Anda di halaman 1dari 75

MAKALAH

GENETIKA

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Genetika

“ MATERI GENETIK ”

Kelompok 2 :

Cybillita Tielung ( 17 507 027 )


Mutiara Livie Hamin ( 17 507 001 )
Desti Febriani ( 17 507 043 )
Marchelia Siregar ( 17 507 033 )
Marchelina W.F Bujung ( 17 507 041 )
Gabi Sumigar ( 17 507 124 )

Dosen Pengampuh : Dr. Aser Yalindua, MP & Verawati I.Y. Roring, SIK, M.Sc

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI

2019
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-Nya, sehingga makalah yang berjudul tentang “Materi Genetik” ini
dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini membahas tentang konsep interaksi
gen, regulasi kerja gen pada prokaryota, regulasi kerja gen pada eukaryota,
regulasi kerja gen pada pembelahan sel, dan ekspresi kelamin.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami
menyadari dalam penulisan makalah ini ada banyak kesalahan, untuk itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki kesalahan yang ada.
Sekian dan terima kasih.

Tondano, 9 April 2019

Kelompok 2

I
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................................. ii

Bab I. Pendahuluan............................................................................................. 1

A. Latar Belakang .............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................... 2

Bab II. Pembahasan ............................................................................................ 3

A. Konsep Interaksi Gen .......................................................................... 3


B. Regulasi Kerja Gen pada Prokaryota ................................................. 31
C. Regulasi Kerja Gen pada Eukaryota ................................................... 41
D. Regulasi Kerja Gen pada Pembelahan Sel .......................................... 47
E. Ekspresi Kelamin ................................................................................ 56

Bab III. Penutup .................................................................................................. 70

A. Kesimpulan ................................................................................... 70
B. Saran .............................................................................................. 71

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 72

II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Materi genetik merupakan komponen yang sangat penting pada saat terjadinya
reproduksi sel baik reproduksi sel somatik maupun reproduksi sel kelamin. Dengan
adanya materi genetik yang diturunkan pada saat terjadinya reproduksi sel maka
kelestarian suatu jenis dapat dipertahankan. Karenanya dalam reproduksi sel, yang
pertama dilakukan adalah memperbanyak informasi genetik atau reproduksi materi
genetic melalui replikasi.

Genetika adalah ilmu yang mempelajari sifat keturunan. Keturunan adalah


proses biologis dimana orangtua atau induk mewariskan gen kepada anaknya atau ket
urunannya. Genetika adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada
organisme maupun sub organisme (seperti virus dan prion). Secara singkat dapat juga
dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang gen dan segala aspeknya. Dalam
biologi, ilmu genetika mempelajari gen, pewarisan sifat, dan keanekaragaman
organisme hidup.

Genetika dapat diaplikasikan dalam berbagai studi tentang kehidupan seperti


bacteria, plantae, animalia, dan manusia. Dalam kaitannya dengan genetika, DNA
yang terdapat dalam kromosom memiliki peran/ kontribusi yang amat penting.
DNA adalah bahan genetik mendasar yang mengontrol sifat-sifat makhluk hidup,
terekspresikan dalam bentuk polipeptida, meskipun tidak seluruhnya adalah protein
(dapat diekspresikan sebagai RNA yang memiliki reaksi katalitik, seperti SNRPs).
Francis Crick menjelaskan aliran informasi yang dibawa oleh DNA dalam rangkaian
The Central Dogma, yang berbunyi: Aliran informasi DNA dapat diterukan ke sel-
selmaupun individu lainnya dengan replikasi, dapat diekspresikan menjadi suatu
sinyal perantara dalam bentuk RNA, yang kemudian dapat ditranslasikan menjadi
polipeptida, unit pembangun suatu fenotipe dari organisme yang ada.

1
Berdasarkan informasi tersebut, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai
materi genetika berupa kromosom, gen, asam nukleat (DNA dan RNA), serta
bagaimana gen dapat diekspresikan.

B. Rumusan Masalah
Adapun batasan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana konsep interaksi gen?
2. Bagaimana regulasi kerja gen pada prokariota?
3. Bagaimana regulasi kerja gen pada eukariota?
4. Bagaimana regulasi kerja gen terhadap pembelaha sel?
5. Bagaimana ekspresi kelamin yang terbentuk dari setiap makhluk hidup?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Mendefinisikan dan menjelaskan konsep interaksi gen.
2. Menjelaskan regulasi kerja gen pada prokariota.
3. Menjelaskan regulasi kerja gen pada eukariota.
4. Menjelaskan regulasi kerja gen terhadap pembelaha sel.
5. Menyebutkan dan menjelaskan ekspresi kelamin yang terbentuk dari setiap
makhluk hidup.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Interaksi Gen


1. Pengertian Interaksi Gen

Selain mengalami berbagai modifikasi nisbah fenotipe karena adanya


peristiwa aksi gen tertentu, terdapat pula penyimpangan semu terhadap hukum
Mendel yang tidak melibatkan modifikasi nisbah fenotipe, tetapi menimbulkan
fenotipe-fenotipe yang merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen
nonalelik. Jadi Apabila ada 2 (dua) pasang gen bekerjasama sehingga membentuk
suatu fenotipe baru maka keadaan ini disebut dengan Interaksi Gen.

Peristiwa interaksi gen pertama kali dilaporkan oleh W. Bateson dan R.C.
Punnet setelah mereka mengamati pola pewarisan bentuk jengger (comb) ayam.
Peristiwa ini disebut dengan Interaksi beberapa pasangan alela. Dalam hal ini
terdapat empat macam bentuk jengger ayam, yaitu :

 Jengger Mawar (Rose) pada Ayam Wyandotte,


 Jengger Kacang (Pea/Biji) pada ayam Brahma,
 Jengger Walnut (sumpel) pada ayam silangan Malaya, dan
 Jengger Tunggal (Single/Bilah) pada ayam Leghorn,

seperti dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

3
Persilangan ayam berjengger Mawar dengan ayam berjengger Kacang
menghasilkan keturunan dengan bentuk jengger yang sama sekali berbeda dengan
bentuk jengger kedua tetuanya. Ayam hibrid (hasil persilangan) ini memiliki
jengger berbentuk Walnut. Selanjutnya, apabila ayam berjengger walnut
disilangkan dengan sesamanya (Intersemating) maka diperoleh generasi
F2 dengan nisbah fenotipe Walnut : Mawar : Kacang : Tunggal = 9 : 3 : 3 : 1.

Dari nisbah fenotipe tersebut, terlihat adanya satu kelas fenotipe yang
sebelumnya tidak pernah dijumpai, yaitu bentuk jengger Tunggal. Munculnya
fenotipe ini, dan juga fenotipe walnut, mengindikasikan adanya keterlibatan dua
pasang gen nonalelik yang berinteraksi untuk menghasilkan suatu fenotipe. Kedua
pasang gen tersebut masing-masing ditunjukkan oleh fenotipe mawar dan fenotipe
kacang.

Apabila gen yang bertanggung jawab atas munculnya fenotipe mawar


adalah R, sedangkan gen untuk fenotipe kacang adalah P, maka keempat macam
fenotipe tersebut masing-masing dapat dituliskan sebagai R-pp untuk mawar, rrP-
untuk kacang, R-P- untuk walnut, dan rrpp untuk tunggal. Dengan demikian,

4
diagram persilangan untuk pewarisan jengger ayam dapat dijelaskan seperti pada
Gambar berikut ini.

Kesimpulannya :

Fenotip jengger yang baru ini disebabkan karena adanya interaksi (saling
pengaruh) antara gen-gen.

Adanya 16 kombinasi dalam F2 memberikan petunjuk bahwa ada 2 pasang


alel yang berbeda ikut menentukan bentuk dari jengger ayam. Sepasang alel
menentukan tipe jengger mawar dan sepasang alel lainnya untuk tipe jengger
Kacang.

Sebuah gen untuk mawar dan sebuh gen untuk kacang mengadakan
interaksi menghasilkan jengger walnut, seperti terlihat pada ayam-ayam F1.

Jengger mawar ditentukan oleh gen dominan R(berasal dari “rose”),


jengger kacang oleh gen dominan P (berasal dari “pea”).

Karena itu ayam berjengger mawar homozigot mempunyai genotip RRpp,


sedangkan ayam berjengger kacang homozigot mempunyai genotip rrPP.

Sedangkan ayam yang berjengger Tunggal adalah Ayam yang homozigot


resesif.

5
Perkawinan dua ekor ayam ini menghasilkan F1 yang berjengger walnut
(bergenotip RrPp) dan F2 memperlihatkan perbandingan fenotip 9:3:3:1.

Gen R dan gen P adalah bukan alel, tetapi masing-masing domina terhadap
alelnya (R dominan terhadap r, P dominan terhadap p). sebuah atau sepasang gen
yang menutupi (mengalahkan) ekspresi gen lain yang buka alelnya dinamakan gen
yang epistasis. Gen yang dikalahkan ini tadi dinamakan gen
yang hipostasis. Peristiwanya disebut epistasi dan hipostasi.

Dalam beberapa kasus, persilangan dengan sifat beda lebih dari satu
kadang menghasilkan keturunan dengan perbandingan yang berbeda dengan
hukum Mendel. Semisal, dalam suatu persilangan monohibrida (dominan resesif),
secara teori, akan didapatkan perbandingan 3:1, sedangkan pada dihibrida
didapatkan perbandingan, 9:3:3:1.

2. Modifikasi Nisbah Mendel

6
Percobaan-percobaan persilangan sering kali memberikan hasil yang
seakan-akan menyimpang dari hukum Mendel. Dalam hal ini tampak bahwa
nisbah fenotipe yang diperoleh mengalami modifikasi dari nisbah yang
seharusnya sebagai akibat terjadinya aksi gen tertentu. misal untuk monohibrida
bukan 3:1 tapi 1:2:1. Dan pada dihibrida, mungkin kombinasi yang mucul adalah,
9:6:1 atau 15:1. Munculnya perbandingan yang tidak sesuai dengan hukum
Mendel ini disebut “Penyimpangan Semu Hukum Mendel“, kenapa “Semu”,
karena prinsip segregasi bebas tetap berlaku atau karena masih mengikuti hukum
Mendel, hal ini disebabkan oleh gen-gen yang membawa sifat memiliki ciri
tertentu.

Jadi Penyimpangan semu hukum Mendel adalah penyimpangan yang


keluar dari aturan hukum Mendel, karena terjadi perubahan rasio F2-nya karena
gen memiliki sifat berbeda-beda. Jadi, rasio fenotipe tidak akan sama seperti yang
telah diuraikan pada hukum Mendel. Penyimpangan semu hukum Mendel :
terjadinya suatu kerjasama berbagai sifat yang memberikan fenotip berlainan
namun masih mengikuti hukum-hukum perbandingan genotip dari Mendel.
Penyimpangan semu ini terjadi karena adanya 2 pasang gen atau lebih saling
mempengaruhi dalam memberikan fenotip baru pada suatu individu. Dengan
demikian Peristiwa pengaruh mempengaruhi antara 2 pasang gen atau lebih
disebut Interaksi Gen. Dengan kata lain bahwa Interaksi Gen adalah apabila 2
pasang gen atau lebih bekerjasama sehingga membentuk suatu
fenotipe baru.Gen memiliki peran tersendiri dalam menumbuhkan karakter, tetapi
adabeberapa gen yang saling berinteraksi dengan gen lain dalam
menumbuhkankarakter. Gen-gen tersebut terdapat pada kromosom yang sama
atau padakromosom yang berbeda.

Secara garis besar modifikasi nisbah Mendel dapat dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu modifikasi nisbah 3 : 1 dan modifikasi nisbah 9 : 3 : 3 : 1.

a) Modifikasi Nisbah Monohybrid

Ada tiga peristiwa yang menyebabkan terjadinya modifikasi nisbah


3 : 1, yaitu semi dominansi, kodominansi, dan gen letal.

7
Semi Dominansi/Intermedier/Dominansi Tidak Sempurna

Peristiwa semi dominansi terjadi apabila suatu gen dominan tidak


menutupi pengaruh alel resesifnya dengan sempurna, sehingga pada
individu heterozigot akan muncul sifat antara (intermedier).

Dengan demikian, individu heterozigot akan memiliki fenotipe


yang berbeda dengan fenotipe individu homozigot dominan. Akibatnya,
pada generasi F2 tidak didapatkan nisbah fenotipe 3 : 1, tetapi menjadi 1 :
2 : 1 seperti halnya nisbah genotipe.

Contoh peristiwa semi dominansi dapat dilihat pada pewarisan


warna bunga pada tanaman bunga pukul empat (Mirabilis jalapa). Gen
yang mengatur warna bunga pada tanaman ini adalah M, yang
menyebabkan bunga berwarna merah, dan gen m, yang menyebabkan
bunga berwarna putih. Gen M tidak dominan sempurna terhadap gen m,
sehingga warna bunga pada individu Mm bukannya merah, melainkan
merah muda. Oleh karena itu, hasil persilangan sesama genotipe Mm akan
menghasilkan generasi F2 dengan nisbah fenotipe merah : merah muda :
putih = 1 : 2 : 1.

Kodominansi

Seperti halnya semi dominansi, peristiwa kodominansi akan


menghasilkan nisbah fenotipe 1 : 2 : 1 pada generasi F2. Bedanya,
kodominansi tidak memunculkan sifat antara pada individu heterozigot,
tetapi menghasilkan sifat yang merupakan hasil ekspresi masing-masing
alel. Dengan perkataan lain, kedua alel akan sama-sama diekspresikan dan
tidak saling menutupi.

Peristiwa kodominansi dapat dilihat misalnya pada pewarisan


golongan darah sistem ABO pada manusia (lihat juga bagian pada bab ini
tentang beberapa contoh alel ganda). Gen IA dan IB masing-masing
menyebabkan terbentuknya antigen A dan antigen B di dalam eritrosit
individu yang memilikinya. Pada individu dengan golongan darah AB

8
(bergenotipe IAIB) akan terdapat baik antigen A maupun antigen B di
dalam eritrositnya. Artinya, gen IA dan IB sama-sama diekspresikan pada
individu heterozigot tersebut.

Perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing


memiliki golongan darah AB dapat digambarkan seperti pada diagram
berikut ini.

Gen Letal

Gen letal atau Gen Kematian ialah gen yang dalam keadaan
homozigot dapat mengakibatkan kematian pada individu yang dimilikinya.
Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat setelah
kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang
menyebabkan kematian pada waktu individu yang bersangkutan
menjelang dewasa.

Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal
resesif. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan
efek subletal atau kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung
menghasilkan fenotipe normal pada individu heterozigot.

Peristiwa letal dominan antara lain dapat dilihat pada ayam


redep (creeper), yaitu ayam dengan kaki dan sayap yang pendek serta
mempunyai genotipe heterozigot (Cpcp). Ayam dengan genotipe CpCp
mengalami kematian pada masa embrio. Apabila sesama ayam redep
dikawinkan, akan diperoleh keturunan dengan nisbah fenotipe ayam redep

9
(Cpcp) : ayam normal (cpcp) = 2 : 1. Hal ini karena ayam dengan
genotipe CpCp tidak pernah ada.

Sementara itu, gen letal resesif misalnya adalah gen penyebab


albino pada tanaman jagung. Tanaman jagung dengan genotipe gg akan
mengalami kematian setelah cadangan makanan di dalam biji habis,
karena tanaman ini tidak mampu melakukan fotosintesis sehubungan
dengan tidak adanya khlorofil. Tanaman Gg memiliki warna hijau
kekuningan, sedang tanaman GG adalah hijau normal. Persilangan antara
sesama tanaman Gg akan menghasilkan keturunan dengan nisbah fenotipe
normal (GG) : kekuningan (Gg) = 1 : 2.

 Gen letal dominan

Beberapa contoh dapat dikemukakan disini.

Pada ayam dikenal gen dominan C yang bila homozigotik akan


bersifat letal dan menyebabkan kematian. Alelnya resesip c mengatur
pertumbuhan tulang normal. Ayam heterozigot Cc dapat hidup, tetapi
memperlihatkan cacat, yaitu memiliki kaki pendek. Ayam demikian
disebut ayam redep(Creeper). Meskipun ayam ini Nampak biasa, tetapi ia
sesungguhnya menderita penyakit keturunan yang disebut achondroplasia.
Ayam homozigot CC tidak pernahdikenal, sebab sudah mati waktu
embryo. Banyak kelainan terdapat padanya, sepeti kepala rusak, rangka
tidak mengalami penulangan, mata kecil dan rusak. Perkawinan antara dua
ayam redep meghasilkan keturunan dengan perbandingan 2 ayam redep:1
ayam normal. Ayam redep Cc itu sebenarnya berasal dari ayam normal
(homozigot cc), tetapi salah satu gen resesip c mengalami mutasi gen
(perubahan gen) dan berubah menjadi gen dominan C.

Pada manusia dikenal Brakhifalangi, adalah keadaan bahwa orang


yan berjari pendek dan tumbub menjadi satu. Cacat ini disebabkan oleh
gen dominan B dan merupakan cacat keturunan. Penderita Brakhtifalangi
adalah heterozigot Bb, sedang orang berjari normal adalah homozigot bb.

10
Jika gen dominan gomozigotik (BB) akan memperlihatkan sifat letal. Jika
ada dua orang brakhtifalaangi kawin, maka anak-anaknya kemungkinan
memperlihatkan perbandingan 2 Brakhtifalangi: 1 Normal.

Pada tikus dikenal gen letal dominan Y (Yellow) yang dalam


keadaan heterozigotik menyebabkan kulit tikus berpigmen kuning. Tikus
homozigot YY tidak dikenal,sebab letal. Tikus homozigot yy normal dan
berpigmen kelabu. Perkawinan 2 tikus kuning akan menghasilkan anak
dengan perbandingan 2 tikus kuning:1 tikus kelabu (normal). Dari ke tiga
contoh dimuka dapat diketahui bahwa gen dminan letal baru akan nampak
pengaruhnya letal apabila homozigotik. Dalam keadaan heterozigotik gen
dominan letal itu tidak mengakibatkan kematian, namun biasanya
menimbulkan cacat.

 Gen Letal resesif

Beberapa contoh dapat dikemukakan disini:

Pada jagung (Zea mays) dikenal gen dominan G yang bila


homozigotik menyebabkan tanaman dapat membentuk klorofil (zat hijau
daun) secara normal, sehingga daun berwarna hijau benar. Alelnya resesif
g bila homozigotik (gg) akan memperlihatkan pengaruhnya letal, sebab
klorofil tidak akan berbentuk sama sekali pada daun lembaga, sehingga
kecambah akan segera mati. Tanaman heterozigot Gg akan mempunyai
daun hijau kekuningan, tetapi dapat hidup terus sampai menghasilkan buah
dan biji, jadi tergolong normal. Jika 2 tanaman yangdaunnya hijau
kekuninan dikawinkan maka keturunannya akan memperlihatkan
perbandingan 1 berdaun hijau normal: 2 berdaun hijau kekuningan.

Pada manusia dikenal gen letal resesif I yang bila homozigotik


akan memperlihatkan pengaruhnya letal, yaitu timbulnya
penyakit Ichytosis congenita. Kulit menjadi kering dan betanduk. Pada
permukaan tubuh terdapat bendar-bendar berdarah. Biasanya bayi telah
mati dalam kandungan.

11
Pada sapi dikenal gen resesif am, yang bila homozigotik (amam)
akan memperlihatkan pengaruhnya letal. Anak sapi yang lahir, tidak
mempunyai kaki sama sekali. Walaupun anak sapi ini hidup, tetapi karena
cacatnya amat berat, maka kejadian ini tergolong sebagai letal. Sapi
homozigot dominan AmAm dan heterozigot Amam adalah nomal. Cara
menurunnya gen letal resesif ini sama seperti pada contoh dimuka.
andaikan ada sapi jantan heterozigot Amam kawin dengan sapi betina
homozigot dominan AmAm, maka anak-anaknya akan terdiri dari sapi
homozigot AmAm dan heterozigot Amam, di kemudian hari anak-anak
sapi ini dibiarkan kawin secara acakan (random).

Karena sapi F1 terdiri dari 2 macam genotif, yaitu AmAm dan


Amam, maka ada 4 kemungkinan perkawinan, ialah:

1 kemungkinan AmAm X AmAm, jantan betina bolak-balik

1 kemungkinan betina AmAm X jantan Amam

1 kemungkinan jantan AmAm X betina Amam

1 kemungkinan Amam X Amam, jantan betina bolak-balik.

Oleh Karena sapi homozigot resesif amam letal, maka sapi-sapi


F2 akan memperlihatkan perbandingan genotip 9 AmAm : 6 Amam. Dari
berbagai keterangan di muka dapat diambil kesimpulan bahwa hadirnya
gen letal menyebabkan keturunan menyimpang dai hukum mendel, sebab
perkawinan monohybrid tidak menunjukan perbandingan 3:1 dalam
keturunan, melainkan 2:1.

 Mendeteksi dan mengeliminir gen-gen letal

Dari keterangan dimuka dapat diketahui, bahwa gen letal dominan


dalam keadaan heterozigotik akan memperlihatkan sifat cacat, tetapi gen
letal resesip tidak demikian halnya. Berhubung dengan itu lebih mudah
kiranya untuk mendeteksi hadirnya gen letal dominan pada satu individu
daripada gen letal resesif.

12
Gen-gen letal dapat dihilangkan (dieliminir) dengan jalan
mengadakan perkawinan berulang kali pada individu yang menderita cacat
akibat adanya gen letal. Tentu saja hal ini mudah dapat dilakukan pada
hewan dan tumbuh-tumbuhan tetapi tidak pada manusia.

b) Modifikasi Nisbah Dihybrid

Modifikasi nisbah 9 : 3 : 3 : 1 disebabkan oleh peristiwa interaksi


gen misalnya yang dinamakan epistasis, yaitu penutupan ekspresi suatu
gen nonalelik. Jadi, dalam hal ini suatu gen bersifat dominan terhadap gen
lain yang bukan alelnya.

Interaksi antara gen akan menimbulkan perbandingan fenotipe


keturunan yang menyimpang dari hukum Mendel. Menurut hukum
Mendel pada perbandingan fenotipe (F2) pada persilangan dihibrid adalah
9 : 3 : 3 :1, apabila terjadi penyimpangan dari hukum Mendel
perbandingan tersebut akan berubah menjadi 9 : 3 : 4, atau 9 : 7, atau 12 :
3 : 1 atau 15:1, dll. Bila diteliti betul-betul angka-angka perbandingan di
atas, ternyata juga merupakan penggabungan angka-angka perbandingan
Mendel. 9:7 = 9:(3+3+1), 12:3:1 = (9+3):3:1, 15:1 = (9+3+3):1, 9:3:4 =
9:3:(3+1).

Kejadian Interaksi gen yang menyebabkan terjadinya Modifikasi


Nisbah Dihybrid/Peyimpangan Semu Hukum Mendel Dihybrid terbagi
menjadi 4 macam yaitu : Kriptomer (9:3:4), Komplementer (9:7),
Epistasis-Hipostasis (12:3:1) dan Polimer (15:1)

Kriptomer

Kriptomeri merupakan suatu peristiwa dimana suatu faktor tidak


tampak pengaruhnya bila berdiri sendiri, tetapi baru tampak pengaruhnya
bila ada faktor lain yang menyertainya. Dengan kata lain bahwa kriptomer
adalah peristiwa dimana suatu faktor dominan baru nampak pengaruhnya
bila bertemu dengan faktor dominan lain yang bukan alelanya. Kriptomeri
memiliki ciri khas: ada karakter baru muncul bila ada 2 gen dominan

13
bukan alel berada bersama.Faktor dominan ini seolah-olah sembunyi
(kriptos). Jadi Faktor yang tersebunyi tersebut adalah Faktor Kriptomer.
Interaksi bentuk kriptomeri sifatnya menyembunyikan karakter yang
terdapat pada leluhur (=atavisme).

Contoh karakter yang dipengaruhi oleh gen kriptomer antara lain :

Bentuk Jengger ayam

Warna bulu mencit

Warna bunga Linaria maroccana

Correns (1913) menyilangkan Bunga Linaria


marrocana berbunga Merah dengan berbunga Putih, dimana masing-masing
berasal dari keturunan murni. Warna pada bunga hanya akan muncul, jika kedua
gen penghasil pigmen warna, yaitu A dan B muncul. Jika salah satu dari kegua
gen tersebut tidak muncul maka bunga menjadi tidak berwarna (putih) karena
enzim penghasil pigmen tidak aktif.

Dimana :

A = ada pigmen warna anthosianin B = Enzim protoplasma basa

a = tak ada pigmen warna anthosianin b = Enzim protoplasma tidak basa

14
Berdasarkan hasil persilangan di atas. F2 menghasilkan
perbandingan fenitope Ungu : Merah : putih sebesar 9 : 3 : 4. Jika dilihat
sepintas, hal tersebut tampak tidak sesuai dengan hukum Mendel.
Sebenarnya, perbandingan 9 : 3 : 4 tersebut hanya merupakan modifikasi
dari perbandingan 9 : 3 + (3 + 1).

Contoh lain :

Misalnya Linaria maroccana biru (AaBb) disilangkan


dengan Linaria maroccana merah (Aabb), sedangkan gen A untuk
antosianin dan gen B untuk sifat basa.

Jika 2 gen dominan A dan B maka berwarna biru,

1 gen dominan A maka berwarna merah

1 gen dominan B atau A dan B tidak ada maka berwarna putih

15
Berdasarkan hasil persilangan di atas. F2 menghasilkan
perbandingan fenitope Biru : Merah : putih sebesar 6 : 6 : 4 Jika dilihat
sepintas, hal tersebut tampak tidak sesuai dengan hukum Mendel.
Sebenarnya, perbandingan 6 : 6 : 4 tersebut hanya merupakan modifikasi
dari perbandingan (9 -3) : (3 + 3 ) : (3 + 1).

Kriptomer Pada Tikus/Mencit

Persilangan Tikus berwarna Hitam dengan Tikus berwarna Putih


menghasilkan Keturunan F1 berwarna Krem, Sedangkan F2 diperoleh
Nisbah Fenotip Krem:Hitam:Putih = 9 : 3 : 4.

Dari perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa disini


terdapat dua sifat beda.

Pada Tikus, Sifat warna putih adalah Resesif dengan Simbol a,


sedangkan Hitam merupakan Sifat Dominan dengan Simbol A.

Timbulnya Sifat Warna Krem disini disebabkan oleh adanya factor


yang tersembunyi dimana Faktor ini merupakan Faktor Dominan (hal ini
dapat dilihat dari timbulnya sifat krem yang imbangannya lebih banyak).

Pada Tikus yang berwarna putih juga disebabkan oleh Faktor yang
tersebunyi yaitu Faktor Resesif.

16
Ilustrasinya adalah sebagai berikut :

Misalnya Faktor yang tersembunyi Dominan diberi Simbol K,


maka yang resesif diberi symbol k (Kebalikan dari K).

Bila sifat warna Hitam A bertemu dengan factor tersembunyi


dominan maka hasilnya menjadi warna Krem.

Sebaliknya Bila sifat warna Hitam A bertemu dengan factor


tersembunyi resesif maka hasilnya menjadi Warna Hitam.

Bila Gen aa bertemu dengan factor tersembunyi dominan maupun


resesif maka hasilnya menjadi warna Putih.

Dari hasil persilangan tersebut dapat dilihat bahwa timbulnya


sifat/warna lain yang disebabkan oleh Faktor tersembunyi jumlahnya lebih
banyak sehingga disini dapat disimpulkan bahwa Faktor tersembunyi yang
menimbulkan warna Krem = dominan

Komplementer

Komplementer adalah peristiwa dimana 2 gen dominan saling


mempengaruhi atau melengkapi dalam mengekspresikan suatu sifat.
Dengan kata lain bahwa Komplementer merupakan bentuk kerjasama dua
gen dominan yang saling melengkapi untuk memunculkan suatu karakter.
Gen Komplementer adalah interaksi antara dua gen dominan, jika terdapat
bersama-sama akan saling melengkapi sehingga muncul fenotipe alelnya.
Bila salah satu gen tidak ada, maka pemunculan sifat terhalang.

Contoh karakter yg dipengaruhi oleh gen komplementer a.l. :

17
Warna bunga kacang Lathyrus odoratus

Warna kulit biji jagung

Bentuk buah labu summer squash (Cucurbita pepo)

Tuli (“Deaf mutism”) pada manusia

Perkawinan pria bisu tuli dengan wanita bisu tuli, ternyata


keturunan F1-nya semuanya normal, bagaimanakah Hasil Keturunan F2–
nya?

Melihat angka perbandingan F2 yang hampir sama, yaitu 9 : 7,


maka bila suatu perkawinan hanya menghasilkan anak sedikit (misalnya 1
atau 2) dimungkinkan semua normal atau semua bisu tuli.

Kunci pemahamam gen-gen komplementer adalah :

rr epistasis (menutupi) B dan b

bb epistasis (menutupi) A dan a

18
Epistasis-Hipostasis

Epistasis dan Hipostasis adalah peristiwa dimana 2 faktor yang


bukan pasangan alelanya dapat mempengaruhi bagian yang sama dari
suatu organisme. Dengan kata lain bahwa Epistasis-hipostasis merupakan
suatu peristiwa dimana suatu gen dominan menutupi pengaruh gen
dominan lain yang bukan alelnya. Gen yang menutupi disebut epistasis,
dan yang ditutupi disebut hipostasis. Gen yang menutupi tersebut bisa Gen
yang dominan maupun Gen yang resesif, dengan demikian Epistasis dapat
dikelompokkan menjadi Epistasis dominan = bila faktor yang menutupi
adalah gen dominan dan Epistasis resesif = bila faktor yang menutupi
adalah gen resesif

19
Sebenarnya dalam Epistasis ini tidak dapat diterangkan
“Bagaimana cara bekerjanya masing-masing pasangan gen”, tetapi hasil
pada F2 diperoleh Individu-Individu dengan imbangan yang mirip dengan
imbangan Dihybrid, sehingga dengan demikian disimpulkan bahwa yang
bekerja adalah dua (2) pasang gen.

Berdasarkan bekerjanya 2 pasang gen, maka Epistasis dapat dibedakan


mjd :

 Epistasis resesif (9 : 3 : 4)

Peristiwa epistasis resesif terjadi apabila suatu pasang gen resesif


menutupi ekspresi gen lain yang bukan alelnya. Akibat peristiwa ini, pada
generasi F2 akan diperoleh nisbah fenotipe 9 : 3 : 4.

Contoh Kejadian Epistasis Resesif

Pewarisan warna bulu mencit (Mus musculus).

Ada dua pasang gen nonalelik yang mengatur warna bulu pada mencit,
yaitu gen A menyebabkan bulu berwarna kelabu, gen a menyebabkan bulu
berwarna hitam, gen C menyebabkan pigmentasi normal, dan gen c
menyebabkan tidak ada pigmentasi. Persilangan antara mencit berbulu kelabu
(AACC) dan albino (aacc) dapat digambarkan seperti pada diagram berikut
ini.

20
Pada Rhodentia, dilakukan perkawinan antara Hewan yang
berwarna Hitam dengan Genotipe AABB dengan Hewan Albino dengan
Genotipe aabb. Gen A menampakkan warna Hitam sedangkan aa
menampakkan warna Kream. Gene B menampakkan timbulnya warna,
sedangkan bb menutupi timbulnya warna, dalam hal ini bb menutupi gen
A.

 Incomplete Duplicate Epistasis (9 : 6 : 1)

Incomplete Duplicate Epistasis (Epistasis Gen Duplikat dengan Efek


Kumulatif) yaitu bila terdapat pasangan gen yang menutupi pasangan Gen
lainnya baik yang dominan ataupun yang resesif secara timbale balik tetapi
pengaruhnya tidak sempurna, sehingga masih menampakkan suatu sifat.

21
Pada Tanaman Cucurbita pepo

Pada Cucurbita pepo dikenal tiga macam bentuk buah, yaitu


cakram, bulat, dan lonjong. Gen yang mengatur pemunculan fenotipe
tersebut ada dua pasang, masing-masing B dan b serta L dan l. Apabila
pada suatu individu terdapat sebuah atau dua buah gen dominan dari salah
satu pasangan gen tersebut, maka fenotipe yang muncul adalah bentuk
buah bulat (B-ll atau bbL-). Sementara itu, apabila sebuah atau dua buah
gen dominan dari kedua pasangan gen tersebut berada pada suatu individu,
maka fenotipe yang dihasilkan adalah bentuk buah cakram (B-L-). Adapun
fenotipe tanpa gen dominan (bbll) akan berupa buah berbentuk lonjong.
Pewarisan sifat semacam ini dinamakan epistasis gen duplikat dengan efek
kumulatif.

22
 Duplicate Resesif Epistasis (9 : 7)

Duplicate Resesif Epistasis atau Epistasis Resesif Ganda adalah Suatu


gejala dimana kedua pasangan gen-gen yang resesif dari masing-masing sifat
saling menutupi kerja pasangan gen lainnya.

Jadi ilustrasinya adalah : Apabila gen resesif dari suatu pasangan gen,
katakanlah gen I, epistasis terhadap pasangan gen lain, katakanlah gen II, yang
bukan alelnya, sementara gen resesif dari pasangan gen II ini juga epistatis
terhadap pasangan gen I, maka epistasis yang terjadi dinamakan Duplicate
Resesif Epistasis atau epistasis resesif ganda. Epistasis ini menghasilkan
nisbah fenotipe 9 : 7 pada generasi F2.

Contoh :

Perkawinan Ayam Silky Putih (White Silky) dengan Ayam Dorking


Putih (White Dorking)

Apabila Genotipe Ayam Silky Putih = AAbb dan Ayam Dorking Putih
= aaBB. Gen A menyebabkan timbulnya warna, aa menekan sifat B,
sedangkan Gen B menimbulkan Warna dan bb menekan Sifat A.

23
 Epistasis dominan (12 : 3 : 1)

Epistasis Dominan yaitu apabila sepasang gen yang dominan menutupi


bekerjanya sepasang gen yang lain. Dengan kata lain bahwa Pada peristiwa
epistasis dominan terjadi penutupan ekspresi gen oleh suatu gen dominan yang
bukan alelnya. Nisbah fenotipe pada generasi F2 dengan adanya epistasis
dominan adalah 12 : 3 : 1.

24
Contoh Kejadian Epistasis Dominan

Peristiwa epistasis dominan dapat dilihat misalnya pada pewarisan


warna buah waluh besar (Cucurbita pepo). Dalam hal ini terdapat gen Y yang
menyebabkan buah berwarna kuning dan alelnya y yang menyebabkan buah
berwarna hijau. Selain itu, ada gen W yang menghalangi pigmentasi dan w
yang tidak menghalangi pigmentasi. Persilangan antara waluh putih
(WWYY) dan waluh hijau (wwyy) menghasilkan nisbah fenotipe generasi
F2 sebagai berikut.

Tanaman Jagung

Tanaman Jagung berwarna Putih disilangkan dengan tanaman


Jagung berwarna Merah. Tanaman Jagung berbiji Putih Genotipenya
adalah = IIPP dan Jagung berbiji Merah genotipenya = iipp. P
membawakan sifat warna Ungu sedangkan pp membawakan sifat warna
merah, I menekan warna dan ii menyebabkan timbulnya warna.

25
 Duplicate Dominan Epistasis (15 : 1)

Duplicate Dominan Epistasis atau Epistasis Dominan Ganda adalah


suatu gejala dimana dari kedua pasang gen-gen yang dominan dari masing-
masing sifat saling menutupi kerja pasangan gen yang lain.

Apabila gen dominan dari pasangan gen I epistatis terhadap pasangan


gen II yang bukan alelnya, sementara gen dominan dari pasangan gen II ini
juga epistatis terhadap pasangan gen I, maka epistasis yang terjadi dinamakan
epistasis dominan ganda. Epistasis ini menghasilkan nisbah fenotipe 15 : 1
pada generasi F2.

Contoh Kejadian Duplicate Dominan Epistasis

Pada Sifat Penurunan Bulu Kaki Ayam

Apabila ayam yang kakinya berbulu dikawinkan dengan ayam yang


kakinya tidak berbulu, maka F1 akan didapatkan ayam yang kakinya berbulu.
Kemudian pada F2 didapatkan Ratio Fenotipe antara yang Kaki Berbulu
dengan Kaki Tidak Berbulu = 15 : 1.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut :

Apabila ayam yang kakinya berbulu memiliki genotype AABB dan


yang tidak berbulu memiliki genotype aabb, gen A akan menimbulkan
bulu pada Kaki dan aa menimbulkan sifat tidak berbulu. Sedangkan Gen B

26
menimbulkan sifat berbulu dan bb menimbulkan sifat tidak berbulu pada
kaki.

Peristiwa epistasis dominan ganda dapat dilihat pada pewarisan


bentuk buah Capsella. Ada dua macam bentuk buah Capsella, yaitu
segitiga dan oval. Bentuk segitiga disebabkan oleh gen dominan C dan D,
sedang bentuk oval disebabkan oleh gen resesif c dan d. Dalam hal ini C
dominan terhadap D dan d, sedangkan D dominan terhadap C dan c.

 Epistasis domian-resesif (13 : 3)

Epistasis dominan-resesif terjadi apabila gen dominan dari pasangan


gen I epistatis terhadap pasangan gen II yang bukan alelnya, sementara gen
resesif dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap pasangan gen
I. Epistasis ini menghasilkan nisbah fenotipe 13 : 3 pada generasi F2.

27
Polimer

Polimer adalah Pola penurunan sifat yang berdasarkan banyak gen


sehingga disebut juga Multiple Gen Heredity = Quantitatif Heredity atau
Poymeri.

Polimer adalah peristiwa dimana beberapa sifat beda yang berdiri


sendiri-sendiri mempengaruhi bagian yang sama dari suatu individu.
Polimer adalah bentuk interaksi gen yang bersifat kumulatif (saling
menambah). Perbedaan dengan komplementer adalah tanpa kehadiran
salah satu gen (alel dominan) karakter yang disebabkannya tetap muncul,
hanya mutu / derajatnya yang kurang dibandingkan dengan kehadirannya.
Gen yang menumbuh kan karakter polimeri biasanya lebih dari 2 gen
sehingga disebut “karakter gen ganda (polygenic inheritance)”.

Peristiwa tersebut mirip dengan persilangan dihibrid tidak dominan


sempurna ulang menghasilkan warna peralihan seperti merah muda.
Warna yang dihasilkan ini tidak hanya dikontrol oleh satu pasangan gen
saja melainkan oleh dua gen yang berbeda lokus, namun masih
berpengharuh terhadap sifat yang sama, peristiwa ini disebut

28
polimeri. Jadi Polimeri adalah dua gen atau lebih yang menempati lokus
berbeda, tetapi memiliki sifat yang sama.

Berdasarkan hasil generasi F2 dapat diketahui, bahwa fenotipe


merah akan selalu muncul jika mendapatkan gen dominan M berapapun
jumlahnya. Fenotipe putih hanya akan muncul, jika tidak terdapat gen
dominan M. Semakin banyak jumlah gen dominan, maka sifat yang
muncul akan semakin kuat. Jadi, satu ciri dipengaruhi oleh banyak gen dan
terjadi secara akumulatif (Cumulative=Additive)

Contoh polimeri yang lain adalah :

Warna kulit dan warna iris pada mata manusia.

29
Sifat Ketebalan Lemak Punggung (Back Fat) pada Ternak babi.

Sifat ketebalan lemak punggung (back fat) pada ternak babi


merupakan sifat yang penurunannya secara kuantitatif.

Misalnya Babi yang mempunyai ketebalan lemak punggung 0,8


inch mempunyai genotype bbff (Simbol B atau b = Back dan F atau f =
Fat), berarti gen b dan f merupakan gen netral yang menentukan tidak
adanya pertambahan ketebalan lemak punggung.

Sedangkan Gen B dan F merupakan gen aktif yang


menentukan adanyapertambahan ketebalan lemak punggung sebesar 0,2
inch.

Bila Babi dengan Back Fat 0,8 inch dikawinkan dengan Babi Back
fat 1,6 inch, maka F1 diperoleh Babi dengan Back Fat 1,2 inch dan F2
hasil intersemating diperoleh Fenotipe Babi dengan Back Fat yaitu : 1,6;
1,4; 1,2; 1,0 dan 0,8 inch.

30
Sifat-Sifat Produksi yang lain dalam bidang peternakan yang pola
penurunannya termasuk Kuantitatif dan Frekuensinya mengikuti Kurve Distribusi
Normal adalah Produksi Susu, PBB, Produksi telur dll. Jadi Individu-Individu
yang mempunyai produksi Medium/rata-rata terdapat dalam jumlah yang banyak

B. Regulasi Kerja Gen pada Prokaryota


1) Pengertian

Regulasi adalah pengaturan atau pengendalian. Ekspresi genetik adalah


suatu rangkaian proses kompleks yang melibatkan banyak faktor. Salah satu ciri
penting pada sistem jasad hidup adalah keteraturan sistem. Oleh karena itu dalam
ekspresi genetik proses pengendalian (regulasi) sistem menjadi bagian mendasar
dan penting.

Pengaturan /pengendalian (regulasi) ekspresi genetik merupakan aspek yg


sangat penting bagi jasad hidup, baik pada prokariot maupun eukariot. Tanpa
sistem pengaturan yg efisien, sel akan kehilangan banyak energi. Sebagai contoh:
jika di dalam medium pertumbuhan Escherichia coli terdapat gula sederhana,
misalnya glukosa (monosakarida), maka sel tidak perlu menjalankan sistem
ekspresi gen yg bertanggung jawab untuk metabolisme gula yg lebih kompleks,
misalnya laktosa (disakarida). Gen yg bertanggung jawab dalam metabolisme
laktosa baru akan diaktifkan setelah melalui suatu rangkaian regulasi tertentu.

Ada dua sistem pengaktifan ekspresi gen, yaitu ekspresi gen secara
konstitutif dan induktif. Secara konstitutif berarti selalu diekspresikan dalam

31
keadaan apapun Sebaliknya, secara induktif bermakna gen yang hanya
diekspresikan jika ada keadaan yg memungkinkan atau ada proses induksi.

Kelompok gen konstitutif merupakan kelompok gen yang bertanggung


jawab terhadap metabolisme dasar, misalnya metabolisme energi atau sintesis
komponen-komponen selular. Sebaliknya, gen yang baru diaktifkan (diinduksi)
menunjukkan adanya efisiensi selular. Sebagai contoh : sel bkteri cenderung
untuk menggunakan sumber karbon dengan struktur molekul paling sederhana
yang tersedia di dalam sel,misalnya glukosa. Oleh karena itu, jika sel bakteri
ditumbuhkan dalam medium yang mengandung dua macam sumber karbon yang
berbeda kompleksitas strukturalnya,misalnya glukosa (monosakarida) dan laktosa
(disakarida), maka sel bakteri akan menggunakan glukosa terlebih dahulu karena
struktur molekulnya lebih sederhana dibanding laktosa.

Pada sel prokariot, telah dikenal kelompok gen yang disebut


operon.Eukariot tidak mengenal sistem operon karena diatur oleh satu promoter
tersendiri Pengendalian ekspresi genetik pada jasad hidup (pro- dan eu-kariot)
meliputi pengendalian positif dan pengendalian negative.

Pada prokariot, pengaturan (pengendalian) pada suatu gen atau operon


melibatkan aktivitas suatu gen regulator. Pengendalian positif pada suatu operon
tersebut dapat diaktifkan oleh produk ekspresi gen regulator Sebaliknya, apabila
operon dinonaktifkan oleh produk ekspresi gen regulator merupakan pengendalian
negatif.

Produk gen regulator ada 2, yaitu aktivator dan represor. Aktivator


berperan dalam pengendalian positif, sedangkan represor dalam pengendalian
negatif. Produk keduanya bekerja dengan menempel pada sisi pengikatan protein
regulator pada daerah promoter gen yang diaturnya.

Pengikatan aktivator atau represor pada promoter ditentukan oleh


keberadaan suatu molekul efektor yang biasanya berupa molekul kecil, misalnya
asam amino, gula atau metabolit serupa lainnya. Molekul efektor yg mengaktifkan

32
ekspresi suatu gen disebut induser, sedangkan yg bersifat menekan ekspresi suatu
gen disebut represor.

2) Model Operon

Model operon berhubungan dengan regulasi gen yang mengkode enzim


yang dibutuhkan untuk penggunaan laktosa pada E. coli. Transkripsi dari satu set
gen yang berdekatan diatur oleh dua elemen. Salah satu elemen disebut regulator
gen, mengkode protein yang disebut repressor.Pada kondisi yang cocok, repressor
berikatan dengan elemen kedua yang disebut operator. Letak operator selalu
berdekatan dengan struktur gen yang dimana ekspresinya diatur. Ketika represor
berikatan dengan operator, transkripsi tidak dapat terjadi.Hal ini karena ikatan
antara represor dan operator menghalangi RNA polymerase untuk berikatan
dengan sisi promoter. Kesatuan unit dari gen, operator, dan promoter inilah yang
disebut operon. Mengikat atau tidaknya represor pada operator, ditentukan oleh
ada atau tidaknya molekul efektor.Transkrip mRNA membawa informasi yang
mengkode seluruh operon.mRNA dari operon mengandung lebih dari satu struktur
gen sehingga disebut poligenik.

3) Regulasi negative dan regulasi positif pada system ekspresi gen


prokariot
 Pengendalian negative pada regulasi ekspresi gen prokariot

Pengendalian secara negatif pada operon artinya operon dinoaktifkan oleh


produk gen regulator (represor), sehingga bila represor ini menempel pada
operator akan dapat menghambat transkripsi. Operon dapat diaktifkan dengan
cara diinduksi. Induksi operon terjadi apabila ada molekul efektor dalam sel.
Molekul efektor merupakan molekul yang mengikat protein dan dapat merubah
aktivitas protein. Molekul efektor yang dapat meningkatkan aktivitas protein
disebut dengan induser. Dalam hal ini induser akan berikatan dengan represor,
untuk kemudian mengubah struktur dari represor. Hal ini mengakibatkan represor
tidak dapat lagi berikatan dengan operator. Dengan demikian transkripsi dapat
berjalan. Secara skematis sistem pengendalian negatif dapat digambarkan sebagai
berikut :

33
Dari gambar dapat dijelaskan bahwa pada pengendalian negatif dilakukan
oleh protein represor yang dihasilkan oleh gen regulator. Pada gambar satu,
represor ini menempel pada operator. Penempelan menyebabkan RNA polimerase
tidak dapat melakukan transkripsi gen-gen struktural, sehingga operon mengalami
represi (penekanan). Proses ini akan terjadi secara terus menerus selama tidak ada
induser di dalam sel. Ini disebut dengan mekanisme efisiensi seluler karena sel
tidak perlu mengaktifkan operon jika memang tidak ada induser sehingga energi
seluler dapat dihemat. Pada gambar dua, menjelaskan jika ada induser maka,
induser melekat pada bagian represor dan mengubah struktur dari represor,
sehingga mengubah allosterik konformasi molekul represor. Hal ini
mengakibatkan represor tidak dapat menempel lagi pada operator dan represor
tidak mampu menghambat transkripsi, sehingga RNA polimerase akan terus
berjalan. Pada gambar ketiga, represor yang dihasilkan pada gen regulator tidak
berikatan dengan ko-represor akan menjadi tidak aktif dan transkripsi pun akan
tetap berjalan. Terakhir pada gambar ke empat represor yang berikatan dengan ko-
represor pada sisi allosteriknya akan menghambat transkripsi.

 Pengendalian positif pada regulasi ekspresi gen prokariotik

Pada sistem pengendalian positif pada gen operon, operon diaktifkan oleh
produk gen regulator, yaitu aktivator. Aktivator dapat bekerja (diaktifkan) bila ada

34
induser. Kemudian aktivator yang telah berikatan dengan induser akan menempel
pada operator. Dengan demikian transkripsi dapat berjalan. Transkripsi dapat
dihentikan kembali bila ada ko-represor. Ko-represor dapat berikatan dengan
aktivator dan menonaktifkan kerja aktivator. Secara skematis pengendalian positif
operon dapat digambarkan sebagai berikut :

Berdasarkan gambar dapat dijelaskan bahwa pengendalian positif operon


diaktifkan oleh produk ekspresi gen regulator. Pada gambar pertama menjelaskan
bahwa gen regulator menghasilkan suatu aktivator yang belum aktif, sehingga
transkripsi tidak bisa berjalan. Pada gambar kedua menjelaskan bahwa aktivator
yang dihasilkan oleh gen berikatan dengan protein induser sehingga aktivator
akan mengalami reaktivasi dan transkripsi pun berjalan. Pada gambar ketiga gen
regulator yang menghasilkan aktivator yang sudah aktif dan transkripsi pun
berjalan. Pada gambar ke empat menjelaskan bahwa aktivator akan berikatan
dengan ko-represor sehinggan menjadi tidak aktif, sehingga tidak akan terjadi
transkripsi.

35
 Pengendalian Negatif Operon Lac Dan pengendalian positif operon lac
a. Pengendalian negative operon lac

Tanpa laktosa : represi ekspresi gen

Pengendalian operon laktosa secara negatif dilakukan oleh protein


repressor yang dikode oleh gen Lac I. Repressor LacI adalah suatu protein
tetra merik yang tersusun atas empat polipeptida yang identik. Represor ini
menempel pada daerah operator (Lac O) yang terletak disebelah hilir dari
promoter. Operator lac berukuran sekitar 28 pasangan basa . Penempelan
semacam ini menyebabkan RNA Polimerase tidak dapat melakukan
transkripsi gen-gen struktural Lac Z, LacY, Lac A. Sehingga operon
laktosa dikatakan mengalami represi. Proses penekanan atau represi
semacam ini akan terjadi terus menerus selama tidak ada laktosa dalam
sel. Inilah yang disebut mekanisme efisiensi selular karena sel tak perlu
mengaktifkan operon laktosa jika memang tidak ada laktosa sehingga
energi selularnya dapat dihemat.

Ada laktosa : derepresi ekspresi gen

Eksperesi gen didahului oleh proses pengaktifan operon


laktosa.Proses pengaktifan operon laktosa disebut sebagai
proses induksi. Induksioperon laktosa dapatterjadi jika ada laktosa di
dalam sel. Laktosa yang ada di dalam medium pertumbuhan diangkut ke
dalam sel dengan menggunakan enzim permease galaktosida. Operon
laktosa tidak sepenuhnya ketat karena di dalam sel sel selalu ada produk
ekspresi operon ini meskipun pada aras paling dasar ( basal level). Oleh
karena itu, meskipun belum ada induksi sepenuhnya, di dalam sel sudah
ada produk enzim permease galaktosida. Enzim inilah yang akan
mengangkut laktosa ke dalam sel. Demikian pula halnya dengan enzim β-
galaktosidase di dalam sel yang selalu ada dalam jumlah yang terbatas,
meskipun belum ada induksi sepenuhnya, sehingga dapat mengubah
laktosa menjadi allolaktosa. Allolaktosa inilah yang sesungguhnya
menjadi induser untuk mengaktifkan operon laktosa. Allolaktosa adalah

36
suatu isomer yang terbentuk dari laktosa , mendepresi operon dengan cara
menginaktifkan repressor. Dengan cara ini, enzim untuk metabolisme
terinduksi atau transkripsi berjalan. Di bawah ini diberikan gambar
skema pola regulasi ekspresi operon Lac pada Eschericaia coli

b. Pengendalian positif operon lac

Pengaturan gen diartikan sebagai positif hanya ketika


suatu molekul aktivator berinteraksi langsung dengan genom untuk
mengubah transkripsi ke keadaan on. Selain dikendalikan secara negatif,
operon lac juga dikendalikan secara positif. Dalam sistem semacam ini
operon Lac diaktifkan kembali setelah sebelumnya ditekan sampai aras
yang paling dasar (basal level). Pengendaliaan ini memberikan keuntungan
bagi sel karena operon laktosa tetap dalam keadaan non-aktif selama
masih tersedia glukosa dalam jumlah yang banyak. Dalam kasus operon
lac, penghilangan represor dari operator tidak cukup untuk mengaktifkan
operon tersebut sehingga diperlukan suatu sistem yang bekerja secara
positif (mempercepat) proses pengaktifan operon. Pada
saat E.coli ditumbuhkan dalam medium yang mengandung dua macam
sumber karbon yang berbeda, yaitu glukosa dan galaktosa, maka sel tidak
perlu mengaktifkan operon laktosa jika dalam sel masih tersedia glukosa.

Represi katabolit pada operon Lac dilakukan melalui protein


regulator yang dikenal sebagai CAP (catabolite activator protein) dan
suatu molekul efektor yaitu cAMP. Pada saat konsentrasi cAMP
meningkat, yaitu pada saat konsentrasi glukosa rendah, maka cAMP akan
berikatan dengan CAP dan mengaktifkan operon lac. Operon lac
mempunyai dua sisi pengikatan yang berbeda, yaitu sisi pengikatan untuk
RNA polimerase dan sisi pengikatan untuk kompleks CAP- cAMP.
Kompleks CAP- cAMP terikat pada promoter lac, pengikatan kompleks
CAP-cAMP pada promoter membantu RNA polimerase untuk terikat pada
promoter. Pengikatan CAP-cAMP pada promoter membentuk kompleks

37
tertutup yang selanjutnya mekjadi kompleks terbuka yang siap melakukan
transkripsi.

4) Pengendalian operon triptopan (trp)

Trp adalah salah satu operon dari E. coli yang mengalami represi. Jika
tryptophan tidak ada, RNA polimerase akan berikatan dengan promoter dan
mentranskrip gen dari operon tersebut. Tetapi jika terdapat tryptophan, represor
berikatan dengan operator dan mecegah RNA polimerase untuk berikatan dengan
promoter.

Operon trp berperanan di dalam sintesis asam amino triptofan pada E.


coli.Operon trp, dikendalikan melalui dua macam mekanisme yaitu : (1)
penekanan (represi) oleh produk akhir ekspresi, dan (2) pelemahan (attenuation).
Operon ini dikenal secara negatif oleh suatu represor seperti pada operon
lac.Meskipun demikian, ada perbedaan fundamental antara kedua operon
tersebut.Operon lac adalah operon yang mengkode enzim-enzim katabolik, yaitu
enzim yang digunakan untuk merombak suatu senyawa, sedangkan operon trp
adalah operon yang mengkode enzim-enzim anabolik yang digunakan untuk
sintesis suatu senyawa. Operon untuk enzim katabolik cenderung akan diaktifkan
jika ada senyawa yang akan dirombak, misalnya laktosa. Sebaliknya, operon
untuk enzim anabolic pada umumnya akan dinonaktifkan jika tersedia senyawa
yang akan disintesis, misalnya triptofan, maka operon trp akan dinonaktifkan.
Selain dengan mekanisme pengendalian negatif semacam ini, operon trp juga
mempunyai mekanisme pengendalian lain, yaitu mekanisme pelemahan yang
tidak ada pada operon lac.

38
Pengendalian negatif operon trp dilakukan dengan cara menekan ekspresi
gen-gen dalam operon itu pada saat tersedia triptofan dalam jumlah banyak.
Operon trip terdiri atas 5 gen struktural, yaitu tripE, D, C, B dan A. Promotor dan
operator operon ini terletak pada daerah yang sama. Hal ini berbeda dengan
operator lac yang terletak tepat pada sisi sebelah hilir promotor lac. Pada daerah
hilir setelah promotor, tetapi sebelum daerah gen struktural, terdapat suatu urutan
nukleotida (trpL) yang mengkode suatu polipeptida awal berukuran pendek
(leader peptida) yang terdiri atas 14 asam amino dan tidak fungsional sebagai
protein.

Pada saat triptofan tidak tersedia, atau hanya tersedia dalam jumlah sangat
terbatas, gen trpR hanya menghasilkan aporepresor yang tidak mampu menempel
pada daerah operator sehingga RNA polimerase dapat dengan mudah melakukan
transkripsi gen-gen struktural trpE, D, C, B dan A setelah melewati daerah
attenuator. Sebaliknya, pada saat tersedia triptofan dalam jumlah banyak,
aporepresor yang dikode oleh trpR akan berikatan dengan molekul triptofan
(disebut sebagai ko-represor) sehingga terjadi perubahan struktural pada protein
aporepresor menjadi protein represor yang fungsional. Perubahan struktural
tersebut mengakibatkan represor dapat menempel pada daerah promotor operon
trp sehingga RNA polimerase tidak dapat melakukan transkripsi gen-gen
struktural.

Selain dengan mekanisme pengendalian negatif semacam trp, operon trp


juga dikendalikan melalui mekanisme pelemahan.Perlu dipahami bahwa sistem
represi operator trp sebenarnya tidak cukup kuat, jauh lebih lemah dibandingkan
represor operon lac, sehingga transkripsi gen-gen struktural trp masih dapat terjadi
meskipun ada protein represor. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme
pengendalian yang lain untuk meningkatkan efisiensi selular karena sintesis asam
amino triptofan memerlukan banyak energi.

5) Pengendalian operon ARA

Katabolisme L-arabinosa oleh E-coli melibatkan tiga enzim yang dikode


oleh tiga gen berurutan, yaitu araB, araA, dan araD. Aktivitas transkripsi ketiga

39
gen tersebut diatur oleh gen keempat yaitu araC. Lokus araC dan araBAD
ditranskripsi dengan arah yang berlawanan oleh suatu daerah promotor
sentral.Aktivitas ipromotor araC (Pc) maupun promotor araBAD (PBAD)
distimulasi oleh CAP-cAMP. Operon ara mempunyai dua operator yaitu
araO1 (mengendalikan araC) dan araO2(mengendalikan araBAD). Protein araC
(dikode oleh araC) mempunyai 3 daerah pengikatan yaitu pada araO2, araOl, dan
pada aral yang dapat dibedakan menjadi dua sub-bagian yaitu aral1 dan aral2.

Pada saat tidak tersedia arabinosa, sehingga tidak diperlukan enzim untuk
katabolisme, protein araC melakukan pengendalian negatif dengan cara menempel
pada araO2 dan aral1. Penempelan itu menyebabkan DNA membengkok sehingga
menekan transkripsi operon araBAD.Sebaliknya, jika arabinosa tersedia, terjadi
perubahan konfirmasi protein araC sehingga protein regulator tersebut tidak dapat
menempel pada araO2 melainkan melekat pada aral1 dan aral2. Hal ini
menyebabkan penghilangan struktur bengkokkan DNA yang sebelumnya
menekan operon ara BAD sehingga operon ini dapat ditranskripsi dan translasi
menghasilkan enzim-enzim yang digunakan untuk metabolisms arabinosa.

Protein araC sendiri juga dapat diatur aras sintetisnya dengan mekanisme
autoregulasi. Gen araC ditranskripsi kearah kiri dari promotornya (PC) sementara
disemailah kirinya (disemailah hulu dari araC) terdapat operator araO1. Pada saat
konsentrasi araC meningkat, protein ini akan menempel pada
araO1 sehingga akhirnya menghambat transkripsi araC kearah kiri (kearah hulu
dari lokus araC). Penghambatan transkripsi araC ini pada akhirnya akan
mengurangi jumlah protein represor sehingga tidak disintesisi dalam jumlah
berlebihan.

6) Pengendalian operon GAL

Operon gal pada E. coli terdiri atas tiga gen struktural, yaitu galE, galT,
dan galK yang ditranskripsi dari dua promotor yang saling tumpang tindih pada
sisi sebelah hulu dari galE. Operon ini selain bertanggung jawab dalam
metabolisme galaktosa sebagai sumber karbon, juga berperan dalam mengubah
UDP-glukosa menjadi UDP-galaktosa pada waktu tidak ada galaktosa. Meskipun

40
transkripsi kedua promotor gal dapat diinduksi oleh galaktosa, tetapi produk galE
dalam aras dasar selalu dibutuhkan pada saat tidak tersedia galaktosa. Operon gal
juga diatur oleh sistem represi katabolic. Pada saat konsentrasi cAMP tinggi,
kompleks CAP-cAMP akan menstimulasi transkripsi dari promotor pertama
sekaligus menekan promotor kedua sehingga terbentuk produk gen-gen struktural
operon gal. Sebaliknya, jika bakteri ditumbuhkan dalam medium yang
mengandung glukosa, sehingga konsentrasi cAMP rendah, maka transkripsi
dimulai dari promotor kedua yang terletak disemailah hulu promotor pertama.
Keadaan ini menyebabkan disintesisinya enzim-enzim gal pada aras dasar (basal
level). Kedua promotor gal tersebut dikendalikan secara negatif oleh produk gen
galR yang tidak terikat dengan operon gal.

C. Regulasi Kerja Gen pada Eukariota

Regulasi ekspresi gen berjalan pada berbagai tingkatan, mulai dari tingkat
gen sampai tingkat jaringan. Regulasi ini berjalan sehubungan dengan proses
diferensiasi sel, dalam rangka pembentukan berbagai jaringan dan organ, dan juga
berjalan karena ada kebutuhan tertentu, yang berhubungan dengan siklus biologi
(Jusuf, 2003).

 Regulasi pada Tingkat Struktur Kromosom

Proses diferensiasi sel berjalan bersamaan dengan proses pertumbuhan dan


perkembangan individu. Bersamaan dengan proses mitosis, saat membentuk
sel baru, terjadi proses pengkhususan sel anak dengan cara membedakan gen-
gen yang akan berekspresi pada kedua sel anak tersebut. Terjadi pemilihan
gen-gen yang secara permanen berekspresi dan yang secara permanen tidak
berekspresi. Jadi, diferensiasi sel merupakan hasil pemilihan gen-gen yang
diekspresikan atau tidak diekspresikan pada sel. Munculnya sel yang
terspesialisasi merupakan hasil dari pemilihan gen-gen yang harus berekspresi
dan gen-gen yang tidak diaktifkan. Regulasi ekspresi gen pada eukariot
berlangsung pada beberapa tingkat, mulai dari tingkat struktur kromosom

41
sampai pada tingkat pascatranslasi (Jusuf, 2003).
Kromosom eukariot tersusun atas dua komponen yaitu DNA dan protein
histon. DNA mengandung informasi untuk mengendalikan kehidupan, dan
histon berfungsi untuk melindungi DNA dari kerusakan mekanik, misalnya
putus saat bergerak pada waktu mitosis dan meiosis. Kromosom yang nampak
di bawah mikroskop cahaya pada saat mitosis atau meiosis merupakan hasil
penggulungan DNA pada histon. Penggulungan ini berlangsung melalui
beberapa tingkat. Kromosom yang berada dalam fase di luar mitosis atau
meiosis secara umum berada dalam keadaan tidak tergulung. Sedangkan
kromosom yang berada dalam keadaan tergulung gennya tidak berekspresi.
Gen-gen yang secara permanen tidak diekspresikan pada suatu jaringan,
kemungkinan besar DNAnya berada dalam keadaan tergulung.
Studi morfologi kromosom di bawah mikroskop cahaya memperlihatkan
adanya pita heterokromatin dan eukromatin. Heterokromatin merupakan
wilayah dengan DNA tergulung sangat kompak, sehingga bila diwarna akan
terlihat lebih pekat, sedangkan pada eukromatin gulungannnya lebih longgar
sehingga warnanya lebih terang. Pada wilayah heterokromatin, terdapat gen-
gen yang tidak aktif berekspresi, sedangkan gen-gen yang aktif berekspresi
terdapat pada wilayah eukromatin.

Kromosom dari jaringan yang berbeda dan dari tahapan perkembangannya


yang berbeda menunjukkan bahwa wilayah heterokromatin dapat berubah
menjadi eukromatin. Sebaliknya eukromatin juga dapat berubah menjadi
heterokromatin. Hal ini menunjukkan bahwa antar jaringan terdapat perbedaan
gen yang aktif berekspresi, dan juga menunjukkan bahwa diferensiasi sel
merupakan tahapan penentuan jenis gen yang secara permanen diekspresikan
atau tidak diekspresikan pada setiap jenis sel.

Pengaktifan gen dengan pembentukan heterokromatin dapat berlangsung


tidak hanya pada wilayah tertentu, tetapi juga dapat terjadi pada keseluruhan
kromosom. Sebagai contoh, penginaktifan satu kromosom-X yang terjadi pada
individu betina. Telah diketahui bahwa pada Lalat buah (Drosophila) jantan
memiliki satu kromosom-X yang terkondensasi tersebut dikenal sebagai Barr-

42
Body. Namun demikian, kromosom yang inaktif akibat terkondensasi masih
dapat terurai kembali dalam pembelahan sel (mitosis). Proses penginaktifan
berjalan pada awal perkembangan sel.

Pemilihan satu dari dua kromosom-X yang diinaktifkan berjalan secara


acak sehingga bila pada kromosom-X terdapat sel-sel dengan alel yang
berbeda-beda. Sebagai contoh, warna bulu kucing dikendalikan oleh sepasang
alel dominan resesif yang terpaut kromosom-X, adanya alel yang berbeda-
beda menghasilkan bulu kucing yang bercampur pada suatu jaringan antara
hitam dan cokelat (Jusuf, 2003).

 Regulasi Ekspresi pada Tingkat Transkripsi

Penggulungan dan pengudaran gulungan DNA pada kromosom


memberikan arahan penentuan gen-gen mana yang akan diekspresikan dan
gen mana yang tidak akan diekspresikan. Namun demikian masih ada sistem
berikutnya yang mengatur berjalannya proses ekspresi. Hanya sebagian kecil
gen-gen pada sel tipikal pada tanaman dan hewan yang diekspresikan yaitu
gen-gen yang diperlukan untuk fungsi yang telah terspesialisasi. Namun gen-
gen yang produknya secara rutin dimanfaatkan oleh semua sel, seperti
glikolisis, akan selalu dalam keadaan terekspresi setiap saat.
Pada eukariot tidak dikenal adanya operon seperti yang terdapat pada
prokariot, tiap gen mempunyai promotor dan terminator masing-masing. Pada
eukariot terdapat lebih banyak protein dan lebih banyak ruas DNA yang
terlibat dalam regulasi, protein-protein ini disebut faktor transkripsi. Lebih
lanjut pada eukariot protein-protein tersebut kelihatan lebih banyak yang
berperan sebagai aktivator ketimbang sebagai represor.
Aktivator pada aktivitasnya akan berinteraksi dengan ruas-ruas DNA yang
disebut ruas pemacu (enchancer). Berbeda dengan operator prokariot, ruas
pemacu mempunyai jarak yang cukup jauh dari promotor, mungkin berada di
sebelah hilir atau sebelah hulu dari gen. Aktivator mungkin juga berinteraksi
dengan protein yang lain, ramuan besar dari protein ini meningkatkan
ketepatan penempelan transkriptase pada promotor dan inisiasi transkripsi.

43
Beberapa ruas pemicu ikut terlibat dalam proses regulasi.
Faktor transkripsi lainnya yaitu represor berperan menghambat atau mencegah
terjadinya transkripsi. Proses kerjanya mirip dengan aktivator, yaitu
berinteraksi dengan ruas pengendali yang disebut silencer, dan mencegah
transkriptase melakukan inisiasi transkripsi.

Pada eukariot sering terdapat gen-gen penyandi enzim untuk lintasan


metabolisme yang sama terdapat secara tepencar pada berbagai kromosom.
Koordinasi ekspresi gen kelihatannya sangat bergantung pada asosiasi antara
ruas-ruas pemacu dengan gen-gen yang terpencar tersebut. Sejumlah faktor
translasi yang mengenali runtutan basa dari ruas tersebut akan menempel pada
ruas-ruas tersebut dan secara serempak menjalankan transkripsi dari gen-gen
tersebut (Jusuf, 2003).

 Regulasi Tingkat Pascatranskripsi

Struktur mRNA eukariot tidak sama dengan RNA prokariotik. Pada


hnRNA sebagai molekul hasil transkripsi terdapat ruang intron dan ekson.
Bagian intron akan dipotong dan hanya bagian eksonnya yang dipertahankan
untuk membentuk membentuk mRNA. Pemilihan ruas intron dan ekson dapat
merupakan salah satu cara regulasi. Dengan cara memilih ruas hnRNA mana
yang akan diambil (sebagai ekson) atau akan dibuang (sebagai intron), maka
dari satu ruas gen yang sama dapat disandikan dua jenis mRNA atau
polipeptida.

Sebagai contoh pada tikus, enzim amilase yang dihasilkan oleh kelenjar
ludah dengan yang dihasilkan pada hati. Pada lalat buah, perbedaan antara
lalat jantan dan betina ditentukan oleh gugus protein, yang satu khas pada
jantan dan yang lain pada betina. Kedua protein ini disandikan oleh gen yang
sama, yang berbeda hanya pada cara pemilihan intron dan eksonnya.

 Regulasi pada Tingkat Translasi

Setelah mRNA masuk ke dalam sitoplasma akan terjadi proses translasi


menghasilkan protein. Regulasi dapat terjadi pada tahapan ini, yang meliputi

44
berbagai cara termasuk pendegradasian mRNA, inisiasi translasi, pengaktifan
protein, dan degradasi protein.

Ada tiga metode utama yang sudah diketahui dari sel-sel eukariotik untuk
meregulasi pembuatan proteinnya pada tahap translasi :

 Dengan cara mengubah waktu paruh atau stabilitas mRNA.


 Dengan mengontrol inisiasi dan laju trnaslasi.
 Modifikasi protein setelah translasi.
 Regulasi pada tingkat mRNA

Panjang pendeknya umur mRNA akan menentukan kuantitas protein yang


disintesis, mRNA yang berumur panjang akan menghasilkan protein lebih
banyak daripada yang dihasilkan mRNA berumur pendek. Bakteri mempunyai
mRNA yang berumur sangat pendek, dalam beberapa menit akan didegradasi
oleh enzim. Oleh karena itu, bakteri sangat mudah mengubah proteinnya
sehubungan dengan penyesuaian diri dengan perubahan lingkungan. Berbeda
dengan bakteri, mRNA eukariot berumur panjang, beberapa jam bahkan
sampai beberapa minggu. Contoh mRNA yang berumur panjang adalah
mRNA yang terdapat pada sel darah merah vertebrata. Pada sel darah merah
avertebrata, mRNA berperan sebagai pabrik pembuat protein hemoglobin.
Pada sebagian besar spesies vertebrata, mRNA hemoglobin sangat stabil,
mungkin berumur sama dengan sel darah merah yang mengandungnya. Pada
burung, mRNA berumur sekitar satu bulan. Lebih panjang lagi pada reptil,
amphibi, dan ikan dimana mRNAnya dipakai berulang untuk translasi.

 Regulasi pada Inisiasi Translasi

Terdapat sejumlah protein yang berfungsi mengatur jalannya translasi.


Contohnya, sel darah merah mempunyai protein yang berfungsi sebagai
inhibitor terhadap inisiasi translasi mRNA hemoglobin. Protein inhibitor ini
akan menjadi tidak aktif bila ada senyawa heme. Senyawa heme yaitu
senyawa penyusun hemoglobin yang berfungsi untuk mengikat Fe. Bila ada

45
heme maka polipeptida penyusun hemoglobin dapat disintesis, dan kemudian
akan berasosiasikan dengan heme membentuk molekul hemoglobin.

 Regulasi Pasca Translasi

Sebelum menjadi protein aktif atau fungsional, polipeptida hasil


transkripsi akan mengalami suatu pemrosesan agar dapat membentuk struktur
fungsionalnya. Pemrosesan ini melibatkan pemotongan rantai polipeptida atau
penambahan asam amino baru atau senyawa lain seperti karbohidrat pada
rantai polipeptida. Sebagai contoh polipeptida yang akan ditranspor melewati
membran akan mengandung ruas signal transpor dibagian hulu rantainya.
Ruas signal transpor akan berperan membawa polipeptida melewati pori-pori
membran. Ruas signal ini akan dipotong setelah polipeptida melewati
membran. Insulin aktif mengandung dua rantai asam amino, namun kedua
rantai tersebut berasal dari satu polipeptida hasil transkripsi. Translasi
menghasilkan prapreinsulin yang mengandung ruas signal dan ruas preinsulin.
Insulin akan ditranspor melewati membran. Setelah melalui membran ruas
signal dipotong sehingga menyisakan ruas preinsulin. Selanjutnya preinsulin
dipotong kembali menghasilkan dua rantai insulin fungsional (Jusuf, 2003).
Modifikasi pascatranslasi, misalnya ubikuitinasi, dapat menyebabkan protein
terpoteolisis. Ubikuitin adalah suatu protein kecil yang jika melekat secara
kovalen ke protein target akan memberikan sinyal penghancuran bagi protein
target tersebut oleh sebuah kompleks protein yang dikenal sebagai proteosom.
Banyak gen yang terlibat dalam regulasi siklus sel dihancurkan dengan cepat
oleh mekanisme tersebut. Hal itu memungkinkan protein-protein yang baru
dihasilkan untuk meneruskan langkah berikutnya. Modifikasi semisal
fosforilasi adalah mekanisme yang meregulasi aktivitas protein yang dapat
mengarah pada regulasi pembuatan protein. Sebagai contoh, sejumlah protein
hanya aktif (dengan kata lain bisa melaksanakan kemampuan enzimatik
ataupun pengikatan DNA nya) jika terfosforilasi pada residu asam amino
tertentu. Fosforilasi dilangsungkan oleh enzim yang disebut kinase. Residu
fosfat dapat disingkirkan oleh enzim yang disebut defosforilase. Dalam sistem
kompleks, seringkali ada serangkaian kinase dan defosforilase yang

46
mengaktifkan serangkaian target protein, yang pada akhirnya mengarah pada
suatu faktor transkripsi. Faktor transkripsi lalu menjadi teraktivasi (akibat
fosforilasi dan defosforilasi) sehingga mengakibatkan regulasi transkripsi
suatu gen.

Sebuah mekanisme kontrol pascatranslasi lainnya melibatkan pemrosesan


protein. Eukariot mensintesis hanya mRNA monosistronik, tapi rantai-rantai
polipeptida tunggal yang dihasilkan bisa dipotong-potong menjadi dua atau
lebih komponen protein fungsional. Sebuah protein multikomponen semacam
itu diistilahkan poliprotein.

D. Regulasi Kerja Gen terhadap Pembelahan Sel

Siklus sel merupakan proses vital dalam kehidupan setiap organisme.


Secara normal, siklus sel menghasilkan pembelahan sel. Pembelahan sel terdiri
dari 2 proses utama, yaitu replikasi DNA dan pembelahan kromosom yang telah
digandakan ke 2 sel anak. Secara umum, pembelahan sel terbagi menjadi 2 tahap,
yaitu mitosis (M) (pembelahan 1 sel menjadi 2 sel) dan interfase (proses di antara
2 mitosis). Interfase terdiri dari fase gap 1 (G1), sintesis DNA (S), gap 2 (G2).
Setiap tahap dalam siklus sel dikontrol secara ketat oleh regulator siklus sel, yaitu:

a. Cyclin. Jenis cyclin utama dalam siklus sel adalah cyclin D, E, A, dan B.
Cyclin diekspresikan secara periodik sehingga konsentrasi cyclin berubah-
ubah pada setiap fase siklus sel. Berbeda dengan cyclin yang lain, cyclin D
tidak diekspresikan secara periodik akan tetapi selalu disintesis selama ada
stimulasi growth factor.

b. Cyclin-dependent kinases (Cdk). Cdk utama dalam siklus sel adalah Cdk
4, 6, 2, dan 1. Cdks merupakan treonin atau serin protein kinase yang
harus berikatan dengan cyclin untuk aktivasinya. Konsentrasi Cdks relatif
konstan selama siklus sel berlangsung. Cdks dalam keadaan bebas (tak
berikatan) adalah inaktif karena catalytic site, tempat ATP dan substrat
berikatan diblok oleh ujung C-terminal dari CKIs. Cyclin akan

47
menghilangkan pengebloka tersebut. Ketika diaktifkan, Cdk akan memacu
proses downstream dengan cara memfosforilasi protein spesifik.

c. Cyclin–dependent kinase inhibitor (CKI), merupakan protein yang dapat


menghambat aktivitas Cdk dengan cara mengikat Cdk atau kompleks
cyclinCdk. Cyclin–dependent kinase inhibitor terdiri dari dua kelompok
protein yaitu INK4 (p15, p16, p18, dan p19) dan CIP/KIP (p21, p27, p57).
Keluarga INK4 membentuk kompleks yang stabil dengan Cdk sehingga
mencegah Cdk mengikat cyclin D. INK4 bertugas mencegah progresi fase
G1. Keluarga CIP/KIP meregulasi fase G1 dan S dengan menghambat
kompleks G1 cyclinCdk dan cyclin B-Cdk1. Protein p21 juga menghambat
sintesis DNA dengan menonaktifkan proliferating cell nuclear antigen
(PCNA). Ekspresi p21 diregulasi oleh p53 karena p53 merupakan faktor
transkripsi untuk ekspresi p21 (Vermeulen et al., 2003).

Rb pathway

Siklus sel dimulai dari masuknya sel dari fase G0 (quiescent) ke fase G1 karena
adanya stimulus oleh growth factor (Gambar 1). Pada awal fase G1, Cdk 4 dan
atau 6 diaktifkan oleh cyclin D (cycD). Kompleks Cdk4/6 dengan cycD akan
menginisiasi fosforilasi dari keluarga protein retinoblastoma (pRb) selama awal
G1. Efek dari fosforilasi ini, fungsi

histon deasetilasi (HDAC) yang seharusnya menjaga kekompakan struktur


kromatin menjadi terganggu. Akibatnya struktur DNA menjadi longgar dan faktor
transkripsi yang semula diikat pRb menjadi lepas dan transkripsi dari E2F
responsive genes yang dibutuhkan dalam progresi siklus sel ke fase S menjadi
aktif.
Gen tersebut antara lain cycE, cycA, Cdc25, DNA polimerase, timidilat kinase,
timidilat sintetase, DHFR, dll (Satyanarayana and Kaldis, 2009; Vermeulen et al.,
2003).

48
Gambar 1. Siklus sel (Sherr, 1996)

Pada transisi fase G1 ke fase S, Cdk2 aktif dengan mengikat cycE.


Kompleks tersebut melanjutkan proses fosforilasi pRb (status hiperfosforilasi)
supaya proses transkripsi yang dipacu E2F tetap aktif dan Restriction point (R)
yang ada di batas fase G1/S dapat terlampaui. Pada saat inilah cycA ditranskripsi
(Satyanarayana and Kaldis, 2009). Selama G1/S, kompleks Cdk2-cycE juga
memfosforilasi inhibitor p27 sehingga p27 terdegradasi (Vermeulen et al., 2003).
Ketika siklus sel akan memasuki fase S, cycE akan didegradasi dan Cdk2 yang
dibebaskan akan mengikat cycA (Cooper and Hausman, 2004) (Gambar 2).

Kompleks Cdk2-cycA dibutuhkan sel untuk mereplikasi DNA selama fase


S. Kompleks Cdk2-cycA akan memfosforilasi protein yang dibutuhkan dalam
replikasi DNA supaya aktif, contohnya adalah protein CDC6 (Cell Division Cycle
6). Kompleks tersebut juga menjaga supaya tidak terjadi multiplicity replikasi
DNA. Pada akhir fase S, cycA akan melepas Cdk2 dan mengikat Cdk1 (Cdc2)
yang meregulasi transisi sel dari S ke G2 (Dhulipala et al., 2006). Kompleks
cycA-Cdk1 akan memfasilitasi kondensasi kromatin yang dibutuhkan untuk

49
penggandaan sel (Lapenna and Giordano, 2009). Pada fase G2, sel juga memiliki
kesempatan melakukan mekanisme repair apabila terjadi kesalahan sintesis DNA
(Baumforth and Crocker, 2003).

Gambar 2. Ilustrasi umum siklus sel. Siklus sel terdiri dari 4 tahap, yaitu G1,
S, G2, dan M. Progresi siklus sel dikontrol oleh cyclin (D, E, A, dan
B), cyclindependent kinases (4, 6, 2, dan 1), dan cyclin–dependent
kinase inhibitor (contohnya Cip dan Kip) (Lapenna and Giordano,
2009).

Memasuki fase mitosis, cycA akan didegradasi dan terjadi peningkatan


ekspresi cycB yang akan mengikat Cdk1. Kompleks Cdk1-cycB secara aktif
memacu mitosis. Kompleks cycB-Cdk1 berperan penting dalam control
rearrangement mikrotubul selama mitosis (Dhulipala et al., 2006; Lapenna and
Giordano, 2009).

50
Cdk1 dapat dinonaktifkan oleh Wee1 dan Myt1 dengan cara Wee1 dan
Myt1 akan memfosforilasi Cdk1 pada tirosin-15 dan atau threonin-14.
Defosforilasi pada situs tersebut dapat dilakukan oleh Cdc25 sehingga Cdk 1
menjadi aktif kembali dan siklus sel tetap berlangsung (Vermeulen et al., 2003).
Pada akhir fase mitosis, cycB akan didegradasi oleh anaphase promoting complex
(APC) melalui proses proteolitik. APC juga berfungsi untuk memacu kromatid
untuk berpisah bergerak ke masing-masing kutub untuk menyelesaikan mitosis
(anafase) (Lapenna and Giordano, 2009).

Checkpoint pada siklus sel

Untuk menjamin bahwa DNA berduplikasi dengan akurat dan separasi


dari kromosom terjadi dengan benar, maka siklus sel melakukan mekanisme
checkpoint. Checkpoint bertugas mendeteksi kerusakan DNA. Apabila terdapat
kerusakan DNA, checkpoint akan memacu cell cycle arrest sementara untuk
perbaikan DNA atau cell cycle arrest permanen sehingga sel memasuki fase
senescent. Bila mekanisme cell cycle arrest tidak cukup menjamin DNA yang
rusak diduplikasi, maka sel akan dieliminasi dengan cara apoptosis (Siu et al.,
1999).

Faktor checkpoint pertama pada sel mamalia dikenal dengan restriction


point (R) dan muncul menjelang akhir G1 (Cooper and Hausman, 2004). Pada
checkpoint ini, DNA sel induk diperiksa apakah terdapat kerusakan atau tidak.
Bila terdapat DNA yang rusak, siklus sel dihentikan hingga mekanisme repair
DNA rusak telah selesai. Setelah melampaui R, sel menjadi commited
(komitment) untuk menyelesaikan keseluruhan satu siklus (no return point) dan
selanjutnya sel harus mampu melakukan replikasi DNA. Bila tidak melampaui R,
sel dapat kembali ke fase G0. Hilangnya kontrol dari R akan menghasilkan
survival DNA yang rusak.

p53 pathway

Pada checkpoint G1/S, kerusakan DNA dapat memacu cell cycle arrest
dan proses ini adalah p53-dependent. Secara umum, level p53 sel rendah karena

51
diregulasi negatif oleh mdm2 yang mentarget degradasi p53, namun kerusakan
DNA dapat menginduksi aktivitas p53 dengan cepat.

p53 dikontrol oleh mdm2 dan p19ARF. Level protein p53 secara normal
adalah pada konsentrasi rendah di dalam sel. Namun, sekali distimulasi, level
protein secara cepat akan meningkat sepanjang waktu paruhnya, sedangkan level
mRNA relatif tidak berubah. Lalu, apa yang bisa disimpulkan dari fenomena ini?
Bahwa regulasi p53 terjadi pada level protein (bukan DNA atau RNA) adalah hal
yang sangat kritikal pada aktivasinya. Regulator negatif p53 yaitu mdm2 yang
merupakan suatu p53-responsive gene (gen yang terekspresi melalui faktor
transkripsi p53).

Sehingga dapat dibayangkan di sini ada loop umpan balik negatif di sini.
p53 teraktifkan dan kemudian meningkatkan level mdm2. Mdm2 kemudian
menginaktifkan p53 dengan cara mengikat kompleks atau mendegradasi p53. Jika
sel ingin menaikkan level protein p53 maka sel perlu menghambat mdm2.

Bagaimana sel menghambat mdm2? Itu tergantung pada rangsangan misal


adalah agen perusak DNA (radiasi, UV, obat kemoterapi). DNA damage agent
akan menginduksi aktivasi kinase (seperti ATM dan DNA-PK) yang dapat
memfosforilasi critical residu serin dalam domain Mdm2-binding domain dari
p53.

Gambar 3. Skematik dari domain p53 termasuk situs modifikasi post translasi

52
(fosforilasi dan asetilasi) yang terlibat dalam stabilisasi, aktivasi, atau penekanan

(Giaccia, and Kastan, 1998)

Fosforilasi p53 pada serin-15 dan serin-37 oleh ATM atau protein kinase
lain setelah terjadi kerusakan DNA dapat mencegah ikatan MDM2 dengan p53.
Jadi, ketika p53 terfosforilasi sini (Gambar 3), dia tidak bisa lagi mengikat mdm2.
Kemudian, inilah yang mampu menghilangkan penghambatan p53 dimediasi
mdm2. Mengapa DNA damage agent mengaktifkan p53? Karena jika DNA Anda
rusak, Anda tidak ingin untuk memperbanyak, bukan? Jika Anda melakukannya,
Anda bisa menghasilkan selsel dengan mutasi yang merusak, yang kemudian
dapat mengakibatkan kanker. Jadi, p53 mengenali ketika sel telah mengalami
kerusakan DNA dan menghentikan siklus sel (cell cycle arrest) sehingga sel dapat
memperbaiki kerusakan (repair), atau dalam banyak kasus, hanya memberitahu
sel untuk bunuh diri (apoptosis), yaitu dengan cara menstimulasi transkripsi gen
seperti p21 dan Bax sehingga siklus sel berhenti atau terjadi apoptosis (Siu et al.,
1999).

53
Gambar 4. Onkogen dan DNA damage agent mengaktifkan p53 melalui
mekanisme yang berbeda. p19ARF bertindak sebagai perantara dalam aktivasi
p53 oleh onkogen mitogenik seperti E1A, Ras, c-myc. Sebaliknya, aktivasi p53
karena DNA damage agent melibatkan de novo fosforilasi serin 15 pada domain
p53 (dan residu lainnya) oleh kinase seperti protein kinase DNA-dependent
(DNA-PK) atau produk dari gen ataksia-telangiectasia (ATM). Activation of p53
by oncogenes does not involve phosphorylation on serine-15, and both serine-15
phosphorylation (not shown) and p53 activation following DNA damage are
unimpaired in the absence of ARF. Oleh karena itu, dua jalur sinyal upstream ke
p53 secara fundamental berbeda (de Stanchina et al, 1998).

Mekanisme lain untuk menghambat mdm2 adalah dengan onkogen, suatu


protein mutan konstitutif aktif yang terus-menerus memberitahu sel untuk tumbuh
(E1A, Ras, c-Myc). Mengapa onkogen mengaktifkan p53? Sekali lagi, Anda tidak
ingin sel untuk tumbuh tak terkendali, bukan? Jadi, p53 mengenali ketika hal ini
terjadi dan menghentikan siklus sel. Namun, onkogen tidak mengarah pada
pengaktifan ATM atau DNA-PK, pada kenyataannya, onkogen bahkan tidak
mengarah pada fosforilasi p53 pada domain MDM2-binding. Jadi, bagaimana
onkogen menghambat mdm2? Dengan cara menginduksi ekspresi protein supresor
tumor disebut p19ARF (Gambar 5).

54
Gambar 5. Regulasi p53 dilakukan oleh mdm2 dan p19ARF (alternate reading
frame dari lokus INK4a/ARF (CDKN2A))

Oleh karena itulah, mudah di pahami bahwa p53 adalah gen yang paling
sering termutasi pada kanker. Dan dari sini, Anda bisa mengetahui pentingnya gen
ini. Pada sel normal, p53 penting pada kontrol checkpoint utama. Dia besa
mengenali ketika ada kesalahan terjadi, sebagai contoh kerusakan DNA atau sel
terstimulasi oleh onkogen, dan segera mengentikan siklus sel untuk mencegah sel
menjadi kanker. Jadi, jika sel kehilangan p53, sel akan kehilangan fungsi
checkpoint pentingnya. Tidak hanya mutasi p53 termutasi saja yang ditemukan
pada sel kanker, tetapi juga overekspresi mdm2 (yang menghambat p53), juga
hilangnya p19ARF. Masih ingat pada jalur Rb, bahwa p16INK4a juga sering pada
kanker. Ya, ternyata p16INK4a dan p19ARF (alternate reading frame dari lokus
INK4a/ARF) adalah berada pada lokus yang sama, dan pada kanker lokus ini
mengalami delesi, sehingga p16INK4a dan p19ARF hilang.

Checkpoint selanjutnya terdapat pada fase S yang berfungsi mendeteksi


kerusakan DNA yang direplikasi. Checkpoint pada G2 mencegah inisiasi mitosis

55
sebelum sebelum replikasi DNA selesai. Checkpoint utama dalam fase S/G2/M
adalah Chk1. Ketika terdapat kerusakan DNA, protein kinase ATR akan
memfosforilasi Chk1, kemudian Chk1 memfosforilasi Cdc25C pada serin-216.
Fosforilasi tersebut menyebabkan kompleks cycB-Cdk1 yang bertanggung jawab
pada progresi fase G2/M tidak akif. Selain itu, Chk1 juga memfosforilasi Cdc25A
yang bertugas mengaktifkan kompleks cycE-Cdk2 dan cycA-Cdk2 yang berperan
pada progresi fase S. Dengan difosforilasinya Cdc25A oleh Chk1, kompleks cyc-
Cdk menjadi tidak aktif dan terjadi S arrest (Xiao et al., 2003; Beckerman et al.,
2009).

Checkpoint yang terakhir, disebut spindle checkpoint, bertugas menjaga


integritas genom menjelang akhir mitosis. Jika terjadi kegagalan pada penempatan
pasangan kromosom pada spindle, akan terjadi mitosis arrest. Pada sel kanker,
checkpoint tidak berfungsi dengan baik dan siklus sel berlangsung tanpa kendali
(Cooper and Hausman, 2004).

E. Ekspresi Kelamin

Sistem Penentuan Jenis Kelamin

Manusia dan mamalia, dalam hal ini kucing, individu pria / jantan adalah
heterogametik (XY) sementara wanita / betina adalah homogametik (XX).
Sebaliknya, pada ayam individu jantan justru homogametik (ZZ) sementara
individu betinanya heterogametik (ZW). Penentuan jenis kelamin pada manusia /
mamalia dikatakan mengikuti sistem XY, sedang pada ayam, dan unggas lainnya
serta ikan tertentu, mengikuti sistem ZW.

Selain kedua sistem tersebut, masih banyak sistem penentuan jenis


kelamin lainnya. Berikut ini akan dijelaskan beberapa di antaranya:

56
a) Sistem XY

Sistem ini ditemukan pada tumbuhan, hewan dan manusia.


~ Genosom X berukuran lebih besar dibandingkan genosom Y. XX merupakan
betina, XY merupakan jantan.

Sistem XY Pada Manusia

Kromosom manusia dibedakan atas autosom dan kromosom kelamin. Sel


tubuh manusia mengandung 46 kromosom yang terdiri dari 44 (22 pasang
autosom) dan (2 atau 1 pasang kromosom kelamin). Pada wanita kromosom
kelamin berupa 2 buah kromosom –X bersifat homogametik, sedang pada pria
berupa sebuah kromosom –X dan kromosom –Y bersifat heterogametik.

Perbandingan seks pada Manusia

Kemungkinan lahir anak perempuan atau laki-laki secara teoritis


mengikuti perbandingan seks 1 perempuan : 1 laki-laki, tetapi terkadang tampak
bahawa salah satui seks kerap kali melebihi jumlahnya dibanding dengan seks
yang lain. Beberapa motivasi yang menerangkan kejanggalan tersebut ;

1. Migrasi

57
Dengan adanya perpindahan penduduk, maka suatu daerah dapat
memiliki kelebihan salah satu seks.

Sistem XY pada Drosophila

Drosophila banyak digunakan untuk penelitian Genetika, karena :

 Mudah dipelihara pada media makanan yang sederhana, pada suhu


kamar dan didalam botol susu ukuran sedang.
 Mempunyai siklus hidup pendek, kira-kira 2 minggu.
 Mempunyai tanda-tanda kelamin sekunder yang mudah dibedakan.
 Mempunyai 8 kromosom saja, sehingga mudah menghitungnya.

b) Sistem XO

Sistem XO dijumpai pada beberapa jenis serangga, misalnya belalang. Di


dalam sel somatisnya, individu betina memiliki dua buah kromosom X
sementara individu jantan hanya mempunyai sebuah kromosom X. Jadi,
hal ini mirip dengan sistem XY. Bedanya, pada sistem XO individu jantan
tidak mempunyai kromosom Y. Dengan demikian, jumlah kromosom sel
somatis individu betina lebih banyak daripada jumlah pada individu jantan.

58
Sebagai contoh, E.B. Wilson menemukan bahwa sel somatis serangga
Protenor betina mempunyai 14 kromosom, sedang pada individu
jantannya hanya ada 13 kromosom.

Sistem nisbah X/A

C.B. Bridge melakukan serangkaian penelitian mengenai jenis kelamin


pada lalat Drosophila. Dia berhasil menyimpulkan bahwa sistem
penentuan jenis kelamin pada organisme tersebut berkaitan dengan nisbah
banyaknya kromosom X terhadap banyaknya autosom, dan tidak ada
hubungannya dengan kromosom Y. Dalam hal ini kromosom Y hanya
berperan mengatur fertilitas jantan. Secara ringkas penentuan jenis
kelamin dengan sistem X/A pada lalat Drosophila dapat dilihat pada Tabel
6.1.

Tabel Penentuan jenis kelamin pada lalat Drosophila

Σ Σ nibah X/A jenis kelamin


kromosom autosom
X

1 2 0,5 Jantan

2 2 1 Betina

3 2 1,5 Metabetina

4 3 1,33 Metabetina

4 4 1 betina 4n

59
3 3 1 betina 3n

3 4 0,75 Interseks

2 3 0,67 Interseks

2 4 0,5 Jantan

1 3 0,33 Metajantan

Jika kita perhatikan kolom pertama pada Tabel, akan terlihat bahwa ada
beberapa individu yang jumlah kromosom X-nya lebih dari dua buah,
yakni individu dengan jenis kelamin metabetina, betina triploid dan
tetraploid, serta interseks. Adanya kromosom X yang didapatkan melebihi
jumlah kromosom X pada individu normal (diploid) ini disebabkan oleh
terjadinya peristiwa yang dinamakan gagal pisah (non disjunction), yaitu
gagal berpisahnya kedua kromosom X pada waktu pembelahan meiosis.

60
Pada Drosophila terjadinya gagal pisah dapat menyebabkan terbentuknya
beberapa individu abnormal seperti nampak pada diagram.

P: E AAXX x AAXY G

gagal pisah

gamet : AXX AO AX AY

F1 : AAXXX AAXXY AAXO AAOY

betina super betina jantan steril letal

Diagram munculnya beberapa individu abnormal pada

Drosophila akibat peristiwa gagal pisah

Di samping kelainan-kelainan tersebut pernah pula dilaporkan adanya lalat


Drosophila yang sebagian tubuhnya memperlihatkan sifat-sifat sebagai
jenis kelamin jantan sementara sebagian lainnya betina. Lalat ini dikatakan
mengalami mozaik seksual atau biasa disebut dengan istilah
ginandromorfi. Penyebabnya adalah ketidakteraturan distribusi
kromosom X pada masa-masa awal pembelahan mitosis zigot. Dalam hal
ini ada sel yang menerima dua kromosom X tetapi ada pula yang hanya
menerima satu kromosom X.

61
Andaikan terjadi nondisjunction selama oogenese (pebentukan sel
telur) akan terbentuk 2 macam sel telur, yaitu sel telur yang membawa 2
kromosom X (3AXX) dan sebuah kromosom sel telur tanpa X (3AO). Jika
dalam keadaan ini terjadi pembuahan, sudah tentu keturunan akan
menyimpang dari keadaan normal, yaitu sebagai berikut :

a) Sel telur yang memiliki 2 kromosom X apabila dibuahi oleh


spermatozoon yang membawa kromosom X akan menghasilkan
lalat betina super (3AAXXX) yang memiliki 3 kromosom X. Lalat
ini tidak lama hidupnya, karena mengalami kelainan dan
kemunduran pada beberapa alat tubuhnya.

b) Sel telur yang memiliki 2 kromosom X apabila dibuahi oleh


spermatozoon yang membawa kromosom Y akan menghasilkan
lalat betina yang memliki kromosom Y (3AAXXY). Lalat ini
fertile atau subur seperti lalat betina biasa.

Gambar perkawinan pada lalat Drosophila melanogaster yang


menunjukan adanya nondisjunction selama Oogenesis. Ada

62
kemungkinan dihsilkan lalat betina super 3AAXXX, Lalat betina
3AAXXY, lalat jantan 3AAXO. Lalat YO tidak pernah dikenal
karena letal.

c) Sel telur yang tidak memiliki kromosom X apabila dibuahi oleh


spermatozoon yang membawa kromosom X akan menghasilkan
lalat jantan (3AAXO). Lalat ini steril.

d) Sel telur tidak memiliki kromosom X apabila dibuahi oleh


spermatozoon yang membawa kromosom Y tidak menghasilkan
keturunan, sebab letal. Jadi lalat (3AAYO) tidak dikenal.

Partenogenesis

Pada beberapa spesies Hymenoptera seperti semut, lebah, dan tawon,


individu jantan berkembang dengan cara partenogenesis, yaitu melalui
telur yang tidak dibuahi. Oleh karena itu, individu jantan ini hanya
memiliki sebuah genom atau perangkat kromosomnya haploid.

Sementara itu, individu betina dan golongan pekerja, khususnya pada


lebah, berkembang dari telur yang dibuahi sehingga perangkat
kromosomnya adalah diploid. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa

63
partenogenesis merupakan sistem penentuan jenis kelamin yang tidak ada
sangkut pautnya sama sekali dengan kromosom kelamin tetapi hanya
bergantung kepada jumlah genom (perangkat kromosom).

c). Sistem gen Sk-Ts

Di atas disebutkan bahwa sistem penentuan jenis kelamin pada


lebah tidak berhubungan dengan kromosom kelamin. Meskipun demikian,
sistem tersebut masih ada kaitannya dengan jumlah perangkat kromosom.

Pada jagung dikenal sistem penentuan jenis kelamin yang tidak


bergantung, baik kepada kromosom kelamin maupun jumlah genom, tetapi
didasarkan atas keberadaan gen tertentu. Jagung normal monosius
(berumah satu) mempunyai gen Sk, yang mengatur pembentukan bunga
betina, dan gen Ts, yang mengatur pembentukan bunga jantan. Jagung
monosius ini mempunyai fenotipe Sk_Ts_.

Sementara itu, alel-alel resesif sk dan ts masing-masing


menghalangi pembentukan bunga betina dan mensterilkan bunga jantan.
Oleh karena itu, jagung dengan fenotipe Sk_tsts adalah betina diosius
(berumah dua), sedang jagung skskTs_ adalah jantan diosius. Jagung
sksktsts berjenis kelamin betina karena ts dapat mengatasi pengaruh sk,
atau dengan perkataan lain, bunga betina tetap terbentuk seakan-akan tidak
ada alel sk.

d). System ZW

Pada beberapa jenis kupu, beberapa jenis ikan, beberapa jenis reptil
dan burung diketemukan bentuk kromosom kelamin yang berlainan
daripada yang telah diterangkan di muka. Yang jantan memiliki sepasang
kromosom kelamin yang sama bentuknya, maka dikatakan bersifat
homogametik. Yang betina bersifat heterogametik, karena satu kromosom
kelamin berbentuk seperti pada yang jantan, sedangkan satunya lagi sangat

64
lain bentuknya. Jadi keadaan ini kebalikan dengan manusia, sebab pada
manusia, yang laki-laki adalah heterogametik (XY) sedangkan yang
perempuan homogametik (XX). Untuk menghindari kekeliruan, maka
kromosom kelamin pada hewan-hewan tersebut di atas disebut ZZ dan
ZW. Hewan jantan adalah ZZ, sedang yang betina ZW. Jadi, semua
spermatozoa mengandung kromosom kelamin Z, sedangkan sel telurnya
ada kemungkinan mengandung kromosom dan kelamin Z dan ada
kemungkinan mengandung kromosom kelamin W.

e). System ZO

Pada unggas (ayam, itik dan sebagainya) susunan kromosomnya


lain lagi. Yang betina hanya memiliki sebuah kromosom kelamin saja,
tetapai bentuknya lain dengan yang dijumpai pada belalang. Karena itu
ayam betina adalah ZO (heterogametik). Ayam jantan memiliki sepasang
kromosom kelamin yang sama bentuknya, maka menjadi ZZ
(homogametik). Jadi spermatozoa ayam hanya satu macam saja, yaitu
membawa kromosom kelamin Z, sedang sel telurnya ada dua macam,
mungkin membawa kromosom Z dan mungkin juga tidak memiliki
kromosom kelamin sama sekali.

f). System Haploid-Diploid

Pada beberapa spesies Hymenoptera seperti semut, lebah, dan


tawon, individu jantan berkembang dengan cara partenogenesis, yaitu
terbentuknya makhluk dari sel telur tanpa didahului oleh pembuahan. Oleh

65
karena itu, individu jantan ini hanya memiliki sebuah genom atau
perangkat kromosomnya haploid.

Lebah madu jantan misalnya, bersifat haploid, yang memiliki 6


buah kromosom. Sel telur yang yang dibuahi oleh spermatozoon akan
menghasilkan lebah madu betina yang berupa lebah ratu dan pekerja,
masing-masing bersifat diploid dan memiliki 32 kromosom. Karena
perbedaan tempat dan makanan, maka lebah ratu subur (fertil), sedangkan
lebah pekerja mandul (steril).

Sementara itu, individu betina dan golongan pekerja, khususnya


pada lebah, berkembang dari telur yang dibuahi sehingga perangkat
kromosomnya adalah diploid. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
partenogenesis merupakan sistem penentuan jenis kelamin yang tidak ada
sangkut pautnya sama sekali dengan kromosom kelamin tetapi hanya
bergantung kepada jumlah genom (perangkat kromosom).

Pengaruh lingkungan

Sistem penentuan jenis kelamin bahkan ada pula yang bersifat


nongenetik. Hal ini misalnya dijumpai pada cacing laut Bonellia, yang jenis
kelaminnya semata-mata ditentukan oleh faktor lingkungan.. F. Baltzer
menemukan bahwa cacing Bonellia yang berasal dari sebuah telur yang
diisolasi akan berkembang menjadi individu betina. Sebaliknya, cacing yang
hidup di lingkungan betina dewasa akan mendekati dan memasuki saluran
reproduksi cacing betina dewasa tersebut untuk kemudian berkembang
menjadi individu jantan yang parasitik.

1. Kromatin Kelamin dan Hipotesis Lyon

Seorang ahli genetika dari Kanada, M.L. Barr, pada tahun 1949
menemukan adanya struktur tertentu yang dapat memperlihatkan reaksi
pewarnaan di dalam nukleus sel syaraf kucing betina. Struktur semacam ini
ternyata tidak dijumpai pada sel-sel kucing jantan. Pada manusia dilaporkan pula

66
bahwa sel-sel somatis pria, misalnya sel epitel selaput lendir mulut, dapat
dibedakan dengan sel somatis wanita atas dasar ada tidaknya struktur tertentu
yang kemudian dikenal dengan nama kromatin kelamin atau badan Barr.

Pada sel somatis wanita terdapat sebuah kromatin kelamin sementara sel
somatis pria tidak memilikinya. Selanjutnya diketahui bahwa banyaknya kromatin
kelamin ternyata sama dengan banyaknya kromosom X dikurangi satu. Jadi,
wanita normal mempunyai sebuah kromatin kelamin karena kromosom X-nya ada
dua. Demikian pula, pria normal tidak mempunyai kromatin kelamin karena
kromosom X-nya hanya satu.

Dewasa ini keberadaan kromatin kelamin sering kali digunakan untuk


menentukan jenis kelamin serta mendiagnosis berbagai kelainan kromosom
kelamin pada janin melalui pengambilan cairan amnion embrio (amniosentesis).
Pria dengan kelainan kromosom kelamin, misalnya penderita sindrom Klinefelter
(XXY), mempunyai sebuah kromatin kelamin yang seharusnya tidak dimiliki oleh
seorang pria normal. Sebaliknya, wanita penderita sindrom Turner (XO) tidak
mempunyai kromatin kelamin yang seharusnya ada pada wanita normal.

Mary F. Lyon, seorang ahli genetika dari Inggris mengajukan hipotesis


bahwa kromatin kelamin merupakan kromosom X yang mengalami kondensasi
atau heterokromatinisasi sehingga secara genetik menjadi inaktif. Hipotesis ini
dilandasi hasil pengamatannya atas ekspresi gen rangkai X yang mengatur warna
bulu pada mencit. Individu betina heterozigot memperlihatkan fenotipe mozaik
yang jelas berbeda dengan ekspresi gen semidominan (warna antara yang
seragam). Hal ini menunjukkan bahwa hanya ada satu kromosom X yang aktif di
antara kedua kromosom X pada individu betina. Kromosom X yang aktif pada
suatu sel mungkin membawa gen dominan sementara pada sel yang lain mungkin
justru membawa gen resesif.

Hipotesis Lyon juga menjelaskan adanya mekanisme kompensasi dosis


pada mamalia. Mekanisme kompensasi dosis diusulkan karena adanya fenomena
bahwa suatu gen rangkai X akan mempunyai dosis efektif yang sama pada kedua

67
jenis kelamin. Dengan perkataan lain, gen rangkai X pada individu homozigot
akan diekspesikan sama kuat dengan gen rangkai X pada individu hemizigot.

2. Hormon dan Diferensiasi Kelamin

Dari penjelasan mengenai berbagai sistem penentuan jenis kelamin


organisme diketahui bahwa faktor genetis memegang peranan utama dalam
ekspresi sifat kelamin primer. Selanjutnya, sistem hormon akan mengatur kondisi
fisiologi dalam tubuh individu sehingga mempengaruhi perkembangan sifat
kelamin sekunder.

Pada hewan tingkat tinggi dan manusia hormon kelamin disintesis oleh
ovarium, testes, dan kelenjar adrenalin. Ovarium dan testes masing-masing
mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai penghasil sel kelamin (gamet) dan
sebagai penghasil hormon kelamin. Sementara itu, kelenjar adrenalin
menghasilkan steroid yang secara kimia berhubungan erat dengan gonad.

Gen terpengaruh kelamin

Gen terpengaruh kelamin (sex influenced genes) ialah gen yang


memperlihatkan perbedaan ekspresi antara individu jantan dan betina akibat
pengaruh hormon kelamin. Sebagai contoh, gen autosomal H yang mengatur
pembentukan tanduk pada domba akan bersifat dominan pada individu jantan
tetapi resesif pada individu betina. Sebaliknya, alelnya h, bersifat dominan pada
domba betina tetapi resesif pada domba jantan. Oleh karena itu, untuk dapat
bertanduk domba betina harus mempunyai dua gen H (homozigot) sementara
domba jantan cukup dengan satu gen H (heterozigot).

Tabel 6.2. Ekspresi gen terpengaruh kelamin pada domba

Genotipe Domba jantan Domba betina

HH Bertanduk Bertanduk

68
Hh Bertanduk tidak bertanduk

Hh tidak bertanduk tidak bertanduk

Contoh lain gen terpengaruh kelamin adalah gen autosomal B yang


mengatur kebotakan pada manusia. Gen B dominan pada pria tetapi resesif pada
wanita. Sebaliknya, gen b dominan pada wanita tetapi resesif pada pria.
Akibatnya, pria heterozigot akan mengalami kebotakan, sedang wanita
heterozigot akan normal. Untuk dapat mengalami kebotakan seorang wanita harus
mempunyai gen B dalam keadaan homozigot.

Gen terbatasi kelamin

Selain mempengaruhi perbedaan ekspresi gen di antara jenis kelamin,


hormon kelamin juga dapat membatasi ekspresi gen pada salah satu jenis kelamin.
Gen yang hanya dapat diekspresikan pada salah satu jenis kelamin dinamakan gen
terbatasi kelamin (sex limited genes). Contoh gen semacam ini adalah gen yang
mengatur produksi susu pada sapi perah, yang dengan sendirinya hanya dapat
diekspresikan pada individu betina. Namun, individu jantan dengan genotipe
tertentu sebenarnya juga mempunyai potensi untuk menghasilkan keturunan
dengan produksi susu yang tinggi sehingga keberadaannya sangat diperlukan
dalam upaya pemuliaan ternak tersebut.

69
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Selain mengalami berbagai modifikasi nisbah fenotipe karena adanya


peristiwa aksi gen tertentu, terdapat pula penyimpangan semu terhadap hukum
Mendel yang tidak melibatkan modifikasi nisbah fenotipe, tetapi menimbulkan
fenotipe-fenotipe yang merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen
nonalelik. Jadi Apabila ada 2 (dua) pasang gen bekerjasama sehingga membentuk
suatu fenotipe baru maka keadaan ini disebut dengan Interaksi Gen. Peristiwa
interaksi gen pertama kali dilaporkan oleh W. Bateson dan R.C. Punnet setelah
mereka mengamati pola pewarisan bentuk jengger (comb) ayam. Peristiwa ini
disebut dengan Interaksi beberapa pasangan alela.

Regulasi adalah pengaturan atau pengendalian. Ekspresi genetik adalah


suatu rangkaian proses kompleks yang melibatkan banyak faktor. Salah satu ciri
penting pada sistem jasad hidup adalah keteraturan sistem. Oleh karena itu dalam
ekspresi genetik proses pengendalian (regulasi) sistem menjadi bagian mendasar
dan penting. Pengaturan /pengendalian (regulasi) ekspresi genetik merupakan
aspek yg sangat penting bagi jasad hidup, baik pada prokariot maupun eukariot.
Tanpa sistem pengaturan yg efisien, sel akan kehilangan banyak energi.

Pada eukariot sering terdapat gen-gen penyandi enzim untuk lintasan


metabolisme yang sama terdapat secara tepencar pada berbagai kromosom.
Koordinasi ekspresi gen kelihatannya sangat bergantung pada asosiasi antara ruas-
ruas pemacu dengan gen-gen yang terpencar tersebut. Sejumlah faktor translasi
yang mengenali runtutan basa dari ruas tersebut akan menempel pada ruas-ruas
tersebut dan secara serempak menjalankan transkripsi dari gen-gen tersebut
(Jusuf, 2003).

Manusia dan mamalia, dalam hal ini kucing, individu pria / jantan adalah
heterogametik (XY) sementara wanita / betina adalah homogametik (XX).

70
Sebaliknya, pada ayam individu jantan justru homogametik (ZZ) sementara
individu betinanya heterogametik (ZW). Penentuan jenis kelamin pada manusia /
mamalia dikatakan mengikuti sistem XY, sedang pada ayam, dan unggas lainnya
serta ikan tertentu, mengikuti sistem ZW.

B. Saran

Materi Genetik akan mudah dipelajari jika ditunjang oleh banyak literatur,
baik dari buku-buku penunjang atau internet. Sehingga kita dapat mengetahui
berbagai macam materi genetik yang berupa konsep interaksi gen, regulasi kerja
gen pada prokariota, eukariota, pembelahan sel, dan ekspresi kelamin.
 Bagi kita dan generasi akan datang terutama yang akan menjadi
guru biologi sudah sepatutnya untuk mengetahui penjelasan materi
genetik.
 Kepada para pembaca kalau ingin lebih mengetahui tentang
bahasan ini bisa membaca buku atau majalah-majalah serta di
situs-situs internet yang memuat pembahasan tentang genetika.

71
Daftar Pustaka

- Gardner, Eldon John. 1991. Principles of GENETICS. Canada: John Wiley


& Sons Inc.
- Rahayu, Tina.2016.Regulasi Ekspresi Gen pada Prokariota.
http://tinarahayu999.com/2016/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html diakses
pada 21 April 2019
- Suryo,2008.GENETIKA Strata 1.Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
- Kimball, John W.1983.Biologi Edisi Kelima Jilid 1.Jakarta : PT Erlangga
- Suryo, 2003. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada university
Press
- Siu, W.Y., Yam, C.H., and Poon, R.Y.C., 1999, G1 versus G2 Cell Cycle
After Adriamycin-induced Damage in Mouse Swiss3T3 Cells, Left. 461:
299-305.
- Haffandi, Linda.2011.Regulasi Kerja Gen pada Eukariot. http://linda-
haffandi.com/2011/03/regulasi-kerja-gen-pada-eukariot.html diakses pada
21 April 2019
-

72

Anda mungkin juga menyukai