Anda di halaman 1dari 28

Critical Journal Review

DOSEN PENGAMPU :
Dr. SAUT PURBA, M.Pd

DISUSUN OLEH :
JASON YUDHA F KACARIBU
NIM. 5163220012

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
PROGRAM STUDI DIPLOMA - III TEKNIK MESIN
2018
BAB I

PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat tuhan Yang Maha Esa dan
dengan rahmat dan karunianya, Tugas Critical Jurnal ini dapat saya buat, sebagai
bahan pembelajaran kami dengan harapan dapat diterima dan dipahami secara
bersama.

Tugas Critical Jurnal ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Penulisan
Karya Ilmiah. Tugas ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
tugas ini.

Akhirnya saya dengan kerendahan hati saya meminta maaf jika terdapat
kesalahan dalam penulisan atau penguraian Tugas Critical Jurnal saya dengan
harapan dapat diterima oleh bapak dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam
proses pembelajaran kami.
BAB II
RINGKASAN ARTIKEL / HASIL PENELITIAN

Jurnal 3

RANCANG BANGUN MESIN PELEPAS LEMAK IKAN PATIN


KAPASITAS 15 KG

Jainal Arifin

Prodi Teknik Mesin


Fakultas Teknik, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari
Jln. Adhyaksa (Kayutangi) No.2 Banjarmasin, 70123
Email ; jainalarifin804@gmail.com

ABSTRAK

Di era globalisasi sekarang ini perkembangan teknologi semakin pesat baik itu
industri besar maupun di industri kecil yang mana manfaatnya sangat terasa bagi
kehidupan masyarakat, perkembangan teknologi ini berakibat kepada keterbatasan
Kebutuhan akan Permintaan ikan patin sangat tinggi, pada umumnya sebagian
orang tidak suka dengan lemak ikan patin karna mengandung kolestrol yang
tinggi, dilakukan penelitian dan percobaan yang bertujuan untuk masalah tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan mesin pelepas lemak ikan
patin untuk konsumsi masyarakat yang tidak suka dengan lemak ikan patin, dan
kemudian dilakukan perhitungan untuk menganalisa komponen yang akan dibuat
sesuai dengan yang diinginkan. Dari hasil pengujian dan analisa data didapat
antara lain putaran Rpm : 72,00, 71,07, 71,01, 70,08, 70,00. 69,07. 68,08. 68,01.
67,08. 67,00. Sedangkan Hasil analisa torsi yang didapat : 248,68. 251,93. 252,14.
255,49. 259,22. 259,41. 262,99. 263,27. 266,92. 267,23. Rancang bangun mesin
pelepas lemak ikan patin memiliki panjang 130 Cm, lebar 60 Cm serta tinggi 80
Cm dan berat mesin secara keseluruhan 55 Kg. Pada rol (tabung) memiliki
kapasitas daya tampung sebesar 15Kg daging ikan murni. Sedangkan untuk
penggerak mesin menggunakn motor listrik 1 fase. Dengan daya ½ Hp yang
memerlukan tenaga listrik sebesar 220 Volt, sehingga mesin pelepas lemak ikan
patin tersebut dapat digunakan dengan kapasitas listik pengusaha ibu rumah
tangga.

Kata Kunci : mesin Pelepas Lemak Ikan Patin, Alat Ukur, Ikan Patin

PENDAHULUAN
Di Indonesia budidaya ikan patin sudah berkembang di Jawa Barat, Sumatera
Selatan, Jambi, Riau, Bengkulu, Lampung dan Kalimantan. Perkembangan
budidaya ikan patin, harus disertai dengan inovasi teknologi hasil pengolahan dan
pemasaran hasil produksinya. Tepatnya di Banjarmasin ikan patin sudah kita kenal
sebagai ikan penghasil daging karena komposisi dan pertumbuhan dagingnya
relatif lebih bagus dibanding jenis ikan lainnya. Selain itu ikan patin juga dikenal
memiliki rasa daging yang lembut dan lezat disamping kaya akan protein, lemak,
kalsium dan zat lain yang diperlukan oleh tubuh. Dan yang paling penting karena
kandungan kolesterol yang rendah pada daging ikan patin. Kelebihan-kelebihan
itulah yang membuat potensi bisnis abon ikan patin memiliki prospek yang cerah.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini akan merencanakan yang
memfokuskan pada rancang bangun mesin pelepas lemak ikan patin, diharapkan
mampu dioperasikan sesuai dengan kapasitas pemutaran mesin yang diharapkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Perancangan mesin pelepas lemak ikan patin ini dapat memudahkan para
pengusaha rumah tangga maupun pemilik warung makan dengan terciptanya
rancang bangun mesin pelepas lemak ikan patin diharapkan dapat menghemat
waktu dan tenaga. Ikan patin merupakan ikan yang sudah berhasil dibudidayakan
dengan baik. Ikan ini mempunyai nilai protein yang tinggi. Indonesia mempunyai
potensi yang tinggi untuk mengembangkan budidaya ikan patin. Pemanfaatan ikan
patin saat ini belum optimum serta konsumsi ikan di Indonesia masih sangat
rendah.
Dibutuhkan suatu dasar/acuan dalam memproduksi produk olahan ikan patin,
seperti :
a) Jenis ikan patin dan keragaan sifat organoleptiknya,
b) Potensi sumber daya,
c) Teknik panen dan penanganan,
d) Karakterisasi sifat fungsional serta kandungan nutrisinya
e) Kemunduran mutu ikan patin secara menyeluruh

Penyediaan berbagai olahan ikan patin siap saji yang lebih mudah untuk diolah
akan meningkatkan nilai tambah, jangkauan pasar, meningkatkan konsumsi ikan
patin.

Analisis Gaya
Gaya-gaya yang dibebankan pada batang (link) terjadi akibat beberapa
sumber yang berbeda, antara lain :
a. Berat batang sendiri
b. Gaya-gaya gesek
c. Gaya-gaya asembling (ketika dirakit)
d. Gaya-gaya pembebebanan
e. Gaya akibat putaran
f. Gaya-gaya pegas, dan
g. Gaya-gaya inersia

Gaya-gaya di atas hendaknya ditunjukkan ketika akan merencanakan suatu


mekanisme dari permesinan. Masing-masing gaya dapat diklasifikasikan menjadi
gaya statis dan gaya dinamis.

Analisis Gaya Berat


Pada mesin dua bantalan penggerak yang mengalami pembebanan gaya berat
yang terdapat pada poros itu sendiri,serta ditambah berat kapasitas ikan patin.
Dengan rumus dibawah ini dapat dihitung berat yang dibebani oleh poros.
W=m.g
Keterangan :
W = Berat masa benda ( N )
M = Masa benda ( Kg )
g = Kecepatan gaya grafitasi bumi yaitu sebasar 9,81 m/s2
Transmisi putar
Pada umumnya transmisi adalah suatu mekanisme yang dipergunakan untuk
memindahkan gerakan elemen - elemen yang satu ke gerakan elemen-elemen
yang kedua. Gerakan dapat mempunyai berbagai sifat, seperti pada mekanisme
batang hubung engkol, dimana gerakan putar sebuah poros dipindahkan ke
gerakan lurus sebuah torak atau sebaliknya Transmisi putar dapat dibagi dalam :
a. Transmisi langsung, dimana sebuah roda pada poros yang satu dapat
menggerakkan roda serupa pada poros kedua melalui kontak langsung.
Dalam katagori ini termasuk roda gesek dan roda gigi.
b. Perpindahan dimana suatu elemen sebagai penghubung antara sabuk atau
rantai menggerakkan poros kedua. Bagaimanapun, perpindahan serupa itu
harus diterapkan perpindahan langsung, roda akan menjadi tidak praktis
besarnya

Alat ukur Tachometer digital photo elektrik


Tachometer ini dilengkapi dengan batu battery, pemancar cahaya dan
perekam hasil putaran mesin. Pertama bersihkan minyak atau kotoran yang
menempel pada bagian yang berputar seperti, fly wheel, kopling atau poros dan
sebagainya

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan secara
teoritis dan eksperimental. Kajian secara teoritis untuk mendapatkan parameter-
parameter utama dalam sistem mesin pelepas lemak ikan patin dengan berbagai
sumber literatur baik berupa buku teks maupun internet. Sedangkan pendekatan
secara eksperimental dilakukan dengan pembuatan mesin pelepas lemak ikan
patin dan menguji mesin tersebut.
Penelitian ini mengikuti langkah-langkah pada bagan alur dibawah ini :
Deskripsi Peraancangan
Alat pelepas lemak ikan patin ini memanfaatkan listrik yang diperlukan untuk
menggerakan mesin tersebut terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
1. Motor untuk penggerak awal dan diteuskan ke kopel.
2. Reduzer untuk menurun kan putaran dari 1440 dibagi 20 direduzer
diteruskan ke puly bawah,sabuk, puly atas,poros dan kepenggulungan.
3. Tabung penampunagan berfungsi untuk meampung ikan patin yang akan
di proses.
4. Pondasi dan kerangka untuk menahan mesin beserta tabung penggulngan
agar alat tersebut bekerja dengan baik .

Gambar Rancangan mesin

Pengujian Alat
a. Menimbang dan membagi ikan patin menjadi beberapa bagian.
b. Menghidupkan mesin.
c. Melakukan Pendataan dengan beberapa kali tahapan.
d. Memasang alat laser digital tachometer pada setiap kali mesin dihidupkan
dengan kapasitas yang berbeda - beda untuk mengetahui putaran mesin.
e. Melakukan pendataan disetiap kali mesin dihidupkan pada layar digital.
f. Setelah pendataan selesai,matikan mesin.

Teknik Pengumpulan Data


1. Pengambilan data dilakukan tiap 1 menit hingga mendapatkan 10 data
untuk setiap variasi yaitu ikan patin dengan kapasitas : - Kg. ½ kg, 1 kg,1.
½ kg, 2 kg, 2. ½ kg, 3 kg, 3. ½ kg, 4 kg, 4. ½ kg, 5 kg.
2. Data yang diambil adalah : Putaran (rpm).
3. Data yang diperoleh Rpm antara lain : 72,00 Rpm, 71,07 Rpm, 70,01Rpm,
70,08 Rpm, 70,00 Rpm, 69,07 Rpm, 69,02 Rpm, 68,08 Rpm, 68,01 Rpm,
67,08 Rpm. 67.00 Rpm.

HASIL PENELITIAN
Perhitungan Daya Motor
Jika daya yang diberikan dalam daya kuda ( Hp) maka harus dikalikan
dengan daya 0,746 untuk mendapatkan daya dalam kilowatt (Kw). Daya mesin
yang digunakan disini sebesar
P = 0,25 Hp maka jika dijadikan Kw adalah :
= 0,25 x 0,746
= 0,1865 Kw

Bila dalam (P) adalah daya nominal out put dari daya mesin / motor
pengerak,maka berbagai macam faktor keamanan biasanya dapat diambil dalam
perencanaan,sehingga faktor koreksi adalah:
Jika faktor koreksi adalah fc maka daya rencana (Pb) sebagai patokan adalah:
Pd = fc . P (Kw)
Pd = 1.5 x 0,1865
= 0,2797 Kw

Perhitungan Sabuk V dan Puli


Data yang diketahui antara lain:
- Putaran pada motor pengerak (n1)= 1400 rpm
- Diametar puli pengerak (DP1)= 80 mm
- Diameter puli yang digerakkan (DP2) =250mm
- jarak antara sumbu poros puli pengerak (dp1) dengan sumbu poros puli
yang digerakkan (dp2) adalah C1= 420 mm
- Jarak antara sumbu poros puli penggerak (dp3) dengan sumbu poros puli
yang digerakkan (dp4) adalah C2= 420 mm

Perhitungan Poros
Poros yang dibuat adalah poros setingkat,maka diameter yang diambil untuk
perhitungan adalah diameter terkecil.
Data yang ada adalah :
 Bahan poros ST 37,Tegangan tarik bahan = 37 kg / mm2 = 370 N / mm
 Diameter poros terkecil = 12,52 mm
 Faktor keamanan (S)
 Untuk beban kejut S = 6 – 8

Maka faktor keamanan yang ditetapkan = 3


PEMBAHASAN
Mengingat banyaknya permintaan konsumsi ikan patin oleh masyarakat
terutama daerah Banjarmasin yang suka mengkonsumsi ikan patin dan karena
kandungan lemak ikan patin sangat tinggi maka dibuat perancangan mesin pelepas
lemak ikan patin agar dapat membuang lemak ikan patin secara cepat di
bandingkan dengan cara manual / menggunakan pisau, disamping itu dapat
menghemat waktu,tenaga yang dikeluarkan
 Jumlah ikan yang dimasukan kedalam penggulungan : - Kg. ½ Kg, 1 Kg, 1
½ Kg, 2 Kg, 2 ½ Kg, 3 Kg, 3 ½ Kg, 4 Kg, 4 ½ Kg, 5 Kg. Data yang
diperoleh antara lain putaran Rpm : 72,00, 71,07, 71,01, 70,08, 70,00.
69,07. 68,08. 68,01. 67,08. 67,00.
 Hasil analisa torsi yang didapat : 248,68. 251,93. 252,14. 255,49. 259,22.
259,41. 262,99. 263,27. 266,92. 267,23.
 Jumlah ikan 5 Kg, rata – rata putaran Rpm 72,266 dan rata – rata momen
torsi adalah 160,927
 Grafik hubungan antara beban dengan putaran maka dapat disimpulkan
semakin banyak jumlah ikan yang dimasukan kedalam penampungan
maka semakin menurun putaran (rpm).
 Grafik hubungan antara beban dengan torsi maka dapat disimpulkan
semakin banyak beban yang dimasukan dalam tabung penampungan maka
semakin besar juga torsi yang dikeluarkan.

KESIMPULAN
Berdasarkan analisa data dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan
mengenai Mesin pelepas lemak kan patin bekerja dengan baik dengan prinsip
kerja penggulungan menunjukan telah berfungsi, terutama dalam membuang
lemak ikan patin.Jumlah ikan yang dimasukan kedalam penggulungan : - Kg. ½
Kg, 1 Kg, 1 ½ Kg, 2 Kg, 2 ½ Kg, 3 Kg, 3 ½ Kg, 4 Kg, 4 ½ Kg, 5 Kg. Data yang
diperoleh antara lain putaran Rpm : 72,00, 71,07, 71,01, 70,08, 70,00. 69,07.
68,08. 68,01. 67,08. 67,00. Hasil analisa torsi yang didapat : 248,68. 251,93.
252,14. 255,49. 259,22. 259,41. 262,99. 263,27. 266,92. 267,23. Jumlah ikan 5
Kg, rata – rata putaran Rpm 72,266 dan rata – rata momen torsi adalah 160,927.
Grafik hubungan antara beban dengan putaran maka dapat disimpulkan
semakin banyak jumlah ikan yang dimasukan kedalam penampungan maka
semakin menurun putaran (rpm). Grafik hubungan antara beban dengan torsi
maka dapat disimpulkan semakin banyak beban yang dimasukan dalam tabung
penampungan maka semakin besar juga torsi yang dikeluarkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kismet Fadilah, dkk, 1999, Instalasi Motor Motor Listrik Jilid 1.
Angkasa : Bandung.
2. Zainun Achmad, MSC, 1999. Elemen Mesin 1. Rafika Aditama : Bandung.
3. Bagyo Sucahyo, 1996. Mekenika Teknik. Tiga Serangkai : Surakarta.
4. Soemadi dan Nazwir, 1978 Mekanika Teknik Mesin 1. PT.Djaya Pirusa :
Jakarta
5. Sularso, 2004. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, Pradya
paramita : Jakarta.

Jurnal 1

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BANTU


CEKAM PADA MESIN SEKRAP UNTUK
MENGERJAKAN PROSES FREIS

Muhammad Yanis, Hasian Leonardo


yanis_mhd@yahoo.co.id

Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya


Jalan Raya Prabumulih km 32 Indralaya (30662) Ogan Ilir Sumatera Selatan

Abstrak
Dalam dunia industri, proses pemesinan dengan menggunakan mesin perkakas
merupakan proses yang paling banyak digunakan. Khususnya dalam membuat
komponen-komponen mesin, hal ini disebabkan karena mesin perkakas mampu
membentuk produk yang lebih teliti serta lebih tepat. Hampir semua produk dapat
dibentuk dengan menggunakan mesin perkakas.Mesin perkakas dibedakan tidak
hanya dalam jumlah mata potong yang digunakan, tetapi juga dalam cara
penggerakan perkakas dan benda kerja dalam hubungannya satu sama lain.
Namun dengan memodifikasi atau menambah alat pada suatu jenis mesin
perkakas (Jig dan Fixture), maka mesin perkakas tersebut dapat ditingkatkan
kemampuan kerjanya seperti yang akan dilakukan dalam penelitian ini, yaitu
membuat alat bantu tambahan pada mesin sekrap (shaping) sehingga mesin
sekrap dapat juga melakukan proses freis. Proses yang dapat dilakukan adalah
proses freis vertikal,dengan spesifikasi pengerjaan untuk membuat alur (misal
alur pasak),membuat lubang,membuat slot T, dan freis rata.
Kata kunci: Proses pemesinan, alat bantu, mesin freis, modifikasi
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam dunia industri, proses pemesinan dengan menggunakan mesin
perkakas merupakan proses yang paling banyak digunakan. Khususnya dalam
membuat komponen-komponen mesin, hal ini disebabkan karena mesin perkakas
mampu membentuk produk yang lebih teliti serta lebih tepat. Hampir semua
produk dapat dibentuk dengan menggunakan mesin perkakas.

I.2. Batasan Masalah


Untuk meningkatkan kerja serta fungsi dari mesin sekrap, sehingga selain
dapat mengerjakan benda-benda rata, juga mampu membentuk benda kerja
dengan melakukan kerja permukaan. Dimana akan dibuat alat bantu pada mesin
sekrap yang berfungsi dapat megerjakan proses freis. Proses freis yang dapat
dikerjakan adalah jenis freis vertikal

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Umum Mesin Perkakas
Mesin perkakas merupakan induk dari segala mesin, dengan arti bahwa untuk
dapat menghasilkan mesin lain dibutuhkan atau digunakan mesin perkakas
sebagai pembentuk komponennya. Karena itulah, sangat wajar kalau
pengembangan mesin perkakas begitu pesat.

2.1.2. Mesin Freis


Mesin Milling adalah mesin yang paling mampu melakukan banyak tugas
dari segala mesin perkakas. Permukaan yang datar maupun berlekuk dapat
dimesin dengan penyelesaian dan ketelitian khusus. Pemotong sudut, celah, roda
gigi,dan ceruk dapat dapat digunakan dengan menggunakan berbagai pemotong.
Pahat gurdi, peluas lubang, dan bor dapat dipegang dalam soket arbor dengan
melepaskan pemotong dan arbor.

2.2. Elemen – Elemen Dasar Proses Freis


Kecepatan potong [3]:
V = � � � 1000 (m/min )
Dimana :
d = Diameter luar
n = Putaran poros utama
Gerak makan pergigi [3]:
fz = vf / (zn) (mm/(gigi))

Dimana :
vf= Kecepatan makan

Waktu pemotongan [3]:


Tc = ℓt / vf (min) 18 Perancangan Dan Pembuatan Alat Bantu Cekam Pada
Mesin Sekrap Untuk Mengerjakan Proses Freis

Dimana:
ℓt = Panjang langkah pemotongan
vf = Kecepatan makan (mm/min)
Kecepatan penghasilan geram [3]:
Z = 𝑉� 𝐴�̇ 1000 (cm3/min)
Dimana:
A = Kedalaman potong (mm)
W = lebar pemotongan benda kerja (mm)

2.3. Elemen – Elemen Dasar Proses Gurdi


Kecepatan potong [3]:
V = � � � 1000 ( � �𝑒�𝑖�)
Dimana:
d = Diameter luar
n = Putaran poros utama

Gerak makan permata potong [3]:


fz – vf / (nz) : z = 2 : mm / (r)
Dimana :
fz = Gerak makan pergigi
vf = Kecepatan makan
Waktu pemotongan :
tc = ℓt / vf (min) [3]:
Dimana:
ℓt = Panjang langkah pemotongan
vf = Kecepatan makan (mm/min)

PERENCANAAN KOMPONEN-KOMPONEN UTAMA ALAT BANTU


CEKAM
Alat bantu cekam atau alat tambahan yang akan dibuat ,digunakan untuk
pembuatan benda kerja yang membutuhkan pengerjaan proses freis. Jenis proses
yang dilakukan adalah proses freis vertikal. Pahat yang dapat digunakan dapat
berupa pahat freis perataan, freis ujung (end mill) dan pahat gurdi, sumber daya
didapat dari motor listrik yang ditransmisikan oleh sistem belt. Bentuk dan
konstruksi dari alat tambahan yang akan dibuat seperti gambar dibawah ini.
Dimensi dan bentuknya didasarkan ruang gerak meja dan pencekam pahat mesin
sekrap. Spindel atau poros pencekam pahat freis dan rumah motor dilekatkan pada
dudukan rumah pahat mesin sekrap.

5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari perancangan ini adalah :
1. Alat bantu cekam pada mesin sekrap ini mampu mengerjakan
proses freis.

2. Alat bantu cekam pada mesin sekrap ini dapat melakukan proses
freis untuk membuat beberapa macam proses, diantaranya
membuat alur dan membuat lubang.

3. Alat bantu cekam pada mesin sekrap ini tidak dapat melakukan
proses kerja utuk ukuran meterial yang besar.
5.2. Saran
Berdasarkan pengujian dan hasil yang didapatkan dari perancangan mesin
freis ini, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:
1. Dalam proses pengerjaan perhatikan posisi alat bantu tersebut, apakah
sudah tepat pada posisi.
2. Lepaskan kembali alat bantu cekam tersebut apabila telah selesai
digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
1) Shigley, Joseph E,. Larry D Mithell, Ganghi Harahap, Ir. M.Eng,
Perencanaan Teknik Mesin (Terjemahan). Penerbit Erlangga, Jakarta,
1986.

2) Sularso dan Kyokat Suga, Dasar–Dasar Perancangan Pemilihan Elemen


Mesin Cet -7, Pradnya Paramita, Jakarta, 1991.

3) Syamsir A. Muis, Dasar-dasar Perancangan Perkakas dan Mesin– mesin


Perkakas, Rajawali Pers, Jakarta,1990.

4) Rochim, Taufiq, Proses Pemesinan, Development Education Higher


Project Support, Jakarta, 1993.
Jurnal 2

PENGUJIAN PENGARUH VARIASI PUTARAN MESIN TERHADAP


PERFORMANSI SISTEM PENGKONDISIAN UDARA PADA
KENDARAAN PENUMPANG 1.500 cc

Suadi
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana, Jakarta
Email: suadi.engineer@gmail.com

Abstrak
Kompresor yang merupakan komponen utama memiliki peranan penting dalam
mensirkulasikan dan mengkompresikan aliran refrigeran di dalam sistem
pengkondisian udara. Dalam pengoperasiannya, kompresor diputar dengan
crankshaft pulley mesin melalui sabuk (drive belt). Semakin tinggi putaran mesin,
maka semakin tinggi pula putaran kompresor, begitu juga sebaliknya. Dapat
dikatakan bahwa perubahan putaran mesin akan mempengaruhi kerja kompresor,
yang pada akhirnya akan mempengaruhi performansi sistem pengkondisian
udara pada kendaraan. Pengujian dilakukan dengan variasi putaran mesin mulai
dari 788 rpm sampai dengan 3.288 rpm. Data-data awal yang didapat berupa
tekanan rendah (low pressure) pada selang masuk kompresor dan tekanan tinggi
(high pressure) pada pipa keluar kondensor. Berdasarkan kedua tekanan tersebut
dapat diketahui properti refrigeran R-134a dengan menggunakan program
miniREFPROP. Dari hasil pengujian pengaruh variasi putaran mesin terhadap
performansi sistem pengkondisian udara yang pada kendaraan, dapat
disimpulkan bahwa seiring meningkatnya putaran mesin, menyebabkan daya
yang diperlukan kompresor semakin meningkat. Energi panas yang dilepaskan
refrigeran di kondensor dan energi panas yang diserap refrigeran di evaporator
(kapasitas pendinginan) juga mengalami peningkatan, sedangkan koefisien
prestasi mengalami penurunan. Pada putaran mesin 788 rpm, koefisien prestasi
yang dihasilkan sebesar 2,91. Pada kenaikan putaran mesin berikutnya koefisien
prestasi mengalami penurunan sampai pada putaran mesin 3.288 rpm, koefisien
prestasi yang dihasilkan sebesar 1,16.
Kata kunci: putaran mesin, kompresor, refrigeran R-134a, performa
.
1. PENDAHULUAN
Definisi dari Air Conditioning (AC) adalah suatu proses pengkondisian udara
dimana udara itu didinginkan, dikeringkan, dibersihkan dan disirkulasikan yang
selanjutnya jumlah dan kualitas dari udara yang dikondisikan tersebut dikontrol.
Pemakaian sistem AC pada kendaraan bertujuan untuk mempertahankan
temperatur udara di kabin berada pada kondisi yang nyaman baik itu bagi
pengemudi maupun penumpang. Dalam melakukan fungsinya secara kontinyu
mesin pengkondisian udara memerlukan sumber energi untuk menggerakkan
kompresor agar dapat mengkompresikan aliran refrigeran yang berasal dari
evaporator agar mencapai tingkat keadaan tertentu sehingga kemudian mampu
melepaskan energi panasnya pada saat mengalami proses kondensasi di
kondensor. Pada kendaraan, kebutuhan energi untuk menggerakkan kompresor
umumnya disuplai oleh mesin penggerak yang berupa motor bakar (mesin
kendaraan).
Kompresor yang merupakan komponen utama memiliki peranan penting
dalam mensirkulasikan dan mengkompresikan aliran refrigeran di dalam sistem
pengkondisian udara. Dalam pengoperasiannya, kompresor diputar dengan
crankshaft pulley mesin melalui sabuk (drive belt). Semakin tinggi putaran mesin,
maka semakin tinggi pula putaran kompresor, begitu juga sebaliknya. Dapat
dikatakan bahwa perubahan putaran mesin akan mempengaruhi kerja kompresor,
yang pada akhirnya akan mempengaruhi performansi sistem pengkondisian
udara pada kendaraan.

2. METODE PENELITIAN
2.1 Alat Tambahan (Additional Instruments)
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
 Refrigerant recovery, recycle, vacuum and charger HR-371 Speed Cool
 Digital thermometer
 Engine analyzer

2.2 Prosedur Pengujian


Prosedur pengujian yang dilakukan sebagai berikut :
1) Kendaraan pada posisi berhenti dan kap mesin dibuka.
2) Pemasangan cover set pada kendaraan bertujuan untuk melindungi
bagian kendaraan dari benda tajam atau bendabenda lainnya yang
dapat menyebabkan kerusakan pada bagian interior maupun exterior
kendaraan.
3) Pemasangan alat ukur pada kendaraan.
4) Pemeriksaan jumlah refrigeran yang ada di dalam sistem. Jumlah
refrigeran dipastikan dalam keadaan sesuai spesifikasi, untuk itu
dilakukan terlebih dahulu proses recovery, recycling, vacuum dan
charging refrigeran.
5) Hidupkan mesin hingga mencapai temperatur kerja, operasikan sistem
pengkondisian udara selama kurang lebih 10 menit sebelum pengujian
dilakukan.
6) Pengaturan temperatur AC pada panel pengontrol diposisikan pada
pendinginan maksimal.
7) Pengaturan kecepatan blower motor posisi kecepatan maksimal.
8) Distribusi aliran udara dalam kabin pada posisi arah muka (ventilator
mode).
9) Sirkulasi udara dalam kabin pada posisi recirculation mode.
10) Jumlah orang di dalam kabin hanya 1 orang.
11) Pintu kendaraan dalam keadaan tertutup, sedangkan kaca mobil dan
kap mesin dalam keadaan terbuka.
12) Jenis refrigeran yang digunakan pada sistem adalah R-134a.
13) Pembacaan data pada thermometer mengenai temperatur di luar kabin
(ambient temperature).
14) Pembacaan data pada Engine Analyzer (CONSULT III+) mengenai
putaran mesin (engine speed) yang tampil pada layar data monitor.
Variasikan putaran mesin mulai dari 788 rpm sampai 3.288 rpm.
Pastikan putaran mesin pada kondisi stasioner (tidak berubahubah).
15) Pembacaan data pada pressure gauge yang terdapat pada recovery,
recycling and recharging equipment. Pembacaan data mengenai
tekanan rendah (low pressure) pada selang masuk kompresor, dan
tekanan tinggi (high pressure) pada pipa keluar kondensor yang terjadi
pada berbagai variasi putaran mesin. Pastikan tekanan yang didapat
pada kondisi stasioner (tidak berubah-ubah).

2.3 Metode Pengolahan Data


 Perhitungan daya yang diperlukan kompresor
 Besarnya kerja yang diperlukan kompresor sebenarnya
 Besarnya kerja isentropik atau teoritis yang diperlukan kompresor
 Besarnya energi panas yang dilepaskan refrigeran di kondensor
 Laju aliran massa refrigeran
 Laju aliran volume refrigeran
 Besarnya energi panas yang diserap refrigeran di evaporator (kapasitas
 pendinginan)
 Koefisien prestasi atau coefficient of performance (COP)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Data Hasil Pengukuran Tekanan
Pengukuran tekanan pada sistem pengkondisian udara telah dilakukan di sebuah
bengkel resmi kendaraan Nissan. Berikut ini merupakan tabel data yang didapat
dari ratarata hasil pengukuran yang telah dilakukan beberapa kali. Tabel 3.1 Data
hasil pengukuran tekanan Pada tabel 3.1 di atas terlihat bahwa seiring
meningkatnya putaran mesin, yang berarti meningkat pula putaran kompresor
menyebabkan perubahan pada kedua sisi tekanan. Tekanan rendah yang masuk ke
kompresor mengalami penurunan, sedangkan tekanan tinggi yang keluar
kondensor mengalami peningkatan. Perubahan kedua tekanan tersebut akan
dianalisa dan dilakukan perhitungan untuk mengetahui dampaknya terhadap
performansi sistem pengkondisian udara yang ada pada kendaraan.
3.2 Ringkasan Perhitungan Performansi pada Variasi Putaran Mesin
Berikut ini merupakan tabel ringkasan dari hasil perhitungan performansi pada
berbagai variasi putaran mesin. Tabel 3.2 Ringkasan perhitungan performansi
pada variasi putaran mesin 788 rpm - 1.788 rpm Tabel 3.3 Ringkasan perhitungan
performansi pada variasi putaran mesin 2.110 rpm - 3.288 rpm

3.3 Pengaruh Putaran Mesin Terhadap Daya Kompresor


Gambar 3.1 Grafik hubungan putaran mesin terhadap daya kompresor Pada
Gambar 3.1, terlihat bahwa dengan meningkatnya putaran mesin, yang berarti
meningkat pula putaran kompresor menyebabkan daya yang diperlukan
kompresor semakin meningkat. Pada putaran mesin 788 rpm, daya yang
diperlukan kompresor sebesar 0,715 kW. Pada kenaikan putaran mesin berikutnya,
daya yang diperlukan kompresor terus meningkat signifikan sampai pada putaran
mesin 3.288 rpm, daya yang diperlukan kompresor sebesar 2,196
kW. Jika dipersentasekan, daya yang diperlukan kompresor mulai dari putaran
mesin 788 rpm hingga 3.288 rpm, mengalami peningkatan yang sangat signifikan
yaitu sekitar 207%.

4. KESIMPULAN
Dari hasil pengujian pengaruh variasi putaran mesin terhadap performansi sistem
pengkondisian udara yang pada kendaraan, dapat disimpulkan bahwa seiring
meningkatnya putaran mesin, yang berarti meningkat pula putaran kompresor
menyebabkan daya yang diperlukan kompresor semakin meningkat. Energi panas
yang dilepaskan refrigeran di kondensor dan energi panas yang diserap refrigeran
di evaporator (kapasitas pendinginan) juga mengalami peningkatan, sedangkan
koefisien prestasi mengalami penurunan. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien
prestasi yang didapat, menggambarkan bahwa karakteristik kinerja sistem
pengkondisian udara kendaraan masih dalam keadaan yang baik pada variasi
putaran mesin 788 rpm sampai 3.288 rpm tersebut, karena koefisien prestasi yang
dihasilkan berada di atas 1 yaitu pada kisaran 2,91 dan terus menurun sampai
1,16. Namun demikian, semakin rendah putaran mesin maka koefisien prestasi
yang dihasilkan semakin tinggi yang berarti pula kinerja sistem pengkondisian
udara kendaraan semakin baik. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi putaran
mesin maka koefisien prestasi yang dihasilkan semakin kecil yang berarti pula
kinerja sistem pengkondisian udara kendaraan semakin menurun.

DAFTAR PUSTAKA
1. Arismunandar, W., & Saito, H. 2005. Penyegaran Udara. Edisi ketujuh.
Pradnya Paramita. Jakarta.
2. Anonim. (n.d). Air Conditioning Ana Heating. Retrieved Jan, 22, 2016
from Rowleystires & Automotive Service, inc., website:
http://www.rowleystires.com/index.php/aircon ditioning.
3. Anonim. 2010. Buku Panduan Training NSTEP 2 Electrical. Nissan Motor
Indonesia. Jakarta.
4. Djojodihardjo, Harijono. 1985. DasarDasar Termodinamika Teknik.
Gramedia. Jakarta.
5. Hansen, E., & Aartun, I. 1999. R-134 Pressure-Enthalpy Diagram.
Retrieved Jan, 17, 2016 from Norwegian University of Science Ana
Technology website : http://www.nt.ntnu.no/users/skoge/bookcep/
diagrams/additional_diagrams/R134a
%col_common_refridgrant_without_CI.pdf.
BAB III

KEUNGGULAN PENELITIAN

(a) Kegayutan antar elemen

Dari jurnal yang saya bahas menurut saya jurnal tersebut memiliki dasar
elemen yang benar adanya dan memiliki beberapa teori yang memang dapat
di benarkan, karena memang benar adanya dengan apa yang di jelaskan pada
jurnal tersebut dengan adanya hubungan antar elemen tersebutlah akan
tercipta suatu ide untuk memudahkan Mahasiswa dalam mempelajari
mengolah suatu data, dan untuk membuat kita lebih menyukai lagi belajar
mengenai Cara menulis karya ilmiah.

(b) Originalitas Temuan

Temuan-temuan dalam unsur penulisan ilmiah memang dapat kita lihat dari
mana kita dapatkan sumbernya. Di mana sumber ataupun otak pemikirnyalah
kita dapat melihat keaslian penemuan suatu penemuan pengolahan data secara
akurat, seperti halnya saya mencari jurnal ini melalui bererapa sumber
seperti buku, artikel ataupun Koran.

(c) Kemutahiran Masalah

Masalah-masalah yang di timbulkan dalam menulis Ilmiah merupakan


kesulitan dalam membuat suatu artikel atau jurnal, karena kurangnya pola
pikir dan imajinasi dan kurangnya kebiasaan dalam membuat suatu jurnal
sehingga ada halnya kita dapat cenderung berfikir buntu dalam berkhayal ide
baru, tetapi jika kita biasa dalam berfikir kritis dalam membuat ide maka
bukan hal wajar jika kita selalu mendapat ide baru tanpa berfikir panjang.
(d) Kohesi dan koherensi penelitian

Kohesi adalah hubungan antar unsur dalam wacana secara semantik.


Hubungan kohesif yang diciptakan atas dasar aspek leksikal, denga pilihan
kata yang serasi, dengan begitu dalam jurnal ini merupakan jurnal yang
memiliki hubungan dengan dasar dalam Penulisan Karya Ilmiah.

Koherensi adalah pengaturan secara rapkenyataan dan gagasan, fakta dan


ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang
dikandungnya. Jadi koherensi yang ada pada jurnal itu di buat karena adanya
sebab yaitu merupakan dasar dalam Penulisan Ilmiah yang menjadi gagasan
dan pokok dalam Pendidikan , jurnal ini juga memiliki fakta yang memang
benar adanya , karena teori –teorinya di dapat dari hasil dasar sebab adanya
Penulisan Ilmiah yang terjadinya karena dasar-dasarnya.
BAB IV

KELEMAHAN ARTIKEL/HASIL PENELITIAN

(a) Kegayutan antar elemen

Dari elemen, kita tidak menemukan kelemahannya sedikitpun, dimana


elemen-elemen di dalam jurnal tersebut sebagai contoh, dan bahan penjelasan
dan menjadi bahan penlitian lain seperti memberikan contoh dalam
menghubungkan satu elemen dengan elemen yang lain yang berkaitan

(b) Originalitas Temuan

Pada segi temuan kita bisa lihat tidak ada kekurangannya seperti lengkapnya
contoh dan terapan dari temuan lain dan adanya penjelasan mengenai
hubungan dengan temuan lain.

(c) Kemutahiran Masalah

Dari kekurangan masalah yang ada pada jurnal tersebut saya rasa tidak
banyak kekurangannya karena jika banyak permasalahan dalam kemutakhiran
pada jurnal maka junal tersebut tidak baik pada si pembaca, maka dari itu
penjelasan kemutakhiran masalah yang ada pada jurnal langsung di berikan
pemecahan masalahnya.

(d) Kohesi dan koherensi penelitian

Dari keterkaitan hubungan dan penjelasan gagasan yang ada juga teori yang
ada pada jurnal tersebut tidak ada kekurangannya seperti penjelasannya yang
sudah secara rinci, dengan tidak adanya kekurangan dalam segi kohesi dan
koherensi membuat poin yang menjadi keunggulan dalam jurnal, maka dari
itu saya hanya menyebutkan bahwa tidak ada kekurangan yang di temukan
pada segi koherensi dan kohesinya.
BAB V

IMPLIKASI TERHADAP

(a) Teori

Dari segi teori yang ada pada jurnal yang saya bahas merupakan teori yang
benar dan dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya, karena dasar-dasar
dalam Penulisan karya Ilmiah merupakan awal yang menjadi acuan dan
pedoman dalam membuat suatu artikel ataupun jurnal.

(b) Program pembangunan di Indonesia

1. Membantu penelitian dalam menggunakan sampel sehingga penelitian


dapat bekerja dengan efisien dengan hasil yang sesuai dengan obyek yang
diteliti

2. Membantu peneliti dalam menentukan prediksi untk waktu yang akan


datang.

3. Pemerintah menggunakan statistika untuk menilai hasil pembangunan


masa lalu dan merencanakan masa mendatang.

4. Para pendidik sering menggunakanya untuk melihat kedudukan siswa


prestasi belajar, dan kretivitas seorang siswa.

(c) Pembahasan dan Analisis

Dalam sajian materi ini membahas tentang cara penulisan karya ilmiah yang
dapat menjadi masukan yang sangat berharga untuk para pemula yang ingin
membuat jurnal atau artikel.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari beberapa jurnal di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pentingnya
untuk mempelajari Penulisan karya Ilmiah serta mengaplikasikannya di
lingkungan Pendidikan dan masyarakat nantinya. Dan diharapkan adanya
penelitian lagi yang lebih baik.

Saran
Penulis merupakan seorang yang tidak lepas dari kesalahan, sehingga masih
banyak kekurangan dalam tugas Critical Journal Review ini, penulis berharap agar
pembaca dapat mengembangkan Critical Journal Review ini dan memberi kritik
agar lebih baik untuk waktu kedepan
DAFTAR PUSTAKA

Ir. Pamor Riang Nugroho, Ir. Domiri Suramihardja. (1980). Managemen Industri
Perusahaan 2. Bandung : Terate
Herry Wuryanto. (1997). Manajemen Industri. Pontianak : ROMEO GRAFIKA