semakin baik. Nilai α dapat diubah-ubah dengan cara, mengubah fasa
gerak (misalnya dengan memperbesar polaritas), mengubah fasa diam,
mengubah temperatur karena pada umumnya kenaikan temperatur akan
memperkecil waktu retensi, dan mengubah bentuk komponen
- Efisiensi
Efisiensi kolom merupakan kemampuan kolom mengeluarkan hasil
yang diinginkan dengan memuaskan dan dalam waktu yang singkat. Hasil
yang idel kolom yang efisien akan menghasilkan puncak yang tajam.
Efisiensi sangat dipengaruhi oleh kapasitas dari kolom.

- Lempengteoritis (N)
Merupakan parameter yang menghitung efisiensi kromatografi.
Menyatakan jumlah peristiwa partisi yang dialami oleh analit pada setiap
saat yang dibawa oleh fase gerak selama elusi. Dimana semakin besar
harga N akan memberikan puncak yang lebih efisien (Perdana, 2009) .

2.5 Detektor HPLC

Detektor pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor


universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan
tidak bersifat selektif) seperti detector indeks bias dan detector spektro metri
massa; dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit
secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detector fluoresensi, dan
elektrokimia.

Idealnya, suatu detector harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.

2. Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar
yang sangatkecil.

3. Stabil dalam pengopersiannya.

4. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran


pita.

5. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solute pada kisaran
yang luas (kisaran dinamis linier).

6. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.
BAB III
MONOGRAFI SAMPEL

3.1 Parasetamol

Nama Resmi ACETAMINOPHENUM

Namalain Asetamiofen/Parasetamol

RumusStruktur

Rumusmolekul C8H9NO2

Pemerian Habluratauserbukhablurputih; tidakberbau; rasa pahit

Kelarutan Larutdalam 70 bagian air, dalam 7 bagianetanol (95%) P,


dalam 13 bagianaseton P, dalam 40 bagiangliserol P dan dalam
9 bagianpropilenglikol P; larutdalamlarutan alkali hidroksida

Penyimpanan Dalamwadahtertutupbaik, terlindungdaricahaya

Kegunaan Analgetikum; antipiretikum

Persyaratan Mengandungtidakkurangdari 90% dan tidaklebihdari 110,0%

3.2 Nipagin

Nama Resmi Methyl Paraben

Namalain Nipagin
RumusStruktur

Rumusmolekul CH3(C6H4(OH)COO

Pemerian Serbuk hablur halus, hampir tidak berbau, tidak mempunyai


rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal

Kelarutan Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih,
dalam 3,5 bagian etanol (95%)P dan dalam 3 bagian aseton P,
mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksi,
Larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian
minyak nabati panas jika didinginkan larutan tetap jernih.

Penyimpanan Dalamwadahtertutupbaik, terlindungdaricahaya

Kegunaan Bahan antimikroba atau pengawet

Persyaratan Mengandungtidakkurangdari 90% dan tidaklebihdari 110,0%


BAB IV

DIAGRAM ALIR PROSEDUR PERCOBAAN

4.1 Penentuan Waktu Retensi dan Optimasi Fase Gerak Parasetamol dan
Nipagin
1. Larutan induk parasetamol
1000 ppm dalam pelarut
aquabidest

- Diambil dan dipipet 10 ml dan tambahkan


aquabidest ad 100 ml

Larutan baku 100 ppm

- Disaring dengan penyaring miliphore 0,45 μm


- Suntikkan ke dalam lubang penyuntik KCKT
dengan fase gerak Asetonitril : asam asetat 1%.
- Tentukan waktu retensi (tR)

Hasil
2.
Larutan induk nipagin 1000
ppm dalam pelarut aquabidest

- Diambil dan dipipet 1 ml dan tambahkan


aquabidest ad 100 ml

Larutan baku 10 ppm


- Disaring dengan penyaring miliphore 0,45 μm
- Suntikkan ke dalam lubang penyuntik KCKT
dengan fase gerak Asetonitril : asam asetat 1%.
- Tentukan waktu retensi (tR)

Hasil

3. Campuran 10 mL larutan standar 100


ppm parasetamol dan 10 mL larutan
standar 10 ppm nipagin

- Dihomogenkan dan disaring dengan penyaring


miliphore 0,45 μm
- Suntikkan ke dalam lubang penyuntik KCKT
dengan fase gerak Asetonitril : asam asetat 1%.
- Tentukan waktu retensi (tR) dan panjang alas
puncak masing-masing senyawa.

Hasil
4.2 Penentuan Kadar Parasetamol dan Nipagin dalam sirup
1. Pembuatan Kurva Kalibrasi Parasetamol dan Nipagin

1 ppm
Diambil 10 ml+
Aquabdest ad 100
mL mjd 100 ppm
lalu di ambil 1
mLad 100 mL
aquabidest
10 ppm

Diambil 1 ml+
Aquabidest ad
100 mL

40 ppm

Diambil 4 ml+
Aquabidest ad
100 mL
50 mg
parasetamol dan 100
50 mg nipagin ad ppm
50mL. Diambil 10 ml+
Aquabidest ad
10 mL

160 ppm

Diambil 8 ml+
Aquabidest ad
50 mL

200
ppm
Diambil 10 ml+
Aquabidest ad
50 mL
Konsentrasi 1, 10, 40, 100, 160 dan 200
ppm.

- Disaring dengan penyaring miliphore 0,45 μm


- Suntikkan ke dalam lubang penyuntik KCKT.
- Tentukan waktu retensi (tR) dan luas puncak
masing-masing senyawa.

Hasil

2. Penentuan Kadar Zat Parasetamol dan Nipagin dalam Sirup secara


Simultan

Pipet sebanyak 1,0 mL ke


dalam labu takar 25 ml.

- Diencerkan dengan aquabidest hingga tanda


batas.
- Dipipet sebanyak 1,0 mL dan diencerkan
kembali dengan pelarut yang sama hingga 10,0
mL.
- Disaring dengan penyaring miliphore 0,45 μm
- Suntikkan ke dalam lubang penyuntik KCKT.
- Hitung luas puncak parasetamol dan nipagin.
- Tentukan % kadar masing-masing dalam
sediaan sitrup.

Hasil
BAB V
HASIL

5.1 Hasil Penentuan Waktu Retensi dan Optimasi Fase Gerak


Parasetamol dan Nipagin Tunggal
No Kombinasi Fase tR PCT tR Nipagin
Gerak
1. 85 : 15 1,66 1,85
2. 75 : 25 1,54 2,00
3. 70 : 30 1,57 2,12

5.2 Hasil Penetuan Waktu Retensi dan Optimasi Fase Gerak Campuran
Parasetamol dan Nipagin
No Kombinasi tR PCT tR Nipagin Kpct Knip α R
Awal Akhir w Awal Akhir w
1. 85 : 15 1,628 1,761 0,1 1,761 2,041 0,2 1,6 1,8 1,1 0,9

2. 75 : 25 1,384 1,887 0,5 1,907 2,198 0,2 1,5 2,0 1,2 1,1

3. 70 :30 1,403 1,818 0,3 2,012 2,299 0,2 1,5 2,1 1,3 1,6

5.3 Hasil Pengukuran AUC Larutan Standar Parasetamol dan Nipagin


Konsentrasi μg/mL AUC Parasetamol AUC Nipagin
1 101,055 86,727
10 384,284 787,007
40 1.385,325 2.884,016
100 3.552,343 6.931,293
160 5.650,844 10.464,902
200 7.274,702 12.034,410
5.4 Hasil Penentuan Kadar Parasetamol dalam Sirup
Pengukuran Volume tR AUC Berat Berat Dosis % Kadar
Sampel Hasil PCT
Yang Analisis (mg/mL)
Dipipet (mg)
1. 1 mL 2.53 7.017,091 48,90125 48,90125 25 195,6015

2. 1 mL 2,45 7,789,669 54,28925 54,28925 25 217,157

% Kadar rata – rata 208,381%

± SD 15,239

5.5 Hasil Penentuan Kadar Nipagin dalam Sirup


Pengukuran Volume tR AUC Berat Berat Konsentrasi
Sampel Nipagin Nipagin Hasil Analisis (%b/v)
Yang Analisis (g)
Dipipet (mg)
1. 1 mL 3,29 1.032,770 2,9485 0,0029485 1,474

2. 1 mL 3,29 1.158,440 3,46075 0,00346075 1,730

% Kadar rata – rata 1,64

± SD 1,1810
BAB VI

PEMBAHASAN

Praktikum Analisis Farmasi II pada kesempatan kali ini dilakukan analisis


kuantitatif penetapan kadar Parasetamol dalam sediaan sirup dengan metode High
Performance Liquid Chromatography (HPLC).

Prinsip dari metode ini pada umumnya sama dengan metode kromatografi,
yaitu didasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi solut yang dipengaruhi oleh
perbedaan afinitas solut terhadap fase gerak dan fase diam (Gandjar dan Rohman,
2007). Metode HPLC ideal untuk analisis beragam obat dalam sediaan dan cairan
biologi, karena sederhana, dan kepekaannya tinggi (Munson, 1984).

Instrumen HPLC memiliki 2 jenis kolom berdasarkan jenis fase gerak dan
fase diam yang digunakan, yaitu kolom normal phase dan kolom reverse phase.
Dalam praktikum ini digunakan instrumen HPLC dengan jenis kolom reverse
phase yaitu inertsil ODS -3 (C 18). Kolom reverse phase kolom yang fase
diamnya bersifat nonpolar sedangkan fase geraknya bersifat polar, kebalikan dari
fase normal. Fase diam nonpolar yang paling banyak digunakan adalah jenis C 18,
C8, dan C2 (Mulja dan Suharman, 1995).

Fase diam yang digunakan pada kolom reverse phase HPLC pada praktikum
ini adalah C18. Penggunaankolom reverse phase karena parasetamol merupakan
senyawa polarsehingga parasetamol mampu dipisahkan oleh kolom reverse phase
karena kolom reverse phase memiliki gugus oktadesil silika (ODS atau C18) yang
mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang,
maupun tinggi (Gandjar dan Rohman, 2007). Selain itu, kolom C18 memiliki
jumlah C yang banyak sehingga mengakibat sifat fase diam ini cenderung bersifat
non polar, akibatnya pemisahan terhadap parasetamol akan semakin baik. Selain
itu dengan kolom reverse phase, fase gerak yang digunakan bersifat polar. Fase
gerak yang digunakan pada kolom reverse phase HPLC adalah Acetonitril :
CH3COOH 1% yang memiliki drajat pro-analisis. Sehingga, dalam
penggunaannya pada metode HPLC harus disaring terlebih dahulu dengan pompa
vakum yang berisi membran filter untuk menyaring pengotor-pengotor bahkan
yang berukuran mikro dari fase gerak. Adanya pengotor dalam reagen dapat
menyebabkan gangguan pada sistem kromatografi. Adanya partikel yang kecil
dapat terkumpul dalam kolom atau dalam tabung yang sempit, sehingga dapat
menyebabkan suatu kekosongan pada kolom atau tabung tersebut (Gandjar dan
Rohman, 2007).

Sebelum dilakukan proses analisis parasetamol dengan metode HPLC.


Pertama-tama dilakukan pengkondisian kolom. Pengkondisian kolom HPLC
meliputi pengaturan tekanan kolom, laju alir fase gerak, serta pencucian kolom
dengan menggunakan metanol-air. Proses ini dilakukan untuk meningkatkan
kepekaan kolom dan menghindari pengotor atau sisa analit yang masih tertahan
pada kolom pada analisis sebelumnya agar tidak mengganggu analisis dan
merusak kolom. Setelah dilakukan pengkondisian kolom. Selanjutnya dilakukan
analisis sampel.

Fase gerak maupun larutan yang dianalisis dialirkan dengan menggunakan


sistem pompa. Pompa dibutuhkan untuk mengalirkan fase gerak dengan tekanan
sehingga dapat mengalir secara terus menerus melalui kolom secara tepat,
reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Proses elusi dilakukan dengan
cara isokratik diamana elusi dengan menggunakan komposisi fase gerak yang
sama tanpa ada perubahan perbandingan fase gerak yang digunakan.

Semua larutan sebelum dialirkan ke sistem harus disaring terlebih dahulu


dengan membran filter dengan tujuan yang sama seperti saat menyaring fase gerak
yaitu untuk menyaring pengotor-pengotor bahkan yang berukuran mikro dari
pelarut. Adanya pengotor dalam reagen dapat menyebabkan gangguan pada
sistem kromatografi. Adanya partikel yang kecil dapat terkumpul dalam kolom
atau dalam tabung yang sempit, sehingga dapat menyebabkan suatu kekosongan
pada kolom atau tabung tersebut (Gandjar dan Rohman, 2007).

Injeksi larutan standar dan sampel ke dalam HPLC harus dilakukan dengan
hati-hati dan dijaga agar tidak ada gas yang terinjeksikan sebab adanya gas dapat
menimbulkan gelembung dan pengumpulan gas pada komponen lain terutama di
pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis. Sehingga hasil
analisisnya tidak baik.

Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase


gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat
penyuntik yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample loop). Pada saat
pengisian sampel, sampel digelontor melewati keluk sampel dan kelebihannya
dikeluarkan ke pembuang. Sampel yang melewati keluk ini adalah 20 µL. Pada
saat penyuntikan, katup diputar sehingga fase gerak mengalir melewati keluk
sampel dan menggelontor sampel ke kolom (Gandjar dan Rohman, 2007).

Pada saat praktikum larutan standar dan sampel-sampel cair disuntikan


sebesar 40 µL. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi cairan yang mungkin
tertinggal saat diinjeksikan, sehingga sampel yang masuk tidak kurang dari 20 µL.
Larutan standar yang pertama dielusi adalah larutan standar dengan konsentrasi
terkecil untuk mengantisipasi jika ada larutan yang tertinggal saat elusi. Dimana
bila kita mengukur dari konsentrasi yang paling besar, kemungkinan adanya sisa
konsentrasi dari larutan ini lebih besar. Sehingga akan mempengaruhi konsentrasi
larutan yang lebih kecil yang diukur selanjutnya. Kemungkinan jika konsentrasi
larutan yang tertinggal tadi ikut terbaca maka AUC yang dihasilkan oleh larutan
dengan konsentrasi yang lebih kecil, menjadi lebih besar dibandingkan dengan
AUC larutan dengan konsentrasi lebih tinggi.

Detektor yang digunakan pada HPLC ini adalah detektor photodiode array
(PDA). Detektor ini merupakan detektor UV-Vis dengan berbagai keistimewaan.
Detektor ini mampu memberikan kumpulan kromatogram secara simultan pada
panjang gelombang yang berbeda dalam sekali proses (single run). Selama proses
berjalan, suatu kromatogram pada panjang gelombang yang diinginkan dapat
ditampilkan. Dengan detektor ini akan diperoleh spektrum UV tiap puncak yang
terpisah sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang penting untuk memilih
panjang gelombang maksimal untuk sistem HPLC yang digunakan. Dengan
detektor ini pula, dapat dilakukan uji kemurnian puncak (similiarity factor)
dengan membandingkan antara spektra analit dengan spektra senyawa yang sudah
diketahui atau berada dalam library HPLC (Gandjar dan Rohman, 2007).
Setelah pengkondisian alat dilakukan pembuatan larutan standar
parasetamol dan nipagin dengan konsentrasi 1 µg/mL; 10 µg/mL; 40 µg/mL; 100
µg/mL; 160µg/mL ; 200 µg/mL . Rentang ini dipilih karena kadar sampel yang
akan dianalisis berkisar 100 µg/ml. Suatu strategi yang baik adalah mengukur
baku dengan kisaran 25, 50, 75, 100, 125 dan 150% dari konsentrasi analit yang
diharapkan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Sebelum diinjeksikan, larutan standar disaring terlebih dahulu. Perlu


diperhatikan pada saat penyuntikan larutan ke dalam injektor tidak boleh terdapat
gelembung pada syringe karena dapat mengganggu pengamatan dan gas dapat
menimbulkan gelembung dan pengumpulan gas pada komponen lain terutama di
pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis.

Untuk analisis kuantitatif penetapan kadar Parasetamol dan nipagin dalam


sediaan tablet dengan metode High Performance Liquid Chromatography
(HPLC).

Sebelum dilakukan penginjeksian sampel, terlebih dahulu dilakukan


penginjeksian larutan standar eksternal parasetamol dan nipagin dengan kosentrasi
1 µg/mL; 10 µg/mL; 40 µg/mL; 100 µg/mL; 160µg/mL ; 200 µg/mL Berdasarkan
hasil pengamatan terhadap nilai AUC, diperoleh data yang menunjukan bahwa
pada larutan standar parasetamol 1 µg/mL diperoleh nilai AUC sebesar 101055
dan AUC nipagin 86727 . Pada larutan standar parasetamol 10 µg/mL diperoleh
nilai AUC sebesar 384284 an AUC nipagin 787007. Pada larutan standar
parasetamol 40 µg/mL diperoleh nilai AUC sebesar 1385325 dan nipagin
2884016 . Pada larutan standar parasetamol 100µg/mL diperoleh nilai AUC
sebesar 3552343 AUC nipagin 6931293. Pada larutan standar parasetamol 160
µg/mL diperoleh nilai AUC sebesar 5650844 AUC nipagin 10464902 . Pada
larutan standar parasetamol 200µg/mL diperoleh nilai AUC sebesar 7274702
AUC nipagin 12034410 .Larutan standar eksternal ini akan digunakan untuk
membuat persamaan regresi linier dan dapat dibuat kurva kalibrasi.

Dari semua larutan standar yang diukur diperoleh persamaan regresi dengan
menggunakan ke enam larutan standar yaitu konsentrasi diperoleh nilai korelasi
(R2) paracetamol yaitu sebesar 0,99947 dan R2 nipagin sebesar 0,994.
Berdasarkan perhitungan diperoleh persamaan regresi paracetamol y = 35848x +
5021,8 dan persamaan regresi linier nipagin y = 61312x + 309651 dengan y =
AUC dan x = kadar sampel (µg/ml). Persamaan ini sudah memenuhi parameter
linieritas sehingga dengan persamaan linier ini, maka dapat digunakan untuk
menentukan kadar parasetamol sampel.

Setelah diperoleh persamaan regresi linier dari larutan standar eksternal


parasetamol. Selanjutnya dilakukan penginjeksian sampel. Elusi dari masing-
masing berkisar antara 1,582 menit. Penginjeksian sampel dilakukan sebanyak 2
kali untuk memperoleh keseksamaan.

Uji kualiatif adanya parasetamol dan nipagin dalam sirup dilakukan dengan cara
mencocokan batas spektrum yang diperoleh dengan spektrum standar parasetamol
yang telah tersedia

Secara kuantitatif berdasarkan perhitungan diperoleh kadar sampel rata-rata dari 2


kali penyuntikan adalah 15,23 mg . Kadar yang diperoleh dari hasil analsis adalah
48,90125 mg dan 54,28925 mg dengan perolehan kembali sebesar 195,605% dan
217,157 %. Dan pada nipagin di peroleh berat hasil analisis dalam sirup PCT
sebesar 2,9485 mg dengan kadar 1,474 % dan 3,46075 mg % kadar 1,730 %

Hasil yang diperoleh melebihi 110 % dan kurang dari 90,0 % dari kadar
sebenarnya. Hal ini kemungkinan karena ketidak tepatan pemipetan pada saat
pembuatan larutan sampel.
DAFTAR PUSTAKA

Gholib, Ibnu, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka pelajar:Yogyakarta.

Perdana , 2009, Penuntun Praktikum Kimia Organik, Fakultas Farmasi


Universitas Muslim Indonesia : Makassar.

Rohman, Abdul, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Penerbit Pustaka Pelajar,


Yogyakarta.
LAMPIRAN

 Grafik
 KurvaKalibrasi

Kurva Kalibrasi Paracetamol secara KCKT


8,000,000
7,000,000 y = 35848x + 5021.8
R² = 0.9994
6,000,000
5,000,000
AUC

4,000,000
3,000,000
2,000,000
1,000,000
-
0 50 100 150 200 250
Konsentrasi (ug/mL)

Kurva Kalibrasi Metil Paraben secara KCKT


14,000,000
12,000,000 y = 61312x + 309651
R² = 0.994
10,000,000
8,000,000
AUC

6,000,000
4,000,000
2,000,000
-
0 50 100 150 200 250
Konsentrasi (ug/mL)
 KromatogramStandarCampuranParasetamol-Nipagin

mV (x1,000)
2.50 Detector A:258nm

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

2.536/6641896
1.00

0.75

0.50
1.764/46854
1.951/13732

2.960/3405

3.288/1893
0.25

0.00
0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 min

 KromatogramSampelCampuranParasetamol-Nipagin

mV (x1,000)
2.50 Detector A:258nm

2.25

2.00

1.75

1.50
2.534/7017091

1.25

1.00

0.75
3.289/1032770

0.50
1.779/2731
1.924/5464

0.25

0.00
0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 min
 Perhitungan
 PerhitunganPengenceran
1ppm 10ppm
V1.C1 = V2.C2 V1.C1 = V2.C2
V1.100 = 1.100 V1.1000 = 100.10
V1 = 1ml V1 = 1ml

40ppm 100ppm
V1.C1 = V2.C2 V1.C1 = V2.C2
V1.1000 = 100.40 V1.1000 = 100.100
V1 = 4ml V1 = 10ml

160ppm 200ppm
V1.C1 = V2.C2 V1.C1 = V2.C2
V1.1000 = 50.160 V1.300 = 50.200
V1 = 8ml V1 = 10ml

 Kombinasi Fase Gerak Asetonitril : Asam Asetat (70:30)


Parasetamol Nipagin
K = tR K = tR
K = 1,57 K = 2,12

α=
α=
α = 1,35

R=2
R=2
R = 1,6

 Perhitungan Berat Hasil Analisis, Berat Parasetamol/ml dan % kadar

Kadar Parasetamol 1
 y = 35848X + 5021,8
7017091 = 35848X + 5021,8
x = 195,605 ppm

 BHA = Nilai X . Faktor Pengenceran .Jumlah Larutan Awal


BHA = 195,605 ppm . . 25 ml
BHA = 48901,25 µg

BHA = 48,90125 mg

 Berat pct/mL =
Berat pct/mL =
Berat pct/mL = 48,90125 mg/mL

 % Kadar pct = x 100 %


% Kadar pct = x 100 %
% Kadar pct = 195,605%

Kadar Parasetamol 2

 y = 35848X + 5021,8
7789669 = 35848X + 5021,8
x = 217,157 ppm

 BHA = Nilai X . Faktor Pengenceran .Jumlah Larutan Awal


BHA = 217,157ppm .. 25 ml
BHA = 54289,25µg

BHA = 54,28925mg

 Berat pct/mL =
Berat pct/mL =

Berat pct/mL = 54,28925 mg/mL

 % Kadar pct = x 100 %


% Kadar pct = x 100 %
% Kadar pct = 217,157%

Kadar Nipagin 1

 y = 61312x + 309651
1032770 = 61312x + 309651
x = 11,794ppm

 BHA = Nilai X . Faktor Pengenceran .Jumlah Larutan Awal


BHA = 11,794 ppm . . 25 ml
BHA = 29485 µg
BHA = 0,0029485 g

 Berat Nipagin/mL =
Berat Nipagin/mL =
Berat Nipagin/mL = 0,0029485 g/mL

 % Kadar Nipagin = x 100 %


% Kadar Nipagin = x 100 %
% KadarNipagin = 1,474 %

Kadar Nipagin 2

 y = 61312x + 309651
1158440 = 61312x + 309651
x = 13,843 ppm

 BHA = Nilai X . Faktor Pengenceran .Jumlah Larutan Awal


BHA = 13,843 ppm . . 25 ml
BHA = 3460,75 µg
BHA = 0,00346075 g
 Berat Nipagin/mL =
Berat Nipagin/mL =
Berat Nipagin/mL = 0,00346075 g/mL

 % Kadar Nipagin = x 100 %


% Kadar Nipagin = x 100 %
% KadarNipagin = 1,730 %