Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................ 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang ..................................................................................................... 2

1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 4

1.3 Manfaat penulisan ............................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Laporan Pendahuluan Hemoroid......................................................................... 6

1. Definisi ............................................................................................................ 6

2. Anatomi Fisiologi ........................................................................................... 6

3. Etiologi .......................................................................................................... 10

4. Klasifikasi ..................................................................................................... 11

5. Tanda Dan Gejala .......................................................................................... 12

6. Pathofisiologi ................................................................................................ 13

7. Pathway Hemoroid ........................................................................................ 14

8. Penatalaksanaan ............................................................................................ 15

9. Pemeriksaan Penunjang ................................................................................ 17

TINJAUAN TEORI ASUHAN KEPERAWATAN ............................................... 18

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Hemoroid merupakan masalah sepele tetapi lama kelamaan jika

hemoroid dibiarkan dan tidak diobati maka akan menjadi berbahaya bagi

kesehatan tubuh. Apabila hemoroid didiamkan tanpa pengobatan bertahun-

tahun maka akan terus melebar. Jenis berikutnya hemoroid harus dioperasi

tidak dapat diobati dengan obat-obatan saja. Hemoroid lumrah terjadi

tetapi tidak boleh dianggap sepele, konsekuensi masalah ini cukup berat,

mulai dari mengganggu aktivitas sampai tumor dan kanker rektum. Jika

hemoroid terus didiamkan maka akan mengganggu aktivitas sehari-hari

dalam jangka waktu yang lama akan membuat semua pekerjaan tidak bisa

diselesaikan dengan baik. Penderita biasanya akan merasa sangat tidak

nyaman dengan keadaan hemoroid. Penderita hemoroid tidak bisa duduk

atau berdiri telalu lama karena nyeri, hanya tirah baring yang memberikan

kenyamanan. Apabila hal ini terus terjadi akan membuat penurunan

produktifitas kerja seseorang. Salah satu faktor resiko terjadinya hemoroid

adalah konstipasi. Konstipasi adalah keadaan BAB jarang atau kurang dari

3 kali seminggu. Kotoran dan zat-zat yang berada didalam usus seharusnya

di keluarkan dari dalam tubuh. Jika terlalu lama mengendap di usus dan

rektum akan menjadi toksin atau racun yang memicu sel-sel

kanker/bersifat karsinogen. Kotorankotoran tersebut yang bergesekan

dengan mukosa pada dinding usus besar dan rektum akan berpotensi

2
tumbuhnya sel-sel abnormal sebagai cikal bakal kanker rektum dan

timbulnya polip.

Duduk terlalu lama juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya

hemoroid. Hal yang paling diwaspadai dari dampak pola kerja sebentar

atau kurang aktif ini adalah meningkatnya kemungkinan mengalami resiko

pembekuan pembuluh vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT) hingga

dua kali lipat.Pembekuan darah terjadi di pembuluh vena dan biasanya

pada bagian betis, bahkan bisa terjadi dibagian saluran pencernaan bawah.

Jika pembekuan ini tidak dicairkan dengan obat pengencer darah, maka

akan terjadi hematoma akan mengangu aliran darah. Jika hal ini terjadi

pada anus maka yang terjadilah hemoroid. Obesitas mempunyai peranan

dalam meningkatkan resiko penyakit kronis mulai dari penyakit vaskular,

kanker, prostat, usus, dan rektum. Dari sekian banyak penyakit yang

disebabkan oleh obesitas salah satunya yaitu hemoroid. Obesitas dengan

IMT diatas 30 (obesitas 1) mempunyai resiko mengalami masalah yang

berhubungan dengan hemoroid. Penyataan seperti diatas menguatkan

bahwa hemoroid memang tidak bisa dianggap sepele. Meski pada awalnya

hemoroid hanya menganggu kenyamanan saja dengan keadaan yang terus

menerus akan mengancap jiwa. Oleh karena itu, tentu perlu

langkahlangkah upaya untuk menanggulanginya tidak hanya pengobatan

tetapi juga pencegahan yang mencakup upaya peningkatan promotif,

pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif), dan pemulihan

(rehabilitatif) yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

Hemoroid interna akan terus menonjol keluar anus. Tonjolan

hemoroid dalam stadium awal belum terlalu besar dapat kembali masuk

3
dengan sendirinya.Hemoroid stadium III, tonjolan dapat masuk lagi ke

dalam anus dengan bantuan dorongan jari.Pada stadium lanjut hemoroid

sudah tidak bisa didorong masuk ke dalam anus lagi. Dan pada stadium

Peran perawat dalam kasus ini sebagai memberi penyuluhan (promotif)

dan perawat pendidik (edukator). Perawat memberikan pendidikan

kesehatan kepada pasien tentang penyakit hemoroid dan pertimbangan

perawatan dirumah. Perawat dalam hal ini memberikan penyuluhan dan

memberikan asuhan keperawatan tentang hemoroid dengan cara

melakukan pola makan sehat seperti tinggi serat rendah lemak, lakukan

mobilisasi setiap duduk lebih dari 4 jam, melakukan pola hidup sehat,

mengkonsumsi makanan yang kaya akan serat, seperti buah-buahan, sayur-

sayuran. Serat bekerja menghisap air sehingga feses menjadi lunak dan

mudah dikeluarkan, minum air putih minimal 2 liter sehari membantu

proses pencernaan makanan, melunakan dan melarutkan makanan yang

larut dalam air sehingga sari-sari makanan mudah terserap dan ampas

makanan (feses) tidak mengeras. Usahakan BAB secara teratur biasanya 1

kali dalam sehari, jangan menunda BAB saat timbulnya rangsangan ingin

BAB. Melakukan olahraga yang teratur misalnya berjalan santai untuk

mengurangi resiko hemoroid yang disebabkan oleh konstipasi, kebiasaan

duduk lama dan obesitas ( Afiyah, 2018)

1.2 Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Diharapkan mahasiswa dapat memahami isi dari makalah yang kami

buat serta dapat menambah pengetahuan bagi pembaca tentang penyakit

4
hemoroid dengan adanya makalah ini mahasiswa mampu menguasai materi

tentang hemoroid

2. Tujuan Khusus

Dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta diharapkan

mahasiswa dapat memahami serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari

mengenai penyakit hemoroid.

1.3 Manfaat penulisan

1. Bagi penulis

Dapat memahami materi yang diberikan serta dapat memberikan

pengetahuan kepada pembaca.

2. Bagi pembaca

Diharapkan para pembaca dapat menambah ilmu dan wawasan

dalam materi penyakit hemoroid dan mampu mengaplikasikanya dalam

kehidupan sehari-hari.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Laporan Pendahuluan Hemoroid

1. Definisi

Hemoroid adalah pelebaran varices satu segmen atau lebih vena-vena

hemoroidalis (Afiyah, 2018). Hemoroid atau ”wasir (ambeien)” merupakan

vena varikosa pada kanalis ani. Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang

disebabkan oleh gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Hemoroid

sering dijumpai dan terjadi pada sekitar 35% penduduk berusia lebih dari 25

tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, namun dapat

menimbulkan perasaan yang sangat tidak nyaman.

Penyakit hemoroid sering menyerang usia diatas 50 tahun. Hemoroid

seringkali dihubungkan dengan konstipasi kronis dan kehamilan. Terkadang

dihubungkan dengan diare, sering mengejan, pembesaran prostat, fibroid

uteri, dan tumor rectum. Komplikasi dapat menyebabkan nyeri hebat, gatal

dan perdarahan rectal.

Hemoroidektomi adalah eksisi yang hanya dilakukan pada jaringan yang

benar-benar berlebihan untuk penderita yang mengalami keluhan menaun dan

pada penderita hemoroid derajat III dan IV

2. Anatomi Fisiologi

Bagian utama usus besar yang terakhir dinamakan rectum dan terbentang

dari colon sigmoid sampai anus, colon sigmoid mulai setinggi krista iliaka

dan berbentuk lekukan huruf S. Lekukan bagian bawah membelok ke kiri

waktu colon sigmoid bersatu dengan rectum. Satu inci dari rectum dinamakan

6
kanalis ani dan dilindungi oleh sfingter eksternus dan internus. Panjang

rectum dan kanalis ani sekitar 15 cm.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kanan dan belahan

kiri sesuai dengan suplai darah yang diterimanya. Arteri mesentrika superior

memperdarahi belahan bagian kanan yaitu sekum, colon asendens dan dua

pertiga proksimal colon tranversum, dan arteria mesentrika inferior

memperdarahi belahan kiri yaitu sepertiga distal colon transversum, colon

desendens, sigmoid dan bagian proksimal rectum. Suplai darah tambahan

untuk rectum adalah melalui arteria sakralis media dan arteria hemoroidalis

inferior dan media yang dicabangkan dari arteria iliaka interna dan aorta

abdominalis.

7
Alir balik vena dari colon dan rectum superior melalui vena mesentrika

superior dan inferior dan vena hemoroidalis superior, yaitu bagian dari

sistem portal yang mengalirkan darah ke hati. Vena hemoroidalis media dan

inferior mengalirkan darah ke vena iliaka dan merupakan bagian dari

sirkulasi sistematik. Terdapat anastomosis antara vena hemoroidalis

superior, media dan inferior, sehingga peningkatan tekanan portal dapat

mengakibatkan aliran darah balik ke dalam vena-vena ini.

8
Terdapat dua jenis peristaltik propulsif: (1) kontraksi lamban dan tidak

teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak ke depan, menyumbat

beberapa haustra; (2) peristaltik massa, merupakan kontraksi yang

melibatkan segmen colon. Gerakan peristaltik ini menggerakkan massa

feces ke depan, akhirnya merangsang defekasi. Kejadian ini timbul dua

sampai tiga kali sehari dan dirangsang oleh reflek gastrokolik setelah makan

pertama masuk pada hari itu.

Propulasi feces ke rectum mengakibatkan distensi dinding rectum dan

merangsang reflek defekasi. Defekasi dikendalikan oleh sfingter ani

eksterna dan interna. Sfingter interna dikendalikan oleh sistem saraf

otonom, dan sfingter eksterna berada di bawah kontrol volunter. Reflek

defekasi terintegrasi pada segmen sakralis kedua dan keempat dari medula

spinalis. Serabut-serabut parasimpatis mencapai rectum melalui saraf

splangnikus panggul dan bertanggung jawab atas kontraksi rectum dan

relaksasi sfingter interna. Pada waktu rectum yang mengalami distensi

berkontraksi, otot levator ani berelaksasi, sehingga menyebabkan sudut dan

anulus anorektal menghilang. Otot-otot sfingter interna dan eksterna

berelaksasi pada waktu anus tertarik atas melebihi tinggi massa feces.

Defekasi dipercepat dengan adanya peningkatan tekanan intra-abdomen

yang terjadi akibat kontraksi volunter. Otot-otot dada dengan glotis ditutup,

dan kontraksi secara terus menerus dari otot-otot abdomen (manuver atau

peregangan valsava). Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi volunter otot-

otot sfingter eksterna dan levator ani. Dinding rectum secara bertahap akan

relaks, dan keinginan untuk berdefekasi menghilang.

9
3. Etiologi

Faktor predisposisi adalah herediter, anatomi, makanan, psikis dan

sanitasi, sedangkan sebagai faktor presipitasi adalah faktor mekanis (kelainan

sirkulasi parsial dan peningkatan tekanan intra abdominal), fisiologis dan

radang umumnya faktor etiologi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling

berkaitan. Faktor predisposisi dapat diakibatkan dari kondisi hemoroid.

Hemoroid berdarah mungkin akibat dari hipertensi portal kantong-kantong

vena yang melebar menonjol ke dalam saluran anus dan rectum terjadi

trombosis, ulserasi, dan perdarahan, sehingga nyeri mengganggu. Darah

segar sering tampak sewaktu defekasi atau mengejan. Hemoroid sangat

umum terjadi pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe

hemoroid berdasarkan vena yang melebar, mengawali atau memperberat

adanya hemoroid.

Faktor penyebab terjadinya hemoroid adalah sebagai berikut:

a. Mengejan pada waktu defekasi.

b. Konstipasi yang menahun yang tanpa pengobatan.

c. Pembesaran prostat.

d. Keturunan atau hereditas.

e. Kelemahan dinding structural dari dinding pembuluh darah,

f. Peningkatan tekanan intra abdomen (seperti: Kehamilan, berdiri dan

duduk terlalu lama dan konstipasi).

10
4. Klasifikasi

a. Hemoroid internal

Adalah pelebaran plexus hemoroidalis superior. Diatas garis

mukokutan dan ditutupi oleh mukosa diatas sfingter ani. Hemoroid internal

dikelompokkan dalam 4 derajat :

a) Derajat I

Hemoroid menyebabkan perdarahan merah segar tanpa rasa nyeri

sewaktu defekasi. Tidak terdapat prolap dan pada pemeriksaa terlihat

menonjol dalam lumen.

b) Derajat II

Hemoroid menonjol melalui kanal analis pada saat mengejan

ringan tetapi dapat masuk kembali secara spontan.

c) Derajat III

Hemoroid akan menonjol saat mengejan dan harus didorong

kembali sesudah defekasi.

d) Derajat IV

Hemoroid menonjol keluar saat mengejan dan tidak dapat didorong

masuk kembali.

11
b. Hemoroid Eksternal

Adalah hemoroid yang menonjol keluar saat mengejan dan

tidak dapat didorong masuk. Hemoroid eksternal dikelompokkan

dalam 2 kategori yaitu:

a. Akut

Bentuk hemoroid akut berupa pembengkakan bulat

kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan

hematoma. Walaupun disebut sebagai hemoroid trombosis

eksterna akut. Bentuk ini sering sangat nyeri dan gatal karena

ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri.

b. Kronik

Bentuk hemoroid eksterna kronik adalah satu atau lebih

lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan

sedikit pembuluh darah.

5. Tanda Dan Gejala

a. Tanda

a) Perdarahan

Umumnya merupakan tanda pertama hemoroid interna trauma

oleh feces yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan

tidak bercampur dengan feces. Walaupun berasal dari vena, darah yang

keluar berwarna merah segar karena kaya akan zat asam, jumlahnya

bervariasi.

12
b) Nyeri

Nyeri yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan

hemoroid interna dan hanya timbul pada hemoroid eksterna yang

mengalami trombosis dan radang.

b. Gejala

a) Anemia dapat terjadi karena perdarahan hemoroid yang berulang.

b) Jika hemoroid bertambah besar dapat terjadi prolap awalnya dapat

tereduksi spontan. Pada tahap lanjut pasien harus memasukkan sendiri

setelah defekasi dan akhirnya sampai pada suatu keadaan dimana tidak

dapat dimasukkan.

c) Keluarnya mucus dan terdapatnya feces pada pakaian dalam merupakan

ciri hemoroid yang mengalami prolap menetap.

d) Rasa gatal karena iritasi perianal dikenal sehingga pruritis anus

rangsangan mucus.

6. Pathofisiologi

Dalam keadaan normal sirkulasi darah yang melalui vena hemoroidalis

mengalir dengan lancar sedangkan pada keadaan hemoroid terjadi gangguan

aliran darah balik yang melalui vena hemoroidalis. Gangguan aliran darah ini

antara lain dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan intra abdominal. Vena

porta dan vena sistematik, bila aliran darah vena balik terus terganggu maka

dapat menimbulkan pembesaran vena (varices) yang dimulai pada bagian

struktur normal di regio anal, dengan pembesaran yang melebihi katup vena

dimana sfingter anal membantu pembatasan pembesaran tersebut. Hal ini

yang menyebabkan pasien merasa nyeri dan feces berdarah pada hemoroid

interna karena varices terjepit oleh sfingter anal.

13
Peningkatan tekanan intra abdominal menyebabkan peningkatan vena

portal dan vena sistemik dimana tekanan ini disalurkan ke vena anorektal.

Arteriola regio anorektal menyalurkan darah dan peningkatan tekanan

langsung ke pembesaran (varices) vena anorektal. Dengan berulangnya

peningkatan tekanan dari peningkatan tekanan intra abdominal dan aliran

darah dari arteriola, pembesaran vena (varices) akhirnya terpisah dari otot

halus yang mengelilinginya ini menghasilkan prolap pembuluh darah

hemoroidalis. Hemoroid interna terjadi pada bagian dalam sfingter anal, dapat

berupa terjepitnya pembuluh darah dan nyeri, ini biasanya sering

menyebabkan pendarahan dalam feces, jumlah darah yang hilang sedikit

tetapi bila dalam waktu yang lama bisa menyebabkan anemia defisiensi besi.

Hemoroid eksterna terjadi di bagian luar sfingter anal tampak merah

kebiruan, jarang menyebabkan perdarahan dan nyeri kecuali bila vena ruptur.

Jika ada darah beku (trombus) dalam hemoroid eksternal bisa menimbulkan

peradangan dan nyeri hebat.

7. Pathway Hemoroid

14
8. Penatalaksanaan

Terapi yang diberikan disesuaikan dengan klasifikasi hemoroid yaitu

untuk derajat I dapat dicoba dengan menghilangkan faktor-faktor penyebab,

misalnya saat konstipasi dengan menghindari mengejan berlebihan saat

BAB. Memberi nasehat untuk diit tinggi serat, banyak makan sayur, buah dan

minum air putih paling sedikit 2.000 cc/hari dan olahraga ringan secara

teratur, serta kurangi makan makanan yang merangsang dan daging, menjaga

hygiene daerah anorektal dengan baik, jika ada infeksi beri antibiotika

peroral. Bila terdapat nyeri yang terus-menerus dapat diberikan suppositoria,

untuk melancarkan defekasi, dapat diberikan cairan parafin atau larutan

magnesium sulfat 10%. Bila dengan pengobatan di atas tidak ada perbaikan,

diberikan terapi skleroting (sodium moruat) 5% atau fenol. Penyuntikan

dilakukan antara mukosa dan varices, dengan harapan timbul fibrosis dan

hemoroid mengecil. Kontraindikasi pengobatan ini adalah hemoroid eksterna,

radang dan adanya fibrosis hebat di sekitar hemoroid interna.

Pada hemoroid derajat II dapat dicoba dengan terapi sklerosing secara

bertahap. Apabila terapi sklerosing tidak berhasil dapat dilakukan tindakan

operasi.

Pada derajat III dapat dicoba dengan rendaman duduk. Cara lain yang

dapat dilakukan adalah operasi, bila ada peradangan diobati dahulu. Teknik

operasi pada hemoroid antara lain :

a. Prosedur ligasi pita-karet

Prosedur ligasi pita-karet dengan cara melihat hemoroid melalui

anoscop dan bagian proksimal diatas garis mukokutan di pegang dengan

alat. Kemudian pita karet kecil diselipkan diatas hemoroid yang dapat

15
mengakibatkan bagian distal jaringan pada pita karet menjadi nekrotik

setelah beberapa hari dan lepas. Tindakan ini memuaskan pada beberapa

pasien, namun pasien yang lain merasakan tindakan ini menyebabkan

nyeri dan menyebabkan hemoroid sekunder dan infeksi perianal.

b. Hemoroidektomi kriosirurgi

Metode ini dengan cara mengangkat hemoroid dengan jalan

membekukan jaringan hemoroid selama beberapa waktu tertentu

sampai waktu tertentu. Tindakan ini sangat kecil sekali

menimbulkan nyeri. Prosedur ini tidak terpakai luas karena

menyebakan keluarnya rabas yang berbau sangat menyengat dan

luka yang ditimbulkan lama sembuh.

c. Laser Nd: YAG

Metode ini telah digunakan saat ini dalam mengeksisi

hemoroid, terutama hemoroid eksternal. Tindakan ini cepat

menimbulkan nyeri. Hemoragi dan abses jarang menjadi

komplikasi pada periode pasca operatif.

d. Hemoroidektomi

Hemoroidektomi atau eksisi bedah, dapat dilakukan untuk

mengangkat semua jaringan sisa yang terlibat dalam proses ini.

Setelah prosedur operatif selesai, selang kecil dimasukkan melaui

sfingter untuk memungkinkan keluarnya flatus dan darah.

Untuk Terapi setelah operasi dapat dilakukan dengan cara

suppositoria yang mengandung anestesi, antibiotika, analgetik dan

astrigent. Tiga hari post operasi diberikan diit rendah sisa untuk

menahan BAB. Jika sebelum tiga hari ingin BAB, tampon dibuka

16
dan berikan rendaman PK hangat (37oC) dengan perbandingan

1:4000 selama 15-20 menit. Setelah BAB, lalu dipasang lagi

tampon baru. Jika setelah tiga hari post operasi pasien belum BAB

diberi laxantia. Berikan rendaman duduk dengan larutan PK hangat

(37oC), perbandingan 1:4000 selama 15-20 menit sampai dengan

1-2 minggu post operasi.

Pada penatalaksanaan hemoroid tingkat IV dapat dilakukan

dengan istirahat baring dan juga operasi. Bila ada peradangan

diobati dahulu

9. Pemeriksaan Penunjang

a. Inspeksi

a) Hemoroid eksterna mudah terlihat terutama bila sudah mengandung

thrombus.

b) Hemoroid interna yang prolap dapat terlihat sebagai benjolan yang

tertutup mukosa.

c) Untuk membuat prolap dengan menyuruh pasien mengejan.

b. Rectal touch

a) Hemoroid interna biasanya tidak teraba dan tidak nyeri, dapat teraba

bila sudah ada fibrosis

b) Rectal touch diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan

karsinoma recti.

c. Anoscopi

a) Pemeriksaan anoscopi diperlukan untuk melihat hemoroid interna

yang belum prolap. Anoscopi dimasukkan dan dilakukan sebagai

struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lubang.

17
TINJAUAN TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pre Operasi

a. Pengkajian

a) Pengkajian yang dilakukan pada pola persepsi kesehatan dan

pemeliharaan kesehatan adalah kebiasaan olahraga pada pasien,

kemudian diit rendah serat, selain itu juga perlu dikaji mengenai

kebiasaan klien tentang minum kurang dari 2.000 cc/hari. Hal lain

yang perlu dikaji adalah mengenai riwayat kesehatan klien tentang

penyakit sirorcis hepatis.

b) Pengkajian mengenai pola nutrisi metabolik pada klien adalah

mengenai berat badan klien apakah mengalami obesitas atau tidak.

Selain itu juga perlu dikaji apakah klien mengalami anemia atau

tidak. Pengkajian mengenai diit rendah serat (kurang makan sayur

dan buah) juga penting untuk dikaji. Kebiasaan minum air putih

kurang dari 2.000 cc/hari.

c) Pengkajian pola eliminasi pada klien adalah mengenai kondisi

klien apakah sering mengalami konstipasi atau tidak. Keluhan

mengenai nyeri waktu defekasi, duduk, dan saat berjalan. Keluhan

lain mengenai keluar darah segar dari anus. Tanyakan pula

mengenai jumlah dan warna darah yang keluar. Kebiasaan

mengejan hebat waktu defekasi, konsistensi feces, ada

darah/nanah. Prolap varices pada anus gatal atau tidak.

d) Pengkajian pola aktivitas dan latihan pada klien mengenai

kurangnya aktivitas dan kurangnya olahraga pada klien. Pekerjaan

18
dengan kondisi banyak duduk atau berdiri, selain itu juga perlu

dikaji mengenai kebiasaan mengangkat barang-barang berat.

e) Pengkajian pola persepsi kognitif yang perlu dikaji adalah keluhan

nyeri atau gatal pada anus.

f) Pengkajian pola tidur dan istirahat adalah apakah klien mengalami

gangguan pola tidur karena nyeri atau tidak.

g) Pengkajian pola reproduksi seksual yang perlu dikaji adalah

riwayat persalinan dan kehamilan.

h) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap serat. Koping yang

digunakan dan alternatif pemecahan masalah

b. Diagnosa Keperawatan

a) Nyeri Akut b.d. adanya pembengkakan, trombus pembuluh darah

pada anus.

b) Resti perdarahan b.d. penekanan pada vena hemoroidal akibat

konstipasi.

c) Cemas b.d. rencana pembedahan dan rasa malu.

d) Kurang pengetahuan b.d. kurang informasi tentang operasi.

c. Intervensi Keperawatan

a) Nyeri b.d. adanya pembengkakan, trombus pembuluh darah pada

anus.

Kriteria hasil: nyeri pada anus berkurang dengan skala nyeri 0-1,

wajah pasien tampak rileks.

Rencana tindakan:

1) Kaji skala nyeri

19
Rasional: Menentukan tingkat nyeri, untuk menentukan

tindakan yang tepat.

2) Anjurkan untuk menarik nafas dalam setiap kali timbul nyeri.

Rasional: Mengurangi rasa nyeri.

Berikan posisi yang nyaman sesuai dengan keinginan pasien.

Rasional: Memberikan rasa nyaman.

3) Observasi tanda-tanda vital.

Rasional: Identifikasi dini komplikasi nyeri ditandai dengan

peningkatan tekanan darah.

4) Berikan bantal/alas pantat.

Untuk mengurangi rasa nyeri.

5) Anjurkan untuk tidak mengejan yang berlebihan saat defekasi.

Rasional: Mengurangi rasa nyeri dan prolap varices.

6) Berikan rendaman duduk sesuai anjuran duduk.

Rasional: Mengurangi rasa nyeri.

7) Kolaborasi untuk pemberian terapi analgetik.

Rasional: Mengurangi rasa nyeri.

b) Resti perdarahan b.d. penekanan pada vena hemoroidal akibat

konstipasi.

Kriteria Hasil: Tidak terjadi perdarahan yang ditandai dengan:

tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak timbul perdarahan

pada feces dalam waktu 1-2 hari.

Rencana tindakan:

20
1) Kaji tanda-tanda vital (TD, N, S, RR) setiap 4 jam.

Rasional: Indikator dini terhadap resiko perdarahan hebat

ditandai dengan tidak adanya peningkatan TD dan Nadi.

2) Monitor tanda-tanda hipovolemia.

Rasional: Deteksi dini untuk tindakan segera.

3) Periksa daerah rectal setiap 2 jam/setelah BAB.

Rasional: Deteksi dini perdarahan untuk pertolongan segera.

4) Beri air minum 2-3 liter/hari.

Rasional: Hidrasi yang adekuat membuat konsistensi feces

lembek.

5) Berikan banyak makan sayur dan buah.

Rasional: Meningkatkan masa feces sehingga lebih mudah

dikeluarkan.

6) Anjurkan untuk segera berespon bila ada rangsangan BAB.

Rasional: Untuk mencegah rangsangan hilang dan akan terjadi

konstipasi.

7) Kolaborasi untuk pemberian laxantia dan analgetik.

Rasional: Pelunak feces dan mengurangi nyeri saat BAB.

c) Cemas b.d. rencana pembedahan

Kriteria Hasil: pasien mengatakan kecemasan berkurang, pasien

berpartisipasi aktif dalam perawatan.

Rencana tindakan:

1) Kaji tingkat kecemasan.

Rasional: Menentukan tingkat kecemasan untuk menentukan

tindakan yang tepat.

21
2) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang pembedahan.

Rasional: Menentukan informasi yang akan diberikan.

3) Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan

perasaannya.

Rasional: Mengurangi kecemasan.

4) Dampingi dan dengarkan pasien.

Rasional: Meningkatkan rasa percaya dan rasa aman sehingga

mengurangi cemas.

5) Libatkan keluarga atau pasien lain yang menderita penyakit

yang

sama untuk memberikan dukungan.

Rasional: Sebagai support sistem dan mengurangi rasa malu.

6) Anjurkan pasien untuk mengungkapkan kecemasannya.

Rasional: Untuk mengurangi cemas.

7) Kolaborasi dengan dokter untuk penjelasan prosedur operasi.

Rasional: Pengetahuan yang cukup tentang prosedur operasi

akan mengurangi cemas.

8) Kolaborasi untuk terapi anti cemas (bila perlu).

Rasional: Mengurangi cemas.

d) Kurang pengetahuan b.d. kurang informasi tentang operasi.

Kriteria Hasil: pasien mengatakan ketidaktahuan mengenai

tindakan operasi berkurang.

Rencana tindakan:

1) Kaji tingkat pengetahuan

Rasional: Mengetahui tingkat pengetahuan tentang penyakit

22
2) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakit

Rasional: Meningkatkan pengetahuan

3) Diskusikan program latihan yang sesuai ketentuan

Rasional: menentukan program latihan yang sesuai

4) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan

perubahan hidup yang perlu

Rasional: Perubahan yang harus diprioritaskan secara realistik

untuk menghindari rasa tidak menentu dan berdaya.

2. Post Operasi

a. Pengkajian

a) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan adalah

pengkajian mengenai keadaan lingkungan yang tenang (nyaman),

pengkajian mengenai pengetahuan tentang perawatan pre operasi.

Selain itu juga penting dilakukan pengkajian mengenai harapan

klien setelah operasi.

b) Pengkajian pola nutrisi metabolik setelah operasi adalah mengenai

kepatuhan klien dalam menjalani diit setelah operasi.

c) Pengkajian pola eliminasi setelah operasi adalah ada tidaknya

perdarahan. Pengkajian mengenai pola BAB dan buang air kecil.

Pemantauan klien saat mengejan setelah operasi, juga kebersihan

setelah BAB dan buang air kecil.

d) Pengkajian pola aktivitas dan latihan yang penting adalah

mengenai aktivitas klien yang dapat menimbulkan nyeri,

pengkajian keadaan kelemahan yang dialami klien.

23
e) Pengkajian pola tidur dan istirahat adalah mengenai gangguan

tidur yang dialami klien akibat nyeri.

f) Pengkajian pola persepsi kognitif adalah mengenai tindakan yang

dilakukan klien bila timbul nyeri.

g) Pengkajian pola persepsi dan konsep diri klien adalah kecemasan

yang dialami klien setelah operasi.

b. Diagnosa Keperawatan

a) Nyeri b.d. adanya luka operasi

b) Gangguan mobilitas fisik b.d. menurunnya kekuatan/ketahanan

konstruktur nyeri.

c) Resiko tinggi perdarahan b.d. hemoroidectomi

d) Defisit perawatan diri b.d. kelemahan, nyeri.

e) Resiko tinggi infeksi b.d. adanya luka operasi di daerah anorektal.

f) Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. resiko tinggi

perdarahan.

c. Intervensi Keperawatan

a) Nyeri b.d. adanya luka operasi.

Kriteria Hasil: klien mengatakan nyeri pada luka operasi berkurang

dengan skala nyeri 0-1, wajah pasien tampak rileks.

Rencana tindakan:

1) Kaji skala nyeri

Rasional: Menentukan tingkat nyeri, untuk menentukan tindakan

yang tepat.

2) Anjurkan teknik nafas dalam dan pengalihan perhatian.

Rasional: Untuk mengurangi rasa nyeri.

24
3) Berikan posisi supine.

Rasional: Mengurangi regangan pada daerah anorectal.

4) Observasi tanda-tanda vital.

Rasional: Identifikasi dini komplikasi nyeri.

5) Berikan bantalan flotasi di bawah bokong saat duduk.

Rasional: Menghindari penekanan pada daerah operasi.

6) Kolaborasi untuk rendaman duduk setelah tampon diangkat.

Rasional: Kehangatan meningkatkan sirkulasi dan membantu

menghilangkan ketidaknyamanan.

7) Kolaborasi pelunak feces dan laksatif. Beri masukan oral setiap

hari sedikitnya 2-3 liter cairan, makanan berserat.

Rasional: Feces yang keras menekan insisi operasi.

8) Kolaborasi untuk pemberian terapi analgetik.

Rasional: Mengurangi nyeri.

b) Gangguan mobilitas fisik b.d. menurunnya kekuatan/ketahanan

konstruktur nyeri.

Kriteria hasil: klien mampu melakukan pergerakan secara bertahap.

Rencana tindakan:

1) Tentukan kemampuan fungsional (skala 0-4) dan alasan

ketidakseimbangan.

Rasional: mengidentifikasi kebutuhan atau tingkat intervensi yang

dibutuhkan.

2) Catat respon emosional/ tingkah laku untuk mengubah

kemampuan.

Rasional: perubahan fisik dan kehilangan kemandirian seringkali

25
menciptakan perasaan marah, frustasi dan depresi yang dapat

dimanifestasikan sebagai keengganan untuk ikut serta dalam

aktivitas.

3) Berikan motivasi dan latihan pada klien dalam memenuhi

kebutuhan ADL sesuai dengan kebutuhan.

Rasional: motivasi dapat meningkatkan perasaan klien untuk

berusaha memenuhi kebutuhan ADL.

4) Anjurkan keluarga untuk membantu melatih dan beri motivasi.

Rasional: keluarga berperan penting dalam membantu melatih dan

memberi motivasi klien.

c) Resiko tinggi perdarahan b.d. hemoroidectomi.

Kriteria Hasil: Tidak terjadi perdarahan setelah perawatan 48 jam,

balutan luka operasi tidak basah, tanda-tanda vital dalam batas normal.

Rencana tindakan:

a) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam selama 24 jam pertama.

Rasional: Indikator dini perubahan volume darah.

b) Monitor tanda-tanda hipovolemik.

Rasional: Deteksi dini untuk tindakan segera.

c) Periksa daerah rectal atau balutan setiap dua jam selama 24 jam

pertama.

Rasional: Deteksi dini perdarahan untuk pertolongan segera.

d) Berikan kompres dingin.

Rasional: Vasokonstriksi pembuluh darah.

e) Kolaborasi untuk pemeriksaan Hb dan Ht.

Rasional: Indikator lain perubahan volume darah.

26
f) Kolaborasi untuk pemberian terapi astrigen.

Rasional: Untuk menciutkan pembuluh darah.

d) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan, nyeri.

Kriteria hasil: aktifitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan

sendiri.

Rencana tindakan :

1) Kaji tingkat kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melakukan

kegiatan sehari – hari.

2) Rasional: Membantu dalam merencanakan pemenuhan kebutuhan

secara individual.

3) Beri bantuan dalam pemenuhan kebutuhan ADL klien sesuai

kebutuhan.

Rasional :Untuk memandirikan pasien.

4) Libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien.

Rasional: Supaya klien merasa diperhatikan oleh keluarganya.

e) Resiko tinggi infeksi b.d. adanya luka operasi di daerah anorektal.

Kriteria Hasil: luka sembuh dengan baik, tanda-tanda vital dalam batas

normal.

Rencana tindakan:

1) Observasi tanda-tanda vital.

Rasional: Peningkatan nilai tanda-tanda vital merupakan indikator

dini proses infeksi.

2) Berikan rendaman duduk setiap kali setelah BAB selama 1-2

minggu.

Rasional: Mematikan kuman penyebab infeksi.

27
3) Kaji daerah operasi terhadap pembengkakan dan pengeluaran pus.

Rasional: Merupakan tanda-tanda infeksi.

4) Ganti tampon setiap kali setelah BAB.

Rasional: Mencegah infeksi.

5) Kolaborasi untuk pemberian terapi antibiotika.

Rasional: Membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi.

f) Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. resiko tinggi perdarahan.

Kriteria hasil: pasien tidak mengalami kekurangan volume cairan,

TTV

dalam batas normal.

Rencana tindakan:

1) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran, tinjau ulang catatan

intra operasi.

Rasional: dokumentasi yang akurat akan membantu dalam

mengidentifikasi pengeluaran cairan/keutuhan pengantian dan

pilihan-pilihan mempengaruhi intervensi.

2) Kaji pengeluaran urinarius terutama untuk tipe prosedur operasi

yang dilakukan.

Rasional: mungkin akan terjadi penurunan (penghilangan setelah

prosedur pada sistem genitourinarius dan atau struktur yang

berdekatan.

3) Pantau tanda-tanda vital pasien.

Rasional: hipertensi, takikardi, penurunan pernafasan

mengidentifikasi kekurangan cairan.

28
4) Periksa pembalut, alat drain pada interval reguler. Kaji luka untuk

terjadinya pembengkakan.

Rasional: perdarahan yang berlebihan dapat mengacu pada

hipovolemia/hemoragi. Pembengkakan lokal mungkin

mengindikasikan formasi hematoma/perdarahan.

29

Anda mungkin juga menyukai