Anda di halaman 1dari 31

ETIKA HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN KEBIDANAN

MALPRAKTEK

DISUSUN OLEH :

1. NURHAWATI 6218011
2. WIWI MARYANA ULFAH 6218014
3. LUSY TRISNAWATI 6218015
4. MEISISKA INTAN FAJARINI 6218025
5. ANDI HERMATA 6218026

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RAJAWALI

BANDUNG
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala berkah, rahmat,
taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah “MALPRAKTEK”. Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah etika
hukum dalam praktek kebidana.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, baik
dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan
wawasan penulis. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini.
Penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
dan semua pembacanya.

Bandung, 29 Mei 2019

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan penulisan ................................................................................ 2
C. Manfaat penulisan .............................................................................. 2
D. Sistematika penuisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Malpraktek dan Kelalaian ................................................ 3
B. Jenis-jenis Malpraktek........................................................................ 4
C. Unsur-unsur Malpraktek .................................................................... 9
D. Sanksi hukum Malpraktek .................................................................. 10
E. Cara pembuktian Malpraktek ............................................................. 13
F. Tanggung jawab hukum ..................................................................... 15
G. Upaya pencegahan dan menghadapi tuntutan hukum Malpraktek..... 19
BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
A. Tinjauan kasus Malpraktek ................................................................ 22
B. Pembahasan / Analisa kasus............................................................... 23
BAB III PENUTUP
C. Kesimpulan......................................................................................... 25
D. Saran ................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sebagai bidan yang ahli dan professional dalam melayani klien, sudah
menjadi suatu kewajiban kita untuk mengetahui lebih dahulu apa saja
wewenang yang boleh kita lakukan dan wewenang yang seharusnya ditangani
oleh seorang dokter SpOG sehingga kita harus meninjau agar tindakan kita
tidak menyalahi PERMENKES yang berlaku.
Media massa seringkali memberitahukan tentang kasus gugatan/
tuntutan hukum (perdata dan/atau pidana) kepada bidan, dokter dan tenaga
medis lain, dan/ atau manajemen rumah sakit yang diajukan masyarakat
konsumen jasa medis yang menjadi korban dari tindakan malpraktik
(malpractice) atau kelalaian medis.
Lepas dari fenomena tersebut, ada yang mempertanyakan apakah kasus-
kasus itu terkategori malpraktik medik ataukah sekedar kelalaian (human error)
dari sang bidan/dokter. Masyarakat hanya melihat dampak dan akibat yang
timbul dari tindakan malpraktik tersebut. Semua bergantung kepada si penafsir
masing-masing (keluarga, media massa, pengacara), dan tidak ada proses
hukumnya yang tuntas. Karena itu sangat perlu bagi kita terutama tenaga medis
untuk mengetahui sejauh mana malpraktek ditinjau dari segi etika dan hukum.
Sorotan masyarakat yang cukup tajam atas jasa pelayanan kesehatan
oleh tenaga kesehatan, khususnya dengan terjadinya berbagai kasus yang
menyebabkan ketidak puasan masyarakat memunculkan isu adanya dugaan
malpraktek medis yang secara tidak langsung dikaji dari aspek hukum dalam
pelayanan kesehatan, karena penyebab dugaan malpraktek belum tentu
disebabkan oleh adanya kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan, khususnya dokter. Bentuk dan prosedur perlindungan terhadap kasus

1
malpraktek yang ditinjau dari Undang-Undang Perlindungan Konsunmen No.8
tahun 1999. peraturan tersebut mengatur tentang pembinaan dan pengawasan
yang dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga yang dibentuk oleh
pemerintah yang membidangi perlindungan konsumen, selain peran serta
pemerintah, peran serta masyarakat sangat perlu dibutuhkan dalam
perlindungan konsumen dalam kasus malpraktek serta penerapan hukum
terhadap kasus malpraktek yang meliputi tanggung jawab hukum dan sanksinya
menurut hukum perdata, pidana dan administrasi.
Melihat fenomena di atas, maka kami melalui makalah ini akan membahas
tentang salah satu kasus malpraktik di Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian malpraktek dan kelalaian ?
2. Apa jenis-jenis malpraktek hokum di bidang pelayanan kesehatan ?
3. Apa unsur-unsur malpraktek ?
4. Bagaimana sangsi hukum malpraktek ?
5. Bagaimana cara pembuktian malpraktek ?
6. Bagaimana tanggung jawab hukum malpraktek ?
7. Bagaimana upaya pencegahan malpraktek dan mengetahui cara menghadapi
tuntutan hukum ?
8. Contoh ilustrasi kasus

C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian malpraktek dan kelalaian.
2. Mengatahui jenis dan unsur malpraktek.
3. Mengetahui sanksi dan tanggung jawab hukum malpraktek.
4. Mengetahui cara pembuktian malpraktek.
5. Mengetahui upaya pencegahan malpraktek dan cara menghadapi tuntutan
hukum.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian malpraktek dan kelalaian


1. Pengertian Malpraktek
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan
tidak selalu berkonotasi yuridis. Secara harfiah “mal” mempunyai arti
“salah” sedangkan “praktek” mempunyai arti “pelaksanaan” atau
“tindakan”, sehingga malpraktek berarti “pelaksanaan atau tindakan yang
salah”. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah
tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah
dalam rangka pelaksanaan suatu profesi. Sedangkan difinisi malpraktek
profesi kesehatan adalah “kelalaian dari seseorang dokter atau bidan untuk
mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam
mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien
atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama”
(Valentin v. La Societyde Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos,
California, 1956).
Berlakunya norma etika dan norma hukum dalam profesi
kesehatan. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku
norma etika dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan
adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari
sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang etika
disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut
yuridical malpractice.Hal ini perlu difahami mengingat dalam profesi
tenaga bidan berlaku norma etika dan norma hukum, sehingga apabila ada
kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang dilanggar. Karena antara
etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar menyangkut

3
substansi, otoritas, tujuan dan sangsi, maka ukuran normatif yang dipakai
untuk menentukan adanya ethicalmalpractice atau yuridical malpractice
dengan sendirinya juga berbeda. Yang jelas tidak setiap ethical
malpractice merupakan yuridicalmalpractice akan tetapi semua bentuk
yuridical malpractice pasti merupakan ethical malpractice.
2. Pengertian kelalaian
Istilah kelalaian Medis adalah sebagai terjemahan dari
“Negligence” (Belanda : Nalatigheid) dalam arti umum bukanlah suatu
pelanggaran hukum atau kejahatan. Seseorang dikatakan lalai apabila ia
bertindak acuh dan tak peduli. Juga tidak memperhatikan kepentingan
orang lain sebagaimana lazimnya didalam tata pergaulan hidup
masyarakat. Selama akibat dari kelalaian itu tidak sampai membawa
kerugian atau cedera dan menyangkut hal yang sepele, maka kelalaian itu
tidak berakibat hukum. Prinsip ini berdasarkan "De minimis not curat lex,
The law does not concern itself with trifles". Yaitu hukum tidak
mencampuri hal-hal yang dianggap sepele.
Apabila kelalaian yang dilakukan sudah mencapai tingkat tidak
memperdulikan keselamatan orang lain, maka kelalaian yang dilakukan
akan berubah menjadi tindakan kriminal. Jika akibat dari kelalaian yang
dilakukan menyebabkan celaka, cedera, bahkan sampai merenggut nyawa
maka kelalaian tersebut termasuk tindak pidana dan pelanggaran hukum.

B. Jenis-jenis malpraktek
Berpijak pada hakekat malpraktek adalan praktik yang buruk atau
tidak sesuai dengan standar profesi yang telah ditetepkan, maka ada
bermacam-macam malpraktek yang dapat dipilih dengan mendasarkan pada
ketentuan hukum yang dilanggar, walaupun kadang kala sebutan malpraktek
secara langsung bisa mencakup dua atau lebih jenis malpraktek. Secara garis
besar malpraktek dibagi dalam dua golongan besar yaitu mal praktik medik

4
(medical malpractice) yang biasanya juga meliputi malpraktik etik (etichal
malpractice) dan malpraktek yuridik (yuridical malpractice).Sedangkan
malpraktik yurudik dibagi menjadi tiga yaitu malpraktik perdata (civil
malpractice), malpraktik pidana (criminal malpractice) dan malpraktek
administrasi Negara (administrative malpractice).
1. Malpraktik Medik (medical malpractice).
John.D.Blum merumuskan: Medical malpractice is a form of
professional negligence in whice miserable injury occurs to a plaintiff
patient as the direct result of an act or omission by defendant practitioner.
(malpraktik medik merupakan bentuk kelalaian professional yang
menyebabkan terjadinya luka berat pada pasien / penggugat sebagai akibat
langsung dari perbuatan ataupun pembiaran oleh dokter/terguguat).
Sedangkan rumusan yang berlaku di dunia kedokteran adalah
Professional misconduct or lack of ordinary skill in the performance of
professional act, a practitioner is liable for demage or injuries caused by
malpractice. (Malpraktek adalah perbuatan yang tidak benar dari suatu
profesi atau kurangnya kemampuan dasar dalam melaksanakan pekerjaan.
Seorang dokter bertanggung jawab atas terjadinya kerugian atau luka yang
disebabkan karena malpraktik), sedangkan junus hanafiah merumuskan
malpraktik medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan
tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan
dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut lingkungan yang
sama.
2. Malpraktik Etik (ethical malpractice).
Yang dimaksud dengan malpraktek etik adalah dokter melakukan
tindakan yang bertentangan dengan etika kedokteran. Sedangkan etika
kedokteran yang dituangkan dalam KODEKI merupakan seperangkat
standar etis, prinsip, aturan atau norma yang berlaku untuk dokter. Ngesti
Lestari berpendapat bahwa malpraktek etik ini merupakan dampak

5
negative dari kemajuan teknologi kedokteran. Kemajuan teknologi
kedokteran yang sebenarnya bertujuan untuk memberikan kemudahan dan
kenyamanan bagi pasien, dan membantu dokter untuk mempermudah
menentukan diagnosa dengan lebih cepat, lebbih tepat dan lebih akurat
sehingga rehabilitasi pasien bisa lebih cepat, ternyata memberikan efek
samping yang tidak diinginkan.
Efek samping ataupun dampak negative dari kemajuan teknologi
kedokteran tersebut antara lain :
 Kontak atau komunikasi antara dokter dengan pasien semakin
berkurang
 Etika kedokteran terkontaminasi dengan kepentingan bisnis.
 Harga pelayanan medis semakin tinggi, dsb.
Contoh konkrit penyalahgunaan kemajuan teknologi kedokteran
yang merupakan malpraktek etik ini antara lain :
 Dibidang diagnostic.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan terhadap pasien kadang
kala tidak diperlukan bilamana dokter mau memeriksa secara lebih
teliti.Namun karena laboratorium memberikan janji untuk memberikan
“hadiah” kepada dokter yang mengirimkan pasiennya, maka dokter
kadang-kadang bisa tergoda juga mendapatkan hadiah tersebut.
 Dibidang terapi.
Berbagai perusahaan yang menawarkan antibiotika kepada dokter
dengan janji kemudahan yang akan diperoleh dokter bila mau
menggunakan obat tersebut, kadang-kadang juga bisa mempengaruhi
pertimbangan dokter dalam memberikan terapi kepada pasien.
Orientasi terapi berdasarkan janji-janji pabrik obat yang sesungguhnya
tidak sesuai dengan indikasi yang diperlukan pasien juga merupakan
malpraktek etik.

6
3. Malpraktek Yuridik.
Soedjatmiko membedakan malpraktek yuridik ini menjadi :
a. Malpraktek Perdata (Civil Malpractice)
Terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak
dipenuhinya isi perjanjian (wanprestasi) didalam transaksi terapeutik
oleh dokter atau tenaga kesehatan lain, atau terjadinya perbuatan
melanggar hukum (onrechmatige daad) sehingga menimbulkan
kerugian pada pasien.
Adapun isi dari tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa :
 Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
tetapi terlambat melaksanakannya.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
tetapi tidak sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya
dilakukan.
Sedangkan untuk perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum
haruslah memenuhi beberapa syarat seperti :
 Harus ada perbuatan (baik berbuat naupun tidak berbuat)
 Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupuntidak
tertulis)
 Ada kerugian
 Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang
melanggar hukum dengan kerugian yang diderita.
 Adanya kesalahan (schuld)
Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi)
karena kelalaian dokter, maka pasien harus dapat membuktikan adanya
empat unsure berikut :
 Adanya suatu kewajiban dokter terhadap pasien.

7
 Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim.
 Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat
dimintakan ganti ruginya.
 Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah
standar.
Namun adakalanya seorang pasien tidak perlu membuktikan
adanya kelalaian dokter. Dalam hukum ada kaidah yang berbunyi “res
ipsa loquitor” yang artinya fakta telah berbicara. Misalnya karena
kelalaian dokter terdapat kain kasa yang tertinggal dalam perut sang
pasien tersebut akibat tertinggalnya kain kasa tersebut timbul
komplikasi paksa bedah sehingga pasien harus dilakukan operasi
kembali. Dalam hal demikian, dokterlah yang harus membuktikan
tidak adanya kelalaian pada dirinya.
b. Malpraktek Pidana (Criminal Malpractice)
Terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat
akibat dokter atau tenaga kesehatan lainnya kurang hati-hati atua
kurang cermat dalam melakukan upaya penyembuhan terhadap pasien
yang meninggal dunia atau cacat tersebut.
1. Malpraktek pidana karena kesengajaan (intensional)
Misalnya pada kasus-kasus melakukan aborsi tanpa
indikasi medis, euthanasia, membocorkan rahasia kedokteran,
tidak melakukan pertolongan pada kasus gawat padahal diketahui
bahwa tidak ada orang lain yang bisa menolong, serta memberikan
surat keterangan dokter yang tidak benar.
2. Malpraktek pidana karena kecerobohan (recklessness)
Misalnya melakukan tindakan yang tidak legeartis atau
tidak sesuai dengan standar profesi serta melakukan tindakn tanpa
disertai persetujuan tindakan medis.

8
3. Malpraktek pidana karena kealpaan (negligence)
Misalnya terjadi cacat atau kematian pada pasien sebagai
akibat tindakan dokter yang kurang hati-hati atau alpa dengan
tertinggalnya alat operasi yang didalam rongga tubuh pasien.
c. Malpraktek Administratif (Administrative Malpractice)
Terjadi apabila dokter atau tenaga kesehatan lain melakukan
pelanggaran terhadap hukum Administrasi Negara yang berlaku,
misalnya menjalankan praktek dokter tanpa lisensi atau izinnya,
manjalankan praktek dengan izin yang sudah kadaluarsa dan
menjalankan praktek tanpa membuat catatan medik.

C. Unsur-unsur malpraktek
Dokter atau petugas kesehatan dikatakan melakukan malpraktek jika :
1. Kurang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang
sudahberlaku umum dikalangan profesi kesehatan.
2. Melakukan pelayanan kesehatan dibawah standar profesi.
3. Melakukan kelalaian berat atau memberikan pelayanan dengan ketidak
hati-hatian.
4. Melakukan tindakan medic yang bertentangan dengan hukum.
Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik
kedokteran, maka ia hanya telah melakukan malpraktek etik. Untuk dapat
menuntut penggantian kerugian karena kelalaian, maka penggugat harus dapat
membuktikan adanya 4 unsur berikut :
 Adanya suatu kewajiban bagi dokter terhadap pasien.
 Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim digunakan.
 Penggugat telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya.
 Secara factual kerugian disebabkan oleh tindakan dibawah standar.
Kerugian ini kadang kala tidak memerlukan pembuktian dari pasien
dengan diberlakukannya doktrin les ipsa liquitur, yang berarti faktanya telah

9
berbicara.Misalnya terdapatnya kain kassa yang tertinggal dirongga perut
pasien, sehingga menimbulkan komplikasi pasca bedah.Dalam hal ini maka
dokterlah yang harus membuktikan tidak adanya kelalaian dalam dirinya.
Namun tetap saja ada elemen yuridis yang harus dipenuhi untuk menyatakan
telah terjadi malpraktek yaitu :
 Adanya tindakan dalam arti berbuat atau tidak berbuat. Tidak berbuat
disini adalah mengabaikan pasien dengan alasn tertentu seperti tidak ada
biaya atau tidak ada penjaminannya.
 Tindakan berupa tindakan medis, diagnosis, terapeutik dan manajemen
kesehatan.
 Dilakukan terhadap pasien.
 Dilakukan secara melanggar hokum, kepatuhan, kesusilaan atau prinsip
profesi lainnya.
 Dilakukan dengan sengaja atau ketidak hati-hatian (lalai, ceroboh).
 Mengakibatkan, salah tndak, ras sakit, luka, cacat, kerusakan tubuh,
kematian dan kerugian lainnya.

D. Sanksi hukum malpraktek


Undang-undang tentang malpraktek
Dalam etika profesi yang disahkan oleh setiap lembaga mempunyai
fungsi pengawasan yang kuat dan nyata terhadap pelaku dan benar-benar
harus dipatuhi sebagai seorang dokter. Jejak rekam medik yang akurat
merupakan keinginan setiap pasien untuk mengetahui apa penyakit yang
dideritanya. Ketidakpastian jejak rekam medik tersebut tentu saja menambah
kontroversi kasus dugaan malpraktik, karena dapat dikategorikan sebagai
euthanasia (tindakan medik untuk mengakhiri hidup orang). Euthanasia di
Indonesia merupakan tindakan yang melanggar hukum karena identik dengan
upaya pembunuhan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

10
UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, maka dokter tersebut dapat
terjerat tuduhan malpraktik dengan sanksi pidana. Dalam Kitab-Undang-
undang Hukum Pidana (KUHP) kelalaian yang mengakibatkan celaka atau
bahkan hilangnya nyawa orang lain. Pasal 359, misalnya menyebutkan,
“Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu
tahun”.Sedangkan kelalaian yang mengakibatkan terancamnya keselamatan
jiwa seseorang dapat diancam dengan sanksi pidana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 360 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), (1) ‘Barang
siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling
lama satu tahun’. (2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang
lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau kurungan
paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah. Pemberatan
sanksi pidana juga dapat diberikan terhadap dokter yang terbukti melakukan
malpraktik, sebagaimana Pasal 361 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP), “Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan
sepertiga dan yang bersalah dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian
dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan supaya
putusannya diumumkan.” Namun, apabila kelalaian dokter tersebut terbukti
merupakan malpraktik yang mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa
dan atau hilangnya nyawa orang lain maka pencabutan hak menjalankan
pencaharian (pencabutan izin praktik) dapat dilakukan. Berdasarkan Pasal 361
Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan aturan kode etik profesi
praktik dokter. Tindakan malpraktik juga dapat berimplikasi pada gugatan
perdata oleh seseorang (pasien) terhadap dokter yang dengan sengaja (dolus)

11
telah menimbulkan kerugian kepada pihak korban, sehingga mewajibkan
pihak yang menimbulkan kerugian (dokter) untuk mengganti kerugian yang
dialami kepada korban, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab-
Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), “Tiap perbuatan melanggar
hukum, yang membawa kerugian pada seorang lain, mewajibkan orang yang
karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”
Sedangkan kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian (culpa) diatur oleh Pasal
1366 yang berbunyi: “Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk
kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya.” Kepastian Hukum Melihat
berbagai sanksi pidana dan tuntutan perdata yang tersebut di atas dapat
dipastikan bahwa bukan hanya pasien yang akan dibayangi ketakutan. Tetapi,
juga para dokter akan dibayangi kecemasan diseret ke pengadilan karena telah
melakukan malpraktik dan bahkan juga tidak tertutup kemungkinan hilangnya
profesi pencaharian akibat dicabutnya izin praktik. Apalagi, azas kepastian
hukum merupakan hak setiap warga negara untuk diperlakukan sama di depan
hukum (equality before the law) dengan azas praduga tak bersalah
(presumptions of innocence) sehingga jaminan kepastian hukum dapat
terlaksana dengan baik dengan tanpa memihak-mihak siapa pun. Hubungan
kausalitas (sebab-akibat) yang dapat dikategorikan seorang dokter telah
melakukan malpraktik, apabila :
1. Bahwa dalam melaksanakan kewajiban tersebut, dokter telah melanggar
standar pelayanan medik yang lazim dipakai.
2. Pelanggaran terhadap standar pelayanan medik yang dilakukan merupakan
pelanggaran terhadap Kode Etik Kedokteran Indonesia (. (3) Melanggar
UU No36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Seorang dokter yang melakukan penyimpangan saat melakukan pengobatan
dapat dikenakan sanksi sesuai dengan tindakannya. Sanksi hukum terbagi 3
yaitu sanksi perdata, sanksi pidana dan sanksi administratif.

12
1. Sanki Perdata
Tenaga kesehatan yang merugikan pasien dapat dikenakan sanksi
berdasarkan pasal 1365, 1367, 1370 atau pasal 1371 Kitab Undang-
undang Hukum Perdata. Gugatan yang ditujukan secara pribadi apabila
dokter melakukan kesalahan ditempat praktek pribadi atau disebuah
rumah sakit dimana statusnya adalah dokter tamu.
2. Sanksi pidana
Tindakan dokter yang menorehkan benda tajam, menusukkan jarum atau
membius pasien tanpa persetujuannya, dapat disamakan dengan
melakukan penganiayan, yang dapat dijerat dengan Pasal 351 KUHP.
3. Sanksi administrative
Sanksi administratif diatur dalam Pasal 13 PERMENKES tentang
persetujuan tindakan medik yang isinya adalah: Terhadap dokter yang
melakukan tindakan medik tanpa persetujuan pasien atau keluarganya,
dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin praktek.

E. Cara pembuktian malpraktek


Apabila tenaga tenaga kesehatan didakwa telah melakukan kesalahan
profesi, hal ini bukanlah merupakan hal yang mudah bagi siapa saja yang
tidak memahami profesi kesehatan dalam membuktikan ada dan tidaknya
kesalahan. Dalam hal tenaga kesehatan didakwa telah melakukan criminal
malpractice, harus dibuktikan apakah perbuatan tenaga kesehatan tersebut
telah memenuhi unsur tidak pidanya yakni :
a. Apakah perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang
tercela.
b. Apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang
salah (sengaja, ceroboh atau adanya kealpaan). Selanjutnya apabila tenaga
perawatan dituduh telah melakukan kealpaan sehingga mengakibatkan
pasien meninggal dunia, menderita luka, maka yang harus dibuktikan

13
adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan
sikap batin berupa alpa atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga.
Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat
dilakukan dengan dua cara yakni :
a. Cara langsung : Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai
tolak ukur adanya 4 D yakni :
 Duty (kewajiban), dalam hubungan perjanjian tenaga perawatan
dengan pasien, tenaga perawatan haruslah bertindak berdasarkan :
1. Adanya indikasi medis
2. Bertindak secara hati-hati dan teliti
3. Bekerja sesuai standar profesi
4. Sudah ada informed consent.
 Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)
Jika seorang tenaga perawatan melakukan asuhan keperawatan
menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak melakukan apa yang
seharusnya dilakukan menurut standard profesinya, maka tenaga
perawatan tersebut dapat dipersalahkan.
 Direct Causation (penyebab langsung)
 Damage (kerugian)
Tenaga perawatan untuk dapat dipersalahkan haruslah ada
hubungan kausal (langsung) antara penyebab (causal) dan kerugian
(damage) yang diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa atau
tindakan sela diantaranya., dan hal ini haruslah dibuktikan dengan
jelas. Hasil (outcome) negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan
tenaga perawatan.
b. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien,
yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil
layanan perawatan (doktrin res ipsa loquitur).

14
Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada
memenuhi kriteria:
1. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai
2. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga
perawatan
3. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain
tidak ada contributory negligence, gugatan pasien.

F. Tanggung jawab hukum


Untuk memidana seseorang disamping orang tersebut melakukan
perbuatan yang dilarang dikenal pula azas Geen Straf Zonder Schuld (tiada
pidana tanpa kesalahan). Azas ini merupakan hukum yang tidak tertulis tetapi
berlaku dimasyarakat dan juga berlaku dalam KUHP, misalnya pasal 48 tidak
memberlakukan ancaman pidana bagi pelaku yang melakukan perbuatan
pidana karena adanya daya paksa. Oleh karena itu untuk dapat dipidananya
suatu kesalahan yang dapat diartikan sebagai pertanggungjawaban dalam
hukum pidana haruslah memenuhi 3 unsur, sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada petindak artinya keadaan
jiwa petindak harus normal.
2. Adanya hubungan batin antara petindak dengan perbuatannya yang dapat
berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa).
3. Tidak adanya alasan penghapus kesalahan atau pemaaf.
Perbedaaan kesengajaan dan kealpaan.
Mengenai kesengajaan, KUHP tidak menjelaskan apa arti kesengajaan
tersebut. Dalam Memorie van Toelichting (MvT), kesengajaan diartikan yaitu
melakukan perbuatan yang dilarang dengan dikehendaki dan diketahui.
Dalam tindakannya, seorang dokter terkadang harus dengan sengaja
menyakiti atau menimbulkan luka pada tubuh pasien, misalnya : seorang ahli
dokter kandungan yang melakukan pembedahan Sectio Caesaria untuk

15
menyelamatkan ibu dan janin. Ilmu pengetahuan (doktrin) mengartikan
tindakan dokter tersebut sebagai penganiayaan karena arti dan penganiayaan
adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan
rasa sakit atau luka pada orang lain. Didalam semua jenis pembedahan
sebagaimana sectio caesare tersebut, dokter operator selalu menyakiti
penderita dengan menimbulkan luka pada pasien yang jika tidak karena
perintah Undang-Undang “si pembuat luka” dapat dikenakan sanksi pidana
penganiayaan. Oleh karena itu, didalam setiap pembedahan, dokter operator
haruslah berhati-hati agar luka yang diakibatkannya tersebut tidak
menimbulkan masalah kelak di kemudian hari.Misalnya terjadi infeksi
nosokomial (infeksi yang terjadi akibat dilakukannya pembedahan) sehingga
luka operasi tidak bisa menutup. Bila ini terjadi dokter dianggap melakukan
kelalaian atau kealpaan.
Kealpaan merupakan bentuk kesalahan yang tidak berupa kesengajaan,
akan tetapi juga bukan sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Dalam kealpaan
sikap batin seseorang menghendaki melakukan perbuatan akan tetapi sama
sekali tidak menghendaki ada niatan jahat dari petindak. Walaupun demikian,
kealpaan yang membahayakan keamanan dan keselamatan orang lain tetap
harus dipidanakan.
Moeljatno menyatakan bahwa kesengajaan merupakan tindakan yang
secara sadar dilakukan dengan menentang larangan, sedangkan kealpaan
adalah kekurang perhatian pelaku terhadap obyek dengan tidak disadari
bahwa akibatnya merupakan keadaan yang dilarang, sehingga kesalahan yang
berbentuk kealpaan pada hakekatnya sama dengan kesengajaan hanya berbeda
gradasi saja.
Penanganan Malpraktek di Indonesia
Sistem hukum di Indonesia yang salah satu komponennya adalah hukum
substantive, diantaranya hukum pidana, hukum perdata dan hukum
administrasi tidak mengenal bangunan hukum “malpraktek”. Sebagai profesi,

16
sudah saatnya para dokter mempunyai peraturan hukum yang dapat dijadikan
pedoman bagi mereka dalam menjalankan profesinya dan sedapat mungkin
untuk menghindari pelanggaran etika kedokteran.
Keterkaitan antara pelbagai kaidah yang mengatur perilaku dokter,
merupakan bibidang hukum baru dalam ilmu hukum yang sampai saat ini
belum diatur secara khusus.Padahal hukum pidana atau hukum perdata yang
merupakan hukum positif yang berlaku di Indonesia saat ini tidak seluruhnya
tepat bila diterapkan pada dokter yang melakukan pelanggaran.Bidang hukum
baru inilah yang berkembang di Indonesia dengan sebutan Hukum
Kedokteran, bahkan dalam arti yang lebih luas dikenal dengan istilah Hukum
Kesehatan.
Istilah hukum kedokteran mula-mula diunakan sebagai terjemahan dari
Health Law yang digunakan oleh World Health Organization.Kemudian
Health Law diterjemahkan dengan hukum kesehatan, sedangkan istilah
hukum kedokteran kemudian digunakan sebagai bagian dari hukum kesehatan
yang semula disebut hukum medik sebagai terjemahan dari medic law.
Sejak World Congress ke VI pada bulan agustus 1982, hukum kesehatan
berkembang pesat di Indonesia. Atas prakarsa sejumlah dokter dan sarjana
hukum pada tanggal 1 Nopember 1982 dibentuk Kelompok Studi Hukum
Kedokteran di Indonesia dengan tujuan mempelajari kemungkinan
dikembangkannya Medical Law di Indonesia. Namun sampai saat ini,
Medical Law masih belum muncul dalam bentuk modifikasi tersendiri.Setiap
ada persoalan yang menyangkut medical law penanganannya masih mengacu
kepada Hukum Kesehatan Indonesia yang berupa Undang-Undang No. 23
Tahun 1992, KUHP dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.Kalau
ditinjau dari budaya hukum Indonesia, malpraktek merupakan sesuatu yang
asing karena batasan pengertian malpraktek yang diketahui dan dikenal oleh
kalangan medis (kedokteran) dan hukum berasal dari alam pemikiran
barat.Untuk itu masih perlu ada pengkajian secara khusus guna memperoleh

17
suatu rumusan pengertian dan batasan istilah malpraktek medik yang khas
Indonesia (bila memang diperlukan sejauh itu) yakni sebagai hasil oleh piker
bangsa Indonesia dengan berlandaskan budaya bangsa yang kemudian dapat
diterima sebagai budaya hukum (legal culture) yang sesuai dengan system
kesehatan nasional. Dari penjelasan ini maka kita bisa menyimpulkan bahwa
permasalahan malpraktek di Indonesia dapat ditempuh melalui 2 jalur, yaitu
jalur litigasi (peradilan) dan jalur non litigasi (diluar peradilan).
Untuk penanganan bukti-bukti hukum tentang kesalahan atau kealpaan
atau kelalaian dokter dalam melaksanakan profesinya dan cara
penyelesaiannya banyak kendala yuridis yang dijumpai dalam pembuktian
kesalahan atau kelalaian tersebut. Masalah ini berkait dengan masalah
kelalaian atau kesalahan yang dilakukan oleh orang pada umumnya sebagai
anggota masyarakat, sebagai penanggung jawab hak dan kewajiban menurut
ketentuan yang berlaku bagi profesi. Oleh karena menyangkut 2 (dua) disiplin
ilmu yang berbeda maka metode pendekatan yang digunakan dalam mencari
jalan keluar bagi masalah ini adalah dengan cara pendekatan terhadap masalah
medik melalui hukum. Untuk itu berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung
Repiblik Indonesia (SEMA RI) tahun 1982, dianjurkan agar kasus-kasus yang
menyangkut dokter atau tenaga kesehatan lainnya seyogyanya tidak langsung
diproses melalui jalur hukum, tetapi dimintakan pendapat terlebih dahulu
kepada Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK). Majelis Kehormatan
Etika Kedokteran merupakan sebuah badan di dalam struktur organisasi
profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). MKEK ini akan menentukan kasus
yang terjadi merpuakan pelanggaran etika ataukah pelanggaran hukum. Hal
ini juga diperkuat dengan UU No. 23/1992 tentang kesehatan yang
menyebutkan bahwa penentuan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaian
ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (pasal 54 ayat 2) yang
dibentuk secara resmi melalui Keputusan Presiden (pasal 54 ayat 3).

18
Pada tanggal 10 Agustus 1995 telah ditetapkan Keputusan Presiden No.
56/1995 tentang Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) yang bertugas
menentukan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaian dokter dalam
menjalankan tanggung jawab profesinya. Lembaga ini bersifat otonom,
mandiri dan non structural yang keanggotaannya terdiri dari unsur Sarjana
Hukum, Ahli Kesehatan yang mewakili organisasi profesi dibidang kesehatan,
Ahli Agama, Ahli Psikologi, Ahli Sosiologi. Bila dibandingkan dengan
MKEK, ketentuan yang dilakukan oleh MDTK dapat diharapkan lebih
obyektif, karena anggota dari MKEK hanya terdiri dari para dokter yang
terikat kepada sumpah jabatannya sehingga cenderung untuk bertindak
sepihak dan membela teman sejawatnya yang seprofesi. Akibatnya pasien
tidak akan merasa puas karena MKEK dianggap melindungi kepentingan
dokter saja dan kurang memikirkan kepentingan pasien.

G. Upaya Pencegahan Dan Menghadapi Tuntutan Malpraktek


1. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga
bidan karena adanya mal praktek diharapkan para bidan dalam
menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
 Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan
upayanya, karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning
verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis).
 Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed
consent.
 Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
 Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau
dokter.
 Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan
segala kebutuhannya.

19
 Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan
masyarakat sekitarnya.
2. Upaya menghadapi tuntutan hokum
Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan
sehingga bidan menghadapi tuntutan hukum, maka tenaga bidan
seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau keluarganyalah yang aktif
membuktikan kelalaian bidan
Apabila tuduhan kepada bidan merupakan criminal malpractice,
maka tenaga bidan dapat melakukan :
a. Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/
menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak
menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada, misalnya bidan mengajukan
bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan tetapi merupakan
risiko medik (risk of treatment), atau mengajukan alasan bahwa
dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana
disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan.
b. Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan
mengajukan atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan
menyangkal tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung
jawaban atau melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari
pertanggung jawaban, dengan mengajukan bukti bahwa yang
dilakukan adalah pengaruh daya paksa.
Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya bidan menggunakan jasa
penasehat hukum, sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan
kepadanya. Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana
bidan digugat membayar ganti rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah
mementahkan dalil-dalil penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak
yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain
pasien atau pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan

20
bahwa tergugat (bidan) bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami
penggugat. Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah,
utamanya tidak diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res
ipsaloquitur), apalagi untuk membuktikan adanya tindakan menterlantarkan
kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung antara
menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage),
sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang
kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga kebidanan.

21
BAB III
TINJAUAN KASUS MALPARAKTEK

A. Tinjauan Kasus Malpraktek


Pada bulan agustus 2006 dunia kedokteran di Malang Raya gempar.
Seorang bidan bernama Linda Handayani, warga Jl. Pattimura Gg I Kota Batu,
melakukan malpraktik saat menangani proses persalinan. Akibatnya, pasien
bernama Nunuk Rahayu (39) tersebut terpaksa melahirkan anak ketiganya
dengan hasil mengerikan. Bayi sungsang itu lahir dengan leher putus. Badan
bayi keluar duluan sedangkan kepalanya tertinggal di dalam rahim. Kejadian ini
membuat suami Nunuk, Wiji Muhaimin (40) kalut bukan kepalang. Bayi yang
diidam-idamkan selama 9 bulan 10 hari itu ternyata lahir dengan cara yang
sangat memprihatinkan.
Terkait kronologi kejadian ini, pria berkumis tebal tersebut menjelaskan,
istrinya Selasa sore lalu mengalami kontraksi. Melihat istrinya ada tanda-tanda
melahirkan, Muhaimin membawa istrinya ke bidan Linda Handayani, yang tak
terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Begitu memasuki waktu shalat Magrib, dia
pulang untuk shalat. Muhaimin mengaku tidak punya firasat apa-apa sebelum
peristiwa tersebut terjadi. Selama ini dia yakin kalau istrinya akan melahirkan
normal. “Nggak ada firasat apa-apa. Ya normal-normal saja,” katanya.
Kemarin, istrinya masih belum bisa diwawancarai. Pasalnya, Nunuk
masih terbaring lemah di BKIA. Ia tampaknya masih tidur dengan pulas.
Kemungkinan, pulasnya tidur Nunuk tersebut akibat pengaruh obat bius malam
harinya.
Menurut Muhaimin, dia sangat sedih ketika melihat bayinya tanpa
kepala dengan ceceran darah di leher. Dia merasa antara percaya dan tidak
melihat kondisi itu. Namun, dia sedikit lega bisa melihat anaknya ketika badan
dan kepalanya disatukan. Menurut dia, bayi itu sangat mungil dan cantik,

22
kulitnya masih merah, dan rambutnya ikal. “Saya ciumi dan usap wajahnya,
sambil menangis,” kata Muhaimin dengan mata berkaca-kaca. Meski kejadian
ini dirasakan sangat berat, Muhaimin akhirnya bisa juga menerima dan
menganggap ini takdir Tuhan. Tetapi untuk kasus hukumnya, dia tetap
menyerahkan ke yang berwenang. Dia berharap kasus ini bisa ditindak lanjuti
dengan seadil-adilnya. Dari penuturan beberapa warga sekitar, sebenarnya bidan
Handayani adalah sosok bidan yang berpengalaman dan senior.Dia sudah
praktik puluhan tahun. Dengan demikian, masyarakat juga merasa kaget
mendengar kabar mengerikan itu datang dari bidan Handayani. Kabar ini juga
menyentak kalangan DPRD kota Batu. Menurut ketua Fraksi Gabungan Sugeng
Minto Basuki, bidan Handayani memang sangat terkenal di Batu. Kata dia,
umurnya sudah 60 tahun lebih. Namun, atas kasus ini dia meminta dinas
kesehatan melakukan recovery lagi terhadap para bidan yang ada di Batu.
Dengan demikian kasus mengerikan semacam ini tidak akan terulang lagi.
“Saya juga meminta polisi segera mengusut kasus ini. Kalau perlu izin
praktiknya dicabut,” katanya.

B. Pembahasan / Analisa kasus


Faktor yang sangat berpengaruh saat kita mau melahirkan adalah faktor
kepercayaan dan kenyamanan pada siapa dan dimana kita akan melahirkan.
Artinya pada seorang bidanpun kalau memang kondisi ibu dan bayinya tidak
bermasalah dan sang ibu merasa percaya dan nyaman insya allah akan baik-baik
saja. Hanya yang perlu diperhatikan adalah seorang bidan mempunyai
keterbatasan dalam melakukan tindakan, walaupun dia mampu secara ilmu
pengetahuan dan pengalamannya. Ada beberapa tindakan yang hanya boleh
dilakukan oleh seorang dokter saat menolong persalinan. Jika sang bidan tetap
melakukan tindakan yang seharusnya tidak boleh dilakukan, itu sudah termasuk
malpraktek kecuali bidan yang praktek ditempat yang terpencil dan tidak ada
dokter atau tempat rujukan sangatlah jauh dari tempat praktek bidan dan

23
persalinan sudah harus segera dilakukan (permenkes pasal l14). Tapi jika
memungkinkan maka segera lakukan tindakan rujukan karena kadang bidan
apalagi yang sudah senior merasa yakin dan bisa melakukan tindakan yang
dilarang dan terjadi sesuatu hal, maka itu akan jadi masalah besar. Misalnya
seperti kasus bayi sungsang yang kepala putus, penolongnya adalah bidan
senior yang berusia 60 th dan terkenal dimasyarakat.

24
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak
selalu berkonotasi yuridis. Secara harfiah “mal” mempunyai arti “salah”
sedangkan “praktek” mempunyai arti “pelaksanaan” atau “tindakan”,
sehingga malpraktek berarti “pelaksanaan atau tindakan yang salah”.
Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut
dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka
pelaksanaan suatu profesi. Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan
adalah “kelalaian dari seseorang dokter atau bidan untuk mempergunakan
tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat
pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka
menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Berdasarkan kasus yang telah disebutkan dan telah kami pelajari,
dapat disimpulkan bahwa masih kurang jelas apakah pada kasus tersebut ada
unsur sengaja atau tidak sengaja. Masih banyak hal yang harus dibuktikan
dalam kasus ini. Jadi bidan tersebut hendaknya menjelaskan pada proses
keadilan tentang hal sebenarnya. Selanjutnya apabila keluarga menuduh
bidan tersebut telah melakukan kealpaan sehingga mengakibatkan pasien
meninggal dunia, maka yang harus dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan
tercela (salah) yang dilakukan dengan sikap batin berupa alpa atau kurang
hati-hati ataupun kurang praduga. Ada banyak penyebab mengapa persoalan
malpraktik medik mencuat akhir-akhir ini dimasyarakat diantaranya
pergeseran hubungan antara tenaga medis dan pasien yang tadinya bersifat
paternalistic tidak seimbang dan berdasarkan kepercayaan (trust, fiduciary

25
relationship) berganti dengan pandangan masyarakat yang makin kritis serta
kesadaran hukum yang makin tinggi.
Apresiasi masyarakat pada nilai kesehatan makin tinggi sehingga
dalam melakukan hubungan dengan dokter, pasien sangat berharap agar
dokter dapat memaksimalkan pelayanan medisnya untuk harapan hidup dan
kesembuhan penyakitnya. Dari sudut penegakan hukum sulitnya membawa
kasus ini ke jalur pengadilan diantaranya karena belum ada keseragaman
paham diantara para penegak hukum sendiri soal malpraktik medik ini. Masih
ada masyarakat (pasien) yang belum memahami hak-haknya untuk dapat
meloprkan dugaan malpraktik yang terjadi kepadanya baik kepada penegak
hukum atau melalui MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia). Oleh karenanya lembaga MKDKI sebagai suatu peradilan profesi
dapat ditingkatkan peranannya sehingga mendapat kepercayaan dari
masyarakat sebagai lembaga yang otonom, independent dan memperhatikan
juga nasib korban. Dari sudut hukum acara (pembuktian) terkadang penegak
hukum kesulitan mencari keterangan ahli yang masih diliputi esprit de corps.
Mungkin sudah saatnya diperlukan juga saksi yang memahami ilmu hukum
sekaligus ilmu kesehatan. Bahaya malpraktek memang luar biasa. Tidak
hanya mengakibatkan kelumpuhan atau gangguan fatal organ tubuh, tetapi
juga menyebabkan kematian. Masalah yang ditimbulkan pun bisa sampai pada
masalah nama baik, baik pribadi bahkan negara, seperti yang dipaparkan
waktu penjelasan fenomena malpraktek pada era globalisasi tadi. Benar-benar
kompleks sekali permasalahan yang timbul akibat malpraktek ini. Sehingga
benar bahwa malpraktek dikatakan sebagai sebuah malapetaka bagi dunia
kesehatan di Indonesia.

B. SARAN
Seorang bidan atau dokter atau hendaknya dapat menunjukkan
profesionalisme sebagai seorang tenaga kesehatan. Dalam arti harus bisa

26
menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang kronologis peristiwa yang
terjadi, agar tidak menimbulkan prasangka publik yang akhirnya akan
menimbulkan fitnah dan isu-isu yang tidak benar. Dan pada akhirnya juga
akan merugikan nama baik sebagai seorang bidan serta hilangnya kepercayaan
masyarakat. Sesuai dengan kode etik profesi dan sumpah jabatan sebagai
seorang tenaga kesehatan harus dapat mempertanggungjawabkan kejadian
yang telah terjadi.Karena bidan adalah sebagai pelaku utama dalam kasus ini,
bidan harus bisa menjelaskan dengan sebenar- benarnya sebab terjadinya
peristiwa.

27
DAFTAR PUSTAKA

Ameln,F., 1991, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Grafikatama Jaya, Jakarta.

Dahlan, S., 2002, Hukum Kesehatan, Badan Penerbit Universitas Diponegoro,


Semarang.

Guwandi, J., 1993, Malpraktek Medik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,


Jakarta.

Guwandi, J., 2007, Hukum Medik (Medical Law), Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Prof. Amri Amir SpF (K), SH. 2009. Etika Kedokteran dalam Hukum Kesehatan.
Jakarta: EGC.

Sudarma, 2008. Sosiologi Untuk Kesehana, jakarta: Salemba medika.

Darmadipura MS, Sukanto H, Farida N, Asnar E, Santoso MWA.

Kajian Bioetik 2005. Edisi 2. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas


Airlangga, 2008.

http://zona-prasko.blogspot.com/2011/03/kelalaian-medis.html.

http://futuredentistig.wordpress.com/2012/11/13/malpraktekazas-etik-kedokteran-
sop-informed-consent-dan-sanksi-hukum