Anda di halaman 1dari 12

Dasar-dasar Ilmu Pendidikan

“Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh di Indonesia”

OLEH:
KELOMPOK 5

ADHITYA DWI SEPTIAN (17065052)


SUCI RAHMADANI (17076023)

DOSEN PEMBIMBING : Dra. Hj. Izzati, M.pd

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah pengantar pendidikan yang
berjudul “Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh di Indonesia” ini tepat pada waktunya.
Shalawat beriring salam tak lupa kami sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
menerangi semua umat di muka bumi ini dengan cahaya kebenaran.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut membantu
dalam penyelesaian penyusunan makalah ini. Khususnya kepada dosen pembimbing yaitu Dra.
Hj. Izzati, M. Pd yang telah membimbing dan membagi pengalamannya kepada kami. Kami
menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan, baik
dari segi isi maupun dari segi bahasa. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca yang bersifat konstruktif untuk penyempurnaan makalah ini.

Kami berharap agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca. Aamiin.

Padang, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. iii

A. Latar Belakang .................................................................................................... iii

B. Rumusan Penulisan ............................................................................................. iii

C. Tujuan Penulisan ................................................................................................. iii

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 1

A. Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh di Indonesia ............................................ 1

B. Pengaruh Tokoh-Tokoh Pendidikan terhadap Perkembangan Pendidikan

di Indonesia ......................................................................................................... 3

BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 7

A. Kesimpulan……………………………………………………………………. 7

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui
peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu bangsa,
bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat penting artinya, karena
hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masadepan. Manusia yang
dapat bergumul dalam masa dimana dunia semakin sengit tingkat kompetensinya adalah
manusia yang berkualitas.

Manusia demikianlah yang diharapkan dapat bersama-sama manusia yang lain turut
bepartisipasi dalam percaturan dunia yang senantiasa berubah dan penuh teka-teki. Sebagai
mahasiswa jurusan keguruan dan ilmu pendidikan sudah selayaknya kita mengetahui tentang
pendidikan itu sendiri khususnya apa saja unsur-unsur pendidikan sampai dengan
peyelenggaraan sistem pendidikan nasional.

Disini dirasakan perlu mengetahui apa saja penyelenggaraan dari sisi pendidikan nasional
itu sendiri agar senantiasa para penikmat pendidikan bisa berorientasi pada produk dan hasil
belajar. Dalam pembahasan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan nasional kita
sebagai calon pendidik diharapkan bisa nantinya untuk mengaplikasikan tokoh yang
berpengaruh di Indonesia ini ketika turun kelapangan serta mampu membangun kesadaran
kepada peserta didik untuk mengembangkan tujuan pendidikan, fungi, prinsip dari
penyelenggaraan sisi pendidikan yang ada.

B. Rumusan Masalah
1. Siapa saja Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh di Indonesia?
2. Apa saja Pengaruh Tokoh Pendidikan di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar Mengetahui Tokoh yang Berpengaruh di Pendidikan Indonesia
2. Agar Mengetahui Pengaruh Tokoh Pendidikan di Indonesia

iii
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh di Indonesia


1. Tokoh Ki Hajar Dewantara (1889-1959)

Raden Mas Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara, lahir di
Yogyakarta, 2 Mei 1889 meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Ki
Hajar Dewantara adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi,
dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia
adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan
kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya
para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan
tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi,
status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang
asasi.Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang
terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun
karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan
memberi teladan).

2. Mohammad Syafei

Mohammad Syafei lahir tahun 1893 di Ketapang (Kalimantan Barat) dan diangkat
jadi anak oleh Ibarahim Marah Sutan dan ibunya Andung Chalijah, kemudian dibawah
pindah ke Sumatra Barat dan menetap Bukittinggi. Marah Sutan adalah seorang pendidik
dan intelektual ternama. Dia sudah mengajar di berbagai daerah di nusantara, pindah ke
Batavia pada tahun 1912 dan aktif dalam Indische Partij.

Pemikiran Syafei menyarankan kesempurnaan lahir dan batin yang harus selalu
diperbaharui.Hal ini terungkap dalam pemikiran G. Revesz seperti yang dikutip oleh
Syafei :bahwa lapangan pendidikan mesti berubah menurut zamannya,seandainya orang
masih beranggapan,bahwa susunan pendidikan dan pengajaran yang berlaku adalah
sebaik-baiknya dan tidak akan berubah lagi,maka orang atau lembaga yang berpendirian
dan berpikir demikian telah jauh menyimpang dari kebenaran. Demikianlah,tujuan
pendidikan berupa kesempurnaan lahir dan batin,harus selalu terus disempurnakan sesuai
dengan tuntutan perubahan zaman.Dan kesempurnaan yang cocok untuk bangsa Indonesia
? Syafei mengajukan pemikiran yang masih relevan untuk zaman kita ini.

1
Manusia yang sempurna lahir dan batin atau aktif kreatif itu,apa saja unsur-unsur atau
aspek-aspeknya? Ia menyatakan bahwa yaitu jiwa dan hati yang terlatih dan otak yang
berisi pengetahuan (Thalib Ibarahim,1978:20 ). Orang yang jiwa dan hatinya terlatih itu
tekun, teliti, rajin, giat, berperhatian, dan apik dalam segala bidang perbuatan. Pelatihan
jiwa dan hati ini diperoleh melalui pelatihan bebuat atau bekerja mengerjakan pekerjaan
sehari-hari atau bahkan pekerjaan tangan. Bahkan untuk pengisian otakpun, pelajaran
pekerjan tangan dapat turut dimanfaatkan.

3. Kiyai H. Ahmad Dahlan

Kiai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus
1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang
Pahlawan Nasional Indonesia. Dia adalah putra keempat dari tujuh bersaudara dari
keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di
Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan
adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat pada masa itu.

Ahmad Dahlan adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang luas. Meskipun
usianya baru dua puluh tahun, ia mulai merintis jalan pembaruan di kalangan umat Islam.
Misalnya, membetulkan arah kiblat shalat pada masjid yang dipandang tidak tepat arahnya
yang sesuai dengan perhitungan menurut ilmu falakiyah yang dikuasainya. Usaha ini
sempat menimbulkan insiden yang membuat diri dan istrinya hampir saja meninggalkan
Kauman Yogyakarta selamanya. Kemudian memberikan pelajaran agama di sekolah
negeri yang saat itu tidak pernah dilakukan oleh kyai lainnya.

Ahmad Dahlan juga sangat memperhatikan kaum dhuafa, anak yatim, dan fakir miskin
agar selalu diperhatikan dan diayomi. Hal ini selalu ia ingatkan kepada murid-muridnya
agar selalu memperhatikan dan menolong kaum dhuafa tersebut. Pernah suatu ketika
beliau memberikan pelajaran kepada murid-muridnya tentang surat Al-Ma’un. Namun,
surat Al-Ma’un ini selalu beliau ulang-ulang dalam setiap pertemuan pengajian sehingga
menimbulkan protes dari murid-muridnya. Setelah dijelaskan lalu setelah pengajian selesai
dan murid-muridnya masing-masing membawa anak yatim dan disantuni secukupnya

4. Rahmah El Yunusiah

Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah (lahir di Nagari Bukit Surungan,


Padang Panjang, Hindia Belanda, 26 Oktober 1900 – meninggal di Padang Panjang,
Sumatra Barat , 26 Februari 1969 pada umur 68 tahun) adalah seorang reformator

2
pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah
Putri, perguruan yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga sekolah tinggi. Ia
memelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padangpanjang, menjamin
seluruh perbekalan dan membantu pengadaan alat senjata mereka sewaktu Revolusi
Nasional Indonesia.

Bentuk realisasi dari pemikiran pendidikan Rahmah el-Yunusiyah adalah berupa


pendirian sekolah–sekolah bagi perempuan. Hal ini merupakan tanggapan dari situasi pada
masa itu dan sejalan pula dengan teorinya Arnold J. Toynbee yaitu : “Challenge and
Respons”. Sedangkan tujuan pendidikannya untuk mencerdaskan kaum perempuan agar
pendidikan pada masa itu tidak berpusat pada laki–laki, dengan demikian hal ini sejalan
dengan teori Feminisme, yaitu teori poststrukturalis dan postmodernisme.

Beberapa hambatan pada kaum perempuan Indonesia. Pendidikan yang belum


berpihak pada kaum perempuan dapat pula ditemui dalam bidang lain. Misalnya dalam
bidang kesehatan dan pekerjaan. Perusahaan masih banyak yang belum memberi lapangan
kerja pada perempuan. Angka perempuan menganggur lebih tinggi dapat ditemui dimana-
mana dibanding laki-laki. Kalaupun perempuan banyak ditemui bekerja disektor informal
(pabrik) itu bukan berarti hilangnya diskriminasi. Angka kaum perempuan upahnya tidak
dibayar oleh perusahaan mencapai 41,3% lebih tinggi dibanding laki-laki yang hanya 10%
menjadi bukti beban yang diterima perempuan diluar rumah.

B. Pengaruh Tokoh–Tokoh Pendidikan terhadap Perkembangan Pendidikan di


Indonesia
1. Ki Hajar Dewantara

Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual


belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan
sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang
memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan
manusia kurang humanis atau manusiawi.

Ki Hadjar Dewantara membedakan antara sistem “Pengajaran” dan


“Pendidikan”. Menurutnya pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup
lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan
manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat,

3
mentalitas demokratik). Dalam arti luas maksud pendidikan dan pengajaran adalah
bagaimana memerdekakan manusia sebagai anggota dari sebuah persatuan rakyat.

Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip
pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-
masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan
hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik,
mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek
intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya
memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap
dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan
hara diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan
kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.

Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat
fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan
bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang
yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran
dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on
love). Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the
head, the heart, and the hand”.

Kalau selama ini pendidikan hanya dimengerti sebatas pembentukan intektual,


sementara pembentukan budi pekerti hanya sebatas kata-kata belaka. Maka perlulah kita
kembali melihat tujuan pendidikan yang sebenarnya. Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan
pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan
manusia atau menjadikan manusia/peserta didik kian beradab dan memiliki keadaban
(humanisasi). saat ini pendidikan hanya dimengerti sebagai pengajaran sebagaimana telah
terjadi selama ini, maka kita juga tidak akan pernah berubah. Akibatnya kita akan selalu
menjadi produk masa lalu yang tidak beruntung.

Pendidikan menjadi tempat manusia untuk mengungkapkan dirinya secara lahir dan
batin. Proses pendidikan ini akan memperbaharui diri manusia untuk mencapai nilai-nilai
luhur yang ada dalam dirinya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan serta
peradaban dunia. Mendidik menurut Ki Hajar Dewantara selalu berada dalam konteks
mendidik rakyat. Artinya mendidik rakyat adalah mendidik anak. Maka keadaan yang

4
kita alami sekarang ini adalah hasil dari pendidikan zaman dulu. Kalau di zaman lampau
orang tua mendidik anaknya dengan baik dan menanamkan nilai-nilai moral, maka kita
sekarang akan menikmati dan memetik hasilnya, tapi kalau terjadi sebaliknya maka kita
juga yang akan menanggung akibatnya. Dengan demikian dapat diartikan pendidikan
adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-
transenden dari sifat alami manusia (humannes).

Jadi, Pemikiran dari tokoh pendidikan sudah tercantum di dalam kurikulum 2013 pada
saat ini yang menitik beratkan kepada tiga ranah pendidikan yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotor tidak hanya kepada intelektual siswa.

2. Mohammad Syafei

Mohammad Syafei mengenyam pendidikan di Belanda. Pada tahun 1925 beliau


kembali ke indonesia untuk mengabdikan ilmunya. Cita-cita tersebut di wujudkan dengan
mengelola sebuah sekolah yang kemudian dikenal Sekolah INS Kayutanam. Sekolah ini
lebih dikenal dengan nama Sekolah Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di Kayutanam.
Akibat kemampuan Syafei mengelola sekolah ini kemudian tersohor dengan nama Ruang
pendidikan Indonesische Nederlandsche School (RP INS) Kayutanam. Tujuan utama
syafei mendirikan INS adalah untuk mendidik agar anak-anak dapat berdiri sendiri atas
usaha sendiri dengan jiwa yang merdeka. Dengan berdirnya sekolah ini, berarti ia
menetang sekolah-sekolah hindia belanda yang hanya menyiapkan anak-anak untuk
menjadi pegawai-pegawai mereka saja.

Dengan pecahnya perang dunia ke II, INS diduduki secara paksa oleh belanda dan
proses pembelajaran terhenti. Setelah Jepang menang tahun 1942 RPINS berubah
terjemahannya menjadi Indonesiche Nippon School. Dijaman ini pembelajaran merosot
tajam yang disebabkan oleh sulitnya memperoleh alat-alat pelajaran dan digunakan untuk
bekerja serta berlatih demi kepentingan perang Jepang.

Jadi, berdasarkan pemikiran mohammad syafei tentang pembelajaran di tekankan


kepada siswa, sudah tercantum pada kurikulum 2013 pada saat ini.

5
3. Tokoh Kiyai H. Ahmad Dahlan

Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan bercorak kontekstual


yaitu melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika Beliau menjelaskan surat
al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari
bahwa surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan
harus mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti
surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik Muhammadiyah,
yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala al-Ma’un sebagaimana dipraktekan
K.H. Ahmad Dahlan .

Menurut Kyai Haji Ahmad Dahlan bahwa, sistem pendidikan dan pengajaran agama
Islam di Indonesia yang paling baik adalah sistem pendidikan yang mengikuti sistem
pondok pesantren karena di dalamnya diresapi dengan suasana keagamaan, sedangkan
sistem pengajaran mengikuti sistem madrasah/sekolah. Dalam semangat yang sama,
belakangan ini sekolah-sekolah Islam tengah berpacu menuju peningkatan mutu
pendidikan salah satunya model sekolah full day school .

Tujuan akhir pendidikan yang dikemukakan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah
lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai ulama- intelek atau intelek-
ulama yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas kuat
jasmani dan rohani.

Jika dikaitkan dengan latar belakang timbulnya pemikiran pendidikan Islam Kyai Haji
Ahmad Dahlan antara lain disebabkan oleh rasa tidak puas terhadap sistem pendidikan
yang ada dan hanya mengembangkan salah satu bidang pengetahuan saja, dan ini
dibuktikan dengan pandangannnya mengenai tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan
manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia berjuang untuk kemajuan
masyarakat.

Dengan mengambil beberapa komponen pendidikan yang dipakai oleh lembaga


pendidikan Belanda, Kyai Haji Ahmad Dahlan mampu menyerap untuk kemudian dengan
gagasan dan praktek pendidikannya dapat menerapkan metode pendidikan yang dianggap
baru saat itu ke dalam sekolah-sekolah yang didirikannya dan madrasah-madrasah

6
tradisional. Metode yang ditawarkannya adalah perpaduan antara metode pendidikan
modern dengan metode pendidikan tradisional.

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyelenggaraan pendidikan tersebut dirancang dengan sangat bagus dan dengan tujuan
yang sangat bagus pula. Dengan mengaplikasikan tokoh yang berpengaruh di Indonesia
tersebut, diharapkan pendidikan yang berlangsung di seluruh dunia termasuk Indonesia dapat
menjadi lebih baik.

Namun masih banyak aspek penghalang dalam pelaksanaan tersebut, baik mengenai SDM
nya, fasilitasnya, perbedaan pola pikir setiap masyarakat atau daerah dalam memandang arti
penting pendidikan, dan kendala-kendala lain. Persoalan pendidikan merupakan tanggung
jawab kita bersama, karenanya tentu secara bersama-sama pula kita mencari alternative
pemecahannya

Anda mungkin juga menyukai