Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH FARMASI SOSIAL

STROKE

Disusu Oleh:

Annissa Aprillia

Desty Ramada nia

Maisarah

Siska Monika Dewi

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan pada kita semua
sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dimana makalah ini membahas
tentang penyakit stroke
Namun demikian tentu saja dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan dalam penulisan dan pemilihan kata yang kurang tepat. Oleh karena itu, kritik dan
saran dari banyak pihak sangat kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Dengan ini, kami memohon maaf jika dalam pembuatan makalah ini banyak
kekurangan,kami harapkan makalah ini dapat bermanfaat dan mampu menambah wawasan bagi
semua orang.
Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

Samarinda, 13 Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover ......................................................................................................................... i

Kata Penganatar ......................................................................................................... ii

Daftar Isi .................................................................................................................... iii

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1

B. Tujuan.................................................................................................................... 2

BAB II

Pembahasan

2.1 Defenisi ................................................................................................................ 3

2.2 Klasifikasi ............................................................................................................ 3

2.3 Etiologi ................................................................................................................. 4

2.4 Patofisiologi ......................................................................................................... 6

2.5 Manifestasi klinis ................................................................................................. 7

2.6 Pemeriksaan penunjang ....................................................................................... 9

2.7 Komplikasi ........................................................................................................... 9

2.8 Penatalaksanaan ................................................................................................... 9

BAB III

3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 11

3.2 Saran .................................................................................................................... 11

Daftar Pustaka ............................................................................................................ 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Menurut penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa kadar fibrinogen plasma
yang tinggi merupakan faktor resiko utama dari penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung
koroner, stroke, dan penyakit pembuluh darah tepi). kadar fibrinogen ditentukan oleh
faktor genetik dan lingkungan.
stroke merupakan masalah bagi Negara-negara berkembang. Di dunia penyakit
stroke meningkat seiring dengan medernisasi. Di Amerika serikat stroke menjadi penyebab
kematian ke tiga setelah kanker dan jantung, merupakan penyakit yang paling sering
menimbulkan kecacatan. menurut American Heart Association, diperkirakan terjadi 3 juta
penderita stroke pertahun, dan 500,000 penderita stroke yang baru terjadi pertahun. dan
angka kematian penderita stroke di amerika adalah 50-100/100.000 penderita pertahun.
menurut WHO, ada 15 juta populasi terserang stroke setiap tahundi seluruh dunia dan
terbanyak adalah usia tua dengan kematian rata-rata setiap 10 tahun antara 55 dan 85 tahun.
(Goldstein,dkk 2006;kollen,dkk 2006; Lyoyd jones dkk,2009).
Rendahnya kesadaran akan faktor resiko stroke, kurang dikenalinya gejala stroke
belum optimalnya pelayanan stroke dan ketaatan terhadap program terapi untuk
pencegahan stroke ulang yang rendah merupakan permasalahan yang muncul pada
pelayanan stroke Di Indonesia. keempat hal tersebut berkontribusi terhadap peningkatan
kejadian stroke baru, tingginya angka kematian akibat stroke, dan tingginya kejadian stroke
ulang diindonesia (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia , 2008). Di Indonesia masih
belum terdapat epidemiologi tentang insidensi dan prevalensi penderita stroke secara
nasional.

B. Tujuan
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah farmasi sosial
2. Dapat memahami pengertian stroke

iv
3. Dapat memahami penyebab stroke
4. Dapat memahami tanda dan gejala dari penyakit stroke
5. Untuk mengetahui cara penyembuhan stroke

v
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah di otak
yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan seseorang
menderita kelumpuhan atau kematian (Fransisca B. Batticaca).
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam
atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lainyang jelas selain vaskuler.
(Hendro Susilo, 2000)
Stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral dan merupakan satu gangguan neurologik
pokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologik pada pembuluh darah serebral
misalnya thrombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar,
misalnya arterosklerosis arteritis trauma aneurisma dan kelainan perkembangan (Price, 1995)

2.2 Klasifikasi
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemorragik, pada
stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol
pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh
darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. hampir
sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini. pada stroke iskemik,
penyumbatan bias terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. darah
ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini
merupakan cabang dari lengkung aorta jantung.
Secara garis besar dibagi dua yaitu :

1. Stroke karena pendarahan (Haemorragic)


Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena atheroklerosis
(penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah

vi
menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83%
mengalami stroke jenis ini.
Stroke Hemoragik yaitu penyakit stroke yang terjadi oleh karena pecahnya pembuluh darah
di otak terdiri dari pendarahan intraserebral. perdarahan subarachnoid. Hampir 70% kasus
stroke hemorrhagic terjadi pada penderita hipertensi.

2. Stroke bukan karena perdarahan (Non Haemorragic/Iskemik)


Pada stroke haemorragic pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah
yang normal dan darah merembes kedalam suatu daerah diotak dan merusaknya. hampir
70% kasus stroke ini terjadi pada penderita hipertensi.
Stroke iskemik yaitu penyakit stroke yang terjadi oleh karena suplai darah ke otak
terhambat atau berhenti. terdiri dari : Transient Ischemic Attack (TIA), thrombosis serebri,
emboli serebri.
Stroke iskemik terbagi lagi menjadi 3 yaitu :
1. Stroke Trombotik: Proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
2. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah
3. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena
adanya gangguan denyut jantung.

2.3 Etiologi
Penyebab utama dari stroke diurutkan dari yang paling penting adalah aterosklerosis
(thrombosis), embolisme, hipertensi yang menimbulkan perdarahan intraserebral dan ruptur
aneurisme sakular. stroke biasanya disertai satu atau beberapa penyakit lain seperti hipertensi,
penyakit jantung, peningkatan lemak dalam darah, diabetes mellitus atau penyakit vascular
perifer.
1. Stroke Iskhemik

stroke yang terjadi sebagai akibat dari adanya sumbatan pada arteri sehingga
menyebabkan penurunan suplay oksigen pada jaringan otak (iskhemik) hingga
menimbulkan nekrosis. sekitar 87% kasus stroke disebabkan karena adanya sumbatan
yang berupa thrombus atau embolus. Trombus adalah gumpalan/sumbatan yang berasal

vii
dari pembuluh darah otak. Embolus adalah gumpalan/sumbatan yang berasal dari
tempat lain. misalnya jantung atau arteri besar lainnya.

Faktor lain yang berpengaruh adalah denyut jantung yang irregular (atrial fibrillation)
yang merupakan tanda adanya sumbatan dijantung yang dapat keluar menuju otak.
adanya penimbunan lemak pada pembuluh darah otak (aterosklerosis) akan
meningkatkan resiko terjadinya stroke iskhemik.

2. Stroke Hemoragic
stroke yang terjadi sebagai akibat pecahnya pembuluh darah yang rapuh diotak. dua
tipe pembuluh darah otak yang dapat menyebabkan stroke hemoragi, yaitu
aneurysms dan arteriovenous malformations (AVMs). Anwurysms adalah
pengembangan pembuluh darah otak yang semakin rapuh sehingga data pecah.
Arteriovenous malformations adalah pembuluh darah yang mempunyai bentuk
abnormal, sehingga mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
penyakit atau keadaan yang menyebabkan atau memperparah stroke disebut dengan
faktor risiko stroke. faktor resiko medis penyakit tersebut di atas antara lain
disebabkan oleh :
1. Hipertensi
2. enyakit jantung
3. Diabetes Mellitus
4. Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah)
5. Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah)
6. Riwayat stroke dalam keluarga
7. migraine

Faktor resiko prilaku, antara lain :

1. Usia lanjut
2. obesitas
3. Merokok (pasif/aktif)
4. Alkohol
5. Mendengkur

viii
6. Narkoba
7. Kontrasepsi oral
8. Suku bangsa (negro/spanyol)
9. Jenis kelamin (pria)
10. Makanan tidak sehat (junk food, fast food)
11. kurang olahraga

2.4 Patofisiologi

Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola yang berdiameter 100-400 memeter


mengalami perubahan patologik pada dinding pembuluh darah tersebut berupa hipohialinosis,
nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Arteriol-arteriol dari cabang-
cabang lentikulostriata, cabang tembus arterio thalamus (talamo perforate arteries) dan cabang-
cabang paramedian arteria vertebra-basilaris mengalami perubahan-perubahan degenaratif
yang sama kenaikan darah yang “abrupt” atau kenaikan dalam jumlah yang secara mencolok
dapat menginduksi pecahnya pembuluh darah terutama pada pagi hari dan sore hari.

Jika pembuluh darah tersebut pecah, maka perdarahan dapat berlanjut sampai dengan 6 jam
dan jika volumenya besar akan merusak struktur anatomi otak dan menimbulkan gejala klinik.
jika perdarahan yang timbul kecil ukurannya, maka massa darah hanya dapat merasuk dan
menyela di antara selaput akson massa putih tanpa merusaknya. Pada keadaan ini absorbsi
darah akan diikuti oleh pulihnya fungsi-fungsi neurologi. Sedangkan pada perdarahan yang
luas terjadi destruksi massa otak, peninggian tekanan intracranial dan yang lebih berat dapat
menyebabkan herniasi otak pada falk serebri atau lewat foramen magnum.

Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan batang
otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak
terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nukleus kaudatus, thalamus dan pons.

Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relative banyak akan
mengakibatkan peninggian tekanan intrakranial dan menyebabkan menurunnya tekanan
perfusi otak serta terganggunya drainase otak.

2.5 Manifestasi Klinis

ix
Berdasarkan lokasinya ditubuh gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut :

1. Bagian system saraf pusat: kelemahan otot (hemiplegia), kaku, menurunnya fungsi
sensorik
2. Batang otak: dimana terdapat 12 saraf kranial, menurun kemampuan membau, mengecap,
mendengar, dan melihat persial atau keseluruhan, reflexs menurun, expresi wajah
terganggu, pernafasan dan detak jantung terganggu, lidah lemah.
3. Cerebral cortex: aphasia, apraxia, daya ingat menurun, hemineglect, kebungungan

Jika tanda-tanda gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient
Ischemic Attack (TIA), dimana jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24
jam, dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), dimana merupakan serangan kecil
atau serangan awal stroke. pada sumber lain tanda dan gejala stroke yaitu :

1. Adanya serangan deficit neurologis fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan lengan
atau tungkai atau salah satu sisi tubuh
2. Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan atau tungkai atau salah satu
sisi tubuh. baal atau mati rasa sebelah badan, terasa kesemutan, terasa seperti terkena
cabai, rasa terbakar
3. Mulut, lidah mencong bila diluruskan
4. Gangguan menelan : sulit menelan, minum suka keselak
5. Bicara tidak jelas (rero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan
atau gangguan bicara berupa pelo, sengau, ngaco, dan kata-katanya tidak dapat
dimengerti atau tidak dipahami (afasia). bicara tidak lancer, hanya sepatah-patah kata
yang terucap
6. Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat
7. Tidak memahami pembicaraan orang lain
8. Tidak mampu membaca dan menulis , dan tidak memahami tulisan
9. Tidak dapat berhitung, kepandaian menurun
10. Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
11. Hilangnya kendalian terhadap kantung kemih, kencing yang tidak disadari
12. Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil
13. Menjadi pelupa (dimensia)

x
14. Vertigo (pusing,puyeng), atau perasaan beputar yang menetap saat tidak beraktifitas
15. Awal terjadinya penyakit (onset) cepat, mendadak dan biasanya terjadi pada saat
beristrahat atau bangun tidur
16. Hilangnya penglihatan, berupa penglihatan terganggu, sebagian lapang pandangan
tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan gelap atau ganda
sesaat
17. Kelopak mata sulit dibuka atau dalam keadaan terjatuh
18. Pendengaran hilang atau gangguan pendengaran, berupa tuli satu telinga atau
pendengaran berkurang
19. Menjadi lebih sensitif : menjadi mudah menangis atau tertawa
20. Kebanyakan tidur atau selalu ingin tidur
21. Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terkoordinasi dengan baik,
sempoyongan, atau terjatuh
22. Gangguan kesadaran, pingsan sampai tidak sadarkan diri

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang:
1. Lumbal fungsi : pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada perdarahan
yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya berwarna likuor masih
normal.
2. Pemeriksaan darah secara rutin.
3. Pemeriksaan kimia darah: pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah
sampai dapat mencapai 250 mgdi dalam serum dan kemudian berangsur-angsur
turun kembali.
4. pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada daerah itu sendiri.
5. Ct Scan: untuk mengetahui letak / lokasi dan luasnya perdarahan / infark.
6. MRI: untuk mengetahui adanya edema, infark hematom, dan bergesernya struktur
otak.
7. Angiografi: untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai
pembuluh darah yang terganggu.
8. USG Doppler: untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masalah
system karotis).
2.7 Komplikasi

xi
komplikasi strokr meliputi:
1. Hipoksia serebral
2. Penurunan aliran darah serebral
3. Luasnya area cidera
4. Depresi
5. Darah beku
6. Memar diseluruh bagian tubuh
7. Otot mengkerut dan sendi kaku
8. Pneumonia ( radang paru-paru)
9. nyeri pundak

2.8 Penatalaksanaan
diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut:
 1/3 bisa pulih kembali,
 1/3 mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang,
 1/3 sisahnya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita
terus – menerus di kasur;

Hanya 10-15% penderita stroke bias kembali hidup normal seperti sedia kala,
sisanya mengalami cacat, sehingga banyak penderita stroke menderita stress akibat
kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke.
Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan
apakah penyebabnya pembekuan darah atau perdarahan yang tidak bias diatasi dengan obat
penghancur bekuan darah.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan da gejala lainnya bias dicegah
atau dipulihkan jika recombinant tissueplasminogen activator (RTPA) atau streptokinase
yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan waktu 3 jam setelah timbulnya
stroke.
Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi
dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan
menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.
Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasangkan infus untuk
memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan
(misalnya Heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.
Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati memperbaiki aliran darah
ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya, karena itu biasanya tidak
dilakukan pembedahan.
Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau
transient ischemic attack, ternyata bias mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang
akan datang. Sekitar 24.5% pasien mengalami stroke berulang.
Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke
akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. penderita stroke yang sangat berat

xii
mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk memertahankan pernafasan
yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih,
saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan).
Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang
menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan
darah tinggi dan infeksi paru-paru, setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan
suasana hati (terutama depresi), yang bias diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah di otak
yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan seseorang
menderita kelumpuhan atau kematian. Secara garis besar, stroke dibagi menjadi 2 yaitu Stroke
karena pendarahan (Haemorragic) dan Stroke bukan karena pendarahan (Non Haemorragic/
Iskemik).
Penyebab utama dari stroke adalah aterosklerosis (trombosis), embolisme, hipertensi yang
menimbulkan perdarahan intraserebral dan ruptur aneurisme sakular.
3.2 SARAN
Saran dari pembaca agar dapat member kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah
Stroke. Kami dari kelompok juga menyarankan kepada para pembaca hendaknya tidak hanya
mengambil satu referensi dari makalah ini saja dikarenakan kami dari penulis menyadari bahwa
makalah ini hanya mengambil reperensi dari beberapa sumber saja.

xiii
DAFTAR PUSTAKA

Adib, Muhammad. 2009. Cara Mudah Memahami dan Menghindari Hipertensi Jantung dan
Stroke. Yogyakarta: Dian Loka.
Askep Pada Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. 1996. Jakarta: Depkes
Carpenito, 1995 Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta:EGC
Mansjoer, Arief, et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta: Media Aeskulapius FKUI.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta:
salemba Medika.
Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
dan Suddarth. Edisi ke 8. Jakarta: EGC.

xiv