Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


BIDANG KONSTRUKSI JALAN DI INDONESIA

Dosen Pengajar
Edi Soerjanto, Ir. Msi

Oleh:

Nama : Amalia Damayanti


NIM : 1731130099
Kelas : TT-3D

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2019
KATA PENGANTAR

Kami ucapkan puji dan syukur kepada Tuhan YME atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penerapan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Konstruksi Jalan Indonesia” ini dengan
lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh
dosen matakuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Malang, 01 Desember 2019

Penulis
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

1.1 Pengertian K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)


Menurut Internasional Labour Organization (ILO), Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) didefinisikan sebagai sebuah ilmu untuk mengantisipasi, merekognisi, mengevaluasi
dan mengendalikan bahaya yang muncul di tempat kerja yang dapat merusak kesehatan serta
kesejahteraan para pekerja, masyarakat sekitar dan lingkungan.
Menurut filosofi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran dan
upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga
kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat adil dan makmur.
Menurut keilmuan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua ilmu dan
penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK),
kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.
Menurut OSHA 18001:2007, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua
kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja
maupun orang lain (kontaktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.
Secara praktis, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya perlindungan
agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan di
tempat kerja serta bagi orang lain yang memasuki tempat kerja maupun sumber dan proses
produksi secara aman dan efisien dalam pemakaiannya.
Definisi K3 adalah yang dirumuskan ILO/WHO Joint Sfety and Health Commite:
“Occupational Health and Safety is the promotion and maintenance of the highest degree of
physical, mental and social well-being of all occupation; the prevention among workes of
depatures from health caused by their working conditions; the protection of workes in their
employment from risk resulting from factors adverse to health; the placing and maintenance
of the worker in an occuptional environment adapted to his physiological equipment and to
summarize the adaption of work to man and each man to his job”
Berdasarkan definisi di atas, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah:
1. Promosi dan memelihara derajat tertinggi semua pekerja baik secara fisik, mental dan
kesejahteraan sosial di semua jenis pekerjaan.
2. Untuk mencegah penurunan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan
mereka
3. Melindungi pekerja pada setiap pekerjaan dari risiko yang timbul dari faktor-faktor yang
dapat mengganggu kesehatan.
4. Penempatan dan memelihara pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi
fisiologis dan psikologis perkerja dan untuk menciptakan kesesuaian antara pekerjaan
dengan pekerja dan setiap orang dengan tugasnya.
1.1.1 K3 Menurut ILO
Dari pengertian di atas, maka tujuan dari K3 yaitu menjaga dan meningkatkan status
kesehatan pekerja pada tingkat yang tinggi dan terbebas dari faktor-faktor di lingkungan kerja
yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. K3 dirumuskan lebih
memperhatikan aspek kesehatan dengan penekanan terhadap pengendalian terhadap potensi-
potensi hazard (bahaya) yang ada di lingkungan kerja dan aspek keserasian antara pekerja
dengan pekerjaan dan lingkungan kerja (aspek ergonomic).
Obyek K3 terletak pada semua pekerja yang berada di tempat kerja mulai dari level
tertinggi dalam manajemen sampai level terendah meliputi apek fisik, mental dan
kesejahteraan sosial. Dari kata promotion, prevention, protection, dan maintenance,
menunjukkan bahwa K3 dalam penerapannya dilakukan di semua tahapan proses. Tahapan
yang dimaksud misalnya tahap desain (preventif dan promotif), tahap proses berjalan
(protection dan maintenance) serta dapat dilakukan pada saat pasca operasi khususnya
penanganan masalah keselamatan dan kesehatan produk atau masalah limbah produksi.
1.1.2 K3 Menurut OSHA
Dari definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) oleh ILO/WHO terlihat bahwa,
aspek K3 bukan hanya masalah yang berkaitan dengan kesehatan pekerja di tempat kerja tapi
K3 juga mencakup aspek keselamatan yang berdampak terhadap timbulnya kerugian di
tempat kerja baik orang, peralatan, lingkungan maupun finansial. Definisi ILO tersebut tidak
menggambarkan basic keilmuan yang mendasari keilmuan K3, semestinya sesuatu definisi
harus mempunyai struktur keilmuan (body of knowledge) yang membangun keilmuan
tersebut.
Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja menurut OSHA:
“Occuptional Health and Safety concersns the application of scientific principles in
understanding the nature of risk to the safety of people and property in both industrial and
non industrial environments. It is multi-disciplinary profession based upon physic, chemstry,
biology, and the behavioral sciencies with application in manufacturing, transport, storage,
and handling of hazardous materials and domestic and recreational activities”.
Dari definisi OSHA terlihat bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan
multi disiplin yang dikembangkan dari keilmuan fisika, kimia, biologi dan ilmu-ilmu
perilaku.
1.1.3 Definisi ILO/WHO
Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menurut ILO/WHO, penerapannya
hanya terbatas pada pekerja, sedangkan K3 bukan hanya dilaksanakan di tempat kerja, tapi
sudah mencakup aspek-aspek yang sifatnya bagi masyarakat umum. Definisi K3 dari
ILO/WHO sudah mencakup dan memandang pentingnya keserasian antara pekerjaan dengan
pekerja baik secara fisiologis maupun psikoogis (penerapan konsep ergonomi).
Definisi di atas belum menyentuh aspek ilmu perilaku (behavioral sciences) yang pada
kenyataannya aspek perilaku pekerja merupakan faktor terbesar yang mempunyai kontribusi
terhadap timbulnya kecelakaan maupun penyakit akibat kerja (PAK).

1.2 Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT pada tahun 2020 mendatang,
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan satu prasyarat yang ditetapkan dalam
hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara dan harus dipenuhi seluruh
negara anggota, termasuk Indonesia. Untuk antisipasi tersebut serta mewujudkan
perlindungan pekerja Indonesia, ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2020 yaitu masyarakat
Indonesia di masa depan, yang hidup di lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh
pelayanan kesehatan bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya.
Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat mengurangi dan atu bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) yang
pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak
saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi
juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada
akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

1.3 Teori Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Umumnya teori tentang kecelakaan memusatkan perhatian pada 3 (tiga) faktor penyebab
utama kecelakaan yaitu peralatan, cara kerja dan manusia atau pekerja.
1.3.1 Teori Domino
Seorang ahli keselamatan kerja Heinrich (1930) mengembangkan konsep atau teori
terjadinya kecelakaan yang dikenal dengan Teori Domino. Teori Domino dicetuskan oleh
H.W Heinric dalam buku yang berjudul “Industrial Accident Prevetion” dipublikasikan pada
tahun 1931. Buku tersebut untuk pencegahan kecelakaan kerja pada dunia Industri dan
dijadikan text book standard untuk keselamatan kerja selama bertahun-tahun.
Text book secara umum menyampaikan teori urutan domino (domino sequence).
Domino digunakan untuk menggambarkan reaksi berantai dimana jika satu domino jatuh
makan akan mengakibatkan domino lainnya yang ada disebelahnya ikut jatuh juga dan begitu
seterusnya.
Domino Effect
Teori Heinrich atau Teori Efek Domino menyatakan beberapa hal penting mengenai
kecelakaan, yaitu:
1. Kecelakaan terjadi hanya sebagai hasil dari suatu kecelakaan.
2. Kecelakaan disebabkan oleh bermacam-macam tindakan yaitu manusia, kondisi
peralatan atau lingkungan yang tidak aman.
3. Tindakan dan kondisi tidak aman disebabkan oleh manusia, tidak selalu orang atau
pekerja yang mendapat kecelakaan atau terluka, bisa juga kerusakan mesin atau
kerusakan alat.
4. Kesalahan ataupun kecerobohan dari manusia merupakan pengaruh dari lingkungan.
Berdasarkan teori ini suatu kecelakaan dapat terjadi diakibatkan oleh 5 (lima) faktor yang
berdampak secara berurutan sepeti lima batu domino yang di depan jatuh akan
mengakibatkan jatuhnya batu-batu yang ada dibelakangnya secera berantai. Kelima faktor
tersebut adalah:
1. Lingkungan Sosial
2. Sifat Individu
3. Perbuatan/Kondisi Berbahaya
4. Kecelakaan
5. Cidera/Rusak
Menurut teori ini bila rantai penyebab tersebut di putus atau salah satu batu domino
tersebut dihilangkan maka kecelakaan dapat dihindarkan.
Gambar 1. Teori Domino (William W. Heinrich 1930)
Domino Sequence-
Mekanisme Terjadinya Kecelakaan Kerja
1. Ancestry and Social Environment – yakni orang yang keras kepala atau mempunyai sifat
tidak baik karena faktor keturunan, pengaruh lingkungan dan pendidikan, mengakibatkan
seseorang bekerja kurang hati-hati, dan banyak berbuat kesalahan.
2. Fault of Person – rangkaian dari faktor keturunan dan lingkugan tersebut di atas, yang
menjurus pada tindakan berbahaya disertai baha mekanik dan fisik lain, memudahkan
terjadinya rangkaian berikutnya.
3. Accident – peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja dan disertai berbagai kerugian.
4. Injury – kecelakaan mengakibatkan cedera atau luka ringan atau berat, kecacatan, dan
bahkan kematian.

Gambar 2. Domino Sequence


KASUS KAK BIDANG INDUSTRI KIMIA

2.1 Kasus KAK di Bidang Kontruksi Jalan


Contoh 5 kasus Kecelakaan Akibat Kerja di bidang Kontruksi Jalan di Indonesia dalam
kurun waktu 10 tahun terakhir:
1. Grider Tol Desari Ambruk Saat di Cor, 5 Pekerja Terluka. Lima pekerja proyek Tol
Depok-Antasari (Desari) mengalami luka-luka dalam insiden ambruknya girder yang
tengah di cor. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 01.30 WIB, Selasa (8/10/2019).
2. Alat Berat LRT Roboh di Kelapa Gading. Pergeseran pada alat berat portal gentry crane
telah menyebabkan alat berat itu roboh di area proyek Light Rail Transit (LRT) Kelapa
Gading, Jakarta Utara pada Selasa (17/10/2017) dini hari.
3. Crane Tol BORR Jatuh. Sebuah portable tower crane atau alat pengangkut bebasn
portabel yang digunakan dalam proyek Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) seksi II B
ruas Kedung Badak – Simpang Yasmin mendadak jatuh di Jalan Raya Sholeh Iskandar,
Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Kamis (26/10/2017) sore.
4. Beton LRT Roboh dan Menimpa Mobil. Beton Proyek LRT jatuh di jalan MT Haryono,
atau tepatnya di depan PT Roda Mas, dekat Stasiun Cawang, Jakarta Timur, Rabu
(15/11/2017) malam.
5. Kontruksi Relatif Sederhana, Tol Manado-Bitung Ambruk. Kecelakaan kerja kembali
terjadi pada proyek infrastruktur yang tengah berlangsung. Kali ini, proyek tersebut
adalah Jalan Tol Manado-Bitung di Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara,
Sulawesi Utara yang ambruk pada Selasa (17/4/2018).
2.2 Analisis Kasus Kecelakaan Kerja di Konstruksi Jalan di Indonesia sesuai dengan
Teori Domino Heindrich

Girder Tol Desari Ambruk Saat


Dicor, 5 Pekerja Terluka
Selasa, 8 Oktober 2019 17:05Reporter : Nur Fauziah

Girder proyek Tol Desari ambruk. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Lima pekerja proyek Tol Depok-Antasari (Desari) mengalami luka-


luka dalam insiden ambruknya girder yang tengah dicor. Peristiwa ini terjadi sekitar
pukul 01.30 WIB, Selasa (8/10).
Pekerjaan kemudian dihentikan dan pekerja dibawa ke rumah sakit. Warga mengaku
sempat mendengar suara gemuruh namun tidak tahu kalau itu adalah girder yang
ambruk.

"Kirain mah lagi nurunin material kan suaranya memang geruduk gitu," kata salah
seorang warga yang tidak mau disebut namanya, Selasa (8/10).

Di lokasi sendiri tidak terpasang garis polisi. Hanya ada tali pembatas yang
dipasang oleh pihak kontraktor. "Informasinya memang ada lima pekerja yang luka
dan dibawa ke rumah sakit tapi tidak dirawat inap," kata Kapolsek Limo Komisaris
Iskandar.
Diduga peristiwa ini terjadi karena ada kelalaian sehingga ambrol. Namun untuk
lebih detilnya masih didalami. "Ini ada kelalaian, tapi masih kita dalami," paparnya.

Ketika ditanya apakah pihaknya sudah menerima laporan resmi, Kapolsek


mengatakan hingga saat ini belum ada. "Iya (belum ada) tapi kalau info sudah kami
terima memang," ucapnya.

Sementara itu di lokasi dijaga pihak keamanan proyek. Ketika hendak mengambil
gambar lokasi, wartawan dihalangi hingga terjadi gaduh. "Jangan mengambil foto ya.
Bisa tolong pergi dari sini karena ini area proyek," kata salah satu petugas
keamanan yang menghampiri. [cob]

 Klasifikasi Jenis Kecelakaan : Tertimpa girder


 Klasifikasi Penyebab Kecelakaan : Kelalaian pekerja
 Klasifikasi Cidera dan Keparahan : Luka-luka

Dalam Teori Domino suatu kecelakaan dapat terjadi diakibatkan oleh 5 (lima) faktor
yang berdampak secara berurutan. Kelima faktor tersebut adalah:
1. Lingkungan Sosial
2. Sifat Individu
3. Perbuatan/Kondisi Berbahaya
4. Kecelakaan
5. Cidera/Rusak
Dalam kecelakaan akibat kerja (KAK) dalam contoh kasus di atas, dapat disimpulkan
bahwa ambruknya girder Tol Desari saat di cor diakibatkan dari kelalaian manusia (sifat
individu) berdasarkan isi dari berita tersebut “Diduga peristiwa ini terjadi karena ada kelalaian
sehingga ambrol”.
Seperti dalam kelima faktor yang terdapat dalam Teori Domino, teori ini digunakan
untuk menggambarkan reaksi berantai dimana jika satu domino jatuh maka akan
mengakibatkan domino lainnya yang ada disebelahnya ikut jatuh juga dan begitu seterusnya.
Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan akibat kerja (KAK) adalah dengan
menghilangkan perbuatan/kondisi berbahaya sebagai poin ketiga dari kelima faktor penyebab
kecelakaan. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa
kebetulan.
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari pembahasan di atas, yaitu:

1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya perlindungan agar tenaga kerja
selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja
serta bagi orang lain yang memasuki tempat kerja maupun sumber dan proses produksi
secara aman dan efisien dalam pemakaiannya.
2. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat dikelompokkan menjadi
beberapa, yaitu K3 menurut ILO, K3 menurut OSHA, dan K3 menurut ILO/WHO.
3. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yaitu, K3 menurut ILO, K3 menurut
OSHA, dan K3 menurut ILO/WHO.
4. Teori Domino digunakan untuk menggambarkan reaksi berantai dimana jika satu domino
jatuh makan akan mengakibatkan domino lainnya yang ada disebelahnya ikut jatuh juga
dan begitu seterusnya.
5. 5 (lima) faktor Teori Domino yang berdampak secara berurutan yaitu, Lingkungan
Sosial, Sifat Individu, Perbuatan/Kondisi Berbahaya, Kecelakaan, Cidera/Rusak.

3.2 Saran
Sebaiknya, di dalam suatu proyek atau pekerjaan terdapat Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) sesuai dengan standard dan kelayakan. Sehingga, Kecelakaan Akibat Kerja
(KAK) dapat semakin berkurang setiap tahunnya.