Anda di halaman 1dari 8

SOSIOLOGI POLITIK

“SUMBER-SUMBER KONFLIK”

Dosen Pengempu Mata Kuliah: Dr. Drs. I Nengah Punia, M.si

KELOMPOK 8
Ni Kadek Ryan Krisjayanti 1607522101
I Wayan Adi Gunawan Putra 1607522102
I Gede Made Dharmadiaksa Saputra 1607522106

PROGRAM STUDI S1 SARJANA MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Di dalam setiap kehidupan sosial tidak ada satu pun manusia yang memiliki
kesamaan yang persis, baik dari unsur etnis, kepentingan, kemauan, kehendak, tujuan dan
sebagainya. Organisasi merupakan sekelompok orang yang bekerja bersama-sama ke arah
suatu tujuan. Kerja sama untuk mencapai tujuan merupakan kebutuan individu dalam era
globalisasi seperti sekarang ini dan di masa yang akan datang tak seorang pun individu
yang dapat melepaskan diri dari organisasi. Di dalam organisasi terdiri dari individu dan
kelompok yang selalu berinteraksi baik dalam kerja sama maupun perbedaan. Perbedaan
ini merupakan situasi ketidaksepahaman antara dua individu atau lebih terhadap suatu
masalah yang merekahadapi di dalam sebuah organisasi. Perbedaan pada individu
merupakan potensi manusia yang dapat menjadi potensi positif maupun negatif. Upaya
menumbuhkan/mengembangkan potensi positif dan meminimalkan potensi negatif adalah
upaya penanganan konflik.

Konflik merupakan fenomena dinamika yang tidak dapat dihindarkan dalam


kehidupan organisasi, bahkan konflik selalu hadir dalam setiap hubungan kerja antara
individu dan kelompok. Dari setiap konflik ada beberapa diantaranya yang dapat
diselesaikan, akan tetapi ada juga yang tidak dapat diselesaikan sehingga menimbulkan
beberapa aksi kekerasan. Kekerasan merupakan gejala tidak dapat diatasinya akar konflik
sehingga menimbulkan kekerasan dari model kekerasan yang terkecil hingga peperangan.
Organisasi itu sendiri bukanlah suatu tujuan tetapi merupakan alat untuk mencapai tujuan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian konflik ?
2. Apa saja sumber- sumber konflik ?
3. Apa saja Dampak dari Adanya Konflik terhadap Masyarakat ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KONFLIK
Istilah “konflik” secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti
bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Pada umumnya istilah konflik
sosial mengandung suatu rangkaian fenomena pertentangan dan pertikaian antar pribadi
melalui dari konflik kelas sampai pada pertentangan dan peperangan internasional. Coser
mendefinisikan konflik sosial sebagai suatu perjuangan terhadap nilai dan pengakuan
terhadap status yang langka, kemudian kekuasaan dan sumber-sumber pertentangan
dinetralisir atau dilangsungkan atau dieliminir saingannya. Konflik artinya percekcokan,
perselisihan dan pertentangan. Sedangkan konflik sosial yaitu pertentangan antar anggota
atau masyarakat yang bersifat menyeluruh dikehidupan.

Konflik yaitu proses pencapaian tujuan dengan cara melemahkan pihak lawan,
tanpa memperhatikan norma dan nilai yang berlaku. Dalam pengertian lain, konflik
adalah merupakan suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang
atau kelompok-kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. Dari
berbagai pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konflik adalah percekcokan,
perselisihan dan pertentangan yang terjadi antar anggota atau masyarakat dengan tujuan
untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dengan cara saling menantang dengan ancaman
kekerasan.

B. SUMBER-SUMBER KONFLIK
Para sosiolog berpendapat bahwa akar dari timbulnya konflik yaitu adanya
hubungan sosial, ekonomi, politik yang akarnya adalah perebutan atas sumber-sumber
kepemilikan, status sosial dan kekuasaan yang jumlah ketersediaanya sangat terbatas
dengan pembagian yang tidak merata di masyarakat. Ketidak merataan pembagian aset-
aset sosial di dalam masyarakat tersebut dianggap sebagai bentuk ketimpangan.
Ketimpangan pembagian ini menimbulkan pihak-pihak tertentu berjuang untuk
mendapatkannya atau menambahinya bagi yang perolehan asset sosial relatif sedikit atau
kecil.Berikut merupakan sumber-sumber konflik :

1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.


Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan
perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan
sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial,
sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan
kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman,
tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena
berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi
yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian
kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan
menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda.
Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok
memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal
yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan
kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan
sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus
dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap
sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha
kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang
dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari
lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan
antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik
sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut
bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok
atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan
pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh
menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan
yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu
berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya
konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses
industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama
pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah
menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai
kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan
menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan
struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan
berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung
tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan
istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau
mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan
terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan
tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada

C. Dampak dari Adanya Konflik terhadap Masyarakat


Positif atau tidaknya akibat konflik-konflik memang tergantung dari persoalan
yang dipertentangkan, dan tergantung pula dari struktur sosial yang menjadi ajang
berlangsungnya konflik. Oleh karena itu ada dua dampak dari adanya konflik terhadap
masyarakat yaitu:

a. Dampak positif dari adanya konflik


1. Bertambahnya solidaritas intern dan rasa in-group suatu kelompok. Apabila
terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok, solidaritas antar anggota di
dalam masing-masing kelompok itu akan meningkat sekali. Solidaritas di dalam
suatu kelompok, yang pada situasi normal sulit dikembangkan, akan langsung
meningkat pesat saat terjadinya konflik dengan pihak-pihak luar.
2. Konflik di dalam masyarakat biasanya akan menggugah warga masyarakat yang
semula pasif menjadi aktif dalam memainkan peranan tertentu di dalam
masyarakat.
b. Dampak negatif dari adanya konflik

1. Hancurnya kesatuan kelompok. Jika konflik yang tidak berhasi diselesaikan


menimbulkan kekerasan atau perang, maka sudah barang tentu kesatuan
kelompok tersebut akan mengalami kehancuran.
2. Adanya perubahan kepribadian individu. Artinya, di dalam suatu kelompok
yang mengalami konflik, maka seseorang atau sekelompok orang yang semula
memiliki kepribadian pendiam, penyabar menjadi beringas, agresif dan mudah
marah, lebih-lebih jika konflik tersebut berujung pada kekerasan.
3. Hancurnya nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Antara nilai-nilai dan norma
sosial dengan konflik terdapat hubungan yang bersifat korelasional, artinya bisa
saja terjadi konflik berdampak pada hancurnya nilai-nilai dan norma sosial
akibat ketidak patuhan anggota masyarakat akibat dari konflik.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Konflik yaitu proses pencapaian tujuan dengan cara melemahkan pihak lawan, tanpa

memperhatikan norma dan nilai yang berlaku. Dalam pengertian lain, konflik adalah merupakan

suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok

yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. Ketidakmerataan pembagian aset-aset

sosial di dalam masyarakat tersebut dianggap sebagai bentuk ketimpangan. Ketimpangan

pembagian ini menimbulkan pihak-pihak tertentu berjuang untuk mendapatkannya atau

menambahinya bagi yang perolehan asset sosial relatif sedikit atau kecil. Positif atau tidaknya

akibat konflik-konflik memang tergantung dari persoalan yang dipertentangkan, dan tergantung

pula dari struktur sosial yang menjadi ajang berlangsungnya konflik. Perbedaan pendirian,

budaya, kepentingan, dan sebagainya tersebut diatas sering terjadi pada situasi-situasi

perubahan sosial. Dengan demikian perubahan-perubahan sosial itu secara tidak langsung dapat

dilihat sebagai penyebab juga terjadinya (peningkatan) konflik-konflik sosial


DAFTAR PUSTAKA

J. Winardi. 2003. Teori Organisasi & Pengorganisasian. Rajawali Press


https://yuandarussalam.blogspot.com/2013/10/makalah-konflik.html

Anda mungkin juga menyukai